Minna-san….

Maafkan diriku ini yang sudah nelantarin fic ku ini. Saya benar-benar minta maaf. Setelah sekian lama akhirnya saya kembali juga dengan fic ini. Masih adakah yang menunggu? Saya harap masih ada. Hikz…

Saya sedang kena WB alias lagi kena virus gak ada ide sampai-sampai saya gak tahu lagi gimana kelanjutan fic saya. Bukan hanya fic di fandom ini saja yang saya terlantarkan, tapi di fandom bleach juga saya terlantarkan. Kasihan yah fic nya…

Scene pertama saya ambil dari sebuah drama Jepang yang entah judulnya apa, saya sendiri juga lupa. Hikz…cowoknya meninggal endingnya. Tapi Naruto gak bakal mati kok. Dan cerita ini juga gak ada hubungan sama kematian tokoh utama, saya hanya ambil sepotong adegan disana saja.

Dan juga saya gak pernah lupa ucapin buat semua yang udah review dan baca. Saya gak bisa sebutin satu-satu. Saya senang sekali kalian mau baca fic saya yang abal dan juga bertele-tele ini. Hehehehe….

Sip lah. Langsung saja, tanpa bertele-tele lagi….

.

.

.

Disclaimer : Naruto punya Masashi-sensei. Kalau aku yang punya,Naruto bakal jadian ma Sakura.

Summary : Sakura dan Sasuke akan menikah. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sasuke secara tidak langsung membatalkan pernikahannya. Naruto yang sangat mencintai Sakura pun membantu Sakura dalam menghadapi masalah peliknya. Tapi apa yang akan Sakura lakukan saat Sasuke datang kembali untuk menikahinya padahal Sakura sudah tahu perasaan Naruto padanya.

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Pairing : Naruto X Sakura

Rated : T+

Warning : Story abal. Gaje. Typo banyak. Tapi jangan lupa review yah…

Naruto dan temen-temennya aku buat berumur 22 tahun

.

I Am Here For You

Chapter 8 : Sadness

.

"Ugh…." Sakura membuka matanya walaupun masih terasa berat. Dilihatnya sekelilingnya sambil terus mengerjapkan matanya dan menyesuaikan diri dengan cahaya yang ada. Putih, batin Sakura. Samar-samar ia mendengar suara di sekitarnya.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" suara Ino yang terdengar.

"Syukurlah Sakura, kau tidak apa-apa," kali ini suara Shizune.

"Akhirnya dia sadar juga," suara Tsunade ikut terdengar.

"Ada apa? Apa yang terjadi padaku?" Sakura bisa melihat siapa saja yang mengelilinginya kali ini. Tsunade, Shizune, Ino dan juga Shikamaru yang berdiri dengan memakai tongkat disudut ruangan.

"Tadi kau dilarikan ke rumah sakit karena kau kesakitan Sakura," jawab Ino. Matanya terlihat berkaca-kaca kali ini.

Sakura tampak termangu dan terdiam. Ia tidak ingat kapan ia dibawa ke tempat ini. Seingatnya ia tidur bersama Naruto. Dan seingatnya perutnya tiba-tiba terasa sakit. Ya, perutnya.

"Bayiku….mana bayiku?" tanya Sakura tiba-tiba. Ia menyentuh perutnya dan merasa ada yang aneh.

Ruangan hening. Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Sakura. Tepatnya tidak ada yang ingin menjawab pertanyaannya. Sepi dan sunyi. Hanya pandangan iba yang diberikan oleh mereka semua pada Sakura.

"Bayiku….KATAKAN ADA APA DENGAN BAYIKU!" akhirnya teriakan Sakura membuat mereka semua yang ada disitu terkejut. Tidak ada jalan lain selain menjawab kan? Hanya saja mereka bingung harus menjawab apa pada yang bersangkutan.

Tsunade maju dan berdiri menggantikan posisi Ino disamping Sakura. Karena sekarang Ibu nya sedang tidak disitu, maka ialah yang harus menyampaikan semuanya. Tidak ada jalan lain selain jujur dan membiarkan Sakura tahu semuanya.

