A Super Junior Fanfiction
~My Love, My Dongsaeng~
Cast : Kyumin and other official pair
Warning : Genderswitch. Typo. Gaje. Tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
.
.
CHAPTER 12 :
Zhoumi Side
Namja berhidung mancung itu melanjukan Audi A5 milik Donghae dengan kecepatan diatas rata-rata. Traffic light tidak dihiraukannya. Persetan dengan umpatan-umpatan orang ataupun nantinya berurusan dengan pihak yang berwajib. Tujuannya sekarang adalah Incheon airport.
Ckit…
Memarkirkan mobil itu dengan sembarangan, menutup dengan kencang tanpa perlu menguncinya terlebih dahulu. Dia langsung berlari menuju terminal kepergian luar negeri.
Tepat dirinya sampai didepan pengecekan bagasi. Suara operator mengumumkan bahwa Korean Airlines tujuan New York-Amerika Serikat akan take off 15 menit lagi. "Xian!" Teriaknya.
Yeoja yang berjalan bersama dengan kedua orang paruh baya itu menoleh saat dirasa seseorang memanggilnya. Terlebih dia hafal betul suara itu. "Zhoumi." Lirihnya.
Zhoumi tersenyum walaupun dengan airmata yang jatuh di pipinya. Dia segera berlari dan memeluk sosok yeoja sipit berpipi chubby itu dengan erat. "Xian, maafkan aku. Jangan pergi." Pintanya.
Xian Hua tersenyum haru. Padahal dia tidak berharap lebih akan sosok pujaan hatinya ini akan mengejarnya. Memohon agar dirinya tidak pergi. Dengan terpaksa Xian hua melepaskan pelukan mereka. Tersenyum dan menangkup kedua tangannya dipipi Zhoumi. "aku yang seharusnya meminta maaf. Aku tidak bisa tinggal disini Zhou," Ucapnya.
"wae?"
"uri Xiannie harus mengikuti beberapa pengobatan untuk sirosisnya." Zhoumi menoleh kearah dua orang yang sedang tersenyum kearahnya. Dia menunduk hormat.
"berapa lama?" Tanya Zhoumi sambil menangkup lengannya dipipi Xian Hua.
"hanya dua tahun."
Zhoumi tersenyum dan menganggukan kepalanya. "aku akan menunggumu. Kembalilah untuk sembuh. Demi diriku."
Xian Hua mengangguk. "demi dirimu dan kedua orangtuaku."
"Xian, saranghae."
"nado,"
Kecupan penuh cinta dan rindu itu Zhoumi berikan untuk Xian Hua. Yeoja yang selama ini masih terus berada dihatinya.
Kyuhyun menuntun Sungmin untuk berjalan disebuah taman. Setelah beberapa jam perjalanan dari Ilsan, Kyuhyun menyarankan mereka untuk beristirahat sebentar.
"kenapa tidak meminta padaku untuk menemanimu ke Ilsan?" Tanya Kyuhyun langsung. Saat ini mereka sudah duduk berdampingan disebuah kursi kayu yang tersebar dipenjuru taman.
"maaf."
Kyuhyun merangkul bahu Sungmin dengan lembut. "hm… kali ini aku maafkan. Tapi lain kali kau harus memberitahuku. Arraseo?"
"arra."
Hening.
"ibumu cantik," Ujar Kyuhyun.
Sungmin menoleh dan tersenyum kecil. "ya, aku beruntung dilahirkan oleh eomma sehebat dia. Dan kau tau? Sekarang aku tahu siapa diriku sebenarnya. Kim Sungmin, bagus kan?"
Kyuhyun mengelus rambut Sungmin dengan sayang. "ya, dan akan terdengar lebih bagus lagi jika namamu menjadi Cho Sungmin." Ucapnya.
"tapi aku bukan siapa-siapa bagi keluarga Cho lagi."
Kyuhyun merengut mendengarkan ucapan Sungmin barusan. "kata siapa kau bukan siapa-siapa keluarga Cho? Tentu saja kau nanti akan menjadi menantu keluarga Cho dan menjadi istriku."
Pipi Sungmin merona mendengar ucapan Kyuhyun barusan.
Kyuhyun tersenyum melihat wajah Sungmin yang memerah. Tangannya yang bebas digunakan untuk mengelus pipi Sungmin. "aku berjanji akan menikahimu dan mengganti margamu dengan Cho." Wajah keduanya mendekat, tak beberapa detik kemudian kedua bibir itu saling bertautan dengan lembut.
