I'm Back….
Arigatou buat semua yang udah ngereview atau sekedar baca. Gak nyangka banyak juga yang ngereview. Habis…ceritanya agak lebay. Mungkin masuk konten dewasa. Saya kan udah bisa dibilang tua, makanya ngangkat ceritanya yang agak berat. Hehehehehe….
Sebenarnya kalau lanjut buat fic dirumah gak bakal sempat. Habisnya bangun pagi jam 8 ampe 4 sore dah ke kantor. Pulang bentar jam 6 malam udah pergi kuliah ampe jam 10 malam. Nah,nyampe rumah jam 10.30 malam. Itu kalau gak nongkrong. Kalau nongkrong lagi di ruangan BEM ma temen-temen and senior bisa ampe jam 12 malam. Kalau kayak gitu terpaksa harus lewat belakang rumah dan ngendap-ngendap kayak maling. Takut ketahuan ma ortu. Nanti disemprot pake kata-kata,apalagi saya perempuan. Kata ortu BAHAYA! Tuh..bahaya! tapi tetep ajah saya bandel.
buat yang login udah saya balas di PM.
yang gak login
nara aiko : sakura ma naruto sama2 kasihan. tapi itulah tuntutan skenario...*plak*
Hah..banyak bacot lagi. Langsung ajah yah ke chapter 3.
Enjoy this chapter….
*KUROSAKI KUCHIKI*
Disclaimer : Naruto punya Masashi-sensei. Kalau aku yang punya,Naruto bakal jadian ma Sakura.
Summary : Sakura dan Sasuke akan menikah. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sasuke secara tidak langsung membatalkan pernikahannya. Naruto yang sangat mencintai Sakura pun membantu Sakura dalam menghadapi masalah peliknya. Tapi apa yang akan Sakura lakukan saat Sasuke datang kembali untuk menikahinya padahal Sakura sudah tahu perasaan Naruto padanya.
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Pairing : Naruto X Sakura
Rated : T+
Warning : Story abal. Gaje. Typo banyak. Tapi jangan lupa review yah…
Naruto dan temen-temennya aku buat berumur 22 tahun
Story Begin
I Am Here For You
Chapter 3 : Arigatou, Naruto
"Aku yang akan bertanggung jawab,"
Semua menatap Naruto yang membelakangi mereka yang masih berjongkok di depan Sakura. Bahkan Sakura ikut mendongak melihat Naruto.
"Na..ru…to..,"
"Ya Sakura-chan. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan bertanggung jawab atasmu juga anakmu," jawab Naruto mantap dan Sakura tidak melihat sedikitpun keraguan pada mata Naruto. Naruto serius.
"Naruto, kau tidak perlu..,"
"Bi…tolong. Jangan memaksaku meninggalkan Sakura-chan dalam keadaan seperti ini. Aku tidak akan mau. Tolong…," pinta Naruto pada Ibu Sakura masih tetap tidak memandang Sai, Ibu Sakura, Shikamaru juga Ino.
"Naruto. Ini tidak main-main. Pikirkan kembali. Mulai sekarang tanggung jawabmu akan lebih besar," sahut Shikamaru yang begitu heran Naruto sampai mau melakukan hal sejauh ini. Inikah yang dinamakan cinta sejati?
"Aku tahu Shikamaru. Aku lebih mengerti daripada dirimu juga kalian semua. Tapi aku serius," jawab Naruto yang mencoba meyakinkan semua kalau ia tidak main-main.
"Bisakah kalian meninggalkanku sendirian dengan Sakura-chan? Aku ingin bicara dengan Sakura-chan. Aku mohon," pintanya sekali lagi. Hening. Tidak ada yang ingin beranjak dari tempat itu.
"…,"
"….,"
"Baiklah kalau memang itu yang kau inginkan. Ayo, Shikamaru, Ino, Bibi, kita keluar," ajak Sai yang menuruti kata Naruto. Ia tahu apa yang ingin Naruto perbuat. Ia sangat yakin kalau Naruto kali ini tidak main-main. Ia tahu Naruto akan melakukan yang terbaik untuk Sakura karena Naruto sangat mencintai Sakura. Melebihi apapun sekalipun itu dirinya sendiri.
.
.
Setelah turun, mereka berempat duduk di sofa dalam diam. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Ino hanya berusaha menenangkan Ibu Sakura yang menangisi nasib anaknya juga ia kepikiran atas perbuatan Naruto, yang menurutnya gegabah dan juga nekat. Ya, manusia mana yang terlalu baik sampai-sampai mau bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukan olehnya.
