"Enak kan?"

"Un, semua masakan ibu memang enak kok" jawabnya sumringah sambil menyuapkan sup tomat itu ke mulut kecilnya

Tok, tok, tok

Suara ketukan tersebut membuyarkan suasana yang baru saja kudapat setelah mendamaikan hati anakku

"Hmm sepertinya ada tamu, Raito makan sendiri ya?"

"Umm"

Tok, tok, tok, tok

"Ya sebentar" Sakura membuka pintu dan terlihat sosok yang sudah bertahun-tahun ia kenal "Eh?"

Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Final Odyssey / For You copyright saiasaiasaia Shinkerbell

FINAL CHAPTER

Genre : Family/Romance/Angst/Hurt/Comfort/Drama

Pairing : SASUSAKU

CANON VERSE

Memeriahkan Sasusaku Fanday

Disarankan sambil mendengarkan lagu Tears Are Falling (Shin Jae) and Why Are Not (TIM)

"Naruto?"

"Aa, Sakura selamat malam maaf menggangu istirahatmu" sapa Naruto sambil memamerkan senyum lima jarinya

"Begini Sakura,,.."

"Kita bicara di dalam saja, di luar dingin.." ucap Sakura balas tersenyum

"Baiklah"

Aroma kayu khas mansion Uchiha menyambut indra penciuman sang Hokage. Sudah cukup lama ia tak berkunjung ke rumah sahabat yang dulu sempat menjadi wanita pujaan hatinya akibat kesibukannya sebagai Hokage. Naruto masih ingat hari dimana Sasuke menolong dan menggantikannya melawan Madara hingga peristiwa itu terjadi, yang mana menyebabkan Sasuke menghilang dari kehidupan serta keluarga yang baru dibinanya. Di ruang tengah, Naruto mengutarakan maksud kedatangannya malam-malam begini adalah untuk meminta maaf atas perkataan anaknya saat pulang dari akademi yang dirasa menyinggung hati Raito. Narita sendiri tidak ikut serta karena ia sedang sakit perut karena kebanyakan makan ramen. Putra sulung Naruto itu benar-benar menyesal karena sedikit banyak telah mencederai perasaan teman baiknya. Sakura menggangguk, ia mengerti mengapa Raito mendadak murung dan aneh sebelum makan malam. Ia pun memanggil putranya, awalnya Raito agak terkejut mendapati orang yang mengunjungi rumahnya adalah tuan Hokage. Sakura meminta Raito untuk memaafkan Narita, ia tak mau anaknya menjadi pendendam seperti seseorang. Raito bilang ia memaafkan Narita, karena Raito pikir itu adalah hal sepele yang memang tak ada yang perlu dimaafkan dan dipermasalahkan. Naruto senang, ia dapat melihat sisi baik Sasuke dari seorang Raito. Kemudian Raito teringat akan keinginannya yang hendak ia sampaikan pada Naruto

"Hokage-sama, saya punya satu permintaan"

"Hee?" Naruto terkejut karena Raito tak biasanya memanggilnya dengan sebutan 'Hokage-sama'

Jinchuriki ini melirikkan bola matanya pada si pemilik mata emerald yang duduk disamping bocah bermata kelam itu. Mencoba mencari penjelasan akan apa yang tengah terjadi. Apa ia yang salah dengar? Sakura menjawab tatapan Naruto yang dapat diartikan 'tenang, biar aku yang tangani'.

"Sayang sekarang kan sudah jam sembilan, ayo tidur sana.. Besok pagi-pagi Raito kan harus ke akademi?"

"Tapi bu?..."

"Biar ibu saja yang mengatakannya, Raito percaya kan sama ibu?"

"Mochiron"(*tentu)

Setelah memberikan salam selamat malam pada Ayahanda Uzumaki Narita, Raito naik ke kamarnya yang terletak di lantai dua disusul Sakura. Setelah memastikan bahwa Raito sudah tidur. Sakura kembali menemui Naruto yang tengah menyeruput teh panas yang telah tersaji di atas meja.

"Naruto bisakah kita membicarakan ini di luar?"

