Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, Slash, OOC, OC, typo

Rating: T

Pairing: DMHP


A MOMENT IN TIME

By

Sky


Malfoy Manor, Russia

Harry Caius Malfoy adalah seorang anak laki-laki yang unik, di usianya yang baru menginjak 14 tahun tersebut ia sudah mengalami hal-hal besar di dalam hidupnya. Kisahnya dimulai dari tragedy yang menghantuinya di masa lalu ketika ia masih berusia sangat muda, lalu dilanjutnya akan masa adopsinya ke dalam keluarga Malfoy, sampai sebuah kejadian di mana ia mendapatkan seorang tunangan yang berbeda usia empat tahun lebih tua darinya secara tidak sengaja. Namun dari semua hal yang telah ia lalui selama ini, remaja berusia 14 tahun tersebut merasa bahagia dengan hidupnya saat ini, meskipun ia harus tinggal dengan seorang wanita tua yang dijuluki sebagai Rose with Thorn dari keluarga Malfoy yang begitu ditakuti oleh penyihir lain karena kesadisan serta kekuatannya, bahkan Harry yakin kalau kementrian sihir akan tunduk di hadapan seorang Lucretia Malfoy ketika mereka berdua berhadapan dalam waktu yang sama. Meski demikian, Harry merasa sangat bahagia karena keinginannya untuk memiliki keluarga lagi menjadi kenyataan.

Berbicara mengenai tunangannya yang berbeda usia itu, Harry tidak tahu harus menganggap semua ini sebagai hadiah yang kebetulan atau malah sebuah lelucon yang terjadi di dalam hidupnya yang menurut Harry adalah kacau. Kalau untuk ukuran anak berusia 14 tahun, bila mereka diberitahu diri mereka memiliki seorang tunangan akibat tindakan bodohnya, pasti reaksinya akan marah dan mengatakan "Aku tidak mau, kenapa kalian mengatur hidupku sampai memberikan seorang tunangan yang tidak kukenal seperti ini" namun hal ini akan sedikit berbeda dengan kasusnya Harry. Mengapa demikian? Jawabannya singkat, reaksi pertama yang diberikan oleh Harry ketika Lucretia Malfoy memberikan kabar ini adalah diam membatu selama lima menit sebelum ia pingsan di tempat itu juga. Benar, seorang Harry Caius Malfoy yang selalu menyebut dirinya sebagai remaja pemberani itu pingsan begitu saja tanpa ada satu patah kata apapun yang meluncur dari kedua belah bibirnya tersebut, di tempat kejadian perkara yaitu di depan sang nenek yang telah memberitahukan keputusannya pada saat itu juga. Sampai saat ini ia masih meruntuki dirinya akan kejadian yang memalukan itu, bahkan yang paling membuatnya ingin mengubur dirinya sendiri secara hidup-hidup adalah tunangannya sendirilah yang mengangkat tubuh Harry dan menjaganya di samping tempat tidur Harry sampai dirinya siuman. Wajah Harry akan menjadi merah padam kalau dirinya mengingat kejadian yang memalukan tersebut, bahkan sahabat baiknya pun tidak pernah gagal untuk tertawa terbahak-bahak saat Harry menceritakan apa yang terjadi padanya ketika itu. Rasanya Harry ingin membunuh sahabat baiknya itu karena lelucon yang ia berikan pada remaja itu pasti berhubungan dengan kisah memalukannya tersebut. Sampai detik ini Harry merasa menyesal telah memberitahu sahabat baiknya tersebut, andai saja waktu bisa diputar kembali maka ia akan membungkam mulutnya sendiri dan menjadikan hal ini sebagai rahasia.

Bagaimana Lucretia bisa menjodohkan Harry yang merupakan anak adopsi keluarga Malfoy dengan sang Lord Malfoy sendiri masih menjadi pertanyaan yang misterius di dalam benak Harry. Dari apa yang ia ingat dari seorang Draco Malfoy, ia adalah seorang pemuda jenius yang diselimuti oleh kelambu misterius, seseorang yang jarang mengunjungi rumah mereka di Rusia karena kesibukannya. Harry masih ingat kali pertama Lucretia membawanya menjadi salah satu bagian keluarga Malfoy, orang pertama yang Harry temui adalah Draconis meski keduanya hanya saling pandang untuk beberapa saat lamanya di depan piano yang tengah dimainkan oleh Draco sebelum wanita yang masih menyandang status sebagai Lady Malfoy itu menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam kamar. Dan berikutnya ingatan Harry mengenai Draco juga tidak terlalu jelas, namun yang pasti Lucretia selalu menyanjung cucu satu-satunya itu di hadapan Harry sehingga persepsi Harry mengenai sosok anak laki-laki yang dingin itu semakin memudar, dan perasaan penuh kekaguman itu pun mulai muncul dalam dirinya yang masih muda tersebut.

