Yey….

Aku update lagi. Dengan ide yang pas-pasan dan juga imajinasi yang lagi stuck. Ukh…ini namanya paksa diri. Tapi kalau gak begini, ide yang muncul bakal lenyap dan waktu yang ada bakal terbuang. Sungguh mencari waktu luang susah sekali ditengah kesibukan *sok*. Hehehehe…

Kali ini di chapter 6 ada berbagai macam pair. Dan romancenya kita tunda dulu. Kita buat hurt, atau suasana 'panas' saja dulu.

Di chapter ini Naruto pergi misi, Sakura ditinggal sendiri. Hinata yang mulai kehidupan barunya dengan bocah Uchiha yang dingin. Dan….apalagi yah? Author bingung.

Ya sudahlah. Para readers sekalian tolong di review dan gomen kalo banyak hal-hal yang tidak berkenan di hati. Dalam bentuk apapun mohon dimaafkan.

Buat yang login, semuanya sudah saya balas di PM masing-masing. Nah, buat yang gak login, ini balasannya :

Oline takarai : wah…benarkah menarik? Arigatou gozaimasu *bungkuk-bungkuk*. Iya nih, Sakura plin-plan banget ma perasaannya. Aku juga jadi sebel *loh? Kan kamu yang buat Sakura kayak gitu*. Tenang…ShikaIno dan NaruSaku bakal diperbanyak kok. Tenang ajah. Kalo masalah anaknya saya masih bingung jenis kelaminnya. Review lagi yah…

MJJ-Gaara fans : Kamu gak suka SasuHina yah? Kalau senpai malah sudah ketularan. Tapi pendapatmu, senpai taruh kok. Jadi baca dan review lagi yah…

elven lady18 gak login : Elven…napa gak login sih? Huhuhuhu.. teganya dirimu. *lebay* wehehehehe…saya senyam-senyum sendiri karena dipuji soal deskripsinya. Arigatou yah…

Luka-luka? Gak tega, mending dia mati ajh sekalian, biar Sakura bunuh diri. Hahahaha…becanda. Dah update nich, review yah, kali ini kamu harus login loh…

Rinzu15 : Hiks…jadi terharu kalo Rinzu makin penasaran. NaruSaku dibanyakin? Itu jelas…tapi mungkin chap ini gak banyak, hehehehe. Saya tunggu reviewnya lagi yah…

Haru glory : Haru…dah update nich, maaf kelamaan yah. Saya tunggu lagi reviewnya yah…

Qieya : Qieya-san, salam kenal yah… Ini udah update, mohon reviewnya…

keyta : salam kenal. Ok…ini dah update. Mohon reviewnya…

Namikaze slash : makasih sudah dibilang menarik. Tapi reviewnya muji atau ngritik yah? Saya jadi bingung. Terus soal muter-muter, memang seperti itu jalan ceritanya, namanya juga multi chapter jadi kemana-mana dulu baru intinya. Yang jelas gak bakal K.O kok. Saya bakal tetep lanjutin cerita ini sampai selesai karena banyak yang nunggu. Hehehe…

.

Let,s begin the story

.

.

*KUROSAKI KUCHIKI*

Disclaimer : Naruto punya Masashi-sensei. Kalau aku yang punya,Naruto bakal jadian ma Sakura.

Summary : Sakura dan Sasuke akan menikah. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sasuke secara tidak langsung membatalkan pernikahannya. Naruto yang sangat mencintai Sakura pun membantu Sakura dalam menghadapi masalah peliknya. Tapi apa yang akan Sakura lakukan saat Sasuke datang kembali untuk menikahinya padahal Sakura sudah tahu perasaan Naruto padanya.

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Pairing : Naruto X Sakura

Rated : T+

Warning : Story abal. Gaje. Typo banyak. Tapi jangan lupa review yah…

Naruto dan temen-temennya aku buat berumur 22 tahun

I Am Here For You

Chapter 6 : You Leave Me Alone

.

"Misi? Misi apa?" tanya Naruto setengah kaget. Ia tidak percaya kalau ia akan diberi misi lagi setelah sekian lama karena alasan keamanannya sebagai calon Hokage.

"Mungkin tidak akan sulit. Hanya mengungkap dan mencari tahu siapa dalang dibalik penculikan penduduk desa Kiri akhir-akhir ini. Ada gosip yang mengatakan kalau pelakunya adalah mantan Jinchuuriki yang ada di daerah mereka. Tapi ada pula yang tidak percaya. Tidak mungkin roh Jinchuuriki itu bangkit kembali. Menurutku juga begitu, sangat konyol. Oleh karena itu, pihak yang tidak percaya termasuk pemimpin Kirigakure meminta bantuan dari desa kita. Kau akan pergi bersama Tenten dan juga Neji satu jam lagi.," Tsunade menjelaskan panjang lebar yang mungkin penjelasannya masuk telinga kanan keluar telinga kiri bagi Naruto.

