Wah ternyata fict ini cukup mendapatkan respon positif dari para reader and reviewer sekalian. Saya pikir akan mendapat flame lol.

Balas review :

Tobi anak baik, Miss Uchiwa Sasusaku, 4ntk4-ch4n, Azuka kanahara, Hikari uchiha hatake, Kagurazaka suzuran, Sasusaku, Chisa Kiro'Yoid, Uchiharuno sasusaku, Yunacha'Zaitte, Micon, Chippyu, Cherry sakusasu, Haruno Nanako.

Terima kasih banyak telah mereview dan memberikan saran dan kritiknya. Sebagian besar berharap Sasuke tidak mati . Hnn, oke akan saya usahakan Saskey segera mati! *dibantai* becanda kok. Dibaca saja ya, insya allah ini adalah solusi paling baik untuk reader dan author :3.

Untuk Meoong : makasih udah suka cerita humor lebayness itu –plaak- . Sebenarnya Herbivor follower 6 baru dapet 1.149 word, jadi belum bisa saia publish . Sabar meoong..

Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Final Odyssey / For You copyright saiasaiasaia Shinkerbell

Genre : Family/Romance/Angst/Hurt/Comfort/Drama

Pairing : SASUSAKU

P.S : CANON, Chapter dua ini sedikit OOC ToT, OC.

Disarankan sambil mendengarkan lagu naruto shippuden ending 12 (For You) serta instrument sadness and sorrow (Toshiro masuda)

"Ada apa shisou?"

"Sakura, sebenarnya.."

Aku mulai merasakan firasat buruk, seandainya apa yang kudengar dari mulut nenek Tsunade adalah kenyataan pahit, entah apa yang akan terjadi padaku. Aku pun tak bisa membayangkan. Beliau menarik tanganku kembali ke tempat tidur, aku disuruh duduk di kasurku. Sedangkan beliau duduk di kursi yang tadi diduduki Hinata yang kini telah pamit undur diri untuk suatu hal. Kami duduk berhadapan, Tsunade shisou menghela nafas.

"Sebelum aku mengatakannya, aku ingin kau berjanji untuk tidak shock atau bersedih. Sebab kabar ini bukanlah akhir dari segalanya Sakura. Percaya dan berjanjilah padaku."

Tubuhku gemetar, peluh dingin membanjiri wajahku. Aku sangat takut, dari rangkaian kata yang diucapkan beliau, ini pasti kabar buruk. Dan aku tidak bisa menerimanya, aku tidak siap. Mataku sudah berkaca-kaca. Walau bagaimanapun, aku tak bisa untuk tidak menangis. Aku mengganggukan kepalaku pelan.

"Sai bilang, Shikamaru dan kawan-kawan telah berhasil menangani tentara setan milik Madara. Sedangkan Naruto luka-luka cukup parah, tapi dia sudah diamankan ke rumah sakit pusat Konoha. Hinata tadi pergi untuk Sasuke, dia…"

"Sasuke-kun kenapa Shisou.?" tanyaku tak sabar karena beliau menggantung ucapannya sesaat.

Pikiranku sudah dipenuhi oleh hal yang tidak-tidak.

"Dia menggunakan jurus Susanoo pada Madara, kemudian menghujamkan pedang totsuka (Sakegari no tachi) yang berasal dari Susanoo tersebut padanya yang mengakibatkan orang yang terkena jurus tersebut akan terlempar dan tersegel selamanya dalam dunia genjutsu mimpi."

"Lalu?"

"Seperti kau ketahui, Madara memiliki jurus jikukan ninjutsu yang artinya meskipun dia ditusuk atau dihajar sekalipun semuanya hanya akan sia-sia belaka karena tidak akan melukainya sama sekali dengan kata lain menembus tubuhnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Sasuke mengunci tubuh Madara dari belakang dan membiarkan dirinya sendiri ikut tertusuk dan terhisap ke dalam genjutsu pedang totsuka."

"Jadi Sasuke-kun~~.."

"Begitulah.."

