Siempre En Mi Corazon [Always In My Heart]

Hidekaz Himaruya © APH

Heineken Absolute © fanfiction

Pairing: Sve x femFin

genderbent, don't like don't read, AU series

Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Tiina merasa ketakutan setengah mati dan terbayang-bayang akan hal itu. Tegang dan gelisah membayanginya selalu. Teringat akan masa lalunya yang kelam sekaligus menyedihkan. Francis adalah pria bebal dan kurang ajar yang berniat untuk merusak hidupnya, sama dengan dirinya di masa lalu.

Ketika ia masih berusia enam belas tahun, ia tergila-gila dengan pria Denmark yang usianya berbeda tiga puluh tahun darinya. Tanpa tahu pria itu sudah beristri, Tiina selalu menyingkirkan gadis yang ternyata istrinya. Setelah tahu akan hal itu, ia merasa bersalah dan menyesal.

Pria itu bernama Matthias Densen, kaya dan makmur. Sama seperti Berwald, ia juga berkharisma tinggi dan tampan. Hanya saja Matthias lebih ceria dan hidup dibandingkan Berwald yang pendiam dan muram. Ia bertemu dengan Matthias ketika debut pertamanya sebagai model dan saat itu ia masih polos. Matthias menyapanya dengan hangat dan menghiburnya ketika ia dicela oleh model lainnya yang sudah mendunia karena tubuhnya yang terlalu pendek dan kecil.

Sejak saat itu, mereka berdua sering jalan bersama dan itu menumbuhkan perasaan yang lain di hati Tiina. Perasaan ingin memiliki, itulah yang paling dominan.

Ketika Halldora hadir di kehidupan mereka berdua, hidup Tiina tidak sama lagi. Tampaknya Matthias selalu memperhatikan Halldora setiap saat dan sedikit-sedikit mulai menghindari Tiina tanpa Tiina tahu alasannya. Ia mulai menjahati Halldora, menyebarkan gosip yang tidak-tidak mengenai gadis itu dan menghinanya setiap ada kesempatan. Terkadang ia menyesal melakukan hal semacam itu tetapi ia takut tersisih, Halldora begitu cantik dengan rambut pirang panjang dan pria mana saja pasti akan lebih memilih Halldora dibanding dirinya. Memang aneh, mengingat ia adalah seorang model seharusnya ia lebih percaya diri tetapi faktanya sama sekali tidak seperti itu. Sesuatu menganggunya.

Sampai pada akhirnya, Tiina baru mengetahui bahwa Matthias sudah beristri dan selama itu Matthias hanya menganggap Tiina sebagai anaknya karena mereka tidak mempunyai anak.

"Maaf, Tiina. Kumohon jangan pernah menemui aku lagi untuk selamanya," ujarnya dingin tanpa menatap Tiina. Pria itu terpukul atas kecelakaan yang menewaskan istrinya. Wajah Matthias sekarang terlihat menderita dan Tiina bisa merasakan hal itu. Ia telah membunuh milik Matthias yang seharusnya dimiliki. Bagaimana bisa ia begitu bodoh melakukan hal semacam itu tanpa tahu fakta yang sesungguhnya.

"Mr. Densen!" sergah Tiina, ia benar-benar patah hati sekarang. Di hadapan orang yang dibencinya selama ini dan ternyata diam-diam Matthias menyimpan suatu rahasia kepadanya. Pantas saja selama ini Matthias tidak pernah menyentuhnya dan hanya memperlakukannya sebagai anak kecil.

Matthias tidak mempedulikan Tiina dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Tiina. Ia syok mendapati fakta bahwa Tiina melakukan hal sejahat ini pada istrinya sendiri.

"Maafkan aku, ini semua kesalahanku. Aku memang bodoh dan naif tetapi apa Anda tahu jika selama ini aku mencintai Anda!"

Matthias terdiam, mulutnya terkatup rapat dan tidak ingin ia keluarkan saat itu juga. Syok dengan apa yang diucapkan Tiina, ia meninggalkan Tiina dan menuju ke kamar dimana Halldora sedang dirawat.

Sedangkan Tiina, ia terus menangis tanpa henti. Ia tahu kenekatannya akan membawanya ke masalah yang jauh lebih pelik, tapi lebih baik seperti ini dibandingkan menahan luka mendalam di hati. Ia sudah menyalahgunakan kebaikan pria itu.

Setelah ia mengatakan hal itu, Tiina benar-benar pergi meninggalkan Matthias dan berusaha melupakan kenangan tentang pria itu. Menyesali semua tindakannya dan berdoa agar ia mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Matthias, tetapi apa daya—ia sama sekali tidak bisa melupakannya. Hatinya terlalu perih mengingat kebaikan hati pria itu. Matthias memang sedikit menyebalkan tetapi ia adalah pria terbaik yang pernah hadir ke dalam kehidupannya, selain Berwald.

