Last Present 1

Author : nodame aka yeonri

Pairing : YunJae

Other Cast : Changmin, Yoochun, Junsu, Jinwoon (2AM), jihyun, Kim Heechul (SJ), Choi Siwon (SJ),

Warning : PG, INCEST! TYPO, EYD Gagal,

Note : ini terinspirasi dari film last present, banjir airmata saia ntnya hiksuhiksu yuk mari dibaca~~ udah pernah di post di YSP. Thanks buat yg udah ngefave ni FF abal, hehehehe trus yg ngefave tp gag komen.. kayak ada de satu tp lupa namanya, makasih… SR yg udah nyempetin baca.. moga di chapter ini mau komen ya SR nya.. heheheh lebih baik terlambat drpd ga sama sekali, kekekekeke makasih banyaaaakkkkkkkkk #bow

.

.

"aku anakmu"

JEDGERRRR!

Entah kenapa kondisi alam sangat mendukung, begitu jaejoong mengatakannya awan berubah mendung dan kilat menyambar, untung mereka berada di tempat yang aman dari tetesan air hujan.

Yunho tak bergeming, satu yang pasti sekarang sedang ia alami, Shock! Seorang anak yang baru sekali dia lihat mengatakan kalau dia adalah anaknya? Omong kosong macam apa ini? Bahkan menyentuh seorang wanita saja dia belum pernah –karena dia lebih sering bersama pria, dan sekarang ada seorang anak aneh yang datang padanya hal yang sangat sangat sangat mengerikan.

"kau salah orang.." yunho ingin nekat menerjang hujan, pergi meninggalkan anak itu. Jaejoong dengan sigap menahan tangan yunho agar tidak pergi walaupun pada kenyataannya tenaga yunho lebih kuat dan malah membuat anak itu tertarik mengikuti tubuhnya, sekarang mereka hujan-hujanan.

"jebal, jangan pergi,,, ajjushi, jebal…" jaejoong memeluk tangan yunho, tubuhnya yang begitu rapuh hanya bisa pasrah ditarik yunho.

"yah, aiissshhh lepas, aku tidak mengenalmu!" bentak yunho, rambut mereka sama-sama basah, yunho melihat jaejoong yang sepertinya bergetar, tepat dugaan yunho. Sekarang jaejoong menangis, matanya yang besar nampak merah, tangannya yang dingin tak juga lepas dari tangan yunho.

"aaiissh, arraseo.." mau bagaimana lagi, dengan terpaksa yunho membawa jaejoong ke rumahnya, errr mungkin tidak layak disebut rumah, hanya gedung tua yang beralih fungsi menjadi apartement khusus seorang jung yunho, walau dari luar hanya seperti sarang hantu (?) namun begitu masuk kedalam banyak sekali peralatan rumah yang cukup. Tidak semuanya yunho beli, banyak juga barang yang dia temukan di tempat sampah dan ia bersihkan untuk dia pakai.

Jaejoong menebarkan pandangan ke segala sisi ruangan yang ia masuki,

"pakailah, keringkan badanmu.." yunho melemparkan handuk miliknya pada jaejoong. Jaejoong menurunkan tas miliknya, dia melepaskan kemeja putihnya seketika yunho tercekat melihat betapa bersih dan terawatnya badan jaejoong. Sungguh maha karya yang begitu sempurna, pinggang yang kecil pasti sangat pas dalam pelukannya, omo, lagi-lagi dia berpikir yang tidak-tidak, beberapa tahun tanpa menyentuh gadis atau pria sudah pasti yunho sangat kesepian, tubuhnya membutuhkan kehangatan. Bukannya munafik tapi yunho sangat memilih pasangan tidurnya, dia tidak mau tidur dengan seseorang yang tidak bisa membuatnya berdebar seperti sekarang, yah, dia sangat begitu berdebar melihat jaejoong, padahal usia mereka terpaut jauh sekali, tentunya menjadikan dia sebagai pasangan adalah tindakan kriminal. Tunggu, lagipula jaejoong adalah..

"gomawo appa.." kata jaejoong.

"Boe? Sejak kapan aku setuju dipanggil seperti itu?.. panggil aku hyung..!"

"eh? Tapi kau kan appa-ku?"

"yah, dari mana kau tahu aku ini appa-mu? Lagipula aku tidak pernah merasa membuatmu.." jawab yunho ketus. Jaejoong mengerucutkan bibirnya, keningnya berkerut, dia sedang berpikir keras sekarang, bagaimana caranya orang dihadapannya percaya kalau dia adalah anaknya.