Dibelainya rambut cherry Sakura dengan lembut. Mungkin karena terpengaruh kebersamaan mereka, Sakura merasa tenang saat Tsunade membelainya seperti belaian seorang Ibu.

"Sakura, dengarkan. Bayimu sudah beristirahat dengan tenang. Kau pasti mengerti maksudku," kata-kata Tsunade membuat airmata Sakura jatuh dengan sendirinya. Namun ia kali ini lebih tenang. Hanya airmatanya yang terus jatuh dan tidak bisa dibendung.

"Apa mungkin kau pernah terjatuh sebelum ini? Karena penyebab dari semua ini adalah benturan pada perutmu," Tsunade menambahkan.

"A..aku pernah terjatuh sa…saat hikz…sedang bertugas dua hari yang lalu. Mungkin karena kelelahan. Ta..tapi saat itu ti…tidak ada yang aneh dengan perutku, se..sehingga a..aku hikz…merasa tidak perlu memeriksanya lagi," kini Tsunade tahu apa penyebab dari semuanya. Ia sudah menduga kalau Sakura mengalami hal ini.

"Kau harus merelakan semuanya. Itu lebih baik Sakura," ujar Tsunade menghela nafas berat.

"Na…naruto pasti akan kecewa padaku. Ia pasti akan marah padaku karena tidak menjaga dengan baik kandunganku. Aku…aku…." Sakura masih menangis. Naruto selalu memperhatikannya dan juga bayi yang ada dalam kandungannya. Naruto selalu mengingatkan Sakura untuk menjaga bayi itu meskipun bukan darah dagingnya sendiri, namun ia sama sekali tidak mendengarkan Naruto. Baru saja Naruto pergi meninggalkannya, ia sudah ceroboh seperti ini.

"Bodoh…aku bodoh. Dosaku bertambah banyak," Sakura menjambak rambutnya. Ia kesal. Ia benci pada dirinya sendiri. Mengapa ia bisa begitu ceroboh dan melalaikan kepercayaan Naruto? Naruto dengan tegas dan berani mengakui bahwa anak dalam perut Sakura adalah anaknya. Naruto melakukan semua agar Sakura tidak dipenuhi dengan rasa malu. Tapi ia bukannya membalas budi baik Naruto dengan menjaga kandungannya malah secara tidak langsung sudah membunuhnya.

"Naruto menginginkan anak ini lahir dengan selamat. Naruto begitu menyayangi bayi ku, walaupun bukan darah dagingnya. Tapi aku membunuh bayi ku dan menghancurkan kepercayaan Naruto padaku. Apa…apa yang harus aku katakan padanya?" Sakura meracau. Ia baru saja berjanji pada Naruto bahwa mereka akan memulainya dari awal, mengapa ia yang menghancurkannya?

"Katakan padanya, Sakura. Kau harus mengatakan semuanya pada Naruto. Aku yakin ia akan mengerti," jawab Tsunade memberikan nasihat pada Sakura walaupun Tsunade tidak tahu hasilnya.

"Naruto…dimana Naruto. Mengapa aku tidak melihatnya, shisou?" kali ini Sakura terlihat mencari Naruto di sekitar ruangan kecil ini. Namun, hasilnya nihil.

"Begitu mendengar kondisi mu dan bayimu dalam bahaya, Naruto langsung pergi dan sampai sekarang belum kembali, padahal sudah dua jam berlalu," Shizune membuka mulutnya yang sedari tadi terdiam.

"Dia ada di kuil di dekat lokasi pemakaman. Sepertinya dia ingin berdoa untuk keselamatan kalian, itu katanya tadi," kali ini suara Shikamaru yang baru terdengar.

"Na..ru…to…."

.

.

.

Sakura berjalan menembus malam dan berjalan menuju kuil seperti yang dikatakan Shikamaru tadi. Walau kondisinya belum sepenuhnya pulih dengan pengangkatan bayi yang ada di kandungannya tadi, ia memaksakan diri untuk menyusul Naruto yang sedang berdoa seperti kata Shikamaru.

