Disclaimer: Naruto belongs to Master Masashi Kishimoto
Typos. OOC. Super Crack pair. .
.
.
.
.
.
The Sleepwalker
.
.
.
Seperti yang sudah diketahui bahwa jika gadis gothic berambut biru dengan cepol origami itu sedang kumat, maka nyawa orang-orang yang ada di sekitarnya berada dalam bahaya. Penyakitnya itu tidak membahayakan dari dalam, tetapi akibatnya seringkali meninggalkan memar luar di tubuh orang.
Saat Konan tertidur, dia seringkali bermimpi menghadapi monster-monster besar yang ingin memakannya, sehingga dia butuh tampil all out dengan mengerahkan seluruh kemampuan Taekwondo melawan monster-monster itu. Sedang pada kenyataannya, monster-monster itu adalah orang-orang biasa~walaupun keseringan memang anak berandal yang hobi kongkow-kongkow di tikungan. Itu sebabnya dia harus dikawal saat tidur, jadi sekalipun mengamuk, Nagato dan Pein yang master Jeet Kune Do bisa meringkus adik kesayangan mereka.
Tapi kali ini Pein memang harus siap menghadapi amarah Nagato karena teledor membiarkan Konan tanpa penjagaan. Diantara dilema ponsel Sumsang Pinggir yang senewen minta diganti dan mengkhawatirkan sepupunya, Pein memutari komplek rumah.
Pein berhenti untuk menggoyangkan Ponsel, anehnya ponsel itu bukan menyala malah mengerang. Si wajah penuh tindikkan itu mengerutkan dahi. "Kok bunyinya jadi aneh gini?" katanya heran.
Lalu Pein bersungguh-sungguh menggoyangkan ponselnya supaya air keluar, tetapi bukan menyala malah menghasilkan erangan yang sama sekali tidak seksi.
"Wooooii!" Ditengah kekesalan itu, sadarlah dia bahwa bukan ponselnya yang mengerang, melainkan sosok berbadan besar yang baru saja terhempas menabrak tiang listrik di depannya.
"!?"
Di sana, di taman kecil itu dia melihat dua orang tengah dalam posisi saling memunggungi; satu Konan, satu lagi tidak tahu siapa.
"Konan!"
Pein berlari menghampiri mereka yang masih menghadapi tiga orang lagi. Lagi-lagi dilema melandanya. Kalau dia membangunkan gadis yang setengah sadar itu di depan banyak orang ini, tentu rahasia Konan suka tidur sambil berjalan akan membuatnya malu, tetapi jika tidak disadarkan, anak itu akan melukai orang dan punya tambah banyak musuh. Sepertinya, Pein lebih memilih Konan punya banyak musuh daripada dia harus membiarkan Konan diolok-olok karena penyakit kambuhannya. Maka tanpa basa-basi tiga orang yang sudah gemetaran itu dikirim ke neraka oleh tinju maut Pein.
"Konan, kau tidak apa-apa?!" tanya Pein sambil memeriksa tubuh perempuan itu yang berbalut piyama.
"Kau lagi? Apa kau tidak bosan muncul di depanku terus, Monster Wortel?! Lebih baik kau pulang! Kau juga, Pisang! Aku tidak tahu kalau kau mengkhianati kawananmu, tetapi aku tidak minta bantuanmu tadi. Kalian berdua pergilah ... kalian bahkan terlalu lucu untuk dijadikan keset!"
DZIIIIINGG ...
Ini yang paling Pein benci kalau Konan sudah kambuh. Bukan karena dia suka menganiyaya anak orang, melainkan suka memanggilnya dengan sebutan Monster Wortel! Bayangkan itu!
Tampang ketjeh begini dipanggil Monster Wortel! Sudah itu kadang ditambahi sebutan Monster Wortel Bintil Hitam ... mau ditaruh dimana mukaku, haaah?!
"Dia kenapa? Daritadi dia memanggilku Pisang," kata pemuda blonde di depan Pein heran.
