S O U R
A Kirigaya Kyuu and OrdinaryFujoshi Fanfiction
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadoshiki
Nerd&Dork!Kagami and Punk!Aomine
.
.
Cuaca pagi ini sedang tidak mendukung.
Langit berwarna biru muda itu berubah menjadi abu-abu gelap. Awan-awan putih itu telah menyatu dengan langit dan bahkan tidak ada wujudnya lagi. Jalanan aspal yang panasnya minta ampun–padahal tadi malam cuacanya cukup dingin–terguyur air hujan, menunjukkan asap-asap tipis. Angin serasa dapat menusuk siapapun yang berkeliaran. Dan sayangnya, Kagami termasuk siapapun yang 'berkeliaran' itu.
Kakinya berlari sekuat tenaga. Kepalanya di tutupi oleh sebuah tas. Dirinya celingak-celinguk sendiri mencari tempat berteduh yang 'aman'. Dia melirik ke arah tangan sebelah kiri–dimana terdapat jam tangan swatch simpel dari obaa-san-nya–dengan resah.
Dua puluh menit lagi masuk–pikirnya.
Mungkin bagi kalian dua puluh menit itu masih lama. Tapi tidak untuk Kagami yang perjalanan ke sekolah dari apartemen-nya. Dua puluh menit itu tidak cukup. Karena apa? Pertama dia harus naik bus untuk sampai ke stasiun kereta terdekat. Kedua dia harus naik kereta. Ke tiga, setelah turun dari kereta, dia harus naik bus lagi untuk sampai ke sekolah.
Mengapa tidak masuk ke sekolah terdekat?
Karena Kagami mencoba menjauhi teman-teman semasa SMP-nya.
Dulu saat SMP, Kagami di bully lebih parah dari pada ini. Yah, meski tidak sampai 'pegang-pengang' sih. Lelaki crimson itu, terlalu lelah untuk mengingat masa-masa itu. Beruntung di Seito Koūkō ini, hanya sedikit alumni SMP-nya yang mendaftar. Dia cukup bersyukur. Namun ternyata, satu orang pemimpin dari para pem-bullynya masuk ke SMA yang sama. Dan berkat itu pula, di SMA ini Kagami tetap di bully.
Tanpa sadar, Kagami berteduh di halte bus langganannya.
"Brrr…" sekujur tubuhnya serasa membeku. Angin dingin seakan menusuk pori-porinya.
"Mengapa juga hujan harus datang tiba-tiba saat aku sedang berlari!?" omelnya sendiri.
Tiba-tiba dia mengingat sebuah 'tugas' dari sensei-nya yang sudah dia segel kuat-kuat di dalam otak supaya tidak terbang kemana-mana dan mengganggu konsntrasinya.
"Kenapa aku…" matanya mantap kosong ke arah aspal jalanan yang mulai becek "…harus menjinakkan nya?"
"Menjinakkan siapa?"
Kagami terus menatap ke arah bawah. Bahkan dia tidak sadar kalau ada orang lain–yang juga kehujanan–sedang mengajak Kagami berdialog basa-basi. Atau memang kepo.
"Hoi? Menjinakkan siapa?" tangan kecoklatan orang itu mengibas-kibas di depan wajah Kagami.
'Hm? Aroma mint ini…' kepalanya mendongak. Dan kecelakaan tidak bisa di hindari.
Duaaakk
"Itte na! Hoi? Lo itu kenapa sih?" Kagami dan orang itu mengelus kepala masing-masing yang saling berbenturan.
'Suara ini…'
"AH?! Aomine?!" Kagami berteriak histeris setelah melihat sosok siapa yang jatuh tersungkur seperti dirinya.
"Tch" lelaki itu–Aomine mendecih tidak suka.
Dan sekarang di halte ini, ada dua kaum adam yang sama-sama kehujanan, sama-sama menunggu bis, dan sama-sama menuju tujuan yang sama.
Kagami melirik kearah jam tangannya–yang berada di tangan kiri–, lalu sedikit mendongak.
'Aomine…' bisiknya dalam hati.
