Ohayou, Konnichiwa, Konbanwa….!
Yosh…
Saya kembali lagi niat mengpublish fic saya yang satu ini….
Akhirnya minna, tibalah saatnya perang Shinobi vs Akatsuki dimulai. Kami-sama, setelah saya lihat siapa saja yang dibangkitkan oleh Kabuto, saya jadi berpikir untuk ikut menghabisi Kabuto dan juga Madara yang sudah seenaknya membangkitkan mereka secara paksa. Yang mereka bangkitkan sepenuhnya sadar, bahwa mereka akan menyerang desa mereka, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, yah….
Yang paling membuat saya tercenung, speechless dan sampai menitikkan airmata adalah waktu Gaara berpidato. Pidatonya sangat keren dan menyentuh hati. Intinya, tidak perduli Negara apa, mereka semua harus bersatu agar mereka bisa menang dalam perang ini. Dan kita bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Gaara begitu ingin melindungi Naruto, orang yang sekarang sangat penting baginya dan sahabatnya.
Seandainya saya bisa ketemu Masashi-sensei, saya pengen bilang jangan matikan banyak Shinobi hebat. Jangan Kakashi-sensei, jangan juga Yamato-taichou yang disekap, jangan Gaara, jangan Sakura, jangan Shikamaru, jangan Tsunade, jangan Sai, dan jangan siapapun dari Shinobi yang kita kenal mati, terlebih jangan Naruto. Matikan saja para penjahat dan terlebih Madara, dan siapapun yang membantunya. Dan satu lagi, entah para readers setuju atau tidak setuju, ini hanya keinginan saya, semoga Naruto dan Sakura bisa bersama.
Aih…saya banyak komentar lagi dah. Nah, buat yang review udah saya balas di PM masing-masing.
Dan ini balasan buat yang gak login :
kazekage : kazekage-sama, arigatou udah suka ceritanya. Ini udah di update. Mohon reviewnya lagi yah…
.
nadia : thx for review. Here new one
.
MJJ-Gaara fans : Ah…arigatou, Gaara. Benci SasuHina yah? Saya malah suka. Jangan marah yah…
Hahahaha…ampun dah bagian seru nya TBC. Ini ada lanjutannya kok. Ok…review lagi yah…
.
Rie HanaKatsu : wah…Rie-chan. Golok gak bakal mempan ma Sasuke, mending kamu minta Naruto ajarin Rasengan, biar bisa kamu pakein ke Sasuke. Endingnya masih belum tahu, dan soal anak tenang ajah, nanti pasti happy ending. Hm…gak papa kok kamu ngomong kasar. Kabuto itu memang perlu dicaci maki. Ok…udah update, review yah, Rie-chan…
.
dinda indira : tinggal buka .net trus langsung ajah nekan Sign Up untuk daftar, ikuti petunjuk deh…
.
kiryuu ardhi uzumaki non login : hm…tebakan anda benar. Orang itu emang Naruto. Selamat yah udah nebak. Alasan Sasuke ninggalin Sakura itu sebenarnya simple dan agak keterlaluan, jadi tunggu ajah alasannya. Alamat fb saya bisa liat di profil saya, atau ya sudahlah saya kasih tahu saja. Search ajah Fiki Yoichi. Atau bisa lewat email di . Itu saja. Arigatou dah review. Untuk chap ini review lagi yah…
.
shaneeta : bukan hantu kok….
.
Yosh….buat yang udah review sekali lagi hontou ni arigatou gozaimasu udah review. Tolong jangan bosan terhadap karya saya. Apaun saran dan juga masukan mengenai apa yang perlu ditambah maupun dikurangi, tolong disampaikan, karena itu bisa jadi masukan untuk chapter-chapter berikutnya.
Ok…enjoy chapter 7 and don't forget to review, minna!
.
.
*KUROSAKI KUCHIKI*
Disclaimer : Naruto punya Masashi-sensei. Kalau aku yang punya,Naruto bakal jadian ma Sakura.
Summary : Sakura dan Sasuke akan menikah. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sasuke secara tidak langsung membatalkan pernikahannya. Naruto yang sangat mencintai Sakura pun membantu Sakura dalam menghadapi masalah peliknya. Tapi apa yang akan Sakura lakukan saat Sasuke datang kembali untuk menikahinya padahal Sakura sudah tahu perasaan Naruto padanya.
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Pairing : Naruto X Sakura
Rated : T+
Warning : Story abal. Gaje. Typo banyak. Tapi jangan lupa review yah…
Naruto dan temen-temennya aku buat berumur 22 tahun
I Am Here For You
Chapter 6 : Heaven and Earth, Onyx and Lavender, Blonde Girl and Genius
.
"Siapa itu…!" teriak Sakura yang melihat sebuah bayangan hitam berada pada balkon kamar Naruto. Kamar ini gelap, membuat ia sulit mengenali bayangan tersebut. Belum lagi, karena kegugupannya, ia sama sekali tidak tahu berbuat apa. Mencari saklar lampu saja tidak mampu ia lakukan.
