Chapter 5

A/N : Hyaaah—masih adakah yang nungguin fic ini update? Maaf banget aku updatenya kelamaan *digaplok. Kenapa? Tanyain sama guru-guruku yang kayaknya kok ya kompak banget ngasih tugas seabrek dan harus dikumpulin dalam waktu yang nyaris bersamaan. Tapi yasutralah, jangan bahas tugas-tugas itu, bikin alergi *garuk-garuk*. Sebagai ganti update yang lama, aku update dua chapter sekaligus. Wheheh, silahan di enjoy atuh pembaca yang budiman !

Disclaimer : Masih sama sama chapter kemarin

Warning : OOC, typo, misstypo, gaje, abal, + OC, etc

Happy Reading, Readers

Harry Potter © JKR

All You Have to Do is Wait © WFD

Normal POV

"Lupakan kau pernah memiliki seorang putri dan akan lebih baik jika kau meninggalkan Negara ini" suara Lucius Malfoy bergaung di tengah ruangan bernuansa hitam putih pudar itu. Dua orang yang juga sedang bersamanya tercekat—dan khusus untuk Hermione—terhenyak dikursinya. Tak ada yang bersuara untuk beberapa menit yang menjengahkan. Draco Malfoy, yang berdiri di sudut paling jauh dari Ayahnya dan Hermione hanya menundukkan kepala menatap ujung sepatunya.

"Kenapa? Saya bahkan tidak pernah menuntut apapun dari anda—atau putra anda—untuk anak ini" balas Hermione memberanikan diri menatap Lucius tepat dimatanya dan mengeratkan dekapan pada bayi mungil digendongannya.

Pria paruh baya itu meringis samar saat merasa terusik dengan tatapan Hermione, sebelum memasang topeng-tanpa-ekspresinya kembali dan bersuara "Kau tau apa yang ku maksud Ms. Granger" dia memberi jeda, seakan memikirkan padanan kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang ia pikirkan "Kau dan Draco, tak seharusnya bersama—apalagi memiliki seorang anak"

Batin Hermione mencelos, ada rasa tak terima menggores harga dirinya namun dibalik itu akal sehat dan logikanya dengan berat membenarkan pernyataan tersebut. Ya. Dia dan Draco Malfoy tak sepantasnya bersama. Mereka berada di dua kubu yang berseberangan, mustahil bisa berdiri bersisian.

"Terserah. Tapi saya tidak akan pernah menyerahkan putri saya kepada anda—jika kalian mau,kalian bisa menganggap kami tidak ada—dia adalah putri saya, hanya putri saya" tekan Hermione sambil melempar pandangan menusuk pada Draco yang masih berdiam diri disudut ruangan, mengasingkan diri.

"Semua orang akan tau saat anak ini besar nanti. Dia memiliki ciri seorang Malfoy yang takkan bisa disembunyikan bagaimanapun caranya" kata Lucius bersikeras.

Hermione menatap lekat bayi di gendongannya, dagu runcing, kulit pucat dan rambut pirang platina yang persis seperti milik Draco dan Lucius mematri setiap lekuk tubuh putri kecilnya. Dan siapapun akan tau, ada kloningan mata biru sapphire Narcissa Malfoy di kedua bola mata bayi mungil itu. Nyaris tak ada jejak-jejak kemiripan dengan Hermione selain gelombang-gelombang yang membuat rambut pirangnya terlihat lebih indah. Ya, putrinya adalah cetak biru anggota keluarga Malfoy. Dia sudah menyadari itu sejak kali pertama.

"Saya akan membawanya jauh-jauh dari sini" balas Hermione tak mau kalah.

"Bagaimanapun juga, dia cucuku"

"Jangan bersikap seolah-olah anda peduli, Mr. Malfoy. Saya ingatkan jika anda lupa, darah saya juga mengalir dinadinya. Darah lumpur, begitu anda selalu menyebutnya kan?" kata Hermione.

