Minna-san….

Arigatou buat yang udah mereview sampai chapter 3 kemarin. Semuanya dah saya balas ke PM masing-masing, dan review kalian panjang-panjang, dan saya senang sekali. Aku benar-benar gak menyangka fic saya ini banyak yang penasaran ma kelanjutannya. Untuk itulah hadir chapter 4.

Selama ini setelah melihat chapter 1 sampai 3, memang yang sangat kurang adalah deskripsi. Baik deskripsi tempat, suasana maupun suasana hati dari para tokoh, semuanya buruk. Saya memang tidak terlalu pandai buat deskripsi, *alah…bilang ajah kamu goblok* hehehehe… Tapi akan saya usahakan untuk deskripsi yang lebih baik dari yang chapter-chapter sebelumnya.

Ow ya, saya juga berpikir Naruto disini agak OOC banget. Biasanya dia lebih terkesan main-main, di fic ini malah dia lebih serius. Adakah yang menyadarinya? Wkwwkwkwkwk….

Ow yah, buat Rey619, buat usulannya untuk jadiin rated M, saya belum berani, masih geli buat nulis *dasar sok alim*, eits..jangan salah. Tapi kalau baca saya sangat suka sekali, malah bisa dibilang maniak, *evil smirk*. Lagian bentar lagi puasa, saya bisa dikutuk ma Kami-sama nya saya kalo buat kayak gituan, hehehehe…

Lagi-lagi saya banyak omong *memang kamu cerewet*. Ya sudah lanjut ke chap 4. Sesuai janji disini full NaruSaku dan belum ada konflik, jadi sedikit membosankan. Tapi para readers semua harus baca*maksa*. Ada sisi romance yang entah romantis apa tidak, tergantung penilaian readers sekalian melalui review. Jadi saya mohon reviewnya dalam bentuk apapun diterima.

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

.

Disclaimer : Naruto punya Masashi-sensei. Kalau aku yang punya, Naruto bakal jadian ma Sakura.

Summary : Sakura dan Sasuke akan menikah. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sasuke secara tidak langsung membatalkan pernikahannya. Naruto yang sangat mencintai Sakura pun membantu Sakura dalam menghadapi masalah peliknya. Tapi apa yang akan Sakura lakukan saat Sasuke datang kembali untuk menikahinya padahal Sakura sudah tahu perasaan Naruto padanya.

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Pairing : Naruto X Sakura

Rated : T+

Warning : Story abal. Gaje. Typo banyak. Ada OC, tapi sebentar ajah keliatannya. Jangan lupa review yah…

.

.

Story Begin

I'm Here For You

Chapter 4 : New Life

.

Kilas balik Chapter 3

.

"Naruto…kau mau membawa ku kemana? Apa masih jauh?" tanya Sakura yang semakin tidak sabar. Bayangkan saja, matamu ditutup dan dibawa entah kemana.

"Sabarlah, Sakura-chan. Ah…sudah sampai," sahut Naruto. "Kau pasti akan menyukainya, Sakura-chan," tambah Naruto dan membuka kain yang menutup mata Sakura.

"…..,"

"….,"

"Naruto, ini….,"

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

,

Indah. Besar dan terawat. Itulah kesimpulan yang bisa diambil Sakura untuk sebuah rumah besar bercat putih. Berlantai dua dan sangat terawat di depannya ini. Bunga mawar, lily, dan berbagai macam bunga lainnya menghiasi rumah ini membuatnya tampak asri, indah dan menyejukkan.

Di sudut halaman rumah itu terdapat sebuah pohon yang kokoh dan besar serta rindang, lengkap dengan sebuah ayunan yang bisa memuat dua orang tergantung di pohon itu. Dan ada seset meja dan kursi yang terbuat dari kayu ada di bawah pohon itu juga.

Rumah ini pun terlihat mempunyai fasilitas keamanan yang sangat terjamin. Terbukti dengan adanya dua orang Shinobi yang berjaga di depan rumah besar ini.

"Ini rumahku. Ah..bukan. Ini rumah ayah dan ibuku dulu. Disinilah mereka menghabiskan banyak waktu berdua. Dulu sempat hancur sedikit akibat serangan Kyuubi, tapi direnovasi ulang seperti aslinya oleh perintah Hokage ketiga," Naruto langsung menjawab Sakura karena pasti Sakura akan bertanya.

"Warisan ayahmu? Kapan kau mendapatkannya? Kenapa tidak menceritakan hal yang seperti ini padaku?" tanya Sakura bertubi-tubi.