Ingin Kagami rasanya memanggil lelaki dim ber aroma mint maskulin menyegarkan di sampingnya. Tapi apa daya? Ini seperti chibi tiger dan black grown up panther. Kagami tidak berdaya di hadapan lelaki ini. Lelaki yang sedikit menarik perhatiannya. Mungkin Kagami menaruh rasa? Well, pasangan Alpha dan Omega yang gay sudah tidak asing lagi di dunia ini. Namun lebih banyak Alpha ingin dengan yang berbeda jenis, bukan yang sama jenisnya. Jadi Kagami, kalau kau punya rasa seperti itu, lebih baik kau urungkan–atau lebih baik buang jauh-jauh.
Krriiiiitt
Kagami yang masih sibuk dengan lamunannya tidak sadar kalau sudah ada bus di depan.
"Hoi? Mau naik gak sih? Ini bis gak akan nunggu lo selama yang lo pengen"
Kata-kata Aomine membuatnya terbangun dari lamunan sejenak Kagami. dengan gelagapan diapun mengikuti Aomine dari belakang.
'Uh…aku kurang konsentrasi…'
.
.
.
.
.
Bus pertama, sudah. Kereta, sudah. Bus kedua, sudah. Dan sekarang, mereka berdua sedang berlari membelah hujan untuk menuju sekolah. SMA Seitou.
"Hu-hujannya tambah deras, Aomine!" teriak Kagami dari belakang. Cukup jauh juga dari Aomine. Apa segini buruknya Kagami dalam olah raga? Bukannya badannya itu six pack dan berotot? Apa itu cuman halusinasi mata orang-orang?
"Hah!? Gue gak kedengeran!" balas Aomine yang berada di depan.
Kagami pasrah untuk tidak teriak lagi. Ceritanya akan tambah panjang kalau mereka terus-menerus teriak.
Jarum pendek sudah menunjukan angka sembilan, sedangkan jarum panjang menunjuk angka tiga. Dan mereka berdua telat. Its nothing kalo buat Aomine–yang ternyata suka membolos. Tapi untuk Kagami–yang notabene anak alim–its something. Untuk pertama dalam sejarah buku absensi, nama: Kagami Taiga akan terdapat tulisan 'T' alias telat.
"A-Aomine… kau terlalu cepat… tunggu akh!"
Buagh!
Kagami jatuh tersungkur–lagi. Kali ini gara-gara tali sepatunya yang terlepas dengan ajaibnya.
"Itte…" matanya menatap kosong–lagi–ke depan.
Dia tidak menemukan Aomine.
'Ahaha… pasti dia udah duluan lah… mana mungkin mau nungguin aku dan malah nambah kehujanan… ahaha… apa yangku harapkan…'
Menyedihkan?
Sebut saja begitu. Nama Kagami Taiga sudah berubah menjadi: Kagami Menyedihkan. Dia terlalu naif. Dia terlalu mudah untuk jatuh–entah dalam hal percintaan atau berlari.
Tunggu.
Terlalu mudah terjatuh dalam hal percintaan?
"Itte…" Kagami merasakan dingin bercampur perih di lutut dan dagunya.
'Ah, pasti lecet' tebaknya simple.
Lelaki alis cabang itu berusaha untuk bangun meski ada rasa ngilu di lutut kiri-kanannya. Alis itu menempel. 'Kok…jadi enteng?'
Manik Crimson dan Shappire bertubrukan untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu tiga hari.
Dia menoleh ke belakang dan menemukan lelaki berkulit gelap-dekil–chotto. Aomine!?
"Tch, mendokusai" decih Aomine. Ya. Aomine. Dia berada di belakang kagami–entah sejak kapan–dan mengangkat–memampah–si crimson untuk berdiri meski badan mereka berdua kehujanan.
"A-aomi–" "Cepet jalan. Lo mau terus ujan-ujanan disini?"
Dengan perintah ketus–namun Kagami yakin ada segaris tipis ketulusan di sana–Aomine mereka berdua berjalan cepat menuju sekolah yang hanya beberapa langkah.
Hujan masih sederas sebelumnya. Untung saja mereka berdua sudah sampai depan gerbang yang–
"Ck, di kunci"
–terkunci.
"Hatchi!" sebuah suara membuat Aomine menoleh.
