"jadi bagaimana Sakura? apa kau menerimanya?" Tanya Ibiki sopan
Kami berdua kini sedang duduk terlibat dalam pembicaraan serius di kediaman Uchiha
"maaf Ibiki-san, aku tidak bisa menerimanya. Karena aku percaya, dia pasti akan kembali suatu saat nanti"
Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Final Odyssey / For You copyright saiasaiasaia Shinkerbell
Genre : Family/Romance/Angst/Hurt/Comfort/Drama
Pairing : SASUSAKU
CANON VERSE
"A,aa, aku mohon maaf, aku tidak bermaksud lancang Sakura" Ibiki menundukkan badannya
"Iya aku mengerti perasaanmu sebagai seorang kakak, tapi aku belum bisa menerima Idate-san. Aku masih sangat mencintai suamiku. Hontou ni sumimasen"
Ibiki kembali pulang dengan tangan hampa untuk kedua kalinya, usahanya melamarkan Sakura untuk dijadikan istri adik bungsunya kembali gagal. Walau dia tahu betul bahwa aku, Uchiha Sakura tak mungkin menyerah mencintai Uchiha Sasuke, suamiku yang tak kunjung jelas kemana rimbanya setelah terakhir kali dikabarkan tewas terhisap genjutsu pedang totsuka, jasadnya pun tak pernah ditemukan.
"kalau begitu aku pamit, salam untuk Raito" ucap Ibiki saat aku mengantarnya hingga pintu depan, ia kembali ber-ojigi.
"baiklah, terima kasih juga atas kuenya. Raito pasti senang sekali, maaf sering merepotkan" aku pun membalas dengan ber-ojigi juga.
"Jaga diri dan anakmu baik-baik, aku percaya kau wanita yang kuat"
"Un, wakatta"
Beginilah aku, setahun belakangan semenjak "kematian" Sasuke-kun enam tahun yang lalu, sudah beberapa orang pemuda dan ninja-ninja hebat yang memberanikan diri melamarku. Tak sedikit dari mereka membawakan banyak hadiah untukku dan Raito. Tapi seberapa baik pun mereka, aku tak bisa menerima mereka. Termasuk Morino Idate yang tampaknya belum menyerah akanku. Kukira pernyataannya saat masih genin ketika kami mengawalnya di pertandingan lari antar pulau, tentang membicarakan masa depan denganku hanyalah candaan belaka. Padahal ia sungguh menyukaiku. Kabarnya kudengar dari mulut ember Ino bahwa Sabaku no Gaara sang Kazekage pun hendak melakukan hal yang sama seperti yang Idate lakukan. Untuk yang satu itu, nampaknya aku perlu bantuan ekstra.
"Tadaima"
Suara manis anakku yang lucu menyadarkanku dari lamunan, aku segera menuju pintu depan untuk menyambutnya. Pasti dia lelah sekali setelah seharian bermain di hutan bersama teman-temannya.
"Okaeri" jawabku
"Ibu, aku lapar" ungkapnya sambil merajuk memeluk pinggangku dengan sedikit berjengit karena tinggi badannya masih tidak seberapa.
"Aduh anak ibu pasti capek banget, Tadi habis main apa sama Narita dan kawan-kawan?"
"Aku tadi main sepak bola, pertandingannya seru sekali bu! Timku menang, dan tim Narita Kalah"
Ucapnya penuh semangat. Ia tak menceritakan tentang paman yang memungutkan bolanya.
"Wah anak ibu memang hebat!"
Kataku mengacak-acak rambut hitamnya yang lebat dan lembut.
Aku langsung mengajaknya ke dapur untuk makan kue dango dan puding tomat buatanku. Kubilang pada Raito bahwa itu adalah kue dango titipan paman Idate untuknya. Walau tidak begitu mengenal Idate itu siapa, karena ia baru melihatnya sekali saat Idate pertama kali datang ke rumah kami enam bulan yang lalu. Raito senang-senang saja, karena acapkali ada beberapa orang datang ke rumah selalu membawakannya oleh-oleh baik berupa mainan maupun makanan. Tapi ia tidak tahu maksud kedatangan mereka kemari adalah untuk menjadi calon ayah barunya. Aku belum mau memberitahukannya pada Raito. Lagipula aku sama sekali tidak tertarik mengambil salah satu dari mereka untuk menggantikan posisi Sasuke-kun.