Mereka berdua baru saja tiba sore hari dikediaman keluarga Cho. Sepulang dari Ilsan, Kyuhyun mengajak Sungmin berkeliling terlebih dahulu sesuai dengan permintaan yeoja itu. Sungmin menghentikan langkahnya ketika sudah tiba didepan pintu rumah yang sudah tujuh belas tahun didiaminya.
Kyuhyun menoleh saat tangan yang ada didalam gengamannya menarik sedikit lengannya. "waeyo?" Tanyanya.
Sungmin memandang Kyuhyun dengan ragu-ragu. "aku bingung harus berkata apa. Aku sudah menghilang selama 2 hari dan kembali lagi. Aku rasa aku tidak pantas untuk masuk kedalam." Ujarnya.
Tangan Kyuhyun yang bebas mengelus pucuk kepala Sungmin dengan lembut. "jangan khawatir, ada aku disampingmu, ingat?" Sungmin mengangguk sembari membalas senyum lelaki yang dikasihinya itu.
Mereka berdua larut dalam suasana sejuk disore hari. Menikmati pemandangan matahari yang mulai beranjak turun ke peraduannya.
.
.
"Sungmin!" Yeoja itu langsung terkesiap saat baru saja dirinya masuk kedalam rumah keluarga Cho, dia langsung disambut pelukan oleh Leeteuk.
"bunda,"
Leeteuk makin mengeratkan pelukannya terhadap Sungmin. "kau kemana saja? Bunda cemas sekali." Ujarnya.
Mata Sungmin memanas. "maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian semua cemas." Gumamnya pelan.
"sayang, yang penting kau sudah kembali. Sekarang istirahatlah." Leeteuk melepaskan pelukannya terhadap Sungmin dan menghadap kearah Kyuhyun. "antarkan Sungmin, Kyu-ah."
Kyuhyun mengangguk dan mengandeng lengan Sungmin untuk menaiki anak tangga dan menghilang dibalik pintu kamarnya.
—o0o—
Kangin membuka amplop coklat yang berada diatas mejanya dengan perlahan. Matanya membulat sempurna saat melihat apa isi dari amplop coklat tersebut. Tidak mengherankan karena memang hanya ada beberapa photo.
Tetapi yang membuatnya terkejut adalah beberapa foto Sungmin dan Kyuhyun yang terbilang cukup mesra. Bergandengan tangan, berpelukan, bahkan berciuman juga ada. "apa-apaan mereka ini!" Desisnya.
Bukan tanpa alasan sebenarnya Kangin membayar orang untuk mengikuti keduanya. Sejak melihat kejadian beberapa hari lalu dari balkon kamarnya, dia merasa ada yang tidak beres dengan anaknya itu.
"apa yang harus kulakukan untuk memisahkan mereka?" Gumamnya.
.
.
Makan malam dirumah keluarga Cho cukup hening. Hanya didominasi oleh perbincangan antara Kibum dan Kangin saja. "oh iya, lusa kita sekeluarga akan pindah ke Jepang." Ucapan Kangin barusan membuat semuanya yang berada diatas meja makan itu menoleh kearahnya.
"yeobo, apa maksudmu?"
Kangin menatap Leeteuk dengan tenang. "pembangunan perusahaan kita yang berada di Jepang sedikit bermasalah dan itu mewajibkanku untuk turun langsung dalam pembangunan." Jawabnya.
"lalu sekolahku?"
"sekolahmu dan kuliah Kyuhyun juga akan pindah sayang." Jawab Kangin sembari mengelus rambut Kibum yang duduk disampingnya.
Kyuhyun menengguk air putih dalam gelasnya dengan cepat lalu berkata. "bagaimana dengan Sungmin?"
Kangin melirik kearah Sungmin yang sedang memakan makanannya dengan pelan. "jika dia mau—
"tidak," Sela Sungmin. "aku tidak ikut. Aku akan disini saja."
"aku juga." Ucap Kyuhyun.
"tidak Kyuhyun! kau harus ikut." Tegas Kangin.
"tapi—
"aku tidak terima penolakan apapun. Segera bersiap lusa kita berangkat. Tidak ada bantahan apapun." Semuanya terdiam mendengar ucapan Kangin.
.
.
"Sungmin,"
Sungmin yang baru akan memulai tidurnya langsung bangun. Sosok Kyuhyun terlihat masuk kedalam kamarnya dan duduk persis disebelahnya. "ada apa?"
Kyuhyun mengelus pipi Sungmin dengan lembut lalu mengenggam kedua lengan yeoja itu. "kau harus ikut kami ke Jepang." Pintanya.