"Aku menolak ikut misi kali ini," Naruto mengangkat wajahnya yang masih terlihat suram dan menatap Tsunade serius.

"Ap…apa? Jadi penjelasanku panjang lebar tadi tidak membuatmu semangat untuk pergi misi. Aku ingin mendengar alasan mengapa kau menolak misi ini, Uzumaki Naruto!" Tsunade tampak marah mendengar jawaban Naruto yang menurutnya aneh. Biasanya bocah kuning ini akan senang mendapatkan misi.

"Tentu saja karena Sakura-chan. Ia sedang hamil, dan aku tidak akan meninggalkannya jauh-jauh," jawab Naruto dengan nada serius.

"Aku sudah menduga alasanmu. Aku mengerti, tapi kau juga harus tahu, bahwa bagi shinobi, misi dan tugas adalah hal diatas segalanya walaupun itu keluarga," jawab Tsunade mulai berbicara seramah mungkin.

"Jika aku meninggalkan Sakura-chan, tidak akan ada yang mengurusinya. Siapa yang akan menjaganya? Siapa yang akan menjamin ia akan tetap sehat selama aku pergi?" tanya Naruto memandang Tsunade. Ia ingin mengambil misi ini, tapi entah mengapa hatinya lebih memilih Sakura daripada misinya. Ia tidak perduli dengan perkataan tetua Konoha jika mendengarnya menolak misi, padahal sesungguhnya ini merupakan modal plus untuknya menjadi Hokage nanti.

"Aku. Aku yang akan menjaganya, Naruto," suara yang tidak asing lagi membuat Naruto berbalik dan membuat Tsunade tersenyum lega. Sebenarnya Tsunade sangat ingin menjaga Sakura, tapi karena tugas yang menumpuk, ia tidak mungkin menjaga Sakura 24 jam. Jika ingin menawarkan para ANBU, itu akan membuat Naruto semakin menolak misinya.

"Ino…,"

"Dan aku juga akan membantu Ino menjaga Sakura, Naruto,"

"Sai…,"

Naruto menatap kedua temannya yang sekarang berdiri didepan pintu masuk ruangan Hokage. Sai dan Ino. Mereka melangkah masuk dan langsung menghadap Tsunade.

"Shikamaru dan Hinata telah berangkat menuju Suna, Hokage-sama," lapor Ino pada Tsunade.

"Dan saya baru saja menerima surat dari Kazekage-sama kalau ia menyetujui kerjasama yang kita ajukan tempo hari lalu. Untuk detailnya ada disini," lapor Sai dan segera memberikan Tsunade gulungan kertas.

"Bagus," jawab Tsunade singkat dan membaca gulungan yang diberikan Sai tadi.

"Jadi…masalah beres kan? Kau harus menjalankan misi ini, Naruto. Sakura serahkan pada Ino dan Sai. Aku jamin Sakura akan tetap sehat selama kau pergi," Tsunade berkata pada Naruto setelah menutup kembali gulungan yang dibacanya tadi.

Naruto menatap kedua temannya yang akan menjaga Sakura selama ia pergi nanti. Ya, ia percaya pada Sai dan juga Ino. Lagipula ia berpikir, jika ia menolak misi ini hanya karena alasan tidak ingin meninggalkannya sendiri, Sakura pasti tidak akan senang dan ini akan menjadi perang baru diantara mereka.

"Huh….baiklah. Aku akan berangkat sejam lagi. Sekarang aku harus kembali ke rumah dan mempersiapkan diri, sekaligus pamit pada Sakura-chan,"

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

"Apakah pasiennya sudah dipindahkan ke ruangan UGD?" suara Sakura terdengar di lorong-lorong rumah sakit yang masih sepi karena masih pagi. Ia berjalan cepat menuju ruangan UGD karena akan ada operasi yang akan ditanganinya.

"Sudah, Sakura-san. Kondisinya kritis, karena racun ikan piranha terus menyebar ke seluruh tubuhnya. Jika tidak segera ditangani, maka ia akan….,"

"Aku mengerti," potong Sakura yang makin mempercepat langkahnya menuju ruang UGD bersama salah satu perawat rumah sakit itu juga.