Pein membisu beberapa saat, haruskah dia memberitahu orang asing ini? Mungkin saja dia bukan orang jahat, hanya saja beresiko besar jika berita aneh tentang Konan sampai tersebar.
"Hei, kalian! Cepat pergi! Aku tidak mau lihat Pisang tersenyum dan Wortel Bin~"
BRUGH. Tubuh Konan sudah jatuh ke tangan Pein. Pein benar-benar tidak tahan dengan panggilan 'sayang' Konan padanya.
"Itu penyakit kambuhan. Hanya itu yang bisa kukatakan. Siapa namamu?" tanya Pein sambil menggendong Konan di punggungnya.
"Namikaze Minato."
"Kalau begitu, Namikaze, tolong rahasiakan hal ini. Aku akan mengingat namamu jika sedikit rumor saja tersebar, mengerti?"
Pemuda Namikaze itu tersenyum. Nada ancaman dalam suara Pein bukan sekedar hiasan jika melihat bagaimana dia membuat tiga orang semaput sekali hantam. Tapi bukan karena hal itu Minato bersedia menjaga rahasia si gadis biru, melainkan karena memang bukan sifatnya yang senang menimbulkan sensasi atau mempermalukan orang.
"Percayakan padaku."
Pein melangkah maju meninggalkan pemuda yang sepertinya seumur dengan Konan. Sebelum itu dia melihat tubuh orang berbadan besar tergeletak di dekat tiang listrik dan tahu bahwa tidak adanya memar di buku jari Konan disebabkan oleh Minato.
"Sepertinya, dilihat dari bekas lukanya, kau lumayan hebat dalam Boxing, eh, Namikaze?"
"Tidak lebih hebat darimu," jawab Minato ramah tanpa teintimidasi oleh Pein.
"Kau bisa jadi ancaman serius. Lain kali aku akan mengundangmu untuk sparring," tambah Pein. Lalu dia pergi dan mengeluh-ngeluh betapa beratnya Konan.
.
.
.
Keesokan harinya Konan terbangun karena merasa tempat tidurnya mengecil. Dan dia tahu itu karena Pein seenak jidat berbaring di sampingnya sambil mengucurkan liur. Konan bertanya-tanya kenapa Pein harus tidur di sebelahnya, apa dia terbangun lagi dan mematahkan leher orang? Atau karena si Pein memang suka curi-curi kesempatan mempraktikan adegan light novel yang suka dia baca?
Maka tanpa ragu Konan mengguncang tubuh Pein, berusaha membangunkannya. Tapi bukannya bangun dia malah memeluk guling semakin erat.
Karena tahu hal itu percuma, maka Konan melangkahi sepupunya dan bergegas untuk sekolah, dia akan menanyakan hal yang terjadi nanti. Seolah hari Konan sudah dimulai dengan hal buruk, sebuah pesan masuk.
Madara Uchiha; JANGAN LUPA TEMUI NAMIKAZE MINATO. YOU KNOW WHO I AM.
Sigh. Apa-apaan kata-kata terakhirnya? Memangnya ini salah siapa?
.
.
.
Bagimana menjelaskan pada Namikaze tanpa mencederai reputasi guru paling swag itu? Konan berpikir keras. Dia bisa saja bilang kalau waktu itu Uchiha Sensei tiba-tiba menjerit karena ada binatang dalam bajunya, lalu setelah itu dia membuka kancing baju dengan brutal dan mendapati kecoak tengah merayap di badannya. Tidak, Madara Sensei bilang tanpa mencederai reputasinya, jadi tidak mungkin Konan bilang seorang UCHIHA MADARA (yang ingin menguasai dunia, coret, ilmu pengetahuan, coret.) histeris karena kecoak.
Atau mungkin Konan bisa mengarang bahwa Uchiha Sensei kegerahan? Tidak mungkin! Pendingin ruangannya benar-benar bikin beku, lagipula itu terlalu mainstream. Ah! Mungkin kalau Konan bilang Uchiha Sensei habis nge-gym dan minta pendapat soal badannya yang jadi sixpack itu baru masuk kriteria alasan yang tepat. Tidak merusak reputasi; cek. Penjelasan seperlunya; cek. Tidak bicara yang tidak-tidak; cek. Sempurna! Sekarang Konan hanya perlu mencari anak bernama Namikaze itu, dan kalau tidak salah kelasnya ada di ujung koridor.
