Naruto Masashi Kishimoto

The Sleepwalker Lawvert

Typos. OOC. ETC. ETC. ETC.

.

.

.

Pein dibangunkan Nagato. Pemuda yang sedang asyik melakukan sesuatu yang iya-iya dalam mimpinya itu terganggu.

"Apaan sih~ Nagato?!" tanyanya gusar sambil mengucek mata.

"Konan hilang lagi," kata Nagato kalem tapi tegang. Lalu mata Pein yang sempat peret macam perawan langsung terbuka lebar.

"Eureka! Untung kemarin udah dipasang pelacak di gelang kakinya," kata Pein sambil menjentikkan jari.

Nagato merengut mendengar Pein. Dia memang sempat menolak ide pelacak itu. Masa adiknya disamakan seperti orangutan atau badak Sumatra. Tapi mengingat ternyata otak Pein bekerja sangat baik dan belum rusak karena hal-hal gravure, Nagato bersyukur ide si muka piercing itu berguna.

Tak berapa lama Pein dan Nagato sudah sampai di depan rumah Namikaze. Pein mengingat-ingat dimana dia pernah mendengar marga Namikaze, tapi saklar di otaknya sedang error jadi mengingatnya lain kali saja. Sekarang dia dan Nagato memikirkan bagaimana cara membawa Konan pulang tanpa membuat keributan.

.

.

.

Seperti orang yang silau melihat matahari, Konan memincingkan mata. Dia mengira-ngira dimana dia berada. Tidak biasanya dia mendengar deru napas lain di tengkuk kecuali saat Pein sengaja pindah dari lantai ke ranjangnya dengan alasan sakit punggung. Tapi ini bukan hari Senin dan Konan sudah memperingatkan sepupunya jika dia pindah ke kasur Konan lagi maka gadis bernetra amber itu akan menendang bokongnya hingga terjungkal ke tepi neraka.

Konan bangun perlahan dan melirik orang di belakangnya yang terlihat sedang mimpi buruk. Dia yakin demi mata Nagato yang mirip obat nyamuk bahwa dia masih suci dan tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai isteri siapapun, apalagi seorang ibu. Tapi kenapa ada dua orang asing di kamarnya? Konan maju mendekati ranjang dan melihat seksama dua wajah tidak asing. Seolah nuklir baru saja mendarat di pusat kesadarannya, dia tercengang. Itu ... Namikaze dan adiknya ... 'kan?

Adik Nagato itu disorientasi. Kepalanya pusing. Dari luar terdengar langkah kaki menuju ruangan ini. Minato terbangun saat ibunya menyentuh anak tangga ke tujuh. Dia melihat Konan memegangi kepalanya.

"Konan?" kata Minato sambil memastikan gadis itu tidak tidur.

Konan menatap pemuda itu. Dia tidak tahu harus menjawab atau menjelaskan. Konan hanya melongo memandangi Namikaze Minato yang walau baru bangun tidur tetap charming dan segar.

"Hm ... Namikaze ... aku ..."

Bukannya mendengarkan Minato malah mendorong Konan ke lemari dan menutup pintunya.

Klik. Pintu dibuka menampakkan sosok wanita pertengahan tiga puluh.

"Ohayou, Minato-kun. Aduh~ adikmu tidur di kamarmu lagi?"

"Dia takut tidur sendiri," jawab Minato mulus tanpa canggung. Konan melihat dari celah kecil lemari bagaimana Minato membuat ibunya pergi bersama Naruto yang setengah sadar.

"Okaasan, tadi malam aku mimpi aneh ... ada perempuan mengetuk jendela Niichan. Aku buka jendelanya, lalu ternyata itu zombie," gumam adik Minato. Sayup-sayup terdengar ibunya bilang itu akibat menonton film. Wanita itu tidak tahu Minato berubah jadi pucat. Setelah mereka berdua keluar, Minato membuka lemari.

Konan keluar, berdiri dan merasa aneh. Minato menatapnya, Konan menatap Minato. Tidak ada dari mereka yang bicara sampai akhirnya Minato mengambil sesuatu dari lemarinya, menyodorkannya pada Konan.

Dia membuka lipatan kaos dari Minato dan memakai kaos dengan tulisan 'I'm The Fourth Hokage A.K.A Yellow Flash' lalu turun lewat pohon. Begitu saja.

.

.

.

"Yahiko, sepertinya kita harus masuk ... sudah hampir jam setengah tujuh ..." Nagato dan mata obat nyamuknya cemas.