Sungmin menggeleng pelan. "aku tidak mau. Aku bukan keluarga ini lagi, jadi tidak apa-apa. Lagipula aku tidak bisa berjauhan dengan umma, setelah kalian pergi mungkin aku akan kembali ke Ilsan." Ujarnya.
"aku akan menemanimu kalau begitu."
"tidak!" Sungmin sedikit berteriak. "kak Kyu harus tetap ikut bunda sama ayah."
"tapi kau—
"kak Kyu, please." Sungmin melembutkan suaranya. "nanti setelah pendidikan kak Kyu selesai kau boleh menemuiku di Ilsan, dirumah bibi Oh. Arrachi?" Pintanya.
Kyuhyun tidak mengiyakan atau menolaknya. Dia hanya diam dan memandangi wajah Sungmin yang ada dihadapannya.
"kak Kyu?"
Kyuhyun menghela nafas pelan. "baiklah, tapi berjanjilah selalu member kabar." Sungmin tersenyum dan menganggukan kepalanya. Namja itu membawa Sungmin kedalam pelukannya. Mencoba mengenang pelukan ini jika nanti dia meninggalkan Korea. Juga meninggalkan Sungmin-nya.
"Sungmin-ah, saranghae," ucap Kyuhyun.
Sungmin tersenyum dan dekapan Kyuhyun. "nado."
—o0o—
Hari ini Leeteuk dibantu bibi Ahn. Pelayannya untuk mengepack barang-barang yang akan mereka bawa nanti ke Jepang. Cukup sedih jika mengingat Sungmin tidak berniat ikut bersama keluarganya. Meskipun sudah tau bahwa Sungmin bukan anak kandungnya, tetapi Leeteuk tetap menyayangi Sungmin seperti anaknya sendiri.
"Bibi Ahn, tolong selama kami tinggal di Jepang jaga Sungmin, ne? Dia tidak ingin ikut dan tetap tinggal disini."
Bibi Ahn mengangguk mengerti. "baik Nyonya."
.
.
"terima kasih bibi Oh. Aku sangat berhutang sekali padamu." CKLEK
Kyuhyun masuk kedalam kamar Sungmin saat melihat yeoja itu seperti baru saja mengakhiri panggilan telepon. "kau menelpon seseorang?" Tanyanya.
Sungmin menoleh. "ya, aku hanya menanyakan kabar bibi Oh. Aku merindukannya." Yeoja itu memperhatikan pakaian Kyuhyun yang terbilang cukup rapih dan terlalu keren jika hanya untuk berdiam dirumah.
"kak Kyu mau pergi?" Tanyanya.
Kyuhyun menghampiri Sungmin lalu mengelus rambut yeoja itu dengan lembut. "ayo bersiap. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan keluar."
Mata Sungmin berbinar cerah mendengar ajakan Kyuhyun. "kemana?"
"entahlah, kau ingin kemana?"
"pantai Haeundae." Jawab Sungmin cepat.
Kyuhyun menimang sebentar ide Sungmin tersebut. "baiklah, ayo bersiap!"
Sungmin berteriak girang. Dengan semangat dia masuk kedalam kamar mandi setelah sebelumnya mengambil satu stel pakaian santai untuk dipakainya. Meninggalkan Kyuhyun yang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sungmin.
.
.
"woooaaah yeppuda." Mata Sungmin langsung berbinar cerah. Sedari mobil Kyuhyun memasuki kawasan pantai yang indah, hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Sungmin. Sedikit norak memang, tetapi itu menggemaskan bagi Kyuhyun.
Kyuhyun memarkirkan mobilnya disebelah Audi A5 putih yang sangat dikenali oleh Sungmin. "ini mobil kak Hae 'kan?" Tanyanya.
"ya, dia bersama Eunhyuk juga Zhoumi. Aku mengajak mereka. Gwenchana?" Sungmin mengangguk lalu mengampit lengan Kyuhyun untuk berjalan kearah pantai. Mereka sedikit berkeliling untuk mencari ketiga orang tersebut.
"Sungmin! Disini!" Eunhyuk melambaikan tangan dengan ceria kearah Sungmin. Dia juga Donghae dan Zhoumi telah sampai beberapa menit yang lalu. Kini mereka dengan sabarnya membantu Eunhyuk membuat istana pasir. -.-
"sedang apa?"
Eunhyuk nyengir lebar. "membuat istana pasir." Jawabnya. Sungmin hanya menggeleng pelan melihat tingkah Eunhyuk yang childish itu.