"Ya, tentu saja—kalau kau bertanya. Biarpun reputasiku hancur setelah perang, tapi aku tak mungkin melupakan prinsip keluargaku Ms. Granger" ada jeda lagi seperti sebelumnya "Tapi sayang, kali ini masalahnya tak sesederhana itu. Kita berada di posisi yang bertolak belakang saat ini. Kau berdiri di kelompok yang sedang dipuja-puja dan kami berdiri sendiri disisi terasing dan dihujat—baik oleh masyarakat sihir ataupun mantan pelahap maut yang masih bisa bebas serta yang mendekam di Azkaban. Reaksi apa yang kau harapkan jika mereka mengetahui ini? Restu dan dukungan?" Lucius memotong kata-katanya dengan nada meremehkan di tiga kata terakhir. "Putri dari seorang pahlawan dan penghianat, apa menurutmu kata itu cocok disandingkan?"

Hermione kehabisan kata-kata. Dia bisa saja membawa putrinya jauh-jauh dari sana, kebelahan dunia lain kalau perlu. Tapi gen Malfoy yang merajai setiap jengkal tubuh putrinya membuat seakan-akan itu terlalu jauh untuk dijangkau asanya. Dan lagipula seberapa jauh dia sanggup bersembunyi?.

"Biarkan dia menjadi seorang Malfoy. Akan lebih mudah baginya dimasa depan. Kau adalah pahlawan bagi orang-orang yang menganggap kami penjahat, jangan biarkan anak ini kehilangan harga dirinya dimata orang-orang itu karena dianggap buah dari kesalahan pahlawan mereka dengan seorang penjahat" kata Lucius.

Kalimat terakhir Lucius bergema di dinding telinga Hermione. Menyampaikan impuls yang sama dari saraf pendengaran ke otaknya berkali-kali, seakan kalimat itu diulang dalam interval tertentu dalam kepalanya. Harga diri. Apakah benar hanya itu yang sanggup ia berikan untuk putrinya?. Dalam sisa-sisa kekuatan, Hermione memutuskan untuk memandang Draco, bukan tatapan menyalahkan atau menghujat tetapi tatapan sayu penuh permohonan. Draco mengangkat kepalanya saat merasakan Hermione memaku pandangan padanya, namun hanya beberapa detik sebelum kembali menunduk—dan menghantamkan pukulan telak di jantung Hermione. Usaha terakhirnya gagal, Hermione tau batinnya baru saja mengakui itu tanpa keraguan.

OooO

Kelopak mata Hermione menjeblak terbuka. Mimpi itu lagi. Tak peduli sudah berapa lama semua itu berlalu, dia masih bisa mengingatnya seakan baru saja terjadi sedetik sebelumnya. Tak perlu membahas bagaimana perasaannya, takkan pernah ada ada yang mampu mengerti sedalam apa dia terluka. Bahkan tidak dirinya sendiri. Masih ada beban berat menggelayut di dadanya, sisa pertemuan dengan Draco kemarin. Hermione menyesali bagaimana dia malah bertransformasi menjadi Drama Queen seperti seorang gadis remaja akhir-akhir ini. Sudah cukup menyiksa diri sendiri, putusnya dan kembali mencoba menutup mata.

OooO

Lye menggeliat saat merasakan kesadaran kembali menguasainya. Kepala dan tengkuknya terasa nyeri mendenyut-denyut. Karena masih berada didalam keadaan trans setelah bangun tidur dia tak mampu memikirkan apapun selain senat-senut disekujur tubuhnya. Tak lama, dia menyadari posisinya yang sedang dalam keadaan duduk dan langsung menyalahkan posisi tidur paling tidak nyaman itu sebagai tersangka. Dia mencoba bangun, dan langsung sempoyongan karena pening—'brengsek'—umpatnya tertahan. Setelah beberapa langkah, perlahan-lahan dia mulai mengingat sesuatu. Detensi ! adalah kata pertama yang menjerit dan sukses mengembalikan kesadarannya kembali ke titik paling waras. Matanya membelalak terbuka dan langsung mengobservasi ruangan tempatnya berada. Rak buku , rak buku, rak buku dan rak buku. Dia tak percaya dia bisa merasa lega saat melihat deretan panjang rak buku berwarna coklat tanah itu didepan matanya. Jam diatas perapian sedang menggeser ke angka 5 dan puluhan buku berserakan dimana-dimana. Great, sepertinya dia akan menghabiskan beberapa akhir pekan lagi di kantor merangkap perpustakaan ini.

