Disclaimer: Naruto belongs to Master Masashi Kishimoto

I don't take any credits for the picture.

Typos. OOC. Super Crack Pair. Amatir.

.

.

All Hail Crack Pairs

.

.

.

The Sleepwalker

.

.

.

Rumor merupakan kabar berita yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Meskipun begitu, bagi sebagian besar orang, rumor merupakan kebenaran yang mereka ingin dengar. Tidak peduli berapa kalipun Konan menunjukkan kalau dia bisa tersenyum, bisa berlaku baik dan ramah tetap saja anggapan bahwa dia anak emo, rada psycho, sadis dan stoic tidak bisa lepas darinya macam permen karet di bawah meja.

Ini sebenarnya tidak menghasilkan cerita sedih, melow atau mendayu-dayu yang mungkin dipikirkan. Label si Rambut Biru sebagai ahli bela diri, psycho, dan juga seorang playgirl malah membuatnya menemukan berbagai hal konyol dan memalukan, seperti kejadian siang tadi di kelas.

Anak perempuan di kelasnya berbisik-bisik membicarakan Konan. Sebuah bisik-bisik yang cukup keras untuk didengar.

"Hei, aku dengar film ini menyeramkan, adegan pembunuhannya sadis, nonton, yuk?"

"Aku nggak kuat nonton hal seperti itu ... coba kau ajak Konan, mungkin dia mau."

Kemudian panggilan teman wanitanya terdengar, Konan menoleh.

"Konan~ sudah nonton film ini belum?"

"Sudah."

"Wah! Seru nggak?" tanya anak perempuan itu mencoba akrab.

"Nggak. Adegan pembunuhannya kelihatan palsu, akting pemerannya juga tidak bagus. Apalagi saat adegan mata si korban ditusuk pakai heels, aneh sekali kelihatannya."

"Oh." Rupanya tiba-tiba kelas hening saat Konan bicara. Konan melihat gelagat aneh di wajah teman-temannya, terutama si penanya.

"Kenapa?"

"T-tidak."

Konan tidak tahu apa yang terjadi dalam hening sepersekian detik itu. Dia baru sadar komentarnya terlalu ... bisa dibilang mengandung unsur sadis setelah mendengar bisik-bisik para gadis lagi.

"Tuh~ ngeri banget 'kan? Dia memang psycho!"

"Ssst! Kau mau mati, ya? Memang tidak ingat anak kelas sebelah yang dibikin K.O.O?"

"K.O kali ...," ujar anak lain menimpali.

"K.O.O itu singkatan dari Knock Out OUUUUUUCH! Si Kisame di K.O.O!"

"Owh ... si Kisame itu, ya? Memang dia salah apa?"

"Katanya kebetulan Tayuya lari keluar kelas sambil menangi karena wajahnya dibelai Kisame pake Samehada, kebetulan juga Konan lewat."

"Gila! Badannya kan dua kali lipat dari Konan."

Dan pembicaraan sejenis bertebaran tapi lebih pelan. Konan hanya bisa menghela napas mendengar mereka. Sungguh sebuah pemikiran yang dipaksakan. Bagaimana mungkin Konan bisa jadi seorang psycho hanya karena berkomentar jujur? Oke Konan bisa terima jika hanya disebut psycho karena perkataan jujurnya sedikit kejam, tapi kenapa gadis ber-piercing-under-lips itu juga dilabeli playgirl? Iya! Playgirl yang suka gonta-ganti lelaki macam fitting baju. Secara akal sehat, mana mungkin seorang psycho yang~jika mereka bisa memanfaatkan mata untuk membaca daripada jelalatan fangirlingan~punya ciri emotional numbness (kebal rasa) bisa pacaran berkali-kali? Nggak mungkin! Kesampingkan dulu cerita 'buku kematian' yang tokoh utamanya bisa gonta-ganti pacar meski tidak suka perempuan.

Ini bukan cerita murahan tentang seorang psycho yang tiba-tiba jatuh cinta sama perempuan pertama yang dia lihat terus tobat jadi baik, bukan! Juga bukan kisah maksa tentang psikopat yang ingin menghancurkan dunia lalu hanya karena kata-kata bijak bisa berubah drastis dalam sekejap, bukan! Memangnya ada cerita macam itu, huh?

Oh, ya, Konan juga tidak mengerti darimana rumor tentang dia punya banyak pacar beredar. Jangankan punya banyak pacar, punya crush juga nggak! Begitulah, kehidupan sekolah menengah atasnya berjalan; dipenuhi hal random namun indah.

Meskipun Konan merasa teman-teman perempuan di kelas dekat dengannya punya maksud tersembunyi, dia tidak keberatan. Tidak ada hal rumit yang ingin Konan buktikan dengan kebaikannya, dia menolong hanya karena mau, tidak lebih atau kurang.

"Terimakasih, ya, Konan. Kami tertolong sekali ... habis Uchiha Sensei pasti marah kami terlambat mengumpulkan tugas, Kalau Konan yang datang pasti Sensei tidak terlalu marah."

"Akan aku usahakan."