Shikamaru's POV
Selama ini aku menganggap perempuan itu merepotkan. Tapi kalau sudah begini ceritanya, lain sudah pendapatku. Ini menyedihkan. Melihat perempuan menangis di depan matamu. Jangankan yang mencintaimu, temanmu pun bisa ikut-ikutan sedih dan menangis. Apa ini terlalu menyedihkan atau memang karena sifatku yang sangat tidak tegaan melihat perempuan yang sedang lemah. Entahlah. Tapi ini yang aku rasakan sekarang. Melihat Sakura menangis karena menanggung beban yang sangat berat, sungguh membuat aku yang biasanya cuek akan masalah perempuan, malah kepikiran. Hah…mendokusai!
Dan Naruto. Aku tidak habis pikir dengan keputusannya. Aku tahu ia mencintai Sakura, tapi apa perlu ia berbuat sampai sejauh ini? Aku tidak yakin apakah aku akan berbuat hal yang sama jika Ino teman setimku mengalami hal yang sama. Hah…kenapa harus pelik seperti ini sich masalahmya? Aku memang tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Naruto. Kau memang ninja penuh kejutan No.1
Shikamaru's POV END
.
.
Sai's POV
Serius dan yakin. Dua kata ini yang aku yakini saat Naruto mengatakan keinginannya untuk bertanggung jawab atas Sakura dan bayinya. Aku sama sekali tidak meragukan keinginan Naruto yang melangkah sejauh ini. Tapi, apa hal ini sudah ia pikirkan dengan sangat matang sehingga ia bicara tanpa nada keraguan, ketakutan atau apapun yang membuat aku ragu padanya. Terlebih lagi, secara tidak langsung ia sudah membiarkan dirinya jatuh ke dalam masalah ini, ke dasar yang paling dalam lagi. Aku mengerti karena ia mencintai Sakura. Aku juga tahu Naruto bukan orang yang akan mengumbar janji dan kata-katanya tanpa membuktikannya.
Inikah yang namanya cinta, kasih sayang dan ikatan? Sampai harus rela berkorban. Naruto melakukan ini karena ia begitu mencintai Sakura tapi apa Sakura akan merasakan hal yang sama pada Naruto? Apa Sakura akan sadar dan menerima Naruto? Atau akan sama saja seperti sekarang ataupun dulu. Sakura tidak mempunyai rasa apapun pada Naruto.
Apa ini yang namanya cinta sampai Naruto tidak memikirkan bahwa yang ia lakukan akan sia-sia jika Sakura tetap tidak membalas perasaannya? Entahlah. Hanya kau, Kami-sama. Hanya kau yang tahu.
Tapi aku minta padamu. Buat mereka berdua bahagia. Buat mereka bersatu.
Apapun caranya. Buat agar pengorbanan Naruto tidak sia-sia dan buat agar Sakura mencintai Naruto.
Sai's POV END
~KUROSAKI KUCHIKI~
"Sakura-chan, ayo bangun," pinta Naruto mengulurkan tangannya pada Sakura. Tapi Sakura masih diam dan tidak merespon tangannya.
"Ayo Sakura-chan, bangunlah, kumohon," pinta Naruto lagi. Melihat Sakura yang belum bereaksi, akhirnya Naruto memegang kedua bahu Sakura dan mencoba membangunkannya dan membimbingnya untuk duduk di atas tempat tidurnya. Setelah itu Naruto duduk disampingnya.
Cukup lama keheningan yang melanda mereka. Tidak ada yang berani membuka percakapan dan juga tidak ada yang berani bergerak maupun melangkah dari tempat mereka. Sakura masih diam. Tentu saja ia masih shock karena mengetahui dirinya hamil dan kenyataan bahwa Naruto ingin bertanggung jawab atas anak di rahimnya.
Sedangkan Naruto entah apa yang ia pikirkan saat ini. Ia pun cukup shock mengetahui hal ini. Tapi Naruto tahu cepat atau lambat keadaan akan memburuk. Dan itu terbukti, dengan Sasuke yang sama sekali belum memberikan tanggapan atas peristiwa yang menimpa Sakura. Dan yang paling ia takutkan pun terjadi. Sakura hamil. Mengandung seorang anak buronan dan penjahat.
