S O U R

A Kirigaya Kyuu and OrdinaryFujoshi Fanfiction

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

SeitoHigh!AU, AlphaOmega Verse, Sho-Ai

Nerd&Dork!Kagami and Punk!Aomine

.

.


Sisa hari yang lumayan membuat hati Kagami retak itu dijalani tanpa bertukar sepatah kata pun dengan pemuda dim yang duduk di sebelah kanannya. Dia terlalu malu untuk membuka dialog. Bukan karena malu saja, tapi juga karena Aomine yang menjadi penyebab retaknya hati Omega maji tenshi ini, yang sempat ge-er dan berpikir Aomine serius ingin menjadi mate-nya. Entah apa yang diharapkan Kagami dari Alpha badass sejenis Aomine. Entah apa yang jadi pesona spesial pada diri Aomine, yang membuat Kagami terpikat.

Aomine pun begitu. Ia tak berniat untuk memulai dialog dengan Omega yang sempat dikerjainya jam istirahat tadi. Tentu saja tidak niat, buat apa ia buang-buang waktu tidur dan tidak memperhatikan pelajarannya yang berharga untuk bicara dengan Kagami. Kenal saja baru beberapa jam. Siapa pula Kagami baginya? Meskipun jujur saja, sebagai seorang Alpha tulen, ia tergoda aroma wangi khas Omega Kagami. Dalam hati Aomine jingkrak-jingkrak kegirangan mengingat aroma semacam apel-stroberi manis unyu-unyu yang menyeruak dari tubuh Kagami saat di atap sekolah tadi. Aroma yang sangat kontras dengan aroma maskulin Aomine. Rasanya ingin ia meng-claim aroma itu untuk dirinya sendiri. Tapi ego dan gengsi untuk mempertahankan kesan badass-nya tetap tak ingin ia tinggalkan demi Omega manis macam Kagami. Err…tunggu dulu. Manis?

Siang itu, Kagami pulang ke apartemennya sendirian−seperti biasa. Baru sehari pemuda bernama Aomine Daiki itu ada di kelasnya, tapi rasanya kepalanya sudah pening dan berkedut-kedut. Masih sangat lama sebelum kenaikan kelas, masih lama ia harus duduk di sebelah pemuda dim berandalan itu.

.

.

.

.

.

KRRRIIINNGGG!

Jam weker Kagami berbunyi. Kagami masih belum bergerak dari tempat tidurnya. Sepertinya sesi belajar tengah malam dan mengerjakan tugas sampai hampir subuh membuat Kagami kelelahan. Lihat saja, badannya menolak untuk bangun meski telinganya mendengar dering jam weker.

"Lima menit lagiii," racau Kagami asal. Padahal dia tahu tak akan ada seorang pun yang menjawabnya. Toh dia tinggal sendiri. Kalau ada yang menjawabnya justru Kagami yang akan ketakutan setengah mati.

Lima menit di kasur yang empuk, kepala beralaskan bantal yang nyaman lengkap dengan selimut hangat yang menyelimuti memang tak pernah terasa sebentar. Rasanya baru lima menit, kenyataannya sudah hampir 45 menit Kagami tertidur. Hasilnya? Jam sudah menunjukkan pukul 08.37. Dan Kagami gelagapan untuk bangun. Padahal kelas perwalian dengan wali kelas killer-nya, Hyuuga-sensei dimulai pukul 9 tepat.

"Siaaalll! Aku terlambat!" erang Kagami. Segera dia bangun dari kasur–meski tidak rela.

Mandi kilat ala burung, berpakaian seragam meskipun kancingnya mungkin tidak terpasang dengan benar, dan langsung melesat tanpa sempat sarapan. Beruntung Kagami tetap tidak lupa mengunci pintu apartemennya.

'20 menit! Mungkin kalau lari masih sempat,' batin Kagami.