Lye meraih sebuah buku tak jauh dari kakinya, menumpuk-numpuk serampangan tanpa membaca judulnya sama sekali. Dia merasakan ada perasaan asing, tapi tak bisa mengingat mengapa. Disaat masih mencoba mengingat-ingat dia menemukan sebuah tangan tergeletak diantara buku-buku—dan menjerit terkejut. Rambut pirang dan tubuh pucat itu ! Itu dia ! Itu tubuhnya !

Apa dia sudah mati? Tanyanya pada diri sendiri. Tapi bagaimana bisa? Lalu dia ingat semalam dia kesakitan, tapi kenapa? Ah, mantera ! Dia ingat kesakitan setelah merapal sebuah mantera. Jadi mantera apa itu? Dia 100% yakin kalau itu bukan avada kedavra. Lagipula kalau memang iya, seharusnya yang mati bukan dia, tapi Professor Granger kan?. Lye masih sibuk bertanya-tanya saat matanya menangkap bayangan dicermin. Dia mengerjap, ada yang salah. Mengerjap lagi,dia yakin ada sesuatu yang berbeda. Di kerjapan yang ketiga, dia berteriak histeris luar biasa keras lalu langsung ambruk tak sadarkan diri tepat saat tubuh pucat yang berbaring dikakinya itu terbangun.

"Kenapa kau berteriak-teriak Ms. Malfoy?" Hermione langsung membekap mulutnya sendiri saat mendengar suara yang keluar bersama kalimatnya barusan . Itu bukan suaranya. Takut-takut, dia memutar tubuhnya ke arah cermin—dan seperti tak mau kalah dengan Lye—langsung berteriak gila-gilaan kerasnya saat menemukan bayangan siapa yang menatapnya balik dicermin serta tubuhnya yang tergeletak tak sadarkan diri.

Demi tenggorokan merlin, katakan kalau dia masih bermimpi.

OooO

Hermione—dalam tubuh Lye—melakukan gerakan berputar-putar tak beraturan mengelilingi ruangan yang diperuntukkan sebagai kantornya selama mengajar di Hogwarts itu. Sesekali matanya mendelik tajam pada tubuhnya sendiri yang menekuk lutut dilantai.

Lye—dalam tubuh Hermione—menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut. Jiwa raganya sedang diobrak-abrik oleh segala macam perasaan yang bercampur aduk menjadi satu. Dia sitertuduh, tersangka dan pengacau. Dia tak pernah merasa semenyesal ini karena telah melakukan keonaran sebelumnya.

"Kau benar-benar sudah menghancurkan semuanya, Libra Malfoy" geram Hermione putus asa.

"Saya tau, Professor. Anda sudah mengatakannya puluhan kali" jawab Lye antara bosan dan bingung. Dia benar-benar merasa bodoh sekarang. Orang idiot mana yang mau-maunya merapal mantera tak jelas dan bahkan tanpa mengetahui mantera apa itu?. Oh ya—orang itu adalah dirinya sendiri.

"Mantera Mareplecia adalah mantera berbahasa Rune Kuno yang kuterjemahkan dengan susah payah dan aku sendiri bahkan tak tau kegunaannya. Tapi sepertinya aku harus berterimakasih padamu karena sudah memberi tahuku" balas Hermione sarcastic. "Dan sekarang apa kau bisa memberitahuku apa kontra-kutukannya, Spell Mistress?"

"Saya tidak tau, Professor" jawab Lye pasrah. Dia berusaha tenang, saat ini dia sudah terperangkap didalam tubuh orang yang menduduki peringkat pertama pada daftar orang-orang yang paling tidak dia sukai. Apa yang bisa lebih buruk dari ini?

"Sudahlah, aku akan memikirkannya. Sebaiknya kau bersiap, aku akan mengajar pagi ini"

Lye tidak menjawab dan langsung berbalik menuju pintu keluar tapi langkahnya terhenti saat Hermione memanggilnya lagi.

"Ya Professor?" tanya Lye.

"Mau kemana kau?"

"Ke asrama Gryffindor"—' Memangnya mau kemana lagi?' Lanjutnya dalam hati.