Selama perjalanannya yang ia tolak untuk di temani, ia terus menangis. Air matanya terus menerus meleleh. Ia menangis karena bayinya secara tidak langsung sudah ia bunuh. Ia berdosa karena melantarkannya. Dulu Sakura sempat berdoa ia tidak menginginkan bayi itu untuk ada di rahimnya. Apakah ini hasil dari doanya?

Ia terus berjalan dengan pelan dan mencapai puncak kuil saat ia melihat punggung Naruto yang sedang berdoa. Doanya begitu khusyuk sehingga ia tidak mendengar langkah kaki Sakura yang mendekatinya. Malam ini angin berhembus dengan kencangnya mengingat sebentar lagi musim dingin akan menyapa warga Konoha dan menandakan salju akan turun.

Naruto terkejut mendapati Sakura ada di belakangnya tepat saat ia selesai berdoa. "Sa…sakura-chan…"

"Na…naruto sedang apa kau malam-malam begini. Di luar dingin, Naruto," lirih Sakura dan berjalan mendekati Naruto. Dielusnya dengan tujuan menghangatkan kedua lengan Naruto yang tidak memakai apa-apa. Pasti saat membawanya kerumah sakit Naruto hanya memakai kaos tipis.

"Lalu Sakura-chan sedang apa disini? Aku baru saja akan kerumah sakit. Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Naruto dengan wajah riangnya. Entah palsu atau memang wajah aslinya.

"Na…naruto aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya, bayiku…bayiku….maafkan aku Naruto. Aku lalai. Aku bodoh. Aku membunuhnya, Naruto. Bayiku…bayiku…" Sakura tidak bisa menahan airmatanya. Dicengkramnya kaos yang dipakai Naruto. Ia menangis sejadi-jadinya.

"Ssssttttt…..aku mengerti Sakura-chan. Aku mengerti. Relakan saja. Mungkin Kami-sama akan menjaganya dengan lebih baik," Naruto memeluk Sakura dengan erat. Direngkuhnya tubuh rapuh Sakura yang masih dipenuhi dengan rasa bersalahnya.

"Aku…aku tahu Sakura-chan. Aku tahu apa yang terjadi. Nenek Tsunade sudah memberitahukan kemungkinannya padaku. Hanya saja aku masih berharap ia akan bersama kita lagi makanya aku berdoa disini. Aku berharap Kami-sama akan mengabulkan doaku. Tapi justru ia memilih untuk menjaganya sendiri dan mengambilnya kembali dari kita. Mungkin, ia merasa kita belum pantas menjaga titipannya," Naruto berusaha menguatkan hati Sakura.

"Ta…tapi, andaikan saja saat aku terjatuh aku langsung memeriksakannya mungkin hal ini tidak akan terjadi, Naruto," Sakura masih menangis. Kaos milik Naruto sampai basah oleh airmatanya. "Aku sama saja dengan pembunuh. Aku membunuh anakku sendiri,"

"Kau bukan pembunuh, Sakura-chan. Jangan bicara hal yang tidak-tidak," Naruto melepaskan pelukannya dan mencoba untuk membuat Sakura menatapnya. "Dengar. Waktu tidak akan berputar kembali. Jangan sesali masa lalu. Ini semua sudah ada yang mengaturnya, Sakura-chan. Sudah ku katakan tadi, Kami-sama akan menjaganya,"

"Dulu, aku sempat tidak menginginkannya dan berusaha menggugurkannya. Mengapa saat itu Kami-sama tidak mengambilnya? Mengapa saat aku sudah menyayanginya dan ada orang sepertimu yang tulus menjaganya, mengapa ia diambil begitu saja?"

"Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi, Sakura-chan. Dan inilah yang terjadi, Sakura-chan,"

"Lalu, bagaimana denganmu. Apa kau tidak marah padaku? Aku sudah berjanji akan menjaganya untukmu, tapi sekali lagi aku lalai, Naruto,"

Naruto menunduk sehingga Sakura tidak tahu bagaimana eksprei Naruto saat ini. Sesaat bahu Naruto perlahan bergetar. Sakura mendapatkan perasaan buruk terhadap situasi ini.

