Disclaimer : I own nothing but the plot. And maybe several OC's.
Valentine With Hermione Granger
By
nessh
Seisi Aula terdiam saat si kupu-kupu mulai terbang menurun. Para gadis (dan beberapa pria) terlihat kecewa karena mereka sudah tahu bukan mereka yang terpilih. Namun semua orang di dalam ruangan terlihat sangat tidak sabar melihat siapa yang akan menghabiskan hari valentinenya dengan Harry Potter. Ronald Weasley hanya berharap kupu-kupu itu tidak menghampiri Luna Lovegood. Dia jelas-jelas tidak mau menghabiskan hari valentinenya sendirian dan melihat pacarnya ciuman dengan Harry. Aula kembali riuh saat kupu-kupu mendarat di bahu—
Hermione Granger.
Jam sudah menunjukkan lewat waktu tidur dan empat dari lima orang siswa di asrama Gryffindor sudah tertidur lelap, kecuali Harry Potter. Harry berbaring di ranjangnya dengan kedua tangan terlipat di bawah kepalanya, matanya menatap lurus dan kosong ke langit-langit, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tidak, seseorang. Harry tidak bisa memikirkan Hermione.
Harry sangat terkejut saat tahu bahwa Hermione mengikuti kuis dan menang. Namun Harry juga merasa lega karena dia tidak akan menghabiskan harinya dengan orang yang hanya menatap luka di dahinya. Tapi saat salah satu si kembar (mata Harry terlalu terpaku pada Hermione jadi ia tidak sadar siapa yang berbicara) mengatakan dan mengingatkan Harry pada ciuman yang dia dan Hermione harus (menurut si kembar itu kewajiban) dilakukan. Harry ingin kabur saat itu juga. Dia tidak mungkin mencium Hermione! Tapi si kembar dan seisi aula bersikeras. Harry ingat wajah Hermione yang memerah, ia ingat wajahnya sendiri terasa panas dan ia tentu ingat betapa lembut bibir Hermione. Harry juga ingat si kembar harus berdeham beberapa kali sebelum Harry maupun Hermione sadar bahwa mereka masih berciuman di depan Aula Besar dan disaksikan seluruh murid, guru dan hantu plus Mrs Norris.
Tidak, Harry tidak mengeluh karena dia harus mencium Hermione. Bahkan, dia menyukainya. Awalnya Harry merasa semuanya akan terasa aneh dan kaku karena Hermione adalah sahabatnya! Tapi anehnya, Harry menyukai itu. Sangat menyukai itu. Harry tidak pernah sensasi seperti itu kecuali saat ia terbang sangat tinggi. Sensasi yang sangat adiktif dan menyenangkan. Dan Harry tidak sabar menanti kencannya besok.
Harry akhirnya tidur, dengan seorang gadis dengan mata cokelat hangat memenuhi mimpinya dan senyum menghiasi wajahnya.
Harry dan kebanyakan siswa menyadari Hermione sangat cantik saat Yule Ball. Gaun biru dan cara Hermione menata dirinya hari itu membuat dagu siapapun jatuh ke lantai, termasuk Harry. Di saat itu Harry menyadari bahwa sahabatnya itu sangat cantik. Well. Tidak seperti Ron, Harry selalu sadar kalau Hermione seorang gadis. Dia sadar itu saat Hermione memeluknya sewaktu mereka masih kelas dua. Harry merasakan sesuatu yang Hermione miliki tapi tidak ia miliki. Sehari-hari, kecantikan Hermione tersembunyi di balik buku dan jubah yang dia pakai. Di akhir pekan, Hermione berpenampilan seperti kebanyakan Muggle seusianya, dengan jeans dan kaus tanpa jubah santai yang kebanyakan temannya pakai. Seperti sekarang. Hermione hanya memakai jeans, kaus lengan panjang, sweater berwarna merah khas Gryffindor, dan sepasang sepatu keds.
"Pagi, Harry." Sapa Hermione sambil tersenyum sejenak sebelum kembali membaca Daily Prophet di tangannya. Tampaknya ia sudah menyelesaikan sarapannya dan sudah tenggelam dalam Daily Prophet, beberapa buku terlihat tertumpuk rapi di sisi kanannya.
"Pagi Hermione," Harry duduk di samping Hermione lalu menyadari ada sesuatu yang hilang. Harry celingukan. "Dimana Ron?"
"Di lemari sapu bersama Luna." Jawab Hermione santai, matanya tidak lepas dari Daily Prophet.