Zhoumi berdiri lalu membersihkan tangan serta bajunya yang terkena pasir pantai. "aish! Jinja!" Dengusnya. "bagaimana kalau kita naik banana boat saja?" Ujarnya kemudian.
"boleh."
Dan disinilah mereka sekarang. Diatas perahu karet berwarna kuning berbentuk pisang dan ditengah laut. Dengan susunan Zhoumi, haehyuk, dan Kyumin.
Setelah beberapa kali diputar-putar akhirnya banana boat yang mereka naiki jatuh juga. Kyuhyun dengan sigap memegangi Sungmin yang hampir tenggelam. Sepertinya dia melupakan pelampung yang mereka semua gunakan.
"Sungmin-ah gwenchana?" tanyanya panic. Yang dibalas dengan senyum girang oleh Sungmin. "ini seru sekaliii!"
Akhirnya mereka berenang hingga bibir pantai. "huaaaah, tadi menyenangkan sekali." Pekik Eunhyuk.
"setelah ini mau main apalagi?" tanya Zhoumi.
Donghae mengendikan bahunya. "aku ikut saja."
"aku ingin ganti baju dulu, tidak enak seperti ini." Ucap Sungmin. Yeoja itu menyeret Kyuhyun untuk mengambil baju ganti miliknya yang berada di dalam tas.
.
.
Sungmin hanya duduk seraya memperhatikan keempat orang yang semangat bermain volley pantai itu. Terkadang dia berteriak untuk menyemangati Kyuhyun dan Zhoumi yang berada dalam satu tim. Terkadang juga menyemangati pasangan Haehyuk.
Tiba-tiba rasa sakit dan nyeri mulai menjalar disekitar tulang belakangnya. Dia mengigir bibir bawahnya untuk mencegah ringisan keluar dari bibirnya. Dia tidak ingin liburan kali ini terganggu karena penyakitnya.
Ponsel dalam saku celananya bergetar. Dengan perlahan dia mengeluarkan ponselnya lalu mengangkat panggilan tersebut. "ya, bunda?"
"…"
Sungmin menarik nafas lalu membuangnya. "ya, aku akan segera pulang bersama kak Kyu." Dia memasukan kembali ponselnya saat sambungan telpon itu terputus.
"kak Kyu!" panggilan Sungmin kontak membuat semuanya yang sedang bermain volley pantai itu menghentikan permainan mereka. Kyuhyun segera menghampiri Sungmin. "ada apa?" Tanyanya.
"bunda barusan telpon, menyuruh kita berdua cepat pulang." Dahi Kyuhyun sedikit mengerut bingung namun namja itu mengangguk kemudian. "ayo." Kyuhyun mengulurkan tangannya membantu Sungmin berdiri. Kemudian Kyuhyun tersentak saat merasakan tangan Sungmin yang dingin luar bisa.
"Min, kau merasa sakit?" Tanyanya. Sedikit mengamati wajah Sungmin yang lebih pucat dari mereka datang tadi.
"aniya, tadi aku habis minuman dingin."
Kyuhyun mengangguk lalu berjalan kearah teman-temannya. "kami harus pulang, kalian bisa mau tinggal tidak apa-apa. bye."
.
.
Kyuhyun dan Sungmin sampai dirumah ketika hampir petang. Kyuhyun masuk terlebih dahulu diikuti Sungmin di belakangnya.
"kalian tiba juga. Ada yang ingin ayah sampaikan pada kita semua." Ujar Leeteuk. Kyuhyun dan Sungmin duduk berdampingan didepan sofa yang diduduki oleh Kangteuk, sedangkan Kibum duduk di single sofa.
"ada apa?"
Kyuhyun terlebih dahulu membuka percakapan. Kangin melirik kearahnya lalu Sungmin bergantian. "karena Sungmin tidak ikut ke Jepang, kau boleh tinggal dirumah ini. Begitu juga dengan sekolahmu, kau boleh tetap disana. Aku yang akan membiayainya."
Sungmin menundukan badannya. "terima kasih. Ini merepotkan kalian pasti." Ujarnya.
Leeteuk tersenyum. "tidak Sungmin, bagaimanapun kau tetap anak kami. Kau masih tanggung jawab kami."
Mereka masih terlibat dalam perbincangan santai keluarga sampai tidak menyadari jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Kibum pertama kali berpamitan untuk ke kamarnya. Kyuhyun dan Sungmin-pun demikian.