Sebulan setelah itu, ia mendengar kabar bahwa Halldora sudah meninggal karena pendarahan hebat akibat kecelakaan itu. Ia merasa seperti orang bodoh, seandainya ia tahu bahwa Matthias hanya menganggapnya seorang anak. Seandainya pria itu juga memberitahu Tiina lebih awal mengenai status hubungannya, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.

Ia tidak perlu menghadapi surat teror yang dikirimnya setiap minggu. Surat itu menakutkan, berisi ancaman-ancaman mengerikan yang jika tidak dilaksanakan akan membahayakan hidupnya. Ingin mengatakannya kepada Berwald, tetapi ia tidak berani—terlalu cemas menghadapi hal semacam itu. Setiap kali berhadapan dengan surat itu, Tiina dirambati panas dingin yang amat sangat.

Menjalani kehidupan seperti ini tentu saja berat baginya, sangat berat. Awalnya ia menjadi artis memang karena ingin mencari Berwald di Stockholm ketika mendengar bahwa pria itu tinggal di Stockholm, tetapi entah mengapa pada waktu itu ia terjerat dengan godaan yang membahayakan hidupnya seperti ini. Ia lupa dengan tujuan awalnya, bahkan melupakan Berwald dan menganggap pria itu sudah memiliki keluarga.

Sepertinya Tuhan masih berbaik hati kepadanya, setelah ia melakukan sesuatu yang tidak termaafkan terhadap Matthias dan istrinya. Tahun lalu, ia bertemu dengan Berwald di saat tidak terduga yaitu di acara pesta artis dan model internasional. Mulanya ia malas datang dan memilih istirahat, bisa dikatakan ia mulai muak dengan kehidupan dunia artis dan ia berniat untuk keluar dari sana untuk menjalani kehidupan normal. Lebih tepatnya karena ia pasrah mengapa sekian tahun lamanya ia menjadi artis tetapi Berwald tidak kunjung datang untuk menemuinya? Apa pria itu sudah muak terhadapnya?

Tetapi itulah keberuntungan, pria itu masih lajang seperti kartu identitas yang ditunjukkan pria itu. Berwald masih pria hangat seperti dulu yang pernah dikenalnya. Menakutkan di luar tetapi penyayang di dalam. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, ia merasa nyaman berdekatan dengan pria lain selain Matthias. Berwald memancarkan sesuatu yang berbeda untuknya, bukan rasa sayang sebagai seorang ayah tetapi sebagai seorang wanita.

Akan tetapi, mengapa semua tidak berjalan mulus. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah ia harus memilih Matthias yang sudah lama pergi dari hidupnya, atau Berwald yang hadir di dalam hidupnya dan memberi warna yang baru bagi kehidupannya? Harus Tiina akui, bersama Berwald ia merasa tenang dan lebih hidup. Pelan tapi pasti ia memendam perasaan khusus terhadap pria itu.

Kejadian pelecehan yang dilakukan Francis kali ini membuatnya takut dan jera. Menatap Berwald yang ada di sebelahnya dengan tatapan seperti anak anjing yang ingin dimanja tuannya. Ia tidak ingin ditinggal sendirian untuk malam ini, ia trauma dengan cara pria itu memperlakukannya.

"Ber," Tiina berkata pelan dan menyandarkan kepalanya di dada Berwald. "Peluk aku dengan lembut!"

Berwald sedikit terkejut dan memeluk Tiina pelan serta mengelus kepala gadis muda itu dengan lembut. Tiina pasti ketakutan mengenai kejadian tadi siang. Seharusnya ia menghajar Francis hingga babak belur, bukannya membiarkan Francis bebas berkeliaran. Seandainya Francis bukan sutradara pasti ia akan melakukannya. Demi Tiina, tentu saja.

Tiina tersenyum, Berwald benar-benar melakukan itu untuknya dan ia sama sekali tidak pernah menduganya sedikitpun dan ini merupakan sesuatu yang langka. Dadanya begitu nyaman, aku seperti didekap lembut. Jika bisa aku ingin tidur di sini saja.

"Tiina, kenapa kau biarkan dia melakukan itu?" tanyanya dengan nada menyelidik, mengelus pipi Tiina dengan halus seolah-olah Tiina adalah barang yang mudah pecah.

Suaranya tercekat dan ia tidak mampu berbicara lebih banyak lagi. Tanpa sadar air mata mengalir di wajah cantiknya—sesuatu yang langka bagi artis seperti Tiina. Artis yang selalu tersenyum dan polos. "Kudengar ia akan menggajiku dengan bayaran paling tinggi, moi. Sebenarnya aku takut, tapi aku bisa apa. Aku hanya ingin membiayai ayahku yang ada di rumah sakit. Belakangan ini aku tidak begitu banyak pekerjaan dan uang yang dibayar sama sekali tidak cukup."

