Chapter 3 : Failed Date and The Cupids

Disclaimer : JK. ROWLING lah, who else?

Warning : Gaje, typo(s) and blablabla

A/N: Chapter 3 update! Thanks bertubi-tubi dan membabi buta buat Naughty As Me, atacchan(Sorry atas kesalahan penulisan namanya ya?),dind4(maaf banget dind4, udah bener kan?),degrangefoy, zean's malfoy dan Weaselle7 yang udah nyempetin review. Author gak bakal banyak bacot, so, semoga chapter ini enjoyable ya.

HAPPY READING, READERS

Harry Potter © JK. ROWLING

All You Have to Do is WAIT © PeonyMalf

Chapter 3 : Failed Date and The Cupids

"LIBRA MALFOY ! DETENSI di KANTORKU ! BESOK MALAM ! JAM 8 ! DAN POTONG 50 POIN DARI GRYFFINDOR!" Hermione menggertakkan giginya penuh amarah pada gadis berambut pirang yang masih tetap asik menikmati sarapan seakan-akan tidak mendengar teriakan-9-skala-richternya yang baru saja mengguncang aula besar.

"Baiklah" jawab Lye singkat dan tanpa melihat Hermione—sedikitpun. Ternyata Guru baru itu tak bisa lebih lama lagi mengacuhkannya bukan? Seharusnya Professor berambut-singa ini tau jika terlibat adu acuh-mengacuhkan dengan Lye, sama saja dia sudah menyiapkan podium kekalahannya sendiri dengan tulisan "loser" tercetak disana.

Hermione menahan geramannya ditenggorokan. Bisa-bisanya gadis-Malfoy ini duduk tenang dan menyuap sarapannya dengan penuh penghayatan setelah melakukan penyiksaan-berencana pada buku-bukunya yang malang. Jangan kira dia tidak tau semua yang dilakukan gadis itu padanya, dia tau—sangat tau—track record Libra Malfoy. Dan apa perlu dia jabarkan satu-satu? Baiklah. Pertama, siapa yang mau repot-repot menyediakan seember air-cucian-troll untuk disiramkan padanya hampir seminggu sekali? . Siapa yang tak pernah absen mengacaukan kelasnya?(Dan selalu mengacaukan harinya?). Atau siapa lagi yang cukup perhatian untuk mengiriminya sekotak penuh cacing-cacing Flobber dengan pita merah-muda?(Kayak warna merah muda berpengaruh saja untuk cacing-cacing obesitas itu). Jawabannya jelas sekali, hanya satu orang yang punya pikiran-selicik-dan-sejahil itu di seantaro Hogwarts saat ini. Yeah, siapa lagi kalau bukan Libra Malfoy sang pewaris gen salah satu pembuat onar ulung dalam sejarah, Draco Malfoy. Hermione agak curiga jangan-jangan Topi Seleksi sudah menempatkan gadis yang salah diasrama yang salah.

Dia memilih untuk menghiraukannya selama dua bulan terakhir. Tapi tidak untuk yang satu ini, dia tidak akan mentolerir siapapun yang berani bermain-main dengan buku-bukunya—catat itu tidak seorangpun. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, Like Father-Like Daughter. Well, sekarang Hermione percaya 100% peribahasa klasik semacam itu.

"Ada apa dengan Professor Granger?" Andrea menautkan alisnya bingung saat menatap punggung Hermione berlalu ke meja guru dengan menghentak-hentak saat ia baru datang.

"Aku tak tau dan aku tak peduli" jawab Lye malas dan membuat Andrea mengangkat bahunya lalu memutuskan tak mau bertanya lebih lanjut.

"Eh, kau ada seleksi Quiddicth kan hari ini?"

