A SUPER JUNIOR FANFICTION
Title : My Love, My Dongsaeng
Cast : Kyumin and other
Warning : genderswitch. Typos. Gajeness. Tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. If you don't like my pair, just go out from here!
.
.
Previous chapter
Selama perjalanan pulang menuju Seoul. Keheningan tercipta didalam mobil Changmin. Pemuda itu berkonsentrasi dengan kemudinya, namun sesekali melirik kearah Sungmin yang masih bersandar kearah pintu mobil.
Changmin tidak tau, gadis itu mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Vertigo tiba-tiba menyerangnya. Begitu juga tulang belakangnya terasa nyeri luar biasa.
Keheningan terus meliputi mereka saat keduanya sudah tiba didepan flat Sungmin. Changmin menguncangkan bahu Sungmin dengan lembut. "Sungmin." Changmin merapihkan helai rambut Sungmin dan mengesernya hingga belakang telinga. Alangkah terkejutnya pemuda itu saat jemarinya menyentuh pipi Sungmin yang dingin.
"Sungmin-ah!" dan bertambah terkejut lagi. Saat menolehkan wajah gadis itu, cairan merah pekat mengalir dari hidung mungil Sungmin.
Tanpa basa-basi lagi. Changmin segera menancap gasnya untuk pergi kerumah sakit terdekat.
CHAPTER 13
—o0o—
Changmin mengenggam lengan Sungmin dengan erat. Pemuda itu tidak melepaskan genggaman tangan mereka sedari tadi malam hingga pagi ini. Dirinya begitu terkejut saat dokter menyampaikan bahwa keadaan Sungmin bertambah buruk dan tingkat leukimia yang dideritanya sudah memasuki tahap serius. Stadium 4.
"kenapa harus dengan penyakit yang sama tuhan?" Gumamnya. Changmin memandang wajah damai Sungmin. Gadis itu belum sadarkan diri sejak semalam. Meskipun wajahnya tidak sepucat semalam.
"ngh…"
Changmin memperhatikan wajah Sungmin. Kedua bola matanya bergerak pelan meskipun masih terpejam. "Sungmin-ah?"
Akhirnya mata indah itu terbuka sempurna. Meskipun masih terlihat sayu. "ini dimana?" lirihnya.
"kau ada dirumah sakit. Semalam kau pingsan dan aku langsung membawamu kemari."
"kau pasti sudah tau tentang leukemia-ku?" Changmin menganggukan kepalanya. Namja itu memandang sendu kearah Sungmin.
"jangan mengasihaniku. Aku tidak suka. Bersikaplah seperti biasanya. Bisakah?" Changmin kembali menganggukan kepalanya. Bibir shape M itu tersenyum. Cantik meskipun wajahnya masih terlihat pucat.
—o0o—
Sejak kejadian pingsan itu. Seminggu setelahnya Sungmin sudah kembali kerutinitas awalnya. Sekolah dan bekerja part time di Kona Beans.
Changmin hanya memperhatikan dari jauh ataupun meminta bantuan karyawan lainnya untuk membantu Sungmin. Meskipun gadis itu memintanya untuk bersikap biasa saja tetapi hati pemuda itu tidak demikian.
—o0o—
Kyuhyun berdiri dengan wajah malas disamping mobil yang membawa dirinya beserta keluarga ke acara sekolah Kibum. Meskipun banyak gadis Jepang yang melirik genit kearahnya, namja itu tetapi tidak peduli.
"Kyu, ayo masuk. Acara kelulusan Kibum sudah dimulai." Kyuhyun berdehem untuk mengiyakan ajakan Leeteuk. Dengan malas namja dengan tubuh tinggi itu mengikuti kedua orangtuanya dari belakang.
Acara yang membosankan. Gumam Kyuhyun.
Setelah satu setengah jam acara itu akhirnya selesai. Kangin mengajak keluarganya untuk sekedar makan diluar untuk merayakan kelulusan Kibum kini. Mereka memilih restaurant bergaya eropa klasik sebagai pilihan.
"ayah, boleh aku pulang ke Seoul?"
Kangin menghentikan makannya. Dia mengendus pelan setelah mendengar permintaan Kyuhyun. Permintaan yang tidak pernah berubah semenjak mereka tinggal di Jepang hampir tujuh bulan lalu.
"apa urusanmu? Aku tidak menginzinkanmu atau siapapun untuk pergi ke Seoul. Kau harus menyelesaikan pendidikanmu dan mengurus perusahaan keluarga kita di Jepang." Ucap Kangin.
Kyuhyun mengenggam pisau dan garpu ditangannya dengan erat. "aku kira ayah lupa jika masih ada seorang anak perempuan yang kalian tinggalkan di Korea. Lagipula dalam waktu dekat ini juga Sungmin akan lulus, kalian tidak ingin menghadiri upacara kelulusannya? Setidaknya menjadi walinya?"
Kangin dan Leeteuk terdiam mendengar ucapan Kyuhyun barusan. Begitupula dengan Kibum.
Kyuhyun meletakan peralatan makannya lalu menengguk air putih dalam gelasnya kemudian berdiri. "aku pulang."
.
