Saya kembali…..
Fuah….kerja di bagian administrasi benar-benar melelahkan. Sudah selesai yang ini, belum sempat bernafas, ada lagi yang datang. Baikin kontrak inilah, itulah. Fuh…sebel jadinya, pengen hajar ajah bosnya *Loh…malah curhat*
Sebenarnya buat chapter 5 ini saya benar-benar kehabisan akal dan ide. Saya bingung chap 5 ini seperti apa, ya? Jadi maaf kalau agak ceritanya membosankan dan jelek plus gaje. Tapi tetep saya minta reviewnya dalam bentuk apapun.
Hontou ni arigatou buat semua reader yang sudah review fic ini dengan setia. Semua masukan, kritik dan ketidaksabaran kalian buat nunggu fic ini benar-benar buat saya terharu. Hikz….
Dan review kalian sudah saya balas ke PM masing-masing…
dan buat yang gak login
Rinzu15 : wah...arigatou gozaimasu dah di bilang bagus rinzu-san. saya nunggu review nya lagi yah...
Ya sudahlah banyak bacot. Langsung ajah chapter 5 begin
Enjoy this chapter….
.
*KUROSAKI KUCHIKI*
Disclaimer : Naruto punya Masashi-sensei. Kalau aku yang punya,Naruto bakal jadian ma Sakura.
Summary : Sakura dan Sasuke akan menikah. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sasuke secara tidak langsung membatalkan pernikahannya. Naruto yang sangat mencintai Sakura pun membantu Sakura dalam menghadapi masalah peliknya. Tapi apa yang akan Sakura lakukan saat Sasuke datang kembali untuk menikahinya padahal Sakura sudah tahu perasaan Naruto padanya.
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Pairing : Naruto X Sakura
Rated : T+
Warning : Story abal. Gaje. Typo banyak. Tapi jangan lupa review yah…
Naruto dan temen-temennya aku buat berumur 22 tahun
.
Story Begin
I Am Here For You
Chapter 5 : The Feeling?
Naruto memasuki kamarnya yang berada tepat di samping kamar Sakura. Dalam perjalanan ke kamarnya yang singkat, ia terus mengumpat dan memaki dirinya yang begitu bodoh. Ia hampir saja melakukannya. Ia hampir mencium Sakura, tepatnya mencumbunya. Sungguh gila. Hei, Naruto dan Sakura hanya berstatus tunangan. Tidak ada perasaan cinta dalam status mereka. Setidaknya itu pemikiran Naruto.
"Shit! Apa yang hendak kulakukan tadi?" umpat Naruto sekali lagi dan mulai menjambak rambutnya secara brutal sebelum akhirnya ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.
"Kami-sama….arigatou sudah menyadarkanku sebelum semua terlambat,"
Sementara di kamar Sakura….
Saat ini ia sedang gelisah. Matanya ingin ia pejamkan, tapi tidak bisa. Kejadian barusan masih terbayang dalam benak gadis pink ini.
SAKURA'S POV
Kami-sama…
Ada apa denganku? Mengapa aku begitu menikmati ciuman dan sentuhan yang Naruto berikan padaku? Mengapa aku kecewa saat Naruto menghentikan ciumannya padaku? Mengapa justru ini menyamankanku? Aku benar-benar tidak mengerti akan hal ini.
Selama aku tinggal bersama Naruto, tidak terhitung berapa banyak ciuman hangat yang diberikan oleh Naruto, dan sensasinya selalu sama. Tapi kali ini berbeda, sepertinya dalam ciumannya kali ini Naruto ingin melepaskan sesuatu yang selama ini ia tahan, aku tidak tahu itu apa, tapi seperti itulah yang kurasakan tadi.
Kami-sama…jika hatiku telah berpaling pada yang lain, tolong tunjukkan jalan agar aku bahagia dan siapapun pilihan hatiku aku mohon jadikan ia milikku seutuhnya dan dekatkan kami.
SAKURA'S POV END
.