Kaki-kakinya dilangkahkan selebar dan secepat mungkin, agar tidak terlambat sampai di sekolah. Kacamata full frame dengan bingkai hitam masih bertengger manis di batang hidungnya. Cepat-cepat Kagami melepas kacamata dan mengeluarkan kotaknya dari dalam tas. Ia tak mau seorang pun yang dikenalnya di sekolah melihatnya mengenakan kacamata.

Tepat setelah Kagami melepas kacamatanya−sambil terus berlari, tentu saja−seseorang tiba-tiba muncul dari persimpangan di depannya.

BRUGH!

Tabrakan tak terelakkan. Kacamata yang tadinya ada di tangan Kagami melayang entah kemana.

"M-Maaf!"

"Duh, lo jalan pake mata do—Huh?! Elo?!" Dua pemuda itu sama terkejutnya melihat siapa yang terduduk di depan mereka masing-masing. "Lo baru di jalan jam segini?" Aomine memindahkan posisi tangannya, lalu ia merasakan ada sebuah benda di bawah tangannya. Bukan tai kucing, bukan. Tapi kacamata.

Ekspresi Kagami yang awalnya menahan sakit karena jatuh menabrak pemuda bermanik shappire berubah ketika mengenali pemuda yang ditabraknya, juga letak kacamatanya yang berada dalam genggaman Aomine.

"Punya lo?"

"B-Bukan—"

Aomine mengangkat kacamata bingkai hitam di tangannya, memasangkannya di wajah Kagami. Seketika tawanya meledak. "Pft−BUAHAHAHAHA! TUH KAN!" Aomine menunjuk-nunjuk wajah Kagami, tangan yang lain memegangi perutnya.

"Lo si mata empat itu! Ahahaha!" Aomine masih tertawa.

Wajah Kagami merah padam. Perasaan jika dia menggunakan kacamata tak ada yang berhasil mengenalinya−bahkan sejak SMP, saat ia pertama memakai kacamata−meskipun rambut merah dan alis bercabangnya itu sangat khas dan sedikit aneh.

Kagami tak tahu ia harus bagaimana lagi. Mungkin Aomine akan terus meledeknya sampai seluruh dunia tahu kalau seorang Kagami Taiga−Omega culun yang masih jomblo dan perjaka ini−ternyata berkacamata.

Ia masih terduduk di jalanan, matanya menatap kerarah depan. Namun yang terlihat hanya kedua tungkai Aomine dan kaki yang terpasang sepatu Air Jordan Classic no. 1 biru-hitam.

"Kalo lo mau telat ya disitu aja terus. Jaa, Megane-gami," Aomine melangkah pergi dan melempar kacamata itu ke sang pemilik. Untung saja reflek Kagami itu bagus.

Dia melirik jam tangan di pergelangannya setelah mendengar ledekan Aomine. Tinggal 5 menit lagi. Ia pun bangkit dan berlari dengan kumpulan cairan bening di pelupuk matanya. Dia meninggalkan Aomine dibelakang. Terdengar gumaman Aomine ketika ia berlari melewati 'teman' barunya.

"Che, niat amat. Emang sekolah penting apa."

.

.

.

.

.

Kagami tak peduli. Aomine tak tahu saja Hyuuga-sensei bisa segalak apa kalau sedang marah−pikirnya. Cukup sudah hari kemarin hanya dilempar penghapus kayu, itupun termasuk beruntung. Biasanya malah disuruh piket kelas atau mengepel ruang guru sendirian. Disuruh lari keliling lapangan puluhan kali, atau berdiri di koridor–seperti Aomine kemarin.

TEEEETTT!

Bel masuk berbunyi tepat saat Kagami membuka pintu kelasnya. Ia terengah-engah, tapi puas hatinya karena ia tidak terlambat. Segera Kagami meletakkan ransel dan duduk di bangkunya, ia duduk tenang sampai beberapa menit kemudian–Hyuuga-sensei masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran.