Harry mengernyit. Ini masih pagi dan mereka sudah masuk ke lemari sapu! Harry menggeleng cepat, menghilangkan gambaran pasangan penuh hormon yang membuatnya mual dari otaknya, dan mulai memakan sarapannya.
Harry tersedak saat si kembar datang menghampirinya dan Hermione lalu menepuk punggung Harry keras sambil berkata, "SELAMAT PAGI!" bersamaan. Harry menenggak habis air dari pialanya.
Hermione mendelik pada si kembar sambil mengusap punggung Harry. Keduanya hanya nyengir dan melewati mereka untuk duduk bersama Angelina dan Katie. Kedua gadis itu melihat kejadian tadi dengan jelas, keduanya menggeleng pelan. Angelina bahkan memukul kepala si kembar dan mulai menceramahi mereka berdua.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hermione setelah Harry berhenti batuk-batuk.
Harry mengangguk. "Yeah. Si kembar gila. Gimana kalau aku tersedak sampai mati?! Bloody h—"
"Harry James Potter, jangan mengumpat!" potong Hermione sebelum Harry sempat selesai berbicara.
"Maaf Hermione," kata Harry sambil nyengir polos.
Hermione memutar matanya. "Jadi—uhm—kita akan kemana hari ini?" tanyanya, kedua pipinya sedikit bersemu.
"Oh," Harry kaget, pipinya terasa hangat. "Umm, sebenarnya aku sudah meminta Dobby menyiapkan makanan untuk piknik di danau. Atau kita bisa pergi ke Hogsmeade kalau kau mau." Tambah Harry cepat. Dia ingin hari ini sempurna untuk Hermione.
"Aku kira kau akan mengajakku ke Madam Puddifoot."
"Urgh. Tolong jangan ingatkan aku pada itu." Keluh Harry.
Hermione tertawa. "Maaf Harry. Aku rasa piknik di danau akan sangat menyenangkan dan jauh dari mata orang-orang dan Rita Skeeter."
"Itu yang aku pikirkan!" Harry lega Hermione memiliki pikiran yang sama. "Plus kita tidak akan bertemu dengan Malfoy disana." Harry nyengir.
"Oke, jadi kita bertemu sekitar sejam lagi? Aku harus pergi ke perpustakaan dulu."
"Tentu saja." Harry menahan diri untuk tidak tertawa. Hanya Hermione Granger yang akan pergi ke perpustakaan di pagi hari di akhir pekan. Hermione tersenyum dan bangkit dari kursinya untuk pergi ke perpustakaan. Setelah memberi Harry ciuman kilat di pipinya.
Harry nyengir dan menatap Hermione sampai dia menghilang di balik pintu Aula Besar. Saat ia sadar, si kembar sudah menatapnya sambil tersenyum sangat lebar, kedua alis mereka naik turun menggoda. Angelina dan Katie hanya mengulum senyum. Wajah Harry memerah dan ia kembali berkonsentrasi pada sarapannya.
Harry merasa keputusannya untuk tidak pergi ke Hogsmeade sangat tepat. Kastil sangat sepi karena sebagian besar siswa dan beberapa guru pergi ke Hogsmeade. Sisi danau masih membeku karena musim dingin. Walau cuaca sudah tidak sedingin bulan desember atau januari. Harry menikmati harinya. Dobby menyiapkan cokelat hangat dan sandwich untuk piknik. Hermione menyukai cokelatnya dan bahkan meminta Dobby untuk membawakan marshmallow untuk dicelupkan ke cokelat panasnya.
"Aku dengar dari Fred dan George, kata mereka kau bisa menjawab semua pertanyaan yang aku berikan dengan benar." Kata Harry sambil menyelupkan marshmallow ke dalam cokelat panasnya. Hermione benar, rasanya sangat enak!
"Well. Aku rasa tidak ada seorang pun yang mengenalmu seperti aku mengenalmu, Mr Potter." Sahut Hermione.
Harry terkekeh. "Itu benar, Miss Granger. Tapi aku penasaran. Hey, kau mau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu lagi?"
"Itu tidak menyenangkan. Lagipula aku sudah menang," Hermione pura-pura cemberut. "Oh! Bagaimana kalau kau yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tentangku?"
"Umm, aku rasa aku tidak mengenalmu seperti kau mengenalmu Hermione."
"Ayolah Harry. Ini akan sangat menyenangkan. Dan tenang saja, aku tidak akan marah padamu kalau kau tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kau cowok. Aku akan sangat beruntung jika kau bisa menjawab setengah dari pertanyaanku."
Harry memutar matanya. "Baiklah."
