Chapter 2 : Something Strange

Disclaimer : Masih tetep, miliknya Tante Jo tercinta.

Warning : Typo(s), OOC, OC, Next-Gen, and bla bla bla bla masih banyak lagi.

Pairing : DMHG, LMJP , dan lain-lain

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

A/N : Hai , miss me? #gebuked. Author kembali sodara-sodara dan membawa chapter kedua disini. Oh ya sebelumnya aku mau bilang makasih yang sebesar-besarnya buat temen-temen (may I guys?) Weaselle7, Adind4, attachan dan Naughty As Me yang udah nyempetin review Chapter 1nya AYHtDiW (kita singkat saja, oke?) . it's realy means a lot. Oke tidak perlu berbanyak mulut lagi. Just enjoy it guys .

HAPPY READING, READERS :D

Harry Potter © JK ROWLING

All You Have to Do is Wait © PeonyMalf

Chapter 2 : Something Strange

"Coba kulihat apa yang kita punya hari ini" Lily memperhatikan perkamen yang berisi jadwal pelajaran yang baru saja dibagikan oleh Prof. Finnigan—Kepala asrama Gryffindor—pagi itu di Aula Besar.

"Engg kita punya dua jam ramuan pagi ini lalu sejarah sihir dan Hey ! kita punya Rune Kuno setelah makan siang Lye. Baguslah aku belum sempat menyapa Aunt Mione" Lye merengut mendengar sorakan bersemangat Lily yang sukses membuat moodnya yang sudah buruk—-nya kembali bercengkrama akrab dengan guru baru itu—jatuh ke level paling paling bawah. "well, aku harus menunggu untuk menyapa Aunt Mione, kurasa. Aku ada Ramalan dan Mantera sampai sore ini" Rose bergumam sambil mendorong piring sarapannya yang telah kosong.

"Bagaimana kalau ganti saja denganku Rose?" tawar Lye putus asa, menghadapi Prof. Trelawney dengan ramalan kematiannya terasa seperti mengikuti pelajaran terasyik sedunia saat ini.

"hah? Tidak, terima kasih. Kau tau aku benci Rune Kuno dan kau benci Ramalan. Lagipula mana mungkin berganti kelas? Kau lucu sekali" Lye menarik nafas jengkel. Memang hanya dia dan Lily yang mengambil Rune Kuno. Andrea dan Rose kompak meninggalkannya saat tahun ketiga mereka ("Demi Merlin!, pelajaran itu membosankan sekali"). Biasanya, Lye tidak setuju dengan mereka, dia sangat menyukai Rune Kuno. Tapi rasanya hari ini dia ingin sekali bisa sependapat dengan Rose dan Andrea.


Hai Lye" sapa James Potter, saudara kembar Lily saat mereka bertemu di kelas Rune Kuno.

"Hai James" sahut Lye dengan nada bosan bahkan tanpa melihat James.

"Dia mengerecokiku sepanjang musim panas demi mengetahui apakah kau dan Frizt Halle, anak Ravenclaw itu berkencan atau tidak" ujar Lily saat mereka sudah menemukan tempat duduk sambil melihat ke arah saudara kembarnya yang terus tersenyum lebar.

" Tak kusangka saudaramu ternyata seorang tukang gossip" sahut Lye ketus. "Frizt Halle, dasar cowok bodoh!" maki Lye dalam hati. Dia kesal sekali pada anak Ravenclaw yang satu tingkat diatasnya itu. Pada saat akhir semester tahun lalu, Halle menyatakan cintanya pada Lye didepan semua penghuni Hogwarts yang sedang sarapan di Aula Besar. Lye benar-benar dibuat hampir mati karena malu oleh anak itu. Kalau bagi gadis lain, hal itu mungkin sangat romantis tapi tidak bagi Lye. Itu SANGAT memalukan. Sebenarnya kalau Frizt menyatakan cintanya secara "normal-normal" saja tanpa membuatnya seperti sebuah pertunjukan sirkus mungkin Lye tidak akan merasa semalu dan semarah ini padanya. Meski ia akan tetap menolaknya, tapi setidaknya dengan cara yang lebih baik (Lye melemparkan mantra silencio dan segera keluar dari Aula Besar meninggalkan Frizt yang panik karena tiba-tiba kehilangan suaranya).

