Minta ijin cuti dari sekolah buat ngantar Baby Izuna ke Surabaya, sampai batas waktu yang tidak bisa kuperkirakan, entah kenapa aku kok jadi ngerasa kayak nandatanganin surat pengunduran diri secara tidak langsung, ya?
Aku nggak tahu kami bakal tinggal berapa lama di tempat Ayah Mas Sasuke, di Surabaya. Aku hanya bisa menebak, kalau keberadaan kami di sana akan memakan waktu lebih dari seminggu. Mas Sasuke sudah lama tidak bertemu dengan Ayah kandungnya, jadi mereka pasti butuh sedikit waktu lebih untuk saling melepas rindu.
Hari ini aku tidak pergi ke sekolah karena harus menyiapkan semua keperluan keberangkatanku dan Baby Zuna, baju-baju, popok, bedak bayi dan segala macam tetek-bengeknya, susu bubuk, botol susu, serta termos air panas yang akan kupakai untuk menyeduh susu Izuna di perjalanan, semua sudah kukemas dalam sebuah koper, satu tas ransel (yang ini berisi pakaianku, dan jangan tanya apa aja isinya kalau nggak mau malu.) dan juga tas jinjing kecil tempat menyimpan semua keperluan khusus Izuna. Soal ijin cuti dari sekolah, aku mendapatkannya setelah menelpon Pak Kepsek.
"Apa?" Mas Sasuke, yang lagi nonton acara berita kriminal siang di tivi, mengernyit melihatku yang terus memandangnya sembil mengerutkan dahi. Aku baru saja membuka pintu kamar, dan mendapati dia yang tengah asik menonton di ruang keluarga. Nih orang kok masih di sini, dan nggak pulang-pulang sih?
"Nggak apa-apa, Mas," aku menggeleng sembari menghenyakan di sofa dua dudukan, yang letaknya berseberangan dengan dengan sofa yang diduduki Mas Sasuke, "cuma mikirin soal perjalanan pake mobil besok," aku cengengesan menggaruk kepala yang tak gatal.
Mas Sasuke diam sebentar, dia menatapku seksama, "Kamu mabuk darat?"
"Hahaha, gitu deh, Mas." Tengsin juga sih ngakuinnya.
"Jadi selama ini kamu belum pernah berpergian keluar kota?"
Ngangguk malu. Ketahuan kalau aku cuma anak desa yang jarak jangkauan pergaulannya hanya sampai wilayah kacamatan dan kabupaten doang.
"Waktu SMP, saya pernah ikut Papa pergi ke Mataram buat ngikut seminar naik Bus, cuma baru sampe cabang B'ango, Papa langsung bawa Sakura turun dari mobil gara-gara Sakura sekarat—tepar di atas Bus." aku bergidik mengingat kenangan memalukan itu. Kok mendadak aku jadi formal ya sama Mas Sasuke?
Mas Sasuke terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru kuberikan. Ekspresinya merupakan campuran dari rasa cemas dan bingung, "Kalau begitu besok siapin buah yang kecut-kecut asem sama beberapa roti dan juga obat anti mabuk buat kamu," dia bergumam seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri. "Jangan sampe Mas, kerepotan ngurusin kamu sama Izuna," dia mendelik ke arahku.
Aku manyun. Yowes, kalau nggak mau direpotin, ya jangan ajak akulah, Mas.
Buat yang pernah ngerasain mabok darat pasti ngerti kan, gimana perasaanku waktu naik bus dalam perjalanan yang butuh hitungan hari buat sampe di tempat tujuan? Mual. Pusing. Isi perut rasanya seperti ditarik-tarik. Laper, tapi nggak bisa makan. Bawaannya muntah mulu, jadi mesti kudu sedia kantong plastik selama dua puluh empat jam buat jaga-jaga isi perut keluar dari tempatnya.
Sepanjang perjalanan aku gelisah, menggeliat-geliut seperti orang kebelet kencing. Padahal busnya belum juga nyampe satu kilo jalannya, sejak kami naik di terminal bus di cabang Talabiu. Sebelum berangkat tadi, Mama mewanti-wantiku agar jangan mabok atau muntah, jaga Izuna, dan jangan ngerepotin Mas Sasuke. Tapi sejak kecil aku udah punya penyakit mabok darat kalau ada perjalanan jauh, gimana bisa diubah coba? Belum lagi kami mendapat tiket kursi di deretan yang paling tidak menyenangkan, bangku belakang deket toilet, jadi sama sekali nggak membantu.