Yunho menahan tawa melihat ekspresi jaejoong yang cute, eh apa? Yunho menggelengkan kepalanya berkali-kali menghilangkan pikiran kotornya.

"ah, aku punya foto umma, apa kau mau lihat?"

Yunho sedikit tertarik, mungkin saja anak ini memang anak dari mantan-mantannya yang terdahulu. Jaejoong menyerahkan sebuah foto pria. Pria? Ya, seorang pria manis dengan kemeja biru laut, rambutnya sedikit berantakan namun cantik, yunho merasa familiar dengan wajah ini tetapi dia lupa siapa nama pria di foto ini.

"kim heechul.. umma-ku, dia .."

"kim heechul?" jaejoong mengangguk meng-iyakan, tetapi wajahnya yang ceria berganti murung, "seorang pria yang melahirkanku.. dia meninggal setelah melahirkanku.." yunho memincingkan matanya. Dia tidak sepenuhnya percaya dengan kata-kata jaejoong. Dia sungguh tak merasa kenal dengan pria cantik di foto ini.

"kau lapar? Apa ada bahan makanan? Aku akan memasak kalau kau mau.." yunho curiga, jangan-jangan anak ini adalah pembunuh bayaran yang ingin membunuhnya dengan makanan. Tapi lumayan di coba, dia sudah bosan hidup, yah mungkin saja jaejoong adalah malaikat kematian yang didatangkan untuk mengambil nyawanya.

"buatkan aku masakanmu yang paling enak" jaejoong tersenyum senang, dia secepatnya menuju dapur dan membongkar isi kulkas yunho.

"otte? Enak appa?" Jaejoong memandang Yunho dengan ekspresi takut, Yunho hanya diam dan menghabiskan makanannya tanpa menjawab pertanyaan jaejoong lebih dulu. Mulutnya mengunyah makanan dengan lahap namun matanya tidak bisa diam, berkali-kali wajahnya menengok dari sudut yang satu ke sudut yang lain, namun tidak melihat jaejoong.

"umma bilang.. appa sangat menyukai masakan umma, eheheh appa… apa masakanku seenak masakan umma?" jaejoong belum menyerah.

"heemm.. lumayan daripada makanan junkfood" yunho menghabiskan segelas besar air putih yang disiapkan jaejoong. Perutnya sangat kenyang, iapun bersendawa beberapa kali lalu meninggalkan jaejoong.

"umma.. kau benar.. apa sangat sulit di taklukan.." gumam jaejoong sambil meneruskan makannya, ternyata memandang yunho membuatnya mengabaikan makan malamnya.

"appa, kau tidak punya televisi ya?" tanya jaejoong begitu yunho keluar dari kamar mandi. Yunho hanya memakai celana panjang dan sebuah handuk berwarna merah menggantung di lehernya menyeka air yang menetes dari rambutnya yang basah.

Jaejoong menelan ludahnya berat, dia terpesona dengan keindahan tubuh yunho yang menurutnya sangat tampan dan gagah. Jaejoong mengira, pasti bekerjaan yunho pasti sangat hebat, ada beberapa luka di perut dan punggungnya juga kulitnya yang berwarna coklat, sangat berbeda dengan kulitnya dan juga kulit ummanya.

Yunho hanya diam berjalan melewati jaejoong yang sedang duduk di kursi bututnya, dia pergi ke dapur dan membuat segelas susu.

"minumlah.. lalu tidur.." yunho memberikan segelas susu pada jaejoong, dan dia menerimanya dengan senang. "heum.. tidak buruk umma, appa memang baik.." gumam jaejoong lagi.

Tanpa memperdulikan jaejoong, yunho tidur di ranjangnya yang keras, ah mungkin lain kali dia harus mengganti kasurnya dengan busa sabun, mengingat dia tidak punya uang untuk membeli kasur busa yang nyaman. Berkali-kali tubuh yunho bergerak mencari kenyamanan. Jaejoong memperhatikan appanya dengan serius. "umma.. dia sangat tampan.."

Beberapa menit memandangi yunho yang sudah terlelap membuat jaejoong juga mengantuk. Jaejoong merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang tidak jauh dari yunho, hanya sebentar jaejoongpun tertidur.

Yunho membuka matanya saat menangkap dengkuran halus milik jaejoong, dia merasa tidak tega melihat jaejoong meringkuk dan sepertinya dia kedinginan. Nalurinya sebagai seorang appa muncul, dia turun dari ranjangnya dan mengangkat tubuh jaejoong ke ranjang miliknya, yunhopun tidur disampingnya, tidur memeluk jaejoong agar anak ini tidak lagi kedinginan.

