Hiks. Daku apes. Kena omel dan setrap Pak Dosen gara-gara nyerang orang dalam mobil. Tapi salah tuh orang, siapa suruh dia ngehina keluargaku? Bahkan ngehina Mbak Shizune yang udah meninggal.

Aku bukan tipe orang yang suka pake jalan kekerasan, aku juga nggak begitu masalah kalau dihina sama orang lain. Tapi kalau ada yang berani menghina keluargaku ... Sini ta' jadiin perkedel tuh orang!

"Cewek barbar!" gerutu Matsuri sambil menoleh, menatap penuh dendam padaku. Aku sudah berhasil menjambaknya, merusak rambut salonnya, dan menamparnya sekali.

Hahaha aku senang, tapi ... aku masih belum puas. Pengen nampar lagi. Kini aku tahu kenapa cowok lebih suka berantem pake kekerasan fisik daripada saling caci maki. Ada kepuasan tersendiri ngeliat orang yang nggak kita sukai mengaduh dan meringis kesakitan. Aku nggak membenarkan tindak kekerasan fisik, tapi kalau udah keterlaluan dan memancing emosi dengan menghina keluargaku, Hajar bleh! Urusan lain belakangan.

"Oh, mau dibarbarin lagi?" dengusku sebal.

"Matsuri, udah!" Kurama menegur Matsuri dengan suara berwibawa yang dalam.

"Sakura, Diem!" Mas Sasuke nggak mau kalah. Dia mendelik galak ke arahku.

Naruto dan Izuna, yang tadi histeris gara-gara tadi berada ditengah 'pertarungan' antara aku dan Matsuri, terpaksa diungsikan ke bangku depan mini bus, di samping Pak Supir. Takutnya nanti kalau aku dan Matsuri saling serang lagi, Baby Izuna yang duduk di tengah bakal terluka.

Haduh Nak, maafin Tante ya? Tante Sakura nggak bermaksud ngelukain kamu, tapi mahluk yang namanya Matsuri itu perlu diberi pelajaran, agar dia tidak seenaknya menghina Kakek, Nenek, dan Almarhumah Mamamu.

Kurama sengaja duduk di samping Matsuri, dan Mas Sasuke teteup duduk di sampingku. Katanya sih buat jaga-jaga, kalau aku sama Matsuri berantem lagi mereka udah siaga megangin kami.

"Huh!" dengus Matsuri sambil buang muka ke depan.

Yaelah, siapa juga yang mau ngeliatin muka kamu yang penuh dempul. Cuih. Aku mendecih pelan, namun Mas Sasuke tampaknya menyadari apa yang kulakukan. Dia menyipitkan matanya menatapku. Sepertinya masih belum puas menguliahiku tentang bahaya menyerang orang asing di atas mobil. Terlepas dari si orang asing itu adalah calon istri pilihan Ayahnya.

Aku balas menyipitkan mata ke arah Mas Sasuke.

Cie cie, Mas Sasuke ngebelain calon istri ni yeee! Cie cie, calon istri Mas Sasuke otaknya ilang sebelah, cie ... "Sakura," tegur Mas Sasuke memperingatkanku, suaranya rendah berbahaya.

"Apa?" ketusku dengan nada suara meninggi, "aku nggak ngapa-ngapain kok!" aku mencoba membela diri.

Mas Sasuke mendesah.

Tak ingin bertengkar dengan Mas Sasuke, ataupun berkelahi dengan kuntilanak yang duduk di bangku depanku, aku memilih mengabaikan Matsuri (yang masih ngedumel tak jelas, memakiku.) dan memejamkan mata untuk beristirahat. Aku pikir aku bisa tidur dengan tenang, karena tahu Izuna sedang tertawa-tawa senang, bermain dengan Om-nya.

.

.

Aku bermimpi indah, tentang dua orang anak kecil berusia sekitar enam dan empat tahun, laki-laki dan perempuan. Berlari riang di pinggir Pantai Oi Ni'u, sambil menjerit gembira melambaikan tangan ke arahku dan memanggilku ..., "Mama! Ayo kemari, main sama kami!"

Mama? Aku? Mama? Yang benar saja?

Tapi kalau kuperhatikan lagi, wajah kedua anak kecil menggemaskan itu tampak tak asing bagiku. Terutama yang laki-laki, dia terasa familiar untukku. Tapi ... apa benar mereka berdua anakku? Seingatku aku belum menikah.