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
"Apa Hokage-sama memanggil saya?" tanya Hinata yang sekarang berada di kantor Hokage. Tampak Tsunade sedang menikmati sake terakhir. Hinata sendiri bertanya-tanya ada apa Tsunade memanggilnya pagi-pagi sekali.
"Oh…kau sudah tiba rupanya. Aku punya tugas untukmu, Hinata. Dan kali ini aku ingin kau sendirian, karena tugas ini bukanlah hal yang sulit untuk Kunoichi sepertimu," jawab Tsunade yang mulai terlihat serius berbicara. Dalam hati Hinata mengakui kehebatan Tsunade dalam hal minum sake. Bayangkan saja, ada 10 botol sake yang dihabiskan olehnya tapi sama sekali tidak terlihat ia sempoyongan apalagi mabuk.
"Ap..apa itu Tsunade-sama?" tanya Hinata. Jujur, ia agak keberatan jika melaukan tugas atau misi sendirian. Ia lebih suka beramai-ramai, itu membuatnya lebih nyaman.
"Hei….jangan pasang tampang seperi itu. Misi kali ini tidaklah sulit, Hinata. Aku akan mengirimkanmu ke desa Suna, dan membantu para ninja medis disana untuk merawat orang-orang Suna yang terjangkit virus flu. Virus itu tidak terlalu berbahaya, tapi cukup membuat repot. Gaara bilang, para ninja medis di Suna sedang meracik obat, tapi ada suatu bahan yang tidak ada disana dan kebetulan tumbuh di Konoha," jelas Tsunade panjang lebar.
"Jadi, saya harus mengantarkan bahan tersebut ke Suna?" tanya Hinata lagi.
"Ya…dan kau akan ku tugaskan di Suna selama 3 bulan. Dan kau akan bertugas di rumah sakit Suna. Sebenarnya aku ingin mengirimkan Sakura, tapi itu tidak mungkin, ia sedang hamil muda. Ino juga sibuk menangani beberapa pasien, dan Tenten, ia sedang menjalankan misi selama sebulan bersama kelompoknya, jadi yang tersisa hanya kau. Apa kau keberatan?" tanya Tsunade pada Hinata. Jujur, saat ini harapan Tsunade hanya ada pada Hinata.
Hinata berpikir sejenak. Ia bingung ingin menjawab apa. Ia ingin menolak, karena ia hanya ingin berada di desanya, tapi jika ia menolak maka ia akan membuat Tsunade kecewa.
"Baiklah, Tsunade-sama. Kapan saya akan berangkat?"
"Besok pagi. Pastikan kau persiapkan diri. Shikamaru akan mengantarmu sampai ke Suna dan ia akan pulang kembali setelah kau sampai disana. Lalu, untuk tempat tinggalmu, kau akan tinggal di tempat delegasi Konoha di Suna," jawab Tsunade sambil menandatangani berkas yang menumpuk di depannya.
Tunggu. Tempat delegasi Konoha? Berarti…
"Berarti disana ada Sasuke-kun?" tanya Hinata setelah ia menyadari kalau akan serumah dengan bocah Uchiha itu.
"Ya…tapi tenang saja, bukan hanya Sasuke saja yang ada disitu. Shinobi dan Anbu yang bertugas membantu Sasuke pun tinggal disitu. Kau tidak perlu takut," jawab Tsunade menenangkan Hinata.
"Hm…saya mengerti, Hokage-sama. Saya berjanji akan melakukan tugas saya dengan baik," sahut Hinata seraya membungkuk hormat pada Godaime itu.
"Aku percaya padamu, Hinata. Sekarang kau bisa pergi dan berkemaslah untuk besok,"
.
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
Sementara itu di Sunagakure….
"Sasuke-san, aku tadi baru saja mendapatkan pesan dari Hokage," suara seorang wanita, dan juga seorang Shinobi Konoha yang terlihat dari pakaian Jonin nya terdengar membuyarkan lamunan Sasuke yang sedang berada di ruangan tugasnya di Suna.
"Lalu?" tanya Sasuke yang kembali menekuni beberapa berkas kerja sama Konoha dan Suna.