~For You~
"ibu, besok Kakashi-sensei akan mengajariku jurus elemen petir" kata Raito
sebelum ia memasuki alam mimpi, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan, waktunya pangeran kecilku tidur
"Jangan-jangan jurus Chidori?" tebakku sambil membetulkan selimutnya
"Eh, Ibu tahu itu jurus apa?" ungkapnya antusias
Tentu saja ibu tahu sayang, karena itu adalah jurus yang hanya dikuasai oleh ayahmu dan Kakashi-sensei, sekaligus jurus yang hampir dipakai untuk membunuh ibu oleh pria yang sangat ibu sayangi. Mana mungkin ibu lupa akan hal itu.
"Ya, karena ayahmu dulu sangat menguasai jurus itu" jawabku singkat
"Sugoi! Pasti itu jurus yang sangat hebat, aku pasti akan menguasainya agar bisa menjadi pria yang kuat seperti ayah!"
Ucap Raito riang, hatiku sungguh bahagia melihatnya
"Ibu percaya padamu, oyasumi (*selamat tidur/istirahat" kukecup dahinya lembut
"Oyasumi" balasnya
tak lupa ia pun mengucapkannya pada sebuah figura dimana ada fotoku yang sedang duduk, tanganku bertumpu pada perutku yang membuncit dan tampak Sasuke yang berdiri disampingku meletakkan kedua tangannya di bahuku. Itulah foto terakhirku bersama Sasuke saat usia kandunganku menginjak tujuh bulan saat acara baby shower Raito.
Aku mematikan lampu, kemudian kututup perlahan pintu kamarnya. Kamar yang Raito tempati sekarang adalah kamar yang dulu juga ditempati oleh Sasuke-kun waktu kecil. Hanya saja ada perubahan warna cat, beberapa barang-barang baru milik Raito sedangkan yang lainnya tetap kubiarkan sama. Aku sangat bersyukur, sampai saat ini Raito adalah anak yang baik dan sifat buruk Sasuke-kun tidak menurun padanya. Aku tidak mau ia menjadi anak yang pendendam dan sulit memaafkan. Oleh karena itu, aku tidak pernah menceritakan tentang sejarah gelap klan Uchiha padanya. Cukup sudah cerita tersebut menyulut amarah dan perang. Tapi kadang aku bertanya pada hatiku sendiri, apa aku salah bila tidak menceritakan hal tersebut padanya? Aku takut justru ini akan menjadi bola panas yang akan bergulir dikemudian hari.
~For You~
"apakah cuma itu caranya nenek?" tanya Naruto
"entahlah, tapi ini hasil penelitian dan analisis tim inti Shikamaru selama setahun" jawab Tsunade
"tapi mustahil, itu terlalu sulit untuknya?" balas Naruto sambil menggebrak meja
"apa boleh buat, kurasa hanya itu jalan satu-satunya agar orang itu kembali" timpal Shikamaru
yang mendadak muncul di jendela menyela pembicaraan mereka berdua di kantor Hokage.
"apa kau gila? mana mungkin anak sekecil Raito bisa membangkitkan Susanoo dan membuka segel pedang totsuka yang menyegel Sasuke dan Madara sekaligus!"
"Aku tahu, tadinya aku pun tidak mau memberitahu hasil penelitianku setelah membaca berbagai gulungan rahasia klan Uchiha yang tersimpan di kuil Shouen dan Nakano. Karena kalian maupun Sakura sendiri pasti tidak percaya dan tidak akan setuju akan rencana ini. Persentase keberhasilannya pun hanya 5%, itu juga harus menunggu hingga Raito minimal berusia tiga belas tahun. Selain itu tidak tertutup kemungkinan bahwa Sasuke benar-benar telah meninggal karena terhisap genjutsu pedang totsuka. Resiko lainnya, bisa saja Madara pun ikut tertarik keluar dari genjutsu" tegas Shikamaru.