"Aku yang akan ke asrama, dan kau tetap disini. Kurasa?" kata Hermione tak yakin.

Tiba-tiba kesadaran menyerbu Lye seperti sekumpulan troll. Dia tak mungkin keasrama sebagai Lye dengan tubuh Hermione dan Hermione tak mungkin berkeliaran sebagai dirinya dalam tubuh Lye. Teori yang simple sekali.

"Oh-Oh. Ya benar" aku Lye setengah hati.

Hermione mengangkat bahu sekilas dan menggantikan langkah Lye yang tertunda tadi kepintu keluar.

"Oh ya, dan perlu kau tau. Kau harus menjelaskan puisi Halebor dikelas pertamamu pagi ini" kata Hermione saat akan memutar gagang pintu.

"Tunggu, Professor. Maksud anda? Saya, saya yang akan mengajar?" tanya Lye ngeri.

"Ya, Professor. Kau kan Professornya sekarang" kata Hermione kalem dan lalu menghilang di balik pintu.

Ternyata Lye salah menduga, masih ada yang lebih buruk dibanding terperangkap didalam tubuh Hermione.

OooO

Libra Malfoy's POV

Aku baru mengalami masalah besar pagi ini, sangat besar. Untuk gambarannya, coba kau bayangkan jika kau harus melihat wajah orang yang paling kau benci setiap waktu—maksudku—benar-benar setiap waktu tanpa pengecualian sedetikpun. Bahkan kau masih bisa melihatnya dikelopak matamu saat kau menutup mata serapat-rapatnya.

Terperangkap dalam tubuh Professor Granger adalah hal paling buruk yang pernah kualami seumur hidup. Pertama, dia adalah orang yang menyebalkan. Kedua, aku baru 15 tahun dan dalam semalam bisa-bisanya menjadi wanita berumur 35 tahun. Tak ada seorangpun didunia yang pernah mengalami pertumbuhan secepat ini. Dan yang paling tidak enaknya adalah posisi Professor Granger yang lebih beruntung. Dia menjadi lebih muda dua puluh tahun, semua orang tau itu adalah impian seluruh wanita seumurannya.

Tapi cukup dulu untuk unek-unekku tentang Professor berambut gulma yang tubuhnya sedang kupakai ini. Lupakan sebentar tentang sekelas penuh murid yang sedang menungguku mengajar. Mari kita fokuskan perhatian pada Hospital Wings, tepat di tempat tidur pertama dari kanan. Aku sedang berdiri mematung disamping tempat tidur itu, memegang erat sebuah perkamen. Marauder Map—aku tidak tau apa itu benar namanya hanya saja tertulis begitu—yang belum sempat ku kembalikan pada James. Tak tau dia sedang tertidur atau malah belum sadar sama sekali, tapi sepertinya keadaannya membaik.

Aku meletakkan perkamen itu disamping bantalnya lalu menyihir seikat bunga dari udara kosong dengan tongkat Professor Granger. Tidak senyaman menggunakan tongkatku sendiri, tapi entah kenapa tongkat ini bereaksi baik pada keinginanku.

"Cepat sembuh" bisikku pada James. Seharusnya aku bisa melakukan hal yang lebih baik jika saja tidak karena kejadian bodoh ini. Aku kan belum sempat membalas kebaikannya tempo hari.

Untuk terakhir kali aku menatap wajah James tak tega dan dengan setengah hati mulai menyeret langkah menuju kelasku. Bukan, kelas Professor Granger. Bingung? Percayalah akupun sama.

OooO

Hermione Granger's POV

"Kau baik-baik saja Lye?" Lily menanyakan pertanyaan yang sama entah untuk yang keberapa kalinya saat itu padaku atau pada Lye—terserah kau mau pakai kata ganti yang mana. Aku tidak tau kalau putri Harry yang satu ini bisa begitu cerewet.

"Aku baik-baik saja Lils" jawabku bosan. Gadis berambut merah yang mirip sekali dengan Ginny itu tidak menunjukkan tanda-tanda puas dengan jawabanku dan masih menatap penuh selidik.