Setelah ia melihat sebuah ruangan, ia pun masuk ke dalam, dan disambut oleh para medis yang juga membantu jalannya operasi ini. Ia bisa melihat bocah laki-laki berumur 5 tahun sedang tidak sadarkan diri dan hanya dibantu oleh alat bantuan pernapasan. Seluruh tubuhnya membiru menandakan racun itu makin menyebar. Tapi selama jantung anak ini masih berdetak, Sakura yakin ia bisa menyembuhkan anak ini.

"Maaf, Sakura, kami sudah memintamu untuk datang sepagi ini. Kami tidak tahu, siapa lagi yang ahli dalam menangani kasus racun seperti ini," kata seorang medis yang sudah berumur sambil menyediakan apa saja yang dibutuhkan.

"Tidak apa-apa senpai. Aku mengerti. Baik. Mari kita selamatkan anak ini,"

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

"Sakura-chan….,"

"Sakura…..,"

"Sakura-chan….. ah…kemana ia pergi?" Naruto terus berteriak memanggil Sakura sambil mencari dan juga menyusuri satu persatu ruangan, tapi sosok pink itu tidak ada dimana-mana.

"Apa kau menemukan Sakura, Naruto?" tanya Ino yang kembali ke dalam setelah memeriksa halaman belakang.

"Tidak. Sakura-chan, dia pergi kemana?" pikiran jelek Naruto sudah mempengaruhinya untuk berpikiran macam-macam. Mulai dari Sakura diculik sampai Sakura kabur dari rumahnya. Tentu alasannya itu masuk akal, karena baru tadi malam mereka bertengkar hanya karena hal yang menurut Naruto sepele dan ini juga dikarenakan dia menyinggung Sasuke.

"Naruto, Sakura sudah ada di rumah sakit sejak tadi pagi. Shinobi yang menjaga di depan mengatakan kalau Sakura dijemput oleh seorang dokter rumah sakit Konoha karena mereka ingin Sakura yang memimpin operasi kali ini," tiba-tiba saja Sai datang dan kabarnya ini membuat Naruto dan juga Ino lega setengah mati.

"Aku akan ke rumah sakit kalau begitu," kata Naruto seraya bangkit dari tempatnya duduk.

"Maaf, Naruto-san. Hokage-sama dan teman satu perjalanan anda sudah menunggu di gerbang Konoha. Hokage-sama menyuruh anda secepatnya pergi kesana," tiba-tiba seorang ANBU bertopeng serigala sudah ada di depan Naruto yang ingin berjalan keluar rumah. Naruto terdiam. Bagaimana mungkin ia bisa pergi sedangkan ia belum pamitan pada Sakura?

"Katakan pada Hokage-sama, Naruto akan datang sebentar lagi," jawab Sai mewakili Naruto yang masih diam. Setelah mendapat jawaban, ANBU itu langsung menghilang dari hadapan mereka.

"Naruto. Bergegaslah," kata Ino dan menepuk pundak temannya yang masih terdiam tersebut.

"Aku…aku tidak bisa Ino. Aku harus bertemu dengan Sakura-chan dulu. Aku harus pamit dan juga minta maaf padanya karena pertengkaran kami semalam," Naruto mulai angkat bicara dan dari suaranya mereka berdua tahu kalau Naruto sedang bingung.

"Biar kami yang menyampaikan kepergianmu pada Sakura, Naruto. Aku yakin Sakura sudah memaafkanmu, jika memang kalian tadi malam bertengkar," ujar Sai menenangkan Naruto yang tampak tidak rela untuk pergi.

"Percayalah pada kami. Kami akan menjaga Sakura, Naruto," Ino menyemangati Naruto. Naruto menatap kedua temannya yang tersenyum hangat padanya.

Naruto terdiam kembali. Ia cukup bingung dengan keputusannya. Apakah ia harus pergi menemui Sakura, atau pergi ke gerbang tempat ia akan bertemu rekan-rekannya.

"Baiklah. Tolong sampaikan kepergianku pada Sakura-chan. Lalu tolong jangan lupa lakukan semua yang aku tulis pada kertas yang kutingggalkan di meja makan, Ino. Aku mohon pada kalian," jawab Naruto dan langsung menghilang dengan jurus kilat atau

jurus pemindah yang ia miliki itu.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

Sakura pulang dengan wajah kelelahan. Ia menangani beberapa operasi kali ini. Ia memeriksa beberapa pasien kali ini. Dan sungguh pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah untuk ditangani oleh Sakura. Kali ini ia benar-benar kelelahan. Apalagi ia sekarang berjalan sendirian pulang kerumah tanpa ada yang menemaninya. Biasanya Naruto akan datang ke rumah sakit dan akan menjemputnya, dan pasti sekarang yang disamping dirinya adalah Naruto dan tentu saja bukan hanya angin seperti sekarang.