Sebagai seseorang yang pernah mengalami trauma yang mengerikan, tentu saja bila ada orang asing masuk dalam rumahmu, membuat ketakutan akan kembali melanda. Terlebih Sakura yang pernah tidak sadar bahwa Kabuto ada dirumahnya saat itu, membuat Sakura kali ini kembali takut, jika hal yang sama akan terjadi.
Sakura tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam dan menutup matanya saat menyadari sosok tersebut melangkah dan masuk ke dalam kamar Naruto. Dari suara langkahnya, Sakura bisa merasakan kalau bayangan itu sedang mendekatinya.
'Ayolah kakiku, bergeraklah. Keluar dari sini sekarang dan minta pertolongan,' seperti itulah perintah yang Sakura berikan pada tubuhnya atau tepatnya kakinya. Tapi sayang, kakinya tidak menuruti permintaannya dan tetap terpaku disitu.
'Kalau begitu teriak saja,' suara hati Sakura kembali berkata. Matanya yang sudah menutup, semakin ia pejamkan dengan erat. Sakura pun sudah mengambil nafas dalam-dalam dan bersiap untuk berteriak saat…
.
"Sakura-chan,"
Oh…bagus. Sekarang suara itu sudah memanggilnya dan suara itu terdengar seperti milik Naruto.
'Itu bukan Naruto, Sakura. Naruto akan pulang besok. Tutup matamu, dan berteriaklah,' sekali lagi Sakura menghirup udara dalam-dalam dan kali ini bersiap untuk berteriak sekencangnya. Tapi, niatnya terhenti saat merasakan kedua bahunya disentuh oleh tangan yang hangat. Ia kenal sentuhan ini.
"Sakura-chan, ini aku, Naruto. Bukalah matamu," kali ini Sakura menurut, matanya perlahan terbuka dan saat itu juga bunyi yang menandakan seseorang menyalakan saklar lampu, yang rupanya tepat berada di belakangnya. Bodoh.
Dan kali ini terlihat jelas oleh Sakura siapa yang ada di hadapannya. Mata biru yang teduh, rambut kuning bagaikan sinar matahari, dan wajah yang akhir-akhir ini ia rindukan. Wajah yang dapat memberikan ketentraman di hatinya. Wajah dari seorang Uzumaki Naruto.
"Naruto…,"
"Ya, Sakura-chan. Ini aku, jangan takut," sebuah senyuman terpampang di wajahnya. Bukan cengiran yang biasa dia lakukan, tapi sebuah senyum tipis, namun menentramkan hati, jiwa dan pikiran, wanita yang berada di hadapannya tersebut.
"Naruto…," lagi. Sebuah senyuman yang didapati Sakura saat ia menyebut nama pria blonde itu sekali lagi.
"…,"
"….,"
"Naruto, kau pulang, hiks," kali ini wajah tersenyum Naruto menghilang kala mendengar wanita di hadapannya ini menangis dan menunduk dalam-dalam. Ia tidak mengerti, seharusnya ia menerima senyum Sakura karena ia telah pulang, bukan merima tangisan seperti ini.
Ia bingung apa yang harus dilakukan olehnya saat ini. Mendiamkan wanita menangis bukan keahliannya. Justru mungkin ia akan membuat para wanita tambah menangis. Akhirnya inisiatif bermain di akal pikirannya. Diraihnya punggung Sakura dan didekatkan pada dirinya, setelah itu ia mendekap Sakura dengan sekali rengkuhan.
"Sakura-chan, kumohon, jangan menangis lagi," kali ini Naruto berusaha menghibur Sakura dengan mengusap helai rambutnya yang berada di dada bidangnya. Bisa ia rasakan jaket yang sering ia gunakan basah akibat airnata Sakura, terlebih bukannya tangisan Sakura makin mereda, malah semakin kencang. Ia bisa merasakan tubuh Sakura bergetar.
'Tuh, kan! Aku memang tidak pandai mendiamkan wanita menangis,'
.
.
"Hiks…kau…hiks…meninggalkanku sendirian, Naruto," kata-kata Sakura disela tangisnya membuat Naruto fokus untuk mendengarkan keluhan Sakura yang ada di dekapannya.
"Kau…hiks, tidak pamit padaku,"
"Bukan begitu Sakura-chan, aku..saat itu..,"
"Kau pergi meninggalkanku tanpa pamit, hiks" perkataan Naruto dipotong oleh Sakura yang masih mengeluarkan uneg-unegnya kali ini dalam dekapan hangat Naruto.
"Sakura-chan, dengarkan aku," Naruto melepaskan pelukannya pada Sakura. Dan kali ini tangan Naruto membimbing Sakura untuk duduk di tempat tidurnya. Naruto mendudukkan Sakura di tepi ranjangnya, disusul olehnya yang duduk di sebelah Sakura.
