S O U R

A Kirigaya Kyuu and OrdinaryFujoshi Fanfiction

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadoshiki

SeitoHigh!AU, AlphaOmega Verse, Sho-Ai

Nerd&Dork!Kagami and Punk!Aomine

.

.


"Hoaaam…" Aomine menguap untuk ke sekian kalinya hari ini. Mata sapphire-nya melirik pada orang di sebelahnya dengan tatapan ganas. "Apa lo?" bentaknya.

Kagami terkejut lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ma-Maaf!" Kagami mati kutu dibentak Aomine.

Ia menutupi wajah merona-nya dengan buku bahasa inggris. Yang dipegangnya secara terbalik.

Diam-diam Kagami kembali melakukan aktivitasnya menatapi sang Alpha. Selama waktu pelajaran Aomine tidak membuka–bahkan mengambil buku bahasa inggris. Pemuda itu hanya membenamkan wajahnya pada lipatan tangan di atas meja. Kagami yakin, kedua mata shappire-nya sedang terpejam. Dia tidur.

Kagami bermaksud untuk menepuk bahu Aomine. "Ao—"

Sebelum tangannya berhasil menyentuh pundak besar itu, sang empu menoleh. "Tch" sebelah mata biru tua itu membuka. "Apaan sih? Gak usah ganggu bisa?" serunya.

Aomine membenamkan wajahnya kembali. Deru nafasnya perlahan mulai teratur, tanda ia tertidur pulas.

Kagami menghela nafasnya. 'Salah apa aku Kami-Sama? Kemarin nyaris masuk kedalam perkelahian maut, lalu hari ini aku bertemu dengan sang pemenang perkelahian itu…'

Berkali-kali sang lelaki crimson ini berusaha memperhatikan penjelasan Hyuuga-sensei. Dan berkali-kali ia gagal. Titik fokusnya terpecah oleh aroma maskulin Alpha di sebelahnya. Tanpa sadar, Kagami jatuh pada pesona seorang punk Alpha Aomine Daiki. Sayang, kedua manik sapphire-nya itu tertutup.

Bukannya memperhatikan pelajaran, Kagami malah sibuk memandangi Aomine. Kepala merahnya di sandarkan ke meja dan di tolehkan ke arah kanan. Ia menatapi wajah Aomine yang ternyata menghadap samping–arahnya. Entah kenapa Kagami suka memandangi wajah lelaki dim ini.

'C-cakep juga ya?'

Tanpa sadar, dua buah penghapus papan tulis–yang sebagian besar materialnya terbuat dari kayu–terbang ke arah dua insan yang sedang menikmati lamunan (dan tidurnya) masing-masing.

.

BLETAAKK

Dua buah penghapus itu jatuh telak di kepala dark red dan dark blue.

"Itte!" seru mereka berdua bersamaan.

.

Sasuga Hyuuga-sensei. Mantan kapten sekaligus shooting guard tim basket SMA-nya dulu. Kalau dia marah, dia bisa masuk kedalam mode clutch buas-nya.

Aomine kembali tidur setelah mengusap kepala birunya.

"Kagami! Aomine!" panggil Hyuuga-sensei kencang. Kagami yang baru saja terbangun, langsung menunduk.

"Su-sumimasen…" satu kata–dengan mimik wajah 'moe'– yang membuat sang sensei meleleh. Dia berdehem kecil, memindahkan haluannya menuju meja samping Kagami.

"Aomine, bangun" panggil Hyuuga-sensei pelan.

"Aomine Daiki!" teriaknya.

Merasa tidak ada respon, dan sang clutch kesal, dia menggebrak meja pemuda dim dengan penghapus tadi.

.

BRAAKKK

"Ao…mine…BANGUN D'AHO!" teriakan menggelegar sang clutch sukses membuat seinterio kelas terjungkang dari kursi masing-masing. Kaget.

"Ck, urusai na omae…" lenguh Aomine tak sopan. Dia tidak sadar siapa lelaki yang meneriakinya barusan.

