Mendadak duduk sendirian depan penghulu. Pake kebaya pengantin warna putih, dipadu bawahan batik berwarna senada dan make up kece yang menghiasi muka. Papa, Mama, Tante Mikoto, dan Om Minato juga ada di sana, dan bahkan sobatku, si Bantet Ino, juga turut hadir. Semua keliatan gelisah, grasak-grusuk, menggerutu kenapa pengantin cowoknya belum datang.

Emangnya pengantin cowoknya siapa? Waktu lagi asik mikirin siapa pengantin cowok yang bakal resmi jadi lakiku beberapa saat lagi, tiba-tiba sebuah suara berat nan asoy terdengar khidmat mengucapkan ijab-qobul dari sampingku.

"Saya terima nikah dan kawinnya, Sakura Haruno binti Kizashi Haruno. Dengan mas kawin, seperangkat alat sholat dan seperangkat peralatan rumah tangga, dibayar kredit."

Yaelah, nggak enak banget sih! Masa mas kawin dibayar kredit? Medit nih laki!

Noleh, dan MASYA ALLLAH! Shock berat ngeliat Mas Sasuke yang keliatan ganteng dengan peci item, dan seperangkat pakaian pengantin buat ijab-qobulnya. Jadi … jadi … yang baru ngucap ijab-qobul dan sah secara agama jadi suamiku itu … Mas Sasuke?

Lagi asik termangu dengan kenyataan Mas Sasuke tiba-tiba jadi suamiku. Tiba-tiba terdengar suara Pak Penghulu yang bertanya pada para hadirin, "Sah?"

"SAH!"

Backsound lagu Ijab-qobul dari Kangen Band pun terdengar, menambah romantis suasana sekitar dan acara pandang-pandanganku dengan Mas Sasuke.

"Nah." Si Kampret Matsuri mendadak muncul entah darimana. Dia narik tanganku kasar sampai aku berdiri, lalu menggantikan tempatku di samping Mas Sasuke. Dia juga make kebaya pengantin putih, "Sekarang giliran saya!" katanya riang sambil kembali nemplok di lengan Mas Sasuke.

Ini Emaknya Matsuri, waktu hamil Matsuri, pasti ngidem tokek. Demen banget maen nemplok-nemplokan!

"Ayo Mas, resmikan aku jadi istrimu," desah Matsuri manja. Jadi pengen gue siram nih cewek. Laki gue tuh!

Herannya semua yang ada di situ malah diam, dan nggak nganggap aneh kelakuan Matsuri. Dan Mas Sasuke juga malah ….

"Saya terima nikah dan kawinnya, Matsuri Rei binti Kazekage Rei. Dengan mas kawin, seperangkat alat sholat dan sebuah rumah mewah di Pulau Dewata di bayar tunai!" ucap Mas Sasuke lancar.

"Mas Sasuke …." Mata berkaca-kaca. Hati kembali terluka.

"Sah?"

"SAH!"

Backsound lagu ijab-qobul, Kangen Band, berganti dengan lagu Dua Cincin dari Hello Band.

"Tak bisa, jari-jariku

Terimaaa, dua cincin dari hatimuuu

Dari cintamuuuu."

NGGAK! AKU OGAH DIMADU! Masa udah dua kali ditinggal nikah, dan giliran udah nikah dimadu pula ama Mak Lampir? NEHI!

"NGGAKKKK!" teriakku histeris dan kemudian …, GEDUBRAKKK!

Kalau mata udah melek, yang namanya mimpi buruk memang selalu berakhir buruk. Bangun dari tidur siang aku jatuh dengan cara yang sangat tidak elit dari atas tempat tidur.

Hati masih nggak enak. Masih galau, gara-gara pernyataan mendadaknya Mas Sasuke tentang aku yang ternyata adalah calon istrinya, setuju untuk turun ranjang, dan sepulang dari Jawa kami bakal langsung merid!