"Oh oke, katakan padaku jika kau merasa tidak baik" kata Lily. Dia tidak percaya padaku, dan aku bisa mengerti. Mengingat kebodohanku lupa menanyakan password untuk masuk kemenara Gryffindor—untung Lily lewat untuk patroli prefek paginya—ditambah lagi salah masuk kamar dan nyaris memakai seragam Rose. Jadi tidak heran dia merasa temannya sedang tidak baik-baik saja.

Aku tidak mempedulikannya karena kejadian pagi ini sudah cukup banyak menyita perhatianku. Bertukar tubuh dengan Libra Malfoy? aku tak tau harus senang atau bagaimana. Pertama kali sadar, aku terkejut tentu saja. Tapi setelah kupikir-pikir, kejadian ini cukup memberiku ruang untuk melepas rindu pada Lye—putriku—yang sudah menumpuk dan bahkan mengerak selama bertahun-tahun. Aku bisa menatap matanya, memeluknya—meski itu berarti aku harus memeluk tubuhku sendiri. Aku ingin menangis sepanjang hari saking bahagianya bisa menyentuh putriku lagi.

Sejak pertama melihatnya, aku ingin memeluknya erat. Tapi ada rasa takut yang menarikku jauh-jauh dari gagasan itu. Takut jika dia menolakku,Ibu yang bahkan tak diketahuinya. Ditambah fakta bahwa akulah yang meninggalkannya—diluar apapun alasan dibalik itu—aku tak punya keberanian sama sekali. Maksudku, aku tidak mungkin datang begitu saja dan bilang 'Hey aku Ibumu' kan?. Seiring berjalannya waktu, aku tau ada lebih banyak orang yang mau mengerti rahasia ini. Hanya saja, rasa takut tadi membuatku tanpa sadar terus membentang jarak dari Lye.

"Ngomong-ngomong dimana James?" tanyaku saat menyadari keabsenan James dikelas.

"Dia kan dirumah sakit" kata Lily dengan nada 'masa-kau-tidak-tau-sih'.

"Loh, dia kenapa?" tanyaku heran.

"Dia kenapa katamu?" Lily kembali memandangku tak percaya.

"Sudahlah, tak perlu dijelaskan" potongku langsung, karena yakin Lily akan kembali mengeluarkan pertanyaan 'apa kau baik-baik saja'-nya.

Lily baru akan membuka mulut saat sebuah kepala megintip dari balik pintu kelas. Kepala berambut coklat—kepalaku. Oh, Bukan—kepala Lye(Well, setidaknya kemarin masih kepalaku kan?). Dia melangkah satu-satu kedalam kelas dan langsung menuju meja guru. Perjalan yang tak lebih dari tiga meter itu entah kenapa terasa seperti bermil-mil jauhnya jika melihat caranya berjalan dan dahinya yang bersimbah keringat sebesar-besar biji jagung . Aku mulai ngeri sendiri membayangkan apa saja yang bisa dia lakukakan dikelas ini.

OooO

Normal POV

Lye yang masih canggung menggunakan tubuh Hermione , terseok-seok menuju kelas Rune Kuno. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, dia membuka pintu kayu didepannya. Lye menahan nafas sejenak saat melihat satu kelas yang penuh sesak dengan murid-murid yang entah kenapa terlihat seperti mau menerkam dan memutilasinya satu-persatu.

Lye melangkah perlahan. Jantungnya berdebar-debar tak karuan karena gugup. Lye tidak bisa dibilang lemah dalam Rune Kuno, malahan dia adalah siswi terbaik dikelas ini tahun lalu. Hanya saja, kalau disuruh berdiri didepan kelas dan mengajar itu adalah hal yang sama sekali berbeda.

"Pagi semua" sapa Lye ragu-ragu.

"Pagi Professor" koor seluruh isi kelas berbarengan.

Lye terdiam beberapa saat, kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia mengedarkan pandangan keseluruh sudut kelas dan menemukan Hermione—yang berada didalam tubuhnya—duduk di meja paling depan bersama Lily. Dia melemparkan pandangan meminta tolong pada Hermione—yang lalu menggerak-gerakkan bibirnya tanpa suara.