Pertengkarannya kecilnya dengan Naruto tadi malam, sebenarnya membuyarkan konsentrasinya pada pekerjaannya, tapi sebagai seseorang yang menjunjung tinggi etika medis dan pekerjaannya, ia tahu kalau masalah pribadinya jangan sampai tercampur dengan pekerjaannya.

Ia hanya resah dan merasa takut kalau setelah ia sampai kerumah, Naruto akan tetap mendiamkannya dan tidak mengajaknya berbicara. Bagi Sakura sekarang suara ceria nan khas milik seorang Uzumaki Naruto sudah menjadi kebutuhan tersendiri untuknya. Saat ia pergi tadi pagi pun, ia tidak melihat sosok Naruto di rumah mereka. Sakura jadi tidak bisa pamit padanya. Dan kali ini adalah kali pertama Sakura tidak berbicara dan mendengar suara Naruto dalam jangka waktu yang lama.

.

"Tadaima...,"

"Okaeri, Sakura,"

"Sakura, waktunya makan malam setelah itu minum obat,"

Sakura bingung dan hanya mampu menatap heran pada kedua temannya itu. Sai dan Ino. Mengapa mereka yang menyambutnya? Kemana perginya manusia kuning itu?

"Apa Naruto belum pulang dari kantor Hokage?" tanya Sakura yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.

"Begini, Sakura...,"

"Hei, forehead, duduk dulu dan makanlah dulu," buru-buru Ino mengajaknya untuk duduk di meja yang biasa ia pakai untuk makan bersama Naruto. Ino sibuk menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.

"Jadi, kenapa kalian bisa disini? Dan mana Naruto?" tanya Sakura sekali lagi dan tidak memperdulikan makanan yang tersaji di depannya yang tampak menggugah selera.

"Naruto pergi untuk menjalani misi selama seminggu di Kirigakure. Dan..,"

"Kirigakure? Seminggu? Lalu kenapa ia tidak mengatakan padaku tentang ini?" ucapan Sai terpotong oleh pertanyaan Sakura yang terdengar ingin menangis.

"Bukan begitu, Sakura. Tadi Naruto buru-buru dan tidak sempat kerumah sakit untuk menemuimu," jawab Ino dengan begitu sabar. Ia tahu saat ini kondisi emosi Sakura sedang tidak stabil.

"Apa ia marah padaku? Apa ini cara ia menghindariku?" suara Sakura saat ini benar-benar terdengar bergetar dan ada sedikit isakan disana, tapi tidak terlihat airmata yang mengalir.

"Sakura...Naruto tidak menghindarimu dan marah padamu. Ia benar-benar ingin menemuimu, tapi waktunya tidak banyak. Ia tadi harus segera pergi. Ia benar-benar tidak ingin meninggalkanmu, Sakura," kali ini Sai yang coba memberi pengertian pada Sakura yang sekarang masih duduk terdiam. Wajah Sakura hanya menunduk sehingga sulit menebak, apakah ia menangis atau tidak.

"Selama ini ia selalu mempunyai waktu buatku. Tapi sekarang ia tidak punya. Naruto berkata ia tidak akan meninggalkanku, tapi kali ini ia benar-benar MENINGGALKANKU SENDIRI," Sakura berseru keras dan mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh airmatanya. Entah mengapa ia sangat takut dengan situasi ini. Ia takut Naruto akan meninggalkannya.

"Sakura...aku mohon kau tenang. Seminggu tidaklah lama. Ia pasti akan pulang, dan ia tidak marah padamu. Naruto berpesan agar kau makan teratur dan minum obat juga. Jadi kumohon dengarkanlah Naruto," Ino memeluk Sakura, mencoba menenangkan Sakura, sahabatnya yang sekarang sepertinya sudah mengerti akan betapa pentingnya kehadiran Naruto disampingnya.

"Apa ia akan kembali, Ino? Maksudku, apa ia akan memaafkanku dan kembali kesini?" tanya Sakura dengan nada lemah karena emosi yang ia keluarkan tadi secara tidak langsung menguras tenaganya.