Naruto tidak suka keheningan ini. Ia menghela napas dan dibelainya rambut Sakura. "Sakura-chan…aku mohon bicaralah,".
Hening. Sampai pada akhirnya. "Kenapa? Kenapa Naruto? Ini bukan anakmu. Kenapa kau mau menanggung dosa yang tidak pernah kau lakukan? Jangan berbuat ini karena kau merasa kasihan padaku," ujar Sakura sangat lirih hampir tak bersuara.
Naruto menurunkan tangannya dari rambut Sakura dan segera turun dari ranjang Sakura lalu berlutut tepat didepan Sakura. Diambilnya kedua tangan Sakura yang dingin lalu digenggamnya dengan erat, berharap kehangatan tangannya bias menjalar pada tangan Sakura yang sedingin es itu.
"Sakura-chan. Aku melakukan ini atas dasar keinginanku sendiri dan aku sangat ikhlas. Aku juga melakukan ini bukan karena merasa kasihan padamu. Jangan tanyakan alasan yang sebenarnya. Nanti kau akan tahu sendiri. Yang jelas untuk saat ini biarkan aku melakukan apa yang aku bisa lakukan untukmu dan juga anak ini,"
Sakura menatap Naruto. Hijau bertemu biru. Emerald bertemu safir. Ditatapnya mata Naruto dengan sangat dalam. Ia ingin mencari ketidakyakinan dimata Naruto, tapi ia tidak bisa menemukannya.
"Naruto…aku mohon jangan lakukan ini. Anak ini bisa kugugurkan. Aku juga tidak menginginkannya, Naruto," jawab Sakura masih dengan nada yang lirih tapi ada sedikit nada yang terlihat dingin.
Mata Naruto membulat saat mendengarkan hal yang dikatakan Sakura. Ia melepaskan genggamannya pada tangan Sakura.
"Menggugurkan? Apa kau sudah tidak bisa berpikir dengan akal sehat Sakura-chan? Anak itu sama sekali tidak bersalah. Jangan berbicara seolah-olah kau malaikat pencabut nyawa!" bentak Naruto. Sakura cukup terkesiap atas bentakan Naruto barusan.
"Tapi aku tidak menginginkan anak ini. Apa kata orang diluar sana, jika mereka tahu aku mengandung anak haram. Anak hasil perkosaan, Naruto!" Sakura juga tak kalah hebatnya dalam membentak Naruto. Emosi Sakura sudah sangat tidak stabil saat ini.
"Baiklah. Aku akan melunak sekarang. Aku tidak akan menggugurkan anak ini, dan biarkan aku dicemooh oleh warga desa karena mengandung anak yang bahkan akan membuatku gila jika mereka bertanya siapa ayahnya," seru Sakura dengan emosi yang masih meledak-ledak.
Naruto tahu tidak ada gunanya bertengkar. Hanya akan memperburuk keadaan. Ditariknya nafas panjang-panjang dan memcoba membuang segala emosinya.
"Untuk itulah aku disini Sakura-chan. Aku akan menjadi ayah dari anakmu. Dengar! Aku tidak akan membiarkanmu mengugurkan anak yang tak berdosa itu. Aku pastikan tidak ada yang akan tahu siapa ayahnya yang sebenarnya, selain orang terdekat," ucap Naruto dengan nada yang melembut.
"Kalau memang itu maumu, aku tidak akan menggugurkan kandunganku, tapi aku mohon jangan terlibat dalam masalah ini. Biarkan kau yang merawatnya sendiri, Naruto," jawab Sakura dengan nada memohon dan melembut. Ia tentu tidak mau sahabatnya itu terlibat lebih jauh dalam masalah peliknya ini.
Naruto menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak suka mendengarkan ini. "Kau mau anakmu lahir tanpa ayah? Saat ia besar dan menanyakan dimana ayahnya, kau akan menjawab apa, Sakura-chan? Kau mau melihat anakmu memandang iri teman-temannya yang mempunyai keluarga yang lengkap?" Naruto lalu mengangkat kepala dan menatap Sakura dengan tajam, tapi ada kepedihan di mata safirnya.
" Tentu saja aku tidak mau anakku mengalami hal seperti itu. Tapi…,"
" Cukup aku saja yang memandang iri pada anak-anak yang memiliki keluarga lengkap. Cukup hanya aku saja anak yang tidak tahu siapa ayah dan ibu ku. Cukup hanya aku saja yang dihina karena tidak punya orang tua. Cukup aku saja yang dikatai anak nakal karena tidak ada bimbingan dari orang tua. Cukup aku saja yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Kali ini hal ini jangan sampai terjadi untuk anakmu. Ia harus memiliki kasih sayang dari kedua orangtuanya. Karena walaupun ia memilikimu, itu tidak akan cukup, Sakura-chan,".