Jadi bayangkan saja ketika tiba-tiba ia diberitahu kalau orang yang ia kagumi ternyata adalah tunangan yang dipilihkan oleh sang nenek, pasti berita yang mengejutkan itu membuat dirinya sedikit terguncang. Sehingga tidak ada yang menyalahkan Harry kalau dirinya langsung pingsan di tempat setelah termenung untuk beberapa saat lamanya, memalukan memang namun tidak mengejutkan lagi.

Sekarang ini saja Harry bisa merasakan wajahnya mulai memanas, namun sekali lagi ia menghiraukan hal itu dan memilih untuk memfokuskan target bidikannya. Tangan kanannya menarik anak panah yang telah ia kaitkan pada busur yang ada di tangan kirinya, kedua matanya yang berwarna hijau emerald tersebut memicing untuk beberapa saat untuk memfokuskan target bidikannya. Saat sang target terlihat begitu jelas, Harry melepaskan anak panah yang ia pegang tersebut, membiarkannya melesat ke depan dengan sangat cepat menembus udara dan akhirnya menancap dengan begitu sempurna pada target bidikannya.

Suara tepuk tangan dari belakang membuat Harry menolehkan kepalanya, menatap orang yang melihat latihan memanahnya tersebut.

"Hebat seperti biasanya, Harry. Meski kau berdiri sejauh 20 meter dari sasaran, tapi kau berhasil membidik target sasaran tepat di tengahnya. Wow… bahkan anak panah terakhirmu itu membelah yang satunya." Gumam seorang remaja laki-laki yang berusia tiga tahun lebih tua darinya itu. "Benar-benar pemanah ulung."

Harry bisa merasakan wajahnya memanas lagi, ia menggunakan tangan kanannya yang masih terbalut sarung tangan itu untuk menyembunyikan bagian bawah wajahnya. Tentu saja rona merah di wajahnya itu tidak luput dari pandangan sahabatnya.

"Wajahmu merah, 'Ry, apa kau terkena demam?" tanya sahabatnya setengah bercanda, dan tidak lama kemudian suara tawa pecah darinya. "Tidak kusangka kau mudah sekali merona seperti ini. Kalau saja Draco bisa melihatmu seperti ini, pasti anak itu akan ikut tertawa di sampingku."

"Diam kau, Viktor. Ini bukan urusanmu!" Ujar Harry dengan suara galak, namun dengan rona merah yang masih tampak begitu nyata di wajahnya justru membuatnya semakin tidak menakutkan. Melihat Viktor yang masih tertawa itu, membuat Harry naik darah. Remaja berusia 14 tahun tersebut memukulkan busur panah yang ada di tangan kirinya ke atas kepala Viktor dengan sangat keras. Dan terlebih lagi Draco tidak akan ikut tertawa seperti Viktor seperti ini, pemuda berambut pirang platinum yang kini berstatus sebagai tunangan Harry itu akan terlihat begitu aneh bila ia tertawa terbahak-bahak seperti yang diucapkan oleh Viktor.

"Ouch… apa yang kau lakukan, 'Ry? Apa kau berniat membunuhku?!" Teriak Viktor, ia memegang kepalanya yang sakit dengan kedua tangannya.

Kedua mata emerald Harry berkilat tajam. "Maaf, tanganku licin. Jadi pemanahnya tidak bisa aku kendalikan." Gumam Harry, yang dari ekspresi wajahnya saja tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun, bahkan ia terlihat begitu bernafsu untuk memukulkan pemanahnya pada bagian tubuh temannya lagi.

"Licin? Demi Morgana, tidak ada yang namanya tangan licin kalau kau menggunakan sarung tangan panah seperti itu, bodoh!" teriak Viktor lagi, kali ini kedua matanya berkilat tajam.

"Suatu kebetulan pasti ada, Viktor. Kau terlalu banyak mengeluh, padahal hanya pukulan kecil saja yang menimpa kepalamu." Ujar Harry dengan entengnya, seolah-olah apa yang ia lakukan bukanlah hal yang besar.