"Ahahaha…..," Naruto tertawa kecil mendengar Sakura yang menghujaninya dengan pertanyaan. "Sabar, Sakura-chan… aku mendapatkannya dua tahun lalu saat usiaku 20 tahun. Selama ini aku tidak tinggal disini. Aku masih kok tinggal di flat ku. Hanya saja jika aku ingin dan merindukan ayah dan ibu, aku akan kesini. Aku sengaja tidak memberitahukan ini pada kalian, karena aku tidak mungkin membanggakan sesuatu yang bukan punyaku, seperti rumah ini. Ini kan punya ayahku bukan punyaku, walaupun sudah diberikan padaku," jawab Naruto

"Inilah sifat yang sangat aku sukai darimu. Kau selalu rendah hati, mungkin kalau orang lain dan mungkin termasuk aku, pasti sudah membanggakan diri," ujar Sakura yang kembali menatap rumah yang Sakura anggap seperti istana itu. Sementara Naruto hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Sakura tadi

"Ne, Naruto siapa dua orang Shinobi itu?" tunjuk Sakura yang penasaran dengan kehadiran Shinobi itu.

"Oh…itu…. Namanya Himuro-san dan yang itu namanya Maruko-san. Memang selalu ada yang menjaga rumah ini. Dan kali ini giliran mereka. Ayo masuk Sakura-chan. Matahari makin meninggi saja," jawab Naruto sekaligus membawa Sakura masuk.

"Ohayou..Himuro-san…Maruko-san," sapa Sakura dilengkapi dengan senyumnya dan juga Naruto saat melewati kedua Shinobi yang sedang bersenda gurau didalam pos penjagaan mereka, di kediaman Namikaze. Yang bernama Himuro mempunyai tinggi tubuh setinggi Kakashi. Umurnya sekitar 27-28 tahun, raut wajahnya tegas seperti Itachi, tapi sepertinya tidak galak, dan terlihat kalau kulitnya sawo matang. Sedangkan yang bernama Maruko, umurnya sekitar 27-26 tahun, berkulit putih dan raut wajahnya seperti Kiba, serta postur tubuhnya yang seperti Yamato.

"Ohayou mo, Naruto-san, Sakura-san,"sapa mereka berdua kembali.

.

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

.

Rumah yang sangat bersih dan rapi. Dengan dinding berwarna putih yang mendominasi. Perabotan yang terlihat berkelas dan mahal, dan terawat. Entah sudah diganti atau hanya dirawat selama 22 tahun ini, entahlah . Lalu terlihat tangga yang terbuat dari kayu yang dijamin sangat kuat sehingga tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua ini sangat kokoh. Sakura langsung saja berkeliling, ingin melihat seberapa besar rumah ini. Karena jujur saja, ia sangat terkesan dengan rumah ini.

SAKURA'S POV

Inikah rumah Hokage keempat dan istrinya? Sungguh…ini rumah yang sangat indah. Aku belum pernah melihat rumah yang seindah ini. Aku merasa terhormat ada disini. Tempatnya sangat nyaman karena letaknya di pinggiran desa. Angin sejuk lebih terasa disini daripada di tengah-tengah desa.

Aku menelusuri rumah ini dan sampai pada ruang keluarga. Disini terlihat sebuah meja dengan 4 kursi yang mengelilinginya, dan aku yakin ini adalah meja makan. Lalu ada sekat dan dibalik sekat itu terdapat dapur. Peralatan dapurnya masih baru. Pasti Naruto yang menggantikannya, karena tidak mungkin kan peralatan dapur 22 tahun lalu tidak akan menjadi berkarat. Tapi untuk apa Naruto mengganti perabotannya kalau ia tidak tinggal disini? Dasar aneh.

Lalu aku mendapati kamar kosong. Sepertinya ini ruang tidur untuk tamu yang akan datang, karena desainnya yang biasa, tempat tidur dengan ukuran sedang dan ada kamar mandinya yang langsung berada di kamar itu.

Aku pun ingin melihat-lihat halaman belakang. Terdapat pintu dari kayu berwarna coklat, dan pasti itu menuju halaman belakang. Saat aku bnerjalan kesana, mataku menangkap sebuah pintu lagi disampingku tepat dibawah tangga. Saat aku membukanya, tepat seperti dugaanku, ada kamar mandi bersama di balik pintu itu. Aku hanya melongok sekilas, hanya tampak olehku bathtub dan juga westafel juga kaca.

