Siempre En Mi Corazon [Always In My Heart]
Hidekaz Himaruya © APH
Heineken Absolute © fanfiction
Pairing: Sve x femFin
genderbent, don't like don't read, AU series
.
.
.
"Tidak, Ber. Jangan lakukan itu!"
Tiina merinding dan jantungnya dua puluh kali berpacu lebih cepat. Sekarang, ia sedang berada di posisi yang berbahaya dimana Berwald menatap tubuhnya yang nyaris telanjang.
Lengan besar Berwald menahan seluruh tubuhnya agar ia tidak bisa kemana-mana dan sekarang di sini, ia terjebak dan tidak ada yang bisa menolongnya. Hanya ia dan Berwald. Ini di desa terpencil dan seharusnya ia bisa menjaga dirinya sendiri.
Ia belum siap untuk melakukan hubungan intim semacam ini sekalipun teman-teman artisnya sudah melakukannya dan hanya Tiina saja yang belum.
"Aku akan melakukannya, Tiina," desahnya dengan suara yang belum pernah dikenal Tiina sebelumnya. Pria itu menunduk dan menatap mata ungu Tiina yang besar. Mata itu terlihat polos seperti anak anjing yang kehilangan tuannya. Menggodanya sedikit tentu merupakan permainan yang amat sangat menyenangkan, bukan?
Tiina menggigit bibir bawahnya, gemetaran dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak menduga bahwa Berwald akan memperlakukannya sebagai wanita dewasa. Teringat akan masa kecilnya dimana ia hilang di hutan dan Berwald membawanya pulang serta melindunginya, sebagai seorang ayah. Yang jadi pikiran Tiina apakah Berwald memiliki seorang istri? Ia baru mengenal Berwald kembali kira-kira enam bulan yang lalu dan di mata Tiina, Berwald sudah sangat jauh berbeda.
"Ber—Berwald, aku benar-benar tidak.."
Berwald mengunci bibir Tiina dengan bibirnya, merasakan betapa nikmat bibir Tiina. Seumur hidupnya, ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan benar-benar mencicipi bibir manis Tiina. Untuk melihatnya saja ia belum tentu bisa, ini merupakan takdir Tuhan bahwa ia dan Tiina memang akan bersatu suatu saat nanti. Ia mendorong bra yang dikenakan Tiina dan salah satunya memperlihatkan ujung payudaranya. Tanpa tedeng aling-aling, Berwald menggigit ujungnya hingga Tiina gemetar kegelian.
Malu ketika Berwald mengigit ujung payudaranya yang terlihat begitu jelas. Ini tentu bukan ide yang bagus, bercinta di ruang sepi seperti ini. Terlalu seram baginya dan menakutkan. Tidak akan ada pengalih jika Berwald sudah bertindak terlalu jauh terhadapnya dan ia hanya bersiap-siap untuk ketakutan sekarang.
"Diam!" geram Berwald kesal. Ia tahu bahwa setelah ini ia akan dianggap sebagai pria nafsuan oleh Tiina, tetapi apa daya—berdekatan dengan Tiina hanya membuat hasrat Berwald meningkat. Ingin menciumnya dan memeluknya, ingin melakukan hubungan intim yang jauh lebih intens. Tidak ingin berpisah sedetik pun dari Tiina. Tiina membuatnya kecanduan yang jauh lebih parah dari alkohol dan narkoba. Ide gila apa yang membuatnya ingin bercinta dengan gadis yang dua puluh tujuh tahun lebih muda darinya.
Ia tentu sadar bahwa Tiina masih sangat muda, banyak pria yang jauh lebih muda darinya siap menunggu Tiina dengan masa depan yang cerah. Sekalipun Berwald memiliki banyak uang dan kaya, tetap saja itu semua akan lenyap karena usia Berwald hanya bisa bertahan dua puluh hingga tiga puluh tahun lagi. Jika beruntung, mungkin ia bisa hidup lebih dari seratus tahun tetapi harapan itu nyaris tidak mungkin.
