12 Days of Akafuri
Disclaimer: Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei. Ru hanya meminjam chara buatannya untuk kesenangan sendiri tanpa meraup keuntungan materi sedikitpun
Warning: many describe, Typo, OOC
Chapter 5: Half
.
.
Bokushi adalah sebagian dari kepribadian Akashi yang lain, Oreshi adalah kepribadian Akashi yang sebenarnya. Sebuah hal dasar yang sudah diketahui oleh orang-orang yang dekat dengan Akashi. Kiseki no Sedai, Kuroko, Kagami, dan Momoi sangat tau mengenai hal ini, begitupula dengan ayahnya yang secara tidak langsung membantu menciptakan setengah kepribadian Akashi yang tidak mau kalah dan selalu berkata jika dirinya tidak akan pernah kalah.
Sejak kekalahannya dari Tim Basket Seirin, Bokushi hampir tidak pernah muncul lagi. Bukan, bukannya ia menghilang, hanya saja Akashi sudah 'berbaikan' dengan kepribadiannya yang lain itu sehingga mereka bisa hidup dengan akur dan saling membantu untuk mengembangkan diri Akashi. Semuanya berjalan dengan normal dan tanpa cela sedikitpun hingga akhirnya pertemuannya kembali dengan sang sensei.
Sungguh, dalam hidup seorang Akashi Seijuuro tidak pernah ia merasakan perasaan insecure seperti ini. Senseinya, seseorang yang mendapatkan amanah dari ibunya untuk menjaga Akashi sesaat sebelum kematiannya, seseorang yang menumbuhkan kasih sayang pada diri Akashi ke orang lain selain keluarganya. Furihata Kouki merupakan suatu entitas yang secara tidak langsung membawa setengah bagian dari diri Akashi karena kesederhanaan dan hal-hal biasa namun mampu membuatnya merasa nyaman seperti saat ia bersama dengan ibunya.
"Akashi-kun, aku harap kau tidak melamun lagi." Kuroko Tetsuya, mantan teman satu tim basket saat masih diam di posisinya. Saat ini mereka sedang berada di salah satu restoran yang terletak tidak jauh dengan lokasi magang Kuroko. Siapa yang menyangka jika Kuroko dekat dengan seseorang yang menjadi sumber segala perasaan insecure seorang Akashi. Kuroko yang sedang magang di TK tempat Furihata menjadi kepala sekolah menjadi pilihan Akashi untuk menceritakan semua permasalahannya.
"Ah, maaf Tetsuya." Akashi meminum cappucino yang dipesannya. Sungguh, Akashi mengalami kesulitan untuk fokus akhir-akhir ini.
"Yang masih menjadi pertanyaan, bagaimana Akashi-kun bisa tetap menyukai Furihata-san padahal waktu sudah berlalu lama dan kalian bahkan tidak pernah berkomunikasi lagi sebelum akhirnya Akashi-kun mendatangi langsung Furihata-san?"
"Ah... kau tau yang namanya catatan, kan? Sejak aku bisa menulis, Okaa-sama sudah mengajarkan untuk selalu mencatat kegiatan sehari-hari yang sudah aku lakukan. Dari sana aku bisa mengingat semua."
Kuroko hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan sebanyak apa buku yang sudah terkumpul akibat kebiasaan Akashi menuliskan segala sesuatu.
"Jadi, sekarang apa yang akan Akashi-kun lakukan? Setidaknya Furihata-san tidak pernah menolak kehadiran Akashi-kun, kan?" Akashi mengangguk, ia nampak berpikir akan mengambil langkah apa untuk mendekati kembali senseinya.
"Bersikap normal. Furihata-san itu seseorang yang social awkward. Jika Akashi-kun terlalu menekan, ataupun malah menjauhinya... kemungkinan akan semakin kecil."
"Tidak ada informasi lainnya yang bisa kau berikan, Tetsuya? Segala informasi akan berguna untukku." Kuroko hanya menggeleng hari ini ia hanya mempersiapkan diri untuk mendengarkan curhatan mantan kaptennya itu. Sama sekali tidak menyiapkan informasi apapun mengenai atasannya selama magang.
"Baiklah, perlu aku antar kembali ke TK?" Akashi memanggil pelayan untuk membayar pesanan mereka. Makan siang kali ini disponsori oleh Akashi. Sebagai bentuk pertanggung jawaban karena sudah 'menculik' Kuroko dari murid-muridnya yang manis hingga membuat mereka menangis.
"Sebelum kembali, kita ke toko kue disebelah. Entah mengapa aku mempunyai firasat mendatangi toko kue itu."