Saat aku membuka pintu coklat itu, tampak pemandangan yang aku jamin pemandangan paling indah di Konoha. Halaman belakang ini penuh dengan bunga mawar merah. Jika saja tidak ada jalan setapak yang sengaja dibuat agar tidak menginjak bunga-bunga ini, pasti sudah kusebut taman bunga mawar merah. Hm…harum yang berasal dari bunga-bunga ini sangat menyejukkan hati dan menyegarkan. Aku tahu pasti ada yang merawatnya selama 22 tahun ini tapi yamg menanamnya terlebih dahulu pasti Ibu Naruto.

Setelah puas dengan pemandangan disitu aku belum puas kalau belum ke atas. Aku masuk dan melangkah keatas tangga. Aku melihat Naruto yang sedang duduk diam. Entahlah, apa yang dipikirkannya, semoga yang dipikirkannya tidak membuatnya sedih.

Diatas, terdapat tiga kamar rupanya. Aku memutuskan untuk melihat kamar yang paling ujung kanan. Kamar ini bau…mawar. Aku yakin ini pasti kamar Ibu dan Ayah Naruto. Sebenarnya aku ingin langsung keluar , karena merasa sangat tidak sopan. Tapi aku melihat balkon yang diberi sekat jendela besar. Segera aku membuka jendela itu dan wushhh…angin sejuk langsung menerpa wajahku.

Sepertinya kedua kamar lainnya juga mempunyai balkon karena saat aku melihat ke samping kiriku, pemandangan balkon ini juga sama. Jadi kedua kamar lainnya juga punya balkon yang sama. Aku mendekat dan menumpukan tanganku pada pembatas beranda. Aku membiarkan angin sejuk khas Konoha membelai wajahku dan meniupkan rambutku yang semakin lama semakin panjang dan membiarkannya tergerai begitu saja. Sebagian desa Konoha bisa kulihat dari sini, dan tentu saja sebuah gedung paling besar dan paling mewah yaitu gedung Hokage juga tampak disini.

SAKURA'S POV END

.

"Ini kamar ibu dan ayahku dulu," tiba-tiba Naruto menyapa Sakura yang sedang asyik melihat desa.

Sakura berbalik dan melihat Naruto sedang berdiri di pintu masuk. "Ah…Naruto, maaf, aku tidak sengaja masuk kemari," Naruto hanya tersenyum menandakan bahwa tidak apa-apa.

Sakura masuk kembali ke kamar. Matanya mengedar kemana-mana. Dilihatnya sebuah bingkai foto diatas meja rias, dan dipegangnya. "Ini ibumu yah? Wajahnya cantik sekali walaupun dalam keadaan hamil tua. Kalau ayahmu sich, jangan ditanya lagi. Dia memang tampan sekali," puji Sakura. Ia begitu mengagumi Kushina saat melihat paras nya dalam bingkai itu. Rambut merahnya yang panjang, raut wajah cantiknya yang menandakan kelembutan disana bersanding dengan seorang pria yang hebat, ayah Naruto, Minato Namikaze yang terlihat begitu gagah dalam balutan jubah Hokagenya. Tapi ia tidak merasa heran dengan ketampanan ayah Naruto karena fotonya pun ada di ruang Hokage. Ia hanya tidak menyangka kalau Kushina sangat cantik karena ini pertama kalinya ia melihat Kushina walaupun hanya dalam sebuah foto. Apalagi aslinya?

Naruto masuk dan bergabung dengan Sakura. "Oh ya? Terima kasih pujiannya. Mereka pasti senang mendengarnya. Hanya ini yang mereka tinggalkan untukku sehingga aku bisa melihat mereka dirumah ini," jawab Naruto yang melihat foto itu juga, tapi dengan tatapan sendu.

Sakura memegang bahu Naruto, mencoba menghiburnya. "Aku turut bersedih, tapi jangan mengira hanya ini saja yang mereka tinggalkan untukmu. Kau tahu, kasih sayang yang mereka tinggalkan untukmu lebih berharga daripada apapun," dan ia meletakkan kembali foto orangtua Naruto.

Naruto membalas genggaman Sakura pada bahunya. "hm…aku tahu. Setiap orangtua pasti akan begitu," Naruto menarik Sakura untuk duduk di ranjang orangtuanya "Aku juga mengatakan ia sangat cantik saat aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Tapi dulu aku sempat mengira ibuku wujud asli dari Kyuubi, hehehehe….,"

"Eh? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Mana mungkin Kyuubi secantik ini, Naruto," tanya Sakura heran karena bisa-bisanya Naruto mengira ibunya adalah wujud asli dari Kyuubi.