"Hm~ kalau begitu aku naik kau tunggu di bawah. Aku akan melempar Konan dari jendela dan kau menangkapnya," usul Yahiko enteng seakan Konan karung beras.

"Sepertinya itu tidak perlu."

Karena tepat saat mereka melihat gerbang, Konan sedang melompat turun degan wajah merah padam. Tanpa bicara dia naik motor Nagato seperti ejen-ejen CIA di pilem eksyen dan meninggalkan dua orang tadi ternganga.

"Dia ... masih tidur, ya, Nagato?"

.

.

.

Konan memacu motor kakaknya kencang sekali hingga tubuhnya menggigil ditampar udara pagi. Apa yang terjadi padanya semalam hingga bisa tiba di rumah Namikaze tidak bisa dia ingat. Ada rasa kesal, muak dan kadang ingin minum racun juga. Dia tahu hal yang seperti ini cepat atau lambat akan terjadi. Dia tahu ada titik dimana Nagato dan Pein tidak lagi bisa menangani penyakitnya dan itu membuat Konan takut.

Dan hal yang paling aneh dari semua kejadian tadi adalah reaksi Minato. Minato tidak terlihat kaget atau takut. Teman sekolah Konan itu malah terlihat khawatir. Konan tidak tahu kenapa Minato bisa sangat tenang mendapati Konan sudah 'tidur' bersamanya. Bukankah seharusnya dia lebih panik? Syok? Atau ... senang? Pokoknya kenapa reaksinya tidak seperti laki-laki? ... ? Hal-hal itu berputar dalam kepala si gadis origami dan nyaris membuatnya gila. Apakah Minato itu normal atau miring sepertinya, apakah Minato itu licik atau suka memanfaatkan kesempatan, yang manapun dia, Konan akan mencari tahu nanti.

Saat Nagato dan Pein melihat gadis berambut biru itu meloncat dari pinggir jembatan, Pein dan Nagato berteriak keras sampai orang di kerumunan di dekat Konan tadi bersungut-sungut, "WOI! nyantai ajah kali, kalo mau ikutan ngantri!"

"Tau nih! Lebay banget! Berisik!" sahut orang lainnya. Rupanya Konan bukan orang yang short-minded. Dia cuma ikutan olahraga Bungee Jumping. Tidak tahu? Itu yang ada di iklan~ masih tidak tahu? Googling sana.

"Konan! Kau membuat kami panik!" teriak Pein. Konan hanya diam.

"Ayo pulang, Konan," ajak Nagato.

Mereka bertiga duduk di meja makan dan makan tanpa selera. Roti panggang dan telur sudah dingin dan lemas, juga sedikit gosong karena Pein ceroboh. Semua ingin mendengar cerita lengkap gadis itu tentang apa yang sudah terjadi. Tapi Konan hanya diam tanpa minat bicara atau makan.

"Konan, apa yang terjadi?" Rasa penasaran Pein tidak bisa ditahan lagi. Nagato yang karakternya mirip dengan Konan tentu tidak akan bertanya karena dia lebih suka menunggu. Tapi dia senang karena Pein membuatnya tidak perlu OOC.

Konan meminum segelas air. Waktu terasa sangat lama sampai akhirnya dia berkata dengan enggan bahwa dia bangun di kamar laki-laki.

"Apaaah?!" Pein histeris mengetahui ada laki-laki lain yang 'tidur' bersama Konan selain dia.

"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaak! Konanku sudah tidak suciii!" Teriakkan Pein mendapat hadiah dua sandal rumah; satu masuk mulut, lainnya kena kepala.

"Kalian sangat mirip, apa tidak ada yang pernah bilang? Kalian sama-sama anarkis!" gerutu Pein sambil meludah ke sembarang arah dan mengusap dahinya.

"Apa laki-laki itu melihatmu?" tanya Nagato mengabaikan Pein. Konan mengangguk. Pein melotot.

"Terus kau tinju sampai pingsan?" sambung Pein.

Konan menggeleng.

Tiba-tiba kabel di otak Pein tersambung. "Tunggu, bukankah itu rumah kemarin yang kaudatangi?"

Konan mengangguk. Telinga Nagato tegak berdiri. "Rumah siapa?" tanyanya pada Pein.

Pein menutup mulut. "S-santai Nagato ... tolong jangan chibaku tensei aku."

Setelah Pein bercerita kunjungan Konan ke rumah teman baru yang diprakarsai oleh Pein yang juga ingin beli PeEs lima, Nagato menahan bogem mentahnya untuk nanti.