.
.
"Strawberry cheese cake satu."
"Tolong satu loyang strawberry cheese cake."
Kedua orang pelayan dengan seragam toko kue terkenal saling berpandangan, begitu pula kedua orang yang memesan hal yang sama.
"Kouki-sensei... ah, selamat siang."
"S-selamat siang Akashi-san. Ah, ada Kuroko-kun juga. Selamat siang... jadi temanmu itu Akashi-san, Kuroko-kun?"
Akashi berdecak kesal. Padahal saat kejadian kemarin Furihata sudah memanggilnya dengan suffix –kun, tapi hari ini panggilan formal itu kembali. Dan sungguh ia kesal saat Furihata memanggil Kuroko dengan sebutan Kuroko-kun.
"Iya Furihata-san. Furihata-san kenal dengan Akashi-kun? Ah, dunia memang sempit." Sungguh, Akashi salut dengan kemampuan Kuroko yang memberikan kesan jika ia tidak tau jika Furihata kenal dengan Akashi.
"Mohon maaf kuenya hanya tinggal satu tuan." Seorang pelyan menginterupsi percakapan diantara mereka.
"A-ah, k-kalau begitu untuk Akashi-san saja. Akashi-san duluan yang sampai."
"Untuk sensei saja. Aku tidak masalah."
"T-tapi..."
"Bagaimana jika kalian membagi dua kue tersebut. Setengah untuk masing-masing." Kuroko menginterupsi perdebatan yang ia yakini tidak akan berakhir karena keduanya keras kepala.
"Ide yang bagus Tetsuya. Tolong bagi dua kuenya, dan ini uangnya." Akashi segera membayar kue tersebut. Pelayan dengan sigap melaksanakan perintah Akashi.
"M-maaf, ini uangnya." Furihata menyerahkan uang seharga setengah kue tersebut. Awalnya Akashi ingin menolak, namun mendapat kode dari Kuroko ia menerima uang tersebut.
"Tuan, ini kuenya." Seorang pelayan menyerahkan dua kotak kue ke Akashi. Salah satunya Akashi berikan ke Furihata.
"Sensei mau kembali ke TK? Bagaimana jika aku antar sekalian? Kebetulan aku ingin mengantarkan Kuroko kembali ke tempat magangnya yang ternyata TK yang sama dengan sensei.
"A-ah.. baiklah..."
Akashi tersenyum senang namun sangat tipis dan sebentar. Firasatnya memang tidak pernah salah. Buktinya karena mengikuti firasatnya tersebut ia bisa bersama – bertemu di toko kue dan mengantarkan kembali ke TK – senseinya. Kuroko yang melihat perubahan pada diri Akashi hanya bisa menggeleng perlahan, tidak menyangka mantan kaptennya akan dengan mudah menunukan ekspresi seperti itu. Sepertinya memang benar jika sebagian kebahagiaan Akashi berada di sosok pria berumur 32 tahun tersebut.
.
.
Fin
.
.
Selamat malam... mohon maaf karena amat sangat telat update. Kemarin Ru harus ke acara keluarga sehingga tidak sempat untuk melanjutkan tulisan dan update. Hari ini pun berada pada kondisi tidak terlalu sehat. Ada yang merasa semakin aneh dengan chapter ini? Ru jujur bingung mengembangkan plotnya .-. apalagi harus menyesuaikan dengan promptnya ._. suatu tantangan tersendiri untuk Ru.
Bagaimana Akashi ingin mendekati Furihata, dan juga bagaimana respon Furihata itu bikin Ru pusing sendiri sebenarnya _(:'3 berakhir Ru baca-baca Love so Life untuk sekedar tambahan referensi. Dan mungkin ini agak tidak masuk dnegan prompt half of something ya *bow*
Untuk balasan review... maaf jika akan Ru gabung. Yang jelas ini akan Ru teruskan hingga prompt ke 12 nanti. Bagaimana akhirnya? Mari berserah kepada mood Ru dan juga kesehatan Ru sendiri. Entah mengapa Ru mempunyai tendensi untuk membuat banyak kisah hurt/comfort bahkan angst ._.) terima kasih bagi yang sudi mereview ataupun favorite dan follow fic ini. Segala masukan akan Ru pertimbangkan. See you in the next chapter ._. jika hari ini Ru sempat dan tidak mabuk akibat 2 UTS mata kuliah yang berat—akan langsung update 2 chapter ._. terima kasih. So, mind to review?
Sign,
.
.
Hiyuki Ru