"Akan ada ninja medis dari Konoha yang datang untuk membantu ninja medis Suna. Tiga hari lagi ia akan sampai, dan kita diminta menyambutnya,"
DEG
Jantung Sasuke terhenti sesaat setelah ia mendengarkan kata 'ninja medis'. Siapa yang dikirim oleh Hokage? Sakurakah? Menurut Sasuke hanya Sakuralah yang pantas mendapat misi dan tugas seperti ini. Sasuke menghela nafasnya yang sejenak putus-putus dan bertanya,
"Siapa yang diutus? Sakura Haruno kah?"
"Hyuuga. Hinata Hyuuga. Dia yang diutus, bukan Sakura Haruno," jawab wanita itu. Hati Sasuke sesaat mencelos karena ia tahu bukan Sakura yang diutus. Entahlah apa yang dipikirkan oleh Uchiha bungsu ini. Sebenarnya apa yang ia harapkan setelah mencampakkan Sakura? Entahlah.
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
Hari minggu yang cerah di Konoha. Matahari pagi yang menyejukkan dan menghangatkan, serta kicauan burung yang masih ceria bersuara dan hinggap di setiap pohon yang mereka lalui. Langit yang berwarna cerah dan awan putih seputih salju dengan bentuk bermacam-macam. Ah..suasana yang cocok untuk bersantai.
Tapi kali ini tidak dengan Naruto. Naruto malah sedang berlatih melempar kunai di samping rumahnya. Jika dulu ia sangat bodoh dalam melempar kunai, kini sambil menutup mata pun, kunai yang ia lempar pasti akan kena sasaran. Pohon yang menjadi sasarannya melempar kini sudah cacat akibat tercabik-cabik. Malang sekali.
Kaos tipis putihnya pun telah ia tanggalkan begitu saja di bawah rumput rumahnya. Sehingga dadanya yang sixpack jauh lebih menarik untuk dilihat ketimbang dengan hasil latihannya.
"Naruto, ayo sara…," Sakura terdiam saat melihat Naruto yang sedang berlatih dengan dada telanjangna. Seketika itu wajah Sakura memerah dan debaran jantungnya semakin kencang. Baru tadi malam ia dicium sekarang malah harus melihat pemandangan yang begini.
Sakura bukannya kali ini saja melihat Naruto dalam keadaan begini, hanya saja Naruto lebih gentle dan tampan dengan tampilan seperti ini. Walaupun berkeringat namun harum tubuhnya yang maskulin lebih terasa karena tidak terhalangi oleh bajunya.
"Sakura-chan, sudah bangun?" Naruto menoleh dan mendapati Sakura sedang menatapnya dengan pandangan yang Naruto sendiri tidak mengerti. Segera Naruto mengambil kaosnya dan memakainya lalu mendekati Sakura.
"Sakura-chan, ada apa?" tanya Naruto lagi.
Sadar karena ia dari tadi melamun, Sakura mundur selangkah agar Naruto tidak membuatnya gila karena sedekat ini.
"Ehm….ano. Aku memanggilmu karena sarapan sudah siap. Tadi aku bangun dan tidak melihatmu, jadi kubuatkan sarapan dulu,"
"Ow….baiklah kalau begitu. Aku juga lapar, hehehehe," jawab Naruto dengan cengiran khasnya, tapi cengirannya canggung. Karena apabila ia mengingat kejadian tadi malam lagi, ia benar-benar merasa tidak enak pada Sakura.
"Sakura-chan, tunggu..," Naruto menarik tangan Sakura yang terlihat telah berbalik. Karena merasa ditahan oleh Naruto, maka Sakura pun berbalik dan menghadap Naruto kembali.
"Ada apa?" tanya Sakura dan menatap Naruto. Kami-sama….Naruto seakan meleleh karena tatapan Sakura yang begitu hangat dan membuatnya semakin jatuh cinta pada Sakura.