"Ia pasti akan kembali, dan satu yang perlu kau tahu, ia tidak marah padamu, Sakura. Jangan pikirkan soal pertengkaran kalian. Naruto sudah melupakannya," jawab Ino yang mengelus punggung Sakura perlahan untuk meredakannya yang cukup lama terisak. Ia semakin yakin kalau Sakura setidaknya sudah memiliki perasaan lebih pada Naruto. Setidaknya Naruto sudah perlahan tapi pasti mengisi hati Sakura yang selama ini yang hanya ia buka untuk Sasuke Uchiha.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

"Silahkan menikmati hidangannya, Nara-sama, Hyuuga-sama, Uchiha-sama," seorang koki datang dan menyiapkan makanan yang sangat menggugah selera khas Suna yang ia hidangkan tepat di depan ketiga ninja Konoha itu yang duduk dalam satu meja makan itu.

"Arigatou gozaimasu, kelihatannya enak sekali," jawab Hinata yang diikuti oleh bungkukan hormat dari koki tersebut dan memohon untuk kembali.

"Makanlah. Pasti perjalanan kalian sangatlah melelahkan selama tiga hari ini," Sasuke segera mempersilahkan teman-temannya itu untuk segera mencicipi makanan tadi.

"Kami memang sangat lelah. Jika boleh memilih, aku lebih baik tetap di Konoha dan tidur saja. Ck..mendokusai," jawab Shikamaru dengan nada malasnya seperti biasanya.

"Gomen, Shikamaru-kun. Aku jadi merepotkanmu. Seharusnya aku bisa datang sendiri, tapi Hokage-sama memaksamu untuk mengantarkanku," jawab Hinata dengan nada agak sungkan pada Shikamaru yang sedang memakan soba nya.

"Ah...tidak apa-apa. Itu biasa saja, walaupun itu tetap membosankan," jawab Shikamaru yang sekarang beralih pada yakiniku nya. Jika ia melihat yakiniku maka di pikirannya adalah Choji seorang. Temannya yang sangat rakus.

Sasuke hanya memandang dua orang teman seangkatannya itu berbicara dengan ekor matanya. Kali ini tempat tinggalnya sedikit ramai dengan adanya mereka berdua. Biasanya ia selalu makan sendiri dan tanpa suara, kini ia makan dengan ditemani oleh dua suara yang saling membahas topik mereka sendiri tanpa melibatkannya. Tanpa melibatkannya atau memang ia yang tidak mau melibatkan dirinya?

"Aku akan langsung kembali ke desa setelah ini, Hinata," kata Shikamaru seraya menelan potongan terakhir yakinikunya.

"Eh? Cepat sekali Shikamaru-kun. Apa tidak perlu menginap dulu? Kita kan baru beberapa jam tiba disini," jawab Hinata yang setengah terkejut dengan keputusan Shikamaru. Langsung pergi? Padahal baru dua jam mereka di Suna. Hinata tahu Shikamaru bukan Shinobi biasa, tapi hal ini kurang masuk akal juga bagi Hinata.

"Tidak perlu. Aku bisa tidur di jalan nanti. Lagipula laporan yang diberikan oleh Hokage-sama sudah kuserahkan pada Kazekage-sama. Dan kau juga sudah sampai dengan selamat, jadi misiku selesai," jawab Shikamaru lagi yang terlihat telah selesai dengan makanannya, sedangkan Hinata diam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi jika Shikamaru sudah membulatkan tekadnya.

.

.

"Kau melamun lagi, Naruto,"

"Ah...Neji. Aku kaget sekali. Kau mengagetkanku saja," Naruto yang sedang duduk termenung di depan jendela penginapan mereka di desa Kirigakure tersadar dari lamunannya setelah pundaknya ditepuk pelan oleh Neji.

"Kau melamun lagi, Naruto," ulang Neji dan mulai duduk disebelah Naruto yang tersenyum kecil.

"Pasti Sakura ya? Tenanglah Naruto, ia aman bersama Ino dan Sai. Kau baru tiga hari tidak bertemu dengan Sakura," goda Tenten yang tiba-tiba melongok masuk ke kamar tempat Neji dan Naruto duduk.

"Kena virus rindu itu memang merepotkan," sahut Neji cengir.

"Kalian menggodaku ya?" Naruto tersenyum lagi. "Aku...rindu pada Sakura-chan. Sekarang ia sedang apa? Aku ingin cepat pulang ke desa," jawab Naruto lagi dan menatap pemandangan yang ada didepannya.

"Fuh... Neji, cepatlah selesaikan laporanmu soal misi ini untuk diberikan pada Tsunade-sama nanti. Setelah itu kita pulang. Sepertinya ada orang yang akan sekarat kalau kita masih lama-lama disini," ujar Tenten yang sudah duduk disebelah Naruto juga.

"Ya..ya...ini juga mau aku kerjakan," jawab Neji dan bangkit dari duduknya lalu menyiapkan meja dan juga gulungan serta tinta untuk melanjutkan menulis laporannya.