"Sakura-chan, tatap aku," perintah Naruto dan diikuti oleh Sakura. Sakura memalingkan wajahnya dan dapat melihat Naruto.
"Dengar, aku tidak berminat untuk meninggalkanmu, Sakura-chan. Hanya saja waktu itu memang aku terpaksa mengambil misi ini. Jika aku tahu misi ini akan mudah, aku tidak akan mengikuti perintah nenek,"
"Lalu, saat itu aku hendak pamit padamu, tapi kau tidak ada dirumah. Kau di rumah sakit. Saat aku hendak mencarimu kesana, para ANBU mencariku dan menyuruhku untuk cepat pergi. Jadi, itu alasan mengapa aku tidak pamitan padamu, Sakura-chan,"
Sakura menatap mata hangat Naruto. Tidak ada kebohongan. Ia jujur. Tapi kali ini, Sakura tidaklah marah, ia hanya senang Naruto kembali ke sisinya dan tanpa luka apapun. Sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
"Berhenti menangis, Sakura-chan," Naruto dengan reflek mengusap airmata Sakura yang dari tadi belum kunjung kering dan menganak sungai di pipi mulusnya.
Mata Naruto terbelalak karena terkejut saat kali ini Sakura lah yang memeluknya dengan sangat erat. Erat. Begitu erat. Perlahan Naruto menggeser dirinya agar lebih dekat pada Sakura dan bisa membalas pelukannya dengan bebas. Dan menutup jarak antara mereka yang sedang berpelukan.
"Jangan pernah meninggalkanku lagi. Berjanjilah," ujar Sakura yang memendamkan wajahnya pada leher Naruto, merasakan wangi khas dari anak tunggal Hokage ke empat ini.
"Ya, aku berjanji," jawab Naruto yang mengelus rambut pink Sakura, sesekali ia mencium dan menghirup wangi yang terdapat di tiap helai rambut Kunoichi asuhan Hokage ke lima ini.
.
.
.
BRAAAKKK
"Ino!"
"Ya..ya.., Shizune-senpai," kaget dan tersentak. Hal itulah yang dialami Ino sekarang. Dirinya yang berada di ruangannya dan terkantuk-kantuk, tiba-tiba saja dengan suara menggelegar milik Shizune, seniornya. Ia tadi sempat berpikir bahwa yang meneriakinya adalah Tsunade, karena suara teriakan Shizune sekarang sudah seperti suara Tsunade.
"Kau sibuk, Ino?" tanya Shizune yang berjalan agak cepat untuk menghampiri Ino yang masih duduk di kursinya.
"Ti..tidak. Memangnya ada apa, senpai?" tanya Ino yang seakan tahu bahwa kali ini Shizune memerlukan bantuannya.
"Kau cepat pergi ke ruang perawatan tiga. Aku sedang sibuk, oleh karena itu aku meminta bantuanmu. Disana ada Shikamaru yang membutuhkan pertolongan. Kakinya terluka akibat tertindih pohon yang digunakan warga untuk menjebak babi hutan," jelas Shizune panjang lebar.
Terkesiap. Ino terkejut. Seorang Shikamaru yang jenius bisa dengan mudahnya tertimpa pohon yang digunakan sebagai jebakan babi hutan. Lagipula kenapa ia tiba malam-malam seperti ini? Bukankah seharusnya jika perhitungannya benar maka Shikamaru akan tiba saat pagi nanti. Seperti itulah pikiran Ino.
"Ino, cepatlah," seru Shizune pada kouhainya yang sedari tadi melamun itu.
"Ba…baik," dengan segera dan agak sedikit berlari, Ino meninggalkan ruangannya dan segera menuju ruang perawatan tiga, tempat teman setimnya mungkin mengalami kesakitan.
.
.
"Arigatou gozaimasu atas bantuannya, Hinata-san,"
"Ya, tanpa anda, pasti kami akan kesulitan menghadapi ini. sekali lagi terima kasih atas bantuannya,"
"Ti…tidak pe..perlu sungkan begitu. Ba..bagaimana pun, ini sudah men..jadi tugas saya sebagai Kunoichi ya..yang ditugaskan ke…kesini," Hinata Hyuuga menunduk, dengan niat membalas bungkukan dua orang perawat wanita desa Suna yang mengantar Hinata sampai di depan gerbang rumah sakit Suna.
"Ka..kalau begitu sa..saya pamit du..dulu. Besok, saya akan datang lagi kesini," ujar Hinata lagi yang diiringi dengan senyum manis dan terhormat ala keluarga Hinata. Sementara Hinata berjalan menjauh, kedua perawat itu masih saja melambaikan tangan pada Hinata, hingga ia tidak lagi terlihat di belokan.