"Go…gomen mengenai tadi malam," akhirnya kata-kata yang sempat tercekat di tenggorokannya ia keluarkan. Rasanya lega karena apa yang ditahannya telah keluar, dengan ini ia tenang. Walaupun apapun tanggapan Sakura, yang jelas ia telah meminta maaf.
"Mengenai tadi malam, jangan terlalu dipikirkan. Tidak apa-apa kok, dan jangan minta maaf. Ayo, kita sarapan, tapi kau harus mandi dulu. Kau bau, Naruto," jawab Sakura seraya tersenyum manis dan menarik tangan Naruto untuk mengikutinya masuk. Naruto tersenyum kecil sekaligus lega mendengar jawaban Sakura, dan tetap berjalan di belakang Sakura yang membimbingnya.
.
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
"Itu untuk Asuma ya?" tegur seseorang saat melihat Ino merangkai anyelir putih dan mengikatnya menjadi satu.
"Ah….ayah rupanya. Hari ini aku kangen sekali pada Asuma-sensei. Ceritanya aku mau berkunjung kesana," jawab Ino dan menatap ayahnya, Inoichi Yamanaka.
"Kalau begitu titip salam untuknya," jawab Inoichi lalu meninggalkan Ino yang tetap asyik dengan kesibukannnya.
"Baik, ayah," seru Ino.
.
.
"Sakura-chan. Hari ini kita mau kemana? Jalan-jalan? Atau makan ramen di kedai Ichiraku?" tanya Naruto yang sedang duduk-duduk di ruang keluarga sambil membaca komik. Siang-siang lebih enaknya tidur, tapi karena Sakura tidak mau tidur, jadilah Naruto pun ikut-ikutan tidak tidur dan lebih memilih tiduran sambil baca komik di sofa ruang keluarga.
"Tidak. Aku tidak ingin kemana-mana. Dirumah saja," jawab Sakura sambil terus memakan cemilannya. "Memangnya hari ini kau tidak ada latihan bersama Tsunede-sama?"
"Tidak. Lagipula ini kan hari minggu, masa aku terus latihan? Bisa-bisa otakku buntu," jawab Naruto yang cemberut. "Kalau memang maumu begitu, baiklah, kita dirumah saja,"
Ting Tong….
"Aku membukakan pintu dulu, sepertinya ada yang datang," Sakura hendak berdiri namun Naruto menahannya.
"Biar aku saja," Naruto pun bergegas untuk membukakan pintu pada tamu yang datang.
"Sakura-chan…., Hinata datang," teriak Naruto sambil membawa masuk tamu yang merupakan Hinata.
"Hei, Hinata. Apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa, ya," ucap Sakura saat melihat Naruto datang bersama Hinata.
"Ehm..sudah lama. Bagaimana keadaanmu?" tanya Hinata yang sekarang sudah duduk, sedangkan Sakura sedang di dapur membuatkan minuman. Hinata hanya menatap Naruto yang mondar mandir sambil membereskan komiknya yang berserakan.
"Sepertinya kalian sedang santai, ya. Maaf mengganggu," ujar Hinata.
"Ah….tidak kok, Hinata. Kami senang kau berkunjung. Oh ya, kabarku baik kok," jawab Sakura dan membawa tiga gelas orange juice.
"Aku kesini untuk berpamitan pada kalian," kata Hinata seraya terkikik pelan karena melihat Sakura melempar komik Naruto dan tepat mengenai kepala kuning Naruto yang sedang memungut komiknya. Naruto sedikit meringis akibat itu.
"Loh? Pamitan? Memangnya ada misi?" tanya Naruto yang sekarang ikut duduk samping Sakura dan masih memegang kepalanya. Sementara Sakura masih bengong.
"Bukan misi. Hanya tugas biasa. Aku ditugaskan ke Suna selama 3 bulan, dan bekerja di rumah sakit disana, karena ada wabah flu yang menyerang Suna, maka aku ditugaskan membantu orang-orang disana," jelas Hinata.
'Suna? Bukankah disana ada Sasuke?' batin Sakura.