"Karena saat pertama kali aku melihat ibuku, waktu aku sedang belajar mengendalikan chakra Kyuubi. Ia yang membantuku mengendalikan Kyuubi dan juga menceritakan masa laluku. Tapi jangan mengira kalau ia selalu baik. Walau aku hanya bertemu dengannya sebentar, kepalaku sudah dipukul olehnya sebanyak 2 kali. Dan itu sakit sekali, belum lagi bentakannya, membuatku merinding. Singkatnya ibuku juga galak sekali, hehehe," tambahnya lagi dengan cengiran khasnya.

"Mungkin karena kau menyinggungnya, Naruto,"

"Ah…sudahlah tidak usah dibahas. Ayo, kita ke kamar sebelah," Naruto lagi-lagi menarik tangan Sakura.

.

.

"Masuklah," kata Naruto pada Sakura. Mereka telah sampai dikamar tengah. Kamar ini tidak berbeda jauh dengan kamar yang tadi hanya saja kamar ini didominasi warna pink, ranjang ukuran king size dengan bed cover pink bergambar bunga sakura. Meja rias yang mungil, lengkap dengan cermin rias. Lalu lemari kayu yang besar dan tinggi, terdapat kaca yang sama tingginya dengan lemarinya, yang menempel menjadi satu dengan lemarinya, sehingga saat berkaca seluruh tubuh akan terlihat.

Sakura terheran-heran. Kamar ini berbeda dari kamar yang tadi. Melihat keheranan Sakura, Naruto langsung berkata dengan riangnya, "Ini kamarmu, Sakura-chan,"

"Nan..nani? kamarku? Tapi Naruto bukannya kita masih bisa tinggal di flat-mu? Lagipula…aku..Naruto..ini berlebihan!" Sakura berbalik dan menatap Naruto.

Naruto berjalan melewati Sakura. Dan membuka jendela yang menghubungkan kamar dan balkon. "Kau mau kau dan anakmu tinggal di flat ku yang sempit, bau dan juga kotor itu?"

'Tapi kan, jangan bercanda Naruto. Ini rumah orangtuamu. Aku…sungguh…ini..,"

Naruto berbalik menggenggam bahu Sakura dengan sangat lembut agar Sakura tidak kesakitan. "Sakura-chan, tolong dengarkan aku. Ini sama sekali tidak berlebihan. Kau harus mendapatkan tempat yang layak. Lagipula alasanku tidak ingin tinggal disini adalah rumah ini terlalu besar untuk ku tempati sendiri. Sekarang sudah ada kau dan tentu saja anak dalam kandunganmu itu. Jadi rumah ini akan terasa lebih ramai, kau mengerti maksudku, kan?"

Ucapan Naruto membuat Sakura tersipu. Ia merasa sangat istimewa saat ini, juga sangat bahagia. Langsung saja dipeluknya Naruto. "Arigatou, Naruto,"

"Hehehehe, doita, Sakura-chan," ucap Naruto yang membalas pelukan Sakura-channya.

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

SKIP TIME

.

" Naruto,"

"Ya, Sakura-chan?"

"Ehm…apa aku boleh kembali bekerja dirumah sakit?" tanya Sakura suatu pagi, saat mereka berdua sedang sarapan.

Naruto mendongak dan meninggalkan sejenak ramen buatan Sakura yang sedang dilahapnya dengan sangat tidak sabaran. "Apa tidak apa-apa? Kandunganmu sudah 3 bulan, semakin membesar, Sakura-chan, kau harus banyak istirahat,"

"Lalu kau menyuruhku untuk diam dirumah selama 9 bulan penuh? Sudah 3 bulan aku dirumah, aku tidak ada kegiatan. Aku ingin kembali bekerja. Ino dan Hinata pun tidak perlu repot-repot lagi untuk mengunjungiku tiap hari. Lalu Shizune-senpai tidak harus datang kesini lagi untuk mengecek kehamilanku, karena dirumah sakit aku bisa rutin mengeceknya," protes Sakura dan menggembungkan pipinya karena Naruto yang terlalu overprotektif padanya.

Naruto menghela napas. Pagi-pagi sudah diomeli. "Hah…baiklah…tapi ada syaratnya,"

Jawab Naruto. Lebih baik ia mengijinkannya daripada mendengar omelan Sakura, apalagi selama hamil kalau Sakura naik darah ia akan mengomel sepanjang hari tanpa memperdulikan Naruto yang mulai bosan dengan omelannya.

"Apa?" tanya Sakura ketus.

"Waduh…Sakura-chan marah ya? Jangan marah donk…nanti anakmu bisa ketularan," canda Naruto.

"Biar saja. Dan jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang katakan apa syaratnya,"

Jawab Sakura dengan nada yang sangat galak.

