There are many things in life

That will catch your eye

But only a few will catch

Your heart... pursue those.


Warning : OOC, dll.

Genre : Adventure, action, romance


Chapter 2

Sasuke, sekalipun tak pernah berpikir bahwa dikemudian hari dia akan kembali pada keluarganya dan menjalani hidup normal layaknya remaja seumurannya. Tak pernah sekalipun ingin tahu seperti apa rasanya kelulusan SMA dengan diapit oleh kedua orang tuanya di sisinya, duduk dengan harap-cemas menanti gilirannya maju menerima selembar kertas yang menurut perspektif orang adalah penentuan masa depan seseorang. Juga, tak pernah terlintas dalam benaknya kalau dia akan duduk di sofa sudut cafe dengan menatap tajam seseorang yang tadinya dia panggil kakak.

Sasuke bukan tipe orang yang berbesar hati dengan menunjukkan kesabarannya. Kesabarannya yang saat ini kian menipis. Tapi egonya juga terlalu tinggi untuk lebih dulu memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Baru setelah jam tua berukiran rumit yang diletakkan di tengah ruangan berdentang empat kali, Sang kakak menoleh menatapnya. Jarinya berhenti mengetuk meja. "Kulihat kau sehat," Lalu, dia menyesap sedikit teh panasnya.

Sasuke balik menatap kakaknya dingin. "Hn," jawabnya khas, yang membuat sudut bibir Sang kakak berkedut. Tapi Sasuke tak pernah mengharapkan kakaknya akan tersenyum padanya dalam situasi seperti ini, jadi, dia tak mendapatkannya.

"Kau hanya membuang waktuku, Itachi. Kalau tak ada hal yang penting, aku pergi," gumam Sasuke sambil mengambil ranselnya dan hendak beranjak bangun dari sofa. Tapi Itachi—Sang kakak, takkan melepaskan adiknya dengan mudah, mengingat sudah tiga tahun kamar disebelahnya sudah tak berpenghuni.

"Selamat datang kembali omong-omong. Bagaimana menurutmu Jepang sekarang?" tanya Itachi dengan nada mengajak ngorbol.

Tapi itu hanya membuat Sasuke mendecih meremehkan dan berjalan menuju pintu kaca ganda di depan sana. Tentu saja apa yang dipikirkannya selama ini benar, bahwa mantan kakaknya setidaknya mendapatkan informasi lebih tentangnya melebihi siapa-pun. Urusan dari mana kakaknya mendapatkan informasi itu, akan Sasuke dapatkan kurang dari tiga jam dari sekarang.

Sakura's PoV

Ino terus berceloteh tentang warna cat kuku keluaran terbaru dari salah satu perusahaan kosmetik ternama dunia. Menurutnya, ada beberapa warna yang tidak sesuai untuk dimasukkan dalam daftar 'warna cat kuku yang harus digunakan pada saat musim panas', dan aku yang sama sekali tak tertarik, hanya duduk berdiam diri disampingnya sambil membolak-balik majalah gossip miliknya dengan malas. Tak sengaja setelah aku melemparkan majalah tersebut ke sampingku dan memutuskan untuk mendongak, aku melihat seorang pemuda berhoodie yang berjalan dengan cepat melewati meja kami, tak menoleh sedikit pun kearah kami, tidak seperti pemuda-pemuda lainnya yang akan melirik ke arah Ino, atau lebih spesifiknya, ke arah rok Ino yang terlalu pendek.

Melihat pemuda tersebut, mengingatkanku samar-samar akan seseorang yang sepertinya dulu pernah kulihat di suatu waktu. Familier. Aku berusaha mengingatnya, namun semakin aku menggali memori tersebut, kepalaku semakin pening. Keningku berkerut seperti menahan sakit. Dan Ino menyadari hal itu. Dia langsung menatapku khawatir. "Aku baik-baik saja." Aku menyuarakan pikirannya. Tapi dia tak memercayaiku begitu saja.