"Kau lalai, Yahiko. Kau lupa menutup jendela luar kemarin dan kau tanpa seizinku membiarkan Konan melanggar aturan."

"Aku juga salah, Nagato-nii. Ini bukan salah Yahiko-nii," lamat-lamat suara Konan terdengar.

"Kenapa kau pergi ke rumah laki-laki? Aku kira temanmu itu perempuan?" selidik Pein dengan percikan kesal dalam intonasinya.

"Aku tidak bilang dia perempuan~" sergah Konan. Pein jengkel.

"Lalu apa yang terjadi antara kalian? Apa yang terjadi?!" desak Pein.

"Tidak ada," balas Konan cepat.

Pein mencapai titik didih dan mulai menyembur, "kau ...! Tidak peka juga ada batasnya, tahu! Lalu apa yang terjadi saat kau bangun, hah?! Kalian saling tatap-menatap? Lalu dia meminjamkanmu kaos norak bertuliskan 'I'm The Fourth Hokage A.K.A Yellow Flash' begitu?! Dan kau keluar lewat jendela seperti tidak terjadi apa-apa, cuma begitu?! Kurasa dia mungkin tidak normal! Jadi katakan apa yang terjadi dengan jelas sehingga kami bisa mengurus masalahmu! Kau membuatku gila, Konan!" cerocos Pein pada Konan yang sudah menyerupai pertengkaran suami-isteri dan tanpa diduga Konan malah mendorong kursi lalu berdiri dan bertepuk tangan dengan wajah stoic.

"Bravo~ bravo~ Pein, sejak kapan kau jadi cenayang?"

Titik didih Pein tiba-tiba beku. Dia bingung sehingga perlu menggaruk kepala jingganya yang tak gatal.

"Aku ... benar ...?" tanyanya pada Konan minta konfirmasi. Konan mengacungkan jempol dengan wajah yang bikin kesal.

"Benar sekali, hanya saja aku sempat masuk lemari Namikaze saat ibunya masuk kamar," tambah Konan. Nagato hanya menaikkan alis melihat percakapan absurd antara anak autis dan maniak game.

"Kalau tidak keberatan, aku ingin libur, Nagato-nii~ kepalaku sakit." Konan meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya di lantai dua.

"Konan, siapa nama temanmu?" panggil Nagato saat Konan mencapai anak tangga terakhir.

"Namikaze Minato. Kelas sebelas E. Rambut pirang, mata biru, tinggi sekitar 179 cm." Dalam hati Nagato bertanya-tanya sejak kapan Konan menjawab seperti si Namikaze adalah target pembunuhan berikutnya.

"Na ... namikaze Minato?!" pekik Pein. Jangan jangan Namikaze yang itu!

.

.

.

Berbaring di tempat tidur tidak pernah membuat Konan senang seperti orang lain. Semua masalahnya selalu muncul saat dia hilang kesadaran. Dan sekarang, meskipun kepalanya sakit, pikirannya kalut, dia tidak bisa melarikan diri bahkan sejenak.

Mungkin udara segar bisa menenangkan, pikirnya. Tanpa sadar dia sudah berjalan tak tentu arah sepagian hingga matahari tepat di atas kepala. Konan ingin tidur. Tapi tidur siang sekalipun adalah hal mewah untuknya. Saat Nagato atau Pein tidak ada di rumah, Konan tidak boleh~tidak bisa tidur kecuali dengan obat. Sayangnya dia muak dengan obat yang mengingatkan bahwa dirinya pesakitan.

Alasan itu membawanya ke mesin penjual minuman kaleng. Dia membeli dua kopi dingin, menenggak sekaleng sampai habis lalu pening membuatnya berjongkok sebentar. Bayangan seseorang menjulang tinggi di hadapannya, Konan mengadah untuk melihat siapa. Ternyata Madara tengah memandangnya. Dari sudut pandang Konan, lelaki berambut subur di usia pertengahan tiga puluh itu mirip pohon cemara dengan lubang hidung yang besar.

"Apa yang bocah sekolahan sepertimu lakukan saat jam belajar seperti ini, hah?" tanya Madara sengit.

"Saya sakit kepala," kata Konan pelan dan tidak bangun dari jongkoknya. Posisi ganjil seperti tuan-hamba sahaya mereka segera disadari oleh Madara. Madara mengisyaratkan supaya Konan mengikutinya.

"Saya sakit kepala," sergah Konan.