"Mama, Ayo!" panggil si anak laki-laki tidak sabaran, sembari beranjak maju untuk menggenggam tanganku, menyeretku agar bermain dengan mereka.

"Sak. Sak. Sakura?" aku tiba-tiba merasakan sebuah guncangan dahsyat, dan suara berat seseorang memanggil namaku.

"Emmmh?" geliat-geliutin badan. Nggak tahu kenapa leher mendadak sakit.

"Sakura, bangun. Kita udah nyampe." Mengerjapkan mata dan sedikit terpesona ngeliat muka ganteng Mas Sasuke, yang hanya berjarak satu kepalan tangan di depan mukaku. Ya Allah, moga aja napasku nggak bau-bau banget. Tengsin kalau ketahuan punya napas bau depan kakak ipar ganteng.

"I-iya Mas," gagapku kemudian mengikuti Mas Sasuke dan yang lainnya turun dari mobil.

.

.

Rumah Eyangnya Mas Sasuke bergaya minimalis, cat putih dengan dua lantai. Walau nggak besar-besar banget, tapi kayaknya yang paling mewah di desa itu.

"Ayo masuk," ajak Naruto ceria, dia masih menggendong Izuna. Agak heran juga ngeliat Izuna cepet akrab sama orang asing. Tapi bagus sih. Lagipula Naruto kan Om-nya Izuna.

Aku dan Kurama menyusul Naruto dan Izuna, sambil membawa masing-masing satu koper dan juga satu ransel. Sementara Mas Sasuke ... yah, aku agak-agak kasihan sama kakak iparku itu. Udah jalannya agak oleng gara-gara ngebawa ransel paling berat, eh malah makin oleng karena lengannya digelayutin monyet, eh salah! Maksudnya Matsuri. Matsuri melirikku sinis kemudian mendengus buang muka. Yaelah, kalau bukan calon istrinya Mas Sasuke udah kutendang pantat teposmu, Mbak. Tapi mudah-mudahan nggak jadi deh. Kasihan Izuna punya calon ibu kek gini.

"Maafin Matsuri ya?" gumam Kurama pelan, melihat kelakuan Matsuri padaku. Dia masih terlihat tak enak hati.

"Maafin Matsuri ya, Sakura. Dia memang agak kekanakan dan manja, tapi sebenarnya dia baik banget kok," jelas Kurama mencoba meyakinkanku tentang betapa baiknya si Matsuri. Aku hanya tersenyum masam mendengarnya.

Dari penjelasan singkat Kurama, aku mengetahui, ternyata Matsuri dan Kurama sudah berteman sejak mereka masih berusia lima tahun. Dan kayaknya Kurama sayang banget sama Matsuri, walau si Matsuri malah nemplok-nemplok manja ke Mas Sasuke.

.

.

Ayah Mas Sasuke namanya Minato. Naruto nyaranin aku buat manggil beliau Om Minato, jangan Om Minto, takutnya daku langsung disambit gelas pas nyebut Om Minto. Konon katanya, Ayah Mas Sasuke benci banget kalau dipanggil Minto, soalnya kesannya ngejek.

Om Minato kayaknya seumuran sama Papaku. Cuma bedanya, Om Minato kelihatan kurus, pucet, dan tua banget. Malah rambut pirangnya udah hampir uban semua. Sementara Papa masih kelihatan muda, kuat, dan bergaya (walau sedikit burik! Hehehe peace, jangan kasih tahu Papa ya kalau aku ngomomong kek gini. Nyampe rumah aku bisa digoreng.)

Om Minato kaget waktu tahu ternyata anaknya udah jadi duda. Beliau agak sedikit terperangah saat melihat Izuna, malaikat kecil kami dengan segala kelucuannya yang menggemaskan.

"Ayo Izuna, Opa mau gendong Izuna tuh." Naruto mencoba membujuk Izuna untuk pergi ke pelukan Om Minato, tapi sayang, Izuna malah merengek—mengulurkan tangannya—minta digendong olehku.

Saat ini kami semua sedang berada di ruang tamu rumah Yang Kung (singkatan dari Eyang Kakung). Aki-aki kece yang rambutnya rada jabrik dan udah ubanan semua, mirip rambut Toushiro Hitsugaya, salah satu karakter di anime Bleach. Tontonan kesukaan Ino. Ntuh serial animasi Jepang yang dulu suka nongol tiap hari minggu.