"Pulanglah, Sakura. Kau butuh istirahat," saran Ino. Suaranya lembut sarat khawatir. Aku hanya mengangguk. Ketika dia ingin menawarkan tumpangan, aku menggeleng lemah dan tersenyum, "aku bisa pulang sendiri, dengan selamat, percayalah."

Sekarang aku benar-benar mengutuki diriku sebagai orang terbodoh yang eksistensinya sudah tak diragukan lagi di sudut kota saat ini. Tapi siapa juga yang tahu kalau hujan akan datang mendadak seperti ini, tepat setelah lima belas menit aku menunggu di halte bus. Maksudku, yang benar saja, saat ini kan sudah masuk musim panas!

Dengan menggigil aku menggosok-gosokkan kedua tanganku.

"Bagaimana bisa suhu berganti secepat ini?"

Aku tersentak kaget mendengar suara seorang pemuda yang selama ini paling kuhindari, tiba-tiba telah berdiri disampingku, menoleh menatapku dengan senyum simpulnya.

"Sakura," sapanya dengan suara rendah. Aku mengangguk sopan kepadanya, tak tahu harus bersikap seperti apa, atau berkata apa. Aku tetap diam di tempat. Mengamati tetesan-tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras. Aku tetap diam ketika dengan pelan dia menyampirkan blazernya ke bahuku. Dan aku masih tetap diam ketika dengan lembut dia menarikku ke kursi panjang di belakang kami. Sungguh, aku tak mau menatapnya saat ini. Apa yang harus kulakukan?

Bagaikan tersetrum arus listrik, tiba-tiba aku bangun dari dudukku dan melepas pegangan tangan hangatnya. Berdiri memunggunginya.

"Untuk apa kau masih mau berbaik hati pada orang sepertiku?" tanyaku rendah. Tapi aku cukup yakin kalau suaraku tadi sampai di telinganya walaupun dilatar belakangi suara hujan yang cukup deras.

"Entahlah," akunya jujur. Aku berbalik menatapnya, berharap mendapatkan ekspresinya yang dingin seperti biasa, Namun yang kudapatkan adalah seseorang dengan mata peraknya yang tak terbaca dengan dibingkai garis wajah layaknya manekin yang dibuat pada abad 18.

Kedua matanya menatap mataku lekat, seolah berusaha menembus dan membaca pikiranku. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku dan berjalan pelan menjauhinya. Aku masih ingat, hari dimana aku mempermalukan dirinya di depan seluruh tamu undangan, di depan keluarganya. Hari dimana dengan tegas aku menolak untuk bertunangan dengannya. Di sebuah hotel mahal di Monte Carlo. Empat bulan yang lalu...

Flashback

Suara gesekan biola mengisi gumaman-gumaman rendah para tamu undangan. Para wanita mengenakan gaun putih dengan hak sepatu mereka yang ukurannya kurang dari satu sentimeter, seakan tak takut hak mereka menyangkut di antara rumput-rumput hijau yang sedikitnya masih memancarkan embun. Aku berdiri mengintip dari balik gorden tipis. Terus mengamati kegiatan dibawah. Jam di pergelangan tangan kananku mengatakan kalau aku tidak turun sekarang juga, aku mungkin akan mendapatkan masalah. Dengan berat hati, aku melepas jam tangan Nike butut kesayanganku, dan menggantinya dengan sebuah gelang berhiaskan taburan permata milik Almarhum Ibuku.

Mungkin terkadang ada waktunya disaat seseorang mulai mengingat-ingat momen berharganya dengan seseorang yang disayanginya, seperti momen terakhir bersama mereka misalnya, akan kembali menitikkan air matanya. Tapi aku bertahan sampai detik ini.

Tidak berusaha untuk mencegah air mata yang keluar saat aku kembali membayangkan, aku kecil duduk di pangkuan Ibu, dengan Kakekku yang tertawa melihat tingkahku, atau saat Ayahku mengintip mengedipkan sebelah matanya padaku di sela-sela kegiatannya membaca koran, mengisyaratkan kalau Ayah mempunyai rencana yang cukup jahil yang biasanya akan kami lakukan bersama-sama ketika Ibuku sedang tidak ada. Karena semakin aku menunggu air mataku untuk keluar, semakin aku membuang waktuku. Aku bahkan tidak ingat kapan tepatnya terakhir kali aku menangis.

