12 Days of AkaFuri

disclaimer: milik siapa lagi Kurobasu kalau bukan milik Fujimaki-sensei?
warning: Pedo!Kouki, Kindergarten!Akashi, OOC, drabble

Chapter 3: Stolen Kisses

.

.


.

.

"Waktunya tidur siang~ Sensei tidak mau melihat masih ada yang bangun ya!" anak-anak yang Furihata jaga di tempat penitipan anak tempatnya bekerja segera mengambil posisinya masing-masing. Beberapa diantaranya sudah mengucek mata karena mengantuk dan beberapa diantaranya bahkan sudah tertidur.

"Sensei tidak tidur?" Akashi mendekati Furihata sambil menyeret selimut merah miliknya. Furihata mengelus rambut Akashi sambil menyamakan tinggi badannya dengan Akashi sebelum berbicara. Cara berkomunikasi dengan yang paling efektif yang Furihata pelajari dari buku perkembangan anak.

"Sensei akan menjaga kalian ketik kalian tidur. Sekarang, Sei-kun tidur ya!" Furihata tersenyum lalu menggandeng Akashi ke salah satu futon yang tersedia, membaringkan tubuh Akashi di tempat tidur, tidak lupa menyelimuti anak tersebut. Tidak butuh waktu yang lama, semua anak-anak di ruangan itu sudah jatuh tertidur. Furihata memastikan jika semua anak-anak sudah tidur dan memakai selimut dengan benar karena musim gugur yang hampir berganti dengan musim dingin membuat udara semakin dingin.

Furihata mengambil tempat di dekat Akashi. Hanya itu tempat yang masih kosong karena anak-anak takut dengan Akashi sehingga tidak ada yang mau tidur dekat dengannya. Furihata tidur-tiduran di samping Akashi sambil mengecek email masuk. Entah tugas, kabar temannya di negara lain, ataupun spam yang masuk ke emailnya. Semilir angin yang berhembus masuk melalui ventilasi, entah mengapa membuat Furihata merasakan kantuk. Mungkin karena hari ini memang aktivitas yang dilakukan Furihata lebih banyak dibandingkan biasanya, hingga tanpa sadar Furihata tertidur disamping Akashi.

.

.


.

.

Akashi terbangun saat ia merasakan seseorang yang tertidur disampingnya. Melihat Furihata yang tertidur, Akashi merasa senang. Selama ini senseinya itu tidak pernah mau tidur dengannya. Akashi memperhatikan wajah tidur Furihata yang terlihat sangat lucu. Mengingatkan dirinya tentang ibunya yang baru saja pergi ke pangkuan Tuhan, apalagi warna rambut mereka sama. Tanpa Akashi sadari, ia mengecup bibir Furihata, kemudian menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Semburat merah muncul di kedua pipinya karena ia sudah mencium bibir sensei yang disukainya.

.

.


.

.

Dan... disinilah Furihata. Terjebak oleh badai di apartemen milik mantan murid dan anak yang pernah diasuhnya dulu ketika masih bekerja sambilan di tempat penitipan anak. Badai kali ini benar-benar hebat, sialnya Furihata tidak bisa sampai ke apartemennya terlebih dahulu sebelum badai menerjang karena ia harus kembali ke sekolah karena handphonenya yang tertinggal.

"Sensei bisa mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarku. Baju ganti, handuk dan segala kebutuhan bisa sensei temukan di dalam kamar mandi. Silahkan gunakan mesin cuci untuk mencuci pakaian sensei yang basah." Akashi menunjukan sebuah ruangan dengan pintu oak yang di cat hitam.

"Terima kasih Akashi-san." Furihata segera menuju kamar mandi. Badai tadi membuat seluruh tubuhnya basah kuyup, beruntung Akashi melihatnya dan menawarkan menuju apartemennya yang terletak tidak terlalu jauh dan menggunakan mobil.

Akashi berdecak tidak suka. Sejak pertemuannya kembali dengan Furihata dan meminta jawaban apakah Furihata bersedia menikah dengannya, hubungan mereka berada di posisi yang sulit. Panggilan Sei-kun yang dulu selalu di dengar oleh Akashi hingga usianya 6 tahun, berganti menjadi Akashi-san saat mereka kembali bertemu dan Akashi mengajaknya makan malam. Jujur, Akashi sangat ingin Furihata memanggilnya dengan sebutan Sei-kun seperti dulu, namun ia masih ingat jika senseinya itu tidak suka jika dipaksa dan berpendirian teguh, membuat Akashi berada di posisi yang sulit, lebih sulit jika dibandingkan berdiri dihadapan dewan direksi saat rapat tahunan berlangsung.