Menyadari kegelisahanku, Mas Sasuke yang asik bermain dengan Izuna, melirik, "Masa udah mau mabok aja?" sebelah alisnya terangkat tinggi.
Aku cemberut ke arahnya. Pake acara ditanya 'Masa udah mau mabok?' segala. Kalau mabok ya mabok, kagak ada masa-masanya!
Mas Sasuke mendesah, "Sebelum berangkat tadi udah makan?"
Aku mengangguk.
"Udah minum pil anti mabuknya?"
Ngangguk lagi.
"Terus kenapa mau mabuk secepat ini? Ini baru juga nyampe Sila." Dia menggerutu.
Aku hanya mengeluarkan suara rengekan kecil untuk menjawab perkataan Mas Sasuke.
Bosan memelototi punggung kursi penumpang di depan kami, aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Rumah-rumah dan pepohonan tampak seperti kilasan gambar dalam video yang timer waktunya cepat berlalu. Suasana diluar juga tampak sepi dan gelap, karena hari sudah larut. Beberapa anak muda terlihat nongkrong-nongkrong di warung pinggir jalan, sambil nyanyi-nyanyi ceria diiringi petikan gitar.
Aku menghela napas berat, bersandar pada sandaran kursiku, mencoba untuk mengurangi rasa pusing dan mual yang mulai datang. Ya Allah, jangan sampai aku mabuk dan muntah. Aku ikut buat ngerawat dan ngejagain Izuna, bukan buat ngerepotin Mas Sasuke.
"Ini."
"'Hmm?" aku mengernyit bingung saat Mas Sasuke menaruh plastik hitam, yang berisi buah-buahan seperti salak dan jeruk serta sebungkus permen rasa asem dan juga beberapa bungkus roti, di atas pangkuanku.
"Kalau kamu udah mulai pusing dan mual, coba makan aja dulu ini. Mudah-mudahan bisa baikan," katanya lembut. Aku bisa menangkap rasa iba dari sorot matanya, "Ibu bilang, kalau mabuk darat gara-gara naik bus dalam perjalanan yang memakan waktu beberapa hari, buat ngurangin rasa mual dan pusingnya adalah makan buah yang kecut-kecut atau permen. Dan kalau kamu lapar, makan aja rotinya," Mas Sasuke terlihat canggung dan malu-malu saat menjelaskan hal itu padaku.
Aku tersenyum kikuk, "Makasih."
"Hmm. Sama-sama."
Aku merasa baru tidur sebentar saat tiba-tiba Mas Sasuke menepuk pundakku.
"Sak. Saku, bangun Sakura."
Geliat-geliut sebentar, trus mangap nggak elit dulu baru buka mata. Sempat linglung ngeliat muka geli Mas Sasuke, yang terpampang nyata di depan mata, dengan dedek Izuna yang lagi kumat bawelnya di dalam gendongan.
"Lho, Mas Sasuke kok disini?" o'on kumat.
Mas Sasuke nyengir, "Kamu lupa ya, kalau kita lagi ada di bus menuju Surabaya?"
Muka mendadak pucat lagi. Pengen muntah, tapi ngeliat muka ganteng Mas Sasuke dari jarak sedekat ini bikin muntahan tertahan di dada. Ya Allah, kakak iparku ini kece badai bener. Rambut item berantakan, idung mancung, bibir seksi, dan mata tajem anget walau ada sedikit belek yang nempel sekitar. Belum lagi senyumnya … idiwh bikin hati rontok.
Plak!
Oke. Gue udah sarap sampai ngecengin kakak ipar sendiri. Mbak Shizune, maafkan adikmu ini yang sedikit khilaf mengagumi suamimu.
"Oh," hanya itu reaksi yang bisa kukeluarkan. Melirik sekeliling aku melihat para penumpang lain udah mulai bangun dan turun dari bus, lho? Kok …, "Kita udah nyampe Surabaya ya, Mas?" o'onku masih belum ilang. Ini baru jam tiga subuh, katanya perjalanan menuju Surabaya memakan waktu tiga hari tiga malam, dan tiga kali nyebrang laut pakek kapal, kok ini cuma beberapa jam aja?
Mas Sasuke tergelak, mencoba menenangkan Izuna yang merengek-rengek ingin digendong olehku. Sabar Nak, Tante Sakura ngumpulin nyawa dulu bentar. Setelah memastikan nyawaku terkumpul semua, aku segera bangkit dan mengambil Izuna untuk digendong menggunakan 'sarung gendong' yang sudah kusiapkan.
