"Maaf."
Kurama nggak asik ah. Nyebelin.
"Mas nggak bermaksud nggak ngasih tahu kamu soal rencana perjodohan yang diatur oleh orang tua kita."
Setelah apa yang terjadi hari ini, tadinya aku mau nenangin diri di Pantai Tanjung
Kodok, bareng Kurama sambil ngecengin cowok ganteng yang lewat. Aku butuh waktu sebelum ketemu lagi sama Mas Sasuke. Cuma, si Kurama sompretos dengan seenaknya nelpon Mas Sasuke sama Naruto, ngasih tahu kalau kami lagi ada di Tanjung Kodok, dan dia bahkan ngajakin mereka buat nyusulin kami kemari.
Aish~ Mas Kurama, hayati belum siap buat ketemu dan mendiskusikan masalah turun ranjang ini sama Kakanda Sasuke. Bukan cuma cinta yang butuh waktu, tapi hayati juga butuh waktu untuk memahami alasan perjodohan sepihak dan tanpa cinta ini.
Dan lagi, kenapa itu mahluk juga ikutan kemari? Katanya udah mutusin tali perjodohan, kok masih ngikut-ngikut aja kemana Mas Sasu pergi? Mana itu mata ngeliat aku sama Mas Sasu dengan pandangangan nelangsa nan terluka. Nggak bermaksud jahat. Tapi antara kasihan sama girang sih, ngeliat Matsuri kayak gitu.
"Tapi kata Mama kamu ...," oh, yang disamping masih ngomong toh? Lanjuttt, "kalau kamu dikasih tahu rencana perjodohan dan turun ranjang kita, kamu pasti bakal ngamuk-ngamuk dan nolak aku sebagai calon suamimu." itu pasti! Walaupun aku bukan termasuk dalam kategori cewek yang cantik-cantik amat, aku mah ogah ngembat bekas orang, apalagi bekas kakak sendiri. Aku tuh maunya yang original, bukan duda dan masih perjaka tingting, tampang harus ganteng (untuk memperbaiki keturunan nggak ada salahnya kan mendambakan cowok ganteng sebagai misua?) dan lagi kudu punya pekerjaan yang mapan, ya kalau nggak punya perusahaan, minimal PNS lah. Nggak bermaksud matre, cuma buat jaga-jaga, jaminan masa depan dan hari tua.
"Tapi kenapa harus aku sih yang jadi calon istri Mas Sasuke? Apa Mas nggak ngerasa canggung, merrid sama adik dari mendiang istri Mas sendiri?" protesku,"Lagian diluar sana pasti banyak cewek yang mau ngantri jadi istrinya Mas, nggak peduli situ duda atau bukan." Cemberut ngelirik Mas Sasuke yang ekspresinya lempeng mandangin laut.
Mas Sasuke mendesah pelan, "Awalnya Mas memang nggak mau milih kamu sebagai calon istri," jujur itu nyesekin yah? "Tapi kata Bunda, Mas nggak boleh egois. Mas nggak boleh milih istri sesuka hati Mas. Cuma karena dia cantik atau kaya, Mas nggak bisa seenaknya naksir dan ngawinin perempuan sembarangan. Mas juga harus mikirin Izuna. Percuma aja perempuan yang jadi istri Mas nanti, cinta sama Mas tapi nggak sayang sama Izuna."
Baru kali ini denger Mas Sasu ngomong panjang-lebar. Biasanya nggak lebih dari tiga atau empat kalimat.
"Mas nggak mau nasib Izuna berakhir tragis di tangan ibu tirinya."
Meringis ngedenger perkataan Mas Sasuke. Kayaknya pamor ibu tiri (yang bukan emak kandung si anak) dari zamannya Ari Hanggara sampai zamannya dedek Engeline, masih belum berubah. Tetap aja dicap jahat. Padahal diluaran sana banyak lho, ibu tiri atau ibu angkat yang sayang sama anak tiri atau anak yang dibesarkannya. Salah satu contoh nyata, yaitu Tante Tsunade, emak tirinya sahabatku, Ino.
Mas Sasuke berbalik, dia menggenggam kedua tanganku dan menatap lurus-lurus tepat pada mataku. Wuidih. Mas, romantis pisan. Ini aku mau dilamar kali ya?
Uhuk! Ingat Sak, duda bekas kakak.