Ia jadi teringat suatu kisah dimana seorang pria berusia nyaris seratus tahun jatuh cinta pada seorang gadis di tempat prostitusi yang masih baru dan usianya empat belas tahun. Cerita itu cukup menyedihkan walau berakhir bahagia. Membuat Berwald berpikir, apa bisa di jaman sekarang ini—jatuh cinta dengan gadis semuda Tiina. Jika dipikir dengan logika, tentu saja aneh dan mungkin saja wanita muda yang mengencani pria tua hanya ingin meminta harta darinya.
Tetapi dengan Tiina, itu rasanya berbeda. Tiina tidak pernah menuntut macam-macam, bahkan sering menolak akan hadiah yang Berwald berikan. Tiina bukan tipe gadis yang materialistis dan ia tahu itu. Banyak yang mengatakan bahwa ia sering menolak hadiah mahal.
"Ber, kurasa itu bukan ide yang baik jika kita melakukan ini!" Tiina berusaha menangkap pergelangan tangan Berwald untuk menahan Berwald agar tidak melakukan hal-hal yang di luar batas. Tidak berhasil—tangan Tiina tiga kali lebih kecil dari Berwald. Dengan kasar Berwald merebut bra milik gadis itu dan merobeknya di depan mata Tiina.
"Apa yang mau kau lakukan, Berwald?" tanya Tiina kehabisan nafas. Sudah tidak ada tenaga lagi untuk melawan Berwald. Tangan Berwald menyusup ke celana dalam Tiina, melepaskan benda itu secara perlahan. Jari Berwald mulai memasuki miliknya, menonton wajah kesakitan Tiina dengan tatapan puas tanpa rasa bersalah. Kedua tangan Tiina merengkuh erat bahu Berwald dan mencakarnya pelan.
Dengan cepat Berwald menarik jarinya, membiarkan Tiina sejenak untuk beristirahat agar tidak terlalu kesakitan. Ia tidak seharusnya menyakiti Tiina dengan cara seperti ini tetapi hal ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Berduaan dengan Tiina itu artinya ia bisa mencari kesempatan dalam kesempitan, membuat Tiina jatuh cinta setengah mati terhadapnya. Merasakan manisnya bercinta.
"Berwald, tolong—jangan ganggu aku sementara!" Tiina mengerang ketika Berwald kembali memasukkan jarinya ke dalam milik pribadinya. "Ini bukan ide yang bagus."
Berwald membisiki telinganya seraya menjilat daun telinganya. Nafas Berwald menggelitik telinga Tiina. "Apa kau ingin aku melakukannya lagi?"
"Tidak. Ya Tuhan, Ber. Kubilang tidak!" Tiina mengerang dan melepaskan tangan Berwald dengan kasar. Ia hampir saja kehilangan keperawanannya akibat ulah Berwald yang keterlaluan. Pria itu pasti sedang mabuk. Sejujurnya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Berwald akan seberani ini. Keberanian Berwald membuatnya jera.
Berwald tersenyum horor pada Tiina. Senyuman yang pertama kali ia tujukan pada Tiina. Kejadian ini membuat Tiina memandang Berwald dengan sudut pandang yang berbeda. Tentu saja Berwald tidak akan melakukan hal semacam ini jika Tiina masih anak-anak.
"Tiina.."
Tiina menatap Berwald dengan tatapan marah, pria itu nyaris merenggut keperawanannya. Dengan cekatan ia mengambil pakaiannya. "Kau ingin aku berjalan di vila ini dalam keadaan telanjang!" bentaknya marah ketika melihat pakaian dalamnya robek-robek akibat ulah Berwald. "Dan kau sudah berbuat terlalu jauh, Berwald. Jangan menyentuhku selama dua hari penuh!"
Tiina berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kencang. Meninggalkan Berwald yang sedang berpikir keras untuk itu. Tiina terlihat seperti menggoda pria lainnya, tetapi ia berubah menjadi gunung es setelahnya. Mungkin memang sifat Tiina yang seperti itu.