"Tentu saja aku kecewa denganmu Sakura-chan," Sakura terhenyak. Ia terkejut bukan karena ucapan Naruto barusan, namun karena airmata Naruto yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Naruto menangis. "Tapi aku tidak marah padamu. Bagaimanapun juga ini sudah takdir. Walaupun aku marah padamu, ia tidak akan kembali pada kita, Sakura-chan,"

"Namun, aku tidak bisa bohong kalau aku sedih, Sakura-chan. Aku sedih. Anak itu…anak itu begitu aku harap kelahirannya. Walau bukan darah dagingku ia yang membuat ku bangga karena sudah menjadi pria dewasa. Karena anak itu aku belajar untuk menjadi pria yang bertanggung jawab,. Karena anak itu, aku belajar menjadi sosok ayah yang berusaha menjaga anaknya. Karena dia yang mempersatukan kita, Sakura-chan,"

"Aku…aku begitu menyayanginya. Walaupun aku belum tahu jenis kelaminnya dan aku pun belum tahu ia akan mirip denganmu atau dengan si brengsek yang sudah membuat dirimu seperti ini. Aku masih ingin menjaganya. Aku bahkan sudah menyiapkan nama yang cocok untuknya. Aku ingin memamerkan kepada dunia bahwa ia adalah anakku. Aku berharap walaupun ia bukan anakku namun sifatnya akan sepertiku,"

"Maafkan aku, Naruto. Maaf…" Sakura makin merasa sedih dan bersalah melihat Naruto yang menangis seperti itu. Ia tidak tahu jika Naruto sangat menyayangi anak yang ada dalam kandungannya tersebut. Ia selalu mengira Naruto hanya merasa kasihan saja padanya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sakura-chan. Kau tidak bersalah,"

"Ta..tapi…aku…aku…" ucapan Sakura terhenti saat ia merasa Naruto sudah mencium bibirnya. Rasa asin dirasakan Sakura saat Naruto menciumnya dengan masih menangis. Ia membalas ciuman Naruto namun dengan keadaan yang sama seperti Naruto. Ya, menangis.

Dibawah sinar bulan dan juga diterpa angin kencang, mereka saling berciuman untuk mengusir penyesalan masing-masing sambil mendoakan yang baru saja berpulang pada sisi Kami-sama.

.

.

.

Pagi-pagi sekali Naruto dan Sakura sudah berada di daerah pemakaman Konoha. Tujuan mereka adalah menguburkan jabang bayi yang baru berumur tiga bulan tersebut. Makamnya kecil dan masih basah. Naruto sengaja memilihkan tempat di bawah pohon dengan alasan agar anaknya tidak kepanasan. Meski masih terpukul namun ia berusaha untuk kuat. Bukan saja untuk dirinya namun yang lebih penting adalah untuk Sakura agar ia tidak semakin terpuruk.

"Menurut Shisou, jenis kelaminnya perempuan," ujar Sakura masih menaburkan bunga di sekitar pemakaman bayinya.

"Perempuan yah? Ia pasti akan secantik dirimu, Sakura-chan," puji Naruto sambil tersenyum datar.

"Kita bahkan belum melihat wajahnya, Naruto," jawab Sakura dan masih merapikan tanah basah makam tersebut.

"Benar juga. Hm….tapi aku rasa ia pasti mirip denganmu," balas Naruto.

Angin berhembus menerpa kedua orang yang sedang berduka tersebut. Walaupun menjelang tengah hari, namun langit tidak kelihatan cerah sama sekali, justru agak gelap dan mendung, tapi tidak juga mengundang hujan. Sepertinya langit tahu dengan keadaan kedua orang ini yang baru saja ditinggalkan oleh yang seharusnya mereka jaga.

"Katakan apa yang ingin kau katakan padanya untuk terakhir kali sebelum kita meninggalkannya sendirian disini," ujar Naruto.

Sakura terdiam. Ia merasa bingung ingin mengatakan apa di depan makam kecil ini. Perasaannya campur aduk. Perasaan sedih bercampur dengan perasaan bersalahnya. Kesedihannya nampak dengan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya dan siap untuk jatuh.