"oh ayolah Shikamaru, pikirkan cara lain yang lebih realistis" pinta Naruto
Shikamaru diam sejenak melihat ke arah pohon Sakura yang sedang bermekaran di seluruh desa. Ia pun buka mulut.
"sebenarnya ada satu lagi, tapi itu berdasarkan keberuntungan semata dan tidak bisa dilakukan oleh siapapun. Kalian pasti lebih tida percaya lagi. Sebaiknya tidak usah kuceritakan" Shikamaru menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.
"apa itu?" tanya Naruto penasaran
"sudah kubilang, tidak akan kuceritakan!" Shikamaru menekankan
"Ayolah.." rengeknya seakan merajuk seperti anak kecil
"Sudahlah Naruto, jangan paksa Shikamaru. Mungkin dia memiliki alasan tersendiri" ujar Tsunade
"Huh, baiklah. Eh, apa Sakura-chan sudah tahu tentang hal ini?" tanya Naruto lagi
"belum, biar nanti aku saja yang memberitahukannya" jawab Tsunade mantap
"Eeh aku saja nek!"
Naruto mengajukan diri supaya dia saja yang menceritakan hal tersebut padaku, namun berakhir dengan sebuah benjolan besar di kepalanya akibat pukulan super seiya Tsunade-sama.
~For You~
Hari ini tidak biasanya Tsunade-sama memanggilku ke rumahnya melalui seorang anbu yang dikirimkan ke rumahku, padahal biasanya dia sibuk dengan urusan antar rumah sakit di luar Konoha semenjak pensiun dari jabatan Hokage tujuh tahun yang lalu. Setelah mengantar Raito ke tempat biasa tim tujuh berlatih, aku ingin segera menemuinya. Firasatku berkata, bahwa ini adalah hal yang luar biasa penting.
"duduklah Sakura, bagaimana kabar anakmu?" tanya Tsunade sambil menuangkan teh
"dia baik-baik saja shisou, sekarang dia sibuk berlatih bersama Kakashi sensei disela-sela kegiatan sekolahnya" jawab Sakura apa adanya
"minumlah, aku membelinya di Iwagakure. Katanya bagus untuk kesehatan" tawar Tsunade
"terima kasih, tapi apa sebenarnya yang ingin shisou bicarakan denganku?" tanya Sakura sedikit tak sabar
"…"
"shisou?"
"Dulu aku pernah bilang bahwa Sasuke belum tentu meninggal kan?"
"Iya"
"Jadi, begini Sakura…"
Tsunade-sama menceritakan panjang lebar tentang penelitian Shikamaru berikut penjelasan rincinya. Reaksiku pun hampir sama dengan Naruto, tidak begitu percaya dengan hal tersebut. Aku menolak bila Raito harus dipaksa bisa membangkitkan susanoo minimal ketika usianya menyentuh angka tiga belas tahun.
"aku sekedar memberi informasi, percaya atau tidak terserah padamu. Aku juga tidak setuju akan hal itu karena aku pun sangat menyayangi anakmu Sakura" tutup beliau
Setelah berbicara banyak hingga matahari hampir tenggelam di ufuk barat, aku pamit pulang. Kesimpulannya tentu saja kami tidak mau menggunakan cara itu untuk mengembalikan Sasuke-kun. Walau dalam hatiku yang terdalam, aku amat merindukannya. Ingin kembali menghirup aroma tubuhnya yang khas, sikapnya yang dingin, mengingat saat ia mengelus rambutku, dan kalimat terakhir yang ia katakan padaku sebelum ia meninggalkan kami.