"Grr…AOMINE DAIKI! BANGUN DAN SEGERA BERDIRI DI KORIDOR KELAS! SEKARANG!" teriakkan kedua baru membat Aomine benar-benar bangun.

Navy blue membuka matanya. Manik shappire terpampang jelas dari balik kelopak mata. "Ck…mendokusai" Aomine berjalan keluar kelas tanpa memandang siapapun. Bahkan dia tidak memperdulikan gurunya yang mengebulkan asap dari atas kepalaya.

"HEY! KAU DENGAR?!"

Aomine menoleh. "Kan tadi Sensei yang menyuruhku berdiri di luar. Tak mungkin aku di sini sekarang kalau tidak dengar," Aomine membuka pintu kelas dengan malas. Bumerang imajiner menancap di kepala sang guru. Asap terus mengepul di atas kepala Hyuuga. Tangannya mengepal, matanya berubah menyeramkan. Ia kesal. Lebih tepatnya: masuk zone.

Dibiarkannya Aomine berdiri di luar.

Hyuuga melanjutkan pengajarannya kembali dengan tenang, tanpa hambatan. Kagami pun bisa bernafas lega. Paling tidak ia bisa sedikit lebih fokus karena tidak ada aroma menggoda yang memecah fokusnya. Meskipun rasa cemas terus menghantui si alis cabang.

"Aomine…"

.


.

Sisa hari itu masih seperti biasa. Di setiap pelajaran, Kagami menjawab setiap soal trivia yang di berikan gurunya dengan benar. Semua ini tentu berkat buku-buku yang sering dibaca nya.

Pada jam istirahat, meja Kagami sudah di kerubungi Alpha-Alpha single yang tertarik pada aroma khas Omega-nya. Ia selalu digoda, tak kenal waktu. Pemuda dim di sebelahnya hanya mendengus melihat kumpulan orang bodoh. Mana mungkin dia akan menyelamatkan Kagami? baru juga kenal hari ini, dan juga kata 'peduli' sudah terhapus dari kamusnya. Mungkin.

"Heeii, Kagami~ Aroma yang manis, seperti biasanya, ya~" goda seorang Alpha.

"Eh... Ja-Jangan dekat-dekat.." Kagami berusaha menghindar dari tangan-tangan nakal yang berusaha mencolek tubuhnya dan mencubit pipinya.

"Aroma tubuhmu makin lama makin manis saja, Kagami~ Aku jadi suka~" goda yang lain. "Aroma tubuh itu masih tercium kuat sekali.. Tandanya kamu belum punya mate kan... Sama aku saja yuk~?"

Pipi Kagami menampakkan semburat merah. Bukan karena ia tergoda para Alpha itu, melainkan karena ia malu Aomine masih tetap tak bergeming di sebelahnya. Dia hanya terdiam di tempat duduknya. Tak berkomentar apa-apa dan hanya menyeringai kecil–menghina–ke arah gerombolan Kagami.

"T-Tidak, terimakasih.." Kagami menolak dengan halus. Wajahnya masih memerah. 'Moe' sekali. Panah dewa cinta menancap di jantung keempat Alpha yang menggoda Kagami. Mereka meleleh seketika.

"Ah, Taiga.. Jangan malu-malu!" seorang Alpha lain berusaha memeluk Kagami. Sedangkan beberapa yang lain mencolek-colek daerah sakralnya.

"Jangan—"

"Cih menjijikan" sebuah suara menginstrupsi adegan 18 tahun keatas tersebut. Bukan Hyuuga-sensei ataupun Izuki-sensei–yang humornya sangat buruk–. Para guru disekolah ini tidak begitu memperdulikan status 'Alpha Omega', menurut mereka itu bukan hal yang harus di gubris. Tapi mereka melarang mate-ing di dalam kelas, masih banyak pula beberapa peraturan tentang 'Alpha Omega'. Sayangnya tidak ada yang menulis tentang "Tidak boleh menggoda Omega yang masih single".

Lima pasang mata melirik ke arah suara.