Naruto tentu saja tidak ingin dibunuh pagi-pagi. Segera saja ditelannya ramen yang baru dimasukkan kedalam mulutnya. Dengan sangat cepat. "Baik..baik…syaratnya, aku yang akan mengantarmu ke rumah sakit dan pulang dari rumah sakit kau harus menungguku untuk pulang bersama. Lalu hari sabtu dan minggu kau harus libur, tidak boleh bekerja apapun alasannya,"

"Hah! kau sudah seperti diktator saja. Baiklah aku akan menuruti, Naruto, daripada aku jadi tua dalam rumah" keluh Sakura. "Oh ya? Bagaimana dengan persiapanmu, Naruto? Kau sudah bisa menguasai protokol Hokage?" begitu-begitu Sakura masih perhatian dengan persiapan Naruto dilantik menjadi Hokage.

"Pelantikan Hokage masih lumayan lama, Sakura-chan… lagipula kau tidak perlu khawatir. Aku belajar dengan cepat walaupun itu membosankan. Tapi yah…apa boleh buat ini untuk impianku," jawab Naruto dengan mulut penuh ramen.

"Telan dulu makananmu sebelum menjawab, Naruto," Omel Sakura karena Naruto selalu saja seperti itu. Ini namanya calon Hokage? Makan dengan sopan saja, sepertinya ia harus masih diajari.

"Yes, Mom," Sakura tersipu saat Naruto memanggilnya begitu. Ia jadi seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

.

"Bagaimana? Sudah siap untuk kembali bekerja Sakura-chan?" tanya Naruto saat ia menjemput Sakura dikamarnya.

"Tidak ada kata tidak siap bagiku, Naruto. Kau saja yang melarangku bekerja. Aku jadi khawatir, sekarang masih tidak ya aku membedakan mana jarum infus dan jarum suntik?" gerutu Sakura dan mengerucutkan bibirnya.

"Sakura-chan kan Kunoichi terbaik…hal sekecil itu pasti masih tahu kok. Ayolah Sakura-chan, ini masih pagi. Jangan cemberut terus. Kau sangat jelek…..," ejek Naruto.

"Arrgh…aku malas mendengarkanmu. Cepat antar aku ke rumah sakit," Sakura melewati Naruto dan hendak pergi.

"Hei, Sakura-chan, sini aku bantu. Hati-hati turun di tangga," Naruto lalu menuntun Sakura menuruni tangga. Inilah kebiasaan Naruto sejak perut Sakura semakin membesar. Ia selalu menuntun Sakura naik maupun turun tangga. Sementara Sakura hanya tersenyum tipis, kemarahannya karena sedang hamil mereda karena mendapat perhatian yang berlebih. Kandungannya baru 3 bulan, tapi perhatian Naruto sudah seperti ini, apalagi saat kandungannya makin membesar.

"Oh iya, Sakura-chan, Ino mengatakan padaku, saat kehamilanmu 5 bulan, kau akan sering kecapekan dan mungkin akan kesusahan berjalan, jadi kamarmu kupindahkan ke lantai satu, ya? Aku agak khawatir kalau kau harus naik turun tangga," Naruto menyampaikan maksudnya. Ia memikirkan hal ini sejak seminggu yang lalu saat Ino datang mengunjungi Sakura.

"Hm….kapan si Pig itu memberitahumu?" tanya Sakura dengan masih berpegangan pada sisi tangga yang dituruninya bersama Naruto.

"Seminggu yang lalu. Kalau kau tidak suka dengan kamar itu, kita renovasi ulang saja dan buat kamarnya persis dengan kamarmu diatas, bagaimana?" usul Naruto pada Sakura takut-takut Sakura akan tidak merasa nyaman nanti.

"Tidak perlu. Itu sudah cukup,"jawab Sakura singkat. Ia sudah terlalu banyak menyusahkan Naruto.

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

.

"Ya ampun…aku kaget sekali. Sudah 4 bulan tidak kelihatan, Sakura-san akhirnya masuk juga. Kami kesepian nich," tegur seorang perawat bernama Ayumi yang berparas cantik dan berambut pirang.

"Bukan mauku untuk tidak bekerja, masalahnya orang baka ini yang melarangku bekerja," tunjuk Sakura pada Naruto yang berada disampingnya, sementara yang ditunjuk hanya cengar-cengir tidak jelas.

"Wah…calon suami yang baik," jawab Ayumi. "Kehamilanmu sudah berapa bulan Sakura-san?"

"Sudah 3 bulan," jawab Sakura singkat.

"Aku harap anak Sakura-san akan sehat," kata Ayumi lagi.