Setelah keluar dari dalam restaurant, Kyuhyun tidak berniat untuk kembali kerumahnya lebih cepat. Namja itu memutuskan untuk duduk disebuah taman tidak jauh dari restaurant tempat mereka makan tadi.
Dia mengeluarkan ponselnya. Memandangi sebentar wajah cantik Sungmin yang menghiasi wallpaper ponselnya. Kemudian dia menekan angka satu cukup lama untuk tersambung ke nomor Sungmin.
Kembali namja itu menghela nafas gusar. Sedari dirinya sampai di Jepang, nomor Sungmin susah sekali dihubungi. Bahkan belakangan ini tidak aktif. Yeoja itu seperti menghindari dirinya. tapi karena apa?
Dia juga sudah bertanya pada Donghae dan Zhoumi, mereka berdua berdalih sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak bisa membantunya untuk menghubungi Sungmin.
"pasti ada sesuatu." Gumamnya.
—o0o—
Sungmin tersenyum lebar. Predikat lulusan terbaik tahun ini berada ditangannya. Entah keberuntungan atau apa, dia bersyukur akan hal itu. Eunhyuk memeluknya dengan senang dan meminta imbalan untuk mentraktirnya makan selama seminggu penuh.
Disela-sela kegembiraannya, terbesit rasa sedih dalam hatinya. Matanya mengedar, beberapa siswa sedang berpelukan ataupun berfoto dengan anggota keluarganya. Begitu juga dengan Eunhyuk, yeoja itu meminta izin untuk pergi sebentar menemui orangtua dan Zhoumi. Dan dia hanya sendiri.
"hei, kenapa sedih seperti itu?" Sungmin menoleh, yeoja itu terbelak kaget saat sosok Changmin berjalan kearahnya sambil membawa sebuket bunga berwarna cerah.
"selamat atas kelulusanmu." Changmin menyerahkan bunga ditangannya kepada Sungmin. Yeoja itu menerimanya dengan tatapan bingung.
"wae?" tanya Changmin.
"kau datang?"
Changmin terkekeh pelan. "tentu saja, aku sudah berjanji padamu akan datang bukan?"
"aku kira kau hanya bercanda."
Changmin mengacak rambut Sungmin pelan. Namja itu menyerahkan buket bunga yang dibawanya kepada Sungmin. "selamat atas kelulusanmu, juga untuk lulus dengan predikat terbaik tahun ini."
Sungmin menoleh bingung. "kau datang sedari tadi?" Changmin mengangguk.
"kenapa memangnya? Anggap saja aku keluargamu." Ujarnya. Namja itu mengedarkan pandangannya dan memanggil seorang siswa yang kebetulan lewat didepannya. "hei, bisakah kau memotret kami berdua?" permintaan Changmin langsung diamini oleh siswa berkacamata tersebut.
Changmin merangkul pundak Sungmin. "ayo tersenyum kearah kamera." Ujarnya. Sungmin hanya menurut dan tersenyum lebar.
"hana… dul… set… kimchi!"
Changmin tersenyum dan melambai kearah siswa tersebut. "terima kasih."
"Minnie!" teriakan dari kejauhan membuat Sungmin dan Changmin menoleh. Changmin memandang heran kearah dua remaja yang berlari kearahnya dan Sungmin. "kau kenal mereka?"
Sungmin mengangguk sembari melambaikan tangannya. "dia Hyukie dan Henry, sahabatku."
"Sungmin! selamat kau jadi lulusan terbaik tahun ini." Henry langsung memeluk Sungmin setelah sampai didepan yeoja itu.
"hehe, gomawo Henry-ya."
"adjusshi nuguseyo?" Henry melepaskan pelukannya pada Sungmin. Kenapa dia baru menyadari ada sosok lain yang tidak dikenalnya dekat dengan Sungmin.
"Hyuk, dia Shim Changmin. Bos ditempatku bekerja." Jawab Sungmin.
"haa! Karena kau lulusan terbaik tahun ini, bagaimana kalau kita semua makan-makan ditempatmu bekerja. Bolehkan adjusshi?" pinta Eunhyuk dengan mata bak puppy itu memohon.
"tentu saja boleh."
"yeheyyy~" sorak Henry dan Eunhyuk berbarengan.
.
Changmin tersenyum memandang Sungmin yang masih cemberut seraya menatap tajam kedua sahabatnya.
"Min boleh aku minta tambah lagi sodanya?" ujar Eunhyuk.
"Hyuk! Kau mau menghabiskan gajiku memangnya? Ish." Decak Sungmin sebal.
Eunhyuk menengguk soda terakhir lalu menjawab ucapan Sungmin. "hei, bosmu bilang dia akan mengratiskan semua makanan yang kami pesan. Jadi itu tidak terpengaruh pada gajimu kan?"
"ish Hyuk, tetap saja. Aish."
Changmin memposisikan dirinya tepat disamping Sungmin. "tenang saja, aku mengratiskan semuanya Min." ucapnya.
"tapi—
"no buts Min, ini hadiah dariku karena kau lulus dengan nilai terbaik tahun ini."
Sungmin hanya memajukan bibirnya dan mulai menyendokan ice cream strawberry yang ada dihadapannya. Changmin mengelus rambut Sungmin dengan lembut.