"Jadi, apa kalian mempunyai pesan untuk Gaara-kun dan em…Sasuke-kun?" tanya Hinata ragu. "Sebenarnya aku ingin langsung pergi tanpa memberitahukan kalian, tapi aku takut kalian akan marah kalau tidak memberitahu kalian, apalagi disana ada sahabat kalian.
"Tentu aku dan Naruto akan marah padamu, Hinata," jawab Sakura. Suaranya seperti susah dikeluarkan dan sedikit bergetar karena tiba-tiba saja nama Sasuke terdengar lagi di telinganya, tapi ia berusaha biasa saja di depan Naruto.
Naruto tahu apa yang Sakura rasakan saat ini. Ia bisa merasa Sakura pura-pura untuk tegar, padahal mungkin setelah mendengar nama Sasuke ia mungkin akan menangis. Naruto lalu meraih tangan Sakura yang berada diatas pahanya lau digenggamnya dengan erat, sementara Sakura yang sempat menunduk, kemudian mengangkat wajahnya dan memandang Naruto yang tidak memandangnya.
"Tolong, titipkan salamku dan juga Sakura pada Gaara dan juga Sasuke. Lalu ada tambahan lagi untuk Sasuke, katakan kalau aku dan terlebih Sakura-chan merindukannya, tolong minta padanya untuk pulang walau sebentar," Naruto berkata dengan lancar. Sakura hanya melihat Naruto yang berbicara dan terus menggenggam tangannya dengan erat.
"Baiklah, Naruto-kun, Sakura-chan,"
"Ja…jadi, kapan kau berangkat, Hinata-chan?" tanya Sakura berusaha kembali ke topik mereka dan mengalihkan topik tentang Sasuke.
"Besok pagi. Shikamaru-kun akan mengantarku kesana dan ia akan pulang ke desa lagi," jawab Hinata pelan.
"Kalau begitu sampai ketemu tiga bulan lagi. Selama disana, jaga kesehatanmu. Saat siang, Suna akan sangat panas, tapi jika malam, udara akan dingin sekali. Biasanya hal seperti itu yang membuat kita sakit," jelas Sakura
"Baiklah. Aigatou, Sakura-chan,"
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
"Loh? Sudah ada orang rupanya? Aku pikir hanya aku saja yang merindukan guru Asuma,"
"Hn. Kau rupanya, Ino,"
Shikamaru yang terlihat duduk di depan nisan bertuliskan Asuma Sarutobi, sensei mereka, berbalik dan melihat Ino yang datang dengan sebuket bunga anyelir putih. Ino tidak berkata apa-apa untuk menanggapai ucapan Shikamaru, dan terus melangkah tepat di samping kuburan itu seraya menaruh bunga yang ia bawa, dan mengatupkan kedua telapak tangannya seraya berdoa.
'Hai, Sensei. Maaf aku baru mengunjungimu lagi. Sensei baik-baik saja kan disana? Sensei jangan khawatir, aku, Shikamaru dan juga Choji baik-baik saja. Ada salam dari ay7ahku untuk Sensei. Ow ya, anak sensei juga sudah semakin besar dan tampan. Kalau ia besar nanti, boleh ku nikahi? Hehehe…'
"Dasar gadis aneh," gumam Shikamaru yang melihat Ino senyum-senyum sendiri, entah apa yang ia bicarakan dengan Asuma. Tapi Shikamaru pun tersenyum simpul melihat gadis satu ini, entah kenapa menurut Shikamaru ia sudah sangat dewasa dan juga um…apa yah? Susah menggambarkan deskripsi Ino dalam pikiran Shikamaru.
SHIKAMARU'S POV
Apa-apaan aku ini. Memperhatikan seorang gadis? Ck…mendokusai. Shikamaru Nara tidak pernah memperhatikan masalah perempuan. Mereka merepotkan.
Tapi, tunggu. Kali ini aku tidak merasakan repot jika memikirkan Ino. Tapi, kan aku hanya memikirkannya bukan berarti ada perasaan, kan? Lagipula, wajar kan, kalau aku memikirkannya, karena ia temanku. Teman setimku.