"uuunngghh…" jaejoong membuka matanya perlahan, dengan nyawa yang belum sepenuhnya sadar, dia mencari sosok yunho. "appa…" panggilnya dengan sedikit serak, suara khas saat jaejoong bangun tidur.

"eh.. kenapa aku ada disini?" jaejoong merasa aneh karena dia tidak berada di kursi.

"kau sudah bangun pemalas? Cepat buatkan appa makanan, appa sangat sibuk hari ini.." yunho tersenyum pada jaejoong, tiba-tiba dia merasa senang dengan kehadiran jaejoong yang membuatnya selalu beruntung sejak pagi tadi.

Flashback

"yunho hyung? Itukah kau?" yunho berhenti berlari saat sebuah suara menyebutkan namanya. Yunho membalikan tubuhnya dan melihat siapa orang itu,

"jinwoon?" yunho tersenyum melihat sosok jinwoon, juniornya dulu. Jinwoon membalas senyuman yunho, kedua matanya seperti menghilan ditelan pipinya yang merona, manis sekali.

"apa kabar hyung?" mereka berpelukan.

"ah, ne.. kabarku baik, ada apa ini? Bukankah kau bertugas di busan?"

"ahahah, ne.. aku baru tiga hari disini hyung, kepala polisi yang memintaku pindah kemari" jawab jinwoon tanpa lepas dari senyumnya.

"jincha? Ahahaha, kalau begitu kita harus merayakannya nanti malam, arraseo?" yunho menepuk pundak jinwoon pelan, dia sangat gembira bisa kembali bertemu dengan jinwoon.

"ne, tentu hyung.. hahaha.. oh iya hyung, kau bekerja dimana sekarang? Di kepolisian daerah ini juga?" wajah cerah yunho nampak meredup, namun sedetik kemudian dia kembali tersenyum.

"ani, aku tidak bekerja dimana-mana.." jinwoon memudarkan senyumnya, terlihat penyesalan sudah menanyakan hal yang mungkin membuat hyungnya terluka.

"ah, ngomong-ngomong hyung.. apa kau mau menerima perkerjaan dariku?"

"eh?"

"selama disini aku akan tinggal bersama pamanku, dia seorang kontraktor dan ada gedung baru yang sedang ditanganinya, apa kau mau hyung? Ah.. mianhe.. aku hanya ini menawarkan, kalau kau tidak bisa juga tak apa hyung" jinwoon merasa serba salah, tangannya menggaruk kepalanyan yang tidak gatal.

"ah, jincha? Gomawo woonie, aku memang sedang mencari pekerjaan.." yunho menggenggam kedua tangan jinwoon dengan erat, dia merasa sangat-sangat berterima kasih pada juniornya ini.

"ne, sama-sama hyung, ayo aku antar ke rumah pamanku.."

"ne.."

Flashback finish

"appa bekerja?"

"ne, jagalah rumah dengan baik, dan jangan pergi kemana-mana, arraseo?"

"ne appa.." jawab jaejoong.

Yunho sudah sepuluh menit pergi, tapi jaejoong sudah selesai merapikan rumah.

"fufufufu, tidak sia-sia aku selalu membantu adjhumma setiap pagi, ohohoho aku memang anak yang baik" narsis jaejoong sambil terus mengepel lantai.

"hey~~~ don't… bring me dooowwnnn~~" jaejoong menirukan lagu yang tersengar dari sebuah radio jadul di dapur. Tubuhnya menari-nari tidak jelas, kadang ia menirukan gaya rocker dengan sapu sebagai gitar atau wortel sebagai mic.

Wow michyoborigetda dakchyojugil wonhaetda

noui gumulsoge babogatun Fish igollonun andwae? Cash

noui sarangi nae sarul doryonae aryonhae

onul na moriga apawa to dashi hwanchongi dullyowa

Jaejoong kembali bernyanyi menirukan rap part milik idolanya. Kini dia sedang menginjak-injak semua pakaian yunho. Hari ini begitu panas, pasti pakaian-pakain yang entah sejak kapan terakhir di cuci ini akan kering.

"aaahhh… akhirnya selesai juga…" jaejoong menyeka keringatnya dan segera masuk kedalam rumah begitu selesai menjemur semua pakaian.

"aku mengantuk, hoooaaammm… tapi ini jam makan siang, apa appa akan pulang?" jaejoong melongok ke luar jendela yang dibatasi kaca. Jaejoong melihat orang yang berlalu lalang di jalanan, dia ingin juga keluar.

Kruyuuukkkkk~~~

Jaejoong memegang perutnya, ia merasa lapar.

"ya sudah.. aku masak saja.."