"Sakura, jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Aku sayang kalian"
Bulir-bulir airmata itu telah menggenang kembali di pelupuk mata, airmata yang selalu coba kutahan demi anakku. Aku tidak mau ia melihatku menangis, meskipun sekarang mungkin ia masih sedang berlatih bersama Kakashi sensei. Namun nampaknya kali ini tidak, karena ia sudah berada tepat dihadapanku, menatapku polos, menyimpan sejuta tanya mengapa ibunya berwajah sendu.
"ibu kenapa menangis?" tanya Raito pelan
Segera kuhapus airmata dengan telapak tanganku.
"siapa bilang ibu menangis? Mata ibu cuma kemasukan debu" jawabku mencoba untuk tidak terlihat sedih
"jangan bohong, kalau ada yang jahat sama ibu bilang saja padaku. Akan kuhadapi mereka"
Instingnya memang kuat, sepertinya ia tahu kalau aku mendustainya. Entah mengapa aku merasa melihat sosok Sasuke berada dibalik punggung Raito saat ia mengatakannya. Itu membuat hatiku bertambah sedih, kerinduan makin menggerogotinya.
"tidak nak, ibu tidak apa-apa, tidak apa-apa…" suaraku bergetar mati-matian menahan tangis
Hanya kata-kata itulah yang mampu keluar dari kerongkonganku, akhirnya tangisku pun meledak, serta merta kupeluk erat Raito di halaman depan rumah kami. Anakku bingung akan apa yang terjadi padaku, ia hanya bisa membalas erat pelukanku. Ia pikir mungkin inilah yang dirasa baik untuk ibunya sekarang.
"jangan menangis bu, Raito sayang kok sama ibu" ucapnya mengusap-usap punggungku
"Raito.." kupererat pelukanku mengingat apa yang Tsunade-sama katakan tentang putraku.
Apa lacur, aku masih saja menangis. Aku benar-benar payah, kini aku malah terlihat cengeng di depan anakku sendiri. Tanpa kusadari ada sesosok bayangan yang mengintip kami dari puncak pepohonan. Sebenarnya akhir-akhir ini aku sudah merasa ada yang mengintai kami. Apa itu anbu yang ditugaskan Naruto? Musuh kah? atau siapa?
Esoknya..
"anak-anak, tiga hari lagi ada perayaan Sichi-Go-San di kuil Shouen yang bertepatan dengan hari libur tahunan bagi seluruh shinobi Konoha. Maka kami dari pihak akademi berencana mengadakan.."
"Sensei, Shici-Go-San itu apa?" tanya Narita sembari menggaruk kepalanya
Omongan Iruka-sensei dipotong paksa oleh suara cempreng Narita
"Ah iya sensei lupa menjelaskannya, tapi mungkin diantara kalian sudah ada yang tahu apa itu Shici-Go-San?"
"Saya sensei!" Hyuuga Mayumi, putri tunggal Hyuuga Neji mengangkat tangannya antusias.
Iruka mempersilahkan Mayumi menjawab pertanyaan Narita.
"Shichi-Go-San adalah upacara untuk merayakan pertumbuhan anak yang mencapai usia tiga, lima dan tujuh tahun. Anak-anak yang sudah cukup umur sebagai peserta Shici-Go-San didandani dengan hakama untuk laki-laki, dan haori untuk perempuan. Kemudian mereka dibawa ke kuil untuk didoakan agar panjang umur dan sehat selalu" Tutup Mayumi dengan wajah berbinar
"Arigatou, Mayumi-chan. Nah itulah penjelasan sederhana tentang Shici-Go-San. Sekarang kalian mengerti?" lanjut Iruka
"MENGERTI!" jawab anak-anak satu kelas
"namun negara hi memiliki peraturan sendiri tentang Shici-Go-San, dimana perayaan ini hanya dirayakan untuk semua anak yang sudah menginjak usia tujuh tahun saja. Oleh karena itu, anak-anak kelas 1-A yang sudah berusia tujuh tahun, diwajibkan ikut. Serta mengajak orangtua masing-masing ke kuil Shouen untuk merayakannya. Karena setelah selesai upacara perayaan, akan diadakan beberapa perlombaan untuk mempererat hubungan antara orangtua, anak dan guru. Tolong sampaikan pada orangtua kalian"
"Baik sensei!"