"Ngelewati Sumbawa aja belum, Sak. Kita lagi ada di Ampang-Sumbawa, penumpang dan awak bus lainnya sudah turun buat istirahat dan makan," jelas Mas Sasuke.
"Owh." Jadi malu.
"Ayok kita turun juga."
Aku tersentak saat Mas Sasuke tiba-tiba menggenggam tanganku, dan membawaku turun dari Bus.
Buat kalian yang pernah mabuk darat aku mau nanya, apa jantung yang berdetak kencang melebihi batas normal merupakan salah satu efek dari mabuk perjalanan darat? Kalau bukan, lalu kenapa sekarang jantungku berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya?
Walau makanan enak udah berjejer di atas meja, saat kami makan di warung makan di Ampang, tapi aku sama sekali nggak napsu makan. Hal ini terjadi, bukan karena aku mau jaga imej di depan Mas Sasuke biar nggak dikatain cewek rakus, Mas Sasuke tahu kok soal nafsu makanku yang gila-gilaan, cuma … kepalaku pusing, dan perutku mual. Aku pengen muntah.
Merasa tak sanggup lagi menahan diri untuk duduk di sana, di tengah orang-orang yang sedang makan, aku segera berlari keluar warung makan—setelah menyerahkan Izuna pada Mas Sasuke. Aku mencari tempat aman untuk mengeluarkan isi perutku, di depan warung makan, di bawah pohon (yang aku sama sekali nggak tahu namanya) kebetulan di sana gelap, jadi aman kalau mau muntah.
Badanku lemes. Walau udah nggak ada lagi yang bisa dimuntahin, bawaannya tetep mual. Aku terduduk tanpa daya di bawah pohon, nggak peduli deh mau disangka sebagai kuntilanak dan sebangsanya, yang penting ngilangin mual dan pusing dulu.
"Udah baikan?" aku terkejut merasakan sebuah tangan hangat yang besar memijat tengkukku lembut. Aku menoleh dan mendapati Mas Sasuke yang menatapku perihatin.
"Mas?"
"Kalau belum, lanjutin aja muntahnya," dia terlihat seperti seorang ayah dan calon suami idaman, menggendong Izuna sambil memijat tengkukku. Beberapa gadis yang keluar dari warung makan memandang ke arah kami, saling berbisik dan melemparkan tatapan iri sekaligus kagum.
Setelah memastikan sudah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan, aku segera bangun, menerima air mineral yang disodorkan Mas Sasuke kemudian kumur-kumur.
"Sudah baikan?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
"Maaf ya gara-gara Mas kamu harus ngalamin hal ini," dia meringis, "seharusnya Mas nggak ngajak kamu atau kita bisa pergi pake pesawat," sesalnya.
"Ndak apa-apa, Mas. Seharusnya saya yang minta maaf, saya ikut buat ngebantuin Mas ngerawat Izuna, eh, saya malah nyusahin Mas."
Mas Sasuke tak menjawab. Dia hanya mengacak pelan rambutku.
Saat Pak Supir kumisan endut dan Bang Kenek kurus unyu mengumumkan bahwa Bus akan segera berangkat, dan para penumpang diminta untuk segera naik, Mas Sasuke menggandeng tanganku dan menuntunku ke atas bus.
Di atas kapal penyebrangan dari selat Sumbawa menuju Mataram, aku dan Mas Sasuke tidak turun dari Bus seperti penumpang lain. Izuna mendadak rewel, dia terus menangis dan badannya juga panas. Beberapa kali dia memuntahiku.
Waduh Nak, ngeliat kamu muntah kek gini, Tante juga jadi pengen ikutan muntah. Hiks.
"Mungkin dia masuk angin," kataku melihat kecemasan di wajah kusut-kurang-tidur Mas Sasuke. Sekarang udah jam lima subuh, sejak berangkat semalam, aku sama sekali nggak ngeliat Mas Sasuke tidur.
"Terus kita harus gimana?" tanyanya panik.
Izuna menangis kencang, memandang Mas Sasuke dan mengeluarkan suara tangisan yang terdengar seperti merajuk.
"Iya Nak, iya. Ayah tahu kamu sakit. Maafin Ayah ya, Sayang." Dia berkata parau sambil mencium kening Izuna kembut. "Saku, Mas turun dulu ya. Nyari obat buat Izuna di kapal, siapa tahu ada yang jual."