"Tentu! Ia akan sehat seperti ayahnya ini dan tentu saja akan cantik seperti ibunya, benar kan Sakura-chan?" jawab Naruto. Sedangkan Sakura hanya tersenyum tipis dan meringis, Naruto selalu mengakui anak dalam kandungan Sakura adalah anaknya padahal kenyataannya justru terbalik 360 derajat.

"Jagalah kandungan Sakura-san baik-baik. Biasanya masa-masa sekarang banyak kendala. Ya sudah aku mau ke ruang pasien dulu. Ja ne, Sakura-san, Naruto-san,"Ayumi lalu menghilang di belokan koridor rumah sakit.

.

Naruto dan Sakura melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju ruangan Sakura.

"Jidat…aku senang kau kembali, " teriak seseorang yang pasti sudah sangat dikenal oleh mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Ino. Gadis itu lalu berlari kearah mereka

"Berhenti memanggilku seperti itu, Pig! Mana kunci ruanganku? Aku mau masuk," jawab Sakura ketus.

"Hei… apa ini yang disebut bawaan orang hamil? Kerjaannya marah-marah melulu. Apa dia setiap hari seperti ini, Naruto?" tanya Ino pada Naruto seraya memberikan kunci ruangan Sakura pada Naruto dan membukakan pintunya.

"Aku tidak berani komentar. Lihat saja sendiri," jawab Naruto. Dia jelas takut menjawab, karena ia masih ingin hidup.

Mata Sakura tampak berbinar saat melihat ruangan yang sudah ditinggalkannya 4 bulan ini. Masih sama. Rapi dan bersih. Ruangan minimalis yang didominasi warna putih. Rak yang berisi arsip pasien-pasiennya. Lalu meja dan kursi yang biasa ditempatinya untuk melepas lelah setelah bekerja ataupun untuk memeriksa laporan kesehatan pasiennya. Lalu alat medis sederhana pada umumnya yang terdapat dimejanya, dan sebuah ranjang khusus pasien yang memeriksa, dan tentu saja ini yang membuatnya bangga yaitu baju resmi dokternya.

Naruto melirik jam dinding di ruangan Sakura. Sudah jam 8 lewat 5 menit.

"Gawat ! Sakura-chan aku pergi dulu. Aku sudah telat 5 menit, mati aku dari nenek nanti," ujar Naruto mendadak histeris.

"Makanya tadi kubilang jangan mengantarku masuk, itu sich kau yang salah bukan aku," timpal Sakura.

"Tidak bisa begitu, Sakura-chan… Aku harus mengantarmu sampai sini. Nah, anak ayah, jangan nakal, jangan buat ibumu repot, Ok!" jawab Naruto seraya menunduk dan mensejajarkan diri dengan perut Sakura dan bicara dengan calon bayinya. "Aku pergi, Sakura-chan," tambahnya lagi dan mencium kening Sakura sekilas dan pergi.

"Hah…Naruto itu masih saja ceroboh. Aku tidak bisa membayangkan Tsunade-sama pasti akan murka. Tapi sepertinya ia sangat perhatian padamu dan anakmu," kata Ino yang kagum melihat Naruto yang sudah sangat dewasa dalam hal perhatian.

"Kurasa kau benar. Tapi hatiku miris saat ia mengakui ini adalah anak kandungnya, Ino," jawab Sakura dengan nada bersalah.

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

.

"Waktunya minum obat dan minum susu, Sakura-chan…..," teriak Naruto yang berjalan dari arah dapur ke ruang makan.

"Aku tahu Naruto. Tapi jangan berteriak seperti itu. Kau seperti orang kebakaran jenggot," kata Sakura yang menegur Naruto karena ulahnya.

"Eh? Aku tidak punya jenggot, Sakura-chan. Jadi tidak mungkin bisa terbakar," jawab Naruto polos.

Sakura cengo. 1 detik, 2 detik, 3 detik lalu 'BLETAK'. Begitulah bunyi kepala Naruto yang duduk disamping Sakura berbunyi. "Dasar Baka! Itu hanya kiasan Naruto, kiasan! Ya ampun, ibu dan ayah mu jelas harus tabah menghadapi anak sepertimu. Apa mereka tahu kalau kau se-Baka ini!" seru Sakura setelah memukul kepala Naruto dengan kerasnya.

"Aduh…sakit Sakura-chan. Aku tahu kok maksudmu, hanya saja aku ingin membuatmu kesal. Hahahaha… Kau tahu, kau yang seperti ini terlihat lebih…cantik," jawab Naruto masih dengan mengelus-elus kepalanya yang sakit terhantam tangan batu Sakura.

BLUSH… Pipi Sakura memerah. Wanita manapun jika dipuji seperti ini jelas akan tersipu malu. Tapi Sakura langsung mengontrol dirinya kembali agar pipinya yang merona tidak dilihat Naruto.

