12 Days of Akafuri
Disclaimer: milik siapa lagi Kurobasu kecuali milik Fujimaki-sensei? Saya hanya meminjam chara buatannya untuk kesenangan pribadi tanpa meraup keuntungan materi sedikitpun
Warning: OOC, Typo, Bokushi, Oreshi.
Chapter 4: Different?
.
.
Sungguh Furihata tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Entah sejak kapan mantan muridnya ini memakai softlens berwarna emas? Ah, mungkin hanya sedang mengikuti trend, tapi jika hanya memakai yang sebelah, Furihata tentu akan melihatnya dengan tatapan yang aneh. Apalagi sejak bertemu tadi, mantan muridnya ini tidak berhenti menunjukan smirk dan mengeluarkan aura intimidasinya.
Hell! Furihata mengutuk aura mencekam yang dikeluarkan oleh mantan muridnya ini. Akashi Seijuuro menjadi berpuluh kali lipat – atau mungkin beratus kali lipat – lebih menyeramkan hingga ingin rasanya Furihata segera kabur dari tempat ini juga.
"Oh, jadi ini..."
"E-eh? Apa?" Furihata mendengar gumaman pelan dari laki-laki berambut merah itu. Tangan yang memgang pisau dan garpu untuk memotong daging steak mengambang di udara dan tatapan bingung namun polos muncul di wajah laki-laki berusia 32 tahun tersebut.
"Ah... Bukan apa-apa Kouki-sensei, ayo kita makan saja." Akashi tersenyum yang entah mengapa membuat Furihata merinding ketakutan. Tidak mau mencari masalah, Furihata segera memakan daging steak medium rare yang sudah dipesan.
Keheningan terjadi saat mereka makan. Oh, tentu Furihata merasa canggung karena mereka hanya diam dan fokus dengan makanan masing-masing, namun Furihata masih tau tata krama saat makan. Apalagi saat ini mereka sedang makan di suatu restoran mewah di Tokyo yang hanya bisa di datangi oleh kaum sosialita dan butuh waktu jauh-jauh hari untuk reservasi tempat di restoran itu. Meskipun rasanya sangat gatal untuk berbicara dan menginterogasi mantan muridnya ini, namun akan Furihata tahan hingga ia selesai makan.
"Terima kasih untuk makanannya." Furihata menaruh pisau dan garpu diatas piring yang sudah kosong. Akashi hanya tersenyum melihat gerak-gerik Furihata.
"Bagaimana makanannya, sensei?"
"A-ah, t-tentu saja enak. Ada harga, ada rasa dan kualitas, kan?" Furihata meminum air putih yang sudah disediakan. Lagi-lagi dirinya merasakan canggung saat ingin berbicara ke Akashi. Entah mengapa semua pertanyaan yang sudah ia siapkan menguap saat melihat kedua iris berbeda warna tersebut. Seperti menghipnotisnya dengan pesona seorang Akashi, berkali-lipat menghipnotis dirinya dibandingkan saat kedua irisnya berwarna ruby.
"A-akashi-san memakai softlens sebelah saja, kah?" Hell! Furihata mengutuk dirinya sendiri. Dari sekian banyak pertanyaan yang bisa diajukan, mengapa dirinya malah mempertanyakan hal tersebut. Jika ini di tempat biasa Furihata makan, mungkin ia sudah memukul kepalanya ke meja.
Akashi awalnya sempat terkejut dengan pertanyaan Furihata. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa geli yang muncul. Menarik, amat sangat menarik, hal itu yang berada di pikirannya mengenai mantan guru sekaligus pengasuhnya sendiri. Pantas saja 'kakaknya' merasakan hopeless dan bingung bagaimana cara yang paling tepat untuk menunjukan segala afeksi untuk menarik orang ini.
"Ah, iya. Entah mengapa aku suka dengan trend ini. Sensei tau kan saat ini sedang marak trend anak muda memiliki mata heterokromatik?" Furihata mengangguk, membenarkan perkataan Akashi.
"A-ah, tapi entah mengapa aku lebih suka melihat mata Akashi-san seperti biasanya saja." Noted! Akashi mencatatnya di dalam otak jeniusnya. Ia tersenyum senang, sedangkan Furihata hanya bisa mengutuk mulutnya yang entah mengapa mengucapkan kata-kata yang terlalu jujur. Akashi tidak memasukan ramuan kejujuran dari fandom penyihir di makanannya kan? Tapi kenapa Furihata tidak bisa berhenti jujur?
Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Menuangkan wine ke gelas mereka. Akashi memegang gelas tersebut, menggoyangkan pelan denga arah memutar sambil menatap senseinya.
"Sensei, kemana panggilan Sei-kun yang biasa?"
Furihata hampir tersedak wine yang diminumnya. Ia menatap lurus wajah muridnya. Apa-apaan itu. Kenapa ia menunjukan ekspresi terluka? Apakah artinya muridnya ini benar-benar serius ingin menikah dengan dirinya dan benar-benar menyukainya? Merasa gugup, tanpa sadar Furihata menghabiskan wine yang ada di gelasnya. Menatap kedua iris berbeda warna tersebut untuk mencari kebohongan dari kata-kata yang diungkapkan, namun yang ia dapati hanyalah kejujuran yang membuat dirinya berada dalam kondisi tidak nyaman.
"A-ah, aku rasa aneh saja jika sekarang memanggil Akashi-san dengan panggilan Sei-kun. Akashi-san bukan lagi seorang anak kecil. Akan terdengar sangat aneh jika aku memanggil Akasi-san dengan panggilan Sei-kun, apalagi mengingat bagaimana kedudukan Akashi-san saat ini." Jawaban macam apa itu? Furihata hanya bisa mengutuk dirinya yang hanya bisa memberikan jawaban seperti itu.