"Entahlah, dia jadi sering membicarakanmu akhir-akhir ini. Kurasa dia . . " Lily tidak meneruskan ucapannya karena baru saja berjalan memasuki kelas mereka.

Lye memutar bola matanya dan melempar pandangan keluar jendela saat Prof. Granger meletakkan tas dan bukunya dimeja guru.

"Well, Good Morning. Aku rasa kalian sudah tau, aku guru baru kalian untuk pelajaran Rune Kuno tahun ini. Namaku Hermione Granger. Kalian bisa memanggilku Professor Granger. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik di kelas ini. Salam kenal, senang bertemu dengan kalian. Ada pertanyaan?" Dia mengatakannya sambil tersenyum ramah dan dengan nada yang bersahabat namun Lye menggumamkan kalimat 'dasar sok akrab' dari sudut bibirnya untuk perkenalan singkat itu.

"Oke baiklah, sebaiknya kita mulai dengan daftar absen siang ini" Prof. Granger masih tersenyum dan mengambil selembar perkamen berisi daftar absen saat tak ada yang ingin mengajukan pertanyaan.

"Anferd ,Fredderick" seorang anak laki-laki dengan rambut coklat mengangkat tangan saat mendengar namanya disebut. Hermione melempar senyum dan melanjutkan nama selanjutnya.

"Brandon,Susan" . . . "Coote,Amanda"…. . "Chroley,Hailey". . . "Finch-Fletchey,Kevin" …. "Thomas,Jade"

Hermione melanjutkan daftar absen itu dengan semangat. Ia banyak menemukan nama-nama yang tak asing baginya. Beberapa muridnya adalah putra-putri dari teman-temannya saat sekolah dulu. Tapi tiba-tiba matanya melebar ketika sampai di sebuah nama, ada jeda yang cukup lama sampai ia berani membaca nama itu.

"Mamm malfoy, Libra" suaranya bahkan hampir terdengar seperti bisikan saat mengucapkan nama itu.

Tubuh Hermione menegang saat menatap seorang gadis berambut pirang platinum yang mengangkat tangannya dengan malas dan segera menurunkannya lagi. Perkamen di tangan kirinya bergetar dan mengerut karena genggamannya yang terlalu kuat. Mata coklat hazelnya menemukan garis wajah yang sangat ia kenal pada gadis itu , 'jadi ini dia?' bisiknya tanpa suara. Ia tercekat saat menemukan sepasang mata sapphire milik gadis itu menatapnya balik, 'yaa, itu memang dia' ulangnya. Hermione kembali tersadar dan menemukan kembali suaranya saat semua mata dikelas itu menatapnya bingung. Ia segera melanjutkan ke nama berikutnya seakan-akan tak pernah menyebut nama Lye sebelumnya.

Hermione mengerling senang saat sampai pada nama Andrea,Lily dan James. Ia jadi teringat belum memberi kabar pada sahabat-sahabatnya bahwa ia sudah kembali dan mengajar di Hogwarts saat ini, dan berpikir akan mengirim burung hantu saat ia punya waktu luang nanti. Ia pun memulai pelajaran pertamanya hari itu dengan semangat yang ia paksakan dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan Libra Malfoy.


Andrea, Rose dan Lye sedang mengerjakan essay tentang apa saja pengaruh akar willow dalam pembuatan berbagai macam ramuan yang diberikan Professor Hanson di ruang rekreasi Gryffindor malam itu.

"Bagaimana mungkin dihari pertama sekolah kita sudah harus menerima gunungan PR seperti ini" keluh Rose sambil membanting buku "Seribu-Satu Tumbuhan Sihir " yang sedari tadi dibolak baliknya.

"Ya, kau benar. Masih ada essay sejarah sihir tentang Pemberontakan Goblin sepanjang 20 inci yang harus selesai dalam 3 hari dari Prof. Binns dan satu bulan diary mimpi dari professor Trelawney" Andrea menyahut sambil terus menulis dengan pena bulunya dan sesekali membalik buku dipangkuannya.

"Terimakasih mengingatkanku, Drea" jawab Rose sebal. "Uncle George benar, tahun OWL itu benar-benar bencana"

"Essaymu takkan selesai kalau kau terus mengeluh Rose" Lily duduk disamping Lye sambil mengeluarkan alat tulis dan bukunya sendiri.

"Sudah selesai menjalankan tugasmu Nona Prefek?" dengus Rose. Lily hanya memutar bola matanya menanggapi sindiran sepupunya itu.