.

.

.

"Abe Yukino!"

"Ha'i!" seorang siswi mengangkat sebelah tangannya.

"Ando Takuya!"

"Hadir, Sensei!" seorang siswa melakukan gerakan yang sama.

Sang sensei mengangguk-angguk kecil, memberi tanda centang kecil pada daftar hadir di tangannya. "Aomine Daiki!"

Hening sesaat.

"Aomine?"

Hening dua saat.

Sensei berkacamata itu menurunkan kertas daftar hadir yang menutupi pandangannya ke arah murid-muridnya. Dilihatnya bangku di sebelah pojok belakang masih kosong. Murid dengan nama yang tadi disebutkannya belum datang ternyata. Mata Hyuuga-sensei langsung Mangsa baru, Sensei?

"Saya lanjutkan," ucap sensei surai raven itu pada akhirnya. "Inoue Chii!"Kagami melirik bangku di sebelah kanannya yang masih kosong. Tidak mungkin Aomine akan membolos ekolah hari ini. Tadi dia melihatnya di perjalanan menuju ke sekolah dengan seragam yang, yah… Lumayan lengkap. Mungkin ia akan terlambat, atau jangan-jangan... Yang dilihatnya tadi bukan Aomine, melainkan doppelgängger? Kagami menepuk-nepuk pipinya, berusaha menepis pikiran horor dan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada Aomine sepanjang jalan kenangan−eh, sepanjang perjalanan ke sekolah.

.

.

.

.

.

Acara pengabsenan telah selesai semenjak satu jam yang lalu. Bahkan sekarang Hyuuga-sensei sedang mengajar. Tak ada tanda-tanda Aomine akan masuk ke dalam kelas.

'Dimana Aomine?' pikir Kagami khawatir. Nampaknya si crimson ini sudah menaruh rasa pada si shappire.

BRUAK!

Pintu kelas terbuka dengan suara keras karena digeser secara tidak berkeprimanusiaan. Nafas orang itu terengah-engah. Baru saja sosok dim inimelintas di benak Kagami, dan tiba-tiba sudah ada di sini.

Kok bisa?

Bisa lah. Author yang nulis. /abaikan/

"Sensei," Aomine menyandarkan tubuhnya di kusen pintu. "Aku telat" nada bicara Aomine masih malas dan sombong, seperti biasanya–padahal dia baru masuk dua hari.

Hyuuga-sensei memperbaiki letak kacamatanya. "Aomine Daiki," panggilnya. "Sudah dua hari berturut-turut kamu membuat masalah di kelas ini. Jam isritahat nanti, temui saya di ruang guru. Sekarang kau boleh duduk."

Semua murid menatap Hyuuga-sensei dengan tatapan terkejut. Tidak biasanya ia memanggil murid. Dipanggil ke ruang guru bisa berarti serius, tapi juga bisa berarti ringan. Hanya Hyuuga-sensei yang memutuskan.

Aomine berjalan malas ke tempat duduknya. Seragamnya sudah tak karuan bentuknya. Ada sobekan di bagian lengan kanan rompinya yang tidak dikancingkan. Kemejanya yang berwarna putih sudah ternodai warna coklat dan bercak merah. Kemeja bagian bawahnya tidak dimasukkan ke celana–dibiarkan begitu saja. Dan dasi merah tuanya tak tahu ada di mana.

"Kenapa terlambat?" bisik Kagami.

"Bukan urusan lo."

"Berkelahi lagi?" Kagami melirik bercak merah yang diduganya darah di kemeja Aomine. Tapi pasti bukan darah pemuda dim itu, melihat tidak ada lebam di tubuhnya, persis seperti saat Kagami melihatnya pertama kali.

Sebenarnya Kagami ingin tidak peduli. Aomine juga sudah menghinanya tadi pagi. Itu bisa menjadi alasan Kagami. Tapi rasa keingintahuannya lebih besar dari pada rasa gengsi.