Lye mengangguk-ngangguk bersemangat dan tersenyum lebar. Tak perlu ditanya lagi, betapa dia ingin menjadi seeker andalan tim Quidditch Gyffindor. Bahkan rumput tak bergoyang dihalamanpun tahu akan hal itu(oke ini memang tidak nyambung). Intinya dia sudah menunggu lama sekali untuk memenangkan Piala Quidditch dan dia pastikan itu akan terjadi tahun ini.


Seleksi Tim Quidditch Gryffindor diadakan dihari sabtu dan ditengah udara yang mulai menusuk kulit menandakan musim dingin yang sepertinya akan datang lebih awal. Dan kalau boleh jujur, Lye gugup sekali. Dia sedang menanti giliran untuk diseleksi di pinggir lapangan dengan resah. Roger Tammel, Kapten Tim Quidditch Gryffindor sedang menyeleksi seorang anak tahun ke lima yang Lye ketahui bernama Arnette Grey. Dia lumayan, Lye jadi tambah gugup.

"Gugup Lye?" suara James Potter menyela Lye dari memperhatikan Arnette Grey yang sedang berputar berusaha memasukkan sebuah Quaffle ke gawang yang dijaga Tammel. Lye hanya tersenyum lemah. James juga bermain sangat bagus, pikirnya galau.

"Percaya diri, Libra. Aku tau kau pasti bisa, Semangatlah" James tersenyum lebar dan menimbulkan garis-garis tipis disekitar matanya yang membuat senyumannya—Lye harus mengakui itu—sangat menawan dan . . . menenangkan.

"Thanks James" Lye membalas senyuman James yang dengan sangat mengejutkan sangat ampuh meredakan kegugupannya.

'James benar-benar baik, dan juga tampan kalau tersenyum' batinnya tanpa sadar. Apakah Lye baru saja bilang tampan? Oh tidak otaknya mungkin sudah membeku karena dingin.


"Permainanmu bagus Malfoy" Tammel menepuk pelan bahu Lye saat seleksi telah berakhir.

"Kau juga Potter" sambungnya saat melihat James mendekat.

"Selamat, permainanmu bagus" James mengulurkan tangannya menawarkan jabatan saat Tammel sudah berlalu. Lye hanya memandang sodoran tangan James beberapa saat sebelum dia menyadari kalau tangan itu seharusnya sudah ia jabat dari tadi. James menarik tangannya setengah-malu-setengah kecewa saat Lye baru mau menyambut uluran tangannya—lalu James menyodorkan tangan lagi—Lye malah menarik tangannya salah tingkah.

"Kau jauh lebih baik" balas Lye setelah insiden jabatan gagal tadi agak merusak suasana.

"Ke Asrama?" Lye hanya mengangguk mengiyakan dan mengikuti langkah James menuju kastil.

"Aku tak sabar menunggu pengumumannya" Lye memulai pembicaraan setelah beberapa saat mereka berjalan dalam diam. Merlin, kenapa semua jadi aneh. Dia tak seharusnya berjalan berdua-sambil-diam-diaman-salah-tingkah dengan James Potter seperti ini. Kayak bukan Libra Malfoy saja.

"Kau pasti masuk" James menyeret Thunderboltnya malas-malas. Suaranya tidak bergetar kan barusan? Demi lubang hidung Voldemort, katakan tidak.

"Jangan bicara seperti itu, kau membuatku berharap terlalu banyak" balas Lye yang entah-kenapa tak tertarik memandang kearah selain lantai dibawah kakinya.

"Aku harap kau masuk" ulang James sambil terkekeh pelan. Oke ini lebih baik, setidaknya dia sudah bisa terkekeh meski agak kurang natural.

"Itu lebih baik. Dan aku harap kau juga masuk" Lye sudah berhasil menghilangkan suasana salah-tingkah diantara mereka. Memangnya kenapa dia harus salah tingkah? Dia kan tidak menyukai James, eh tunggu dulu memang kalau salah-tingkah itu berarti menyukai? James memang keren sih—hey! Stupid Lye. Pikiran macam apa itu.