"Tapi kakimu masih sehat 'kan?"

"Saya pusing berjalan, apa Sensei tidak tahu pusat kendali manusia adalah otaknya?"

"Geezz~ kau mau berjongkok seharian di situ?"

"Ada bangku di sana." Madara berdecak-decak tidak percaya dirinya bisa dibelokkan seenaknya oleh bocah berambut biru.

"Oke, tunggu sebentar, tetap di sini atau aku akan menghukummu." Madara pergi sebentar dan kembali dengan tas jinjing.

Mengikuti instruksi Konan, mereka duduk di bangku semen dekat situ. Konan memberinya kopi kaleng yang disambut dingin. Kopi dingin dan dua orang berkepribadian dingin di hari yang panas.

"Kalau kau sakit kenapa malah berkeliaran?" tanya Madara sambil membuka kopi kalengnya.

Tanpa diduga Konan membuat Madara tersedak. "Apa?! Kenapa bisa itu jadi salahku?!"

"Saya sakit, tugas dari Sensei membuat penyakit saya kambuh. Sekarang saya tidak bisa ke sekolah atau istirahat. Apa Sensei tahu rasanya sakit tapi tidak berdarah?"

Madara menutup mulutnya rapat. "Tidak ada yang tahu kecuali diri sendiri," tambah Konan.

"Apa penyakitmu? Aku mungkin bisa membantu."

Konan menatap mata gelap Madara, tertawa sebentar lalu menunjuk pelipisnya. "Ini, yang sakit di sini."

"Dengar, aku memang bukan guru yang baik, aku juga tidak pandai bergaul, tapi kalau kau punya hal untuk diceritakan, kau bisa cerita padaku." Konan merasa harus mengorek telinga. "Tapi kau tidak boleh membicarakan hal-hal tentang spidol dan muka Hasirama pada siapapun, bagaimana?"

...

"Sensei~ saya sudah tidak ingat hal itu kalau sensei tidak selalu mengingatkannya. Percayalah, saya tidak punya teman untuk bicara. Tidak ada ..."

Ada dalam perkataan Konan yang membuat siapapun merasa nelangsa jika mendengarnya.

"Sedikit banyak aku mengerti perasaan seperti itu. Kalau kau tidak keberatan berteman dengan orang tua sepertiku, kurasa tidak buruk punya satu atau dua teman."

"Sensei?"

Wajah Madara merah sendiri sadar bahwa dia mulai jadi pria tua melankolis yang terdengar kesepian.

"Sensei?" panggil Konan menunggu wajah Madara berbalik. "Sensei?"

"Apa?!" geramnya sambil melotot pada Konan.

"Sensei tidak tua~"

"Jangan menghiburku, bocah!"

"Sensei matang!" Konan mengacungkan ibu jarinya. Madara terharu dan sentimental dengan pujian tulus Konan.

"Kalau begitu aku akan mendengarkanmu, kau tidak perlu takut, aku juga tidak punya teman untuk membicarakan rahasia orang. Kadang bicara bisa melegakan juga. Sekarang mulailah darimana kau suka," titah Madara sambil bersedekap.

Tiba-tiba angin berhembus mengingatkan Konan akan hari dimana sekrup dan otaknya mulai tercecer.

"Saya bukan pencerita yang baik, Sensei. Tapi saya akan mencoba ..." Konan menghela napas untuk sesuatu yang sangat emosional baginya.

"Waktu itu saya ada di kelas tiga SMP. Kedua orang tua saya berpisah. Saya tidak merasa sakit, karena saya punya Kakak, sepupu dan teman yang baik, sangat baik.

Satu hari ketika di rumah hanya ada saya sendiri, saya mengundang teman saya main."

Tubuh Konan bergetar hebat. Rambut di pelipisnya menggelap karena keringat dingin di hari yang panas. Bunga origami di rambutnya jatuh.

"Kau baik-baik saja, Konan?" Madara cemas. Konan menghela napas perlahan seperti yang selalu dia lakukan saat kenangan itu muncul. Tapi sekarang dia menarik kenangan itu secara sengaja.

"Tidak apa-apa ... ini selalu terjadi. Saya ingin tahu batas saya. Saya tidak bisa terus lari. Jadi tolong dengarkan saja, Sensei," kata Konan setelah mengambil bunganya.

"Tidak ada yang aneh saat itu. Tapi tiba-tiba ...," Konan berhenti. Terlihat tersiksa.

"Tiba-tiba teman saya itu mencium saya."