"Gue bilang bukan urusan lo," sahut Aomine, kali ini ditambah tatapan membunuh dari dua manik shappire-nya. Kagami bungkam.

Pelajaran dimulai. Kali ini matematika. Bukan mata pelajaran yang paling

Kagami kuasai, tapi nilainya tidak terlalu buruk. Semua murid langsung menyiapkan buku mereka di atas meja masing-masing, dia melihat Hyuuga-sensei sudah mulai berjalan berkeliling melakukan inspeksi dan menghukum siapa saja yang tidak membawa buku–

–Dan meja Aomine masih kosong. Pemuda yang duduk menghadap meja itu masih tenang-tenang saja. Malah pemuda di sebelahnya yang kelabakan sendiri.

Kagami menoleh ke kiri dan ke kanan. Dilihatnya gurunya berjalan mendekati meja mereka. 'Gawat,' pikir Kagami. Digesernya buku matematikanya ke meja Aomine, tepat sebelum Hyuuga-sensei mencapai meja mereka. Ketika guru berkacamata itu mendatangi meja Aomine dan Kagami, yang dilihatnya adalah buku matematika terletak manis di meja Aomine, dan meja Kagami yang kosong.

"Kagami, mana bukumu?!" hardik sang sensei. Aomine masih tak peduli. Ia berpikir Kagami akan menyeret kembali buku yang ada di mejanya."M-Maaf, Sensei.. Saya.. Tidak bawa," jawab Kagami gugup. Alis Aomine tertarik ke atas. Hyuuga-sensei terkejut. Sejak kapan murid teladan seperti Kagami lupa bawa buku? Ah, mungkin faktor umur.

Hyuuga-sensei diam sejenak di tempatnya. Ia menarik nafas panjang, lalu meninggalkan meja Kagami dan Aomine. "Nanti jam istirahat kau juga ke ruang guru." Kagami menunduk mendengar titah sang guru. "Aomine, berbagi dengan Kagami!" perintah guru galak itu–lagi.

Kagami lega sekaligus takut. Lega karena ia tetap diperbolehkan mengikuti pelajaran, tapi juga takut melihat gurunya yang bertingkah aneh dengan tidak menghukum satu siswa pun hari ini.

Aomine mendorong buku matematika di mejanya kembali ke meja Kagami. Kagami menatapnya heran. "Gue gak butuh"Aomine merogohkan tangannya ke dalam ranselnya, mengeluarkan sebuah kotak. Isinya beberapa buah onigiri. Selama pelajaran, dimakannya onigiri itu sedikit demi sedikit saat Hyuuga-sensei berada di titik buta untuk melihat Aomine.. Kagami geleng-geleng kepala dibuatnya.

Tapi tetap saja, itu bukan urusan Kagami. –sang empu yang mengatakannya langsung.

.

.

.

.

.

"Aomine, ruang guru ke sini!" Kagami menunjuk jalan di sisi kiri tangga turun. Aomine menganggap angin. Ia tetap terus berjalan menuruni tangga SMA Seito. "Aomine!" Kagami mengejar Aomine menuruni tangga. Tangannya menggapai lengan atas Aomine.

"Lepasin!" Aomine menghentakkan tangannya. "Gue gak mau ke sono. Dan lo–" Aomine menunjuk wajah Kagami dengan jari tengahnya "–gak berhak nyuruh-nyuruh gue," itu juga ada batasnya bukan? Dan kali ini, kesabaran Kagami–yang harusnya bias bertahan sampai akhir bulan–sudah melampaui batas.

"Terserah! Kalau kau di drop out juga aku tidak peduli!" Kagami berjalan meninggalkan si Alpha.

"Tch," Aomine berjalan ke arah yang berlawanan. Peduli apa dia dengan orang itu, dan sekolah ini. Toh dia masuk ke sini Karena punya 'masalah' di sekolah sebelumnya.