"Mas milih kamu sebagai calon istri Mas, karena kamu perempuan baik. Kamu sayang sama Izuna. Mas yakin kamu bisa jadi ibu yang baik buat Izuna dan juga anak-anak Mas kelak," UHUK! Kata-kata Mas Sasuke bikin hatiku meleleh dan jantungku rontok, sejak kapan dia jadi out of character gini? "Mas minta maaf kalau perjodohan kita terkesan memaksa dan ngorbanin perasaan kamu. Mas tahu kamu nggak cinta sama Mas. Begitu pula sebaliknya. Cuma, bisa nggak kamu nerima Mas sebagai suami kamu, demi Izuna?" tanyanya dengan nada suara memohon yang samar, yang biasa dikeluarkan oleh Mas Sasuke.
Demi Izuna ya? Oke, aku emang bakal ngelakuin apapun buat Izuna, tapi apa pernikahan yang dilaksanakan tanpa dasar cinta dan hanya semata pengorbanan buat orang yang disayangi, bisa berlangsung bahagia? Entahlah. Aku was-was sama hal ini.
Aku cinta Izuna, aku sayang Mas Sasuke. Tapi apa aku mesti ngorbanin perasaanku sendiri demi masa depan anak dan suami mendiang kakakku?
"Sakura, apa jawabanmu?"
Bismillah. Semoga ini pilihan yang benar.
"Iya Mas, saya bersedia jadi Mamanya Izuna," jawabku sambil mengangguk.
Mas Sasuke tersenyum lebar mendengarnya. "Terimakasih Sakura," katanya. Disertai tepuk tangan meriah dari Naruto dan Kurama, yang berdiri tak jauh dari kami. Dan juga tangisan Matsuri, yang masih tak terima calonnya kuembat. Yang sabar ya, Nduk.
.
.
.
"Cih. Mentang-mentang dijodohin sama abang ipar yang ganteng jadi sombong, pergi ke Jawa nggak bilang-bilang." Ino itu mulutnya tajem, tapi heran kenapa aku bisa nyaman temenan ama dia dari TK.
Abis pulang dari Tanjung Kodok tadi, aku langsung minta izin sama Mas Sasuke dan Om Minato sekeluarga buat istirahat di kamar. Berhubung Baby Zuna udah bobo, dan Tante Kushina (lagi-lagi maksain kehendak) ngebawa Izuna buat tidur di kamarnya sama Om Minato, jadilah sekarang aku bisa anteng di kamar. Nelpon dan ngabarin Ino soal kepergianku ke Jawa. Waktu itu kan, Ino nggak tahu kalau aku pergi. Dan seperti yang sudah kuduga. Ino ngambek!
"Bukan gitu No, kemarin kami buru-buru jadi nggak sempat ngabarin kamu," aku membujuk dengan nada suara manis. Berharap kemarahan si Barbie jadi-jadian bisa mereda.
"Oh ya?" Ino berucap sarkastis.
Aku mendesah, "Hn," responku sembari menghenyakan diri di atas kasur dengan sebelah tangan memegang ponsel yang tertempel di telinga kanan.
Diam sejenak. Aku di seberang Ino mulai lunak dan berfikir untuk tidak marah lagi padaku. Oh ayolah, aku sangat mengenalnya, kami berdua berteman dan tak terpisahkan sejak ingus kami masih meleber kemana-mana.
"Jadi kapan kalian pulang dan melangsungkan pernikahan?" nah bener kan tebakanku? Ino udah mulai baik.
"Aku nggak tahu No, kalau kata Mas Sasuke sih dalam waktu dekat."
Diam lagi. Ino kayaknya lagi banyak pikiran daritadi diam terus.
"Sak, bagaimana perasaan kamu mengenai masalah turun ranjang kamu sama Mas Sasuke?" Ino bisa aja nanyain pertanyaan yang bikin galau.
"I-itu ..."
"Apa kamu yakin keputusan kamu nerima lamaran Mas Sasuke itu bener?" Ino itu termasuk tipe cewek yang menentang keras perjodohan sepihak dan pernikahan tanpa cinta. Dia trauma, Ayah dan Ibu kandungnya menikah karena paksaan keluarga. Menurut Ino, kehidupan rumah tangga yang seperti itu terasa hambar dan tidak ada cinta di dalamnya. Ayah dan Ibu kandung Ino memutuskan bercerai disaat Ino berusia sembilan tahun.
"Aku nggak tahu, No."
"Dan apa kamu yakin kehidupan rumah tangga kamu sama Mas Sasuke akan berlangsung bahagia?"
Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Rasanya sulit membayangkan kehidupan rumah tanggaku dan Mas Sasuke, yang selama ini sudah kuanggap seperti kakaku sendiri. Aku sayang Mas Sasuke, tapi aku nggak cinta sama dia. Aku melakukannya demi Izuna.