Henry memandang keduanya penuh tanya. Setahunya, Sungmin tidak pernah akrab dengan namja lain selain Kangin, Kyuhyun dan dirinya. "kalian itu pacaran ya?" celetuknya.
Sungmin tersedak ice creamnya. Yeoja itu buru-buru meminum air mineral entah milik siapa. "bodoh, orang ini lebih cocok jadi pamanku. Jangan sok tahu." Semprot Sungmin.
Henry hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal. "aku kan hanya bertanya."
"iya, tetapi pertanyaanmu itu tidak penting."
"ngomong-ngomong, kalian ingin melanjutkan kuliah dimana?" tanya Changmin.
"aku di Inha, biar bisa bareng sama kak Hae dan kak Zhou." Jawab Eunhyuk.
"aku diminta daddy untuk melanjutkan kuliah di Kanada, tetapi belum yakin juga sih. Kalau kau Min, kamu jadi ambil beasiswa di SNU itu?" ujar Henry.
Sungmin mengangguk. "kesempatan itu tidak akan kulewatkan Mochi, tentu saja aku akan mengambilnya."
Changmin memandang Sungmin dengan kagum. "well, aku tidak tau kau sepintar itu. Tetapi jika di SNU, kau benar-benar jenius. Kau ambil konsentrasi apa?"
"kedokteran."
Eunhyuk menyela. "bukannya kau ingin masuk Art dan Design? Kok jadi ke kedokteran sih?"
Sungmin tersenyum. "hanya ingin membantu orang-orang yang butuh untuk bisa sehat kembali dan melawan penyakitnya." Jawabnya sambil kembali menyendok ice cream miliknya dan memandang keluar jendela.
Changmin terdiam sambil memandang Sungmin. Jawaban yeoja itu mengingatkannya pada seseorang.
—o0o—
Sungmin membereskan barang-barangnya kedalam tas dan langsung keluar kelas saat itu juga. Sekarang sudah jam tiga sore dan dia dipastikan terlambat datang ke tempat Changmin.
Kehidupan perkuliahan membuatnya senang dan tidak punya jeda untuk dirinya diwaktu bersamaan. Meskipun Changmin sudah membolehkannya tetap bekerja meskipun terlambat, tetapi Sungmin tetaplah Sungmin. Si perfeksionis.
10 menit dari kelas ke gerbang depan. Untung saja bis yang biasa dinaikinya datang tepat waktu. 15 menit kemudian, bus yang ditumpanginya sampai di halte yang paling dekat dengan tempatnya bekerja.
Yeoja itu berlari kecil—cukup kencang—hingga pintu khusus karyawan. Sungmin tersenyum kepada para koki yang sedang memasak dan langsung masuk kedalam ruang karyawan untuk berganti baju.
Tak lama kemudian sosok Changmin muncul dan masuk kedapur. "apa Sungmin sudah sampai?" tanyanya pada Dongwook.
"baru saja bos, dia sedang ganti baju mungkin."
Changmin masuk kedalam ruang pegawai. Sungmin tidak ada diruang loker. Sedang berganti seragam mungkin. Tebaknya dalam hati.
Bruk
Suara debuman yang cukup keras membuat namja tinggi itu berlari kearah suara. Tepatnya didepan toilet wanita. "Sungmin, gwenchana?" teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Tanpa basa basi lagi, namja itu mendorong pintu tersebut. Nafasnya tercekat saat melihat tubuh Sungmin sudah rebahan dilantai dan tidak sadarkan diri. "SUNGMIN!" Changmin mengangkat tubuh Sungmin dan secepat kilat keluar untuk pergi kerumah sakit terdekat.
.
Prang..
Kyuhyun memandang gusar gelas ketiga yang dipecahkannya dalam seharian ini. Firasatnya benar-benar tidak enak sedari tadi. Nama Sungmin tiba-tiba saja memenuhi otaknya. "Minnie, kau baik-baik saja kan?" gumamnya.
Dia segera mendial nomor rumah keluarga Cho di Korea setelah membersihkan pecahan gelasnya.
'selamat siang, kediaman keluarga Cho. Ada yang bisa dibantu?'
Kyuhyun menyerengitkan dahinya saat suara yang tidak dikenal masuk kedalam telinganya. "bisa bicara dengan Sungmin?"
'ah maaf, tetapi disini tidak ada yang bernama Sungmin. Mungkin anda salah nomor tuan.'
"mana mungkin aku salah nomor. Ini aku Cho Kyuhyun! anak bungsu keluarga Cho." Ucapnya setengah berteriak. "dimana bibi Ahn? Aku ingin bicara dengannya."
'tu.. tunggu sebentar.' Kyuhyun berfikir keras sekarang. Bagaimana bisa orang baru itu tidak mengenal Sungmin. Yeoja itu satu-satunya yang masih tinggal disana selain bibi Ahn.
'Tu.. tuan Kyuhyun.'
"bibi, apa maksud perkataan orang tadi tentang Sungmin yang tidak ada dikediaman Cho?" ujarnya langsung tanpa basa-basi.
