.
Namjoon. Hoseok. Boy's Love. Friendship to love. Twoshoot. I don't take any profit with this chara
.
Do not republication! Do not plagiarize!
.
Enjoy!
.
.
.
.
"Jung Hoseok ayo buka pintunya, ada Namjoon lho main kerumah." Seorang wanita muda berambut panjang berusia sekitar duapuluhan keatas itu sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar adiknya, Jung Hoseok yang sedang tidak mau keluar kamar sejak sepulang dari taman tadi.
"Bilang saja aku sudah tidur." Hoseok menjawab dengan ketus dari dalam ruangan.
"Junghoppi, ayo keluar kita makan malam bersama, eomma sudah masak banyak lho." Kakaknya membujuk lagi.
"Tadi katanya ada Namjoon, kenapa sekarang nyuruh makan? Noona bohong nih!" Gerutu Hoseok masih dari dalam ruangan.
Wanita itu memutar mata jengah dengan sikap adiknya. "Ppipi, ayo cepat keluar dulu~"
"JANGAN PANGGIL AKU PPIPI."
Wanita itu semakin geram dan hendak mendobrak pintu kamar adiknya. Namun seseorang yang sedari tadi diam di sampingnya itu segera menahan bahunya.
"Sudahlah noona, aku pulang saja. Besok juga kita bertemu kok."
Ternyata ada Namjoon juga bersama kakaknya. Pemuda itu langsung ke rumah tetangganya begitu sepulang dari taman setelah membantu mengerjakan soal fisika milik Jungkook. Anak itu memang selalu begitu. Tetapi ketika Namjoon mencoba menghampirinya untuk meminta maaf, sahabatnya itu malah tak ingin bertemu dengannya.
"Yasudahlah. Mau makan malam dulu disini?" Mereka meninggalkan kamar Hoseok dan beranjak pergi dari sana.
Namjoon tersenyum. "Tidak usah, aku akan pulang saja. Terima kasih ya, noona."
.
Hoseok kini duduk terdiam diatas kursi belajarnya. Barusan ia seperti benar-benar mendengar suara sahabatnya itu. Hoseok jadi merasa agak bersalah juga.
"Ah, untuk apa kepikiran, dia hanya sahabatku." Hoseok menggerutu dengan mengacak rambutnya sendiri.
Iya, sahabat.
.
Namjoon pulang ke rumah dengan lesu. Tahu begini ia seharusnya benar-benar menolak ajakan Hoseok untuk pergi.
Namjoon merebahkan dirinya diatas ranjangnya dengan helaan napas berat. Ia merasa sangat bersalah sekarang. Tadi Hoseok pulang sendirian pasti terpaksa naik bus. Namjoon tahu kalau Hoseok tidak suka naik angkutan umum karena ia tidak tahu rute angkutan umum, dan Hoseok tidak akan pernah naik taksi yang katanya menghambur-hamburkan uang. Anak itu super irit alias pelit.
Lalu tiba-tiba pandangannya jatuh pada sebuah toples bening berisi bintang-bintang kertas yang dibuat oleh sahabatnya.
Tanpa sadar, Namjoon bergumam.
"Hei, apa kalian bintang rahasia milik Jung Hoseok?"
.
.
Keesokan paginya Namjoon menunggu Hoseok keluar dari rumahnya untuk berangkat kuliah bersama. Ia akan bertemu dengan sahabatnya itu untuk meminta maaf karena kejadian kemarin.
Tetapi setelah duapuluh menit berlalu, Namjoon tak melihat seorang pun keluar dari pintu depan keluarga Jung itu. Dan ketika Namjoon berniat menghampiri rumah itu, tiba-tiba ibu Hoseok keluar dari sana dan ia tersenyum begitu melihat Namjoon.
"Namjoon-ah, selamat pagi. Apa ibumu ada?" Sapanya ramah.
Namjoon balas tersenyum. "Selamat pagi, Ajjuma. Eomma ada di rumah kok. Oh iya, apa Hoseok masih di dalam?"
Ibunya Hoseok malah menatap Namjoon bingung.
"Anak itu memaksa kakaknya untuk berangkat bersama. Memangnya kamu tidak diajak?" Tanyanya.
"Kalau diajak aku tidak mungkin masih disini." Namjoon meringis. "Baiklah, aku berangkat dulu, Ajjuma."
"Hati-hatilah!"
.
Hoseok sedang berada di ruangan olahraga saat ini. Ia membawa beberapa diktat untuk mengerjakan sesuatu disana. Sebenarnya ia hanya ingin menghindar saja dari sahabatnya. Hoseok sedang tidak ingin bertemu dengannya hari ini. Dan Hoseok juga tahu kalau sahabatnya itu takkan menemukannya di ruang olahraga karena pemuda itu sangat membenci ruangan ini karena suasananya yang kotor. Atau sebut saja Namjoon bukan pecinta olahraga.
Hoseok sedang mengemut permen didalam mulutnya selagi ia duduk di sisi lapangan basket yang sepi itu dan mulai menyalin catatannya ke dalam diktat.