Yamato tersenyum begitu aku keluar dari pintu kamar hotelku. Sikapnya yang tetap sopan mengingatkanku bahwa aku harus bersyukur mempunyai dirinya sebagai tangan kananku walaupun sekarang aku hanya sebatang kara.

"Anda terlihat mengagumkan, Sakura-sama," kata Yamato dengan suara terkendali. Aku tak bisa mengatakan hal lain selain, "sungguh? Aku bahkan belum melihat tampilan diriku sendiri. Para perias pergi begitu saja setelah menurut mereka pekerjaan mereka selesai dan aku sama sekali tak minat melihat hasil karya mereka. Toh aku masih seorang Sakura," ucapku panjang lebar. Sudahlah, akhiri saja saat-saat seperti ini. Semakin cepat semakin baik. Akhiri itu seperti kalimat dobel negatif.

Ketika tiba saatnya, aku mencengkram sisi-sisi gaunku dengan gugup. Gugup bukan dalam arti malu-malu menyetujui dan takut apa yang akan dikatakannya tak sesuai dengan hatinya yang sangat menginginkannya. Tapi gugup dalam skala yang lebih besar. Tentang nasib perusahaan keluargaku, tentang masa depanku yang tentunya takkan sebebas dulu lagi, tentang diriku, tentang pertunangan ini...

Neji Hyuuga adalah lelaki yang hampir sempurna. Idaman semua gadis, termasuk diriku, aku tak berusaha untuk mengelaknya. Dia memiliki harta tak terbatas. Otak yang sangat cemerlang dan mampu menguasai perbisnisan Timur Tengah diusianya yang terbilang masih sangat muda. Bertanggung jawab. Memiliki sikap layaknya bangsawan, yangmana itu memang benar. Dan wajahnya yang sangat rupawan yang mampu memikat gadis manapun.

Tapi mau sebagaimana sempurnanya dia, aku tak bisa benar-benar menerima semua ini. Menurutku semua ini terlalu cepat. Dan bukan karena alasan aku memang telah dijodohkan dengannya, tapi aku merasa aku bukanlah orang yang pantas untuknya. Seperti akan ada pemuda lain yang akan mengisi celah-celah hidupku di masa mendatang, lebih tepatnya. Aku tahu ini konyol, tapi entah mengapa aku bisa merasakannya.

Detik dimana tangan Neji Hyuuga meraih tanganku dengan lembut, barulah aku menatapnya. Aku menemukan kesungguhan di kedua mata indahnya. Tapi saat dia balik menatapku, dia tak menemukan apa-apa disana. Takkan pernah bisa.

Kami terdiam. Aku bisa melihat dengan jelas kilat kekecewaan membayang di matanya saat kakiku mulai mundur menjauhinya. Bisikan para tamu mulai terdengar lebih riuh. Aku menatap kearah keluarganya dengan pandangan meminta maaf paling sopan yang aku tahu. Keluarganya terlihat tak senang, muka mereka putih pucat menahan malu, lalu aku berbalik dan berlari masuk ke hotel.

Satu minggu kemudian, aku mendapat kepastian. Bahwa aku, Sakura Haruno, tak boleh menginjakkan kakiku lagi di mansion Hyuuga. Surat itu ditulis langsung oleh para tetua Hyuuga. Dan aku sedikit penasaran, apakah orang sesibuk Neji mengetahui hal ini? Atau ini mungkin salah satu permintaan darinya?

Yang mana saja sudah membuat hariku makin melelahkan.

Flashback End.

"Aku takkan memaksamu untuk melakukan apa yang tidak kau sukai."

Kata-katanya menarikku kembali ke situasi saat ini. Dengan perlahan, aku kembali duduk di sampingnya, menatap bulir-bulir terakhir air hujan yang turun. Langit mulai memancarkan siluet senja dengan awan-awan mendung yang belum sepenuhnya menyingkir.