'anou, Tuan.. Nona Sungmin keluar dari rumah dan tinggal di sebuah flat.'
Ucapan bibi Ahn membuat Kyuhyun serasa ditampar. "what? Bagaimana bisa? Sejak kapan? Kenapa bibi tidak memberitahuku sama sekali." Jeritnya.
'Nona meminta saya untuk merahasiakannya Tuan. Nona pindah sudah sejak lama, semenjak Tuan dan lainnya pergi ke Jepang.'
"SHIT!" Kyuhyun mematikan sambungan telponnya dan langsung berlari kedalam kamarnya. Mengeluarkan travel bag-nya dan mengisi dengan asal baju dan lainnya. Tidak ketinggalan beberapa dokumen penting yang nanti akan dibutuhkannya.
Tekadnya sudah bulat. Dia akan pergi ke Korea. Ada atau tidak adanya izin dari Kangin.
"Kyuhyun, kau mau pergi kemana?" Leeteuk langsung mencegat langkah Kyuhyun diruang keluarga.
"Bunda, aku ingin ke Korea dan bertemu Sungmin. Jebal, jangan larang aku." Pintanya. Leeteuk melepaskan pegangannya pada lengan Kyuhyun dan mengangguk mengerti.
"segera beri kabar setelah sampai dan salam untuk Sungmin." Kyuhyun mengangguk dan segera berlalu masuk kedalam taksi yang sudah dipesannya tadi.
.
Changmin duduk dikursi tunggu dekat ruang ICU, sesekali namja itu bangun dan menengok kedalam ruang ICU yang tidak dapat melihat keadaan didalam. "ya Tuhan, jangan ambil keluargaku yang tersisa satu-satunya."
Ya. Secara biologis Changmin adalah adik satu-satunya Jaejoong. Ibu Sungmin. Dan betapa pedihnya namja itu rasakan saat kehilangan anggota keluarga terdekatnya yang baru saja ditemui dengan cara penyakit yang sama dengan noona-nya dulu. leukimia.
Dua jam berlalu, seorang dokter keluar dari ruangan ICU. Changmin langsung menegakan tubuhnya. "dokter, bagaimana keadaan Sungmin?"
Sang dokter menggeleng perihatin. "kondisinya benar-benar memprihatinkan. Nona Sungmin sering mengabaikan obatnya dan beraktivitas diluar kemampuan tubuhnya, sudah jelas itu berpengaruh pada kondisinya."
"apa yang bisa saya lakukan untuk membuatnya sembuh kembali Dokter? Saya rela membayar berapapun asal Sungmin benar-benar sembuh secara total."
"satu-satunya cara adalah dengan transplantasi sumsum tulang belakang." Jelas sang Dokter.
Changmin mengenggam tangan Dokter itu dengan erat. "lakukan Dokter, lakukan! Saya tidak peduli berapapun biaya yang akan saya keluarkan, asalkan Sungmin bisa sembuh." Pintanya.
"saya akan melakukan yang terbaik untuk Sungmin-sshi. Tapi perlu anda tau, kami harus benar-benar mencari donor yang cocok untuknya, tidak bisa sembarang orang bisa melakukan transplantasi ini. Mungkin orangtuanya?"
Namja tinggi itu menggeleng sedih. "ibunya sudah tidak ada dok."
"ayah?"
Changmin kembali menggelengkan kepalanya.
Sang dokter menghela nafas pelan. "ini akan sulit. Tapi kami tetap berusaha untuk mencarikan donor untuk Sungmin-sshi. Tetapi sebelumnya, kami menyarankan Sungmin-sshi mengikuti kemotherapy untuk sekedar mengurangi laju kankernya hingga donor yang cocok didapatkan."
"lakukan dokter! Lakukan apapun asalkan dia bisa sembuh kembali."
Dokter Im menepuk bahu Changmin pelan sebelum berlalu dan masuk kembali kedalam ruangan ICU. Namja tinggi itu mendudukan dirinya kembali dikursi tunggu didepan ruang ICU. Tangannya kembali bertautan dan kembali berdoa dalam hati memohon kesembuhan untuk Sungmin.
.
Changmin duduk disamping ranjang Sungmin yang sudah dipindahkan diruang perawatan. Sejak pingsan sore tadi hingga kini yeoja itu masih enggan membuka matanya. Getaran dari ponselnya membuat lamunannya berhenti sejenak.
Panggilan dari nomor café tempatnya bekerja. "ne, ada apa?" ujarnya setelah mengangkat panggilan tersebut.
"…"
Alis namja itu bertautan. "namja? Mencari Sungmin? nuguya?"
Mendengar penjelasan dari seberang sana membuat Changmin menatap Sungmin yang masih terpejam rapat. "Sungmin ada di Samsung Medical Center ruang VIP Rose lantai 4, bilang padanya agar segera kesini menghampiriku." Setelah mematikan sambungan telponnya, lengan Changmin mengenggam tangan Sungmin yang tidak dipasang infuse.
"salah satu keluargamu datang Min. Cho Kyuhyun datang menemuimu." Bagaikan sebuah mantra ampun, tangan Sungmin bergerak dalam genggaman tangan Changmin. Meskipun matanya masih tetap menutup, Changmin tahu bahwa Sungmin mendengar ucapannya dan mencoba merespon.