Ada keheningan lagi setelah itu. James dan Lye tetap berjalan beriringan atau lebih cocok dibilang sejajar—mengingat mereka terpisah selebar koridor, Lye berjalan agak dipinggir kiri dan James dipinggir satunya.

"Besok pekan Hogsmeade yang pertama kan?" sebuah pertanyaan retoris,James. Bukankah itu sudah sangat jelas. Tertulis besar-besar di papan pengumuman Gryffindor sejak bulan lalu.

Lye agak heran, tapi toh dia mengangguk juga.

"Kau mau pergi bersama siapa?" suara James terdengar lirih. Beruntung mereka berada di koridor yang sepi kalau tidak, mungkin tak ada yang bisa mendengar pertanyaan itu selain dirinya.

Lye berpikir sejenak. Dipastikan dia akan sendirian lagi jika ikut ke Hogsmeade besok. Teman-temannya pasti punya kencan-entah-apa lagi dengan pacar-pacar mereka. Apakah sebaiknya dia tidak ikut saja ya? Lagipula, Ah ya—dia hampir lupa—detensi dengan Professor Hermione'Rambut-Gulma'Granger menunggunya besok malam.

"Aku tak tau" kata Lye. Sebaiknya dipikirkan dulu saja untung dan ruginya baru diputuskan pergi atau tidak.

"Apkawmaaupegibsama'u?"James mengeluarkan suara tak jelas dari pertautan lidah dan gerak mulutnya yang belepotan.

"Sorry?" respon Lye dengan tampang takjub. Bahasa apa itu barusan?

"Apakah. Kau . Mau. Pergi. Bersamaku?" oke, itu translate dari bahasa-asing-entah-darimana yang baru saja keluar dari mulut James. Dan seandainya Lye memperhatikan, ada semburat merah muda dikedua pipinya.

DEG.

Suara apa itu? jangan bilang kalau itu detak jantung Lye. Tidak, no,no. Dia tidak berdebar-debar kok, hanya terkejut—sedikit—oke? . Lye blank, dia harus menjawab apa? "Iya, dengan senang hati James" kok kayaknya gampangan sekali atau "Entahlah, akan kupikirkan" itu malah terdengar terlalu sok jual mahal.

"Oh,Ok" Jawab Lye akhirnya. Mereka hanya akan berakhir-pekan sebagai—teman. Berakhir pekan bersama teman bukan berarti kencan kan?. Oh, ini sudah melenceng terlalu jauh. Kembali ke benang merah Libra Malfoy.

"Oke" hanya sesimple itu dan besok mereka akan ke Hogsmeade berdua—ingat itu berdua. Seulas senyum tipis terbentuk apik di kedua belah bibir James.


Lye mematut dirinya dicermin. Gaun biru satin selutut yang senada dengan manik safirnya sudah melekat sejak dua jam yang lalu. Gaun ini cukup santai tapi apakah masih terlalu berlebihan? Apakah sebaiknya pakai jeans dan t-shirt saja? Dia sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. Tapi kalau pakai jeans apa tidak jadi aneh? Apalagi nantikan dia harus pakai mantel musim dingin. No, dia tak mau telihat seperti daging gulung dengan stik—kakinya kan kurus sekali. Lye menggeleng-gelengkan kepalanya.

Rambut, apakah harus digerai atau diikat saja? Digelung mungkin? Tapi tidak ah, digerai saja. Sepatu, high heels? jelas sekali tidak. Sneakers kelihatannya oke . Mantel, warna putih? Atau biru? Ah, putih saja ini kan yang paling baru. Bedak, sedikit. Tak perlu make up apalagi lipstick tapi sedikit lipgloss mungkin tak masalah. Dan sentuhan terakhir, bando berwarna perak dengan aksen mawar merah kecil-kecil.