"jung yunho?" Jo Jihoon, pama jinwoon memandangi yunho dengan sedikit khawatir. Calon pegawai barunya ini, sedikit mengingatkannya pada seseorang, namun dia sendiri juga tidak ingat siapa orang itu.

"ne adjhusi.." yunho kenal betul tatapan jihoon, tatapan setiap orang yang beru pertama kali bertemu dengannya, seseorang yang dilupakan.

"baiklah, temui saja mandor Lee, dia yang akan memberitahu pekerjaanmu" jihoon meninggalkan yunho. Yunho menarik nafas lega, mungkin sedikit sulit tapi, pekerjaan ini lumayan juga.

Pukul 23.10, yunho baru pulang kerumahnya. Dia membuka pintu dengan pelan, takut akan membangunkan seseorang di dalamnya.

"selamat datang appa…" sambut jaejoong langsung memeluk yunho.

"eh, yah.. lepas.. aku belum mandi.." yunho mendorong tubuh jaejoong sampai mundur beberapa langkah.

"appa sudah makan?"
"heum, sudah… kau?" tanya yunho tanpa mengalihkan pandangannya dan sepatu yang dia lepas.

"eumm, belum.." yunho menatap jaejoong tajam.

"a-aku menunggumu appa.. a-aku.." wajah jaejoong berubah takut, melihat mata yunho yang memandangnya seperti ini membuat nyali jaejoong mengkerut.

"babo.. lain kali jangan menungguku, makanlah kalau kau lapar.." yunho melangkah ke kamar mandi. Jaejoong melenggang lemas, dia mulai menambil makan malamnya yang sudah dingin.

Jaejoong selesai makan malam saat yunho sudah selesai mandi, seperti malam sebelumnya, yunho akan langsung merebahkan tubuhnya diranjang, dan tak lupa membuatkan jaejoong segelas susu.

"minumlah yang banyak agar bertambah tinggi.." jaejoong menatap yunho sambil menegak susunya perlahan-lahan.

"gomawo.. appa.."

"kemari…" yunho menyandar pada tumpukan bantal dan menyuruh jaejoong tidur di pelukannya. Jaejoong meletakan kepalanya di dada yunho, kedua tangannya memeluk pinggang yunho.

"jae.."

"ne appa.."

"apa kau tidak mau sekolah?"

"egghh… aku.. aku tidak suka sekolah, aku tidak suka belajar.."

"jongmal?"

"eemm, aku tidak pernah sekolah appa.. tidak pernah.." yunho sedikit mengerti, kematian heechul setelah melahirkan jaejoong mungkin saja membuat jaejoong sebatang kara.

"lalu? Selama ini dimana kau tinggal?"

"eh? Euumm" jaejoong sedikit gugup "di panti asuhan.." yunho mengerutkan keningnya, berpikir,

"jae…" jaejoong diam, ia pura –pura tertidur.

Anak seperti jae pasti sangat menginginkan kasih sayang seorang ibu, apa mungkin sebaiknya dia mencari calon ibu agar bisa merawat jaejoong dengan baik,

Flashback

"hyung, kau datang…" jinwoon melambaikan tangan pada yunho. Dia sudah cukup lama menunggu yunho di kedai minuman jalanan ini.

"tentu, kita sudah berjanji bukan?"

"hahahahaha"

Yunho memesan minuman dan beberapa makanan.

"bagaimana pekerjaanmu?" tanya yunho,

"baik hyung, yah seperti biasa, mengejar pencuri dan menyelesaikan beberapa kasus lama.." jinwoon meminum birnya. Yunho diam-diam sangat iri dengan pekerjaan jinwoon, pekerjaan yang selalu membuatnya di elu-elukan dan dipuji banyak orang karena kemampuannya menangkap penjahat. Dan beberapa orang yang dengan baik akan memberinya makan malam saat ia bertugas, atau.. seorang sahabat yang selalu menghiburnya saat ia sedang bersedih.

"hyung? Gwenchana?" jinwoon merasa tidak enak, lagi-lagi yunho terlihat depresi dan frustasi.

"ne, gwenchana.. ayo minum.." yunho menuangkan birnya ke dalam gelas.

"kau tinggal dimana hyung?" jinwoon mengambil daging yang tersaji di atas meja.

"tidak jauh dari sini.." jawab yunho yang hanya di balas anggukan oleh pria di sebelahnya.

"hyung, apa kau ingat jihyun noona?"

"eh? Ne.. noona mu, wae?"

"dia masih mencarimu…" yunho sedikit menggidik mendengarnya, mantan calon pacarnya yang telah bertunangan sekarang mencarinya? Apa ini mimpi?

"eh? Apa aku berhutang sesuatu padanya hahahaha.." candanya, karena yunho sama sekali tidak mengharapkan jawaban yang serius.