Changmin termenung melihat reaksi Sungmin. Oh apakah namja itu memiliki tempat special dihati Sungmin? gumam namja itu dalam hati.
.
Kyuhyun sedikit berdebat dengan resepsionis di lobby tadi. Dia tidak diijinkan masuk, jelas saja ini sudah hampir jam 10 malam yang dimana jam besuk pasien sudah habis dari beberapa jam yang lalu. Dan berkat wajahnya yang lumayan tampan, membuat resepsionis itu akhirnya mengizinkannya masuk.
Tepat dihadapannya ruang VIP Rose yang sebelumnya sudah diberitahu oleh teman Sungmin di café tadi. Lengannya mendorong pintu dihadapannya dan membuat Changmin menoleh. Namja tinggi itu sedikit memberikan senyum tipis pada Kyuhyun.
"kau yang bernama Kyuhyun?"
Kyuhyun menganggukan kepalanya dan memandang Changmin, meminta penjelasan siapa peran namja itu dalam kehidupan Sungmin.
"ah, aku Changmin. Boss sekaligus paman kandung Sungmin." pengakuan terakhir Changmin membuat namja itu menaruh perhatian lebih. Berarti Sungmin sudah bertemu dengan salah satu keluarganya.
"bagaimana keadaannya?"
Changmin tersenyum sedih dan menoleh kearah Sungmin yang masih memejamkan matanya erat. "tim dokter sedang mengusahakan donor sumsum tulang belakang untuknya. Keadaannya dalam kondisi yang tidak stabil. Dokter juga menyarankan agar ia melakukan kemotherapy untuk mencegah laju kankernya."
Namja kelahiran Februari itu mendekat kearah ranjang Sungmin. Memandang wajah cantik yang tampak pucat itu dengan pandangan rindu. Selama di Jepang, hanya foto-foto Sungminlah yang menghiasi harinya, menjadi penyemangat untuknya.
Dia mengecup dahi Sungmin lama. Menyalurkan segala rasa rindu yang bercokol dalam dadanya. "aku merindukanmu," bisiknya penuh rindu.
Jemari panjangnya menelusuri wajah Sungmin. Pipi chubby Sungmin yang dulu selalu membuatnya gemas kini tidak ada. Hanya menyisakan tulang pipinya yang terlihat jelas. Bibir berbentuk unik yang biasanya merekah dan melengkungkan senyuman manis kini terlihat putih pucat.
"Minnie, bangunlah. Aku sudah ada disini, aku selalu menemanimu." Bisiknya ditelinga Sungmin.
Changmin yang memperhatikan tingkah Kyuhyun bisa menarik kesimpulan. Sungmin sangat-sangat berharga bagi namja itu. Dan benar saja dugaannya tadi, mata Sungmin bergerak-gerak gelisah disertai dengan lenguhan pelan.
"Sungmin, sayang. Bangunlah." Ucapan penuh semangat Kyuhyun membuat Sungmin meraih kembali kesadarannya. Mata beningnya terbuka walaupun masih terlihat lemah. Changmin segera memanggil dokter dengan menekan tombol merah yang menempel pada dinding kamar.
Tim dokter masuk dan membuat Kyuhyun dan Changmin menyingkir, memberikan tim dokter memeriksa keadaan Sungmin yang baru tersadar itu. "terima kasih sudah menjenguk Sungmin. Kau pasti sangat berharga baginya. Dengan hanya mendengar suaramu dia kembali tersadar." Ucapnya.
Kyuhyun tersenyum tipis. "ini kewajibanku. Janjiku agar selalu berada didekatnya."
"ya, kau adalah kakaknya."
Kyuhyun menggelengkan kepada. "aku bukan kakak kandungnya. Aku kekasihnya."
"MWO?"
Tim dokter memandang Changmin yang berteriak heboh itu. Changmin tersenyum minta maaf atas tingkahnya tadi. Namja itu menarik Kyuhyun keluar dari dalam ruangan. "kau gila? Kau berpacaran dengan adikmu sendiri?!" ujar Changmin sedikit tidak percaya.
"kami tidak ada hubungan darah apapun,"
"tapi tetap saja! Kalian dikenal sebelumnya sebagai kakak beradik, bagaimana tanggapan orang-orang disekitarmu?"
Kyuhyun mengangkat bahunya tidak peduli.
"aish!" Changmin mengacak rambutnya frustasi.
Pintu ruangan Sungmin terbuka dan membuat kedua namja itu menaruh perhatiannya pada Dokter Im. "bagaimana keadaannya?"
"Sungmin-sshi sudah sadar. Kalian harus membiarkannya istirahat dan memulihkan keadaannya. Setelah ini saya sarankan untuk mengikuti kemotherapy setelah keadaannya benar-benar stabil. Sungmin-sshi harus dalam fisik yang kuat dalam menjalani kemo tersebut," keduanya mengangguk mengerti.
Changmin dan Kyuhyun masuk kedalam ruangan Sungmin setelah tim dokter memeriksa yeoja itu dengan teliti. Mata yeoja itu membulat saat tubuh Kyuhyun mendekat kearahnya. "Kak Kyu." Lirihnya.