"Sudahlah! Nah, bagaimana dengan pelajaranmu tadi?" tanya Sakura yang penasaran. Ia ingin mendengar Naruto menceritakan pelajaran Hokage nya sebelum ia tidur.

"..ha..ha," Naruto tertawa kaku. "Bagaimana yah? Bisa dibilang sukses bisa juga tidak," jawab Naruto.

.

FLASHBACK : ON

" NARUTO! DARIMANA SAJA KAU, HAH?" teriakkan Tsunade pagi-pagi memekakkan telinga Naruto. Saking menggelegar teriakan Tsunade, burung-burung yang hinggap di menara Hokage kabur dengan cepatnya, ada yang sedang menelan makanannya langsung keselak. Ada yang menggigit cacing, tapi burung itu langsung melepas cacingnya saking kagetnya. Sedangkan banyak anak kecil di bawah gedung hokage yang kebetulan lewat, menangis dengan sangat keras mendengar suara itu. Sedangkan manula yang tuli tidak perlu memeriksakan telinganya di dokter THT, karena akan percuma akibat teriakan yang memperparah kondisi telinga mereka.

"Nenek jangan berteriak. Dengarlah, banyak anak yang menangis di bawah karena nenek!" jawab Naruto yang merasa iba dengan anak-anak tak berdosa itu. Tangisan anak-anak kecil itupun tidak kalah kencangnya dengan teriakan sang Hokage kelima sudah seperti paduan suara tangisan bayi.

"KAU! DASAR MAKHLUK KUNING SIALAN" teriak Tsunade lagi tapi kali ini sebuah botol sake dilayangkan dan akan tepat mengenai wajah Naruto.

Dengan gaya slow motion ala Matrix, Naruto berhasil menghindar. Dan ternyata botol sake itu terus melayang hingga ke pintu, yang rupa-rupanya ada Kakashi dan juga Yamato yang baru datang. Tapi dengan instingnya Kakashi berhasil menghindar dan….

'BUKKK…JDARR..KLONTANG…'

Bunyi pertama botol sake yang terkena kepala Yamato. Yamato terlalu asyik tertawa, malah terbahak- bahak, entah apa yang diceritakan Kakashi padanya, sehingga ia tidak sadar botol sake melayang kearahnya dan hanya terus tertawa.

"Yamato taichou, awas…..," seru Naruto tapi sudah terlambat.

Bunyi kedua. Saking kuatnya lemparan Tsunade, begitu botol itu terkena kepala Yamato, tubuh Yamato langsung terhempas dan menabrak tembok di belakangnya sampai retak.

Bunyi ketiga. Bunyi botol sake. Setelah menghantam kepala Yamato botol itu langsung saja menggelinding dengan indahnya. Sedangkan Yamato telah tepar tak berdaya di lantai. Benar-benar mengenaskan.

FLASHBACK : OFF

.

"Lalu karena aku yang bersalah karena secara tidak langsung akulah penyebab Yamato-taichou terluka, lagipula nenek menjatuhkan semua kesalahannya padaku, maka aku dihukum oleh nenek belajar sampai jam 10 malam. Sedangkan Yamato taichou langsung disembuhkan oleh Shizune-nee. Tapi karena alasan mau menjemputmu, aku dipulangkan jam 9," kata Naruto mengakhiri ceritanya.

"Hahahahahhahaha…. Kasihan juga yah Yamato-taichou, nasibnya menyedihkan, " Sakura tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Naruto tadi.

"Sakura-chan…berhentilah tertawa seperti itu. Itu bukan cara tertawa untuk perempuan," seru Naruto melihat gaya tertawa Sakura yang sama sekali tidak anggun. Ia jadi teringat dengan cara tertawa ibunya yang sangat tidak sopan bagi perempuan.

"Hahahahaha, maaf Naruto. Tapi aku bener-bener tidak tahan," ujar Sakura yang masih tertawa.

"Aduh…aku jadi menyesal menceritakan ini padamu, Sakura-chan. Ayo naik, kita tidur sudah larut malam. Biarkan saja gelasnya disitu, besok saja baru dicuci," kata Naruto dan segera membawa Sakura naik ke atas kamarnya untuk beristirahat.

.

.

.

"Hei Sakura, apa kau merasa agak lelah karena membawa anakmu di dalam perutmu?" tanya Naruto pada Sakura setelah Sakura berganti pakaian dan bersiap untuk tidur.