Hermione memperbaiki posisi duduknya hingga ia kini duduk berhadapan dengan Harry. Gelas cokelat panasnya digenggam dengan kedua tangannya, memberikan kehangatan ke jemarinya.
"Pertanyaan pertama, nama lengkapku?"
"Oh itu mudah. Hermione Jane Granger. Kau pernah marah pada Ron karena dia mengira nama tengahmu itu Jean seperti Umbridge." Harry nyengir.
Hermione mendengus, "Aku benci orang itu. Ron sebenarnya bukan orang pertama yang mengira nama tengahku itu Jean. Oke lupakan itu. Pertanyaan kedua, ulangtahunku?"
"Itu terlalu mudah. 19 September 1979. Semua orang tahu itu."
"Semua pertanyaan dimulai dengan yang mudah Harry dan tidak semua orang tahu ulangtahunku. Bahkan Ron pernah lupa. Sekarang, apa warna favoritku?"
"Aku cukup yakin biru. Seperti warna langit di musim panas dan warna gaunmu saat Yule Ball." Jawab Harry sambil merentangkan kedua tangannya.
"Itu benar. Sebagai informasi, aku juga suka hijau."
"Hijau? Seperti pohon?"
Hermione menggeleng, "Emerald green."
"Warna Slytherin?" Harry mengangkat alisnya.
Hermione mengangkat bahu. "Slytherin punya warna yang sangat bagus dan elegan. Sekarang, pertanyaan selanjutnya, nama orangtuaku."
"Oke. William dan Helen Granger. Keduanya dokter gigi. Kau tidak pernah mau menjadi dokter, tapi mereka mau kau jadi dokter seperti mereka."
"Dan setelah mereka tahu aku penyihir, mereka mau aku menjadi Healer." Lanjut Hermione sambil menghela nafas.
Harry tertawa, "Aku tidak akan pernah bisa membayangkan kau sebagai Healer. Aku selalu membayangkan kau menjadi seperti—umm—Amelia Bones atau bahkan menjadi perdana menteri sihir! Sebuah tempat dimana kau bisa membuat perbedaan di dunia sihir Inggris."
"Perdana menteri sihir? Harry, tidak pernah ada seorang Kelahiran-Muggle yang menjadi Perdana Menteri Sihir. Apalagi seorang perempuan. Dan kenapa kau kira aku tidak akan pernah cocok menjadi Healer?"
"Kenapa tidak? Kau penyihir terbaik di angkatan kita." Kata Harry santai sambil mengangkat bahunya. Ia menenggak habis cokelatnya. "Lagipula kau akan sangat bosan dengan pekerjaan yang menoton. Aku rasa kau akan sangat senang menjadi seperti Amelia Bones. Kau akan mendapat tantangan baru setiap hari. Jadi, kau akan memberikanku pertanyaan atau kita akan terus berdebat tentang ini?"
Hermione tertawa. "Baiklah, sekarang kita masuk ke pertanyaan yang lebih pribadi. Apa makanan favoritku?"
"Itu pribadi?"
"Jawab saja Harry." Hermione memutar matanya sambil menggeleng pelan.
"Oke, oke. Cheesecake dengan graham cracker dan blueberry."
"Ding! Itu benar. Selanjutnya, buku favoritku?"
"Hmm," Harry mengerutkan keningnya perlahan. "Aku tidak terlalu yakin tentang ini, kalau aku tidak salah buku favoritmu itu The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Apa aku benar?"
Hermione terlihat takjub. "Itu benar, bagaimana kau tahu?"
"Well," Harry mengangkat bahu. "Kau pernah cerita padaku itu adalah buku terakhir yang nenekmu berikan padamu sebelum dia meninggal. Jadi aku kira itu akan lebih berharga untukmu. Pilihan keduaku adalah Little Women karya Louisa May Alcott, aku pernah melihat kau membaca buku itu beberapa kali di akhir pekan."
Hermione mengira Harry akan menjawab Hogwarts : The History yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Hermione suka buku itu. Tapi kedua buku yang Harry sebut tadi memiliki tempat tersendiri di hatinya. Seperti Harry yang memiliki tempat tersendiri di hatinya. Hermione menggeleng pelan, mengenyahkan pikiran itu dari otaknya. Harry adalah sahabatnya, tidak lebih.
"Umm, jadi pertanyaan selanjutnya," Hermione berdeham dua kali. "Apa yang paling aku takuti?"
"Hmm…Gagal di NEWT. Apa aku benar?"