Sudah 3 hari Hinata berada di Suna. Rasanya ini waktu yang cepat baginya saat di rumah sakit. Waktu berasa cepat, karena kesehariannya adalah memeriksa pasien dan juga menghibur para pasien jika ia sedang senggang. Tanaman obat yang dibawanya dari Konoha pun sudah ia berikan pada sang ahli meracik obat Suna, dan tinggal menunggu hasil dari peracikan obat tersebut. Entah butuh waktu berapa lama.
Bisa dibilang, ia betah berada di Suna. Dengan semua keramahan yang diberikan padanya. Baik itu staf rumah sakit, maupun penduduk sekitar yang telah mengenal Hinata sedikit demi sedikit. Tentu tidak susah bagi orang-orang yang ingin akrab dengannya mengingat sifat Hinata yang ramah lagi sopan santun ini.
.
.
BRUUKK
"Ukh….," ringis Hinata kesakitan saat ia terjatuh dengan sangat tidak enaknya diatas pasir kasar daerah Suna.
"Aw…," ringis Hinata lagi dan mulai mengusap-usap bokongnya yang sakit, tapi ia belum bangun, sepertinya ia ingin terus disitu.
"Hei, kau tidak apa-apa? Ceroboh sekali," suara ini. Suara dingin yang telah ia kenal dengan sangat baik. Terang saja dugaannya tepat, karena di saat ia mendongakkan kepalanya, terlihatlah Sasuke Uchiha yang berdiri didepannya dengan tegap. Pasti ia yang menyebabkan dirinya jatuh seperti ini. Ya, karena menabrak orang ini.
"Hei, kau dengar tidak sich? Cepat bangun!" perintah Sasuke yang membuat Hinata tersadar. Entah ia berhalusinasi atau memang pandangannya benar, sekarang di hadapannya terulur tangan dari seorang Uchiha yang seakan-akan ingin memberikan pertolongan.
"Ba..baiklah, a..aku bisa berdiri sen..sendiri," jawab Hinata dan berdiri dengan sendirinya, mengabaikan uluran tangan dari mantan Konaha Traitor tersebut, dan membuat tangan yang diulurkan tadi kembali ditarik oleh Sasuke.
.
.
Hening. Hanya hening yang menyelimuti perjalanan dari seorang Hyuuga dan Uchiha ini. Keduanya tidak saling berbicara untuk waktu yang sudah sangat terasa lama. Sebenarnya keduanya tidak ingin terlibat dengan berjalan bersama, tapi apa boleh buat, mereka tinggal serumah meskipun berbeda kamar. Jalan yang mereka tempuh pun menjadi satu arah.
Suasana canggung pun masih meliputi mereka sejak kejadian tiga hari yang lalu yang membuat Hinata dengan sadar tidak sadar menampar Uchiha ini setelah perang mulut dengan Shikamaru. Sejak tiga hari itu, mereka saling menghindar. Tidak lagi makan satu meja, seperti tempo lalu dan tidak saling menyapa walaupun berpapasan.
Bagi Sasuke mungkin hal yang biasa ia tidak berbicara dengan seseorang. Tapi bagi Hinata, ia tidak terbiasa, dan justru merasa tersiksa. Tersiksa karena seakan-akan waktu akan lebih lama berputar saat ia berada di rumah. Bersama Sasuke ini.
"Oh, ya, saat berjalan berhati-hatilah, agar tidak menabrak orang lagi," tegur Sasuke sekarang yang sepertinya ingin mencairkan suasana. Tatapan yang sedari tadi menatap punggung Hinata yang jauh beberapa meter darinya, kini beralih ke tempat lain.
'Apa? Jadi dia menyalahkan aku karena soal tadi? Bu..bukannya aku yang mengalami kerugian dengan terjatuh seperti tadi?' batin Hinata yang mendengar ucapan Sasuke yang menurutnya membuatnya tersinggung. Segera ditolehkan wajahnya menghadap kebelakang untuk melihat Sasuke.
"A..apa maksudmu? Bu..bukannya kau yang asal saja berbelok se..sehinga ti..tidak melihatku? Kau bi..bilang aku ha..harus hati-hati? Seharus…nya a..aku yang berkata be..begitu padamu, Sa..sasuke-kun. Kau..kau lihat sen..sendiri kan, kalau a…aku yang ter..jatuh, bu..bukan kau?"
"Oh, ya, sepertinya tadi, kau yang begitu bersemangat berjalan sehingga tidak melihat aku yang muncul, eh?" kali ini Sasuke membalasnya dengan senyuman meremehkan.
"Su..sudahlah. aku ti..tidak ingin ber..berdebat. Jika memang aku yang sa…salah, aku mi..minta maaf. Sekarang sebaiknya, kita pu..pulang. hari sudah larut," jawab Hinata yang malas memancing perdebatan yang sudah jelas akan dimenangi oleh pria emo itu. Hinata berbalik kembali dan mulai berjalan meninggalkan Sasuke dibelakang, meninggalkan Sasuke dengan senyum tipisnya.