Dari nada bicaranya, Naruto sadar bahwa ini adalah hal penting yang tidak boleh di dengar oleh bocah berumur tujuh tahun itu. Mereka akhirnya pergi ke bangku yang bersejarah bagi Sakura. Karena ditempat itu menyimpan sejuta kenangan antara ia dan Sasuke. Tempat pondasi awal bahtera rumah tangganya dibangun. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, jalanan mulai sepi. Tak ada penduduk yang berlalu lalang selain para ninja yang sedang bertugas atau baru pulang dari misi. Suara jangkrik meramaikan suasana malam ini. Bulan purnama enggan menampakkan rupanya yang tertutup awan.

"Ini kan tempat Sasuke melamarmu dulu?" ungkap Naruto

Bola mata Sakura berkaca-kaca. Masih teringang jelas dikepalanya manakala Sasuke menyematkan cincin perak itu di jari manisnya. Kemudian mereka berciuman lembut, bukan karena nafsu, tapi karena mereka memang saling mencinta. Segera disekanya air mata yang mulai menggenang di pelupuk. Sial, kenapa akhir-akhir ini ia mudah sekali terbawa perasaan.

"Aaa, maaf Sakura aku mengingatkanmu. Eeto, jadi apa yang sebenarnya mau kita bicarakan?"

"Tidak apa, ini soal Raito.."

"Katakan saja Sakura, aku siap mendengarkan dan membantumu"

Sakura menceritakan semua kata-kata Raito menjelang makan malam tadi, airmatanya tak kuasa ia bendung. Ia menangis sesenggukan, tapi tidak begitu keras.

"Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku merasa gagal tidak bisa menjaga perasaannya, aku hanya ingin melihatnya bahagia. Baru kali ini aku melihatnya sesedih itu, aku tidak sanggup menolak keinginannya lagi Naruto"

"Pasti ini sangat berat bagimu, aku mengerti perasaanmu. Besok pagi aku akan berdiskusi dengan Shikamaru dan Nenek Tsunade mengenai ini. Sudah jangan menangis lagi, kita pasti punya jalan keluar yang baik untuk masalahmu. Serahkan saja semuanya padaku"

"Terima kasih Naruto, maaf kami sering merepotkanmu" Sakura menjabat tangan Naruto

Naruto merasa suhu tubuh Sakura lebih panas dari sebelumnya saat tangan mereka bertemu.

"Sakura kau demam?" tanya Naruto

"Aku memang sedang kurang enak badan" jawabnya lesu

"Sebaiknya kau segera beristirahat. Kasihan Raito sendirian, pulanglah sebelum ia sadar kau tidak ada di rumah. Kuantar ya?"

"Aku masih kuat Naruto, terima kasih. Lagipula aku masih ingin disini sebentar" Tolak Sakura

"Tidak Sakura, aku harus mengantarkanmu pulang. Kau pucat"

Setelah melalui perdebatan kecil, akhirnya Naruto mengalah. Meski agak berat hati Naruto harus merelakan Sakura sendiri karena ada seorang anbu yang menjemputnya untuk menandatangani beberapa berkas penting yang harus diproses secepatnya.

Sesaat Sakura bisa bernafas lega karena Naruto akan membantunya, entah cara apa yang akan ditempuh penggemar setia Ichiraku Ramen itu agar "Sasuke hadir" di festival esok lusa. Sakura masih duduk merenung menikmati angin malam yang menyentuh tengkuknya, mengenang masa lalunya bersama Sasuke. Menggali kenangan yang pernah ia lalui bersamanya di tempat ini.

"Sasuke-kun, kau dimana sekarang? Kami merindukanmu.. Anak kita ingin sekali bertemu denganmu. Jika kau masih ada, pulanglah. Bila kau sudah tiada,.. aku tak tahu harus bagaimana Sasuke-kun" ucap Sakura dengan suara parau. Sakura berdiri melangkah meninggalkan tempatnya duduk, namun lama kelamaan jalannya limbung. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, pandangannya mengabur, gelap

BRUKK

Ia jatuh pingsan, ditengah ketidaksadarannya ia merasa seseorang menggendong tubuhnya yang lemas. Sesaat ia melihat sosok yang tengah menggendongnya berambut hitam kebiruan mencuat ke belakang, kulitnya putih dan dingin seperti…

"Sasuke-kun?"