Dapat di lihat disini kalau Kagami baru saja bersin karena kedinginan. 'Tch, se tipis apa kulit orang ini?' pikir Aomine tidak penting.
"Shikatanai…" Si navy blue mengangkat tubuh Kagami–yang sebenarnya hanya beda tiga sampai lima centi darinya–melewati pagar sekolah yang tidak terlalu tinggi. "… Lo bisa manjat kan?"
Telat nanya-nya. Anda baru saja menempatkan Kagami di tengah-tengah perbatasan antara dunia luar dan dunia dalam.
"B-bisa" bukan grogi. Hanya Kagami yang gemetaran (baca: kedinginan) karena air–sumpah–dingin banget di tubuhnya ini.
Kedua tangannya menyanggah badan supaya tidak terjatuh saat turun. Satu kaki diturunkan, kaki kedua juga ikut. Keseimbangannya tertahan pada kedua tangan. Jika Kagami jatuh, mungkin sekitar lima puluh meter-an ketinggian bokong coretseksicoret nya akan terjatuh.
Dan beruntung tidak ada insiden berlebih saat acara memanjat itu.
Mereka berdua pun berlari–lagi. Kali ini menuju ruang ganti olahraga laki-lakiuntuk mengganti pakaian basah kuyup mereka berdua dengan baju olah raga. Persetan dengan semua orang yang berfikir 'kenapa mereka menggunakan pakaian olahraga, padahal tidak ada mapelnya?'. Itu lebih baik daripada Kagami dan Aomine mati ke dinginan.
Okay. Yang tadi terlalu hiperboule.
Untungnya tidak ada satu orangpun yang melihat mereka berdua–dalam keadaan basah kuyup–berjalan menuju ruangan yang jauhnya naujubilah minjalik. Karena jika ada yang melihat, mereka berfikir kalau Aomine dan Kagami akan melakukan mating. Dan jika kabar burung itu terdengar sampai telinga para sensei…
…Kagami dan Aomine harus merelakan dirinya untuk bebersih kelas selama dua bulan penuh.
"Cepet dikit kek. Udah mau sampai nih" omel Aomine–yang lagi-lagi–berada di depan Kagami.
'Salah sendiri langkah kakinya besar-besar' batin Kagami. Padahal kakinya dan kaki Aomine tidak jauh beda.
Ugh, dia–mereka berdua–sudah tidak tahan dengan suhu sedingin ini. Rambut disekujur tubuh Kagami–bahkan mungkin Aomine juga–berdiri tegak, menggigil sampai merinding. Tak ada keringat yang keluar dari pori-pori kulit, hanya tetesan air hujan yang juga sedikit berbekas pada setiap jalan yang di lewati. Badan Kagami menggigil. Itu semua pasti karena otot-ototnya menerima pesan dari hipotalamus untuk mengigil.
'Are?'
Langkah Aomine berhenti di depan pintu besi berwarna biru dengan tulisan satu akasara kanji yang berarti 'laki-laki'.
'Are? Kok kepalaku rasanya sakit banget ya?'
"Hm, kita sampai. Ayo masuk– Hoi! Kau kenapa?!"
Hal yang terakhir Kagami lihat adalah Wajah Aomine yang tampak khawatir.
Namun sepertinya itu tidak munkin.
'Hahaha, drama klise sekali…'
.
.
.
.
.
'Are… dimana ini?' batin Kagami bagai di opera-opera sabun.
Kepalanya terasa berat. Di matanya seperti terdapat lem uhu–bukan fox–yang menempel dengan lekatnya. Kakinya serasa linu, atau bisa dibilang kaku.
'Ah… bekas jatuh tadi sepertinya…'
Kagami mendudukan dirinya, di buka mata itu dengan susah payah. Dan matanya menangkap panorama ruang… kesehatan?
"Loh… kok aku bisa disini?" tanya Kagami bodoh. Atau memang dia tidak tahu?
Kepala merahnya serta mata crimson-nya menelusuri ruangan seperti detective pro. Hm? Detective Conan? Not bad.