Kyuhyun tersenyum dan mengecup dahi Sungmin dengan lembut. "kau sudah baikan?"
Sungmin menganggukan kepalanya.
"kau harus istirahat banyak Min-ah. Dokter menyarankan agar kau melakukan kemotherapy setelah keadaanmu benar-benar sehat." Sambung Changmin.
"iya."
Kyuhyun mengelus rambut Sungmin dengan lembut. "istirahatlah, kami akan menunggumu disini." Namja itu menaikan selimut sampai sebatas dada Sungmin.
Sungmin menangkap lengan Kyuhyun dan menjadikan tangan itu sebagai sandaran pipinya. "nyanyikan lagu untukku." Pintanya.
Kyuhyun mengangguk dan mulai menyayikan sebuah lullaby yang biasanya dinyanyikannya ketika Sungmin mengalami insomnia. Tak lama hembusan nafas Sungmin terdengar teratur. Yeoja itu sudah jatuh dalam mimpi indahnya.
Namja itu mengecup dahi Sungmin dengan lembut. "jaljayo Sungmin-ah."
—o0o—
Kangin menatap Leeteuk dengan pandangan marah. Sedangkan yeoja itu menundukan wajahnya, takut ketika melihat wajah marah suaminya.
"aku tidak mengerti apa yang sedang kau fikirkan Teuk-ah."
Leeteuk mengangkat wajahnya dan memandang Kangin dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Kyuhyun punya firasat buruk tentang Sungmin, jadi aku mengizinkannya." Ucapnya.
Namja berpostur kekar itu tertawa sarkatis. "firasat buruk? Bahkan mereka tidak punya ikatan darah! Jangan membuatku tertawa."
"Kangin, aku tahu jika Sungmin bukan anak kandungku. Tapi selama belasan tahun kita bersamanya membuat ikatan batin kita menyatu. Jangan lupakan bahwa Sungmin juga adalah bagian dari keluarga Cho."
Kangin terdiam. Sekelebatan bayangan Sungmin kecil yang tertawa dan menangis muncul. Merangkak begitu semangat kearahnya. mengucapkan panggilan ayah saat pertama kali berbicara. Hingga saat yeoja itu beranjak dewasa dan selalu bermanja padanya.
Tapi tetap saja. Sungmin tidak bisa bersatu dengan Kyuhyun. Meskipun sekarang fakta menunjukan keduanya tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Tetapi masyarakat mengenal Sungmin sebagai sang bungsu, adik kandung Kyuhyun.
"aku akan ke Korea untuk menjemput Kyuhyun. Dengan lembut ataupun dengan menyeretnya paksa." Kangin meninggalkan Leeteuk dan masuk kedalam kamarnya. Membereskan barang-barangnya dan beberapa keperluan selama dia ada di Seoul.
—o0o—
Kyuhyun menahan tubuh Sungmin yang sedang membungkuk didepan westafel. Yeoja itu merasakan mual yang teramat sangat. Tubuhnya sangat lemas, tetapi rongrongan dari dalam perutnya membuatnya terus muntah-muntah.
Dokter mengatakan ini adalah salah satu efek samping dari pengobatan kemotherapy yang baru saja dijalani Sungmin. Dan Kyuhyun dengan sigap membantu Sungmin menyeka sisa muntahannya disudut bibirnya. Mengurut tengkuknya dan membasuh mulutnya.
"sudah?"
Sungmin mengangguk lemah dengan mata terpejam. Dengan sigap Kyuhyun menggendong Sungmin dan membaringkan yeoja itu keatas ranjang. Memandang wajah pucat Sungmin dengan tatapan khawatir.
"cepat sembuh Min-ah, aku tersiksa melihatmu seperti ini."
.
"bagaimana perkembangannya dokter?" Changmin sedang berbincang dengan Dokter Im setelah melakukan kemotherapy pertama pada Sungmin.
Dokter Im menggeleng pelan sembari membaca laporan kesehatan Sungmin. "tubuh Sungmin-sshi menolak cairan yang kami suntikan. Ini kasus langka,"
"jadi?"
"hanya transplatasi sumsum tulang belakang alternative terakhir. Aku harap kami segera menemukan donor yang cocok secepatnya."
Changmin merenung sejenak. "apa aku bisa menjadi donor tersebut Dokter?"
Dokter Im memandang pemuda dihadapannya. "bisa, kau harus mengalami serangkaian tes untuk memeriksa apakah milikmu cocok untuk kami jadikan donor untuk Sungmin-sshi."
Namja itu menganggukan kepalanya. "lakukan secepatnya dokter."
.
.
Kangin sudah dua hari berada di Korea, tetapi dia tidak menyangka bahwa Kyuhyun tidak pernah pulang kerumahnya. Batinnya bertanya-tanya dimana keberadaan namja itu hingga tidak pulang. Apa mungkin bersama Sungmin? fikirnya dalam hati.
Deringan yang berasal dari ponsel dalam saku membuatnya tersadar. Nomor anak buahnya yang diperintah untuk mencari Kyuhyun. "sudah ada kabar tentang dimana Kyuhyun?" tanyanya langsung setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Tuan Kyuhyun selama beberapa hari ini berada di Samsung Medical Center, sajangnim."