"Dia ingin mengajak saya melakukan hal itu. Saya menamparnya keras. Lalu dia berteriak pada saya dan bilang bahwa saya juga menginginkan hal itu. Bagaimana bisa teman saya selama tiga tahun menjadi sosok asing? Saya merasa diorientasi."

"Tidak ada persahabatan lelaki-perempuan, kurasa itu hal wajar ...," timpal Madara.

"Dia perempuan seperti saya." Madara menghilangkan keterkejutannya dengan meneguk kopi kaleng yang terasa masam. Konan memandang jalanan yang sepi di siang hari, memastikan suaranya cukup pelan.

"Di sekolah tiba-tiba beredar rumor saya adalah ... yah~ dia berkata saya seperti dirinya pada orang-orang sehingga masa akhir kehidupan SMP saya hancur juga. Lalu saya tertidur terlalu lelap hingga tidak sadar saya berakhir di tempat yang tidak saya kenal. Semua jadi sangat kacau. Sensei tahu penyakit ini belum ada obatnya, 'kan? Karena yang sakit bukan fisik ... tapi di dalam sini," pungkas Konan sambil menyentuh pelipisnya lagi (tolong jangan mulai bernyanyi lagu Cita-Citanya).

"Dan tadi pagi saya terbangun di kamar Namikaze Minato. Saya tidak tahu bagaimana kakak dan sepupu saya harus menghadapi masalah yang selalu saya buat."

"Namikaze Minato?" Madara mengunci mulut, tapi akhirnya menghembuskan napas dan bilang,

"Yah~ mereka kakakmu, mereka tidak akan merasa kau jadi beban. Aku mengurus dua bocah setan dan mereka tidak pernah merasa aku terbebani, karena aku memang tidak." Tanpa diduga Madara menepuk kepala Konan. Konan menatapnya. Dan para pembaca mulai tidak sabar sambil bertanya-tanya kenapa ini jadi MadaKonan.

"Sensei," kata Konan perlahan.

"Apa?"

"Tolong jangan sentuh saya, saya alergi pada pria tua."

"Sialan! Kau bilang tadi aku matang!" Madara bersungut-sungut dan Konan tertawa sedikit. Angin berhembus secara dramatis ketika tiba-tiba sosok yang tadi sempat dibicarakan muncul. Minato yang biasa tersenyum cerah tampak sedikit kesal. Mungkinkah Minato lapar dan butuh sepatu Sn*akers?

"Namikaze?" Konan terkejut.

Madara mengulang pertanyaannya seperti saat melihat Konan. Minato bertanya balik.

"Lalu apa yang seorang Sensei lakukan dengan anak yang bolos di jam sekolah?"

"Konan, kita perlu bicara," kata Minato sambil mengabaikan Madara yang mengepal-ngepal. Gadis penyuka origami itu merasa tidak punya pilihan. Dia berdiri dan pamit pada Madara.

"Apa kau sudah tidak pusing?" tanya Madara.

"Ya, saya baik."

"Kita bisa ke klinik dengan mobilku dulu."

"Maaf Sensei, Konan dan aku perlu bicara. Ayo Konan," kata pemuda charming itu sambil menarik tangan Konan mirip adegan romance-romance klise lainnya. Madara ingin tertawa, dia sedikit banyak bisa mengerti apa yang tengah berlangsung karena dia pernah muda (dan tolong berhenti nyanyi lagu Bunga Citra Laksminisuketikatemi).

"Namikaze, itu bukan cara lelaki. Apa kau tidak tahu Konan sedang sakit kepala?" sindir Madara membalas kata-kata Minato di awal.

Minato melihat Konan. "Aku baik-baik saja, tolong lepaskan tanganmu." Dan Madara ingin tertawa tapi harus tetap stay cool. Bagus sekali, Konan! Jangan lupa bilang alergi juga pada anak muda!

Minato kecewa. Sayang sekali Konan bukan tipe gadis biasa yang nurut-nurut saja jika ditarik atau dipeluk paksa seperti tokoh-tokoh klasik dorama.

"Kalau begitu, kami permisi, Sensei. Terima kasih."

Melihat dua punggung muridnya Madara menyeringai.

"Akhirnya ada topik yang bagus." Dia tersenyum puas membuka laptop.

.

.

.

TBC

Thanks for RnR. Jika kepala anda sakit, jantung berdebar dan jengkel, carilah tiang terdekat. Konanmina? Minakonan? Minako? Komina? Homina? Homina Homina? Lalalala ...