Begitu akan membuka pintu kelas Namikaze, Gai Sensei datang dan bilang bahwa bel sudah berdering. Konan gagal. Tidak masalah, masih ada jam istirahat.
Kelas dimulai, sialnya sekarang pelajaran Uchiha Sensei nonstop sampai jam istirahat pertama. Meskipun Konan tahu rumor diantara mereka membuat gerak Uchiha Sensei terbatas dalam hal menggencetnya, tetap saja mata hitam orang itu yang terus mendelik-delik ke arahnya tiap lima detik sekali bikin risih.
"Hei, kau lihat tidak Uchiha Sensei melirik-lirik ke arah Konan terus?" kata anak perempuan di belakang meja si penyuka origami.
"Aku kira dia melihat ke arah kita, leherku sampai kaku."
"Sepertinya Konan sedang tidak ingin melihat wajah Uchiha Sensei, mungkin mereka sedang marahan." Gayung bersambut dan bisik-bisik makin intens.
"Memangnya mereka pacaran?" tanya gadis satunya penasaran.
"Belum jelas, sih ... tapi aku yakin sebentar lagi."
Tiba-tiba Konan berdiri menjadi pusat atensi semua orang~termasuk Madara.
Konan melenggang saja menuju meja pria Uchiha itu dan setelah percakapan bernada rendah yang terdengar krusial, setelah itu Konan keluar. Anak sekelas menunggu Madara mengatakan sesuatu. Madara menatap anak-anak itu, mereka menatap balik. Tatap-menatap terjadi cukup lama hingga ...
"Apa yang kalian lihat, hah?! Memangnya ini kontes adu mata?! Kerjakan soal!"
Kalau saja ada kamera, Madara akan segera melambaikan tangan tanda gencatan senjata. Matanya lumayan perih juga ternyata.
.
.
.
Bukan tanpa alasan Konan menghindari tatapan Madara Sensei dan memilih melihat ke luar jendela, karena di sana, di bawah ring basket, sosok Namikaze tengah bersimbah peluh baru selesai bermain basket. Jika dia ingin bicara, maka sekaranglah saat yang tepat dan ternyata Madara Sensei setuju. Semakin cepat semakin baik.
Tanpa basa-basi Konan angkat kaki mencari Namikaze. Dia kira sekarang kesempatan yang bagus karena anak-anak akan istirahat sebentar sebelum masuk kelas Kakashi Sensei yang hobi tersesat di jalan bernama kehidupan.
Jarak Konan dan si pirang Minato tinggal beberapa langkah saat tiba-tiba serbuan fangirl membuat Konan terombang-ambing tidak jelas. Dan dalam sekejap Minato sudah dikelilingi perempuan. Konan bertanya-tanya memang seberapa terkenal Namikaze Minato itu? Seingat Konan, dulu waktu Akatsuki konser di sekolahnya yang antusias tidak serusuh ini.
Gadis bermata sendu itu tidak menyerah. Dia melambai pada Minato, menatap penuh harap macam para groupies dengan band pujaannya. Sayang sekali Namikaze tidak melihatnya tepat ketika Konan berusaha memanggilnya. Namikaze Minato baru melihat saat Konan dan punggungnya menjauh.
.
.
.
Tadi jam pertama gagal? Tidak masalah. Jam istirahat tidak berhasil? Tidak apa-apa. Sekarang adalah jam pulang, kalau Konan masih tidak dapat kesempatan bicara pada pangeran sekolah berambut pirang, berkulit putih, bermata biru seperti lautan, yang kata teman-teman perempuannya oh-so-hawt-abis maka Konan akan menyerah saja. Nagato, kakaknya, tidak mengizinkannya ikut kegiatan ekstra apapun setelah sabuk hitam di tangan gadis itu. Semua kegiatan yang tidak berhubungan dengan sekolah dilarang keras diikuti karena bisa memperparah penyakitnya. Tidak ada alasan Konan harus mengejar Minato hanya karena Madara menyuruhnya. Jadi semua harus selesai hari ini atau tidak sama sekali!
