Chapter 6
Harry Potter © JKR
All You Have to Do is Wait © WFD
Libra Malfoy's POV
Langit biru cerah, awan berarak tipis bergerombol seperti sekumpulan kembang gula rasa vanilla. Aku mematung diluar kastil memetakan pandangan pada sekelompok anak-anak berseragam merah dan masing-masing menyeret sapu. Tim Qudditch Gryffindor.
Melihat Professor Granger didalam tubuhku, menarik sapuku, memakai seragam tim yang seharusnya kupakai dan menjadi seeker, posisi yang seharusnya kumiliki membuat kurva moodku merosot tajam. Sudah berapa lama aku bermimpi berdiri disana? Dan sekarang saat semuanya menjadi kenyataan aku malah menjadi seseorang yang menekuk wajah dari kejauhan.
"Sedang apa 'Mione?" aku terkesiap mendengar suara selembut bulu yang menginterupsi keluhan dalam diamku. Professor Diggory selalu saja bisa membuatku berdebar-debar.
"Hanya melihat-lihat" jawabku tak lebih dari sepelan bisikan. Sepertinya bisa dekat dengannya adalah salah satu bagian terbaik dari menjadi Hermione Granger. Aku tak pernah bisa menjelaskan dengan baik bagaimana caranya bisa mempesonaku,tapi mungkin aku bisa memberi satu perumpamaan ; He's one of God's Masterpieces.
"Kau ingat hari ini?" tanyanya sambil mengikuti arah pandangku ke kejauhan.
Aku diam, tak tau harus menjawab apa. Ini hari sabtu kan? tapi karena yakin bukan jawaban itu yang dia maksud, jadi kuputuskan menunggu saja.
"Hari yang sama saat kau menerimaku dulu"
PRANG ! rasanya ada sesuatu yang pecah tepat didalam dadaku. Oke, aku tidak akan suka topic ini.
"Lucu sekali mengingat kau membuatku menunggu berbulan-bulan. Dan hanya menjawab dengan sebuah anggukan" Professor Diggory tertawa pelan.
Apanya yang lucu? Itu menggelikan, dasar Professor Granger sok jual mahal. Dan lagipula apa pentingnya membahas itu sekarang. Aku tak tau kalau Professor Diggory suka mengingat-ingat sesuatu seperti itu dalam kepalanya. Ingin rasanya aku masuk kepikirannya lalu menggosok otaknya dengan cairan pembersih.
"Itu salah satu saat paling bahagia dalam hidupku" katanya dengan nada yang terdengar melodramatis sekali dikupingku. Sekarang bayangan pangeran berkuda putih tentang Professor Diggory langsung buyar berganti dengan pemain opera yang kelewat menghayati peran. Yeah, pemain opera yang tampan sekali.
Aku tak tau entah sejak kapan tangannya sudah disampirkan dibahuku. Seharusnya ini bisa membuat jantungku berhenti berdetak, tapi mengingat ucapannya yang menyanjung-nyanjung Professor Granger tadi membuatku sebal dan tak sempat terpesona-terpesona lagi.
"Awas kakinya!" . . . "Minggir dari jalan!". . .
Tiba-tiba setengah lusin suara berbeda berteriak-teriak sahut menyahut dari arah lapangan Quidditch. Seluruh anggota Tim terlihat panik sambil mengiringi langkah seseorang yang sedang menggendong seseorang yang lain dikedua lengannya. Tak tau kenapa aku refleks mendorong tubuh Professor Diggory dan melepaskan rangkulan tangannya dibahuku saat menyadari itu adalah James. Mungkin aku tidak mau dia salah paham? Tapi kenapa dia harus salah paham aku kan sedang ditubuh Professor Granger saat ini. dan memangnya kalau aku tetap ditubuhku kenapa dia harus salah paham dan aku takut dia salah paham? Dan kenapa aku terus mengomel tentang salah paham seperti ini, arrgh, bikin pusing saja.
Aku tak menyadari pandangan aneh yang dilemparkan Professor Diggory padaku saat James dan anggota tim yang lain melewati kami. Setelah benar-benar bisa berpikir jernih barulah aku sadar siapa yang digendong James. Merlin, tubuhku.