"Lumayan" ucap Lye puas pada bayangannya dicermin. Dia adalah cetakan Draco Malfoy versi cewek yang sangat manis dan tidak kehilangan karisma seorang Malfoy yang mampu membuat dunia terkesima. (Hiyaak! Author lebay (,)). Haaah, dia tidak bisa tidak merasa beruntung menjadi putri seorang Draco Malfoy untuk alasan yang satu ini. (Author : Tuhan memberkatimu,Nak!)

Tapi sebentar, untuk apa dia berdandan? Dia kan Cuma mau melewatkan-akhir-pekan dengan teman—garis bawahi itu—apakah ini terlihat terlalu niat hanya untuk seorang teman?. Apa sebaiknya ganti jeans saja?

"Lye! Waa! Kau cantik sekali" Lily tiba-tiba datang entah dari mana dan tau-tau saja sudah berdiri dibelakangnya. Untung Lye tidak punya penyakit jantung, karena kalau iya dia bisa-bisa mati mendadak disebabkan oleh kedatangan Lily yang tak-dijemput apalagi pulangnya pasti tak diantar *Eh?*

"Kau berdandan untuk James? Beruntung sekali kakak tercintaku itu" Lye langsung melotot. Tidak, dia tidak berdandan untuk James. Siapa bilang? Dia Cuma, Cuma . . iseng. Yah, iseng. Tapi Lye tak sempat membela diri, karena Lily sudah menyeret-nyeretnya keluar kamar.

James sedang duduk tak nyaman dikursi berlengan empuk di ruang rekreasi Gryffindor. Hari ini dia akan pergi dengan Libra Malfoy—dia girang sekali menyebutnya—ke Hogsmeade. Waw, bukankah itu suatu kemajuan yang luar biasa pesat? Setelah setahun lalu dia Cuma mendapat satu-dua sapaan saja setiap hari dari Lye.

James terpesona. Entahlah, dia tak bisa menemukan kata yang lebih baik lagi untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini. Lye cantik sekali—well, dia tahu gadis itu cantik—tapi kali ini berbeda. James tak pernah tau kalau sneakers dan dress akan nyambung jika dipakai bersama tapi itu terlihat sangat indah membalut tubuh Lye. Demi Godric, apakah rambutnya memang selalu bersinar dan terlihat lembut? dan matanya adakah yang bisa lebih biru dari itu?.

"Kau ngiler, James" James refleks langsung mengusap ujung bibirnya. Tak ada apa-apa, dia tidak ngiler. Lily sialan!

"Well, selamat bersenang-senang. Aku harus menemui Kevin. Dan kau James, jaga temanku baik-baik" Lily mengucapkan pesan terakhirnya untuk James dengan tatapan yang kurang lebih berarti 'awas-kalau-lecet-kubunuh-kau'. James hanya memberi cibiran singkat kearah punggung Lily yang menjauh.

"Kita berangkat?" James menawarkan lengannya. Oke, ini agak ekstrim. Satu detik, dua detik, . . . lima belas detik. Dan akhirnya dengan agak ragu-ragu lengan pucat Lye melingkari lengan James perlahan. Untung Lye masih memegangnya, kalau tidak James pasti sudah terbang kelangit-langit saat ini.


"Kita tidak ke Three Broomstick?" tanya Lye heran saat James tidak membawanya masuk ke kedai minum yang kelihatannya akan segera meledak oleh jejalan murid-murid Hogwarts.

"Apa kau tidak bosan kesana terus?" James terus menarik Lye menjauhi The Three Broomstick. Dia harus membuat hari ini berkesan. Harus. Tidak boleh hanya berlalu dengan hal yang biasa-biasa saja. Three Broomstick? Ah, itu sudah basi.

James dan Lye berbelok di persimpangan, kearah kiri. Perasaan Lye mulai tak enak. Mereka tidak bisa—bukan, tidak boleh kesini.