Mataku panas, hidungku memerah menahan tangis. Sungguh aku tak kuasa membendung gejolak kesedihan di dadaku. Sudah bisa dipastikan, derai airmata mengalir di pipi. Tsunade Shisou meminjamkan bahunya untukku mengeluarkan semua sesak hati ini. Beliau mengelus-elus punggungku.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu Sakura, kehilangan orang yang kita cintai memang sangat menyakitkan. Aku pernah merasakan berada di posisimu. Kau sudah kuanggap sebagai anak kandungku. Jadi kau harus kuat mengatasi cobaan ini."

Aku terisak-isak di bahu beliau, sungguh hatiku sangat teriris pilu. Rasanya ada ribuan kunai beracun yang menusuk. Mengapa ini semua harus terjadi padaku, mengapa aku tidak bisa berbahagia dengan tenang bersama orang yang kucintai. Mengapa semua yang kusayangi selalu pergi meninggalkanku. Saat aku ingin melihat Sasuke-kun tersenyum bahagia mendapatkan 'hadiah' yang sangat ia nantikan dariku, ikatan kebahagiaan kami malah terputus karena ia pergi dari sisiku. Aku jadi teringat kenangan malam pertama pernikahan kami.

Flashback

"Sasuke-kun, aku merasa apa yang telah terjadi pada kita sekarang adalah mimpi"

Aku menyandarkan kepalaku di dada bidang Sasuke-kun yang sedang tiduran mengenakan kemeja putih yang kancingnya sudah sedikit terbuka.

"Hnn"

"Tak pernah aku merasa sebahagia ini sejak kau meninggalkan kami, team tujuh."

Ia terdiam sejenak, memikirkan sesuatu hal. Kemudian ia merengkuhku dalam pelukannya. Wajah kami berhadapan, dekat sekali. Semburat merah terukir di wajahku. Matanya yang hitam pekat menerawang ke dalam mataku cukup lama. Kurasakan ketulusan dan kelembutan yang terlukis disana.

"Maaf, kalau selama ini aku sering membuatmu terluka."

"Eh."

"Apa kau tahu Sakura, betapa menyesalnya aku ketika hendak membunuhmu menggunakan kunai beracun yang kau arahkan padaku. Betapa menyesalnya aku saat harus meninggalkanmu di malam sedingin itu, sungguh menyesalnya aku menyia-nyiakan kesetiaan cintamu dan kebaikan hati Naruto dan semua orang yang dengan ikhlas memaafkan semua kesalahanku. Aku hanyalah orang bodoh yang tidak mengerti apa itu arti kasih sayang yang sesungguhnya. Arti saling memahami dan memaafkan dan lebih mementingkan balas dendam yang berakhir dengan penyesalan. Aku pun tak mengerti kenapa aku sekarang bisa berada disini bersamamu. Karena itu, kesempatan ini tak akan pernah kusia-siakan. Aku akan terus membela Konoha dan membuatmu bahagia hingga maut yang memisahkan kita."

"Sasuke-kun~~" aku terharu mendengarnya. Baru kali ini ia berkata panjang lebar padaku.

Kupeluk ia lebih erat, sebuah ciuman manis menutup pembicaraan kami sampai disini. Ditemani cahaya rembulan, angin malam yang dingin semilir mengiringi kami berdua terlena dalam indahnya malam pertama.

End of flashback

"Tapi ada kabar baik untukmu, Sasuke belum tentu meninggal. Karena ia hanya terjebak dalam genjutsu mimpi jurusnya sendiri. Tanamkan keyakinan tersebut dalam hatimu Sakura."

Kuseka airmataku, apakah ini artinya aku harus menunggu lagi Tuhan?. Setelah sekian tahun aku menunggunya, sekarang aku harus menunggunya lagi dalam ketidakpastian yang lebih tidak jelas. Padahal kami baru sebentar mencecap kebahagiaan dalam kebersamaan yang indah. Dosa macam apa yang telah kami perbuat hingga takdir menguji kesabaran kami terus. Kurasakan peluh dingin makin lama semakin banyak keluar dari pori-pori kulitku, rasa sakit menjalar di perutku.

"Tsunade shisou,.." ucapku menahan sakit sembari mengusap-usap perutku yang buncit.

Tampaknya beliau mengerti apa yang akan terjadi. Maka beliau membaringkanku dan memanggil beberapa ninja medis untuk membantunya mengurus persalinanku.

~For You~

"Selamat Sakura, anakmu laki-laki" ungkap Tsunade-sama yang telah memandikan bayiku.