Itu pemikirannya sebelum ia menyentuh Tiina, setelah ia melakukannya dan mendapatkan fakta yang mengejutkan barulah ia sadar akan sesuatu. Ada rasa ketakutan ketika Berwald menyentuhnya, seperti rasa trauma. Trauma mendalam yang tidak bisa ia ceritakan oleh siapapun.
—00—
Sejak saat itu, ia dan Berwald seperti menjauh. Ada rasa canggung yang dialaminya. Ketakutan yang jauh lebih menghantui Tiina dari sebelumnya, terutama kisah masa lalunya yang kelam. Kisah kelam yang tidak bisa ia ceritakan pada orang lain.
Surat ancaman yang selalu hadir di setiap minggu, selalu menghantui Tiina setiap saat. Mata Tiina selalu menegang setiap melihatnya, antara takut dan benci terhadapnya. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang ketika orang itu pergi tetapi tidak ada Berwald di sampingnya, itu membuat Tiina merasa kalut dan kerdil. Ia sudah tidak punya siapa-siapa kecuali ayahnya dan seseorang dulu. Seseorang yang dicintainya yang ternyata sudah beristri dan ia sama sekali tidak tahu soal itu. Ia mencintai pria itu dengan begitu obsesif bahkan berperilaku kejam terhadap saingannya. Ia membuat saingannya nyaris terbunuh.
Ia mencoba berpura-pura tidak tahu, berpura-pura bahwa ia sedang tidak ada di sana. Berpura-pura bahwa kejadian itu tidak pernah ada di dalam hidupnya.
Bersama Berwald, harus Tiina akui itu sangat nyaman dan hangat. Berwald mungkin adalah pria paling menakutkan sepanjang masa tetapi tidak semenakutkan itu. Lembut dan protektif terhadapnya, dingin dan sarkas sekaligus mengerikan di mata orang lain. Ia tahu itu karena Berwald pernah menolongnya ketika waktu ia kecil. Kehadiran Berwald perlahan-lahan menggeser kedudukan cinta lamanya dan untuk pertama kali di dalam hidupnya, Tiina merasa takut jika Berwald meninggalkannya seperti dulu.
.
.
.
Sebulan setelah itu, ia melakukan syuting di salah satu tempat di Stockholm dan ia sedang tidak bisa berkonsentrasi untuk itu. Francis Bonnefoy, sang sutradara selalu membuat Tiina ketakutan. Berkali-kali pria itu selalu memaksa Tiina untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk untuk tidur dengan pria mesum itu. Francis bergerak mendekati Tiina, menyelipkan tangan dengan akrab ke pundak Tiina.
"Kita bersenang-senang, Tiina sayang," goda Francis di telinga Tiina hingga membuat Tiina merinding setengah mati. Ia benar-benar takut pada Francis, pria itu nyaris memperkosanya beberapa tahun yang lalu ketika Tiina masih termasuk dalam golongan aktris baru. Francis menjadi mimpi buruk untuk Tiina, setelah Halldora.
"A—apa maumu?" tanya Tiina ketakutan, matanya nanar. "Lepaskan aku, kumohon!"
Francis menyadari bahwa Tiina ketakutan setengah mati, itu menjadi keuntungan baginya karena ia bisa menyuruh Tiina untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Ia tahu dengan apa yang menjadi kelemahan Tiina, termasuk masa lalu Tiina yang kelam. Ia bisa saja menjual berita itu kepada media dan mendapatkan keuntungan material. Tetapi yang ia inginkan adalah menggoda Tiina sesukanya, jika ia mau.
"Layani aku, sayang," rayu Francis dan meraba-raba bagian tubuh Tiina yang sensitif. "Aku mohon!"
Dalam keadaan seperti ini, Tiina hanya bisa bergidik seperti penjahat bebas bersyarat. Mau tidak mau ia harus menuruti kemauan Francis atau reputasinya akan terancam. Sekarang ia tidak ada tempat untuk kabur, benar-benar mengerikan. Ia butuh uang untuk perawatan ayahnya yang terkena serangan jantung dan ibunya sudah meninggal ketika ia masih jadi aktris baru. Ia banyak membintangi film ternama tetapi uang itu tidak cukup untuk membiayai ayahnya dalam beberapa tahun kedepan.