"Tidak perlu buru-buru kok Neji. Jangan hanya karena aku kau jadi buru-buru begitu," jawab Naruto kikuk dan jadi salah tingkah.

"Aku haya tidak menyangka, misi ini cepat dengan selesai. Habis...pelakunya ternyata hanya sekumpulan orang yang mengincar uang tebusan. Roh Jinchuuriki sebelumnya sampai dipersalahkan karena mengira ia yang menculik para penduduk desa ini," kata Tenten dan menselonjorkan kakinya.

"Hahahaha..aku jadi merasa seperti misi kelas Genin saja. Kalau aku bercerita pada Sakura, pasti ia akan mengejekku. Aku pikir kita akan berhadapan dengan sekelompok penjahat seperti Akatsuki," jawab Naruto dan tertawa terpingkal-pingkal jika ia memikirkan misi yang begitu mudah itu.

"Sudahlah. Itu kan tugas, jadi dalam bentuk apapun, kita harus menerimanya," tukas Neji yang masih bergelut dengan gulungan laporannya.

"Ne, Naruto. Kapan kau dan Sakura akan menikah?" tanya Tenten yang membuat Naruto yang sedang meminum tehnya jadi tersedak.

"Uhuk..uhuk... Pertanyaan macam apa itu, Tenten," Naruto bertanya seraya mengelus dadanya akibat tersedak.

"Hei, pertanyaan itu wajar aku tanyakan padamu. Kau tahu, kandungan Sakura akan semakin membesar. Dan kau harus segera menikahinya. Jika tidak apa kata orang desa nanti? Kau pikir status bertunangan saja cukup? Dasar bodoh," seru Tenten.

"Apa kau belum siap, Naruto?" tanya Neji yang mulai berhenti dengan kegiatannya dan bertanya pada Naruto yang hanya memberikan Neji punggungnya untuk dilihat.

"Aku bukannya belum siap. Aku malah sangat siap. Kau tahu, menikahi Sakura merupakan impianku sejak aku menyukainya. Sampai sekarang pun seperti itu. Hanya saja, aku sekarang sedang menunggu sampai Sakura-chan siap untuk menikahiku. Aku ingin saat aku menikahinya, hati dan jiwanya sudah sepenuhnya untukku," jawab Naruto termenung lagi. Pandangannya pun hanya tertuju pada pemandangan kota yang ada didepannya.

"Maksudmu, Sakura masih mengharap Sasuke?" tanya Neji lagi yang sekarang mulai serius dengan pembicaraan mereka.

"Aku tidak tahu. Mungkin pemikiranku yang salah. Aku tidak ingin berprasangka buruk pada perasaann Sakura-chan," jawab Naruto lagi kali ini sedikit menghela napas.

"Hei, Naruto. Apapun keputusanmu nanti, kami tetap mendukungnya. Tapi, aku merasa usahamu berhasil. Kau tahu, entah ini karena aku dan Sakura sesama wanita, atau entah apalah, aku merasa Sakura perlahan mulai menyukaimu, Naruto," jawab Tenten yang dibalas senyuman oleh Naruto. Ia bingung harus memberi tanggapan apa pada perkataan Tenten barusan. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia berharap hal itu menjadi nyata.

.

.

"Shikamaru-kun, berhati-hatilah di jalan," Hinata berucap pada Shikamaru yang sudah beres-beres dan siap kembali ke Konoha hari itu juga.

"Hn. Aku mengerti," jawab Shikamaru singkat. "Oh ya, Hinata, jaga kesehatanmu. Kau harus terbiasa dengan suhu udara di Suna," kata Shikamaru lagi seraya menasihati Hinata.

Hinata tersenyum lembut. Teman-temannya begitu mengkhawatirkannya. Apa mungkin ia yang paling terlihat lemah? Tapi ia senang, begitu banyak perhatian yang diberikan mereka.

"Hm...baiklah, Shikamaru. Titip salam buat teman-teman semua. Terutama buat Naruto-kun dan Sakura-chan,"

DEG

Kata-kata Hinata itu membuat Sasuke yang sedari tadi diam dan hanya ikut mengantar Shikamaru jadi sedikit bereaksi. Ia selalu begitu saat nama Naruto dan terutama Sakura disebutkan. Perasaannya menjadi gundah saat ini. Gundah yang ia pun tidak tahu pasti disebabkan oleh apa.

"Ne, Sasuke-kun, kau ada pesan buat Naruto-kun dan Sakura-chan?" tanya Hinata kali ini seraya memandang Sasuke yang berada di sampingnya.