Telinganya dapat mendengar teriakan-teriakan dari luar jendela. Bahkan langit sudah tidak segelap tadi. Genangan-genangan air juga mulai mengecil. 'Ah…sedang jam istirahat rupany–'
"APA?! SUDAH BERAPA LAMA AKU TERTIDUR?!" ketenangan dan kesunyian ruang kesehatan rusak seketika dengan teriakkan aneh nan ambigay Kagami. Dia sudah seperti Uke yang ditinggal Seme sehabis mating saja. Atau… Memang dia habis mating?!
Pemikiran-pemikiran bodoh itu mendatangi otak snail-nya Kagami. "Apa aku… habis…" tangannya–yang sedikit linu–meraba seluruh tubuh, dan bahkan daerah-daerah sakralnya.
"Tunggu…" dia memegang baju yang di kenakannya "… sejak kapan aku berganti baju?"
Pikiran horror itu semakin lama, semakin menghantui Kagami. dia mencoba berdiri dari kasur ber-bed cover putih itu. "Eh? Bokongku tidak sakit… tidak ada kissmark di badanku… dan pakaian dalamku masih yang sama… Are…" Ya. Kagami memang pantas di panggil Bakagami.
Raut wajahnya sudah mirip dengan aktor-aktor pemeran film horror yang seakan-akan segera bertemu dengan si makhluk ghaib. Kagami keluar dengan wajah seperti itu.
Sekelebat potongan film–atau entah apa–melintasi benak Kagami.
Bukan film Sadako, the ring, tali pocong perawan atau film-film horror lainnya. Namun bayangan Aomine–yang sepertinya mengambil perhatiannya tiga hari ini.
"Aku harus bertemu dengannya. Dia orang yang terakhir aku ingat sebelum berada di ruang kesehatan!" ujarnya pada diri sendiri.
Gangguan jiwa?
Entahlah. Mungkin?
.
.
.
.
Kakinya menuntun ke lantai tiga pojok dan terpencil. Letak dimana pintu menuju atap sekolah–yang rumor berhantu–.
Krieeettt…
Pintu yang engselnya berkarat itu dibukanya.
Kagami melangkahkan kakinya menapaki puluhan anak tangga di depannya.
Tap.
Langkah terakhir.
Mata Kagami terpaku pada satu titik. Waktu serasa berhenti. Tidak ada genangan hujan di sini. Yang ada hanya Kagami, dan dia.
"Ao…mine…"
Tanpa sadar, kakinya melangkah ke tempat dimana Aomine tertidur.
Pakaian Aomine tidak berubah. Masih seragam sekolah. Berbeda dengan Kagami yang memakai baju olah raga dengan bau mint yang maskulin. Bau yang sama dengan orang didepannya ini. Omega culun ini baru sadar, kalau seragam yang dikenakannya adalah milik pemuda dim itu.
Kagami terduduk di samping Aomine. Hanya sekitar satu langkah jauhnya. Lutut yang masih ngilu itu dijadikan tumpuan Kagami untuk duduk.
Mata crimson-nya menatap lelaki berkulit gelap nan dekil di bawah. Manik shappire itu tengah bersembunyi di balik kelopak mata. Hembusan nafas dan detak jantung sang empu nampak teratur.
Satu kesimpulan yang Kagami tarik kembali–dan anak playgroup juga tahu–.
Kalau Aomine tertidur.
Antara tega dan tidak tega Kagami menatap sang calon teman dekat. Dia ingin menanyakan kenapa pakaiannya bisa berganti dan dia malah tertidur di ruang kesehatan sampai waktu istirahat. Tapi di sisi lain Kagami tidak ingin membangunkan Aomine yang tampak tanpa penjagaan alias lengah plus polos itu.
Kepalanya mendekat ke arah wajah Aomine.
Sniff… sniff…
Hidung sang alpha mencium aroma yang tidak asing. Apel merah yang dalam masa-masa panen.
Manik shappire dan crimson bertubrukan–lagi.
"Aomi–Hmph!"
Kejadian itu berlangsung cepat.
Sangat cepat malah.
Aomine yang tebangun tiba-tiba menempelkan bibir dinginya ke bibir ranum Kagami. Atau bisa di bilang, Aomine mencium Kagami.
"–ne…"
Manik crimson-nya membelalak. First kiss-nya… First kiss-nya yang telah di jaga untuk calon istri–atau suami–nya kelak… Telah direbut tanpa sadar oleh Aomine yang baru bangun.