"Ah... aku tidak keberatan jika sensei memanggilku Sei-kun. Aku paling suka saat mendengar sensei memanggilku seperti itu sejak masih di TK."
Furihata hanya bisa mengerjapkan kedua matanya. Muridnya ini kenapa sih? Kenapa ia menjadi lebih banyak berbicara dan terkesan berbeda dibandingkan biasa? Seperti memiliki kepribadian yang lain saja.
"Sei-kun kenapa? Seperti orang lain saja." Akashi menatap Furihata tidak percaya. Akhirnya panggilan itu kembali. Furihata hanya bisa mengutuk dirinya. Jujur ia memang ingin memanggil muridnya ini dengan panggilannya seperti dulu, namun ia tahan. Merasa canggung, Furihata menghabiskan wine yang sudah diisi penuh di gelsanya yang tadinya sudah kosong. Benar-benar ia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri hari ini.
"Ah, mungkin hanya perasaan sensei saja." Sebuah senyuman absolut mengembang di bibir Akashi. Ia benar-benar tertarik dengan orang dihadapannya ini. Pantas saja sang 'kakak' sampai seperti itu dan tanpa sadar mengeluarkan dirinya di menit terakhir mereka akan makan malam. Menarik, terlalu menarik. Jujur, polos, tidak dapat diduga. Ia sangat tertarik dengan makhluk berambut cokelat ini. Sangat berbeda dibandingkan orang-orang yang pernah ditemuinya. Bahkan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kiseki no sedai ditambah Kagami dan Kuroko teman satu tim dan rivalnya saat masih menjadi atlet basket di SMA.
Furihata memegang kepalanya yang pusing. Mengutuki kebodohannya sendiri. Ia seharusnya ingat jika dirinya paling lemah dengan minuman beralkohol, apapun itu. Paling banyak satu gelas dan itu bisa membuat Furihata tidak bangun hingga keesokan hari, namun tadi ia malah menghabiskan dua gelas wine saking gugupnya.
"Sensei, baik-baik saja? Sepertinya sensei pusing. Ah, apa sensei tidak kuat minuman beralkohol?" Akashi memandangi Furihata khawatir. Wajah senseinya sudah merah dan pandangannya sudah tidak fokus. Furihata mengibaskan tangannya, mencoba membuat muridnya tidak panik.
"Kita pulang saja ya Sei..." Akashi membantu Furihata berdiri dan berjalan keluar menuju parkiran mobil. Begitu sampai di mobil, Furihata langsung tidur dan membuat Akashi bingung. Segera, Akashi mengendarai mobilnya ke apartemen miliknya.
.
.
Furihata bangun dengan sakit kepala yang teramat sangat. Sepertinya ini adalah kedua kalinya ia mabuk hingga separah ini. Matanya mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Menggosok kedua matanya dan memandang dengan aneh keadaan di sekelilingnya.
"Sudah bangun sensei? Aku sedang menyiapkan makan siang dan jika sensei masih hang over bisa minum peredanya di dalam kulkas. Jika ingin mandi sudah aku siapkan juga." Furihata terkejut saat melihat Akashi masuk ke kamar. Otaknya yang bekerja lebih lamban mencerna perkataan Akashi yang sudah kembali ke dapur.
"Sial..." Furihata memutuskan untuk mandi. Ia butuh menyegarkan pikirannya saat ini.
.
.
"Maaf merepotkan." Furihata duduk diam di kursi bar yang menghadap langsung ke dapur. Akashi menaruh sepiring omerice di hadpaan Furihata.
"Silahkan dimakan."
"Ah.. ya... omerice yang bagus... Good job Sei." Furihata tersenyum sambil mengelus rambut Akashi. Akashi yang terkejut hanya bisa diam. Furihata yang masih tidak sadar – kebiasaan sejak di TK ataupun penitipan anak jika ada yang membuatkannya omerice akan mendapatkan senyuman dan elusan di kepala – langsung menyantap makan siang yang sudah dibuatkan untuknya.
"Ah... Terima kasih..."
"Tidak menggunakan lensa kontak emas lagi?" Furihata memperhatikan kedua mata Akashi yang tidak berbeda warna lagi.
"Ah, ya... agak aneh jika harus memakainya di rumah."
"Ah... begitu... tapi memang lebih baik seperti itu. Lagipula warna aslinya lebih indah dibandingkan harus menggunakan lensa kontak sebelah. Dan entah kenapa saat berbeda warna seperti itu auramu menjadi lebih menyeramkan, aku lebih suka Sei yang seperti ini." Furihata mengutuk dirinya sendiri. Sedangkan Akashi hanya diam mencerna dan menyimpan semua informasi yang ia dapatkan. Sepertinya saat ini akan lebih mudah mendekati senseinya, dan mungkin kesempatan Akashi jauh lebih besar akibat kejadian kemarin.
.
.
Fin
.
.
Maaf sebelumnya... izinkan Ru mengutuk dirinya sendiri. Udah telat, plot holes dimana-mana, gak jelas pula .-. /nangis/ jujur untuk prompt yang ini Ru bener-bener bingung .-. prompt selanjutnya pun bingung. Dan ini memang udah harus bikin perkembangan hubungan mereka sih...
Aaaaaaa... izinkan Ru mengutuk dirinya sekali lagi—
Ah... sudah, tidak mau berlama-lama, silahkan review. Konkrit, bahkan flame sekalipun akibat kekurangan dalam cerita untuk chapter kali ini akan Ru terima. See you in the next chapter that I will upload in this afternoon. See you
Sign,
.
.
arumru. kuroi-ru