SHIKAMARU'S POV END
Shikamaru menggeleng gelengkan kepalanya. Apa sih yang ia pikirkan, sampai-sampai si jenius ini tidak fokus pada dirinya sendiri lagi. Fuh…mendokusai.
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
"Sakura-chan, minum obatmu dulu," sekarang Naruto sedang ada di dalam kamar Sakura. Entah mengapa, sejak Hinata pulang setelah berpamitan yang membawa kabarnya ke Suna, Sakura seolah-olah terombang ambing dengan perasaannya sendiri.
Sakura sangat ingin melupakan Sasuke, dan itu sudah berhasil ia lakukan sedikit demi sedikit berkat Naruto. Ia tidak menyalahkan Hinata yang sudah memberitahukan kepergiannya ke suna, bagaimanapun secara langsung maupun tidak langsung Sasuke jelas berkaitan. Sakura tidak menyalahkan Hinata, tidak ia sama sekali tidak menyalahkan Hinata.
"Sakura-chan," Naruto menyentuh pundak Sakura pelan.
"Ah…ya. Oh, kau rupanya Naruto," Sakura kembali ke alam sadarnya. Ia melihat Naruto yang membawakannya obat dan minuman untuknya. Sakura tersenyum.
"Obat lagi, eh?" tanya Sakura kemudian.
"Huh…aku juga sebenarnya tidak ingin menyuruhmu minum obat, karena kau seperti orang penyakitan, tapi ini demimu. Jadi mau tidak mau harus mau," jawab Naruto yang disambut wajah cemberut Sakura.
"Jangan cemberut. Kau jelek. Bagaimana kalau kita masuk saja. Sudah sore, udara makin dingin," kata Naruto yang membawa Sakura ke kamarnya karena angin di balkon semakin dingin. Sakura hanya mengikuti Naruto yang membawanya masuk. Ia perhatikan dengan lekat-lekat punggung tunangannya itu, dan setetes airmata jatuh di wajahnya yang mulus.
'Mengapa aku bimbang?'
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
"Sejak tadi berapa puntung rokok yang kau habiskan Shikamaru?" tanya Ino yang mulai jengkel dengan perbuatan Shikamaru hari ini. Memang, hari ini tepat hari kematian Asuma, tapi selama ini Shikamaru belum pernah merokok sebanyak ini.
"Lihatlah sendiri," jawab Shikamaru malas. Ino mengalihkan perhatiannya yang sekarang tertuju pada tumpukan puntung rokok di samping makam Asuma. Ya, dari tadi siang diantara mereka belum ada yang pulang.
"Asuma-sensei tidak akan senang melihatmu merokok terlalu banyak, Shikamaru," kata Ino sambil mencabut-cabut rumput didepannya.
"Kali ini saja," jawab Shikamaru singkat dan mengambil rokok lagi yang tersimpan dalam baju Jonin nya.
"...,"
"...,"
"Tidak. Buang rokoknya, Shikamaru," seru Ino seraya membentak Shikamaru dan membuang rokok yang ingin dibakar oleh Shikamaru.
"Hei…apa-apaan kau, Ino. Kau sudah gila?" Shikamaru berang melihat tingkah Ino yang seolah-olah mengaturnya. Shikamaru tidak suka diatur apalagi oleh wanita. Ck…merepotkan.
"Kau yang gila. Merokok begini banyaknya. Kau pikir sensei akan bangga padamu, hah," bentak Ino lagi.
"Jangan mencampuri urusanku. Aku tidak suka kau melarangku untuk apa yang kulakukan dan kuanggap benar. Kau orang terbodoh yang pernah kulihat karena mencoba menghentikanku," teriak Shikamaru yang saat ini sedang emosi tingkat tinggi.
"Tapi aku adalah temanmu. Wajar seorang teman memperingatkan temannya melakukan hal gila. Dan mungkin aku memang orang bodoh karena mengingatkan dirimu yang sudah kesetanan seperti itu," teriak Ino sengit dan dengan mata melotot.
"Aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa Shikamaru, jadi kumohon mengertilah. Kau salah satu orang yang berharga buatku," jawab Ino dengan nada melunak. Shikamaru terkesiap mendengar jawaban Ino. Ada suatu perasaan yang berkecamuk di hatinya dan membuatnya melayang dan membuat jantungnya berdegup kencang.
"Hanya ini satu-satunya caraku untuk tetap mengenang dan menghormati sensei. Hanya ini. Api dan rokok akan mengingatkanku padanya," akhirnya Shikamaru menjawab
"Aku tahu kau sangat menghormatinya. Tapi bukan dengan begini caranya. Kau bisa sakit nanti karena kebanyakan merokok," Ino menghela napas panjang dan mencoba bersabar menghadapi Shikamaru yang sepertinya sedang agak kalut.
"Aku hanya tidak ingin bayangan, dan kenangan tentang ia hilang dari ingatanku, itu saja," Shikamaru kembali berkata.
"Kalau begitu cukup dengan mengenangnya kan dan membuatnya bangga, bukan malah menyiksa dirimu seperti ini," jawab Ino yang duduk dan memeluk kedua lututnya. Hari sudah sangat sore, matahari sebentar lagi pasti akan tenggelam.
"Kalau Choji melihat mu merokok sebanyak ini tadi, pasti kau sudah dihajarnya," lanjut Ino.
"Syukurlah tadi dia cepat pulang," jawab Shikamaru asal. Ia benar-benar lelah hari ini. Ia bingung sebenarnya apa yang terjadi padanya, sampai-sampai merokok terlalu banyak.
Sejenak keheningan terjadi di antara 2 orang tersebut. bagaimanapun, kematian sensei mereka dulu benar-benar belum mereka relakan. Kehilangan Asuma, bagi mereka tim 10 sama saja kehilangan setengah jiwa mereka.
"Hikz….,"
"Ino? Hei, ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis?" Shikamaru panik setengah mati karena Ino menangis. Fuh…ini sih namanya diluar mendokusai. Ia paling benci melihat perempuan yang tiba-tiba menangis.
"Tidak. Aku hanya mengingat sensei. Entah kenapa, aku masih belum rela ia meninggal dengan cara seperti itu," sahut Ino yang berusaha menghapus airmatanya.
"Tapi cara meninggal yang seperti itu yang paling terhormat dalam dunia Shinobi," jawab Shikamaru yang berusaha realistis atas jawabannya, walaupun dalam lubuk hatinya ia setuju dengan pendapat Ino.
"Tapi kan, jangan secepat itu. Sensei belum melihat anaknya tumbuh dewasa. Saat Kurenai sensei melahirkan, ia pun tidak ada disampingnya. Aku hanya berpikir Kami-sama tidak adil dengan mengambilnya seperti ini," Ino berkata dengan nada sesenggukan.
"Hah…kau ini cengeng ," entah sadar atau tidak atas perlakuannya, Shikamaru menarik kepala Ino dan meletakkannya di bahunya. Ino sempat terkejut dengan perlakuan Shikamaru, tapi Ino cukup merasa nyaman meletakkan kepalanya dan membiarkannya bersandar pada bahu Shikamaru yang kokoh.
"Aku memang dari dulu cengeng, Shikamaru,"
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
"Kenapa belum tidur? Ini sudah larut Sakura-chan," tegur Naruto yang baru saja dari bawah dan saat mengecek Sakura, ternyata Sakura masih bangun.
"Aku belum mengantuk, Naruto. Kau saja yang duluan tidur," jawab Sakura sambil tetap duduk di tempat tidurnya.
"Apa karena Sasuke?"
Sakura mendongak dan menatap Naruto yang duduk di tepi ranjangnya. Sakura lalu mangalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Jangan bawa nama Sasuke dan tidak ada hubungannya dengan dia, Naruto," jawab Sakura.