"Oh. Pagi ini kita akan membahas tentang"—Lye melihat catatan di telapak tangannya—"Puisi Halebra"—Lye melihat Hermione yang mulutnya mulai bergerak-gerak lagi—"Oh Halebor maksudku, Halebor" kata Lye tergagap.

Hermione menarik nafas lega.

"Siapa yang bisa menjelaskan apa itu puisi halebr—Halebor" kata Lye dengan nada tidak jelas antara bertanya dan mengeluh.

Beberapa tangan dikelas itu mengacung ke langit-langit termasuk Hermione.

"Ya, silahkan Miss. Malfoy" tunjuk Lye tanpa berpikir dan mengundang dengung takjub dari seluruh kelas. Karena tak biasanya Professor mereka yang satu ini langsung mengambil 'Libra Malfoy' sebagai pilihan pertama.

"Puisi Halebor adalah Puisi yang ditulis dalam huruf Rune Kuno dan sebagian besar berisi tentang nasehat-nasehat dan petuah petuah bijak. Namun ada beberapa puisi Halebor yang dianggap sebagai nasehat sesat atau nasehat palsu yang malah menjerumuskan pembacanya ke pada sesuatu yang buruk dan terkadang ilmu hitam" Hermione menjawab bahkan tanpa berkedip dan menyelesaikannya hanya dalam satu tarikan nafas.

Tak ada yang terkejut seorang Libra Malfoy bisa menjawab selancar itu bagaikan sedang membaca buku, karena memang begitulah dia sehari-hari. Tapi yang membuat kebisingan tak percaya kembali memenuhi ruang kelas adalah ucapan Professor mereka.

"Bagus, kau hebat sekali Miss Malfoy. 20 poin untuk Gryffindor"

Sepertinya sudah jelas kan? Libra Malfoy sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

OooO

Normal POV

James membuka matanya perlahan, cahaya terik matahari langsung menusuk korneanya dan meninggalkan rasa perih. Setelah matanya terbiasa dengan cahaya, James mulai berusaha mengenali sekelilingnya. Hospital Wings, dia langsung tau saat melihat langit-langit tinggi dan tirai putih yang membatasi ranjangnya. Ingatannya kembali ke bagian kenapa dia bisa terbaring dirumah sakit ini.

James tersenyum sendiri ketika mengingat semuanya kembali, terasa cukup menggelikan jika memandangnya dengan pikiran waras seperti sekarang. Tapi dari semua hal yang ada dipikirannya, nama Libra Malfoy-lah yang terdengar paling nyaring. Ada yang meletup-letup di balik dada kirinya saat mengingat gadis berambut pirang itu. James mengedarkan pandangannya dan lega saat tidak menemukan Lye dimanapun didalam ruangan. Berarti dia baik-baik saja, pikir James.

Jelajahan matanya berhenti pada seikat bunga crysant yang tersandar di samping bantalnya bersama dua lembar perkamen. Perkamen pertama adalah Marauder Map, pasti dari Lye. Kembali ada parade kembang api meledak-meledak di dadanya saat membaca secarik perkamen satunya.

"Dear James,

Maaf, sepertinya aku takkan bisa sering-sering menjengukmu. Tapi bagaimanapun juga, terima kasih sudah menyelamatkanku, tuan pahlawan.

Cepat sembuh:)

Libra Malfoy"

Senyuman merekah semakin lebar dibibir James, dia membaca pesan singkat itu beruang kali seakan kalimatnya berubah setiap lima detik. Dia tak pernah tau jika kata-kata sesederhana itu bisa membawa begitu banyak kebahagian.

OooO

Hermione Granger's POV

Seminggu. Tujuh kali 24 jam sudah aku bertukar tubuh dengan Lye. Jangan tanya bagaimana minggu ini berjalan. Semuanya, berantakan. Lye berhasil merubah kelasku menjadi taman bermain anak-anak. Bahkan nyaris tak ada satupun pelajaran yang dia sampaikan dua hari terakhir ini. Sejak Lye mengambil alih posisiku sebagai 'Hermione Granger',setiap kelas Rune Kuno jadi lebih mirip pasar ikan. Berbagai benda berterbangan diudara, setiap anak berusaha mengerjai sesama mereka atau para gadis berkumpul dalam beberapa kelompok dan membuat kelasnya sendiri yang penuh gossip dan kikikan. Seluruh isi kelas sibuk dengan urusannya masing-masing dan si guru yang bertanggung jawab malah bersikap tenang dan duduk dengan nyaman seakan tak mendengar apa-apa.