Selagi mencatat setelah beberapa lama, tiba-tiba Hoseok menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis itu. Ia mendengar suara langkah seseorang sedang berjalan di dalam ruangan sepi itu. Hoseok mulai bergidik karena hal tersebut dan segera mengunyah permen didalam mulutnya. Kalaupun ada orang yang masuk ke ruangan ini, mereka pasti bersuara dan berjalan santai. Tetapi ini, suara langkahnya terdengar seperti mengendap-endap seolah sedang bermain sembunyi-sembunyi.
"Halo, siapa yang sedang masuk?" Tanya Hoseok, tetapi suaranya itu tak ada yang menjawab. Malahan hanya terdengar suara langkah itu tetap terdengar melangkah mendekat.
Hoseok mulai ngeri. Bagaimana kalau ia tiba-tiba di tembak dari belakang? Atau dibekap? Lalu diculik dan dibunuh kemudian jasadnya di buang di tepi jalan tol?
Hoseok menggelengkan kepalanya dengan keras karena semua pemikiran paranoidnya itu, ia lalu mengusap dahinya yang mulai berkeringat.
Hoseok mulai membenahi buku dan alat tulis yang di pakainya. Ia segera membereskannya dengan cepat. Hoseok pikir ia harus segera menjauh dari ruangan itu kalau memang ingin paranoidnya tidak berkembang.
Lalu dengan tergesa-gesa Hoseok berdiri setelah membereskan semua yang ia bawa. Dan tepat ketika Hoseok berbalik...
"Boo!"
Ada Namjoon yang berdiri dengan memasang flower pose menggunakan kedua tangannya yang menyatu dan terbuka dibawah dagunya.
"AAA." Hoseok refleks saja berteriak. Ia hampir terjungkal ke belakang kalau saja Namjoon tak menahan kedua bahunya dengan cepat.
"Hei hei, ini aku. Kenapa wajahmu ketakutan begitu?" Tanya Namjoon heran namun menahan tawanya.
"Astaga, aku memang ketakutan." Hoseok mengusap pelan dadanya. "Kau mengagetkanku!"
"Hahaha kau lucu sekali!" Tawa Namjoon pecah, ia sampai memegang perutnya karena hal itu.
Hoseok yang melihat hal tersebut hanya melipat kedua tangannya sebal. Wajahnya memerah karena malu dam kesal. "Tertawa sana sampai kau puas."
"Hahaha... Haha." Namjoon mulai mengendalikan tawanya. "Aku... aku ingin bicara padamu sebentar."
Hoseok yang teringat kejadian kemarin segera melengos, ia berniat pergi dari hadapan Namjoon kalau saja pemuda itu tak mencengkeram lengan atasnya.
"Aku tahu kau marah karena kejadian kemarin, tetapi kemarin itu aku hanya membantu Jungkook menyelesaikan pr fisikanya, sungguh." Namjoon menjelaskan. Mencoba meyakinkan sahabatnya itu agar mengerti.
Hoseok hanya diam. Menatap dengan tatapan datar. "Bohong."
Namjoon menghela napas. "Aish, telepon saja Jungkook sekarang kalau kau masih tak percaya."
"Telepon? Kau juga punya nomor ponselnya?" Hoseok mendelik.
"Tentu saja aku hanya berasumsi astaga Jung Hoseok." Namjoon mulai geram.
"Pftt." Hoseok menutup mulutnya, ia kini malah ingin tertawa melihat tampang sahabatnya itu.
"Aish. Anak ini benar-benar." Namjoon menatap datar sahabatnya itu.
"Hei aku lebih tua darimu Kim Namjoon ingat itu." Hoseok memperingati.
"Iya iya terserah." Namjoon tiba-tiba merogoh saku jaketnya. Lalu menyodorkan sesuatu pada pemuda bermata kucing itu. "Ini, untukmu."
Hoseok membulatkan kedua matanya. "Itu... bintang rahasiaku?"
Namjoon mulai terkekeh. "Iya, kalau ini milikmu bagaimana? Oh jadi benar toples itu bintang rahasiamu?" Kertas origami putih berbentuk bintang itu diambil oleh Hosoek dari uluran tangan sahabatnya.
"Kau mengambilnya? Sudah kubilang jangan sentuh toples maupun isinya!" Hoseok lalu menatap Namjoon garang.
Namjoon tertawa lagi.
"Memangnya kenapa sih? Bintang rahasiamu itu tak boleh dipegang?"
Hoseok mendengus kesal lalu menendang tulang kering kaki sahabatnya itu.
Namjoon segera meringis kesakitan. "Aku bahkan belum bilang benar-benar menyentuhnya. Itu 'kan bintang buatanku."
Hoseok memasang wajah melongo, lalu menatap origami bintang di tangannya. Memperhatikannya dengan seksama. Origami tersebut ternyata bintang empat sudut. Sedangkan yang selalu dibuat oleh Hoseok adalah bintang bersudut lima.
Hoseok segera saja terkekeh kecil. "Oh iya, ini bukan bintang buatanku. Lagipula sejak kapan bintang punya kaki empat, memangnya daun semanggi? Hahaha."
Namjoon hanya masih meringis. Lalu ia mulai berbalik meninggalkan Hoseok. "Buka saja bintang itu."