"Anakku…." Lirih. Nyaris berbisik. Suara Sakura hampir sama sekali tidak terdengar.

"Maaf. Maafkan ibumu ini. Maafkan ibumu yang dulu hampir ingin membunuhmu. Maafkan ibu, karena pernah tidak menginginkanmu ada dalam rahim ibu. Maafkan ibu, karena ibu sempat mengacuhkanmu dan tidak menyayangimu dan pernah menyesal karena kau hadir dalam hidup ibu," tes. Tes. Tes. Airmata Sakura jatuh perlahan. Hati Naruto sakit melihat Sakura yang seperti ini. Yang bisa Naruto lakukan hanyalah mengelus perlahan punggung Sakura. Mencoba menenangkannya.

"Mungkin ini sudah menjadi hukuman untuk ibumu ini. Ibu sempat meminta pada yang diatas agar kau menghilang dari hidup ibu. Dan ini jawaban dari doa ibu. Namun sungguh, itu dulu. Sekarang ibu menyesal karena tidak bisa mempertahankanmu di sisi ibu. Ibu menyesal karena gara-gara ibu, kau bahkan belum sempat melihat dunia, melihat ibumu dan juga belum sempat memanggilku dengan sebutan ibu,"

"Ibu harap kau tidak membenci ibumu yang payah dan tidak becus ini. Ketahuilah ibu sangat menyayangimu. Bagaimanapun darah ibu ada padamu. Kau darah daging ibu, anakku. Berjanjilah kau akan memaafkan ibu dan akan bahagia disana," Sakura mengakhirinya dengan wajah semakin tertunduk, air matanya semakin membasahi tanah makam tersebut. Tangannya menggenggam erat tanah makam anaknya, bahunya bergetar hebat, sementara sesenggukann sesekali terdengar.

.

.

.

"Hei anakku…." Sakura mengangkat wajahnya mendengar suara Naruto yang ada disampingnya. Tatapan mata Naruto tertuju pada tanah makam.

"Hahahahhaha….kau pasti akan bilang 'siapa dia? Seenaknya saja memanggilku anaknya'. Baiklah, aku memang bukan ayahmu. Aku hanya teman baik ibumu. Tapi anggap saja aku ayahmu, bisa kan?" Sakura menatap Naruto yang masih saja bicara sendiri. Namun Naruto seakan buta dengan tatapan Sakura dan masih bicara pada makam anak Sakura.

"Karena kau perempuan, ayah merasa kau pasti mirip dengan ibumu. Kau akan memilik rambut permen karet seperti ibumu dan mata yang sama dengannya. Ayah yakin itu,"

"Ayah berharap kau masih disini bersama kami, tapi kau lebih memilih kami-sama daripada ibumu. Tapi jika kau bertemu dengannya, katakan pada Kami-sama bahwa ibumu sangat menyayangimu. Ibumu menjagamu dengan baik,"

"Sakura-chan bolehkah aku menamainya? Ia harus punya nama," kali ini Naruto baru menatap Sakura. Tidak ada jawaban dari Sakura, namun senyum lembut terpatri di wajah cantiknya.

"Kuanggap kau setuju. Dan kau setuju kalau aku…hm…memberikan margaku padanya?" tanya Naruto lagi.

"Naruto..kumohon…jangan membuat hutang budiku makin banyak padamu. Cukup memberikannya nama tidak perlu memakai margamu. Ia bisa memakai margaku," Sakura memohon pada Naruto. Sungguh lelaki di sampingnya ini sangat baik terhadapnya.

"Tidak bisa. Semua penduduk desa tahu kalau ia anakku. Ia harus memakai margaku," Naruto bersikeras yang membuat Sakura pasrah dan hanya mengangguk pelan.

"Yosh. Kau akan ayah beri nama. Namanya tidak bagus. Namun, nama ini nama orang yang paling berharga bagi ayah meskipun kebersamaan kami hanya sebentar. Namikaze Kushina," Sakura menoleh cepat dan terkejut karena Naruto memilih nama itu untuk menamai anaknya.