OooO
Normal POV
Lagi-lagi Madam Pomfrey harus menelan kekesalannya dibalik omelan-omelan pelan mengenai anak-anak terlalu ceroboh yang hobi sekali mendatangi rumah sakitnya. Dia sudah tua, dan terlalu penat untuk hal-hal seperti ini. Bukannya mengeluh dengan pekerjaannya, tapi pasti siapapun kesal juga kalau murid yang datang itu-itu juga seperti tak pernah mau belajar dari kesalahan.
Madam Promfrey membebat kaki kiri Lye dengan cekatan. Tungkainya patah tiga, rusuknya retak dan banyak sekali luka-luka dibalik piyama yang membungkus tubuhnya. Dia cukup beruntung untuk seseorang yang terjun bebas dari ketinggian belasan meter diudara dan mendarat tepat ditanah berbatu. Seluruh tulang-tulangnya sudah tersambung kembali, terima kasih pada Matron rumah sakit Hogwarts yang hebat. Tapi tetap saja, cideranya bukan cidera ringan. Akan butuh waktu untuk bisa berjalan normal lagi.
Kalau gadis itu beruntung, sepertinya ada yang sedang tidak beruntung. Seorang pria tua berambut uban setengah botak yang terbaring diranjang sebelah gadis itulah orangnya. Entah apa kesalahan yang sudah diperbuatnya sampai harus menanggung beban sebegini berat. Nyaris keseluruhan tubuhnya sedang dibungkus perban, dia terlihat seperti mumi berbadan badut dengan perut buncit. Professor Eugene Hanson, guru Ramuan. Barangkali memang sudah garis nasibnya untuk tertimpa sial hari itu, disaat sedang menikmati akhir pekannya yang tenang sambil mencari tanaman obat di hutan terlarang tiba-tiba saja ada sapu terbang mabuk yang entah datang darimana hampir jatuh menimpa tubuh gempalnya. Sebenarnya takkan sampai seperti ini jika saja dia hanya 'tertimpa' sipengemudi sapu. Masalahnya adalah karena saking kagetnya, dia berlarian tak tentu arah dan menabrak sekawanan Hipogriff. Dan well, kau bisa bayangkan sendiri apa yang dilakukan makhluk angkuh itu atas 'ketidak-sopanan' Professor Hanson. Keadaannya sekarang sudah cukup menjelaskan kalau Hipogriff-Hipogriff itu melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar 'mengamuk'.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Lye yang berada didalam tubuh Hermione Granger itu sambil menunjuk ngeri badut-berbalut-perban didepannya.
"Sayang sekali tidak" kata Madam Pomfrey prihatin "Aku akan mengirimnya ke sore ini"
Semua wajah di ruangan itu langsung menunduk. Seluruh anggota tim Quidditch, Cedric Diggory,Andrea,Lily,Rose dan Kepala Sekolah Hogwarts, Minerva Mc'Gonagal berdiri mengelilingi ranjang kedua orang itu. James Potter adalah pemilik wajah yang paling keruh disana. Dia seperti sama sekali sekali tak terlihat tersentuh atau prihatin atas penderitan Professor Hanson, karena pandangannya tak pernah lepas dari tubuh lain yang juga terbaring di ranjang, si gadis beruntung. Lipatan diwajah James sedikit mengendur saat melihat mata gadis itu berkedut dan perlahan membuka.
"Lye, kau sudah sadar?" tanya James lega.
'Lye' yang dimaksud James hanya mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar bangkit dari ketidak sadarannya. Dia terjatuh dari sapu, dan dia Hermione Granger yang sedang menggunakan tubuh Libra Malfoy. Hermione lega saat menyadari dirinya tidak terkena amnesia atau sejenisnya.
"Ya" dustanya. Entah kenapa dia harus berbohong dia juga tidak tau, tapi rasa sakit disekujur tubuhnya terasa tidak nyata. Dia nyaris tak bisa merasakan keberadaan kaki-tangannya tapi disisi lain dia juga merasakan nyeri yang menusuk-nusuk entah dimana.
"Kau terjatuh dari sapumu, kau ingat?" tanya James lebih tenang kali ini.