Mata hijau Berwald menatap Tiina lekat-lekat. Tiina terlihat hancur dan itu sama sekali bukan pura-pura. Ia bisa merasakannya dari pelukannya, gemetar dan sesak seperti minta pertolongan kepadanya. "Uang tidak sebanding dengan keselamatanmu," tambahnya dingin. "Dia tidak akan menganggumu lagi."

"Aku takut, Ber. Aku sangat takut akan masa laluku," ucapnya tanpa sadar dan memeluk Berwald dengan erat. "Seandainya aku bisa bertemu denganmu lebih awal pasti tidak akan seperti ini."

Ia benar-benar menyesal dulu mencintai Matthias tanpa tahu asal usulnya. Menyesali semua kebodohan yang ia lakukan di masa lalu sehingga pria-pria mencapnya gadis polos yang bodoh. Ia senang Berwald berada di sisinya, menjaganya agar tidak terluka. Pria itu selalu bersikap protektif terhadapnya dan tidak ingin Tiina terluka. Berbeda dengan pria yang dikenalnya, untuk pengecualian ayahnya.

"Kamu aman di sini," ujarnya pelan. "Tinggallah bersamaku?"

Tinggal bersama? Yang benar saja, ia mempunyai apartemen sendiri dan ia bukan orang tidak mempunyai rumah. Lagipula, jika ayahnya yang sekarang sedang berada di rumah sakit mengetahui Tiina akan tinggal bersama Berwald pasti ayahnya akan syok. Ayahnya adalah pria kuno tetapi Tiina menyayangi ayahnya teramat sangat dan begitu juga ayahnya terhadap Tiina. Ketika Tiina masih anak-anak, ayahnya memarahi orang yang telah melukai Tiina termasuk Berwald sendiri. Ketika Tiina memutuskan menjadi artis, ayahnya tidak setuju dengan alasan takut Tiina terjerumus dengan pergaulan yang salah.

Tetapi ada alasan lainnya juga, ia pernah mendengar dari pelayan Berwald bahwa hampir setiap hari telepon berdering dari wanita-wanita muda yang ingin mengajaknya kencan tetapi itu semua ditolak karena bagi Berwald, wanita-wanita tersebut datang hanya ingin mengincar hartanya semata. Mengingat di usia Berwald yang hampir kepala lima dan belum memiliki kekasih sama sekali dan itulah yang mengherankan bagi Tiina. Apa penyebabnya sehingga ia seperti ini? Padahal Berwald dikaruniai wajah seram yang sebenarnya menurut Tiina cukup tampan dan memiliki sifat yang baik dibandingkan dengan pria-pria pada umumnya.

"Kenapa?" Berwald bertanya, menatap wajah Tiina yang tampak sedang berpikir. "Kau tidak mau?"

Tiina menggeleng pelan. "Bukan begitu, Ber. Hanya saja aku sudah memiliki apartemen sendiri selama dua tahun belakangan ini. Lagipula, ayahku akan marah jika sampai tahu aku tinggal bersama dengan pria. Belum lagi masalah penggemarmu—"

Penggemar? Enak saja Tiina berkata seperti itu, mereka bukan penggemar tetapi biang kerusuhan sepanjang masa. Yang ada mereka selalu mengajaknya kencan dengan tujuan untuk mengeruk kantongnya. Ia pernah melakukannya berapa puluh tahun yang lalu dan gara-gara itu ayahnya menghajarnya habis-habisan karena ternyata teman kencannya memakai kartu kreditnya hingga limit. Tetapi dengan Tiina, itu sangat berbeda. Gadis itu tidak pernah meminta macam-macam dan yang ia inginkan hanyalah kebersamaan secara emosional, bukanlah hanya harta semata.

Sekalipun Tiina sangat cantik di matanya, ia tidak bisa memberikan lebih untuknya kecuali perlindungan untuknya dengan cara mengajak Tiina tinggal bersama. Tiina biasa berada di sorot lampu kamera, ketenaran yang menghampirinya dan pria-pria yang menghampirinya tetapi bersama Berwald, Tiina terlihat seperti anak muda normal lainnya yang ceria dan tanpa beban. Ia harus menahan segenap hasratnya yang liar dan melindungi Tiina dengan baik.

TBC


A/N Maaf kalau chapter berikutnya pendek banget, untuk seterusnya saya akan mencoba membuatnya yang lebih panjang dari ini. Saya benar-benar minta maaf 3 mungkin fic ini akan saya apdet sebulan sekali saja.

Review is must but no flame please~