Disana. Lelaki shappire itu menatap merendahkan ke arah mereka semua. Ya, Kagami-pun termasuk kedalam sorotan matanya.

"Kalian ini payah sekali. Kayak gak ada omega lain aja. Yang kayak gini malah kalian goda? Jelek sekali selera kalian" hujatnya.

Jleb.

.

Sebuah bambu runcing imajiner menusuk dada Kagami.

.

Sakit sekali telinga dan hati Kagami mendengar hujatan dari sang idolanya. Err, sejak kapan Kagami meng-idolakan lelaki dekil? Uhuk.

"I-itu kan bukan urusanmu!" teriak lelaki bersurai golden yellow.

"Iya benar! Bukan urusanmu!" tiga lelaki lainnya menyeru setuju. Sedangkan Kagami merunduk.

"Che. Tentu urusan gue," Aomine menatap Kagami. "Dia itu calon gue."

"HEEEEE?!" Seru mereka berlima kaget. Aomine melangkah pergi dari mejanya dan menuju keluar.

"Apakah itu benar Kagami?!"

"Beneran tuh Taiga?"

"Kagamii! Itu benar-bernar calon mate mu hah?!"

Hujaman pertanyaan memasuki telinga conge'an Kagami. uhuk,

Si alis cabang menghiraukan pertanyaan orang-orang penggoda itu, dan berlari meninggalkan mereka–untuk mengejar Aomine. Pipinya menunjukan semburat merah–lagi–selama berlari.

"Hosh…Hosh…aku yakin dia tadi kesini…" dia berhenti pada lantai tiga. Lelah juga mengikuti Aomine yang langkah kakinya segede gajah –pikir Kagami.

"Ja-jangan-jangan dia ke atap sekolah?" otaknya berkerja lebih lama dari pada kura-kura yang kakinya pincang. Namun gerakannya lumayan lincah untuk pergi ke pelosok lantai tiga–mencari pintu menuju atap sekolah.

.


.

"Ha-harusnya di sini…" Kagami menatap pintu besi di depannya ragu-ragu. Antara masuk, atau enggak.

'Ah masuk aja deh!'

Krieeetttt…

Bunyi pintu yang engselnya berkarat, dibukanya.

"Hiiii…" lelaki Omega ini sebenarnya cukup takut dengan yang namanya obake atau yuure. Rumor katanya, daerah lantai tiga yang pelosok dekat tangga menuju atap sekolah itu berhantu. Tapi berkat oba-chan nya yang mengajarkan kalau "Hantu itu hanya ilusi manusia semata" rasa takutnya dapat di tolerir.

Tap…Tap…

Kagami melangkahkan kakinya ke anak tangga kesekian yang telah di injaknya hari ini.

Hyuuuuuuu…

Hembusan angin menerpa badan besar Kagami. 'sejuk' pikirnya.

Dan disana. Dia menemukan Aomine yang tertidur terlentang dengan nyenyak.

Si Maji tenshi berjalan mendekati sosok yang tengah tertidur itu perlahan. Melangkahkan kakinya dengan hati-hati seakan maling yang takut ketahuan mencuri.

Aroma alpha dan maskulin khas lelaki itu memenuhi rongga hidung Kagami "A-Aomine…" panggilan kecil meluncur mulus dari bibir ranum-nya.

Si dim menggeliat dalam tidurnya "Nggh…"

Kagami masih berdiri berjarak sekitar lima langkah dari Aomine.

Sniff…Sniff

Kelopak mata itu terbuka. Menampilkan manik shappire kesukaan Kagami. "Hn? Nanda?" ia mengucek-ucek matanya.

"A-Aomine-san…I-itu…soal… Err…" Kagami ragu-ragu untuk ngomong. Ekspresi ragu-ragunya semakin lengkap dengan semu merah di pipinya. Persis seperti remaja putri yang akan menyatakan cinta "Err… Tentang yang tadi di kelas… I-itu…bohong, 'kan?"