Hermione mengangguk dan memperhatikan seluruh orang yang ada disekitarnya. Oh, sepertinya insiden tadi cukup heboh sampai-sampai belasan orang menungguinya untuk sadar. Seluruh anggota Tim hadir plus ketiga sahabat Lye. Semuanya punya ekspresi khawatir yang sama, well—minus wanita berambut coklat yang sepertinya memandang Hermione dengan tatapan menuduh. Gadis yang tubuhnya sedang dipakai Hermione itu terlihat tidak senang atas apa yang sudah diperbuat Hermione pada tubuh yang harusnya ia jaga dengan baik. Hermione merasa bersalah, tapi coba dia sembunyikan. Sepertinya mereka satu sama kan? Lye menghancurkan kelas Hermione, Hermione menghancurkan Quidditch Lye. Itu terdengar cukup adil.
"Lye!" seorang Pria muda berambut pirang platina berjalan cepat dengan langkah besar menuju ranjang Hermione. Draco Malfoy menampilkan ekspresi khawatir yang nyata diwajahnya.
"Kau baik-baik saja, sayang?" tanyanya langsung saat menangkup wajah Lye—dengan Hermione didalamnya—dengan kedua telapak tangan lalu merangkul tubuh putrinya itu kedalam pelukannya.
Hermione sudah tak merasakan apa-apa lagi, gravitasi sudah tak berfungsi menariknya untuk tetap dibumi. Bulan hanya terasa sejangkauan lengan saja saat itu.
OooO
Draco Malfoy's POV
Brengsek. Kenapa harus ada perlindungan Apparate di dalam lingkungan Hogwarts? Mengurangi keefisienan saja. Aku terus mengomel didalam hati tentang keparanoid-an yang berlebihan sepanjang jalan menuju kastil. Demi Salazar, bagaimana aku bisa tenang jika mengetahui putriku baru saja lolos dari maut? Aku memang seorang Malfoy, tapi persetan dengan segala tetek bengek wajah-tanpa-emosi sekarang. Putriku lebih penting dari sekedar reputasi.
"Lye! kau baik-baik saja,sayang?" kejarku langsung saat menemukan Lye terbaring di ranjang rumah sakit. Aku selalu terkejut mengetahui bagaimana hanya dengan melihatnya aman disekitarku bisa terasa seperti berhasil menarik nafas untuk yang pertama kali setelah tenggelam kedasar laut.
"Lye?" tanyaku lagi saat dia tak juga menjawab.
Dia bahkan tak juga berkedip saat aku melepaskan pelukan. Tatapannya kosong mengarah tepat di wajahku dengan mata yang membulat sempurna.
"Ada apa dengannya?" tanyaku entah pada siapa.
"Dia baik-baik saja semenit yang lalu" jawab seseorang dan aku tak mau repot untuk tau siapa.
"Apa kau buta? Dia tidak sedang baik-baik saja, lihat dia seperti patung" geramku sambil melambai-lambaikan tangan didepan wajah Lye. Tak ada reaksi.
"Well, kita tinggal memajangnya di gerbang masuk Hogwarts. Patung disana sepertinya butuh liburan" kata seseorang yang sama sambil tertawa.
"Sebaiknya kau jaga bicaramu atau . . . . " aku kehilangan kata-kata pedas yang sudah kurancang didalam kepala. Alih-alih memaki aku justru malah terbengong beberapa saat sebelum "Hermione?" keluar tak yakin dari mulutku.
Aku harusnya tak perlu terkejut, dia kan guru disini. Tapi yang bikin heran adalah, bagaimana dia bisa berbicara begitu ringan tentang Lye—putriku dan tentu saja juga putrinya. Itu agak mengejutkan jika mengingat pembicaran kami tempo hari yang berakhir tidak begitu bagus.
"Ya?" jawabnya tak berminat. Aku merasakan ada yang aneh, tapi apa?
" tidak ada apa-apa" jawabku masih dalam kebingungan yang tidak lazim.
Bagaimana dia bisa begitu tenang? dia terlihat seperti seseorang yang berbeda dari yang kutemui beberapa hari yang lalu. Aku kehilangan sebagian besar konsentrasiku saat mulai mereka-reka perasaan ganjil yang muncul tiba-tiba ini sampai sebuah suara mencicit menyela
"Dda draaco"
Aku tak akan percaya itu adalah Lye jika saja tidak melihat mulutnya bergerak menyebut namaku dengan nada seperti baru saja ditimpa musibah.
OooO
Normal POV
Semua kepala diruangan itu berputar sontak ke arah Hermione dan memasang ekspresi kebingungan yang sama, kecuali Lye yang terlihat shock.