Setahu Kangin, mereka tidak ada sanak saudara yang sedang dirawat ataupun menjalani perawatan disana. "siapa yang sedang ditunggui Kyuhyun?"
"Nona Sungmin."
Sungmin. Batinnya bertanya-tanya. Ada apa dengan yeoja itu? Apa dia sedang sakit?
"baiklah, terima kasih atas info yang kau berikan." Kangin menutup panggilan tersebut dan bergegas keluar dari rumah menuju rumah sakit yang telah disebutkan tadi.
.
Kangin menghampiri sosok Kyuhyun yang sedang duduk didepan ruang ICU. Bahu namja itu terlihat bergetar dan mengigit jemarinya—kebiasaan namja itu jika sedang kalut. "Kyuhyun."
Mendengar suara yang terdengar familiar, Kyuhyun mengadah. Kangin bisa melihat mata merah Kyuhyun yang penuh dengan kesedihan. "ayah."
"apa yang sedang kau lakukan disini?"
Tanpa menjawab Kangin. Namja itu segera memeluk Kangin dengan erat. Menyalurkan kegelisahan dan rasa cemasnya. "Sungmin." bisiknya parau.
"kenapa dengan Sungmin?"
"dia, koma."
Kangin meringis perih. Seolah dadanya diremas dengan paksa dari dalam. "apa yang terjadi dengannya?"
Kyuhyun melepaskan dirinya. Tubuhnya didudukan diatas kursi tunggu diikuti oleh Kangin setelahnya. Dan dari mulutnya, keluarlah penjelasan-penjelasan tentang penyakit yang diderita Sungmin dan keadaannya sekarang sampai koma.
Kangin meneteskan sebulir airmata. Dalam hidupnya, pantang sekali dirinya mengeluarkan airmata. Tapi kini, karena Sungmin yang dinggapnya bukan siapa-siapa lagi untuknya berhasil membuatnya menangis.
Rasa penyesalan karena tindakannya dan ketidaktahuannya akan kondisi Sungmin membuatnya terlihat seperti ayah paling kejam didunia ini. meninggalkan putri—tidak—yeoja yang dulu pernah mengisi hati-harinya selama belasan tahun sendiri melawan penyakitnya.
Sungmin koma setelah sehari menjalani kemotherapy. Dan tadi pagi, yeoja itu mengalami kejang dan dinyatakan koma oleh tim Dokter.
"Changmin, bagaimana hasil pemeriksaanmu?" Kyuhyun berdiri dan menghampiri Changmin yang berjalan lesu sambil menenteng sebuah map berukuran sedang—hasil pemeriksaan yang dilakukannya tempo hari.
Namja tinggi itu menatap Kyuhyun sedih lalu menggelengkan kepalanya. "bagaimana ini, kita harus cepat mendapatkan donor yang cocok untuk Sungmin. jika tidak…" Changmin menghentikan ucapannya. Dirinya tidak siap kehilangan Sungmin.
Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Keadaan ini membuatnya tidak bisa berfikir sama sekali.
"apa yang sedang kalian bicarakan? Donor untuk Sungmin?" pertanyaan Kangin membuat Changmin menoleh.
"ya, kami sedang mencari sumsum tulang belakang yang cocok untuk dijadikan donor untuk Sungmin. Karena dengan itulah kami bisa menyelamatkan Sungmin." jelas Changmin.
Kangin memegang bahu Changmin. "aku ingin memeriksakan diriku. Semoga cocok."
Changmin mengangguk dan menghela Kangin untuk menemui dokter Im untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
—o0o—
Kangin sudah berbaring dalam sebuah ruangan. Lengkap dengan baju berwarna hijau—khas seseorang jika ingin melakukan operasi. Ya. Setelah pemeriksaan kemarin, dokter Im menyatakan jika sumsum tulang belakangnya cocok dengan Sungmin dan namja itu segera meminta tim dokter melakukan pembedahan secepatnya.
Leeteuk sedang menghampiri Sungmin yang masih belum sadar dari tidur panjangnya. Istrinya itu menangis hebat saat dia memberikan kabar perihal keadaan Sungmin kemarin malam. Pintu ruangan tersebut terbuka, istrinya ada disana. Memandangnya dengan senyuman yang menenangkan walaupun tetes airmata sudah turun ke pipinya.
"kau sudah siap melakukan operasi?" Leeteuk mengelus pipi chubby milik suaminya dengan lembut.
"ya, apapun akan kulakukan untuk Sungmin. Menebus segala kesalahan yang telah kuperbuat padanya." Jemarinya menangkap jemari Leeteuk lalu mengecupnya dengan lembut.
"berjuanglah, kami semua menunggumu dan Sungmin."
Kangin mengangguk mantap. Setelahnya beberapa perawat masuk dan mendorong ranjangnya menuju ruang operasi yang sudah terdapat Sungmin didalamnya. Keduanya saling berdampingan. Kangin memadang wajah cantik nan pucat milik Sungmin.