"James, kita ke Shrieking Shack?" tanya Lye agak bergidik. Apa putra sulung Harry Potter, pahlawan dunia sihir yang legendaris ini sudah kehilangan akal sehatnya?

"Kau sudah tau? Well, tidak terlalu surprise lagi" Lye tak percaya mendengar kekecewaan James. Yang benar saja, surprise? Kejutan apa yang bisa dia dapatkan di tempat paling horror seinggris raya. Pesta-piyama-khusus-hantu? Oh sebaiknya mereka mulai mencari dimana kira-kira James menjatuhkan kewarasannya.

Sepertinya James melihat perubahan raut wajah Lye karena dia langsung cepat-cepat menambahkan "kau takut? Tenang saja, tak ada apa-apa disana. Masalah hantu-hantuan itu cuma rumor" Jangan bercanda, Libra Malfoy tidak pernah takut. Dia sudah bertemu lusinan hantu setiap harinya di Hogwarts kan? dan apa bedanya itu dengan hantu-hantu lain.

"Bu bukan begitu" helaan pendek " Hanya saja, bukannya kita tidak boleh kesana? Itu, ada diperaturan sekolah" Bagus Lye, itu sangat meyakinkan. Sejak kapan dia peduli dengan kata 'peraturan'. Dia bahkan tak pernah memasukkan kata itu dikamusnya.

"Kurasa tidak. Kita mendapat izin mengunjungi Hogsmeade dan terakhir ku-cek Shrieking Shack masih berada dalam wilayah Hogsmeade" James nyegir lebar. Benar kan ! Dasar Lye sok tau.

Tenangkan dirimu, Lye. Apa salahnya menengok-nengok gubuk reyot. Tak akan membunuhmu. Jadi ini hanya semacam jalan-jalan yang agak—well, boleh kan dia memakai kata seram?.

Mereka terus mengikuti jalanan berbatu yang makin lama makin menyempit sampai hanya menyisakan sebidang kecil jalan setapak. Dikejauhan tampak sebuah rumah tua reyot dengan pintu dan jendela yang dipaku dengan kayu. Rumah itu berada di lereng bukit, butuh sedikit mendaki untuk sampai disana. Untung Lye memakai sneakersnya.

Kesan pertama Lye terhadap gubuk itu adalah jelek baru kemudian mengerikan. Sumpah jelek sekali, seharusnya sesuatu seperti ini sudah dirobohkan sejak lama. Merusak pemandangan saja. Meski tetap mengerikan juga sih. Suasana disekitar mereka suram karena pintu dan jendela yang dipaku rapat serta halaman lembab yang dipenuhi tumbuhan liar.

James membawa Lye memutari rumah itu keutara. Melewati sekumpulan semak-semak berduri dan puluhan jembalang bahagia yang sepertinya tak pernah terusik pembersihan-hama seumur hidup mereka.

"Aku ingin menunjukkanmu sesuatu" suara James berubah lembut sekali. Lye tak berani menatap wajahnya. Bagus, dalam beberapa jam saja James sudah merubahnya menjadi seorang pengecut.

"Kau mau apa?" Lye menghindar saat James mengulurkan tangan hendak menutup matanya.

"Hei, ini kejutan. Kau harus menutup matamu" Baiklah ini mulai diluar jalur dan sudah terlalu jauh dari apa yang Lye bayangkan sebagai prosedur 'normal' jalan-jalan dengan teman. Kejutan? Setaunya, teman tidak saling memberi kejutan dengan cara seperti ini.

Kalau James teman yang aneh, berarti Lye adalah teman yang tidak kalah aneh. Bayangkan saja, bagaimana mungkin dia mau-maunya menutup mata dengan kedua telapak tangan James lalu menurut saja dituntun entah-kemana.