"Bagaimana aku tidak membawa nama Sasuke kalau alasan kau bersikap seperti ini pasti karena dia. Berita tadi siang pasti membuatmu gundah, Sakura-chan," jawab Naruto yang mencoba menenengkan dirinya. Ia benci Sakura yang seperti ini hanya terpengaruh oleh Sasuke.
"Jangan mencoba menerka apa yang kupikirkan, seakan-akan kau tahu semua," bentak Sakura mulai emosi dan menatap Naruto sengit.
"Aku tahu semuanya, Sakura-chan. KARENA AKU MENCINTAIMU, LEBIH DARI SIAPAPUN DAN LEBIH DARI SASUKE," Naruto berteriak, kali ini kesabarannya sudah habis.
"Naruto…," kali ini airmata Sakura sudah jatuh dan membasahi selimutnya. Ia tidak sanggup memandang Sakura.
"Kau tidak pernah menyadari, betapa aku mencintaimu, Sakura-chan. Aku bisa mengerti dirimu, karena perasaanku tulus padamu, walaupun aku tahu kau tidak mungkin membalasnya," seru Naruto yang sekarang telah kalut, tidak bisa menahan emosi dan sudah seperti orang gila.
"Aku mohon, hentikan. Hentikan…," mohon Sakura yang tidak sanggup mendengarkan apa yang dikatakan Naruto. Itu membuatnya semakin bersalah.
"Baiklah jika kau tidak mau mendengarkanku. Aku kan pergi dan membiarkanmu sendirian disini. Tapi satu, hanya satu hal yang perlu kau tahu. Aku bertunangan denganmu atas dasar cintaku yang mendalam. Aku tahu aku egois karena merebutmu dari Sasuke, tapi apa tidak boleh, aku sedikit saja egois, Sakura-chan? Apa aku tidak boleh egois hanya untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu, Sakura-chan?" tanya Naruto panjang lebar lalu melangkah pergi ke kamar Sakura dengan emosi dan perasaan bersalah yang menyelimutinya karena berkata kasar pada Sakura.
"Aku….aku hanya bingung, Naruto. Sungguh aku bingung, hikz….," Sakura kembali menangis. Pertengkarannya hebat antara ia dan Naruto baru terjadi sekali seumur ia hidup, dan baru kali ini Sakura mendengar Naruto membentaknya dan kasar. Ia takut Naruto menjadi Naruto yang tidak ia kenal. Oh..kenapa cinta bisa merubah segalanya?
.
.
KUROSAKI KUCHIKI
.
"Ada apa kau memanggilku, nenek?" kali ini Naruto ke tempat Hokage, ia bingung sepagi ini ia sudah disuruh menghadap. Wajahnya kusut dan tampangnya sedang bad mood kali ini. Ia benar-benar kacau karena kejadian semalam.
"Hari ini, sekarang juga, berangkatlah ke Kirigakure. Ada misi untukmu selama seminggu. Misi terakhir sebelum pengakatanmu nanti,"
.
.
TBC
.
.
Gimana? Gimana? Bagus gak? Menarik gak?
Atau mungkin membosankan?
Saya minta reviewnya saja.
Buat adegan ShikaIno, gak romantis yah? Tapi ini kan baru awal, masa baru dipasangin langsung romancenya yang parah banget.
Bocoran, buat chap depan ada SasuHina, trus ada perang dingin antara Sasuke dan juga Shikamaru. Lalu ada juga NaruSaku nya.
Naruto dikasih misi tuh ma Tsunade, kira-kira dia mau gak laksanain misinya, padahal Sakura sedang hamil muda, trus mereka lagi kondisi perang. Oh iyah, ngomong-ngomong pertengkaran singkat Naruto ma Sakura kurang seru yah? Habis, gimana lagi. Otak lagi buntu.
Ya sudah, tolong reviewnya dan maaf telat update yah….
Segala saran. Kritik diterima. Lalu jika ada saran tentang bagaimana fic ini selanjutnya, adegan mana yamg perlu ditambah dan dikurang, silahkan katakan pada saya. Karena jujur saya juga bingung selanjutnya kayak apa *GUBRAK*
Ok…review yah….