Hatinya sakit. Miris. Hancur saat mendengar Naruto berbicara seperti itu. Ya, memang keadaannya seperti itu. Naruto tidak tahu siapa orangtuanya sampai ia berusia 16 tahun. Usia 16 tahun sudah terlalu lama untuknya mengetahui semuanya. Tapi ia sangat bangga saat tahu bahwa ayahnya adalah hokage ke 4 dan ibunya yang berparas sangat cantik. Hal ini yang membuatnya semakin gencar untuk menjadi Hokage seperti ayahnya yang hebat nan tampan itu.
Naruto memecah lamunan Sakura dan sekali lagi menggenggam erat tangan Sakura. "Jadi, Sakura-chan. Kau mau tinggal bersamaku? Aku tidak memintamu menikahiku dulu. Aku ingin kau bertunangan denganku dulu. Hanya memperjelas statusmu dan anakmu,"
"Tapi Naruto…,"
"Jika kita tidak melakukan ini maka akan ada kabar tidak enak mengenai dirimu dan aku tidak suka itu. Aku berjanji padamu, tidak akan orang desa yang mencemoohkanmu, karena mereka akan tahu ini anakku," potong Naruto seakan sudah tahu apa yang akan Sakura katakan.
'Aku tahu kalau kau masih berharap Sasuke kembali, Sakura-chan. Seandainya ia kembali, seandainya perasaanmu juga belum berubah padaku, aku kan menyerahkanmu, aku…tidak ingin egois,'
.
.
.
Kami-sama…. Balasan apa yang harus ia berikan pada pemuda di depannya ini. Pemuda ini sungguh baik, malah terlalu baik. Sungguh tidak gampang mencari pemuda seperti ini. Dan beruntunglah bagi wanita yang mendapatkan sosok seperti pemuda ini. Sakura seharusnya merasa beruntung mendapatkan pemuda ini yang begitu peduli, mau berkorban, menanggung perbuatan yang bukan perbuatannya. Padahal status Naruto hanyalah sahabatnya bukan kekasih apalagi sampai tunangannya seperti status Sasuke.
Mata Naruto membulat saat Sakura memeluk Naruto dengan sangat erat. Awalnya Naruto ragu membalas pelukan itu, namun setelah itu ia tersenyum dan memeluk Sakura sama eratnya. Setidaknya ia bahagia Sakura akan terus berada di sisinya, walaupun ia tidak tahu sampai kapan. Setidaknya waktu bersama Sakura tidak akan disia-siakannya.
"Arigatou, Naruto. Aku tidak tahu harus membalas ini semua dengan apa," Sakura menangis dan terisak. Naruto bisa merasakan bajunya basah karena airmata Sakura.
"Hn…," Naruto melepas pelukan Sakura dan dengan perlahan mengusap airmata Sakura.
"Balasannya cukup mudah. Kau tinggal menjaga kandunganmu, karena aku tidak ingin anak ini kenapa-napa. Lalu tersenyumlah Sakura-chan. Jangan menangis lagi. Jadilah Sakura-chan yang riang seperti dulu,".
Sakura lalu mengusap airmatanya yang ingin mengalir lagi. "Itu mudah Naruto. Dan aku akan memenuhinya. Aku janji," dan kini terlihat Sakura yang tersenyum. Mungkin ini adalah senyum terbaiknya selama sebulan ini ia nyaris tidak pernah tersenyum.
~KUROSAKI KUCHIKI~
Malam ini dirumah Sakura sangat ramai. Rumahnya terlihat lebih terang. Makanan yang tersedia adalah makanan yang terbaik. Dengan beraneka macam bentuk, rasa yang mengundang orang yang melihatnya akan sangat lapar. Mungkin jika tak memikirkan kesopanan, Choji pasti akan langsung melahap semua makanan yang ada tidak sampai satu menit dan pasti para tamu yang lain tidak akan kebagian.
Di dalam ruangan terlihat para undangan yang tidak begitu ramai. Hanya kerabat dekat, hokage dan juga guru-guru terdekat saja.