"Sungmin-ah, boleh berbicara sebentar?" Kyuhyun dan Sungmin menghentikan langkah mereka. Sungmin mengangguk lalu mengisyaratkan Kyuhyun untuk pergi terlebih dahulu. Meskipun sempat protes, namja itu tetap mengikuti perintah Sungmin dan naik ke lantai 2 terlebih dahulu.
"kita berbicara diruang kerjaku saja." Sungmin mengikuti langkah Kangin yang berjalan terlebih dahulu. Batinnya bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan Kangin secara pribadi seperti ini.
"duduklah."
Sesampainya diruang kerjanya. Keduanya duduk saling berhadapan. Mereka dipisahkan oleh sebuah meja yang cukup besar. "Sungmin, aku pribadi ingin mengatakan keinginanku…" Ucapan Kangin terhenti sejenak.
Sungmin mengamati wajah serius Kangin. Menunggu lanjutan kalimat Kangin. "dan ini tentang Kyuhyun." Lanjutnya.
Yeoja itu sedikit kaget, namun dia berhasil mengendalikan keterkejutannya. Dia hanya diam dan mendengarkan dengan seksama ucapan—permohonan—Kangin padanya. "bisakah kau melakukannya untukku?" Sungmin tersenyum kecil dan mengangguk mengerti.
"aku bisa. Aku akan melakukan apa yang anda inginkan."
—o0o—
Sungmin berdiri sambil memandangi pesawat yang baru lepas landas beberapa saat lalu itu. Sedikit sedih mengingat dia sendirian di Korea kini. Membiarkan airmatanya menetes dan menuruni pipinya tanpa peduli untuk menghapusnya. Biarkan kali ini dia menangis, setelahnya dia berharap kebahagiaan selalu berada dipihaknya.
"aku merindukan umma." Gumamnya.
—o0o—
Enam bulan berlalu dengan cepat. Jepang memang sangat menyenangkan, tetapi tidak dengan Kyuhyun. Dia merindukan Sungmin. Rindu akan senyuman yeoja itu. Rindu rengekan manjanya.
Membayangkan hal itu membuatnya tersenyum. Tetapi senyum itu lenyap saat mengingat bagaimana susahnya dia menghubungi Sungmin belakangan ini. Malahan beberapa hari lalu nomer yeoja itu selalu tidak aktif, jika dia menelpon kerumahnya, bibi Ahn selalu mengatakan bahwa Sungmin belum pulang sekolah, atau sedang sibuk belajar, ataupun tidur karena kelelahan.
"kenapa kau seperti menghindariku Min?" Gumamnya sembari mengelus wajah Sungmin yang terpasang sebagai wallpaper ponselnya.
-SEOUL, KOREA SELATAN-
"Min-ah, kau benar-benar bekerja part time?" Eunhyuk bertanya kepada Sungmin saat mereka baru keluar dari dalam kelas. Sungmin tersenyum mengiyakan.
"tapi kenapa?"
Sungmin menghela nafas sejenak. "tentu saja untuk membiayai kebutuhanku sehari-hari. Kau kira tinggal di Seoul itu murah? Sebenarnya aku ingin pindah ke Ilsan, ah tapi itu tidak bisa kulakukan."
Eunhyuk berhenti sejenak. "bukan itu maksudku. Keluarga Cho kan kaya, mereka tidak memberikan uang untukmu begitu?"
"ya. Tetapi aku enggan memakainya. Cukup membiayai sekolahku saja aku sudah sangat bersyukur." Ujar Sungmin. "yasudah, aku duluan Hyuk-ah. Bye." Lanjutnya. Yeoja itu langsung berlalu sembari melambaikan tangannya.
Eunhyuk hanya menatap sedih punggung Sungmin yang sudah menghilang didalam bus yang baru saja tiba itu. "dasar keras kepala." Gumamnya.
.
.
Setibanya ditempat kerja, Sungmin bergegas mengganti pakaiannya dan menyempatkan untuk makan siang sebentar. Jika terlambat sedikit saja, dia bisa-bisa makan malam hari nanti. Biasanya pada jam-jam siang menjelang sore Kona Beans ramai pengunjung.
"kau sudah tiba."
Sungmin menoleh. Pria dengan tubuh tinggi menjulang dengan kemeja rapih berdiri dihadapannya. "selamat siang bos." Ujarnya.
Pria itu menyentil pelan dahi Sungmin. "sudah kubilang berhenti memanggilku bos. Panggil aku Changmin, Changmin oppa juga boleh."
"bagaimana kalau Changmin ahjussi?" candanya. Tetapi kalimat itu membuat Changmin terdiam sebenar, hanya beberapa detik kemudian namja itu mencubit kedua pipi Sungmin dengan cukup kencang.