Aku mengangguk.
Setelah kepergian Mas Sasuke, tangisan Izuna kecil makin kencang hingga suaranya serak. Dia tidak mau kugendong sambil duduk di kursi bus, dia mau kugendong sambil berdiri dan berjalan mondar-mandir. Ya Allah, Nak, tolong jangan lakuin hal ini sama Tante. Tante juga lagi sakit, Nak. Kepala masih pusing dan perut mual.
Berjuang untuk bangun dari kursi penumpang sambil menggendong Izuna, aku berusaha untuk tidak jatuh dan muntah. Aku semakin pusing, ditambah guncangan kapal membuat di atas kepalaku terlihat seperti ada burung-burung pipit yang terbang mengelilinginya.
Pasangan paruh baya, seorang bapak-bapak yang kumisan dan kepalanya rada botak dan seorang ibu berjilbab naik. Mereka melempar senyum ramah ke arahku, lalu mengernyit memandang Izuna yang sesengukan, merengek sakit. Kayaknya Izuna udah capek nangis sambil tereak-tereak.
"Anaknya sakit ya, Dek?" tegur Ibu-ibu ramah itu sambil menatapku perihatin.
"Iya Bu." Aku mengangguk. Enggan mengoreksi anggapannya mengenai hubunganku dengan Izuna.
Si ibu yang semula ingin duduk di kursinya, beranjak ke arahku, dia memeriksa kening Izuna dan terkejut mendapati suhu tubuh keponakanku yang mendidih seperti air yang direbus.
"Ya Allah, Dek, badan anakmu panas sekali," katanya khawatir, dia kemudian mengamatiku dengan seksama, "mukamu juga pucat, Dek. Apa kamu sakit?"
Aku hanya tersenyum muram menjawab pertanyaannya.
Ibu-ibu itu dan suaminya sangat baik hati. Mereka merupakan pasangan dokter. Ibu itu memberikan Izuna obat penurun panas, dan memeriksanya. Dia juga memberiku obat penghilang rasa mual akibat mabuk darat. Mereka menjagaku dan Izuna sampai Mas Sasuke kembali.
Aku sudah mulai mengantuk, saat Ma Bian mengambil Izuna dari dekapanku untuk digendong.
"Istri dan anakmu baik-baik saja Anak muda," si Bapak memberitahu Mas Sasuke, "Istrimu hanya mabuk laut, itu hal wajar. Sementara anakmu, dia hanya terkena demam biasa."
"Terimakasih Pak, Bu."
Mereka berbincang selama beberapa menit. Si Bapak dan si Ibu kembali ke bangkunya untuk membiarkan kami istirahat.
"Sekali lagi terimakasih sudah menjaga anak dan …," Mas Sasuke melirikku sekilas, "istri saya, Pak, Bu." Kedengerannya Mas Sasuke nggak ikhlas banget nyebut aku sebagai istrinya, dan aku juga nggak tahu kenapa dia tidak mengklarifikasi ucapan si Bapak dan si Ibu, yang mengira kalau kami ini sepasang suami-istri, dan Izuna adalah anak kami.
"Izuna gimana, Mas?" tanyaku dengan suara mengantuk, setelah Bapak dan Ibu baik hati tadi kembali ke bangkunya.
"Izuna udah baikan, dia udah tidur," sahut Mas Sasuke sembari duduk di sampingku, sambil mendekam Izuna, "kamu juga tidur gih."
"Ini udah pagi kan, Mas?"
"Iya, jam setengah enam."
"Gimana aku bisa tidur?" suaraku terdengar merajuk seperti Izuna.
"Coba aja dulu Sak, istirahat. Ntar kalau sudah sampai tempat perhentian untuk istirahat makan, aku bakal bangunin kamu."
"Hmmmh."
"…."
"Makasih, Mas," aku memejamkan mata, siap lepas landas menuju ke alam mimpi.
"Hmmm. Yeah."
Setelah itu aku benar-benar tertidur dengan mimpi aneh tentang Almarhumah Mbakku yang menyambut. Di dalam mimpi, kakakku yang error itu curhat padaku sambil menangis sesengukan. Dia bilang dia nggak mau dimadu, tapi dia benar-benar sayang sama suami dan anaknya, dia bakal ikhlas dimadu kalau calon istri Mas Sasuke itu … aku.
GUBRAK!
Aku pingsan di alam mimpi.