"Hm? Nanda… cuman elo. Gue kira apaan wangi banget"
Jleb.
Itu kalimat pertama yang di keluakan Aomine saat dia dengan tidak sengaja–atau tidak sengaja–mencuri ciuman pertamanya yang hanya berangsur sepersekian detik!?
"Iss ku…"
Aomine menatap Kagami bingung. Wajah si omega sudah merah telak.
"First kiss ku! First kiss ku sudah kau curi!" teriak Kagami serak sambil menunjuk wajah Aomine.
"Hah? Itu kata yang elo ucapin sama orang yang udah minjemin baju dan rela kedinginan? Bahkan sampe di kasih hukuman sama guru piket kelas seminggu penuh sendirian? Cih… gak tau terima kasih" Aomine menatap Kagami dengan sorot mata merendehkan.
Jleb.
Memang niatnya tadi Kagami mencari Aomine untuk mencari tahu mengapa dia berada di ruang kesehatan, dan juga–mungkin–untuk berterima kasih–entah untuk apa–. Namun semua itu hilang hanya dalam sepersekian detik. Luapan kekesalan Kagami meledak hanya karena ciuman tanpa rasa di bibir.
Catat ini: Aomine mencuri first kiss Kagami.
"Ah, soal ciuman–kalau bisa elo bilang–tadi. Gue cuman iseng aja kok. Gak usah salah paham"
Jleb.
Tiga pedang imajiner menusuk dada Kagami sampai menembus.
First kiss-nya di curi karena iseng?! Tanpa perasaan apapun?!
Oke ralat.
Catat ini: Aomine mencuri first kiss Kagami karena iseng. Tanpa perasaan apapun.
Hati Kagami seperti sedang di remas-remas. Kulit-kulit durian seakan menempel di hatinya. Hatinya remuk seketika.
"Hiks…" satu tetes air mata turun melewati pipi yang tengah memerah itu.
"AKU BENCI PADAMU! AOMINE!" teriak Kagami sambil berlari meninggalkan sang peminjam pakaian Kagami.
BRAKK!
Pintu besi itu di tutup dengan tidak berkeprimanusiaan.
Sampai Kagami hilang di mata Aomine, dia baru bergumam.
"Shit, apa yang gue lakuin" dia memegang dadanya yang berdegup kencang.
Pipinya merona sedikit merah mengingat: Seorang. Aomine. Daiki. Baru. Saja. Merebut. First. Kiss. Omega. Yang. Belum. Memiliki. Mate. Kagami. Taiga.
"Oke. Gue tau gue keterlaluan."
'mungkin nanti gue harus minta maaf…'
.
.
.
.
.
To be continued.
A/n:
Kyuu: *sambar mik duluan sebelum Ordin* *membawa mukkun untuk jadi tameng*
Ha-halo,,, tes... okeh...HALO SEMUA~ SEMUA PARA SOURISH! KANGEN SAMA KAMI GAK?! *geret Ordin* /GAAAKKKK
okeh. gapapa. kami rapopo *tendang ordin kembali ketempat semula*
jadi gini... AKU NULIS PART INI NGEBUT DUA JAM BAHAHAHAHHA /capsnak
SEMUA ISI DI SINI 95%NYA (SEMBILAN PULUH GENEP PERSYEN)NYA BUATAN AKU BAHAHAHAHAHAHAHAHAH AKU CUKUP BALAS DENDAM UNTUK CHAPTER KEMARIN ORDIN BAHAHAHAHAHHAHAHA /diem lu
ehem jadi gini. aku bahas yang lucu dulu.
tadikan Ordin baca ulang... dia kan bagian beta , terus dia nemu kalimat gini 'kagami kalau jatoh sekitar 50 meter' lah gitu deh pokoknya yang si kaga lagi manjat itu. nah aku baru sadar pas dia bilang '50 METER? YAKIN TUH? ORANG GA AKAN HIDUP KALO JATOH DARI KETINGGIAN SEGITU' kurang lebih gitulah. pake capslok lagi. dan aku akhrinya ngakak-ngakak sendiri. maksudku itu centi meter :v
nah...sekarang blank. lupa mau ngomong apa.