.
.
"Dasar bodoh. Bagaimana mungkin kau tidak bisa melihat pohon yang tergantung untuk menjebak babi hutan?" sudah beberapa kali Ino meneriaki kepada Shikamaru hal yang sama dengan tangannya yang masih membalut kaki kanan Shikamaru menggunakan perban.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak bisa melihatnya karena gelap, Ino," ulang Shikamaru yang entah berapa kali sudah menjawab pertanyaan yang sama dari Ino.
"Baka! Kenapa juga kau memaksakan diri untuk sampai di Konoha malam ini juga? kenapa tidak istirahat di jalan dulu dan kembali besok pagi, hah?" teriak Ino lagi yang masih belum menghentikan aktivitasnya, melilitkan perban pada kaki kanan Shikamaru yang duduk di tepi tempat tidur.
"Kau pikir aku mau bermalam di hutan lagi, sedangkan Konoha, aw…pelan-pelan, Ino. Maksudku kalau Konoha sudah begitu dekat," jawab Shikamaru yang baru saja berteriak tertahan akibat perban di kakinya terlalu kencang.
"Nah, selesai. Huh, untung saja ada warga yang melihatmu dan membawamu kesini, jika tidak, mungkin kau yang sudah dimakan oleh babi hutan," ejek Ino yang mulai membereskan alat-alat yang dipakai olehnya untuk membalut luka Shikamaru.
"Babi hutan tidak akan memakan manusia," jawab Shikamaru singkat.
"Ya sudahlah terserah padamu saja, sekarang naik dan tidurlah. Kau harus dirawat di rumah sakit beberapa hari ini, karena kakimu juga terkilir dan pasti tidak akan bisa digunakan untuk berjalan," jelas Ino yang mendorong paksa Shikamaru untuk berbaring.
"Dasar tukang paksa. Hah….malam ini terpaksa tidur dirumah sakit. Ck…mendokusai," keluh Shikamaru yang sudah tidur dan dengan hati-hati meluruskan kakinya.
"Yare-yare, apa yang harus katakan pada paman Shikaku dan juga bibi Yoshino. Masa mereka harus tahu kalau anak mereka pulang dari misi dan terluka akibat termakan jebakan babi hutan? Memalukan," ujar Ino yang diiringi ringisan mengerikan dari Shikamaru yang membuat Ino tertawa tertahan. Ia tahu ringisan itu. Pertanda Shikamaru takut saat ibunya yang terkenal cerewet itu disebutkan namanya.
'Ibu pasti akan menceramahiku gara-gara ini. Mendokusai'
.
"Ya sudahlah, tidurlah, Shikamaru. Ini sudah larut. Aku akan kembali ke ruanganku," ujar Ino yang sudah selesai membereskan alat-alatnya dan hendak keluar. Tapi langkahnya terhenti saat tangan Shikamaru menahannya.
"Bisakah temani aku disini?" tanya lebih tepatnya mohon Shikamaru pada Ino, dan merupakan hal yang membuat Ino terkejut, karena sikap Shikamaru yang tidak biasanya.
"Tapi, Shika, aku….,"
"Kumohon..," potong Shikamaru dan tetap memohon pada Ino. Shikamaru tidak tahu apa yang membuatnya berkata seperti itu. Ia sadar, bahwa saat seperti ini, ia bukan seperti dirinya saja. Dan apa-apaan ia? Meminta seorang gadis untuk bersamanya dan menjaganya. Tapi entahlah, inilah kehendak hati Shikamaru yang jelas tidak dapat ia tolak dengan otak jeniusnya
Ia hanya ingin bersama dalam waktu yang lama bersama gadis ini. Ya. Berdua.
"Baiklah, akan aku temani," pasrah. Kali ini Ino pasrah. Bagaimanapun Shikamaru teman setimnya. Sudah sewajarnya mereka saling menjaga, kan?
.
.
"Hahahahahaha…..jadi begitu rupanya? Ternyata, misimu itu sama saja dengan misi para Genin, Naruto," Sakura terlihat tertawa terpingkal-pingkal diatas tempat tidur Naruto yang ia duduki bersama Naruto sedari tadi. Berbagi cerita dan canda tawa. Berbagi berbagai hal yang ingin mereka bagi selama tak bersama.
"Begitulah. Aku sudah menduga kau akan tertawa kalau sampai aku memceritakannya padamu," jawab Naruto yang juga tertawa. Bukan. Ia tertawa bukan karena ceritanya barusan. Ia tertawa karena bahagia melihat Sakura dengan keadaan yang jauh lebih baik dari satu jam yang lalu.
"Ini misi yang benar-benar bisa dikenang untuk selamanya. Seorang calon Hokage diberikan misi kelas Genin. Kau akan ditertawai oleh para Genin kalau sampai mereka tahu hal ini," ujar Sakura yang masih belum bisa menghentikan tawanya. Terlihat jelas bagaimana rona gembira yang terpancar dari raut wajah putih mulusnya dan bagaimana sinaran kebahagiaan yang terpancar dari sinar mata emeraldnya tersebut.