.

.

.

Dahi Kagami berkerut. Alisnya yang bercabang bertemu di tengah-tengah. Tak pernah ia sekesal ini pada seseorang. Langkah Kagami di hentak-hentak. Ia berjalan menuju ruang guru. Kepala merahnya dipenuhi pikiran tentang Aomine, dan perbuatan baik yang dilakukannya pada Aomine, yang tidak mendapat balasan positif sama sekali.

"Buat apa aku peduli sama orang itu? Toh dia juga tidak pedu—" gumam Kagami terhenti. Dalam hati ia tak yakin dengan perkataannya sendiri.

Aomine peduli padanya. Buktinya? Kemarin Aomine melindunginya dari para Alpha yang menggodanya. Hari ini tak satupun dari mereka berani mendekat karena Aomine yang duduk di samping Kagami memberikan tatapan yang seakan siap membantai siapapun yang berada di radius 5 meter dari Kagami. Tapi Aomine bilang itu hanya iseng semata. Si alis cabang menghela nafas panjang.

Tak sadar, Kagami sudah sampai di depan meja Hyuuga-sensei. Dan dia masih tenggelam dalam lamunannya.

"Kagami?" panggil gurunya yang bersurai raven itu, menarik kembali kesadaran Kagami.

"A-Ah! Maaf, Sensei!"

Hyuuga-sensei menatap muridnya bingung. "Dua hari ini kamu berbeda, Kagami. Apa karena anak baru itu, Aomine Daiki?" tangan Hyuuga-sensei disilangkan di depan tubuhnya.

Jleb!

Anak panah imajiner menusuk dada Kagami.

Direct hit, sir.

Kagami terdiam. Memang sejak kedatangan Aomine ia lebih sulit untuk fokus.

"Buku matematika tadi, itu milikmu, kan?" tanya pria berkacamata di depan Kagami.

"B-Bagaimana—?"

"Bakagami," sang guru mendesis. "Ada namamu di sampul depan."

Rasanya ingin Kagami membenturkan kepalanya ke dinding, atau bersembunyi di dalam lubang dan tidak keluar lagi. Kenapa ia bisa begitu ceroboh? Ah salah, ralat dulu. Kenapa ia bisa begitu bodoh?

"Itu sebabnya sensei tidak akan menghukummu," Hyuuga berdeham. "Sensei punya sebuah tugas untukmu, Kagami. Tapi sebelum itu, dimana si bengal Aomine?"

"Aomine... saya tidak menemukannya, Sensei. Saya sudah mencarinya kesana-kemari, tapi nihil," Kagami menjelaskan, kebohongan yang perfect.

Hyuuga-sensei hanya bisa menghela nafas. Lalu Kagami melanjutkan, "Tugas untuk saya?"

Hyuuga-sensei mengangguk. "Ya. Kagami. sensei minta kamu—"

.

.

.

.

.

Triiingggg

Kagami tidak meninggalkan kelasnya seperti teman-teman yang lain. Dia–dan Aomine–tetap setia duduk di tempatnya.

"Aomine…" panggil Kagami ragu-ragu.

"Hn?" si dim menjawab tanpa menengok kearah Kagami.

"A-ano… Kata Hyuuga-sensei kita kebagian piket kelas hari ini." Ia tidak melihat ekspresi wajah Aomine yang berubah. "Berdua," tambahnya.

Sunyi melanda kelas beberapa saat. Semua penghuni kelas sudah tidak berada di sini–minus Kagami dan Aomine.

Si navy blue berjalan menuju pintu belakang kelas. Kagami menatap kejadian itu bingung.

"Lo kerjain aja sendiri. Ogah gue." Dan dengan kalimat itu, Aomine menghilang

di balik pintu.

'Tuh kan bener… Aku yang ngerjain piket sendiri,' batinya.