oh iya, perjuangan ngetik chapter ini bagi SOURISH tercintah~ /bueekk
aku ngetik... sambil dengerin lagu... sambil di gangguin emak yang mondari-mandir ngecek isi kamarku...sambil di gangguin yai (kakekku) yang ngajakin makan, aku udah bilang kalo aku udah makan ampe dua kali! dan dia dateng tiga kali untuk nanyain hal yang sama. dan emak-lagi-juga, makasih udah ngasih mangga kecut itu ya. mangga yang aku campur sama nuttela. dan aku sempet berhenti nulis beberapa menit hanya untuk #redraw gambar Ordin bah :v
makasih untuk andika (inisial) dan eben (inisal embah mu) yang mau gangguin aku dari tadi -_-
dan makasih untuk para senpai yang memberi kami pencerahan (ceileh) di group line.
ah iya, yang mau join, add aja id line aku: Audrivst . nanti aku invite w
maafkan kalo ada typo. dia itu makluk yang datang tanpa kuundang.
makasih buat 'Akashi Tetsuya' temen Epbiku yang suka gangguin nanyain kapan updat sama MEAO. iya. ini dua"nya udah apdet kan? makasih juga buat cerita-cerita konyolnya. semangat buat UKK yak!
dah ah, ga tau mau ngomong apa lagi. kayaknya kalo sama Ordin, aku udh gak jadi AAB lagi :v (AAB author anti bacod)
rasanya aku harus buka GELOsarium di sini, tapi aku lupa mau di isi pake apa.
yah kalo ada yang mau ditanyain, PM kitah aja
Ps: Soal bulu" itu... Kyuu nyontek di buku tulis IPA wkwkwk :v
akhir kata,
I LOVE YOU GUYS!
READ AND REVIEW PLEASE *mengang gunting ckris ckris hasil nyipet punya akangsey*
*nyodorin gunting ke Ordin* eh salah :v *nyodorin anu ke Ordin* (baca: anu itu mic /nak)
.
Ordinary: HAY GANTENG /nak
AH, APDET LAGI. Padahal baru kemaren aku post side story yang ret M /ANJER SESAT
Fokus.
Iya aku nge-beta. Ah, gavava. Seneng kok ga perlu ngetik /loh
Jadi hari ini aku fokus ke fic baru yang mau ku post di akunku sendiri. Mungkin besok di post. Tetep AoKaga. Judulnya 'Theory of Happiness' /kok promosi
Ga bisa banyak komen apa", karena romensnya ngena pas di hatiku yang lagi butuh asupan. KISSU. AOKAGA KISS. PLES. Jujur sakit bacanya pas yang 'First kiss dicuri tanpa perasaan apa apa''. Semoga aja mereka berakhir bahagia.
wait. kan lo yang nulis.
Ah sudahlah. Cukup sekian. Makasih buat semua yang udah baca dan ninggalin review, yang silent reader MANA SUARANYAAAAHHHH /ala rocker /dicincang
Reviewnya sangat ditunggu. Ah, kalo pada penasaran Kyuu ngeredraw gambar saya apa... Munhkon bisa diliat di profile OrdinaryQ. Bukan gambar yang sama, tapi karakternya sama. Minta pendapat juga tentang 'dia' yaaa!
Ketemu lagi chapter depan! /lambai-lambai
Ps: kita Kyuu dan Ordinary bakal update kilat lagi... kalau review lebih dari sepuluh... jadi... kalo kurang... yah...seminggu-an paling /diinjek massa (ini yang nulis kyuu)
SPECIAL THANKS TO:
CA Mocchachino (thanks udh mau stay tuned~) ; The Ultramarine (makasih banyak bro, udah mau stay tuned) ; Lazu Hikaru (kau segera kembali ke grup AOKAGA INDONESIA SE-KA-RA-NG!) ; ShilaFantasy ( sangkyuu ne~ udah mau stay tuned) ; Ffureiya (hai obaa-san /ditendang. iya gpp. gapapa kok. makasih udah mau repew yak~)
makasih juga untuk kalian reader! dan silent reader~
Kyuu dan Ordinary pamit undurdiri,
Mata ne!