"Sejak kapan kau memanggil Ayahmu seperti itu, Libra Malfoy?" kata Draco dengan nada menegur sekarang.
"Oh, Maaf, aku—aku" jawab Hermione terbata; mencoba menyambungkan kembali setiap tali temali panca inderanya yang baru saja terputus oleh pelukan Draco yang tiba-tiba.
"Kau baik-baik saja?" tanya Draco melupakan tegurannya.
"Aku tidak apa-apa" jawab Hermione setelah berhasil menguasai diri.
"Dia akan baik-baik saja, Draco. Tapi ada seseorang yang sedang tidak baik-baik saja saat ini" kata Mc'Gonagall menginterupsi. Matanya tertuju pada tempat tidur Professor Hanson.
Draco menangkap arah pandang kepala sekolah Hogwarts itu dan menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti.
"Itu Professor Hanson, guru ramuan" dan Mc'Gonagall kemudian menceritakan perihal kenapa Professor Hanson mengalami nasib seperti sekarang dan kenapa putrinya dapat terlibat didalamnya.
Draco menghela nafas mengerti dan merasa tak perlu bertanya lebih banyak lagi. Dia sudah sangat paham bagaimana putrinya seperti punya daya tarik tersendiri terhadap berbagai hal-hal yang berbau keonaran. Barangkali dialah orang tua murid di Hogwarts saat ini yang paling kenyang menerima wejangan dari Kepala Sekolah dan yang paling sering dipanggil bolak-balik karena berbagai kejahilan yang dilakukan putrinya.
"Maaf, Kepala Sekolah. Tapi aku rasa kali ini murni kecelakaan" kata Draco sambil menjaga suaranya agar tidak terkesan 'membela' Lye.
Mc'Gonagall mengangguk "Aku tau. Hanya saja, kejadian kali ini membuatku kehilangan satu staf pengajar" katanya; sekarang sudah mengalihkan pandangan kearah Draco.
"Akan kubantu mencarikan penggantinya" kata Draco berbaik hati menyadari bahwa bagaimanapun juga, dia harus bertanggung jawab.
"Bisakah kau saja yang menggantikan? Biar lebih cepat. Aku tau kau sangat bagus di ramuan" pinta Mc'Gonagall setengah memaksa.
Draco tertegun beberapa saat, disaat yang berbeda dia mungkin saja langsung menolak mentah-mentah tawaran itu. Baginya, menjadi guru bukanlah salah satu hal yang menarik untuk dilakukan. Lagi pula untuk apa mengajar di Hogwarts yang gajinya kecil disaat dia punya beberapa perusahaan berprofit besar yang lebih penting?. Tapi disini ada Hermione, yah. Entah kenapa, sepertinya alasan itu sama pentingnya dengan kenapa jantungnya harus terus berdetak.
"Baiklah, kepala sekolah" jawabnya dengan suara bersemangat yang tidak ia rencanakan.
Mc'Gonagall terkejut, tak percaya jika Draco mau saja langsung mengiyakan permintaannya tanpa banyak bertanya. Setelah beberapa kali kerjapan, barulah dia menyorongkan tangannya pada Draco.
"Terimakasih, Draco. Kau bisa mulai bekerja senin depan"
"Senang bisa membantu, Kepala Sekolah" kata Draco dan menjabat tangan Mc'Gonagall bersemangat dan tak menyadari pandangan horror yang terpancar dari dua pasang mata hazel dan sapphire pada jabatan tangannya.
"Merlin" Lye dan Hermione membatin bersamaan.
OooO
Hermione memasang wajah muram sejak hari itu. Bukan karena dia harus meminum ramuan berbau selokan setiap lima jam sekali, bukan karena dia harus berjalan menggunakan tongkat untuk seminggu kedepan, bukan juga karena dia harus direcoki oleh Lye sepanjang hari karena sudah merusak 'tubuh-pinjamannya'. Bukan, itu tak berarti apa-apa dibanding dengan alasan sebenarnya. Draco Malfoy. Yeah, itu alasan paling tepat kenapa wajahnya diselimuti awan debu penuh petir seperti sekarang.
Kenapa pria pirang itu harus menerima tawaran Mc'Gonagall untuk menjadi guru di Hogwarts? Sejak kapan dia mau-maunya mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan. Dia tidak sedermawan itu, maki Hermione sambung-menyambung. Kayak semua masalahnya belum terlalu rumit saja.