Aku tak tau harus menyalahkan siapa, percuma saja menyalahkan Lye dia takkan menggubrisku sama sekali. Tak salah jika ia sangat mirip dengan Draco, kelakuan mereka benar-benar seperti pinang dibelah dua. Sama, tak bercela sama sekali. Dan sekarang masalahnya jadi semakin rumit, karena aku sama sekali tak menemukan sedikitpun petunjuk untuk menghentikan mantera ini diperpustakaan sekolah. Barangkali sudah ikut lenyap bersama buku-buku yang terbakar saat perang dulu, seharusnya penyakit penasaran akutku ini sudah ditangani dengan serius. Siapa juga yang mau repot-repot menerjemahkan mantera antah-berantah yang ditemukannya diselembar kertas yang nyaris terbakar hangus hanya dengan alasan penasaran?

"Kau mau sosis atau daging asap?" tanya James dengan kedua tangan mengangkat dua piring berisi menu yang dia sebutkan.

"Sosis, terima kasih" kataku dan menusuk sebuah sosis dari piring dengan garpu.

James mengangguk dan tersenyum-senyum. Tiba-tiba seperti ada kejutan listrik menyengat pikiranku, jangan bilang kalau dia menyukai Lye ! Aha ! harusnya aku sudah tau dari sejak pertama. Tak ada orang yang mau repot-repot terbaring dirumah sakit—aku berhasil mengorek Lily untuk memberitahuku ini—demi menyelamatkan orang lain kecuali orang tersebut memiliki arti penting untuknya. Well, tak buruk. James cukup baik,barangkali bisa cocok untuk Lye. Dan lagipula, dia kan putra Harry. Berbesan dengan Harry sepertinya adalah ide yang cukup bagus. Aku tersenyum sendiri menyadari sikapku yang mulai seperti ibu-ibu yang menilai pacar putrinya pantas atau tidak.

"Hey, apa kalian sudah tau? Anggota baru tim Quidditch diumumkan hari ini" kata seseorang yang baru mengambil tempat duduk didepan kami. Arnette Grey, kalau aku tidak salah ingat.

James menggeleng antusias. Aku bahkan tak repot-repot untuk peduli.

"Aku terpilih sebagai chaser" ucap gadis berkulit hitam itu dengan nada yang diusahakan setenang mungkin tapi tetap saja tak bisa menyembunyikan kesan berbangga dirinya.

"Oh, selamat kalau begitu. Bagaimana dengan kami?" kata James tak sabar.

"Oh kalian juga terpilih kok" dia nyengir lebar "kau dapat posisi chaser juga,James—kita partner—dan Lye kau Seeker, tentu saja—siapa lagi yang bisa?"

"Nah ! kau lihat Lye? sudah kubilang kau pasti masuk" lengking James bersemangat.

Lye apa? Tunggu dulu, jadi kalian yang dimaksud gadis ini tadi . . . Oh, Crap.

"Selamat untuk kalian juga. Latihan pertama Sabtu pagi jam 8"

Aku terperangah, tiba-tiba sosis yang sudah mau sampai dimulut terlupakan begitu saja. Quidditch? Jangan bercanda. Demi tempurung kepala Merlin, aku kan parah sekali dengan sesuatu yang berhubungan dengan sapu terbang. Hermione Granger bermain Quidditch? Seeker pula?

Ini kiamat.

OooO

Di hari Sabtu berikutnya, aku dibangunkan pagi-pagi sekali oleh Arnette Grey yang bersorak tak henti-henti dikupingku tentang latihan dan latihan. Aku heran dengan antusiasmenya yang menurutku diluar batas kewajaran. Entahlah, aku memang tak pernah mengerti apa-apa tentang olahraga bersapu terbang itu. Memangnya apa yang bisa didapat dari bermain Quidditch selain terancam maut setiap lima detik? aku sama sekali tak menemukan sesuatu yang menarik disana.