"Aaaaaa! Sakit! Lepaskan ahjussi!" Pekiknya.
Melihat wajah Sungmin yang sudah memerah membuat Changmin melepaskan cubitannya dan beralih mengelus pipi yang mulai memerah itu dengan lembut. "aku gemaaas sekali dengan pipimu, Min-ah."
Sungmin merengut. "tapi tidak sekencang itu. Sakit tahu!" Ujarnya sambil mempoutkan bibirnya.
Changmin mengelus rambut Sungmin dengan lembut. "oke, mianhae. Nanti aku traktir ice cream bagaimana?" namja itu tersenyum saat melihat sinar bintang-bintang tidak kasat mata dalam bola mata jernih Sungmin.
"dua porsi ukuran jumbo?"
Changmin mengangguk. Sungmin mengepalkan tangannya lalu berjingkrak senang sebentar. "yasudah acara makan ice creamnya nanti saja. Aku harus bekerja. Bye ahjussi."
Senyum Changmin tidak hilang dari wajahnya. Bahkan ketika siluet tubuh Sungmin sudah menghilang dibalik pintu ruang pegawai.
—o0o—
Weekend. Seharusnya hari ini Sungmin bekerja full time dari pagi hingga malam. Tetapi dia ingin meminta izin libur sabtu ini untuk pergi ke Ilsan. Yeoja itu merindukan ibunya. Setelah membersihkan flat sewaannya Sungmin menenteng tas ranselnya lalu keluar rumah. Sesudah memastikan pintu depan terkunci rapat.
Semenjak keluarga Cho pindah ke Jepang. Sungmin memutuskan untuk keluar dari sana dan menyewa sebuah flat kecil dekat dengan Kona Beans. Meskipun Bibi Ahn sudah membujuknya sedemikian rupa, dia tetap bersikeras untuk keluar dan meminta bibi Ahn untuk tidak memberitahukan hal ini pada keluarga Cho.
"bos." Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, Sungmin sudah tiba didepan Kona Beans. Café dan Resto itu masih terlihat sepi. Jelas, jam masih menunjukan pukul 8 sedangkan biasanya para karyawan datang pukul 8.30. Dan sepertinya baru Changmin dan seorang koki dapur yang sudah tiba.
"tumben sekali kau datang pagi-pagi begini?"
"aku boleh minta izin untuk libur hari ini?"
Changmin menaikan sebelah alisnya. "memangnya ada keperluan apa?" Tanyanya.
"aku ingin pergi ke Ilsan. Mengunjungi makam eomma. Bolehkah?" Changmin terdiam sebentar. "boleh." Lanjutnya.
Sungmin tersenyum lega. Selain baik, Changmin adalah sosok bos yang care dengan para karyawannya. "terima kasih, aku pergi dulu."
"tunggu Min-ah."
Gadis itu membalikan badannya. Dahinya menyerengit tipis saat melihat Changmin bangun dari duduknya lalu memakai mantel musim dinginnya. "ayo kita pergi."
"kau ingin mengantarku?"
Changmin hanya tersenyum menanggapinya. "aku ada beberapa urusan juga di Ilsan. Mengunjungi noona-ku."
.
.
Setelah sampai di Ilsan, Sungmin meminta Changmin berhenti di toko bunga untuk membeli setangkai bunga lily putih. Bunga kesukaan Jaejoong. Ibunya.
"apa ibumu suka lily putih?" Tanya Changmin. Pemuda itu beralasan bosan dan menemani Sungmin melihat-lihat tanaman bunga berbagai bentuk dan warna di toko tersebut.
Sungmin mengangguk.
"sama dengan noona-ku. Dia suka sekali dengan lily putih." Kata Changmin. "kau tahu arti bunga itu?"
Sungmin menggeleng dan menatap Changmin dengan raut wajah ingin tahu.
"lily putih itu mengambarkan pengabdian,kemurnian, kemuliaan dan kesucian." Sungmin memandang Changmin dengan takjub.
"woooah apa dulu kau seorang florist?"
Changmin terkekeh mendengar pertanyaan Sungmin. "menurutmu seperti itu? Haha, tidak noona yang menjelaskan artinya padaku."
"noona-mu pasti sangat cantik." Puji Sungmin tulus.
"yeah, dia memang cantik." Changmin melirik kearah Sungmin. "dan kau mirip dengannya." Lirihnya.
.
.