~For You

Cahaya mentari menyeruak masuk melalui celah gorden kamarku, kepalaku masih sedikit sakit. Untunglah demamku sudah agak turun. Hei sudah jam berapa ini? sudah berapa lama aku tidur. Aku lupa membangunkan Raito. Apa ia sudah bangun? Ketika kulirik jam di meja samping tempat tidurku, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Pandanganku teralihkan pada sebuah bingkai foto yang berada disebelah jam yang terisi foto pernikahanku dengan Sasuke-kun. Tunggu dulu? aku jadi ingat kejadian semalam. Kami-sama apakah itu hanya mimpi? Tapi mengapa terasa begitu nyata. Bukankah kemarin malam aku pingsan, bagaimana aku bisa berada di rumah? Jika benar yang mengantarku semalam adalah Sasuke-kun, mengapa ia tak berbicara sedikitpun padaku? Ah pertanyaan-pertanyaan ini membuat kepalaku sakit lagi. Ketika aku berbalik ke samping kananku, ternyata ada tubuh kecil yang tertutupi oleh selimut tebal yang menyelimutiku. Raito rupanya.

"Ohayou Rai-kun" kucoba membangunkan anakku sambil mengelus pipinya yang halus. Ia menggeliat mencari sumber suara yang memanggil namanya.

"Ohayou" jawabnya setengah mengantuk, ia pun bangun dan mencium pipiku.

"Kok Raito tidur di kamar ibu?" tanyaku penasaran

"Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak, seperti ada yang memperhatikanku terus. Jadi aku pindah saja kemari. Hehehe"

"Masa sih? Bilang aja Raito mau tidur sama ibu lagi" godaku sambil mencolek hidungnya

"Tidak bu, sungguh. Semalam aku merasa ada aura asing di rumah kita!" tegasnya

"Sudah jangan dipikirkan, mungkin itu cuma perasaanmu saja. Sekarang ayo sana mandi, nanti terlambat loh"

"Okey!"

Raito melompat dari tempat tidurku langsung berlari menuju kamar mandi. Aku diam berpikir, jangan-jangan semalam memang bukan mimpi. Kami-sama ada apakah gerangan?

~For You ~

Sehari menjelang festival, aku mengambil cuti. Selain karena kesehatanku yang kurang baik, aku ingin lebih mempersiapkan keperluan Raito untuk Shichigosan. Selesai membereskan rumah, maka kuputuskan untuk menemui nenek kucing (Neko-ba). Aku ingin meminta nasehat darinya. Aku merasa tak bisa diam saja, sementara Naruto belum memberi kabar apa-apa tentang esok hari. Perjalanan menuju Neko Mansion tidak begitu jauh, memakan waktu tidak lebih dari dua jam. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung kerumah beliau. Terakhir kali aku kesana bersama Sasuke-kun delapan tahun yang lalu untuk memberi tahu kabar pernikahan kami. Sedangkan terakhir aku bertemu Nenek kucing saat ia datang ke rumah untuk melihat Raito yang saat itu baru berusia enam minggu. Saat aku melalui perbatasan desa, kulihat Narita sedang menghitung sambil memejamkan mata menghadap pohon. Kurasa ia sedang bermain*onigokko (petak umpet) bersama kawan-kawannya. Hei mengapa mereka bermain sejauh ini? Segera kuhampiri ia agar segera pulang. Mengingat beberapa puluh meter dari sini ada hutan kematian.

"Empat, tiga, du-"

"Narita?" kutepuk bahunya

"Eh, Sakura-baasan?"

"Kenapa kamu disini? berbahaya"

"Ngg, tidak.. aku dan teman-teman hanya ingin mencari suasana baru. Jadi kami mengikuti saran seorang daimyo yang kami temui di depan akademi"

"Berarti Raito juga?"

"Ya"

Kupinta Narita untuk sesegera mungkin menemukan teman-temannya yang bersembunyi, firasat buruk. Dua puluh menit kami mencari, hampir semuanya dapat kami temukan kecuali Raito dan Kenichi. Kemana mereka?

"Anak-anak sebaiknya kalian pulang duluan, biar bibi saja yang mencari Raito dan Kenichi"

"Tapi kami juga khawatir" jawab Mayumi polos

"Serahkan saja semuanya pada bibi. Sano, antar mereka semua pulang ya?" pintaku pada putra Sai

"Wakatta" jawab Sano

"Aku tidak mau pulang. Aku masih ingin mencari teman-temanku" Ia lipat tangannya di depan dada sebagai tanda penolakan. Narita benar-benar keras kepala seperti ayahnya. Setelah kubujuk akhirnya ia mau pulang meski setengah hati.