Ini acara pertunangan Sakura yang kedua. Yang diadakan dirumahnya. Tidak mungkin merayakannya di flat Naruto yang kecil itu. Ya, yang kedua setelah yang pertama dengan bungsu Uchiha, kini ia bertunangan dengan anak tunggal dari Namikaze dan Uzumaki. Naruto Uzumaki, sang pahlawan desa dan calon Hokage.
Terlihat Sakura dengan kimono merahnya yang menjuntai hingga kebawah menutupi kakinya yang mulus seperti porselen dan jenjang tengah menatap tubuhnya yang masih langsing. Walaupun ia sudah berbadan dua, tapi belum kelihatan karena kehamilannya baru seminggu.
"Hm…ternyata aku cantik juga. Aku kira kimono pilihan Naruto ini tidak pas ditubuhku, ternyata pas sekali," Sakura berbicara dengan cermin, terlihat ia sangat bangga. Ia tidak pernah berhenti tersenyum, entah karena ia tidak ingin mengingkari janjinya pada Naruto atau karena Naruto yang sudah mengisi harinya dengan keceriaan dan juga canda tawa. Ia sendiri bingung, ia merasakan ia sangat bahagia.
"Siapa dulu donk yang memilihnya…,"
"Naruto..," Sakura berbalik dan mendapati tunangannya sedang berdiri di depan pintu dengan cengiran khasnya. "Kau mengagetkanku. Kau suka sekali seperti itu. Walaupun pintunya terbuka, ketuklah dulu, dasar Naruto baka!"
Naruto tersenyum. Ia merindukan panggilan 'Naruto Baka' dari Sakura. Ia pun masuk kedalam dan dan menghampiri Sakura. "Eh, Sakura-chan, bagaimana penampilanku? Aku tampan tidak?"
"Hm….sama saja. Tidak ada bedanya," jawab Sakura terkekeh. Sakura melihat penampilan Naruto yang memakai kimono hitam yang terlihat sederhana tapi dari bahannya terlihat kimono ini sangat mahal. Entah ia membelinya dimana karena ia sama sekali tidak memberitahu Sakura. Kimono merah itu pun ia berikan pada Sakura tanpa persetujuan dari Sakura. Naruto hanya mengatakan kalau Sakura akan sangat cantik jika mengenakannya.
"Hah…Sakura-chan. Berbohonglah sedikit dengan mengataiku tampan. Padahal aku ingin mengatakan kalau kau hari ini sangat cantik," ucap Naruto yang juga terkekeh.
Wajah Sakura memerah. "Baiklah. Aku akan mengatakan kalau hari ini kau sangat tampan, Naruto," mendengar itu Naruto lagi-lagi terkekeh. Ia tak perduli, entah Sakura berbohong atau jujur yang penting wanitanya itu mengatainya dengan kata tampan.
Naruto mengulurkan tangannya. "Ayo..turun," katanya lembut. Saat Sakura ingin menyambut tangannya, ia melihat jarinya.
"Ah..tunggu sebentar, Naruto," Sakura lalu berbalik ke meja riasnya lalu melepas cincin tunangan yang diberikan oleh Sasuke. Ditatapnya sebentar lalu disimpannya didalam kotak perhiasannya yang kecil.
"Apa tidak apa-apa Sakura-chan?" tanya Naruto yang tahu apa yang dilakukan Sakura. Sakura berbalik dan tersenyum.
"Tidak apa-apa kok. Tak usah dipikirkan. Anggap saja itu penmberian Sasuke padaku. Lagipula apa kata teman-teman kalau sampai mereka tahu kalau aku memakai dua cincin? Memangnya aku segitu rakusnya sama cincin. Sudahlah jangan pasang tampang seperti itu. Sekarang ayo kita turun. Mana tanganmu? Kau mau membuatku turun sendiri?"
"Ah..iya. Ayo Hime-sama, kita turun sekarang," sekali lagi ia menyodorkan tangannya pada Sakura. Dan sekarang disambut dengan senang hati oleh Sakura.
~KUROSAKI KUCHIKI~
"Wow…ini dia pasangan yang berbahagia. Sudah muncul rupanya," teriak Kiba dengan suaranya yang dibesar-besarkan dan disambut dengan gonggongan Akamaru. Dan semua langsung melihat kearah Sakura dan Naruto yang turun dari tangga. Meningglkan aktivitas mereka yang sedang melakukan macam-macam kegiatan sambil menunggu pasangan ini.