Setelah sampai di bukit tempat makam Jaejoong. Sungmin sudah menyuruh Changmin untuk meninggalkannya saja dan menemui noona-nya, tetapi bos keras kepalanya itu bersikukuh ingin menemaninya menemui Jaejoong.
"umma, aku datang." Ucap Sungmin. Gadis itu berjongkok lalu menaruh setangkai lily putih yang dibelinya tadi diatas pusara. "ah iya aku lupa, perkenalkan dia bosku. Changmin namanya." Tambahnya sembari menunjuk Changmin.
Pemuda itu membungkuk dan mengikuti Sungmin untuk berjongkok. Lalu menaruh lily putih itu diatas pusara Jaejoong. "annyeonghaseo. Changmin imnida."
"umma, dia ini orang baik yang memberiku pekerjaan. Tetapi dia juga suka sekali mencubit pipiku." Adunya. Changmin tersenyum mendengarnya. Lalu manik matanya menatap potret cantik Jaejoong yang berada diujung nisan. Tatapan hangatnya berubah sendu seketika.
"umma, aku merindukanmu. Aku ingin melihat dan memelukmu. Bisakah kau bilang pada Tuhan untuk mempercepat waktuku lalu kita bisa bertemu?" Changmin menoleh kearah Sungmin. Suara gadis itu begitu lirih juga bahunya yang mulai bergetar. Refleks tangannya mengelus bahu Sungmin dengan lembut. Memberikan sedikit ketenangan untuk gadis cantik itu.
.
.
Changmin melajukan mobilnya kerah taman danau Ilsan. Danau buatan yang dibangun diatas area seluas 1,15 jt meter kuadrat itu sangat indah. Selain danaunya yang jernih, banyak fasilitas-fasilitas lainnya seperti taman botani,taman patung, Chinese pavilion dan masih banyak lagi.
"woaaah ini benar-benar keren!" Sungmin langsung melompat turun setelah Changmin memarkirkan mobilnya. Gadis itu merentangkan tangannya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"kau ingin berkeliling danau?"
Sungmin mengangguk semangat. Tapi selanjutnya wajah gadis itu mengeruh. "naik apa?"
Changmin menunjuk kearah dua orang yang sedang menaiki sepeda tandem. "mau mencoba?"
"tapi aku tidak bisa bersepeda."
Changmin menarik tangan Sungmin. "kita pilih sepeda tandem saja. Aku didepan kau dibelakang, oke?" Sungmin hanya mengangguk.
.
.
Mereka berdua kini sedang duduk di kursi besi. Keduanya kelelahan setelah satu jam bersepeda berkeliling. Err… lebih tepatnya berkunjung keseluruh area taman danau ini.
"biasanya jika malam hari disana ada pertunjukan air," Changmin menunjuk kearah air mancur yang berada beberapa meter dihadapan mereka.
"woooah, pasti keren. Aku mau lihat!"
"nanti malam kita kembali lagi kesini." Sungmin mengangguk mengiyakan. Mereka berdua memilih makan siang untuk acara selanjutnya. Dan setelah itu berkeliling Ilsan atau mengunjungi pameran-pameran di KINTEX.
Tak terasa langit cerah mulai berganti dengan kegelapan malam yang dipenuhi dengan taburan bintang dan sinar cahaya bulan. Sungmin duduk ditempat yang paling strategis. Hanya beberapa meter dari air mancur itu. Didekat mereka juga banyak wisatawan yang ingin melihat pertunjukan air itu.
"kapan dimulainya?" Tanya Sungmin tidak sabaran.
Changmin melirik jam yang melingkari lengan kirinya. "sekitar lima menit lagi."
Dan lima menit berlalu. Pertunjukan air mancul dimulai. Dengan permainan cahaya lampu yang berwarna warni serta musik yang mengiringinya membuat mata Sungmin tidak pernah berpaling sedikitpun dari pertunjukan itu.
Changmin tersenyum melihat wajah ceria Sungmin. Teruslah tersenyum dan ceria Sungmin-ah. Ucapnya dalam hati.
.
.
Selama perjalanan pulang menuju Seoul. Keheningan tercipta didalam mobil Changmin. Pemuda itu berkonsentrasi dengan kemudinya, namun sesekali melirik kearah Sungmin yang masih bersandar kearah pintu mobil.
Changmin tidak tau, gadis itu mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Vertigo tiba-tiba menyerangnya. Begitu juga tulang belakangnya terasa nyeri luar biasa.
Keheningan terus meliputi mereka saat keduanya sudah tiba didepan flat Sungmin. Changmin menguncangkan bahu Sungmin dengan lembut. "Sungmin." Changmin merapihkan helai rambut Sungmin dan mengesernya hingga belakang telinga. Alangkah terkejutnya pemuda itu saat jemarinya menyentuh pipi Sungmin yang dingin.