Iapun mulai bergerak dari kursinya dan menuju pojok lain kelas dimana peralatan bersih-bersih berada. "Apa pula kata Hyuuga-sensei itu?! Aku…harus…" tangannya menggusur semua meja dan kursi ke pinggir hingga menyentuh dinding."…ngejinakin… Aomine? Sonna…arienai!"

.

.

.

.

.

to be continued

.


A/n

.

Ordinary : Haeee semuaaa /tebar bunga/ Ordin seneng kali ini dikasih kesempatan buat ngebacot duluan.. Hehe.. Makasih ya Kyuu! *cubitin pipinya Kyuu*

Chapter ini 95% buatan Ordin! Kyuu dipaksa nge-beta doang. HUAHAHAHAHAH *evil laugh*. Sorry, sorry~! Bukannya Ordin jahatin Kyuu, bukan! Tapi emang chapter ini dan chapter depan pengecualian. Chapter depan bakalan ditulis sama Kyuu kok. Ordin yang gantian nge-beta.

Aomine masih berandal. Kagami masih Omega unyu uke-ish yang masih Ordin cintai dengan sepenuh hati. Buat CA Moccachino, sabar ya.. Kagami lagi unyu-unyunya. Tapi nanti bakal ada saatnya Kagami jadi Omega yang tegar dan kuat kok!

For The Ultramarine, MAAF SEJUTA MAAF! Adegan paling panas di sini kemungkinan nggak bakal sampe mendetil di ranjang. Mungkin kalau butuh yang panas-panas... Bisa request langsung ke OrdinaryFujoshi atau Kirigaya Kyuu, bakal coba ditulis side story dari fanfiksi ini.

Okee... Aku harus pergi.. Ke... Umm... JAA! *kabur dengan tidak bertanggung jawabnya* *lempar mik ke Kyuu*

*teriak dari jauh* REVIEWNYA YAH!

Kyuu : *ngelus-elus pipi abis di cubit Ordinary* *tangkep mik dari Ordin dengan kekuatan bulan* ha-HALO MINAA~ GENKI DESU KAA?! /meletusin Konfeti

Iya Ordinary-obaasan... gapapa... gantian kali" :v

Er... apa kata Ordinary... itu hampir benar. :v Kyuu cuman ke bagian ngebeta chapter ini :v /nangis darah.

ya... meski... bagian ending itu Kyuu yang benerin #smirk.

dan...CHAPTER DEPAN ORDINARY YANG AKAN MENG-BETA BUAHAHAHAHHAHAHA /diemlu.

soal Side story ampe 'anu-anu' jangan rekues ke Kyuu. KYUU MASIH ANAK SMP KELAS 1 YANG POLOS... KYUU GAK MAU TERNODAI PIKIRANNYAAAA /wadezig.

aku ga banyak komen tentang Chapter ini. yang pasti... Ordinary-senvai...selamat. anda naik level dalam menulis~ *buka botol wine* /diemlah.

aku jawab FAQ dulu ya...

ada lumayan banyak yang ngeriview nanyain Apa itu Alpha Omega...

Alpha: Seme

Omega: Uke

Mate: pasangan Alpha Omega.

Omega In-heat: omega yang lagi dalam masa 'anu'

Mate-ing: meng 'ANU' /caps weh

Omega yang belum punya Mate sampe selesai SMA harus di bunuh /gak itu bohong.

yak. segitu pengetahuan Kyuu tentang Alpha Omega. meski jujur Kyuu kurang ngerti juag.. /digebuk massa

LAH. POKOKNYA...

READ AND REVIEW MESKI HANYA TITIK YA~ LOVE YOU GUYSSS *peluk cium satu-satu dari Kyuu dan Ordinary*

Special Thanks To:

Ao Yuki Shintaro; Kamiya Chizuru; TheUltramarine; Ca Moccachino;

Cium penuh sayang dari Kami,

OrdinaryQ