Diperjalanan pulang dari akademi, hampir semua anak-anak sibuk membicarakan tentang perayaan tersebut. Tak terkecuali para generasi penerus rookie nine Konoha.
"hei kalian nanti mau pakai hakama atau haori warna apa?" tanya Narita semangat
"entahlah, aku saja baru tahu tadi" jawab Kenichi malas, putra Shikamaru. Tanganya bertumpu di belakang kepala
"aku mau pakai haori merah muda, ayah membelikannya untukku seminggu yang lalu. Dan dia janji akan datang menemaniku bersama ibu" jawab Mayumi senang. Maklum, Neji jarang sekali ada di rumah sejak dia diangkat menjadi ketua anbu menggantikan Sasuke.
"asyik sekali ya, paman Neji sangat perhatian padamu Mayumi. Ayahku sih mana ingat membelikanku hakama untuk perayaan macam itu" tanggap Narita menghela napas pasrah
"wajarlah, ayahmu kan Hokage. Banyak sekali hal yang harus beliau pikirkan selain dirimu" kata Raito
"Kurasa paman Naruto ingat, soalnya kemarin kulihat paman bersama bibi Hinata sedang memilih Hakama anak-anak di pertokoan blok dua" timpal Mayumi
"Benarkah? Asyik ! Kalau kau bagaimana Raito? Apa Ayahmu sudah menyiapkan hakama untukmu?" teriak Narita tanpa mensensor ucapannya sendiri yang kita ketahui ada yang mesti diralat.
DUAKK
Sebuah injakan kecil Hagumi (adik kembar Sano, putri Sai) di kaki Narita membuatnya meringis nyeri.
"Aku tidak tahu, maaf" jawab Raito datar dan singkat. Lalu ia berlari tanpa menoleh sedikitpun pada teman-temannya
"Apa-apaan sih kau Hagumi?" sosor Narita, tidak rela kakinya diinjak seenaknya/
"BODOH, mengapa kau bertanya tentang hal itu pada Raito sih?" balas Hagumi
"Memangnya pertanyaan ku ada yang sa.. Ah IYA, DASAR BODOH!" kontan Narita menampar mukanya. Ia baru menyadari kesalahannya.
"Kau sih tidak bisa menjaga mulutmu, Raito jadi tersinggung tuh" ujar Kenichi
"Gawat, bagaimana ini?" air muka si pirang berubah suram membayangkan apa yang akan terjadi kelak.
~For You~
Sekarang sudah saatnya makan malam, biasanya dia sudah duduk manis di bangku meja makan sambil menungguiku memasak. Tapi sejak pulang dari akademi, Raito sama sekali belum keluar dari kamarnya. Apa dia sakit? Semoga saja tidak. Karena aku sendiri sedang tidak enak badan, ditambah lagi dengan tumpukan tugas rumah sakit yang menanti untuk kukerjakan. Sudah sebulan ini aku harus lembur, terkadang kubawa semua tugas itu ke rumah agar anakku tidak kesepian. Aku tidak mau membiarkan ia merasa sendirian, meskipun aku tahu ia anak yang cerdas dan mengerti akan konsekuensi dari pekerjaan ibunya sebagai seorang dokter yang harus selalu siap siaga kapanpun dibutuhkan. Oh iya, Raito harus segera mencoba hakama lucu yang baru kubelikan tadi siang. Kuharap dia senang memakainya saat Shici-Go-San nanti. Aku harus berterima kasih pada Ino karena telah mengingatkanku tentang perayaan ini. Hampir saja aku lupa.
Kuketuk pintu kamarnya, tak ada jawaban. Hening. Apa dia ketiduran? Akhirnya kucoba untuk membukanya, siapa tahu tidak dikunci. Dugaanku tepat. Kamarnya gelap, kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar mencari sosok malaikat kecilku. Kulihat ia tertidur di atas kasurnya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ada apa dengannya kami-sama?