Aku jadi curiga. Jangan-jangan, Mama, Tante Mikoto, sama Mas Sasuke, sengaja ngatur perjalanan bersamaku dan Mas Sasuke ke Jawa, biar aku nggak punya kesempatan buat nolak rencana perjodohan mereka. Kampret! Masih mending sih kalau Bapaknya Mas Sasuke nerima aku jadi calon menantunya, eh, ini dia malah ngejodohin Mas Sasuke sama orang lain.

Dan yang lebih parahnya lagi, setelah acara pengakuan Mas Sasuke bahwa aku ini adalah calon istri pilihan ibunya, si Om Minato langsung nunjukin sikap bermusuhan ke aku, (walau anggota keluarga lainnya kayak Yang Kung, Tante Kushina, Naruto, dan juga Kurama mah oke-oke aja). Saking pengennya musuhan sama aku, Om Minato ngasih aku sebuah kamar untuk tidur, yang ukurannya kecil dan letaknya di samping toiletun pula! Dipikir aku ini pembokat kali ya? Kamar PRT aja ada yang lebih bagus dari ini dan letaknya nggak di samping tempat be'ol.

"Udah sore ya?" masih linglung karena mimpi biadap tadi, aku memeriksa jam pada ponselku. Dan … what? Udah jam setengah lima sore?

Tadi nyampe rumah Yang Kung sekitar jam sebelas pagi, aku masuk kamar dan tidur jam dua belas, dan sekarang udah jam setengah tujuh malam aja. Hebaaaat. Aku udah tidur lima jam lebih, di rumah orang. Kalau Mama tahu, aku pasti langsung kena omel. Taruhan deh, beliau pasti bakal bilang, "Hebat kamu Nak, belagak jadi Ratu di rumah orang! Jangan permalukan Papa sama Mama. Kami nggak pernah didik kamu jadi anak malas. Harus rajin! Bangun yang cepat! Dan bantu-bantu si empunya rumah buat ngerjain pekerjaan rumah tangga. Kalau kamu nunjukin sikap pemalas kamu kayak gitu, laki-laki bakal illfil. Dan kamu nggak akan pernah nikah seumur hidup kamu. Siapa juga yang mau punya istri pemalas yang nggak bisa ngurus rumah?"

Omelan Mama kepanjangan ya? Emejing juga sih aku bisa ngapal omelan sepanjang itu dengan lancer. Tapi nggak usah heran, aku bisa ngapalin itu bukan karena aku jenius, tapi karena sejak SD sampe bangkotan seperti ini, si Mama selalu ngomelin aku pake kalimat yang sama kalau aku pergi nginep di tempat Bibi, dan bangun telat. Aku sampe bosen ngedengernya. Dan saking bosannya sampe-sampe kalimat akhir dari omelan itu, yang agak-agak nyelekit bin ngejleb, bisa aku abaikan.

Aku baru saja akan keluar untuk ke kamar mandi, ketika suara di depan pintu kamar terdengar.

Kurama tampak tersenyum canggung ketika aku membukakan pintu untuknya.

"Hai," sapaku sambil tersenyum malu-malu, berharap nggak ada belek di sudut-sudut mata yang bikin cowok kece ini illfil sama aku.

"Hai. Aku pikir kamu masih tidur." Kelihatannya dia kebingungan nyari topik apa yang pantas dibicarain sama orang asing kayak aku.

"Aku udah tidur kelamaan sampe leherku jadi sakit." Heran juga sama si Matsuri, yang lebih milih jatuh cinta pada pandang pertama sama Mas Sasuke, ketimbang Kurama yang sudah jelas-jelas ganteng, cute, wangi, dan sifat malu-malunya itu lho … manis bangeeeet. Jadi pengen bungkus, trus bawa pulang nih anak orang.

"Yang Kung sama Mommy suruh aku bangunin kamu buat makan malam. Kamu pasti laper."