"Kurasa mereka akan menertawakanku. Dan aku yakin, besok nenek akan menertawakanku saat aku menghadapnya," jawab Naruto yang membayangkan Tsunade tertawa terbahak-bahak di ruangannya.
"Sakura-chan, sudah malam. Kau lihat? Sudah jam 11 malam. Sebaiknya kau segera tidur. Ayo, kuantarkan kau kekamarmu," ujar Naruto lalu turun dari ranjangnya dan segera mengulurkan tangannya pada Sakura.
"Ehm..Naruto,"
"Ya, Sakura-chan?" jawab Naruto lembut saat mendengar namanya disebut oleh wanita yang paling ia sayangi tersebut.
"Boleh malam ini aku bersamamu? Maksudku, boleh malam ini aku tidur bersamamu?" kali ini wajah merona merah Sakura tidak bisa lagi disembunyikan dari Naruto yang ada dihadapannya.
Sekilas Naruto tampak susah mencerna ucapan Sakura. Ini terlalu aneh baginya. Sakura meminta tidur bersamanya. Satu ranjang. Ya, satu ranjang, bahkan Sasuke pun pasti belum pernah tidur satu ranjang dengan Sakura.
'Apa sih yang aku pikirkan? Hanya satu ranjang, tidak apa-apa, kan?'
Naruto yang sedari tadi bengong, sekarang tersenyum lembut kearah Sakura. Dianggukkan kepalanya pada Sakura yang membuat Sakura tersenyum lebar.
.
.
Dan beginilah mereka, dengan lampu yang telah dimatikan dan hanya ditemani lampu meja yang remang-remang serta bulan yang melihat mereka dari luar dan cahayanya yang menembus kamar Naruto yang luas ini.
Baik Naruto maupun Sakura sama-sama kesulitan untuk tidur. Jantung mereka berdegup kencang karena berada di satu tempat tidur yang sama, yang membuat mereka terpenjara dalam kebisuan dan kecanggungan. Satu ranjang dan satu selimut. Ini pertama kali bagi mereka berdua. Salahkan Sakura yang meminta hal ini dan salahkan naruto yang menyetujui hal ini, sehingga tercipta kecanggungan dan kebisuan yang luar biasa.
Naruto berusaha memejamkan matanya dengan tidur dengan posisi yang lurus. Kali ini ia merelakan cara tidurnya yang bisa membuat sepreinya akan berantakan nanti pagi. Ia tidur dengan rapi demi orang yang sekarang membelakanginya.
Sakura sendiri mencoba memejamkan matanya dengan berbaring membelakangi Naruto. Jantungnya berdetak lebih keras, karena ialah yang menyebabkan semua ini terjadi. Semua kecanggungan ini karena dirinya. Yang membuat jantungnya berdetak tak karuan pun karena dirinya.
"Sakura-chan," Naruto bosan dengan kesunyian ini. Dia tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Keadaan yang tidak bisa membuatnya berbicara dengan Sakura dengan bebas.
"Ya..ya Naruto?" bagus. Kali ini Sakura sudah menjadi Hinata dengan menjawab terbata-bata akibat jantungnya yang berdetak kencang. Dibalikkan badannya dan ia bisa melihat Naruto yang juga menatapnya.
"Kemarilah. Tampaknya kau tidak bisa tidur. Kemarilah, tidur bersamaku," jawab Naruto seraya menunjukkan area yang diinginkan Naruto untuk menjadi tempat tidur Sakura. Ya, tepat disampingnya. Sepertinya Naruto ingin menutup jarak antara mereka. Nekat. Naruto tahu permintaannya terkesan nekat. Dan presentase akan terkabulkannya permintaan ini hanyalah 5%, menurut Naruto. Mungkin setelah ini ia akan di hajar dan diberikan Shannaro ala Sakura. Tapi menurutnya, ini cara yang baik untuk membuat Sakura nyaman dan juga terlindungi.
Sakura memandang Naruto ragu. Jika mereka seperti itu mereka akan seperti sepasang suami istri saja, dan Sakura takut mereka akan melakukan hal-hal diluar kendali. Sekali lagi Sakura menatap antara Naruto dan ruang yang tersedia untuknya.
Digesernya perlahan tubuhnya dan mendekati Naruto yang sudah menanti Sakura untuk mendekat. Ia yakin, Naruto tidak akan macam-macam padanya. Ia yakin Naruto melakukan ini semata-mata karena ingin melindunginya. Ia yakin Naruto tidak akan melakukan hal-hal semacam hubungan di luar kendali.
Sedangkan Naruto yang melihat Sakura perlahan-lahan mendekat, agak sedikit terkejut. Terkejut karena, presentasenya tadi salah besar. Jika tadi ia berpikir 5%, maka sudah dipastikan ini akan menjadi 100%, jika dilihat dari Sakura yang kian merapat padanya.