Bel sekolah dan Konan sudah menunggu di depan kelas orang itu. Begitu keluar Minato ditempel banyak perempuan. Kenapa dia selalu dibuntuti perempuan? Apa ini genre harem? Gadis itu menghela napas keras-keras, Minato menoleh bertanya-tanya.
Apa yang dia lakukan? Kenapa Konan membuntuti Minato? Kenapa juga Minato masih diikuti perempuan?
Akhirnya setelah lima belas menit berjalan tanpa merasa terganggu dengan perempuan yang mengelilinginya, Minato mengambil arah berbeda dengan para perempuan itu. Konan tidak menyia-nyiakan kesempatan dan berlari mengejar Pangeran Sekolah.
"Namikaze," panggil Konan khawatir Minato hilang di tikungan. Seakan sudah tahu kedatangan Konan, Minato berdiri di dekat tiang listrik sambil mengangkat sebelah tangan mirip artis yang ingin bilang 'calm down' pada para penggemar dan tidak lupa tersenyum menyerupai bintang pasta gigi Gerbang Dingin.
Es krim yang dijatuhkan orang lumer di dekat Minato, nenek-nenek yang sedang lewat ikut merasa bugar, kucing yang tadinya mau berkelahi mendadak diam, tapi Konan masih beku, merasa lelah dan ingin berkelahi.
"Kita perlu bicara," kata Konan seperti adegan roman-roman lainnya saat sang wanita ingin menyatakan putus.
"Kalau begitu, rumahku sudah dekat."
"Rumahmu?"
"Kita tidak bisa bicara di jalan 'kan?"
Memang kenapa? Tanya gadis bunga kertas itu diam-diam. Lalu seperti punya telepati, ponsel Konan berdering.
"Sebentar," katanya pada Minato. "Halo? Pein~ Kenapa?"
Di seberang sana Pein sudah panik karena sepupunya tidak ada di sekolah.
"Aku ... main ke rumah ... teman?" jawab Konan tidak yakin.
Tapi Pein malah memutar bola mata. Hello! Teman yang mana? Kau tidak punya teman baik di sekolah! Tapi tentu saja kata-kata itu hanya ada di pikirannya.
"Baiklah~ kebetulan aku juga mau beli pe es lima, tapi nanti kita pulang sama-sama, dan jangan sampai Nagato tahu. Nah~ kau harus kasih hadiah ke Oniisan-mu yang baik ini. Ayo~ aku mau dengar. Jangan lupa tangannya."
Adik Nagato itu menghela napas keras-keras yang entah sudah berapa kali dilakukannya seharian ini.
"Arigatou, Oniisan. Aku saaaaayang Yahiko-Nii. You rock, bro~" dengan nada monoton dan tangan terkepal ke atas; salam absurd khas mereka.
"Ah~ hatiku jadi hangat. You rock sistaaaaaah!"
Konan menutup ponsel. Minato mengerutkan dahi. "?"
.
.
.
Begitu Minato membuka pintu depan dia disambut oleh tangisan wanita. Kali ini gantian pemuda pirang itu yang menghembuskan napas lelah.
"Tadaima~, Okaasan?"
Tangis wanita itu berhenti. Kemudian wajah sembap muncul dari balik pintu.
"Okaeri, Minato-kun," kata perempuan pirang itu sambil menyeka air mata.
Seolah tidak tahu anaknya sudah menjadi remaja, wanita itu menghambur memeluk Minato dan menangis untuk beberapa saat.
"Okaasan~ aku bawa teman," kata Minato setelah pelukan ibunya tidak kunjung lepas.
"Eh?! Siapa gadis ini, Minato-kun? Kenapa kau membiarkannya menyaksikan adegan memalukan tadi?" wanita itu panik.