"Sungmin-ah!" dan bertambah terkejut lagi. Saat menolehkan wajah gadis itu, cairan merah pekat mengalir dari hidung mungil Sungmin.
Tanpa basa-basi lagi. Changmin segera menancap gasnya untuk pergi kerumah sakit terdekat.
.
.
TBC
.
.
Hello, saya update bawa fanfic MY LOVE MY DONGSAENG nya. Kemaren bilangnya chapter ini ending ya? Sepertinya gak bisa, kalo langsung ending pasti panjang banget dan nanti yang baca keburu boseeeen duluan. Hehe. Entah kenapa masukin Changmin disini, padahal di draft kasarnya gak ada sama sekali. Gapapa dong ya?
.
.
clouds1489 : pertanyaannya kejawab dong yah. Soal pertanyaan-pertanyaan lainnya bakalan kejawab di chapter ending yaaah.
Ranny : iyaaaa makasih pendapatnya. Di ff yang lain udah diganti kok. Soalnya tanggung kalo di ff ini yang udah hampir ending mesti diganti tiap chapternya (gakmaucape). Sekali lagi makasih ya, di ff yang lain semoga gak ada yang kaya gini lagi. Makasih udah review.
laviniaebo : jangan nangis dong ya? Happy atau sad ending? Percaya kalo saya yang buat gak pernah sad ending kok. Makasih reviewnya yaa.
nova137 : waaaah kamu reviewnya borongan. Makasih yaa. Soal siapa lelaki 'berkupluk' itu bakalan kejawab di chapter depan alias ending ya. Hehe, maunya gimana?
danactebh : Kangin gak jahat kok, percaya deh. Ini udah dilanjut yaaa.
Fly99 : huhu, masa sih? syukur sih kalo masih ada yang bilang sedih. Makasih reviewnya yaaa.
abilhikmah : iyaaa amin ya.
laelileleistiani : huhu, masa sih nyesek? Semoga Chapter ini enggak yaaah.
HaeSan : haduh kalo dijawab jadi spoiler dong. Haha. Wooohoo kamu ngitungin? Makasih ya, Chapter depan moga-moga gak ngaret updatenya.
dewi. : wah review borongan, makasih ya. Pertanyaan kamu kejawab di Chapter selanjutnya yaaa.
rii-ka : Kangin sayang kok, sayang banget. Sekarang juga sayang loh. Pertanyaan kamu kejawab di chapter ini dooong ya? Makasih udah review.
: hai juga, selamat membaca karya sederhana saya ini. Ini udah update lanjutannya.
Reyza Apriliyani : hai juga. Hehe, saya gak suka sad ending sih. pasti tau dong maksudnya?
Cho MeiHwa : ini udah lanjut.
lalakms : hai juga. Aduh jangan bilang comeback, nanti saya merasa member girlband /gampar/ ini udah dilanjutin yaa/
Anik0405 : iyaaa. Makasih udah review yaaa.
nanayukeroo : weeeeh kayaknya mesti nunggu satu chapter lagi buat endingnya. Maaf yaaa.
Tyas Rachma : hehe, makasih loooh udah nungguin ff jelek saya ini. ini lanjutannya yaah.
bella joyers : huhu iyaaa. /peluk Sungmin/ iyaaa dong kyumin harus happy ending /eh/.
Twitter : makasih yaaa, ini udah dilanjutin.
yx eunhae : iya, ini syuuudah dilanjutin. Makasih udah review.
indah pratiwi : ini Chapter 12-nya :D
teukiangel : iyaaa maaf ya. Ini sebelumnya bukan Kyumin, jadi kebablasan deh. Mau ganti juga tanggung udah mau ending gini. Maaf ya kalo kurang nyaman. Di ff saya yang lain semoga gak ada. Makasih loooh udah review.
kyukyu : ini udah update ya dear
kim yewook : hehe, nanti pertanyaan dijawab diChapter depan loooh ya.
Lee Soo Ki : mereka akan tau nanti pada waktunya hehe. Makasih udah review.
Guest : iyaaa mungkin sama, tapi jujur deh saya gak pernah nonton dramanya.
Maaf ya kalo ada nama yang belum ditulis. Makasih juga buat yang udah review sejauh ini. mumpung saya lagi liburan kuliah saya coba kebut deh buat endingnya. Ditunggu yaaa.
.
.
.Thania lee.