"Tidak ada," jawab Sasuke singkat yang membuat Hinata terkesiap. Begitu dinginkah manusia yang berada di sampingnya ini sehingga ia sama sekali tidak tampak rindu pada sahabatnya dan juga tunangannya. Ya tunangan, karena status tunangan yang melekat pada mereka berdua belum putus secara resmi.

"Jangan tanyakan hal yang tidak perlu padanya, Hinata. Kau tahu kan, orang seperti dia tidak akan mau memberi tanggapan apapun," Shikamaru yang sedari tadi berdiri bereaksi juga pada tanggapan Sasuke yang menurutnya sangat keterlaluan itu.

Sasuke menatap Shikamaru dengan pandangan tersinggung. Apa maksud pria Nara ini? Tentu saja, jangan panggil pria berambut nanas ini dengan panggilan Shikamaru Nara kalau ia tidak berani menatap balik Sasuke dengan pandangan tajam yang sama. Sepertinya sekarang telah ada kontes adu deathglare.

"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Sasuke yang masih memandang tajam Shikamaru yang ada dihadapannya.

"Aku tidak salah, kan, Sasuke Uchiha?" jawab Shikamaru yang menekankan tiap kata yang diucapkannya. "Atau mau kusebut pria yang meninggalkan tunangannya hanya karena tunangannya tidak lagi sempurna seperti yang ia inginkan?"

Sasuke makin geram. Tapi ia bukan Naruto yang akan langsung memukul orang yang dihadapannya ini. Ia seorang Uchiha yang tahu tata krama, dan sangat menjaga emosinya.

"Tahu apa kau soal itu?" Sasuke kembali melontarkan kata-kata dingin nan pedas pada keturunan Nara yang satu ini.

"Tentu saja aku tahu. Aku dan semua tahu. Disaat Sakura berharap tunangannya yang akan menenangkannya saat ia menghadapi cobaan yang berat, justru kau meninggalkannya tanpa alasan yang pasti. Justru orang lain yang datang padanya dan menenangkan hati Sakura. Tentu kau tahu siapa yang aku maksud, Uchiha," balas Shikamaru dengan nada yang tak kalah dingin. Baru kali ini ia mengeluarkan kata-kata dingin seperti ini.

"Bukan urusanmu. Apa kau terlalu senang mencampuri urusan orang lain, Nara?" jawab Sasuke lagi yang tentunya tidak ingin kalah dari Shikamaru yang semakin memojokkan kesabarannya ini.

"Mungkin iya. Karena ini menyangkut temanku. Tapi tentunya kau tidak termasuk didalamnya. Apa semua keturunan Uchiha seperti ini? Dingin sedingin es. Keras sekeras batu karang, dan tidak punya perasaan. Berharap segalanya sempurna. Dan ya, satu lagi tidak merasa bersalah sama sekali atas kesalahan yang diperbuatnya," tukas Shikamaru lagi. Kali ini kalimat yang ia lontarkan membuat telinga Sasuke panas. Kata-kata Shikamaru sungguh menyinggungnya.

"Aku sama sekali tidak merasa memiliki kesalahan apapun," elak Sasuke masih berusaha beraksi tenang. Sebisa mungkin ia tidak ingin emosinya keluar dan memukul Shikamaru.

"Kau sudah bodoh rupanya, Sasuke. Kau tahu Sakura diperkosa, tapi kau sama sekali tidak mau menerima keluhannya. Kau mengabaikannya. Kau tahu Sakura hamil akibat perbuatan Kabuto. Sakura sama sekali tidak berharap kau akan bertanggung jawab atas anaknya, tapi ia hanya berharap kau ada disampingnya saat ia mengalami hal tersulit dalam hidupnya. Jangan! Jangan menghiburnya sebagai tunangannya. Setidaknya hiburlah dia sebagai sahabatnya. Itu kesalahanmu, Uchiha Sasuke. Kau tidak ada, saat sahabatmu mengalami hal sulit," seru Shikamaru menahan emosinya. Nafasnya terengah-engah akibat berbicara begitu banyak sambil menahan emosi.

"Mereka bukan urusanku lagi sekarang," jawab Sasuke datar dan membuat Shikamaru terbelalak. Kata-kata Sasuke sangat singkat, tapi Shikamaru tahu arti dari kata-kata tersebut.

"Kau!,"

"Shikamaru-kun, sudah!" Hinata cepat-cepat menghentikan tangan Shikamaru yang telah bersiap untuk ditinjukan pada wajah Uchiha bungsu itu. Wajah Hinata ikut pucat melihat mereka berperang dingin, dan hal ini tetap tidak bisa mengalahkan hati dingin seorang Sasuke Uchiha.