Rasa bersalah mengakar kuat. Aku bingung. Aku benar-benar payah kalau menyangkut masalah hati. Jadi, kupilih saja pengalihan topik yang sangat keluar jalur. "Mengapa kau memotong rambutmu?"

Dengan itu, dia mendongak menatap wajahku yang menyunggingkan senyum kecil. Menatap diriku yang bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa diantara kami. Dan dia menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan senyum terukir di wajah tampannya.

"Tapi aku suka gaya rambutmu yang sekarang, membuatmu terlihat... segar," ucapku lagi.

Neji Hyuuga tertawa. Aku tak bisa menahan senyumanku melihat gelak tawanya. Jarang sekali melihatnya bisa sebebas ini. Yah, setidaknya kami masih bisa berteman walaupun masih banyak yang harus diselesaikan apabila ingin kembali berteman dengannya. Bukannya malah kabur dari masalah, seperti yang sering kulakukan.

End of Sakura's PoV

Minamiaoyama, Minato-ku, Tokyo.

Pukul : 02.00 am

'Kriiiiiing, kriiiiiiiiing...'

"..."

"Uchiha-san? Kau punya waktu dua puluh menit untuk sampai di markas. Tuut... tuut..."

Sasuke menatap layar ponselnya dan bergumam, "brengsek."

Lalu tidur kembali. Tapi kurang dari satu menit, dia sudah bangun, dan membasuh wajahnnya, serta berganti pakaian dengan asal. Dua kancing kemeja teratasnya sengaja dibiarkan tidak terkancing. Entah apa alasannya. Yang pasti, dengan rambut yang agak berantakan, juga pakaian yang belum benar, dia berhasil membuat dua wanita yang sedang berjaga di meja resepsionis menjadi tenggelam dalam dunia khayal mereka ketika Sasuke melenggang dengan keanggunan tinggi melewati mereka.

Sasuke berjalan menuju mobil sedan hitam mengkilapnya sembari menghubungi nomor yang baru didapatnya sore tadi, diatas kertas berwarna putih polos, terjepit diantara buah-buahan di ruang tamu kamar hotelnya.

"Suigetsu. Aku membutuhkanmu sebagai back-up. Sekarang," kata Sasuke dengan nada memerintah seperti biasa.

Sebelum Sasuke menjalankan mobilnya, dia melepas mulai dari baterai sampai kartu sim ponselnya. Dan akan membuangnya secara acak di jalan yang dia lewati.

Tetapi semua tak selalu berjalan mulus. Semua orang hanya bisa melakukan yang terbaik sebatas kemampuan mereka. Tak terkecuali yang satu ini.

Sebuah mobil Ferrari hitam dengan kecepatan hampir 100 mil/jam ditengah kota, mendadak banting stir dan berhenti sampai menimbulkan bunyi gesekan ban yang luar biasa. Seseorang yang hampir ditabraknya juga terjatuh karena terserempet body mobil yang berputar seratus delapan puluh derajat tersebut. Sang pengemudi yang terlihat kesal, keluar dari mobil sportnya dan mencoba untuk mengecek keadaan orang yang tadi hampir ditabraknya. Tetapi langkah kakinya seketika berhenti dan mendadak suhu tubuhnya menjadi rendah ketika bertatapan dengan mata tajam milik seseorang yang selama ini ia coba hindari.

"Sasuke..."

To be continue...


Minna-san, maaf lama pake banget updatenya, gomen...

*ngomong sama siapa lu? kayak iya ada yang mau baca aja lu!*

*pundung dipojokan lemari, iya-iya, saya cukup tau diri kok, saya juga disini kan belajar,"

nah, terlepas dr itu semua, makasih yg udh baca yaa, mohon bantuannya juga, maaf kl masih banyak cacat disana sini.

buat yg udh ngereview yg chap 1 makasih bgt ya, juga untuk kritik sm sarannya, makasih banyak :D

akhir kata,

dadaaah~