"dia mempunyai seorang anak.." yunho tercekat, apa lagi ini? Jangan katakan kalau itu adalah anaknya, yang benar saja..

"tetapi sudah meninggal setahun yang lalu.."

"lalu?"

"suaminya menghilang, dan dia sangat merindukanmu.." jinwoon menatap mata yunho dengan serius. "noona juga mencintaimu hyung, hanya saja dia tidak mempunyai kekuatan untuk menyempurnakan cintanya dengan menikah denganmu.." jinwoon menghel nafasnya berat "aku tahu hyung, betapa suramnya masa kalian saat itu, saat kau merasa di khianati oleh noona, saat kau hanya bisa menonton kemesraan noona didepanmu tanpa sanggup menghajar laki-laki yang ada bersamanya saat itu.. hyung, aku belum memberitahukan padanya kalau aku bertemu denganmu, tetapi kalau kau memang ingin menemuinya, hubungi aku dan aku akan mempertemukan kalian berdua, ok?"

Flasback finish

"appa, kau tidak berangkat kerja?" pagi ini jaejoong bangun lebih dulu dibanding yunho.

"eeggnnh? Aku ganti shift malam.." jawab yunho malas.

"eh?" jaejoong tidak mengerti, dia memutar-mutar spatula, berpikir.

"aku jaga malam…" terang yunho.

"oowwhh.." jaejoong kembali ke dapur.

Tok tok tok tok

"ne~~~" jaejoong membuka pintu depan, dihadapannya mucul seorang pemuda yang tersenyum manis padanya.

"apa ini rumah yunho?" tanya jinwoon, jaejoong mengiyakan. Tanpa disuruh jinwoon langsung masuk.

"hyung!" teriak jinwoon,

"ah, jinwoon? Ada apa lagi?" mau tidak mau yunho bangun dan duduk di ranjangnya.

"ayo, kita jalan-jalan…"

"eh? Kau mengajakku?"

"ne, dan kalau adikmu mau, dia boleh ikut.." jinwon memandang jaejoong,

"adik? Aku anmmmpppphh…" yunho menutup mulut jaejoong dengan kasar, "eemmmhemmmsssaapmmmhhh (lepas.. appa..)"

"tunggulah, kami akan bersiap-siap" yunho menarik jaejoong ke kamar mandi.

"dengar, jangan bilang kau anakku, arraseo?"

"wae…"

"jae…" kedua tangan kekar yunho menangkup di wajah jaejoong "karena, ini sangat berbahaya jae, appa mohon.. ne?" dengan berat hati jaejoong mengangguk.

"bagus… good boy.." yunho mengacak-acak rambut jaejoong, lalu mencium keningnya lembut dan lama.

"O_O appa.." yunho begitu menikmati saat bibirnya menempel di dahi jaejoong, kulitnya sangat halus dan manis ? yunho memejamkan mata menikmati moment ini beberapa saat, tetapi beberapa detik kemudian dia sadar dan segera mendorong jaejoong keluar kamar mandi, yunho menutup pintunya keras. Tanpa memperhatikan satu sama lain, kedua wajah mereka memerah seperti kepiting rebus.

"ige mwoya~~" desah jaejoong, tangannya menyentuh dada kirinya, begitu pula juga dengan yunho, mereka berdua sama-sama berdebar.

TBC

Balesan ripiu:

JoongieJungJung : sekitar umur 17th laahh heheheheh

Meong : ni di jelasin di part ini ^^

Missyoohee : OKOKOK ^^ di YSP br chapt 2 ^^ iya diusahakan ya chingu… makasih udah di fave ^^

Auliya : ni lanjut ya ^^

Yolyol : semoga tdk mengecewakan ne ^^

Dianavl : dulu cuman ampe chapt 2 say, kl chapt 3 mgkin itu bkan ff saya.. ehehehe

Diitactorlove : ne.. ini udah pjg belum? eheheheh

Princess yunjae : serius… ini yaoi.. pair yunjae ^^ incest.

Keekeuk : ini update ya ^^

Chidorasen : iya tu Jaejoong… silahkan lanjutannya… ^^

Rara : semoga ini ga mengecewakan ya ^^

Rose : sip.

widiwMin : iya… maaf br publish sekarang..

Saya-asty : iya… beneran kok.. bener2 ayah ma anak… ni udah pjg kan? ^^

Kang hye hwa : iya… ini lanjut

Ndapaw : dulu di YSP cmn ampe chapt 2 say, chap 3 sp tu yg bikin ? ekekekekek

Review Lagi Dooonnggg~~~ :3