"Kau bisa membuka matamu sekarang"

Hal pertama yang dilihat Lye saat membuka matanya adalah merah, merah dimana-mana. Sejenak dia berpikir sedang berdiri ditengah-tengah rumpun mawar. Tapi pohon mawar berkayu dan tidak serendah ini, bentuk bunganyapun berbeda. Bunga-bunga itu berwarna merah tapi lebih tua dari mawar, batangnya lunak dan setinggi tulip, bunganya yang tidak terlalu besar tersusun dari mahkota-mahkota berbentuk hati, dan yang agak aneh tapi justru menambah keindahannya adalah daun-daunnya berwarna hijau kehitaman. Dan satu hal yang membuat Lye tak sanggup mengalihkan perhatiannya adalah mereka—bercahaya seperti lampu-lampu meja yang tertanam ditanah. Cantik sekali.

"Deafloss merah" kata James sambil tersenyum lega saat melihat Lye senang dengan 'kejutannya'.

"Deafloss—bunga para dewi. Kau tak pernah dengar?" Lye menggeleng. Sepertinya dia harus mulai benar-benar memperhatikan Professor Sprout di pelajaran Herbologi setelah ini.

"Kenapa mereka dinamai seperti itu?" tanya Lye antusias.

"Deafloss terdiri dari lima jenis. Merah, hijau,biru, kuning dan keemasan. Tiap-tiap mereka memiliki keistimewaan yang beragam. Deafloss merah ini kadang-kadang juga disebut Aphrodite, dewi kecantikan dan cinta. Deafloss merah adalah bahan utama pembuat ramuan Armotentia—Lye terkejut mendengar ini—dan salah satu tanaman yang paling dicari untuk pembuatan ramuan kecantikan. Sedangkan Deafloss yang lain juga dikaitkan dengan dewi-dewi. Seperti Deafloss biru, sering disebut sebagai Athena—dewi kebijaksanaan dan kecerdasan. Bisa membantumu untuk mendapatkan 12 OWL Outstanding jika diramu dengan benar. Hanya saja, meramu Deafloss susah sekali. " jelas James panjang lebar berharap Lye menangkap maksud tersembunyi dari tujuannya menunjukkan 'Bunga-Cinta' ini.

Lye hanya mendengarkan dengan takjub. Bagaimana bisa tanaman seindah ini tersembunyi dibalik sebuah rumah-buruk-rupa. Seperti menemukan berlian didalam genangan lumpur.

"Bagaimana mereka bisa ada disini?"

"Ah, itu err—aku mendapatkan bibitnya waktu liburan musim panas dari—eh teman Dad. Aku tak menemukan tempat untuk menanamnya, jadi kutanam saja disini. Biasanya mereka tumbuh di tempat-tempat yang sulit dijangkau seperti dipuncak gunung, ditengah hutan ataupun dibebatuan cadas dipinggir pantai. Tapi mungkin karena tempat ini tak pernah didatangi orang jadi mereka bisa tumbuh dengan baik" James nyengir-nyengir diantara kalimatnya. Lye tak perlu tau kalau dia susah payah menabung dan membelinya diam-diam di Knocturn Alley agar bisa mendapatkan bibit Deafloss(yang sangat mahal) ini dengan resiko dihukum Ayahnya karena berani-beraninya datang kesana. Ditambah lagi dia harus susah-payah -mencari kesempatan untuk menyelinap kesini melalui terowongan di dedalu perkasa dan mengorbankan sebagian besar waktu tidurnya—beruntung dia adalah putra sulung Harry Potter yang mewarisinya Marauder-Map dan jubah gaib. Tapi melihat senyuman Lye yang hanya untuknya saat ini, semua itu terasa tak ada apa-apanya. Just a piece of cake, mudah sekali. Dia rela melakukannya berbulan-bulan lagi asal masih bisa melihat senyuman itu.

"Oh ya? Aku tak tau kau tertarik dengan Herbologi—"memang tidak, aku tertarik padamu tau!" batin James—tapi bagaimana…" kalimat Lye terhenti saat melihat tanaman itu—setidaknya dia mengira begitu beberapa saat yang lalu—bergerak maju mundur dan kembang-kempis seperti bernafas?