"Berhenti menekuk wajahmu seperti itu" titah Draco sambil menyorongkan sendok yang berisi cairan-berbau-selokan dan berwarna seperti muntahan ke muka Hermione.
"Ayo minum" perintahnya lagi. Hermione menutup bibirnya rapat-rapat dan memberikan tatapan membunuh pada Draco. Kalimat "jangan paksa aku atau kau mati" seakan muncul dan berpendar seperti lampu neon dikeningnya.
Draco memutar matanya letih, sepertinya 'Princess-Malfoy' yang satu ini menginginkan cara sulit lagi.
"Baiklah, kau tak perlu meminumnya kali ini" kata Draco seakan berniat menyerah dan pura-pura meletakkan sendoknya. Hermione tersenyum lega, tapi sedetik kemudian mulutnya terbuka diluar keinginannya dan tak bisa ditutup. Didepannya, Draco sedang tersenyum penuh kemenangan dengan tongkat sihir di tangan kiri dan sendok ramuan ditangan kanan. Hermione melempar tatapan mencela—semencela-mencelannya—pada Draco yang mulai menyendokkan ramuan itu ketenggorokannya. Rasanya dia mau muntah saat cairan kental itu sampai dilidah dan meninggalkan rasa yang sangat menjijikan. Draco mengangkat kepalanya sedikit dan mau-tak-mau Hermione harus merelakan lambungnya terkontaminasi sekali lagi.
Ayah macam apa dia? Apa begini caranya memperlakukan Lye selama ini? Pantas saja Lye jadi brutal seperti sekarang. Awas saja kalau dia sudah kembali ketubuhnya sendiri, Draco akan mendapatkan sesuatu yang jutaan kali lebih jahat dari ini.
"Maaf sayang, tapi kau harus meminumnya supaya tulangmu lebih kuat dan kau bisa berjalan normal secepatnya" kata Draco sambil mengusap kepala 'putrinya' itu sekilas dan tersenyum.
Hermione menelan cairan terakhir yang tersisa di mulutnya dengan paksa saat mendengar ucapan Draco yang penuh kasih sayang barusan. Dia tak pernah tau Draco bisa menggunakan nada selembut itu dan dengan bonus sebuah senyuman pula.
"Kau tau, kau pendiam sekali. Apa ada yang salah dengan kepalamu?" tanya Draco sambil memposisikan kepala tepat didepan hidung Hermione; entah menyelidiki jerawat tak tampak atau apa.
"Aku baik-baik saja" jawab Hermione cepat dan langsung memalingkan wajahnya.
Draco mengangkat kembali kepalanya dan duduk diranjang. Hermione merinding saat merasakan gerakan tangan Draco dikakinya yang dibebat, dia membiarkan saat Draco membuka bebatannya dan membersihkan kakinya sebelum mengganti bebatannya dengan yang baru. Kemana perginya madam Pomfrey, kenapa harus Draco yang merawatnya, kenapa dia harus terperangkap dalam keharusan berdekatan lagi dengannya, sebagai putrinya pula. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu memenuhi kepalanya sejak kemarin pertama kali Draco datang dan mengaburkan segala konsentrasinya untuk menemukan jalan keluar dari semua masalah ini. Dan dimana Lye, jahat sekali membiarkannya sendirian bersama Draco.
"Sudah selesai" kata Draco; yang menghentikan lamunan Hermione.
Hermione mengucapkan terima kasih yang ditanggapi Draco dengan senyuman ganjil.
"Lye, bagaimana pendapatmu tentang Professor Granger?" pertanyaan itu meluncur dengan banyak tekanan naik turun dari Draco.
Hermione tercekat dan hampir tersedak ludahnya sendiri. Tak berani bertatapan dengan Draco, dia hanya menunduk dan tak menemukan suara untuk menjawab—lagipula dia tak tau harus menjawab apa.
"—Dad hanya ingin tau,apa dia mengajar dengan baik, karena dulu—dulu dia pintar sekali. Jadi, kurasa dia akan menjadi guru yang hebat, kau tau maksudku kan?" kata Draco gugup, jelas sekali menyesal mengeluarkan pertanyaan sebelumnya.
Hermione menghela nafas lega saat seseorang berlarian memasuki ruangan dan mengentikan obrolan yang tidak enak antaranya dengan Draco.