"Wah…kau cantik sekali, Sakura," puji Shizune yang membuat Sakura tersipu.
"Eh…eh…Sakura-chan. Kau kan kemarin bertunangan dengan Sasuke-kun, terus sekarang dengan Naruto-kun. Lalu denganku kapan?" tanya Lee dengan mata berbinar-binar dan tentu saja dengan semangat jiwa mudanya. Sementara Naruto yang mendengarnya hanya cengo. Memangnya Sakura-chan nya piala bergilir?
"Iya Sakura. Lee muridku itu sangat menyukaimu," tambah guru Gai, tentu saja dengan semangat jiwa mudanya. Hah..kalau ada istilah like father like son, maka istilah yang cocok buat mereka adalah like teacher like student. Sementara Kakashi hanya sweatdrop. Memangnya pertunangan itu seperti gonta-ganti partner tiap kali misi?
'BLETAK'
"Aw…sakit, Tenten," teriak Lee kesakitan dan meringis karena kepalanya dipukul oleh Tenten.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Kau pikir acara ini main-main, hah! Lagipula mana mau Sakura mau denganmu?" teriak Tenten didepan wajah Lee, dan menunjuk Lee dengan sadisnya. Mendengar perkataan Tenten yang terkesan jujur, ia lalu pundung di sudut ruangan.
"Wah….sepertinya Tenten sangat jujur yah," celetuk Sai yang berada tepat disamping Naruto. "Mulut wanita memang tajam,"
GLEK. Sai langsung menelan air ludahnya saat para wanita yang ada disitu memberikan deathglare padanya terutama teman seangkatannya. Sedangkan Naruto hanya menatap Sai dengan pandangan iba. Benar-benar tidak bisa menbaca suasana.
"Bisakah kalian berhenti menggoda kami? Atau kuusir kalian semua dari pestaku," ancam Naruto dengan muka yang pura-pura dicemberutkan. Sudah cukup kegaduhan di hari istimewanya ini. Kalau seperti ini terus mau kapan acaranya dimulai?
"Baik kami akan pergi. Dan kau harus membersihkan rumah ini sendiri, Naruto," jawab Shino dengan hawa dingin seperti biasa.
"Ya..kami juga tidak dibayar olehmu. Sudah syukur setelah acara ini kami mau membantumu beres-beres," ejek Neji yang tak kalah dingin.
Naruto kalah telak. Pembalasan yang lebih telak. Hah..kasihan nasibmu, Naruto. Niat mau menghentikan mulut teman-temanmu malah mulutmu yang bungkam.
"Sudahlah…maafkan Naruto yah… dia memang tidak pernah memikirkan apa yang dia katakan. Dia kan Baka," Sakura ikut-ikutan mengejek Naruto. Naruto dengan cepat menoleh.
"Kukira kau akan membelaku, Sakura-chan," Sakura hanya tertawa melihat Naruto.
Sementara itu
"Wah…anak Bibi benar-benar cantik hari ini. Aku tidak melihat ada raut wajah sedih dari Sakura," kata Ino yang sejak tadi menemani Ibu Sakura di sofa.
"Yah..anak itu memang cantik. Semoga kehidupannya yang selanjutnya akan bahagia," jawab Ibu Sakura.
"Bibi jangan khawatir, selama ada Naruto, Sakura akan baik-bak saja," sahut Shikamaru yang rupanya mendengar pembicaraan mereka. Sepertinya ia tamu yang paling diam saat ini. Otaknya masih saja sibuk berpikir.
Ibu Sakura hanya tersenyum senang mendengar perkataan Shikamaru. Ia lega, karena teman-temannya percaya pada Naruto dan tentu saja ia juga percaya pada Naruto kalau ia akan membahagiakan Sakura.
.
.
.
.
"Hei kalian, bisakah kita memulai acara ini sekarang?" tiba-tiba suara nenek Tsunade menginterupsi mereka yang kerjaannya hanya main-main. Semua reflek menoleh pada Tsunade.
"Hah…katakan saja kalau kau mau minum sake, nek," sahut Naruto.
"Kau..kurang ajar sekali. Aku tidak akan melantikmu menjadi Hokage nanti, lihat saja," ancam Tsunade.
"Hiyaaaa…jangan nek. Nanti arwah ayahku akan marah dan ibuku akan mengutukku kalau aku tidak menjadi Hokage. Nenek mau melihatku menjadi batu gara-gara kutukan ibuku?" Naruto memelas berharap Tsunade akan mencabut perkataannya.