Aku pun lanjut mencari ke arah hutan kematian, hanya tempat itu yang belum terjamah oleh pencarianku. Melewati sebuah pohon besar yang rindang, seorang anak kecil seusia Raito terengah-engah berlari menuju kearahku. Kenichi rupanya. Dia berkata dengan terbata-bata "Raito, Raito diserang pria bertopeng di dekat pagar pembatas hutan kematian". Firasatku benar. Aku meminta Kenichi secepatnya meminta bantuan ke desa. Kami-sama bagaimana bisa Raito diserang? Apakah anbu yang ditugaskan untuk menjaganya juga tak berkutik melawan mereka? perasaanku kian tak menentu, semoga Raito baik-baik saja.

ZRATT

Sebuah kunai meluncur menggores betis kananku. Ketika aku berbalik, ada seorang ninja sekelas Jounin yang menyeringai padaku.

"Haruno, ah Uchiha Sakura sudah lama kita tidak berjumpa" ucap seorang ninja berambut coklat

"Kau?" aku ingat dia adalah ninja yang dulu pernah menyatakan cinta padaku di perang dunia ninja ke empat, Arashi.

"Kebetulan sekali kita bertemu, kau masih cantik seperti waktu itu ya?"

"Langsung saja, sebenarnya apa maumu?"

"Kau tidak tahu bagaimana pedihnya hidupku selama ini. Ditolak olehmu demi seorang ninja pelarian yang telah membuatku kehilangan sebelah mata. Sebagai gantinya, akan kubunuh anak kalian!"

"Apa maksudmu? Jangan coba-coba lukai Raito!"

"Santai saja, Mifune masih mengejarnya, kelihatannya anakmu cukup pintar. Sudah sebulan ini aku mengawasi anak itu"

"Kyuryo Sabaku ryuha"

Tiba-tiba Arashi mengeluarkan jurus andalannya berbentuk pasir jeli yang lengket seperti permen karet. Aku terjerat di pohon karenanya. Lama-lama tubuhku semakin lemas. Ternyata benda ini juga menyerap cakra dari tubuhku.

"Bagaimana? Apa kau sudah bisa merasakan kehebatanku. Sebentar lagi akan kau lihat dengan mata kepalamu bagaimana aku akan mengambil sharingan putramu yang tampan itu untuk mengembalikan cahaya di mataku…"

SRAAT

Tiga buah shuriken melayang mengenai punggung Arashi.

"Jangan ganggu ibuku!" Peluh mengalir deras di wajahnya dengan nafas tersengal-sengal Raito berdiri di atas pohon. Terlihat jelas bahwa Raito kelelahan.

"Jadi kau berhasil lolos dari anak buahku, pintar juga kau bocah. Biarlah, tempat ini akan menjadi kuburan kalian berdua"

"Raito, lari! " teriakku sekuatnya.

Tapi ia tak mau dengar, dan malah melompat turun sambil merapal jurus Katon Gokakyu no Jutsu. Namun itu tidak berguna karena Arashi selangkah lebih cepat membekuk Raito dengan jurusnya sehingga dia pingsan.

"Jangan sentuh anakku!" Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari benda lengket yang menjeratku. Sial, sulit sekali.

Arashi kian mendekati Raito yang tergeletak pingsan karena terikat oleh jurus yang sama membelengguku.

"Kumohon, jangan sentuh dia. Kau bunuh saja aku!"

"Huh kau pikir aku akan iba melihat airmatamu Sakura, tapi baiklah bila kau ingin mati duluan. Sayang sekali Uchiha Sasuke sudah mati, padahal biar sekalian kubantai habis"

Kami-sama mengapa bantuan tak kunjung datang. Inikah akhir hidupku. Sebelum sempat melakukan perlawanan, aku harus menyerah secepat ini. Bila aku harus mati, setidaknya izinkanlah Raito untuk tetap hidup. Maafkan aku Sasuke-kun, tak bisa menepati janjiku untuk menjaga anak kita. Kupejamkan mataku tak sanggup melihat kenyataan yang ada.