"Well, bagaimana menurutmu tentang Prof. Granger Lye?"

Lye menghentikan kegiatan menulisnya, sebenarnya inilah hal yang dipikirkannya sedari tadi.

"Biasa saja" dia masih bingung untuk membicarakan atau tidak apa yang ia pikirkan.

"Yang benar saja? Dia cukup bagus menurutku, caranya mengajar lebih menyenangkan dari "

" Entahlah" jawabnya tak acuh, tak ingin terlihat sependapat dengan Lily "Tapi, kau tau. Aku merasa ada yang aneh dengan Prof. Granger"

"Aneh, bagaimana?" sekarang Andrea dan Rose sudah ikut mendengarkan.

"Engg, entahlah. Aku rasa, dia tidak menyukaiku—bukan berarti aku peduli—hanya saja, itu sedikit aneh menurutku"

"Ha ! bukankah kau biasa memiliki hubungan yang "aneh" dengan para guru Lye? Apa yang kau lakukan sekarang?" Rose langsung menyimpulkan, ia tau sekali kelakuan sahabatnya yang satu ini. Mengingat sepak terjangnya dalam mengerjai para guru. Salah satu yang paling heboh adalah saat ia mencoba merubah gelungan rambut Prof. Mc'Gonnagall menjadi bertingkat sampai hampir menyentuh langit-langit. Ia mendapat detensi satu bulan penuh bersama Filch dan kehilangan 50 poin Gryffindor. Tapi entah bagaimana ia selalu bisa mengganti poin-poin itu dengan kepintarannya didalam kelas. Benar benar tipe yang aneh pintar dan nakal disaat yang sama.

"Aku tidak melakukan apa-apa! Aku bahkan belum berniat mengerjainya" Lye agak kesal karena dituduh tanpa sebab.

"Mungkin hanya perasaanmu saja Lye. Aku lihat dia baik baik saja padamu" Lily mencoba membela Aunt 'Mione-nya.

"Baik baik saja? Oh, ayolah. Apa kau ingat saat ia menyebut namaku? Pelan sekali, aku tak akan mengangkat tangan jika saja aku tak tau bahwa itu giliranku"

"Kau berlebihan Lye, mungkin ia kesulitan menyebut namamu" Andrea berpendapat.

"Kalau itu belum cukup, saat aku mengangkat tangan mencoba menjawab pertanyaannya ia sebisa mungkin tidak memilihku. Saat ia tak punya pilihan lain, dan aku menjawab pertanyaan susahnya itu dengan benar aku bahkan tak mendapatkan poin. Padahal yang lainnya selalu mendapat poin"

Lye kesal saat teman-temannya diam tak menanggapi perkataannya.

"Oke, satu lagi. Saat pelajaran berakhir dan kau Lils serta James menyapanya lalu Rose dan Andrea datang. Tidakkah kalian menyadarinya? Dia bahkan tak memandangiku sama sekali. Saat kau memperkenalkan Andrea ia terlihat senang sekali lalu bercerita dan bertanya ini itu tentang Ayah dan Ibunya. Lalu saat kau memperkenalkan aku, dia langsung bilang ada keperluan penting. Bukankan itu aneh?" muka Lye memerah sebab ia bicara terlalu cepat.

"Jadi intinya, kau ingin dia menanyaimu tentang Ayah dan Ibumu?" Rose berkomentar bodoh karena bingung oleh kalimat Lye yang terlalu cepat.

Lily dan Andrea langsung memolototi Rose dengan pandangan bodoh-sekali-kau.

"A..aaku. " Lye tergagap menjawab pertanyaan Rose. Dia paling tidak bisa mendengar seseorang berbicara tentang Ibunya.

"Oh maafkan aku Lye. Aku bodoh sekali " Rose meminta maaf sambil mengutuk kebodohannya sendiri.

"Tidak apa-apa" Lye tersenyum sendu. Dia sudah terlalu besar untuk selalu sensitif apalagi menangis saat seseorang mengingatkannya pada Ibunya.

"Sudahlah Lye, barangkali Prof. Granger benar-benar ada keperluan penting tadi. Dan mengenai Ayahmu—Lily berusaha tidak menyebut Ibumu—mungkin dia tidak terlalu mengenalnya. Ayahmu dari Slytherin kan? Kau tau, dulu Gryffindor dan Slytherin punya hubungan yang tidak begitu baik. Mungkin hanya masalah orang dewasa" Lily mencoba bersikap bijak meski terkejut saat Lye tidak berlari meninggalkan mereka setelah perkataan Rose tadi.