"Aku akan senang melihatmu jadi batu. Setidaknya itu akan mengurangi populasi masyarakat Konoha. Dan orang seribut dirimu seharusnya menjadi batu, hanya itu cara agar kau diam. Dan ah…satu lagi, patungmu akan kupasang di depan gerbang Konoha," ejek Tsunade.
"Itu terlalu sopan dan terlalu bagus buat Naruto, Hokage-sama. Sebaiknya kita memasang patungnya di bukit paling belakang desa kita. Karena kalau di gerbang semua yang lewat akan mengira Naruto pahlawan," tambah Kakashi dengan maksud yang sangat tidak terpuji. Mengejek Naruto.
Wajah Naruto telihat merah karena menahan marah. Apalagi semuanya menertawakannya.
"Sudahlah…jangan dipikirkan. Tsunade-sama hanya bercanda kok," kata sakura yang dari tadi tidak terlepas dari gandengan Naruto. Ajaib. Kata-kata Sakura seperti mantra untuk mencegah kemarahan Naruto. Dan sekarang ia pun cengar-cengir kembali.
.
.
.
Acara pun dimulai. Naruto sudah menyiapkan cincin yang sangat indah berwarna perak dan tentu saja ada permata putih yang menghiasi cincin itu. Naruto memasang cincin itu pada Sakura dan Sakura pun ikut memasangkan cincinnya pada Naruto. Setelah pemasangan cincin itu terdengar riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Semua tampak bahagia, termasuk Sakura. Ia terlihat sangat bahagia dan berseri. Tanpa Sakura sadari, Naruto menatap Sakura yang sedang tertawa. Hatinya ikut senang melihat tunangannya tersenyum.
'Teruslah seperti itu, Sakura-chan,'
.
.
.
"Naruto, apa tidak adegan ciuman?" tanya Choji masih sambil membawa makanan yang tadi diambilnya,menanyakan hal yang aneh yang membuat Naruto dan Sakura blushing berat.
"Sakura-chan malu-malu sepertinya," celetuk Hinata. Semua memandangnya. Pertama, ia biasa saja dengan pertunangan ini. Seperti yang semua telah ketahui, Hinata menyukai Naruto, tapi siapa yang menyangka Hinata terlihat bahagia juga. Kedua, bicaranya tidak gagap.
Hinata yang sadar karena dipandangi langsung menunduk. "Gomen na,"
1 detik
2 detik
3 detik
"Bwahahahahahahaha," suara tertawa yang membahana terdengar. Mereka menertawakan Hinata yang tidak sadar atas perkataannya tadi. Sedangkan Hinata hanya menunduk dalam-dalam, tak kuasa menahan malu. Dan mengutuk dirinya sendiri.
'Baka kau Hinata,'
"Jadi? Ayo cium Sakura, Naruto," goda guru Kurenai. Wajah Naruto dan Sakura sudah seperti tomat sekarang. Naruto menoleh kepada Sakura dan wajahnya seakan-akan mengatakan "bagaimana ini" pada Sakura.
Sakura yang mengerti tatapan Naruto hanya menatap balik tunangannya itu dan memberi sebuah senyuman.
CUP…
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
Rupanya Saudara-saudara adegan ciuman bibir tidak ada dalam acara ini. Yang ada Naruto hanya mengecup kening Sakura. Walaupun cukup lama dan kelihatan baik Sakura maupun Naruto sama-sama menikmati tapi tetep saja tidak seru.
"BUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…," langsung saja semua yang hadir meneriaki Naruto dan juga Sakura. Tentu saja mereka kecewa dengan adegan ini, pengennya disajikan sesuatu yang lebih, nyatanya malah disajikan dengan sangat kurang.
"Hal yang seperti ini tidak boleh disajikan didepan umum, tahu!" protes Naruto pada semua yang menyorakinya.
"BUUUUUUUUUUUUUU….,"
"Gak seru,"
" Kalau gak di bibir kurang romantis,"
Blablabla. Masih banyak lagi komentar yang terdengar disitu. Sementara yang punya pesta hanya tertawa canggung menanggapi ocehan mereka.
'Bagaimana mungkin kami bisa melakukan itu kalau kami bukan melakukan ini atas dasar cinta? Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya sedangkan cintaku bertepuk sebelah tangan?'
.
.
.