Hoseok memandang penuh tanya Namjoon yang mulai melangkah pergi itu. Lalu ia segera membongkar lipatan kertas putih itu, hanya untuk menemukan sebuah tulisan disana.
"Ppipi jangan marah lagi, aku tak suka naik motor sendirian seperti pagi tadi, maafkan aku ;("
Kedua sudut bibir Hoseok naik untuk mengulas senyum setelah ia membacanya.
Hoseok lalu berlari kearah Namjoon. Ia melompat tiba-tiba naik ke punggung Namjoon dan melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu serta kedua kakinya di pinggang Namjoon.
Namjoon sendiri yang mendapat perlakuan tiba-tiba itu tentu saja tersentak kaget, kalau dia tidak menyeimbangi dirinya, ia pasti sudah terjatuh bersama Hoseok yang kini berada dalam gendongan punggungnya.
"Astaga Jung Hoseok kalau punggungku patah bagaimana?!" Protes Namjoon.
Hoseok tak mempedulikan keluhan Namjoon dan malah menyamankan dirinya di punggung itu dan menaruh dagunya di bahu sahabatnya lalu tersenyum ceria.
"Kau tak pernah memanggilku Ppipi dengan suaramu, hm hmm?"
Namjoon hanya mengalihkan pandangannya dengan pipi yang mulai merona.
.
.
.
.
End.
.
.
.
.
Nb: maaf yang kemarin bertypo, kayaknya setiap nulis selalu ada typo deh maklumi sajalah -_- hihihi tapi ini update paling cepet '-'
Gimana atuh, anak bunda mah memang cocok jadi perusak hubungan orang :( tadi mau pake jin nanti malah bablas ngetik namjin dong xD
Dan mari kita highfive buat yang setuju kalo Jhope memang cocok jadi uke hahaha dan juga kalo ada pecinta NamjoonxAll disini wohohoho.
Buat yang kemarin Huang Mir, milky-zii, dumbshn, YoonMin, GitARMY, diradesfi00, Lil Ayas, MoronKiddo, siskayairawati, Linkz account, naranari part II, chimin95, anthi lee dan 98rikeyy.
yasudahlah, terima kasih sudah baca, apalagi yang mau komentarin :3
Review, please? :3
.
.
.
OMAKE
.
Hari ulang tahun Namjoon yang ke duapuluhsatu. Hoseok tidak memberi hadiah apapun kecuali setoples sampah (begitu Namjoon menyebutnya) berisi origami bintang-bintang kertas putih yang telah penuh setoples.
Hoseok bilang ia menghadiahi sampah itu (sekali lagi begitu Namjoon menyebutnya) sebagai hadiah paling spesial darinya.
Mengapa spesial, karena Hoseok telah membubuhi tulisannya di setiap bintang itu.
Namjoon mulai duduk di hadapan meja belajarnya itu. Ada toples bening tinggi yang siap ia bongkar isinya. Tetapi ketika membaca label yang menempel di toples itu membuat Namjoon menggeram gemas. Begini tulisannya.
Untuk ulang tahun Kim Namjoon jelek yang ke 21 dari Jung Hoseok tampan.
Tolong dibuka satu-persatu dengan pelan dan bacalah isinya dengan hati-hati. Semua ini adalah bintang rahasiaku. Selamat ulang tahun. Aku menyanyangimu! :D
(Ps: setelah dibaca tolong dilipat lagi seperti semula dan kembalikan ke toples. Kalau kau tidak melakukannya aku akan membunuh anjing peliharaanmu yang bernama rapmon itu!)
Bagaimana Namjoon tidak gemas coba. Benar-benar hadiah yang melelahkan.
Lalu Namjoon mulai membuka satu-persatu bintang tersebut hanya untuk menemukan tulisan-tulisan seperti ini;
"Namjoon, sudah makan belum?"
"Namjoon, kamu anak siapa?"
"Namjoon, tadi pagi aku memberi makan rapmon cokelat tetapi anehnya dia tidak mati! Jangan-jangan dia anjing zombie!"
"Namjoon, ibumu baik sekali~ dia membelikanku pakaian yang lebih keren darimu!" -ini Namjoon iri, serius.
"Namjoon, kamu tahu lagunya Nicki Minaj dengan Soulja Boy yang Yass BITCH YASSS!"
"Namjoon, kamu harus tahu kalau aku punya gigi bungsu."
"Namjoon, ibumu bilang ia ingin menjadikanku anaknya juga!"
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang terdengar tak berguna sebenarnya.
Namjoon sampai lelah sendiri membacanya. Dan akhirnya kertas-kertas bintang itu juga hampir habis. Dan Namjoon juga sangat tertarik ketika menatap dasar toples itu, ada sebuah bintang yang ukurannya besar sendiri. Dengan penasaran, Namjoon segera membukanya.
"Namjoon, kapan kamu peka? Aku nungguin kamu :("
Entah kenapa tetapi kalimat dari bintang besar itu membuat Namjoon speechless seketika. Wajahnya mulai memerah.
.
.
.
.
This story ©by Phylindan.
.