"Halo~ saya Konan~" sapa Konan kalem.
Hampir tiga puluh menit Konan berada di kediaman Namikaze, tapi dia jadi lupa untuk apa dia ada di sana. Minato memang ada di depannya, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain memandangi ibunya yang terus bicara pada gadis bersurai biru itu tentang kucing keluarga mereka yang baru saja meninggal seminggu lalu.
"Dia itu teman Minato sejak lahir ... jadi aku sedih sekali saat dia meninggal. Aku bahkan bisa dengar dia mengeong minta makan di kepalaku."
Konan mendengarkan dengan patuh tanpa interupsi. Konan tidak menginterupsi, tapi ponselnya iya.
"Apa Konan-chan pernah punya peliharaan juga?"
Konan mematikan telepon dari Pein.
"Konan-chan?"
"Ah~ ya, dulu saya punya," jawabnya singkat dan gelisah.
"Hewan apa itu? Kucing? Anjing? Hamster? Atau apa?" sosor ibu Minato tidak peka.
Konan yang terhanyut dalam kenangan peliharaannya merasa sedih.
"Pohon."
"P-pohon?"
Minato melirik-lirik gadis itu, ikut penasaran seperti ibunya.
"Ya, pohon. Saya membelinya karena sepertinya pohon kecil, kurus dan jelek itu tidak akan laku dijual. Tapi ... tapi saat saya baru mulai merawatnya seminggu, pohon itu ... kering, layu dan mati."
Kenangan yang tidak menyenangkan. Apalagi fakta tersembunyi bahwa pohon itu mati gara-gara Pein sembarangan menjadikan potnya kakus dadakan. Mengingat hal itu Konan jadi emosi dan berjanji akan memukul Pein nanti.
"Setelah itu, saya tidak berniat memiliki nyawa makhluk apapun. Saya merasa tidak pantas membuat makhluk hidup bergantung pada saya yang ceroboh," pungkas Konan.
"Astaga~ aku tidak menyangka mendengar hal seperti itu dari teman Minato-kun! Aku suka Konan-chan ... kau manis sekali, Konan-chan!" Ibu yang terlalu antusias itu memeluk Konan tanpa canggung. Konan bisa melihat darimana sifat kalem Minato berasal. Harus ada orang dewasa dalam rumah ini, dan dia yakin wanita itu bukan orangnya.
"Okaasan, sepertinya Konan tidak nyaman."
Lalu interupsi datang dari sosok kecil yang cetakkannya mirip sekali dengan Minato, hanya saja terlihat lebih bengal walaupun berbadan mini.
"Oniichan!" katanya sambil menghambur ke pangkuan Minato.
"Kenapa, Naruto?" tanya Minato denga full atensi pada bocah berambut kuning jabrik.
"Oniichan, tadi kata ibu-ibu di tivi, kalau mencuci baju yang kena noda pakai saja penis. Tapi Paman Jiraya bilang penis itu alat bikin anak. Kenapa mencuci bisa bersih dengan alat bikin anak?"
DZIIIIIIIIINGG. Minato dan ibunya menganga. Konan cuma menaikkan sebelah alis.
Hening beberapa saat hingga nyonya Namikaze menggiring bocah inosen itu ke belakang dengan wajah memerah.
Keadaan jadi awkward antara Konan, Minato dan perkataan bocah tadi yang masih berdengung-dengung di udara.
"Adikmu?" tanya Konan tanpa niat. Minato menutup mulut dengan punggung tangan lalu mengangguk seakan malu mengakuinya.
Dan karena Konan bukan tipikal gadis yang bisa tertawa dengan hal seperti 'itu', maka dia memilih pamit.
"Aku antar," sambar Minato setengah speechless tapi berusaha kembali normal.
Saat berdua di koridor, Minato bertanya hal apa yang ingin dibicarakan. Konan mendadak ingat bahwa kunjungannya bukanlah temu kangen sama calon mertua.