"Begini lebih baik, kan?" tanya Naruto perlahan menekan punggung Sakura menggunakan tangan kanannya seraya memeluknya agar Sakura bisa lebih dekat dengan dadanya yang dilapisi kaos putih tipis dengan lambang Konoha tersebut.
"Hm. Lebih baik," jawab Sakura seraya memejamkan matanya dan sebelah tangannya ia letakkan di atas dada Naruto. Hangat. Itu yang Sakura rasakan saat ini. Hangat menyelimuti dirinya saat berada disamping Naruto dan berada dalam kungkungan tubuh Naruto. Ia merasa nyaman berada dalam pelukan Naruto. Hangat yang tidak biasa. Hangat yang menentramkan hati.
.
.
"Kau dapat merasakan detak jantungku, Sakura-chan?" tanya Naruto yang masih belum tidur sementara Sakura memejamkan matanya. Bukan karena ia tidur, melainkan karena dengan memejamkan mata harum maskulin pada tubuh Naruto dapat ia rasakan seutuhnya.
Sakura membuka matanya perlahan. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati Naruto yang mencium puncak kepalanya. Ya, sedari tadi ia sudah merasakan Naruto yang sudah beberapa kali mencium puncak kepalanya. Namun hal ini bukan menjadi suatu masalah bagi Sakura. Mungkin, ia menginginkan hal ini.
"Ya…bisa aku rasakan, Naruto, disinikan? Kau merasakannya juga? Jantungmu berdetak sangat keras dan cepat," jawab Sakura seraya menatap mata sewarna batu sapphire milik Naruto yang dibalas Naruto dengan menatap mata emerald milik gadis kesayangannya, sedangkan Sakura perlahan menekan tangannya pada bagian dada Naruto yang berdetak kencang.
"Ya, Sakura-chan. Disini," jawab Naruto kembali dan menaruh telapak tangannya tepat diatas telapak tangan Sakura yang berada tepat pada jantungnya yang berdetak. Setelah menaruh tangannya cukup lama, kali ini perlahan, Naruto mulai menautkan jemarinya pada jemari Sakura dan jemari Sakura pun ikut bertautan.
"Jantung ini milikmu, Sakura-chan," bisik Naruto yang hanya bisa di dengar oleh Sakura seorang. Jemari mereka terus bertautan, sementara tatapan mereka masih terus saling menatap. Tak ada yang berniat saling melepaskan tatapan. Saling menatap. Menggali apa yang dibicarakan mata mereka, apakah sama yang dibicarakan oleh hati mereka.
"Naruto, bisa kita mulai dari awal?" bisik Sakura tak kalah pelannya yang hanya didengar oleh Naruto. "Memulai dari awal hubungan ini. Dan beri aku waktu untuk mencintaimu lebih dalam, Naruto,"
Naruto terbelalak kaget. Jujur saja, perkataan Sakura ini seperti bermakna bahwa Sakura sudah siap untuk hidup bersamanya, walaupun belum sepenuhnya siap. Bersiap untuk menjadi miliknya dan bersiap untuk hubungan yang lebih jauh.
"Apa ini artinya aku telah memenangkan hatimu, Sakura-chan?" tanya naruto pelan dan tak melepaskan pandangannya dari wajah Sakura yang sejak dari tadi. Tak pernah ada bosannya ia menatap makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna yang sekarang ada di hadapannya ini.
"Mungkin. Tapi mungkin kau harus sedikit berusaha lagi, Naruto," jawab Sakura sembari tersenyum lembut.
"Aku selalu berusaha, Sakura-chan. Dan aku bahagia karena usahaku pun banyak mengalami kemajuan," ujar Naruto serius dan terus memainkan helaian rambut Sakura.
"Aku tahu. Aku tahu itu, Naruto. Aku pun akan berusaha agar bisa membalas usahamu selama ini. Arigatou, sudah mengerti tentang diriku," Sakura memejamkan matanya, merasakan begitu lembutnya belaian Naruto pada tiap helai rambutnya, dan bagaimana hangat jemari Naruto yang masih setia menggenggam jemarinya. Sakura tidak pernah tahu, bahwa Naruto yang terlihat bodoh, bisa menjadi pria yang seromantis ini dikala berdua dengannya. Setiap ucapan yang memberikan kesan bahwa ia orang yang bodoh, kini tak terdengar oleh Sakura. Yang ada, ia mendengar berbagai ucapan manis dari bibir pria blonde ini, yang membuatnya semakin yakin bahwa ia telah terperosok jatuh dalam pesona calon Hokage ini. Hanya tinggal berusaha untuk jatuh lebih dalam lagi dalam pesonanya, maka ia yakin, ia tak akan bisa untuk keluar lagi dari sana.