"Terserahlah. Kayak aku peduli saja" Lye tersenyum dan melanjutkan essainya. Merasa menyesal memulai pembicaraan kali itu.


Lye berjalan sendiri dari rumah kaca setelah pelajaran Herbology siang itu. Sambil menenteng sebuah pot berisi tanah dan sekantung pupuk kotoran naga dengan susah payah. Prof. Sprout memberikan mereka tugas untuk menanam dan menumbuhkan bunga Aragona sebelum natal. Teman temannya benar-benar menyebalkan saat ini. Lily sedang pergi ke pinggir danau dengan 'pacar-barunya' Kevin Finch-Fletchey dari Hufflepuff untuk kencan makan siang—('menjijikan sekali'). Tak ada bedanya dengan Andrea yang sedang 'belajar kelompok' menanam bunga Aragona bersama Joy Davis dari Ravenclaw('belajar kelompok heh? Menggelikan'). Sedangkan Rose, Lye sama sekali tak tau sedang dimana dia sekarang setelah Henry Pucey seorang Slytherin menariknya sesaat setelah selesai Herbology tadi('Aku tak mau tau apa yang mereka lakukan'). Akhir-akhir ini Lye sering ditinggal sendirian oleh ketiga sahabatnya itu seperti siang ini. Meski menyebalkan memang, tapi ia tak pernah iri. Sudah ada Prof. Diggory dihatinya. Dia hanya butuh 3 tahun lagi untuk lulus sekolah dan menikah dengannya. Lily selalu menganggapnya gila karena bicara seperti itu, tapi ia tak pernah peduli. Tak pernah ada yang salah dengan orang yang jatuh cinta bukan?. Sudah sejak pertama kali menginjakan kakinya di Hogwarts Lye "jatuh-cinta-pada-pandangan-pertama"—begitu Lye menyebutnya— pada guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam itu dan sejak saat itu ia memastikan bahwa adalah cinta sejatinya. Biarlah orang menganggapnya gila, tak apa. Lye sedang berhenti untuk membenarkan letak pot Aragonanya saat seseorang memanggil namanya.

"Hai James" Lye tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggilnya

"Kerepotan, eh?" James juga membawa pot dan kantong yang sama dengan Lye.

"Lumayan, ini agak berat. Tapi tak apa" Lye selalu heran bagaimana James dan Lily kembar tapi tidak mirip sama sekali. Kalau Lily mirip dengan Ibunya Mrs. Ginny Potter dengan rambut merah terang tapi memiliki mata emerald Ayahnya. Sedang James lebih mirip Mr. Potter dengan rambut hitam kelam dan mata coklat almond Ibunya. Lye penasaran akan seperti apa adik Lily, Albus saat besar nanti.

"Kau mau kembali ke Asrama?" James menambahkan saat Lye mengangguk "Mau jalan bersama?"

"Baiklah" jawab Lye tidak memperhatikan wajah James yang sedikit memerah saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

Merekapun berjalan beriringan sampai tiba-tiba Lye memperhatikan dua orang yang sedang bicara di ujung koridor menuju Aula Besar. Prof. Granger dan Prof Diggory sedang berdiri berhadapan dan terlihat sedang mengobrolkan sesuatu. Dia gerah sekali melihatnya.

"Ehmm, James. Boleh aku minta bantuanmu?" pinta Lye agak ragu.

"Tentu saja" senyum lebar mengembang di bibir James.

"Well, aku ada sedikit keperluan. Jadi , bisakah kau membawakan pot dan kantung pupukku ke Asrama?" Lye sungguh tidak enak meminta hal seperti itu.

"Oh, ooh baiklah, tak masalah" jawab James sedikit kecewa.

"Terima kasih James. Kau baik sekali. Sampai ketemu di ruang rekreasi" Lye mengucapkannya sambil sedikit berlari setelah meletakkan pot dan kantung pupuknya diantara lengan James. Saking berterimakasihnya, Lye sampai memeluk James sekilas. Sekali lagi, ia tak memperhatikan semburat merah di wajah James.