"aku mencintaimu, Sungmin. putriku." Kesadarannya perlahan mengabur saat obat bius yang disuntikan dokter berkerja.
—o0o—
5 YEARS LATER
Suara tangisan anak kecil itu menggema diseluruh ruangan berukuran sedang itu. Seorang perawat membantu sang dokter memegangi anak kecil itu agar tidak berontak saat diberi suntikan vitamin rutinnya.
"aigoo~ chaa sudah selesai. Ini lollipop yang sudah aku janjikan tadi." yeoja cantik dengan jas dokternya itu tersenyum dan memberikan sebuah lollipop berwarna menarik berukuran sedang kepada pasiennya.
Sang ibu dari anak kecil itu memeluk putranya yang sudah berhenti menangis dan kini sibuk dengan lollipop yang dipegangnya. "aigoo, anak ini tidak pernah berubah." Gumamnya.
Dokter yang masih terlihat muda itu tersenyum dan mengelus rambut kecoklatan sang anak kecil. "namanya juga anak-anak." Dia memandang sang ibu dengan tatapan hangat. "Mi Xian tampan sekali, mirip kak Zhoumi."
Xianhua. Sang ibu itu membalas senyum sang dokter. "bagaimana denganmu? Apa kau sudah 'isi'?"
Sang dokter tersenyum dan menggeleng pelan. "pernikahan kami baru menginjak dua bulan. Lagipula kami masih ingin bermesraan." Jawabnya disertai dengan cengiran jahil.
"Ya! Kau tidak menunda kan?"
Kepala dokter cantik itu menggeleng. "aniya, kami tidak menunda. Mungkin memang belum waktunya."
Xianhua mengangguk. Matanya tak sengaja bertumpu pada jam berbentuk kepala kelinci lucu yang tertempel didinding. "astaga! Aku lupa! Zhoumi sudah menungguku didepan. Aku dan Mi Xian harus pulang sekarang. Terima kasih, Cho Sungmin."
Xianhua menggendong putranya dan keluar dari dalam ruangan tersebut sambil melambai.
Sungmin. ya. Dokter cantik itu memang Sungmin. Lima tahun lalu dia berhasil melawan penyakitnya berkat Kangin—malaikat penolongnya. Dan kini harapannya untuk menjadi seorang dokter tercapai semenjak setahun yang lalu.
Sungmin mendudukan bokongnya diatas kursi miliknya. Saat pandangannya bertumpu pada sebuah bingkai foto yang membuat senyumnya merekah. Foto pernikahannya.
"melamunkan apa?"
Yeoja itu menoleh, bibirnya tertarik semetri saat sosok suaminya berjalan mendekat dan memberikan sebuah kecupan manis dibibirnya. "aniya,"
Tangan hangat namja itu menangkup pipi gembil Sungmin. "benarkah?"
"neeeee Tuan Cho Kyuhyun."
Namja itu. Kyuhyun. Suami Sungmin, memberikan sebuah kecupan dibibir saat mendengar suara menggemaskan istrinya. "jam kerjamu sudah habis kan? Ayah meminta kita untuk pulang dan menginap dirumah."
Sungmin mengangguk dan membereskan tasnya. Dia menggandeng Kyuhyun keluar ruangan menuju lobby utama Seoul Medical Center ini. Melihat keduanya berjalan bersama dengan bergandengan tangan membuat siapa saja yang melihatnya berdecak kagum.
Adakalanya sebuah kehidupan bagaikan sebuah roda. Dimana kita berada dibawah untuk menguji bagaimana kesabaran kita dalam menghadapi kehidupan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan.
Kyuhyun memandang Sungmin dengan penuh cinta. Bersyukur pada Tuhan karena memberikan malaikat cantik dalam gandengannya ini untuk sembuh dan mengisi hari-harinya. Begitu juga dengan Kangin yang sudah kembali menjadi ayah yang dulu, memberikan cinta yang sama pada Sungmin meskipun dia bukan anak kandungnya.
Lima tahun berlalu dan dia merasakan hidupnya hampir sempurna. Keluarga yang utuh, teman-teman yang setia, bisnisnya berjalan dengan lancar dan sukses, serta istri yang cantik dan sesempurna Sungmin. Ah, satu hal lagi yang membuat hidup Kyuhyun lebih sempurna, dia menunggu seorang malaikat kecil titipan Tuhan hadir dalam rahim istrinya.
THE END
.
.
Halloooo~ anyone miss me? Hehe. Akhirnyaaaa~ setelah sekian lama saya bisa lanjutin fanfic terlama saya ini. Maaf untuk keterlambatan updatenya, maaf juga untuk cerita anehnya ini. Oh iya, satu lagi maaf juga untuk penjabaran keadaan Sungmin diatas, itu karangan dangkal saya.
Makasih untuk semua yang masih berminat dengan fanfic membosankan saya ini. Terima kasih untuk reviewer tersayang, yang masih nyempetin waktunya untuk meriview. Untuk yang mem-fav dan mem follow fanfic ini. Terima kasih.
ah, saya hanya bisa bilang I love you guys, my beloved joyers. Sampai jumpa difanfiction lainnya.
.
.
Keep love and support Kyumin
THANIA LEE