Ingin menghubungi Berwald, tetapi mana mungkin. Pria itu pasti sudah membencinya sejak sebulan lalu karena ia menolak pria itu untuk menyentuhnya.
Tak lama kemudian, tangan Francis mengawang. Tiina mundur selangkah dan ia mendapati Berwald di belakangnya, menatap dingin ke arah Francis dan memberikan tatapan mautnya yang legendaris tersebut. Berwald tidak sendiri, masih ada seorang pria kacamata yang tampaknya seumur dengan Tiina (atau bahkan lebih muda dari Tiina).
"Kurasa permainan sudah selesai, Monsieur Bonnefoy!" sindir pria muda tersebut dan menahan Francis untuk sementara. "Kupikir akan jadi tajuk bagus, Francis Bonnefoy mencoba melakukan pelecehan terhadap aktris ternama, Tiina Vainamoinen."
"Betul!" Berwald menyetujuinya dan memeluk Tiina dengan erat. Tiina tampak gugup dan ia bagaikan rusa tercengang di hadapan Berwald. Pria itu melindunginya dari tangan setan Francis. Setelah pria muda tersebut menahan Francis, Berwald menatap Tiina yang gemetaran dan itu membuat Tiina dihinggapi panas dingin yang amat sangat. Rasa takutnya muncul dua kali lipat, takut jika Berwald menganggapnya sebagai gadis yang murahan setelah kejadian ini.
Berwald memanggil Tiina dengan menganggukan kepala. Gadis itu terbelalak bingung, bagaikan domba yang digiring tanpa adanya proses sedikitpun. Dengan lembut pria itu mencium bibir Tiina. "Apa yang dia lakukan kepadamu?"
Tiina melenguh pelan ketika Berwald menciumnya, seharusnya ia menolaknya tetapi mengapa ia semakin menginginkan hal itu. "Ber—maafkan aku. Pria itu mencoba memperkosaku," Tiina berkata dengan nada ketakutan yang belum pernah Berwald dengar selama ini. "Aku takut—apa semua pria memang seperti itu?"
Berwald mengambil kesimpulan, selama ini sikap menggoda Tiina adalah bentuk rasa takutnya terhadap pria. Jika pria itu sudah mendekat, maka Tiina akan bersikap seperti gunung es. Yang mengherankan bagi Berwald, mengapa Tiina begitu nyaman ketika bersamanya dan terlihat jelas ketika pesta dansa tahun lalu. Begitu banyak pria dan Tiina ketakutan karenanya. Perilaku Tiina membingungkan Berwald, mungkin ia salah menduga selama ini. Yang ia ketahui, Tiina sangat polos hingga saat ini. Terkadang gadis itu bisa bersikap bodoh dan pintar dalam waktu yang bersamaan. Bisa saja ia berpikir bahwa Tiina berpura-pura gugup. Tapi apa yang ia dapat? Tiina benar-benar gemetaran dan ia bisa merasakan dari bulu kuduk Tiina.
Pandangan Tiina naik memandang wajah Berwald. Berwald adalah pria yang membuat Tiina merasakan hal yang takut dengan alasan berbeda.
Tiina benar-benar menyesal sekarang, kenekatan Francis membuatnya jera dan tidak berdaya.
Dan yang terutama adalah itu semua karena Berwald.
TBC
A/N *lihat tanggal publish terakhir kali* OMG! Udah nyaris setengah tahun nggak mempublish ini fic gara-gara kehabisan ide dan semoga saja fic saya bisa dilanjutkan yang ini. Aku benar-benar tidak percaya akan hal ini astaga =w=
Semoga saja ini fic nggak jalan di tempat lagi, astaga aku beneran nggak percaya soal ini. Haduh~
Review please but no flame :('