Aku mengenakan seragam Quiddicth Gryffindor yang berwarna merah dengan ogah-ogahan dan langsung diseret oleh Arnette keluar Asrama. Setelah sarapan pagi yang kepagian—bahkan belum ada satupun anak di Aula besar kecuali anggota Tim Gryffindor—aku mengikuti atau lebih tepatnya kembali diseret menuju ruang ganti. Bukannya kemarin katanya latihan jam 8? Langit juga masih belum benar-benar terang,mereka tidak pernah belajar membaca jam atau apa sih.

Setelah rapat panjang yang tidak kumengerti bahkan satu katapun itu kami memulai sesi latihan.

"Wah cuacanya cerah ya?" kata James. Aku mulai curiga kalau dia punya hobi baru yaitu ; menguntit Libra Malfoy. Sejak dibolehkan keluar dari rumah sakit, bisa dihitung jari saja berapa kali dia tidak terlihat disekelilingku.

"Yeah, lumayan" jawabku sekenanya. Memangnya apa lagi yang bisa kuharapkan? Tiba-tiba saja badai salju dan latihan dihentikan?

"Ya sudah, ayo naik" ajak James sambil duduk di gagang sapunya dan melesat keatas kepalaku dalam beberapa detik.

Aku tak menjawab dan melihat horror pada sapu terbang ditangan kiriku. Flashterbee 9th, tertulis dengan tulisan meliuk dan runcing-runcing diujung tangkainya. Aku memang tak banyak tau tentang sapu-sapu terbang. Tapi melihat bentuk, ukiran dan halusnya kayu yang kupegang sudah cukup menjelaskan jika sapu ini bukan sapu terbang yang biasa-biasa saja. Apalagi ini milik seorang Malfoy, pasti galeon-galeon yang terlibat tidaklah sedikit.

"Libra! Cepatlah naiki sapumu dan terbang kemari" Kapten Tim, Roger Tammel meneriaku dari ketinggian 7 meter diatas tanah. Semua anggota tim sudah berada diudara, kecuali aku tentu saja.

Aku masih terlalu shock untuk menjawab. Akhirnya kupaksakan juga duduk diatas sapu itu dengan gemetaran. Tangan dan kakiku bergetar tak terkontrol saat aku memposisikan tubuh diatas sapu, keringat dingin mulai bercucuran bahkan sebelum kakiku meninggalkan tanah. Awalnya baik-baik saja, perlahan-lahan sapu itu mengawang tenang. Tapi sedetik berikutnya—Wusssh!—sapu itu terbang lurus tak terkendali dan kemudian meliuk-liuk ganas diudara. Aku berteriak histeris berusaha dengan sekuat tenaga mengendalikan sapu tapi entah bagaimana justru malah membuatnya terbang semakin liar. Aku tak ingat apapun selain gambaran kabur dedaunan yang melecut-lecut wajah dan goresan dahan yang menusuk setiap jengkal kulitku yang terbuka saat suara "BRAAAK" dari entah apa yang baru saja kutabrak terdengar.

Nyeri adalah hal pertama yang kurasakan setelah terkejut. Samar-samar aku juga mendengar jeritan seseorang yang lain disekitarku. Suara bising mulai ribut-ribut mendekat lalu tiba-tiba saja semuanya berputar-putar seperti gasing. Aku mau pingsan saja.

To be Continued

A/N : Gimana? *mesem-mesem* ceritanya jadi agak aneh ya? . . hehehe

Thanks buat reviewers di chapter kemarin,

*attachan yang udah benerin typo

* Weasell7 yang udah benerin judul chapternya (haha ketauan English author jelek)

*oh ya buat Dind4 pen name author kemaren Peony Malf, kejutannya abal ya? hehe

*yuki-hime makasih udah review

*buat degrangefoy aduh, kamu bikin aku terbang haha tapi belum sempurna, gak-gak masih jauh :D

*aquasphinx, gak papa kok hehe kenapa Hermione cuek aku jawab di chapter ini ya

*yuuaja, ini aku banyakin interaksi Lye-Mione nya

Anyway, thanks, thanks berat buat kalian semua. Kalau berkenan, tinggalkan review dan ayuk langsung kemon ke chapter 6 hehe