"Naruto…"

"Kushina itu ibu dari ayah. Wajahnya cantik. Walaupun ia terlihat galak namun ia sangat baik hati. Ayah berharap kau bisa seperti itu. Dan ayah berharap kau suka dengan nama itu,"

"Nah…Kushina. Ayah dan ibu pamit. Kami akan sering mengunjungimu dan menemanimu meskipun tidak setiap hari,"

.

.

.

Sakura terlihat membereskan semua benang yang masih ada di kamarnya. Semua rajutan yang ada di atas tempat tidurnya. Ia ingat, itu rajutannya untuk anaknya jika ia lahir nanti. Sepasang kaos kaki dan kaos tangan sudah disiapkan juga. Sakura hanya belum membuatkan topi buat anaknya saja. Memang terlalu cepat ia membuatkannya, namun ia hanya menyicil pekerjaannya saja.

Sakura bahkan sering membayangkan betapa lucu anaknya saat memakai rajutannya sendiri. Saat itu ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan mengambil gambar setiap tingkah laku anaknya. Namun sekarang hanya hayalan belaka. Kaos kaki dan juga kaos tangan tersebut hanya akan ia simpan di dalam laci pakaiannya. Sementara hayalan untuk mengambil gambar anaknya pun tinggal kenangan. Kenyataan ini terlalu pahit untuk diterima.

"Apa yang sedang kau lakukan, Sakura-chan?" Naruto datang menengok Sakura yang sedang beres-beres.

"Ah….Naruto. Aku hanya sedang beres-beres saja. Barang ini sudah tidak ada gunanya lagi," jawab Sakura sambil memasukkan dengan rapi kedalam lacinya.

"Kupikir juga begitu. Tapi jangan sampai kau membuangnya Sakura-chan," ujar Naruto dan duduk disamping Sakura.

"Hm…aku tidak akan membuangnya, karena dengan ini aku akan selalu ingat bahwa aku pernah mempunyai seorang anak yang belum sempat aku lahirkan," jawab Sakura tersenyum miris.

"Cobalah untuk tidak terlalu bersedih lagi. Hari esok masih ada, Sakura-chan. Masih banyak yang harus kau lakukan selain menangisi apa yang tidak mungkin kembali lagi,"

Sakura menutup laci lemarinya dan berdiri. "Hm….kau benar Naruto, salah satunya adalah dengan menyiapkan makan malam untuk kita berdua. Ayo turun dan temani aku masak," ajak Sakura. 'Apa yang dikatakan Naruto benar, masih ada hari esok yang harus aku pikirkan'

.

.

.

"Bagaimana kau bisa tidur dengan telanjang dada begitu, Naruto? Ini musim dingin" Sakura mengomel saat ia masuk kamar dan melihat Naruto tidur dengan telanjang dada alias tidak memakai atasan.

"Ini?" tunjuk Naruto pada dadanya sendiri. "Ada penghangat di ruangan ini, Sakura-chan. Aku tidak akan kedinginan.

"Hm…terserah kau sajalah. Awas saja kalau kau masuk angin," ancam Sakura dan naik ke atas tempat tidur.

"Aku lupa satu hal. Aku tidak akan kedinginan karena ada kau yang menghangatkanku, bukan begitu?" seringai Naruto dan menarik Sakura dalam pelukannya.

"Na…naruto…."

"Kau harus terbiasa sekarang, Sakura-chan. Kau sudah memberiku kesempatan untuk membuatmu mencintaiku. Jadi aku akan mewujudkannya. Jadi terbiasalah dengan perlakuan romantisku," ujar Naruto dan membelai rambut buble gum Sakura.

"Naruto…."

"Hm?"

"Apa aku masih boleh tinggal bersamamu?" tanya Sakura pada Naruto yang masih dalam dekapan Naruto.

"Bicara apa kau? Tentu saja boleh. Ini rumahmu juga. Mana tahan aku kalau harus berpisah denganmu?" jawab Naruto dengan mata yang sudah tertutup. "Setidaknya biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku dengan cara mendekatkanmu disisiku, Sakura-chan,"

"Hei….kau seksi juga dengan dada telanjangmu ini," goda Sakura.