"Hai!" Lye melambaikan tangan kanannya dan tersenyum entah pada siapa "Maaf, aku tidak tau anda ada disini " lanjutnya tak yakin saat merasakan suasana yang tiba-tiba terasa tidak enak.
"Mr. Malfoy?" gumam Draco heran. Sejak kapan Hermione mulai memanggilnya dengan cara seperti itu.
"Iya, tidak apa-apa,'Mione" jawab Draco berusaha membangun suasana 'akrab' diantara mereka dengan memanggil Hermione dengan nama kecilnya.
"Apa putri anda sudah lebih baik?" kata Lye sambil mengerling pada Hermione yang tersembunyi dibalik tubuh Draco.
"Ya, dia sudah lebih baik" jawab Draco sambil berpindah kesamping agar Lye bisa melihat Hermione.
"Aku dengar, Lye menyulitkanmu. Aku minta maaf untuk atas kelakuannya" kata Draco masih berusaha keras untuk membangun suasana akrab tadi.
"Oh, tidak. Tentu saja tidak. Tak perlu minta maaf, putri anda gadis yang manis. Tak pernah menyulitkan. Dia salah satu yang terbaik, malah" jawab Lye dengan senyum yang jelas sekali dimanis-maniskan dan mengerling lagi ke arah Hermione yang tidak bereaksi sama sekali. Pasti kepalanya terbentur keras sekali, pikir Lye
"oh begitukah? Baguslah" kata Draco. Dia agak kecewa, sepertinya Hermione benar-benar membencinya sampai-sampai sekarang bersikap seolah mereka tidak saling kenal.
Ada keheningan yang agak lama setelahnya sampai Madam Pomfrey masuk dan memecah keheningan itu dengan menjatuhkan nampan yang dibawanya.
"Oh maafkan aku, aku ceroboh sekali" katanya lalu melambaikan tongkat dan pecahan-pecahan kaca dan makanan yang bertebaran dilantai menghilang.
"Aku akan mengambil yang lain. tapi, apakah Lye sudah meminum ramuannya?" kata Madam Pomfrey yang disambut anggukan dari Draco.
"Baguslah, aku senang kau ada disini Draco. Karena aku tak yakin aku bisa menjinakan putrimu itu sendirian" katanya lagi dengan senyuman.
"Hanya butuh belasan tahun latihan, Popy" jawab Draco sambil tertawa pelan.
"Tentu saja, dengan cara yang tidak manusiawi" rengut Hermione yang mulai kesal lagi saat teringat 'metode' yang dipakai Draco untuk memaksanya minum ramuan.
"Hahaha" Lye tertawa saat mendengar keluhan Hermione, dia tau sekali bagaimana 'metode' yang dimaksud Hermione. Madam Pomfrey juga tertawa saat melihat rengutan Hermione semakin dalam setelah tawa Lye terdengar.
"Apa maksudmu?" tanya Madam Pomfrey setelah tawanya reda.
"Hanya sedikit mantra sederhana" jawab Draco.
Obrolan ringan mengalir diantara mereka dengan banyak tawa dan candaan untuk beberapa saat sampai seorang wanita cantik terlihat didepan pintu. Dia melangkah dengan anggun seperti sedang berjalan diatas catwalk saat menyeberangi ruangan, sepatu hak tingginya menciptakan melodi tersendiri saat berbenturan dengan lantai batu. Jubah burgundy-nya melambai pelan seirama dengan langkah kakinya yang luwes, setelan rapi dengan rok selutut dibalik jubahnya terlihat serasi sekali dengan bentuk tubuhnya yang proporsional. Rambut coklat madunya tergerai indah dan hiasan yang mirip bulu elang terjepit apik diatas dahi kirinya.
"Draco sayang" sapanya saat sampai didepan Draco dan mencium pipi kirinya.
"Astoria?"
"Selamat siang, Mrs. Malfoy"
"Mom?"
To Be Continued
A/N : Kyaaa—aku juga gak tau kenapa ceritanya malah makin aneh gini. Tapi aku udah berusaha mati-matian sampai titik darah penghabisan*halaah, apa ini?*kok untuk melanjutkannya.
Jadi,sekarang author menuggu review disini. Chapter depan diusahakan secepatnya
AYO REVIEW !
WFD sign out