"Kalau yang itu siapa?" Ibu tirinya Mas Sasuke, yang seorang Bule cakep asal Inggris, nunjuk aku sambil melemparkan pandangan menuduh pada suaminya. Seolah mengatakan, 'Apa yang itu anakmu juga? Kalau iya, cerai nyok!'

Kasihan Om Minto yang malang. Eh, Om Minato maksudnya.

"Saya ... anu Tante, saya ...," agak gugup menyadari tujuh pasang mata manusia yang ada di ruangan itu tertuju padaku. "Saya ..."

"Dia Sakura," mengetahui kegugupanku, Mas Sasuke mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Tante Kushina, Ibu Tirinya, "Adik dari mendiang istri saya, Shizune ...,"Dia melirikku dengan pandangan aneh. Sekilas terlihat emosi kesedihan, penyesalan, dan juga permintaan maaf dari matanya.

"Cuma adik ipar nggak penting," Matsuri yang masih nemplok di lengan gede Mas Sasuke mencibir sinis padaku. Tuh cewek benar-benar pengen ditampol lagi kali ya?

"Sekaligus calon istri pilihan dari Ibu untuk saya."

Kamsudnya?

"WHATTT?"

Kami semua menatap Mas Sasuke bingung. Yang Kung dan Tante Kushina melongo, Om Minto tampak kaget sekaligus bingung, Naruto dan Izuna cuwek bebek, Matsuri kelihatan bingung kemudian terpukul. Sementara Kurama ... kayaknya lega dan seneng banget!

"M-maksud kamu, kamu sudah punya calon istri?" Om Minto akhirnya menemukan suaranya kembali. Dia kelihatan serba salah banget.

"Iya," melepaskan templokan Matsuri, Mas Sasuke bergerak ke arahku, dan merangkulku beserta Izuna. "Sakura calon istri saya. Menurut Ibu, dialah calon mama terbaik untuk Izuna. Saya bawa Sakura ke sini sekaligus untuk minta restu dari Ayah. Karena saya dan Sakura sudah setuju untuk turun ranjang."

Tik. Tok. Tik. Tok. Otak mendadak lelet waktu coba mencerna perkataan Mas Sasuke.

"Lalu Matsuri bagaimana?" tanya Om Minto lagi.

"Om! Bagaimana sih ini? Katanya Om mau nikahin Matsuri sama anak pertama Om, kenapa sekarang dia malah sudah punya calon?" protes Matsuri sambil menatapku tak terima. Matanya udah merah. Sementara Kurama yang berdiri di belakangnya, mengelus-elus pundak Matsuri, mencoba menenangkan.

"Saya minta maaf karena saya menerima Matsuri. Sepulang dari sini, saya dan Sakura akan melangsungkan pernikahan."

EEEHH? Otakku akhirnya bisa mencerna apa yang sejak tadi dikatakan Mas Sasuke. Aku? Calon istri Mas Sasuke? Kami berdua? Nikah? Setuju turun ranjang? Pulang dari sini ... Eng ing eng ... Merrid? Aku? Mas Sasuke? Merrid? Merid itu ... Nikah kan? Nikah ... Suami-istri ... resmi satu ranjang. Maen gulet ampe berkeringet. Ayang-ayangan ... Dan ... Oke. Otakku makin kacau.

WAIT! KAPAN AKU BERSEDIA BUAT TURUN RANJANG AMA MAS SASUKE?! AKU JUGA NGGAK PERNAH SETUJU BUAT NIKAH SAMA MAS SASUKE!

Oke. Mas Sasuke ganteng, kece, pinter, atletis, dan nikah sama dia merupakan salah satu cara jitu untuk memperbaiki keturunan. Tapi ... nikah sama suami dari Almarhumah kakak tersayang, yang juga sudah kuanggap sebagai abang sendiri rasanya nggak ... Aduh gimana ya? Nggak etis? Aku sayang sama Mas Sasuke, tapi aku nggak cinta sama dia. Selain itu, aku ... Aku, aku masih nggak siap buat nikah. Apalagi sama Mas Sasuke, kakak iparku sendiri.

Aku melirik Mas Sasuke. Hampir menangis dengan kebingungan yang kualami. Dan dia balas menatapku sedih.

"Maaf," ucapnya pelan.

Dan seakan mengetahui bahwa Ayah dan Tantenya menggalau (alias mendadak galau), Izuna tiba-tiba menangis kencang.