"Sakura-chan….,"
"Hm….," kali ini Sakura kembali membuka matanya saat Naruto memanggilnya kembali. Sekali lagi ia mendongak dan mendapati Naruto menatapnya dengan intens dan yang aneh justru Sakura sama sekali tidak menghindar saat Naruto menatapnya. Tatapan yang belum Sakura lihat walaupun ia tahu selama ini Naruto sangat mencintainya. Tatapan yang baru kali ini Sakura lihat. Lagi-lagi emerald bertemu sapphire.
Kali ini tanpa adanya paksaan, tanpa adanya keraguan, ketakutan, kecanggungan atau apapun yang selama ini menghalangi mereka untuk melakukan ini, bibir mereka perlahan saling bertautan, dan saling mengecup. Merasakan rasa masing-masing. Melepaskan semua hasrat yang tertahan selama mereka bersama. Terus mengecup dan mengecap rasa manis.
Bagi sang pria ini adalah hal pertama yang ia rasakan, dan tentu ia sangat bahagia karena melakukannya bersama wanita yang ia cintai. Bersama wanita yang selalu ia impikan akan mendapatkan ciuman darinya. Dan ia pun bahagia, walaupun ini pertama kalinya, tapi setidaknya hal yang dilakukannya sudah sangat baik, terlihat dari sang gadis yang tak ingin lepas darinya dan tampak menikmatinya. Ya, ini ciuman pertamanya, dan ia berharap ciuman ini hanya akan ia berikan pada gadisnya. Tidak pada yang lain.
Sementara bagi sang gadis, ini bukan hal pertama baginya. Entah ini sudah keberapa kalinya. Ia sudah melakukannya yang pertama kali bersama seseorang. Ya, seseorang yang perlahan pudar dari lubuk hatinya, tergantikan oleh seseorang yang tengah mencumbunya mesra saat ini. Ia mengaku, ciuman ini adalah ciuman yang ia rasa sangat manis dan berbeda dari sebelumnya. Ia tidak mengerti, tapi itulah pendapatnya.
Jika karena pasokan oksigen tidak menuntut, maka ciuman ini akan semakin panjang. Tapi apa daya, paru-paru menuntut untuk diberikan udara agar dapat bertahan dari kesesakan yang ada. Yang memaksa keduanya untuk melepaskan tautan, dan kecupan yang sejak tadi mereka lakoni.
Nafas terengah-engah, dan berusaha untuk mencari udara sebanyak mungkin. Kecupan mereka terhenti. Tautan bibr mereka pun lepas, tapi tidak dengan pandangan mereka. Tidak pula dengan senyuman yang saling mereka bagi. Dan tidak pula dengan tautan jemari yang sejak tadi bertaut, dan terlebih lagi, tidak pula dengan rona wajah yang semakin memerah.
"Aku mencintaimu, Sakura-chan,"
.
.
Waktu menunjukkan jam 3 pagi. Desa nampak tenang. Begitu pula dengan kediaman Naruto Uzumaki. Terlihat, Naruto tertidur dengan pulas, dengan dengkuran halus yang tidak akan terdengar sebagai gangguan. Sedari tadi ia tidak merubah posisinya. Posisi yang memeluk kekasih hatinya. Berusaha menenangkannya dengan kehangatan dan juga dengan juga kedamaian.
Jika Naruto bisa tidur dengan pulasnya, tidak dengan Sakura. Ia sempat tertidur beberapa jam, tapi beberapa saat lalu, ia gelisah dan tidak bisa tidur. Sakura ingin mengubah posisi yang mungkin saja akan membuatnya nyaman, tapi tidak bisa karena Naruto masih saja tidak mengibah posisinya, apalagi untuk sekedar melepaskan Sakura.
Kali ini Sakura tidak tahan lagi. Gelisah yang sedari tadi menimpanya, kini berganti dengan rasa sakit yang luar biasa. Ia harus mencari pertolongan. Ia harus membangunkan Naruto.
"Naruto, bangun. Bangun, Naruto. Kumohon…,"
"Ukh…Sakura-chan. Ada apa?" Naruto membuka matanya dan mengendurkan pelukannya dan menatap Sakura yang seperti sedang merasa tidak enak. Ia jadi khawatir saat melihat Sakura yang menatapnya sayu
"A..aku…,"
.
Tsuzuku
.
.
Aku capek ngetiknya…..*lesu*
Tapi gak papa, ini demi readers yang minta dilanjutin, jadi harus semangat *berapi-api lagi*
Ok…gimana scene kali ini? Membosankan? Payah?
Bagi yang minta NaruSaku diperbanyak, nich udah banyak banget.
Buat yang nebak Naruto yang ada di balkon, tebakan kalian benar. Nah, sebagai hadiah, nich kukasih seperangkat alat ninja dibayar kredit. *lho* Plak, gak nyambung.
Ok. Gak bisa bilang apa-apa lagi. Yang jelas plis review…