"Raito, ayo kita makan malam, ibu sudah menyiapkan makanan favoritmu. Sup tomat " sapaku penuh kasih sayang
Ia tetap diam, tak ada niatan sama sekali untuk menengok pada ibunya.
"Ada apa sayang? Raito marah sama ibu?" tanyaku cemas, tidak biasanya ia begini. Kucium dahinya agar ia mau mengalihkan pandangannya padaku. Apa ia marah gara-gara kemarin aku tanpa sebab menangis di depannya?
"Ibu.." akhirnya ia menatapku jua.
"Iya sayang.."
"Apa ayah membenci Raito?" tanyanya polos
Kami-sama, aku tak menyangka Raito akan menanyakan hal seperti itu padaku. Selama ini yang ia tahu adalah ayahnya sedang melakukan misi ke suatu tempat yang sangat jauh dan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya, aku maupun Naruto dan yang lainnya tidak pernah mengatakan bahwa Sasuke sudah meninggal. Karena bukti konkrit bahwa ia sudah meninggal tidak ada sama sekali.
"tentu saja tidak nak, ayah sangat menyayangimu. Lebih dari apapun, seperti ibu menyayangimu juga. Kenapa tiba-tiba Raito bertanya begitu?"
"kalau ayah sayang sama Raito, kenapa dia tidak pernah pulang? Kenapa dia tidak pernah memberi kabar? Kenapa dia tidak menyempatkan diri bertemu denganku dan ibu? Kenapa saat aku berulangtahun dia tidak pernah datang? Kenapa bu?"
Tanyanya bertubi-tubi. Hatiku meradang, jiwanya yang mengharapkan sosok seorang ayah terpancar jelas di bola mata hitamnya. Aku bingung mesti menjawab apa atas pertanyaannya tadi.
"apapun itu, percayalah. seberapa jauh pun ayahmu, dimana pun dia berada sekarang, namun jiwa dan cintanya selalu berada di sini bersama kita" kuletakkan tanganku di dadanya.
Ia mengangguk pelan, belum begitu puas dengan jawabanku. Ia berkata dengan suara serak
"tapi aku ingin sekali bertemu dengan ayah, selama ini aku hanya pernah melihat wajahnya lewat foto. Ibu, tolong katakan pada paman Naruto, suruh ayahku pulang sebentar. Izinkan aku merayakan Shici-Go-San bersama kalian berdua, sehari saja. Aku ingin seperti teman-teman yang lain merayakannya bersama kedua orangtua mereka. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya ibu. kalau beliau mengabulkannya, aku janji akan melakukan apa saja untuk paman Naruto. Karena itu, aku mohon sampaikanlah permintaanku yang satu ini…"
pertahanan Raito runtuh, bagaimanapun juga dia hanyalah anak polos yang baru berumur tujuh tahun.
Aku terhenyak mendengar permintaan Raito, inikah klimaks dari kesabarannya selama ini? Betapa besar ketulusan dan kerinduan yang menggelegak di dadanya pada Sasuke. Tetapi permintaanmu hampir mustahil sayang, ibu sendiri tidak tahu harus mengadu pada siapa lagi agar ayahmu kembali pada kita. Tidak mungkin kukatakan tentang rencana Shikamaru. Di lain pihak, haruskah aku mengatakan kebenaran agar ia tahu apa yang sebenarnya terjadi? Sasuke, aku harus bagaimana? Jawab aku Sasuke…
"Baik, akan ibu sampaikan.. sekarang kita makan dulu ya?" bujukku, untunglah kali ini aku bisa menahan perasaanku agar tak lagi terlihat rapuh di depannya.
"Un, janji ya?" Raito menyodorkan kelingkingnya padaku
"Janji" jari kelingking kami bertautan, senyum kembali menghias wajahnya
Terima kasih Banyak
Semua teman-teman yang telah mendukung cerita ini
punya pesan atau ide lain untuk author?
REVIEW PLEASE?
2011年 7月 25日
Shinkerbell Company