Arashi kembali merapal jurus yang berbeda "Ninpou Cho-"

CRUSH

"Cukup sampai disini" suara berat nan dingin diiringi suara sayatan kusanagi terdengar jelas

Saat kubuka mata, suasana yang tadinya tegang menjadi hening. Sosok Arashi serta tiga mayat teman-temanya sudah terbujur lemas –mati- bersimbah darah di tanah. Dan, dan seorang pria berbaju putih berkerah tinggi, berambut biru tua, membelakangiku tengah memasukan kusanaginya yang berlumur darah itu kembali ke tempatnya. Bukankah dia…

"Sa-su-ke- kun?" Bagai tersihir aku tak melepas pandangan dari objek yang berada di depanku.

Pria itu tak berbalik, maka sekali lagi kupanggil namanya.

"Sasuke kun? Sasuke kun"

Ia berbalik, dan benar.. itu memang dia Kami-sama. Ia kembali, utuh tanpa kurang suatu apapun seperti dulu. Kugeleng-gelengkan kepalaku berharap ini memang bukan sekedar ilusi. Ya benar, sosok itu masih ada di hadapanku. Ia mendekatiku sambil menggendong Raito dan melepaskan benda lengket itu dengan mudahnya. Begitu lepas, aku langsung memeluknya erat. Menghapus semua beban, penat serta rindu mendalam yang menyiksa. Ia hanya diam, membalas pelukanku.

"Ini benar-benar kau kan Sasuke-kun? Aku sangat merindukanmu. Kemana saja kau selama ini?"

Aku menangis sejadi-jadinya hingga suaraku serak. Sasuke kun mengelus rambut merah mudaku

" Maaf-" itulah kata-kata pertama yang diucapkannya padaku. Senangnya bisa mendengar suara suamiku lagi.

"Maaf, aku harus pergi " lanjutnya

"APA? tapi Raito belum sempat bertemu denganmu" responku sambil melirik Raito yang masih pingsan.

"Bila kalian masih ingin melihatku, biarkan aku pergi.." jawab Sasuke datar.

"Apa maksudmu Sasuke-kun, aku tidak mengerti. Aku mohon jangan pergi lagi! Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu" kucengkeram pakaian Sasuke-kun untuk menekankan ketakutanku akan kehilangannya.

"Ada sesuatu hal yang masih harus kulakukan, bersabarlah sebentar lagi"

Dan Sasuke menghilang, tanpa memberi penjelasan apapun terkait kehadirannya yang begitu mendadak. Kehadirannya saat kami memang sangat membutuhkan pertolongan. Dalam sekejap seiring hilangnya Sasuke, aku merasa ada yang memukul punggungku sehingga aku kehilangan kesadaran.

To Be Continued

Hallo Minna-san gomen ne, lama update.. udah biasa kan ? #tendanged

Sakuranya jadi terkesan cengeng ya? Bentar-bentar nangis, bentar-bentar nangis. Saya emang bodoh, ga bisa merangkai kata-kata yang bagus #pundung

Karena merasa kepanjangan, saya tidak bisa mengakhiri fict ini di chapter 4 ..

Janji deh, chapter 5 adalah final chap. Udah liat naruto terbaru di internet? Ada SASUKE LAGI sama ITACHI #kyaaaaaaa kangennya.

BALASAN REVIEW:

Kakaru niachinaha : ini dah ada lanjutannya, makasih dah ngikutin fict abal ini T.T #terharu

Ria kishimoto: sebenarnya yang suka ngintip itu ada yang Sasuke, ada si Arashi : D hehe

Giraffe : Arigatou ne Giraffe-san telah setia membaca fict saya T.T . ni dah update…

Himitsu mezu: Makasih sarannya , wah senangnya masih ada yang mengharapkan herbivor follower update..

Uchiha Annisuke ELF: sudah terjawab kan dek di chap ini

Chezahana-chan: yap. yap arigatou senpai

Pinky the skategirl: yap, yap, yap

Sakirha uchiha: Like too!

Chini Van : UPDATE

Kanami Sakura: terima kasih banyak atas sarannya

Uchiharuno Sasusaku : imoto, neechan dah apdet ..

Fiyui chan: Semoga happy ending yach.. #masihrahasia

Uchiharlinz ayhank-chan: maaf saya emang rada lelet kalo masalah apdet

Kudo Widya chan edogawa : gak kok, saya gak maksain raito buat bisa susanoo..

SHINKERBELL COMPANY

20120311