Akashi mengganti setelannya dengan pakaian yang nyaman. Sebuah kaos putih lengan panjang dan celana cargo berwarna hitam. Akashi menaruh dua gelas cokelat panas buatannya di meja samping tempat tidur, berniat memberikan salah satunya ke Furihata yang ia yakini dalam kondisi kedinginan. Sambil menunggu Furihata selesai mandi, Akashi mengintip keadaan diluar melalui kaca jendela kamarnya yang besar. Sepertinya badai akan lama berhenti, dan mungkin saja Furihata harus bermalam di apartemennya hari ini. Menunggu Furihata selesai, Akashi memutuskan untuk beristirahat sebentar di kasurnya yang empuk. Kegiatan hari ini membuatnya sangat lelah.

.

.


.

.

Furihata memasukan baju kotornya ke mesin cuci sesuai instruksi Akashi. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Akashi yang tertidur dengan nyaman sehingga ia takut membangunkan Akashi jika membuat suara sekecil apapun.

Furihata sesungguhnya dalam kondisi dilema. Ia senang bisa bertemu kembali dengan mantan muridnya itu, namun di sisi lain ia merasakan konflik batin jika mengingat perbedaan umurnya yang jauh dengan Akashi. Jujur Furihata akui jika dulu, saat Akashi masih menjadi muridnya, ia menyukai anak tersebut. Sebut saja Furihata pedofil, namun kenyataan itulah yang terjadi. Namun saat ia bertemu kembali dengan muridnya 3 bulan yang lalu itu, getar yang aneh kembali hadir, dan membuat Furihata jika ia sungguh menyukai muridnya itu. Sungguh, Furihata berada dalam kondisi yang sulit, sejak dulu ia tidak pernah suka dengan yang namanya konflik batin.

Kembali ke kamar Akashi, Furihata berjalan perlahan. Dua gelas cokelat panas yang sempat ia lihat berada di meja di samping tempat tidur Akashi membuatnya kembali. Ia merasakan haus, namun tidak berani mengambil minum di dalam kulkas, dan memilih meminum cokelat panas di atas meja tersebut. Sambil meminum cokelat panas, Furihata memperhatikan raut wajah muridnya. Garis wajahnya yang tegas, dan bagaimana ekspresi wajah Akashi yang tidur membuat hati Furihata terasa hangat. Tanpa ia sadari, ia mencium bibir merah Akashi.

"Gila... Apa yang aku lakukan..." Furihata memijit keningnya, tidak mengerti dengan yang terjadi. Dorongan nafsunya terlalu kuat saat melihat Akashi dalam kondisi tanpa pertahanan seperti itu. Melihat bibir merah Akashi membuatnya memerah jika mengingat baru saja, ia mencium bibir merah tersebut setelah meminum cokelat panas. Berani-beraninya Furihata mencuri ciuman di bibir Akashi saat sedang tidur. Furihata sungguh merasa berdosa, ia melakukan ciuman pertamanya dengan mantan muridnya dalam kondisi seperti ini.

Andaikan Furihata tau jika ciumannya sudah direbut oleh Akashi saat Akashi masih berumur lima tahun, pasti ia tidak akan salah tingkah dan berlari kecil menuju ruang tamu dan membanting pintu kamar Akashi seperti sekarang.

.

.

Fin

.

.


Muahahahahaha x"D ini aku bikin apa... /berguling/ wogh, drabble terpanjang untuk series ini x"D Ru tidak menyangka xD dan baru bisa setor sekarang—seharian no life abis gegulingan sambil beberes rumah sih .-. terima kasih kepada yang sudi meriview x"D disini mulai Ru ceritakan perkembangan kisah mereka berdua. Ru berniat ingin membuat keseluruhan isi series ini merupakan suatu kesatuan cerita. Ya mungkin tidak semuanya dalam waktu yang berurutan saat Ru menceritakannya xD

Balasan Review

Calico: well, jujur aku bikin yang kayak gini soalnya keseringan liat Akashi yang jadi sensei gitu xD dan mau bikin Akashi yang dari kecil udah gak polos #gakRu. Ah... agak penuh dan jadi kurang nyaman ya? Bagaimana sekarang? Sudah lebih baik, kah? Ru harap bisa meningkatkan kenyamanan membaca dari tiap reader *smile* terima kasih sudah mau mereview.

Rea: ah, terim kasih sudah amu membaca x"D Ru memang tidak bisa membuat terlalu panjang untuk series ini, namun di chapter kali ini sudah Ru buat lebih panjang *smile* semoga suka dengan chapter ini ya

Brigitta: ahahaha xD karena Furi itu terlalu polos mangkanya gampang blushing xD lagipula dari kecil pesonanya Akashi udah kuat banget kok xD

Ah, sudah semua balasan reviewnya xD terima kasih kepada kalian yang sudah membaca, mereview, fave, ataupun follow fic ini *smile* So, mind to review, minna?

Sign,

.

.

arumru. kuroi-ru