Aomine terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Kagami. "Hn? Yang man–oh." Kagami menatap manik dark blue itu lekat-lekat, seakan selingkuhan yang meminta pertanggung jawaban karena telah di hamili–uhuk "Kalo beneran gimana?"

DEG!

Jantung Kagami berdetak cepat. Berderu bagaikan kereta shinsaken kebanggaan Jepang. Matanya membelalak dan mengerjap beberapa kali. Dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Alpha di depannya ini.

"A-apa…i-itu–"

"Kanjigai suru na," Aomine bangkit dari duduknya.

'Eh?'

"Jangan di anggep beneran. Itu cuman buat ngerjain lo doang."

Sunyi melanda atap sekolah.

'Eh? Apa yang dia bilang?'

"A-ah… Sou desu ka… Jodan dake desu yo ne? Ahahaha…" Kagami tertawa canggung. Dia terlalu menganggap serius pernyataan Aomine–yang ternyata hanya bualan untuk megibuli Kagami.

Lelaki navy blue berjalan dari tempatnya menuju pintu keluar. "A-apa yang kuharapkan? Ahahaha" batin Kagami melihat punggung itu menghilang ditelan tangga.

"Baka, ore…" lenguhnya sambil menepuk pipi chubby nya. Mengusap beberapa tetes cairan bening yang turun tanpa sepengetahuannya.

Kagami berjalan keluar mengikuti Aomine. Kali ini, tujuannya adalah kelas.

.

.

.

To be continued


A/n:

Kyuu: *sambar mic sebelum Ordinary* HALO SEMUAAAHHHHH~ #TEBARCINTAKASIHSANYANG

APA KABAR NEHH? KAYAKNYA BARU LUSA KEMAREN KITA POST NIH FIC BUAHAHA /ga.

Hm? Bagaimana? Dou? ngegantung kan?

ah tunggu, sbelum aku ngebacod... aku mau buka kamus :

"Kanjigai suru na" jangan salah paham

"Sou desu ka? jodan dake da yo ne?" oh gitu? cuman bercanda yah?

Dah kayaknya itu doang. Kalimat bahasa jepang itu asli tanpa translate ke mesin glugel yang nipu bahasa japunnya ya *smirk smirk*

tadinya aku pengan buat alpha yang suka godain itu Kise, Himuro, dan satu lagi ga tau deh siapa. Tapi katanya jangan :v lah aku mah dengerin kata senvai :v #bersembunyi di belakang ominyeh

Chapter ini sebenernya yang buat base idenya itu OrdinaryFujoshi... aku bagian ngembangin adegan nipu... haha /ga.

semoga chap ini gak mengecewakan yaw~

apa romansnya dapat? kagami di gantungnya dapat? mau liat kelanjutannya?!

REVIEW DULU DONGSEE~ jangan lelah me review meski hanya titik! #Maksa #kavorrr

THANK YOU MINNA UNTUK MEMBACA FIC INI~ *kasih mic ke Ordinary*

Ordinary: APAAN INI! SENVAI HARUSNYA DULUAN YEH. CHAP KEMAREN KAMU UDAH-ehem. Fokus.

GILAK YAH NIAT BANGET INI. SEMUA KARENA REVIEW, FAV, SAMA FOLLOW DARI SEMUANYA! /peluk satu-satu/

Iya, emang chap ini base idenya dari aku. Tapi kouhai saya berhasil mengembangkan dengan sangat amat baik sekali banget. Aku terharu... /lebay/

Buat yang nge-review dan bilang suka karakter Aomine : Mii7 dan CA Moccachino. - MAKASIH! AOMINE EMANG GITU~~ KEREN YAH? AKU JUGA NGEPENS!

For PeniPhoenix24 and ShilaFantasy : Makasih udah ngasih review positif buat fic colab ini!

SasagiiRokusai : Anti mainstream kan? A/B/O Verse tapi bukan ret M. Gokil abis!

Okeeee cukup bacodnya. Finally... REVIEWNYA DONG ABANGG~~ /bawa kecrekan ala banci lampu merah/ *ditabok*