Izuna udah cakep. Abis mandi dan ganti popok. Udah harum dan nggak bau eek sama pipis lagi! Mmmuah! Hihihihi.
Aku menggelitik Izuna, yang menggeliat kegelian dalam dekapanku. Aku baru saja memandikannya di dalam toilet kapal, dalam penyebrangan dari Lombok menuju ke Bali. Nggak bermaksud kejam dengan memandikan keponakan di toilet kapal, toiletnya bersih kok, cuma aku nggak punya pilihan. Daripada si Izuna bau pesing dan eek sepanjang perjalanan menuju rumah kakeknya.
Apa? Oh, kalian nanya soal mabukku pada transportasi darat dan laut? Udah mendingan tuh. Udah nggak pusing, mual, dan muntah-muntah lagi. Yah, walau masih belum ngerasa segar karena belum mandi selama dua hari (huehehe!) tapi senggaknya perasaanku sekarang udah cerah. Secerah matahari senja yang mulai bersembunyi seiring datangnya malam.
"Cikucikucikuci. Ponakan siapa yang paling ganteng?" aku mengerutkan hidung, bercanda dengan Izuna yang tertawa-tawa lucu. Beberapa penumpang kapal. Orang lokal, dan juga bule yang berpapasan dengan kami, memandang tertarik. Aku mendengar sebagian orang berbisik, bahwa aku ibu yang beruntung memiliki anak setampan dan selucu Izuna.
Yeah. Kalau dipikir aku memang beruntung memiliki Izuna sebagai keponakan. Dia anak yang tampan, pintar, dan menyenangkan. Seandainya Mbak Shizune masih hidup, dia akan menjadi istri sekaligus ibu yang paling bahagia di dunia.
"Izuna udah ganteng, ndak bau lagi. Sekarang Tante Sakura yang bau …," kataku mencoba mengajak Izuna bicara. Dia hanya tertawa-tawa seolah mengerti perkataanku. Kami pergi ke (aku tidak tahu, namanya buritan atau anjungan kapal, atau apalah. Aku tidak tahu banyak soal perkapalan) bangku, tempat Mas Sasuke duduk dan berbaur dengan para penumpang lain.
"Sak!" Mas Sasuke berseru, melambaikan tangan padaku. Memberi isyarat untuk pergi ke bangku panjang tempat ia duduk.
Beberapa gadis muda yang duduk di bangku di belakang Mas Sasuke ikut menatapku. Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah mereka. Mungkin dari tadi gadis-gadis itu asik ngecengin Mas Sasuke, dan berharap kalau Mas Sasuke single. Ngeliat aku dan Izuna tampang gadis-gadis itu langsung berubah masam. Haduh anak-anak cantik, itu yang kalian kecengin itu udah duren montong yang masih belum move on dari mantan istrinya yang udah metong.
"Thatha! Thatha!" begitu sampai di tempat Mas Sasuke, Izuna mengulurkan tangan. Minta digendong ayahnya.
"Iya. Iya. Anak ayah udah ganteng," Mas Sasuke menggendong Izuna dan menciumnya gemas. "Udah harum, nggak bau lagi."
"Mas. Masih lama nggak, nyampe pelabuhan Bali-nya?"
Mas Sasuke melirik jam tangannya. "Lima atau sepuluh menit lagi. Napa Sak?"
"Oh. Masih ada waktu," aku bergumam pada diriku sendiri kemudian mengeluarkan plastik hitam, yang berisi peralatan mandi seperti sabun, odol, sabun, dan sikat gigi, dari dalam tas jinjing kecil yang kubawa. "Aku mandi dulu sebentar Mas. Ngerasa gerah dan kotor nih."
"Oke. Tapi jangan lama-lama nanti ketinggalan bus jadi repot."
"Hmmmm."
"Oh ya, Saku."
"Hmmm?"
"Sekalian jangan lupa sikat gigi. Biar pas bangun tidur di atas bus nanti, mulutmu nggak bau jigong," katanya jahil. Para gadis di belakangnya terkikik geli.
Aku melotot. "Jangkrik!" makiku kesal sembari beranjak menuju toilet kapal khusus perempuan.
Aku tahu. Seharusnya aku, atau beberapa penumpang kapal lain yang berjenis kelamin perempuan, yang memberanikan diri untuk mandi atau berganti pakaian di dalam toilet kapal, harus berhati-hati terhadap beberapa tindakan asusila yang akan terjadi.
Ketika masuk ke toilet kapal khusus wanita, aku mendapati dua perempuan seusiaku yang masuk ke dalam dua bilik toilet berbeda dengan membawa peralatan mandi. Mereka tersenyum ramah padaku. Aku mandi seperti biasa. Bersenandung ceria tanpa ada perasaan atau firasat buruk yang menyergap.
Dua orang perempuan yang masuk bersamaku ke toilet kapal untuk mandi, beberapa menit lebih dulu selesai daripada aku. Aku menyadarinya dari suara air yang berhenti, dan juga pintu bilik serta pintu toilet yang terbuka lalu ditutup.
Setelah menyelesaikan acara mandiku, aku memakai semua pakaianku dan hendak menyusul mereka. Namun saat aku keluar dari bilik, pintu toilet tiba-tiba dibuka lalu ditutup dengan kasar. Jantungku serasa berhenti saat melihat lelaki itu. Dia berusia sekitar empat puluh tahunan, memiliki wajah lumayan nggak kinclong, senyum yang bakal langsung ditolak kalau pengen ngikut casting buat jadi bintang iklan pepsodent, dan mata jelalatan yang kayaknya nggak bisa lihat cewek cakep dikit. Selain itu rambutnya juga hampir botak dan hampir ubanan. Seumuran ama Papaku nih orang.