"Tentu saja berat Naruto. Kau harus jadi perempuan untuk merasakannya. Tapi, kau tahu, seorang Ibu tidak akan merasa lelah meskipun membawa anak dalam perutnya kemana-mana. Ini justru menyenangkan," jawab Sakura yang mulai terlihat naluri keibuannya dan mulai mengelus perutnya. Naruto hanya diam saat melihat itu.

"Berarti ibuku dulu seperti itu yah," gumam Naruto yang masih dapat didengar oleh Sakura.

"Aku yakin pasti begitu. Ibumu pasti senang membawamu kemana-mana meskipun kau masih dalam perut ibumu, Naruto," jawab Sakura dan tersenyum memandangi Naruto.

"Hanya dalam kandungan tapi aku tidak pernah dibawa kemana-mana mengenakan tangannya. Aku tidak pernah dibimbing oleh tangannya," jawab Naruto.

Sakura mendekati Naruto yang duduk di tepi ranjangnya, lalu ikut duduk di sebelah Naruto, "apa kau marah karena mereka meninggalkanmu?"

Naruto memalingkan wajahnya dan menatap Sakura "aku hanya ingin bersama mereka lebih lama lagi, bukan dengan waktu sesingkat itu, Sakura-chan," ungkap Naruto dengan air muka sendu. "Tapi aku tidak marah pada mereka karena mereka melakukan ini untukku dan juga desa kita," tambahnya lagi

"….,"

"Sudahlah. Sekarang kau tidur. Besok harus kerja lagi kan? Kalau ada apa-apa panggil aku atau datang langsung ke kamarku," kata Naruto yang menyuruh Sakura untuk berbaring sementara ia menyelimuti Sakura. Kamar Naruto tepat disebelah kamar Sakura, oleh karena itu Sakura tinggal memanggilnya saja. Lagi-lagi Naruto belum mau terbuka tentang kesedihannya pada Sakura. Sakura merasa Naruto ingin menangis tapi tidak bisa. Ada sesuatu yang ingin diungkapkan tapi tidak bisa.

"Ehm, Naruto. Arigatou, " ucap Sakura dengan penuh rasa tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Doita, Sakura-chan,"

'CUP'

Satu ciuman lagi dari Naruto di kening Sakura. Kali ini lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya. Sakura tidak memberontak, menolak ataupun sekedar melakukan apapun yang bisa dilakukannya untuk membuat Naruto berhenti mencium keningnya dengan sangat lama. Ia hanya menikmati sentuhan bibir Naruto yang menciumnya dengan sangat lembut. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini bahkan saat Sasuke mencium dan mencumbunya. Belum lagi jantungnya yang makin berdetak kencang, sedangkan Sakura dapat merasakan debaran jantung Naruto yang lebih kencang dari dirinya karena Naruto mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi.

Sakura semakin memejamkan matanya saat ciuman Naruto semakin turun dan turun hingga ke pipi Sakura. Entah sadar atau tidak, Sakura menekan kepala Naruto, seakan ingin meminta lebih. Seakan ingin merasakan lebih. Bukan hanya ini, ia ingin lebih.

Naruto terus menjelajahi setiap pipi Sakura dan saat Naruto menuju bibirnya.

'Apa yang kau lakukan, Naruto? Hentikan,'

Suara hati Naruto menghetikan semuanya. Menghentikan kehangatan dan kelembutan yang Sakura rasakan. Dengan cepat Naruto menghentikan ciumannya sebelum itu terlanjur lebih dalam. Naruto menjauhkan wajahnya dan Sakura pun menjauhkan tangannya yang masih berada di kepala Naruto.

"Gomen na, Sakura-chan. Oyasumi," dengan langkah cepat ia meninggalkan Sakura yang yang tercengang dan menutup pintu kamar Sakura.

,

,

TBC

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

.

Bunuh saya. Ayo bunuh saya.

Readers : Ayo…. *bawa senjata tajam*

Chap ini menurut saya paling gaje, abal dan ARRGGGHHHH…*teriak frustasi*. Saya mohon commentnya untuk chapter ini. Saya harap reader semua menyukainya.

Maaf Naruto tidak jadi nyium Sakura. Tapi mungkin nanti pasti ada saat mereka melakukan yang lebih 'panas'. Bukan berarti berubah rated loh. Tetep T. Saya masih merinding kalo harus buat rated M, tapi sekali lagi kalau baca sangat suka dan doyan, wkwwkkwkwkwkwk….

Manusia nista jangan ditiru.

Ok…sesuai ide dari Ridho Uciha, chap depan dan seterusnya walaupun tidak banyak, saya akan menambahkan pair ShikaIno. Trus, mungkin juga SasuHina. Siapa yang setuju angkat kaki *Plak*

Mohon reviewnya…