"Sakura-chan. Aku harap anakmu perempuan," kata Hinata. Sekarang para Kunoichi perempuan telah duduk bersama dan mengerumpi. Biasalah..gosipan para wanita dan tentu saja mereka merindukan saat mereka berkumpul dan bergosip seperti ini.
"Kalau aku justru ingin laki-laki," sahut Tenten. " Tapi warna rambutnya harus pink. Kan lucu kalau laki-laki punya rambut pink, hahahaha,"
"Tidak lucu Tenten. Anak Sakura bisa jadi banci nanti. Kalau aku ingin anak Sakura kembar," sahut Ino.
"Akan sulit untuk melahirkan, Ino-chan," celetuk Hinata. Ia membayangkan Sakura kesulitan melahirkan jika anaknya anak kembar. Apa Hinata tidak berpikir kalau ia juga perempuan? Semua bukan hanya Sakura pasti akan mengalami 'kesakitan' yang sama.
Sakura hanya tersenyum mendengar teman-temannya mengoceh. Ia senang walaupun teman-temannya tahu ini bukan anak Naruto ataupun Sasuke, mereka tetap berharap anak itu lahir ke dunia.
"Ne Jidat, kau mau anakmu laki-laki atau perempuan?" tanya Ino dengan tatapan menuntut jawaban.
"Hm…mana-mana saja. Asalkan ia lucu. Dan kalau perempuan ia cantik. Kalau laki-laki ia tampan, dan berhentilah memanggilku Jidat, Pig" sahut Sakura yang pura-pura emosi karena dipanggil Jidat
.
.
"Jagalah Sakura dengan baik,"
"Kakashi-sensei,"
Kakashi menghampiri Naruto yang sedang duduk dengan teman-teman sesama shinobi laki-laki. Tapi ia tidak tampak fokus sampai Kakashi menegurnya.
"Aku akan menjaganya dengan sekuat tenagaku. Tapi aku tidak tahu bisa sampai berapa lama aku menjaganya," sahut Naruto. Kakashi terlihat heran atas jawaban Naruto.
"Bagaimana kalau Sasuke kembali dan meminta Sakura-chan padaku? Haruskah aku memberikan Sakura-chan atau aku tetap mempertahankannya? Aku sebenarnya ingin mempertahankan Sakura-chan karena Sasuke juga sudah meninggalkannya seperti ini, tapi aku tidak mungkin egois dengan mempertahankannya sementara Sakura-chan tidak mencintaiku. Cintanya hanya untuk Sasuke. Jadi apa yang harus kulakukan, Kakashi-sensei?
"Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah bersabar dan bertahan. Kau tahu, Kami-sama sekarang mengujimu. Kau akan tinggal bersama Sakura yang tidak mencintaimu. Ini saatnya kau harus bersabar melihat Sakura yang mungkin saja akan mengatakan ia rindu pada Sasuke di depanmu. Lalu kau tahu? Sepertinya Kami-sama telah membukakan jalannya padamu untuk mendapatkan Sakura. Siapa tahu Sakura akan berpaling padamu. Jadi bersabarlah," jawab Kakashi yang memberikan petuah pada Naruto.
"Siapapun yang mendapatkan Sakura, aku akan mendukungnya. Yang penting Sakura bahagia dan kalian bertiga bahagia. Karena kalian selamanya adalah murid kesayanganku," jawab Kakashi sambil tersenyum.
~KUROSAKI KUCHIKI~
"Naruto…kau mau membawaku kemana? Apa masih jauh?" tanya Sakura yang semakin tidak sabar. Bayangkan saja matamu ditutup dan dibawa entah kemana.
"Sabar Sakura-chan. Ah…sudah sampai," sahut Naruto.
"Kau akan menyukainya Sakura-chan," kata Naruto dan membuka penutup mata Sakura.
"…"
"…"
"Naruto…ini,"
TBC
yay...kemanakah Naruto membawa Sakura? tebak...tebak...
Wkwkwkwkwkwk…lagi-lagi kepanjangan. Hehehehe…keenakan tulisnya.
Yup…untuk scene selanjutnya tidak ada pesakitan atau apapun. Dan bakal full scene NaruSaku.
Ceritanya semakin abal saja yah. Maaf, aku buat Hinata seolah-olah nerima kenyataan. Aku gak mau buat Hinata sakit hati. Nanti ceritanya kepanjangan.
entah kenapa saya jadi bingung ma lanjutannya... ada ide?
tolong beritahu saya
Please Review…