Saat sampai di awal koridor Lye menghentikan larinya dan berjalan biasa seakan-akan ia hanya kebetulan lewat. Kedua Professor itu masih berdiri di tempat yang sama, Lye bisa mendengar suara tawa singkat dari tempatnya berdiri. Dengan sedikit deheman Lye menyapa Prof. Diggory—ia mengabaikan keberadan Prof. Granger("memang dia saja yang bisa?").

"Prof. Diggory, selamat siang. Kebetulan saya sedang mencari Anda"

"Selamat siang Miss Malfoy. Ada yang bisa kubantu?" Prof. Diggory tersenyum tipis.

"Saya ingin bertanya tentang tugas yang Anda berikan. Saya sulit menemukan sumber yang tepat untuk mengerjakan essay mengenai mantera pertahanan pada abad pertengahan jadi bisakah Anda membantu saya?" Lye agak geli dengan omongannya sendiri, ia bahkan sudah menyelesaikannya dengan beberapa inci lebih dari yang seharusnya.

"Kurasa aku punya beberapa referensi di kantorku. Kau bisa mencarinya di perpustakaan sendiri nanti"

'dia memang baik sekali' puji Lye dalam hati.

" 'Mione, maaf sepertinya aku harus membantu Miss Malfoy kecil ini dulu. Tak apa-apakah kau ke Aula besar sendiri?" Prof. Diggory tersenyum dengan cara yang membuat Lye ingin menikam Professor Rambut-Semak itu.

"Tak apa Cedric. Aku rasa aku tak akan tersesat, tenang saja" dia tersenyum—"dasar sok manis" geram Lye dalam hati. Lalu Lye mngikuti Prof. Diggory menuju kantornya saat Prof. Granger berbelok menuju Aula Besar. Lye benar-benar kesal, 'ini berarti perang' pikirnya.


Hermione sedang memeriksa tugas murid-muridnya saat tiba-tiba pena bulunya memuncratkan tinta dan mengotori wajah dan bagian depan jubahnya. Seluruh kelas langsung membahana dengan tawa melihat wajah guru mereka yang kini berubah berwarna hitam kelam kecuali kedua bola matanya. Hermione hanya memandang tak percaya dan mengerang marah. Matanya menangkap seseorang yang memandang puas kearahnya dan membuatnya menelan kemarahannya lagi. Kemudian menaruh kembali penanya, menggumamkan mantera permbersih dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Jadi, kesimpulannya bagian 12 pada buku ini menyimpulkan bahwa—Arrrgggh ! "

Hermione berteriak histeris saat tiba-tiba ia disiram oleh air berwarna kuning kecoklatan dan berbau seperti kaus kaki troll yang tiba-tiba mucul dari langit-langit. Dia tak repot-repot marah-marah pada kelasnya kali ini. Seakan tidak terjadi apa-apa, dia menggumamkan mantera pengering dan melanjutkan pelajarannya.


"SIAPA YANG MELAKUKAN INI ! "

Hermione berteriak murka melihat buku-bukunya berserakan di dekat tong sampah, rusak, kotor dan tentu saja bau. Tangannya bergetar karena emosi saat memungut buku-bukunya. Kali ini dia tak akan tinggal diam.

~TBC~

A/N :

*Attachan bilang kurang panjang, ini udah dipanjangin. gimana? sudah cukup panjang atau malah kepanjangan? Haha Aku bingung ceritanya mau di cut dimana biar cukup panjang.

*Adind4 : Hai juga. update kilat? apakah ini cukup kilat?. Libra anaknya siapa ya? Waaa, mas gak tau sih? . . Masalah kenapa Hermione minggat dari inggris, itu bakalan ku jawab kok, tapi nanti hehe. ~keep reading please:)

*Weaselle7: Makasih udah review. Permanen reader? janji yaaa #geplaked!

*Naughty As me: Makasih udah review, ada kok typo-nya*hiks*tapi udah ku benerin. Anaknya siapa ya? haha nanti aku kasih tau okeh :D ~Keep reading yaa? #yaelahkokmaksa?

Udah dibaca? Bagaimana pendapat anda? Puaskah? Mengecewakan? Oke, oke tahan dulu tahan dulu. Cukup klik atau pencet atau tekan tombol paling bawah yang ada tulisan review-nya oke? Berpuas-puaslah berkeluh kesah disana.

#NP~PeonyMalf menunggu Review