"Mereka bernafas?" tanya Lye tak percaya.

"Oh, bukan. Ayo kutunjukkan bagian paling menariknya" James melangkah mendekati rumpun-rumpun Deafloss dan berjongkok disana."Ayo sini" Lye mendekat dan mengikuti James berjongkok.

"Lihat ini" kata James sebelum dia menjentikkan jarinya disebuah bunga. Perlahan-lahan kelopak-kelopak berbentuk hati di bunga itu mengembang membuka dibagian tengahnya. Lye hampir ternganga saat melihat makhluk-makhluk kecil sebesar ibu jari berterbangan keluar dari sana. Mereka terlihat seperti bayi yang sangat kecil, dengan rambut kecoklatan keriting pendek dan bersinar seperti kunang-kunang. Dua sayap kecil mengepak lembut dibalik punggungnya.

"Cupid" ucap James sebelum Lye sempat bertanya "Mereka yang menyebabkan Deafloss bercahaya" Lye mengangguk. Siapa yang tidak tau cupid. Itu adalah dongeng kesukaannya waktu kecil dan dulu dia benar-benar percaya kalau suatu saat cupid akan memanah hatinya lalu membuatnya jatuh cinta pada seseorang. Dongeng masa kecil yang konyol sekali.

"Tapi, mereka tidak membawa panah?" tanya Lye refleks.

James tersenyum dan menggeleng "Ini bukan cupid seperti yang diceritakan di dongeng. Mereka hanya makhluk sihir yang tinggal di dalam Deafloss merah. Aku tak tau apa nama cupid berasal dari dongeng atau malah dongeng itu yang berasal dari keberadaan mereka"

Lye hanya mengangguk-angguk mengerti. Satu cupid mendekat, wajah mungilnya yang menggemaskan membuat Lye ingin menyentuhnya. Dia menengadahkan tangan dan cupid kecil itu mendarat ragu-ragu. Perlahan, dengan hati-hati sekali Lye mencoba membelai wajah cupid itu dengan jari tangannya yang bebas. Awalnya tidak terjadi apa-apa tapi sepertinya si cupid merasa terancam dan menggigit jari Lye yang berada didepan wajahnya lalu terbang menjauh.

"Oh . ." Lye meringis pelan saat beberapa tetes darah segar keluar dari luka kecil yang ditimbulkan cupid-marah tadi di jari telunjuk kanannya.

"Kau digigit?" seru James panik lalu melakukan sesuatu yang mengejutkan mereka berdua—menghisap jari Lye yang terluka. Lye memandang James penuh tanda tanya dan menarik-narik jarinya. Ini hanya luka kecil dan kenapa James bersikap berlebihan seperti ini?

"Kau kenapa sih?" tanya Lye setelah James melepaskan tangannya. Dia agak marah, seenaknya saja main hisap-hisap jari orang. Memang jari Lye lolipop gratis apa.

"Gigitan. Cupid . Beracun" jawab James terbata. Wajahnya memerah, dan berkeringat. James terduduk lemas di tanah berumput. Lye ternganga tak percaya, jadi alasan dari tindakan James barusan adalah untuk menyelamatkannya dari keracunan air-liur-cupid? Oh mulia sekali.

"Kau baik-baik saja?" Lye memegangi lengan James, panas—bukan—lebih seperti mendidih. Tindakan heroic James barusan sudah membuatnya harus menggantikan posisi Lye untuk keracunan. James mengangguk lemah. Hanya orang bodoh yang percaya dengan anggukan itu, dan Lye bukan orang bodoh.

"Aku harus membawamu ke Hospital Wings" putus Lye. Tapi bagaimana caranya? Kalau harus membopong James menuruni bukit, berarti mereka harus bersiap-siap untuk berguling-guling sampai dibawah. Tubuh James lebih tinggi beberapa inci dari Lye dan tentu saja berat. Satu lagi berita buruknya, mereka sedang diluar sekolah dan itu berarti tidak ada sihir.