Misteri kenapa Madara sensei yang kalau marah telinga bisa berdarah itu dekat dengan Konan juga belum terungkap. Hal itu makin menambah buruk reputasi gadis yang hobi menempel bunga kertas sebagai ganti hiasan rambut. Sebagian berkata bahwa jiwa sesama psycho menghubungkan mereka, sebagian lagi berpikir mungkin saja Madara Sensei si Ilmuwan Sarap ultimate ada 'main' dengan Konan. Tapi sekali lagi, hidup Konan bukan cerita esek-esek memualkan yang dibuat penulis amatir demi menaikkan rating cerita tanpa plot, bukan.

"Sensei, saya mengantar lembar jawaban kuis."

"Hm."

"Saya letakkan di sini."

"Tunggu," kata Madara.

"Ada apa, Sensei?" tanya Konan polos. Madara terlihat muntab tapi ditahan.

"Kau tahu aku tidak menerima jawaban lewat dari hari rabu, kau tahu hari apa sekarang?"

"Kamis," jawab Konan tanpa dosa.

"Dan kau tahu apa artinya? ... aku tidak menerima keterlambatan!" bentak Madara.

"Oh. Saya hanya menolong teman. Kalau tidak diterima akan saya~"

"Kau akan apa?"

Madara yang tadinya duduk kini menjulang di depan Konan. Perlahan lelaki itu melepas kancing satu persatu~bajunya. Ingat ini bukan cerita mesum walau klise dan garing.

"Saya akan bilang pada teman-teman kalau~"

"Kalau aku menggambar muka Hasirama di dadaku, heh?! Kalau aku maho? Kalau aku jeruk makan jeruk? Sudah kubilang itu bukan aku! Itu keponakanku yang berulah! Nih, lihat? Sudah hilang 'kan? Kalau aku memang maho, aku bisa bikin tato daripada gambar pakai spidol bau!" pekik Madara sedikit OOC.

"Maaf sensei, saya hanya mau bilang pada teman-teman kalau mereka harus terima konsekuensinya, itu saja," kata Konan kalem.

"Oh," si rambut pohon cemara itu mingkem rapat-rapat.

"Saya permisi."

"Konan!" panggil Madara.

"Ya?"

"Kau sudah mengumpulkan tugasmu?"

Konan tersenyum, bagi Madara mirip hinaan. "Sudah, kloter satu."

"Oh, baguslah. Mengenai hal tadi ..."

"Jangan khawatir, saya tidak punya hobi menggosip."

"Hm. Kalau begitu kau juga tidak menggosip dengan dirimu sendiri 'kan?" perkataan awkward ini akan disesali Madara kemudian karena menunjukkan betapa garing selera humornya.

"Sebenarnya kalau Sensei tidak memotong kalimat saya, saya tidak ingat ada kejadian seperti itu. Dan tolong jangan melepas baju sembarangan," pungkas Konan. Skak mat!

Shit! Batin Madara. Dinasehati oleh murid sendiri itu rasanya adjslkz. Awas kalian bocah tengik, akan kupotong uang jajan kalian karena menodai harga diriku. Dua bocah tengik yang dimaksud adalah duo model top Itachi-Sasuke. Sepertinya pangkas uang saku juga tidak akan mengena karena mereka top model yang banyak duit.

Begitulah rahasia 'kedekatan' Madara-Konan. Bukan sebuah cerita mesum yang diharapkan orang-orang. Kebetulan waktu Konan akan mengantar tugas seperti tadi, Madara tertidur dengan kancing terbuka di ruangannya. Begitu bangun dan mendapati aib yang 'katanya' didapat dari dua keponakannya, Madara berubah melunak pada Konan.

Konan menghela napas. Mengetahui rahasia orang memang tidak menyenangkan.

"Hai, apa Uchiha Sensei ada?" sapa pemuda pirang tamvan :V pada Konan. Pemuda itu membawa tumpukkan buku di tangannya.

"Ada. Masuk saja," tanggap Konan pendek-pendek.

"Terimakasih, kalau begitu aku masuk."

Beberapa langkah setelah gadis itu menjauh terdengar amukan dari ruang Madara.

"?"

.

.

.

Sepulang sekolah lelaki bersurai wortel dengan wajah dihiasi paku A.K.A piercing sudah stand by di depan gerbang dengan motornya. Dia melambai pada Konan antusias.

"Kita ketemu setiap hari, nggak perlu exited begitu, Pein."

"Iiish! Kau itu perempuan bukan, sih? Respek sedikit sama kakakmu tersayang ini, dong!" Pein melingkari pundak Konan.

"Lepas, malu dilihat teman-teman."

"He? Kau 'kan pacarku, ngapain malu!" Konan mendesis.

"Oke, jangan cemberut begitu, ayo cepat naik, nanti Nagato akan membunuhku kalau kau telat pulang."

Tak jauh dari sana, rupanya lelaki berambut kuning memperhatikan motor yang menjauh.

.

.

.

Konan, beraninya kau membuatku malu lagi!

Sebuah pesan tak dikenal masuk ke ponsel gadis pecinta biru itu. Iris ambernya menyipit tak mengerti.