"Begini, hm ... Uchiha Sensei menyuruhku bicara denganmu karena takut kau salah paham dengan kejadian kemarin." Tapi aku jadi lupa cerita yang kukarang tadi pagi. Jadi bagaimana?
"oh~"
Dan disaat genting begini Pein menyelamatkan Konan. Ai lap yu, Bro!
"Tapi sepertinya kakakku kesal menunggu, jadi bisa aku minta alamat email-mu?"
"Baiklah~"
Maka mereka bertukar email dan say good bye dengan keganjilan yang tak bisa diungkapkan.
.
.
.
"Rumah siapa?" tanya Pein tanpa niat.
"Teman," jawab Konan malas.
"Teman baru?"
"Iya, baru."
"Pantas~"
"Kenapa?" tanya Konan penuh curiga.
"Pantas dia mau berteman, belum tahu sih~"
Sekarang ada alasan lebih untuk memukul Pein.
Buaaak!
Motornya oleng sedikit.
"Awww! Sakit! Untuk apa itu?!"
"Untuk pohon karetku!"
"Itu sudah tiga tahun lalu, Konan!"
Gadis itu pura-pura tidak dengar. Pein memacu kencang motornya hingga disumpah-serapah orang.
.
.
.
Namikaze, itu salah paham. Madara Sensei cuma mau pamer otot barunya karena dia baru mendaftar di gym.
Bukan pembukaan yang bagus, tapi memang to the point. Tak berapa lama ada balasan.
Dia baru dari gym dan memperlihatkan padamu?
Konan memuntir-muntir bunga origami di kepalanya. Dia memang tidak pandai berbohong, dan Minato mengendus hal aneh dari penjelasannya. Nagato yang sudah siap tidur merasa gelisah karena Konan belum juga tidur.
Satu lagi yang menggelisahkan datang.
Bagaimana dengan Namikaze? Beres?
Uchiha Madara.
"Kau tidak apa-apa, Konan?"
"Ya~"
"Benarkah?" Nagato tidak yakin.
"Hm~."
Sebelum tidur Konan mengetik pesan pada dua orang; Minato dan Madara.
To Namikaze: Tidak ada apa-apa antara aku dan Uchiha Sensei. Maaf aku berbohong. Kuharap tidak ada rumor aneh tersebar.
Madara: Beres.
Tak lama setelahnya dia sudah lelap.
.
.
.
Minato merasa tubuhnya mendadak pegal. Dia membuka mata dan mendapati kaki Naruto di perutnya; biasa. Lalu dia sadar ada wangi asing yang menarik indera penciumannya. Di sana, tepat di sisi lainnya, ada gadis yang tadi sore bertamu sedang tidur dengan outfit yang cukup provokatif.
Kaki dan tangan gadis itu berada tepat di atas badan pemuda bernetra safir tersebut hingga membuatnya sesak. Satu sesak karena berat Naruto dan berat Konan, dua sesak karena hormon remajanya melesak to the max. You know what I mean.
Okaasan, Otousan, Kakak Konan, orang tua Konan, mohon maafkan aku. Batin Minato. Di tengah kebingungan dalam siksaan yang juga menggiurkan, Minato si anak baik mencoba tidur dan let it go~. Tidak lupa dia merapal mantra yang didapat dari kleptomania Tobi saat keinginan mencuri permennya datang; Minato anak baik. Minato anak baik. Minato anak baik.
.
.
.
Nagato merasakan kontraksi di perutnya, dia menggigil. Panggilan alam membuatnya terbangun. Oh~ pantas saja, jendelanya terbuka, angin malam masuk dan membuat Nagato mules.
Tunggu ... pikiran Nagato mulai tersambung. Jendelanya terbuka?! Siapa yang lupa mengunci Jendela dari luar?! Di saat yang sama, gundukkan selimut yang menutupi adiknya jadi kempis. Konan ... kumat lagi!
.
.
.
TBC
An: Trims for reviewing, I'm impressed. Ada juga yang baca *lololol*
Ingat ini bukan genre humor sehingga anda tidak boleh protes kalo nggak lucu. #kicked #slapped #kissed nah?