"Baru tahu? Semua gadis antri untuk melihat dadaku, Sakura-chan," jawab Naruto sembari terkekeh. "Jadi kau gadis beruntung,"

"Mengantri katamu? Tidak akan ada yang suka pada dadamu yang tidak ada seni ini," ujar Sakura mengejek. "Lebih keren dada Kakashi-sensei,"

"Ap…apaaaa? Jadi kau sudah melihat dada Kakashi-sensei, Sakura-chan?" alis Naruto berkerut. Kenapa Sakura malah memuji dada sensei nya sih?

"Hmmmppp…wkwkwkwkwk…aku hanya bercanda. Mana mungkin Kakashi-sensei mau memperlihatkannya padaku? Padamu saja tidak," tawa Sakura pelan karena berhasil mengerjai Naruto.

"Awas kau, Sakura-chan," Naruto lalu menggelitik Sakura sehingga Sakura terkikik menahan rasa gelinya.

"Naruto, berhenti. Hahahaha…kumohon berhentilah. Geli sekali,"

"Aku senang dengan dirimu yang seperti ini, Sakura-chan," ucapan Naruto membuat Sakura berhenti tertawa. Ditatap wajah Naruto yang tersenyum lembut padanya.

"Berkat kau," jawab Sakura dan perlahan mencium bibir Naruto. Sempat terkejut karena biasanya Naruto lah yang memanjakan bibir Sakura. Kini keadaan terbalik. Tidak ada protes dari Naruto, ia cukup membalas perlakuan Sakura terhadapnya kan? Tentu saja dengan cara yang lebih lembut.

Cukup lama mereka menikmati aktivitas mereka satu ini. Saat dirasa pasokan oksigen semakin menipis, keduanya saling melepaskan pagutan mereka meskipun belum ada yang puas. Seakan bisa membaca pikiran dan keinginan pasangan, keduanya kembali bercumbu. Hah…apakah mereka sedang di mabuk cinta sehingga satu pagutan rasanya tidak cukup untuk membuat mereka puas? Saling mencumbu, mencoba mendominasi, dan biasanya wanitalah yang akan mendesah ketagihan. Setidaknya ini yang digambarkan atas situasi mereka.

"Naruto, salju turun," Sakura menunjuk balkon kamar Naruto. Benar saja, salju turun. Salju pertama saat musim dingin. Besok, dipastikan mereka akan memakai pakaian hangat jika akan keluar rumah. Anak-anak pun akan riang gembira bermain bola salju. Dan bagi yang menjalankan misi, tentu mereka butuh mantel khusus untuk mereka kenakan agar tidak kedinginan.

Naruto terdiam memandang salju yang terus turun. Ia berharap bahwa hubungannya dengan Sakura yang sudah mencapai tahap serius akan terus berlanjut. Ya…ia berharap.

.

.

.

. To be continued.

.

Fuaahhhh…hutangku lunas satu. Ya tuhan, ampunkan hambamu ini yang sudah punya banyak hutang. Ampuni hambamu ini karena malas bayar hutang. Ampuni hamba…

Reader : apa-apaan sih *ditendang*

Full NaruSaku dari atas sampai bawah. Ada yang belum puas? Khusus chapter ini emang full NaruSaku. Chapter depan baru bakal ada SasuHina dan ShikaIno. NaruSaku akan kita sedikitkan perannya.

Ok….banyak yang minta anaknya Sakura mati kan? Sudah ku kabulkan tuh. Daripada aku yang dibunuh, mending anaknya Sakura. Maaf yah Sakura….* di shannaro*

Maafin jika banyak typo. Tulisan tidak berkualitas karena saya baru balik dari kebuntuan dan segala macam tetek bengek soal itu. Tapi sekali lagi apresiasi reader semua buat review chapter ini.

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih yang sudah mau menunggu sampai jamuran, karatan, sampai berakar. Terima kasih yang sudah memfavoritkan dan terima kasih yang sudah mengalert fic ini.

So this is chapter special for you all

Arigatou, minna…..see you in next chapter