"Lewat sana saja" ujar James pelan sambil menunjuk sebuah pintu dibelakang mereka menuju kedalam Shrieking Shack. Maksudnya apa? Meminta tolong dari penghuni rumah?.

James mengeluarkan sebuah perkamen dari saku mantelnya. "Aku bersumpah dengan sepenuh hati bahwa aku orang tak berguna" Lye menaikkan alisnya tak mengerti saat James mengetuk perkamen itu dengan tongkatnya. Apa air-liur-cupid juga menyebabkan seseorang mulai tidak waras?.

"Disini. Terowongan ini" James menunjuk sebuah garis panjang meliuk di perkamen. Perkamen itu berisi sesuatu seperti peta Hogwarts?. Lye ingin bertanya tapi tak mungkin disaat seperti ini. Sudahlah, masa bodoh dengan pertanyaan-pertanyaannya. Lye melingkarkan lengan James dibahunya. Mereka memasuki pintu yang sepertinya sudah dibuka dengan paksa. Dengan instruksi James, Lye menemukan sebuah lubang di lantai rumah yang ditumpuki debu. Agak ragu, Lye memasuki lubang itu dan membopong James melewatinya. Terowongan itu gelap, tapi untungnya masih cukup tinggi untuk berdiri. Lye agak kesusahan membopong James yang kelihatan sudah lemas sekali dan menarik nafas tak teratur. Ia menyeret James sekuat tenaga ditengah kegelapan, tak terpikir apakah sudah bisa menggunakan tongkatnya atau belum. Lye berjalan kepayahan, melewati genangan lumpur dan menerobos entah sudah berapa sarang laba-laba. James seakan sudah tak bergerak disampingnya. Wajah Lye sudah basah oleh air mata dan penuh lumpur, entah sejak kapan dia mulai menangis.

"James, bertahanlah,kumohon" isak Lye tertahan.

To Be Continued

A/N :

Naughty As Me :Hyaa tebakannya salah. Maaf anda belum beruntung! Coba lagi? #gubrak!. Hehe tapi enggak kok, belum. Pertemuan Hermione-Draco aku simpen dulu, next chapter maybe?. Masalah alur? Iya ya? Waah, aku perlu belajar lagi nih. makasih ya :D.

Atacchan(Double 'c' bukan double 't') : maaf ya atacchan, namanya pake salah tulis hehe. Makasih udah review.

dind4: Maaf ya, kayaknya minus aku udah nambah nih, sekarang huruf A nya udah diilangin kok hehe. Ibunya Lye? Sebenernya itu aku lho ! *ditimpukdind4*

degrangefoy : Hai kamu possesif banget ya sama Draco. Aku gak janji ya kalo ibunya Lye itu Hermione, sebenernya aku belum mutusin sih hehe kita lihat saja kemana cerita ini bakal berujung nantinya,gak marah kan?*winkwink*. Tapi kamu tenang aja dijamin gak bakal ada cewek lain dihati Draco kok(paling-paling juga cuma aku*dipanggang*). Makasih reviewnya, aku bakalan belajar terus.

Zean's Malfoy : makasih udah review. Keep reading ya.

Weaselle7: Hai lagi juga. Nggak papa kok. Hyaah, yang ini kepanjangan gak sih?. Makasih ya udah review.

Chapter yang agak gaje menurut saya. Bener gak sih? *pundungdipojokan*.

Ohya Deafloss itu bahasa latin(Dea: Dewi dan Floss/Floris : bunga) dan cupid-cupid-an itu karangan author. Yang bahan dasar armotentia itu juga buah kesoktauannya author#nyengirkuda.

Nah, ini saatnya menunggu review lagi. If you mind please? *Puppy-eyes*