"Dia tampan sekali, mirip Sasuke loh Sakura!" tambah Ino yang turut membantuku melahirkan.

Aku tersenyum menerima bayiku dari gendongan Tsunade shisou. Yah, ia sungguh mirip dengan Sasuke-kun. Ia sangat manis dan lucu. Rambut hitam dan wajahnya yang tirus, mengingatkanku pada Sasuke kecil. Sayang, ia belum sempat mendapat kasih sayang dari sang ayah yang sangat menantikan kehadirannya. Kukecup kening malaikat kecil sekaligus jantung hatiku ini.

"Ngomong-ngomong, siapa namanya Sakura?" tanya Ino penasaran.

"Raito, Uchiha Raito." jawabku singkat

Kuberi ia nama Raito yang berasal dari kata Light yang berarti cahaya. Karena aku berharap dia akan menjadi cahaya penerang bagi keluarga, sahabat dan desanya di masa depan. Menjadi ninja yang baik hati, suka menolong dan berbakti pada negara.

"Wah nama yang bagus, pasti Raito akan menjadi ninja jenius seperti ayahnya." kata Ino

"Arigatou…"

"Ngg, Sakura yang sabar ya,, aku juga turut berduka atas musibah yang menimpa Sasuke-kun." Kata Ino dengan nada sedih.

"Terima kasih Ino, terima kasih.." seulas senyum getir menghiasi bibirku.

"Perang di luar sana berakhir berkat pengorbanan suamimu Sakura. Konoha, hokage dan penduduk desa sangat berterima kasih atas jasanya."

Ucap tetua konoha bernama Koharu yang menyeruak muncul dari belakang Ino sambil membawa seikat bunga lily putih. Tetua Homura, para petinggi negara Hi, dan teman-teman juga terus berdatangan menjenguk. Mereka memberikanku semangat untuk bertahan.

Aku menguatkan hati untuk tidak menangisi Sasuke-kun lagi. Aku telah berjanji pada Tsunade shisou. Semoga kemungkinan Sasuke-kun hidup seperti apa yang pernah beliau katakan padaku memang benar adanya. Aku bersyukur kini memiliki Raito, ia adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan padaku. Aku akan menjaga dan mendidiknya dengan baik. Seperti apa yang dipesankan oleh Sasuke-kun.

~For You~

Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun berlalu begitu cepat, tak terasa sudah enam tahun kulalui kesendirian ini bersama Raito. Secara fisik ia sangat mirip dengan Sasuke-kun, tapi sifat-sifatnya hampir mirip denganku. Ia periang, lincah, rajin berlatih dan tentunya digemari banyak gadis-gadis kecil di sekitarnya. Hanya saja ia sedikit emosian.

"ibu!, lihat deh, lihat deh. Paman Naruto beliin Raito seperangkat alat ninja mainan edisi terbaru."

Ia menyodorkan shuriken dan kunai plastik itu padaku begitu keluar dari gerbang akademi.

"Eeeeh, jangan panggil Hokage dengan sebutan paman Naruto sayang. Panggil beliau Hokage-sama"

"Tidak apa-apa Sakura, aku sendiri yang menyuruhnya begitu"

Naruto muncul sembari menuntun Narita yang juga memegang mainan yang sama seperti Raito di tangan kanannya.

"Naruto, jangan terlalu memanjakan Raito. Aku tak mau merepotkanmu."

"Sakura, sudahlah. Aku ikhlas membagi kasih sayangku untuk anakmu. Lagipula aku masih merasa bersalah, gara-gara aku…"

"Jangan ungkit peristiwa itu lagi Naruto, yang lalu biarlah berlalu."

Aku tersenyum penuh kebohongan, padahal dalam hati, luka lama itu kembali menganga mengingat suamiku. Sampai saat ini aku masih berharap Sasuke akan segera keluar dari genjutsu yang membelenggunya bersama Uchiha madara.

"Maaf. Aku tidak bermaksud…"

"Ah iya, bagaimana kabar Hanami.?"

Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Hanami adalah anak kedua Naruto yang berusia dua tahun, baru-baru ini dia sakit panas tinggi sehingga harus dirawat di rumah sakit pusat Konoha.

"Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik dari tiga hari yang lalu. Besok Tsunade baachan memperbolehkannya pulang."

"Syukurlah.. ngg, kami duluan ya Naruto. Raito ada latihan jurus api dengan Kakashi-sensei."

"Baiklah, hati-hati di jalan!" Naruto dan Narita melambai-lambaikan tangannya pada kami.

~For You~

Raito termasuk anak yang cukup beruntung, sejak kecil banyak orang yang perhatian dan menyayanginya. Mata sharingan keturunan klan Uchiha pun telah aktif sejak ia berumur lima tahun. Maka dari itu, setahun belakangan ini dia memintaku untuk mengajaknya berlatih mengasah sharingan dan jurus-jurus klan dengan Kakashi-sensei yang notabene juga memilikinya. Ia antusias sekali mempelajari banyak jurus baru. Aku senang melihatnya bahagia dan tumbuh sehat. Sebelum berangkat ke tempat latihan, ia selalu menyempatkan diri berdoa di depan foto ayahnya.

"Ayah, hari ini Raito akan belajar jurus katon gokakyu no jutsu. Latihannya cukup susah, doakan Raito ya semoga dalam seminggu ini Raito bisa menguasai jurus tersebut. Ayah cepat pulang dong, Raito dan ibu sayang sekali sama ayah. Kami merindukan ayah. Raito ingin digendong di bahu ayah, kayak Narita yang digendong paman Naruto. Raito janji, Raito akan menjadi anak yang baik dan membuat ayah dan ibu bangga sama Raito."

Ia mengakhiri doanya dengan menaruh setangkai bunga lily putih yang ia tanam sendiri di belakang rumah. Raito memang anak baik.

Namun, tak sedikit masalah yang harus dihadapi anakku di usianya yang terbilang masih sangat muda. Kabarnya para ninja pemburu dari negara lain menginginkan sharingan miliknya. Maka sehari-hari Raito harus diawasi minimal oleh seorang anbu yang ditugaskan oleh Naruto untuk menjaganya. Walau begitu, hatiku tidak pernah tenang bila berlama-lama meninggalkannya sendiri. Aku takut kehilangan putraku satu-satunya.

Di akhir pekan, Raito dan kawan-kawannya sering bermain bola atau permainan lainnya di hutan pinggiran desa untuk melepas penat setelah seminggu berkutat dengan latihan dan tugas-tugas dari akademi.

"Goooll! Yeah, aku berhasil." ucap Kenichi, putra pertama Shikamaru.

"Hebat juga kau Ken, kupikir kau bisanya tidur saja?" kata Narita becanda

"Bolanya sampai mental jauh ke dalam ke hutan loh." Tambah Raito.

"Ambil bolanya dong Kenichi, kau kan yang menendangnya." Perintah Sano, anak Sai dan Ino. Dia setahun lebih tua dari Raito, Narita dan Kenichi.

"Huh merepotkan,.. kipernya kan Taro. Dia yang harusnya ngambil." Tunjuk Kenichi pada seekor anjing kecil peliharaan Narita.

"Lah, masa nyuruh anjingku?" Narita mengangkat sebelah alisnya.

"Sudah, sudah. Biar aku saja yang ngambil, tunggu sebentar ya." Raito beranjak mencari bola ke dalam hutan.

"Dimana sih bolanya?"

Raito menyibak semak-semak dan dedaunan di sekitarnya. Karena sang bola tidak kunjung terlihat.

"Apakah ini bolamu nak?" tanya seorang pria

"Ah iya, itu bolaku paman. Akhirnya ketemu juga." Raito menerima bola tersebut dengan bangga.

Ia mengucapkan terima kasih banyak pada 'paman' tersebut dan segera lari menuju teman-temannya yang lama menunggu.

"Hnn, anak itu.." gumam si pria.

TO BE CONTINUE

Lalalalalalalalalala *saraf author kumat*

Rasanya di akhir-akhir fict ini jadi agak humor T.T *jeduk-jedukin pala ke laptop*

Sekedar info, nama Raito itu saya ambil dari nama Light yagami dari anime Death note! Tapi tentunya Raito yang ini gak gila bunuh membunuh kayak Light yagami lol.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN T.T

Ok, author minta reviewnya dong *ditabok*

Review and Review?

2010 0913