Bibir Hermione mengerucut. Itu tidak sepenuhnya salah. Hermione sangat takut dia gagal dalam NEWT. Tapi ia ingat saat Harry ikut Turnamen Triwizard, bagaimana dia merasa takut dia akan kehilangan Harry. Hermione tidak pernah merasa setakut itu sepanjang hidupnya, bahkan tidak saat dia bertemu Troll saat kelas satu atau saat dia sangat stress pada OWL.
"Hermione? Apa kau baik-baik saja?"
Hermione tersadar dan menyadari wajah Harry sangat dekat dengannya. Refleks, dia menjauhkan wajahnya dari Harry. Wajahnya terasa panas. "Oh. Aku, umm, aku baik-baik saja."
Harry mengerutkan keningnya. Tentu dia tahu Hermione tidak baik-baik saja. Harry mengenalnya cukup lama dan saat Hermione menjawab pertanyaan Harry tanpa melihat matanya, Harry tahu sesuatu pasti sedang mengganggunya.
"Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Katakan padaku, ada apa? Aku mengatakan sesuatu yang membuatmu tersinggung? Jawabanku tadi menyinggung perasaanmu?"
"Tidak!" jawab Hermione cepat. "Tidak, tentu tidak. Aku hanya—aku tidak tahu jika aku bisa mengatakan ini padamu."
Harry tertawa dan meringsek mendekati Hermione, mengalungkan lengan kanannya di bahu Hermione. Hermione menghela nafas, menyandarkan kepalanya di bahu Harry.
"Ayolah Hermione, aku sahabatmu, kau bisa mengatakan apapun padaku." Kata Harry pelan setelah keduanya terdiam selama beberapa saat.
Hermione menggigit bibirnya. Harry memperhatikan bibir merah tipis itu dan tidak bisa tidak berpikir, merlin gadis ini seksi. Harry memukuli dirinya sendiri dalam benaknya.
"Jawabanmu barusan. Itu salah. Oke tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya benar. NEWT bukan sesuatu yang sangat aku takuti."
"Itu yang mengganggu pikiranmu?" Harry mengangkat alisnya sebelah. Hermione mengangguk dan melempar pandangannya ke danau. "Umm oke. Jadi apa yang paling kau takuti?"
Hermione menggigit bibirnya lagi dan menggumamkan sesuatu yang terlalu pelan untuk Harry tangkap. Harry mengerutkan keningnya dan meminta Hermione untuk mengulang kembali apa yang baru saja ia katakan. Hermione cemberut.
"Aku tidak bisa mendengar apa yang kau katakan!" protes Harry.
"Aku—apa yang aku takutkan—itu—" Hermione menarik nafas pelan dan berkata, nyaris berbisik, "Kehilanganmu."
Harry merasa dia salah mendengarnya. Apa? Hermione takut kehilangannya? Hal yang paling Hermione takutkan adalah kehilangannya? Harry merasa sesuatu menggelitiknya, mulai dari jemari kakinya ke sekujur tubuhnya. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Harry meraih dagu Hermione, mengangkatnya dengan lembut. Wajah Hermione yang bersemu kemerahan membuatnya terlihat semakin cantik di mata Harry. Perlahan, bibirnya menyentuh bibir Hermione.
Kembang api di benaknya. Sensasi menggelitik di perutnya. Jantungnya berdebar kencang.
Saat mereka berhenti. Mereka berdua memiliki senyuman terlebar yang pernah mereka miliki.
"Satu pertanyaan lagi Harry."
Harry dan Hermione duduk di depan perapian di Ruang Rekreasi Gryffindor. Hermione duduk di atas sofa dengan kepala Harry di pangkuannya. Tangannya menyapu rambut Harry yang memejamkan matanya menikmati sentuhan Hermione.
"Hmm…"
"Apa yang aku pikirkan tentangmu?"
Harry membuka matanya dan menatap lurus pada sepasang mata cokelat yang menatapnya penuh sayang. Dia tersenyum dan mengangkat tangannya, mengelus pipinya dengan ibu jarinya perlahan.
"Kau pikir, aku adalah cowok tertampan di dunia." Harry nyengir.
Hermione memutar matanya, "Yang benar saja Harry."
Harry tertawa. "Aku bercanda Hermione, aku tahu apa yang kau pikirkan tentangku."
"Dan itu adalah?"
"Kau mencintaiku."
Hermione tersenyum dan mencondongkan tubuhnya untuk mencium Harry. Harry tersenyum di tengah ciumannya, hanya di saat seperti ini dia benar-benar merasa seperti The Chosen One.