"Hehehe iya." Aku nyengir, sambil ngangguk-ngangguk perkutut menjawab pernyataan Kurama. "Oh ya, Izuna sama Mas Sasuke mana?"

"Mas Sasuke, Mas Naruto, sama Daddy lagi pergi ke rumah Matsuri buat ngebatalin acara perjodohan. Mereka udah pergi dari tiga jam yang lalu," jelas Kurama, "sementara Izuna lagi maen sama Mommy dan Yang Kung."

"Oh." Hanya itu reaksi yang keluar dari mulutku.

Sejujurnya aku agak khawatir mendengar Izuna sedang bermain dengan Tante Kushina. Bukan apa-apa, hanya saja aku takut keberadaan Izuna membuat hati Tante Kushina sakit. Mengingat dia adalah anak dari Mas Sasuke. Keberadaan Mas Sasuke, yang notabenya adalah anak Om Minato dari perempuan lain saja sudah membuat Tante Kushina kesal, dan siap menyate suaminya hidup-hidup. Apalagi dengan keberadaan Izuna di sisinya?

Seolah bisa membaca pikiranku, Kurama tersenyum kalem dan berkata, "Jangan khawatir. Mommy memang nggak suka sama Mas Sasuke, tapi dia suka sama anak-anak. Izuna bisa bikin dia jatuh cinta sejak gedongan pertama," Kurama terkekeh, "Sekarang kamu pasti sulit buat misahin Mommy dari Izuna. Karena mereka udah lengket banget. Mommy nggak mau jauh-jauh dari Izuna, katanya dia kangen pengen punya anak bayi lagi," Kurama bergidik ngeri saat mengucapkan kalimat terakhir. Kayaknya dia ogah punya adik lagi. Hahaha.

"Oh."

"Aku ke kamar mandi dulu. Buat cuci muka, eh, mandi! Setelah selesai baru aku nyusul ke ruang makan." Makan sore atau malem sama orang yang baru dikenal, kudu rapi dan wangi. Kesan pertama itu penting coy.

"Oke." Kurama berbalik hendak pergi.

"Eh. Kurama!" sial! Baru inget.

"Ya?" Kurama menoleh, bingung.

"Kamar mandinya di mana ya?" tanyaku malu-malu. Mau mandi, tapi nggak tahu dimana letak kamar mandinya? Bego kamu, Ci!

Kurama nyengir kemudian memberitahuku dimana letak kamar mandi rumahnya.

Aslinya Tante Kushina itu orangnya nyenengin, baik, dan ramah. Cuma kalau ngedenger nama, atau berhadapan langsung sama Mas Sasuke dan Om Minato, mukanya langsung switch ke mode jutek permanen. Bisa dimengerti sih kenapa Tante Kushina bersikap demikian, cuma agak lucu aja ngeliat orang yang bisa merubah sikap dan kepribadian dalam waktu singkat, cuma gara-gara lihat muka orang yang nggak disukai. Dan juga ngedenger namanya.

Ngomong-ngomong Tante Kushina kayaknya serius pengen nambah Baby lagi. Dia kelihatan seneng banget gendong Izuna, dan nggak peduli kalau Baby Zuna ngerengek pengen digendong sama aku. Tante Kushina 'nyogok' Izuna dengan berbagai macam kue bolu lezat, biar dia nggak mewek minta gendong ama Tantenya yang cakep ini. Ahay!

Betewe, Tante Bule Kushina, itu si Izuna masih bayi, belum genap setahun. Emang mempan disogok bolu?

Saking bernafsunya ingin memonopoli Baby Zuna sendirian, Tante Kushina menyuruh Kurama buat ngajak aku jalan-jalan ke Tanjung Kodok.

Jalan-jalan ke Tajung kodok bareng Pangeran Kodok (nunjuk Kurama). Asik juga. Oh ya, Tanjung Kodok itu nama tempat wisata di Lamongan kan ya?