Siapa?

Jauh di seberang sana sudut siku-siku timbul di dahi sang Uchiha.

Uchiha Madara.

Konan mengernyit.

Kenapa Sensei? Apa yang salah?

Kau membiarkan si Namikaze masuk tanpa mengetuk pintu! Aku belum mengancingkan baju! Apa jadinya kalau aku digosipkan dengan murid sendiri, hah?!

Madara menyemprot Konan. Konan baru ingat tadi siang dia memang membukakan pintu karena refleks melihat anak itu membawa buku di tangannya.

Tidak terjadi hal aneh. Bukan masalah.

Madara mulai marah. Bukan karena dia lapar dan jadi menyebalkan, tetapi dongkol mendapat jabawan inosen-singkat-singkat.

Besok bicara pada Namikaze. Jelaskan seperlunya. Buat alasan apa saja asal tidak mengotori reputasiku. Titah Madara dalam pesannya.

Konan bertanya-tanya kenapa dia harus melakukan hal aneh begitu? Toh tidak ada hal yang terjadi antara dia dan Madara Sensei. Tapi daripada memberondong pertanyaan, atau melecehkan Madara dengan bilang 'kau bukan tuanku, dan aku bukan maid-mu', Konan hanya membalas 'ya' karena banyak yang perlu diurus daripada berdebat dengan maniak itu.

.

.

.

Sudah besar bisa tidur sendiri? Siapa bilang. Konan selalu punya dua pengawal untuk menemani tidurnya; Nagato kakaknya dan Pein sepupunya. Kedua orang itu paling tidak harus bergantian menjaga Konan saat tidur. Bukan apa-apa, hanya saja Konan punya masalah dengan tidurnya yang kadang suka membahayakan jiwa.

Kali ini Pein yang menggelar fuuton di bawah ranjang sepupunya. Sebenarnya gadis itu lebih senang Nagato, karena kakaknya cenderung tenang dan waspada daripada si wajah paku yang kadang sudah pulas lebih dulu. Juga bunyi tuts keyboard-nya membuat Konan terganggu meskipun Pein bilang sudah berusaha pelan.

"Yahiko, jaga Konan. Jangan tidur duluan sebelum Konan. Aku akan segera kembali," kata Nagato sebelum pergi.

"Oki doki~"

Begitu Nagato pergi Konan mengambil obatnya.

"Tidak usah diminum, aku ada pertandingan online nonstop malam ini, kau bisa tidur nyenyak tanpa takut. Yah~ walaupun mungkin akan sedikit berisik meskipun aku pakai earphone," kata Pein cuek.

"Jangan takut, kau tidak bisa melewatiku tanpa membuatku terbangun. Tidur sajalah, anak kecil harusnya sudah nyenyak sekarang."

Ragu-ragu akhirnya Konan menarik selimut menutupi wajahnya.

"Pein ..."

"Hm?"

"Keberatan mematikan lampu?"

"Oki doki. Perlu ciuman selamat malam juga?" Pein mendapat desisan.

"Pein-nii?"

"Apa lagi?"

"Terimakasih sudah menjagaku."

"Konan?"

"Ya?"

"Biar mesra panggilnya pake –kun, dong~"

Desisan kedua Konan lebih keras dari sebelumnya.

.

.

.

Satu jam berlalu dan Pein sudah melukis indah dengan air liur di atas bantalnya. Notifikasi keras dari game yang tengah dia mainkan membuat lelaki itu bangun. Matanya mengerjap melihat jam di layar laptop; baru pukul 10 malam.

Tiba-tiba Pein tidak tahan ke kamar mandi karena kandung kemihnya penuh.

"Konan, aku tinggal sebentar, ya," katanya pada gadis yang sudah lama terlelap.

Ternyata ritual di kamar mandi jauh lebih lama dari perkiraan. Pein membawa ponselnya untuk menyemarakkan kehidupan kubus yang suram tempat dia buang hajat dengan musik RnR; Rock n Roll. Pein sedang asik ngobrol dengan teman perempuannya yang bertebaran di dunia maya ketika kakinya mendadak keram; tandanya sudah tiga puluh menit.

Tidak usah membayangkan yang selanjutnya, karena seperti manusia pada umumnya yang hobi membawa ponsel ke WC, maka Pein meletakkan ponsel terlebih dulu di gantungan besi baru setelah itu mengurus 'si dia'. Tapi mungkin karena tangan si wajah penuh piercing itu dikira hadas besar oleh sang ponsel, maka sang ponsel dengan indahnya meluncur ke WC untuk membersihkan diri dari bekas sidik jari Pein.

"CRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAP!" Inggrisnya Pein keluar. Napas Pein memburu, dia lega untung 'si dia' sudah diurus lebih dulu sehingga ponselnya cuma basah. Pein mengguncang ponsel putus asa ketika dia mendengar bunyi keras dari ruang depan.

"Konan!"

Kamar konan kosong. Pintu depan terbuka lebar~ sepertinya sudah dari tadi. "CKUSOOOOOOOOOOO!" Sekarang Jepang tulen.

.

.

.

TBC