"Shikamaru-kun, cukup! Jangan bertengkar di Negara orang lain. Aku mohon, Shikamaru-kun," mohon Hinata yang masih menahan kepalan Shikamaru yang masih melayang.

Dengan perlahan Shikamaru menurunkan tangannya. Hinata pun melepas pegangannya dari tangan Shikamaru.

"Aku mengerti, Hinata. Maafkan aku. Ingat, jangan sekalipun berurusan dengan manusia dingin ini. Aku pamit," Shikamaru lalu menjinjing tasnya dan segera berlalu dari rumah delegasi Konoha yang disediakan oleh Suna tersebut.

Hinata dan Sasuke hanya menatap kepergian Shikamaru. Setelah yakin Shikamaru telah menghilang, Sasuke segera masuk dan meninggalkan Hinata.

"Sasuke-kun," suara lembut Hinata membuat Sasuke berhenti dan berbalik untuk melihat orang yang memanggilnya.

PLAAKK

Panas. Pipi kanan Sasuke panas akibat tamparan keras dari Hinata. Setelah ditampar wajah Sasuke tetap saja dingin dan tak berekspresi. Sedangkan Hinata walaupun wajahnya terlihat menantang Sasuke namun tangannya tetap bergetar. Entah ia menyesal telah menampar Sasuke atau akibat menahan emosinya, entahlah.

"A..aku tidak me..menyangka, arti persahabatan ba..bagimu begitu dangkal, Sa-sasuke-kun. Kau a..akan menyesal de..dengan perkataanmu tadi," suara Hinata bergetar menahan emosinya. Hinata pergi meninggalkan Sasuke yang masih terpaku ditempat. Seorang Hinata Hyuuga menamparnya?

.

.

"Tadaima,"

Sakura masuk kedalam rumahnya dengan Naruto. Ia baru saja pulang dari rumah sakit. Kali ini ia pulang sendirian karena Ino mendapat tugas jaga malam dirumah sakit, sedangkan Sai mendapat tugas menjaga perbatasan oleh Tsunade, jadilah Sakura sendirian dirumah yang luas ini. Sudah hampir seminggu. Belum. Tepatnya besok. Tepatnya besok seminggu setelah kepergian Naruto. Dan Sakura sangat…sangat merindukan Naruto. Tapi ia menguatkan hatinya dengan berkata bahwa besok Naruto akan pulang dan bersamanya lagi.

Sekarang ia duduk di meja makan, mengambil obat yang biasa Naruto berikan padanya dan meneguknya. Minum obat yang teratur, itu salah satu pesan yang ditinggalkan Naruto padanya yang ia tempelkan pada kertas. Ia bisa saja tidak mengindahkan pesan Naruto itu, tapi ia tidak ingin saat Naruto pulang nanti, ia dalam keadaan sakit.

Sakura naik menuju lantai dua. Sekali lagi hatinya miris. Biasanya selalu ada Naruto yang akan membimbingnya untuk naik ke atas. Naruto takut Sakura terjatuh karena licin. Jika mengingat alasan Naruto itu, Sakura jadi tersenyum sendiri. Betapa tidak, Sakura masih sanggup kok untuk naik turun tangga sendirian. Kehamilannya kan baru tiga bulan.

Hanya minum obat dan tidak makan? Bukannya tidak ada makanan, tapi ia kehilangan selera makan. Biasanya Naruto selalu mengejeknya karena ia besar makan, sekarang ia sama sekali jarang menyentuh makanan apalagi cemilan.

Langkah Sakura ke kamarnya terhenti saat melihat pintu kamar calon Hokage tersebut. Ia memandangnya cukup lama, dan seperti digerakkan sesuatu, ia melangkahkan kakinya mendekati kamar itu. Cukup lama ia berada didepan pintu coklat yang terbuat dari kayu jati tersebut. Dengan penuh keyakinan ia membuka pintu itu.

Cklek…

Harum Naruto. Itu yang pertama ia rasakan saat masuk ke kamar ini. Jika saat di flat, kamar Naruto begitu kotor, sekarang kamar Naruto begitu rapi. Mungkin karena Sakura yang memarahinya setiap hari untuk membersihkan kamarnya.

Langkah Sakura terhenti saat ia melihat sebuah bayangan di depan balkon kamar Naruto. Perampok. Begitu pikir Sakura.

"Siapa itu?"

.

.

TBC

.

Ah….

Akhinya update juga…

Maaf yah kalau telat dan agak gaje. Pertengkaran Shika dan Sasu juga gak seru.

Gak bilang apa-apa lagi. Mohon reviewnya….