Melihatnya membuat perutku mendadak mual. Aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Ini toilet cewek, Pak. Bapak salah masuk ya?" aku memberanikan diri menegurnya.
Senyum bapak-bapak itu jadi makin menyeramkan. Cklik! Yaaaiiiiy, pintunya dikunci dari dalam. Aku lebih takut berduaan sama orang ini daripada sama setan, setan dibacain surah-surah pendek langsung ngilang. Lha, Bapak ini … walaupun dibacain surah al-baqarah, ditambah ayatul qursy, ditambah surah yassin, tetep nggak bakal ngilang!
"Neng …," Nama gue Sakura bukan Neneng! "Neng, cakep banget deh!" udah tahu!
Aku melangkah mundur dengan waspada, memilih waktu yang tepat untuk teriak dan mengeluarkan beberapa jurus kungfu dan karate yang tidak pernah kupelajari.
"Pak. Sebentar lagi kapal berlabuh, sebaiknya bapak pergi atau saya bakal teriak," ancamku was-was sambil melirik ke arah tangan kirinya. Yaelah, dia bawa pisau coy.
"Neng. Bapak punya penawaran buat Neng," katanya sembari melangkah maju menghampiriku, sehingga aku hanya bisa mundur-mundur cantik, "Neng buat Bapak seneng dulu. Nanti Bapak bakal kasih cepek ke Neng cantik." Dia mengeluarkan uang seratus ribuan dari dalam saku bajunya.
Yaiks! Cepek? Anjrittt, gue nggak semurah itu keleees.
"Pak, jangan macam-macam. Nanti saya bakal teriak, dan orang-orang yang ngedenger bakal ngelaporin Bapak ke Polisi." Kenapa aku terus mengancam? Kenapa aku nggak teriak aja sekalian? Bego kamu Sakura!
Mengabaikan ancamanku, si Bapak malah terus maju hendak menyudutkanku ke dinding. Takut dan panik yang kurasakan tidak membuat kemampuan berteriak dengan suara cemprengku menghilang. Aku berteriak panik saat si Bapak terus memepetku ke dinding, berusaha memberontak sambil memaki ketika dia mencoba menciumku dengan mulutnya yang bau.
"Ayo Neng, sini cium Bapak!"
HUEEEEE! MAMA HELEP ME!
Suara lengkingan keras dari mesin yang menandakan kapal akan segera berlabuh terdengar. Aku semakin panik. Akan bagaimana jadinya nasibku nanti, kalau tidak ada yang mau menolong? Dilecehin Bapak-Bapak mesum jelek nggak tahu diri, ketinggalan Bus di kapal, kesasar di Bali, jadi gembel. Hiks. Nggak mau. Menggeleng keras. Berusaha menghilangkan imajinasi bodoh itu (dan juga menggagalkan usaha ciuman si Bandot mesum tua) aku berdo'a dalam hati semoga ada keajaiban.
Semoga Tuhan mengirimiku penolong. Nggak perlu Mas Sasuke deh, cukup Bule ganteng yang tampangnya kek Jamie Dornan juga boleh, atau minimal kirimin Chris Evans (Pemeran Captain America) atau yang mirip Chris Evans juga boleh, biar sekalian aku bisa memperbaiki keturunan.
Sepuluh detik setelah do'a itu kupanjatkan dalam hati, Tuhan mengabulkannya. Seorang laki-laki menjebol pintu toilet dengan dobrakan mantab. Dia memiliki tubuh tinggi berotot, rambut cepak, dan muka ganteng yang kusut, dan dia adalah … Mas Sasuke?
"Dasar bandot tua kurang ajar!" raung Mas Sasuke murka, dia pasti nyari aku karena aku tak kunjung kembali dari toilet. "Lepaskan dia!"
Belum sempat membalas ucapan Mas Sasuke, tubuh si Bapak ditarik kebelakang, dibanting kasar kemudian dihajar habis-habisan. Walau kecewa karena yang datang bukan Jamie Dornan atau Chris Evans Kawe, aku terharu ngelihat Mas Sasuke ngebela aku sampe segitunya. Kakak iparku itu juga keren banget waktu nonjok si bandot mesum. Amarahnya bener-bener dahsyat, mirip sama tokoh utama film King Kong. Ups.
.
.
.
[NORMAL POV]
Dia kembali tersenyum menatap selembar foto yang disodorkan oleh Ayah dan Ibunya. Mereka bilang lelaki di foto itu adalah calon suaminya. Anak pertama dari sahabat Sang Ayah yang berprofesi sebagai pengusaha, pemilik beberapa hotel dan tempat wisata di kawasan Lamongan dan Gresik. Sang Ayah dan sahabatnya sejak masih muda sudah bersumpah akan menikahkan anak laki-laki tertua, dan perempuan tertua mereka untuk mempererat ikatan persahabatan dua keluarga.
Awalnya Rei Matsuri menolak perjodohan itu. Sekarang sudah tahun 2015, yang namanya jodoh-jodohan sudah nggak berlaku lagi. Tapi begitu melihat wajah lelaki dalam foto tersebut, pikirannya berubah, Matsuri jadi sangat bersedia menikah dengan sahabat Ayahnya.
"Dia anaknya Om Minato?" Matsuri kembali bertanya pada Ayahnya untuk memastikan.
"Iya anaknya pertama dari istri pertamanya. Nama laki-laki itu Sasuke, dia tinggal dengan ibunya di salah satu kota kecil Nusa Tenggara. Mas Minato bilang kalau besok atau lusa anaknya sampai di Surabaya," Ayah Matsuri tersenyum lega melihat putrinya tampak tertarik dengan pemuda pilihannya, "gimana nduk, kamu suka?"
Matsuri mengangguk semangat.