"Pukulan kecil?" Viktor mengulangi perkataan Harry dengan nada tanya yang terbalut dalam kalimatnya, kedua mata hazel milik pemuda berusia 17 tahun itu akhirnya berputar kecil sebelum dirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Siapa sangka si kecil Malfoy bisa memiliki lidah tajam seperti ini, semua ini pasti ulah Draco yang telah mengajari Harry aneh-aneh. "Pukulan kecilmu itu hampir saja mengakibatkanku terkena gegar otak, bodoh."

Harry menatap Viktor untuk beberapa saat lamanya, kedua matanya yang berwarna hijau emerald tersebut berkilah sedikit saat menatap kawannya, memberikan tatapan yang mengatakan kalau semua itu hanyalah ilusi Viktor semata, termasuk Viktor itu bodoh. Senyuman tipis nan licik pun pada akhirnya terulas di bibir Harry untuk beberapa saat lamanya, membuat pemuda yang usianya tiga tahun di atas Harry mau tidak mau menghela nafasnya singkat karena ia tahu bagaimana keras kepalanya Harry ini.

"Tidak akan kenak gegar otak kalau pada dasarnya kau sudah bodoh," gumam Harry lagi, seringai tipis pun terpancar jelas di sudut bibirnya yang mau tidak mau membuat Viktor menghela nafasnya untuk kesekian kalinya.

Satu hal yang Viktor pelajari setelah berteman dengan Harry adalah lidah dari remaja berparas manis tersebut sangat tajam, dan bila Viktor tidak segera mengakhiri perdebatan kecil di antara mereka berdua ini maka mau tidak mau dirinya akan tercabik-cabik oleh perkataan tajam dari Harry. Pemuda itu menarik pemikiran kalau lidah tajam Harry adalah ajaran dari Draco, namun ia kembali menyimpulkan kalau ajaran keras dari Lucretia Malfoy lah yang telah merusak otak Harry. Seorang Draconis Malfoy mungkin memiliki lidah yang tajam seperti kebayakan Malfoy yang pernah Viktor dengar, namun pemuda yang berstatus sebagai Lord Malfoy itu akan kalah tajam lidahnya bila ia bersanding dengan sang nenek. Helaan nafas untuk kesekian kalinya pun terdengar lagi.

"Sudahlah, 'Ry... aku malas berdebat denganmu lagi," jawab Viktor, ia menatap sahabatnya itu untuk beberapa saat lamanya sebelum bibirnya mengukir bentuk sebuah seringaian lebar yang mengalahkan milik Harry tadi.

"Hey...aku dengar tuan muda kita telah menginjak usia 18 tahun seminggu yang lalu, apa kau memberikan hadiah yang spesial buat Draco?" tanya Viktor, seringaiannya masih terpatri begitu jelas di wajah tampannya.

"Aku mengirimi Draco sebuah hadiah untuk ulang tahunnya, tapi aku tidak tahu apakah ia akan menyukainya apa tidak," jawab Harry, ia melepas sarung tangan yang tersemat pada tangan kanannya dan meletakkannya ke dalam tas selempang yang tersampir manis di bahu kirinya. "Matahari sudah hampir terbenam, aku harus segera kembali atau nenek akan mengulitiku nanti."

"Tunggu, aku ingin tahu hadiah macam apa yang kau kirimkan pada tuan muda itu?!"

Sebenarnya Harry bisa saja memberitahu Viktor mengenai hadiah spesial yang ia kirimkan kepada Draco untuk ulang tahunnya, namun ia menahan dirinya untuk membocorkannya pada pemuda yang berusia lebih tua darinya itu karena hal tersebut sangat memalukan, ia tidak ingin Viktor akan menertawakannya seperti apa yang dilakukannya ketika Harry memberitahukan mengenai berita pertunangan tersebut. Untuk berkilah dari pewaris keluarga Krum tersebut, dengan cepat Harry pun langsung beranjak pergi dari tempat latihan mereka di tengah hutan, meninggalkan Viktor sendirian yang masih memanggil nama Harry berkali-kali.

Kedua kaki kecilnya itu terus menuntunnya untuk pergi menjauh, berharap Viktor tidak akan mengikutinya atau mungkin keesokan harinya akan kembali menanyakan mengenai hadiah yang ia berikan, bisa mati dia kalau Viktor bisa tahu.

Melihat jarak yang terpaut dari tempatnya saat ini dengan tempat mereka latihan tadi sudah begitu jauh, Harry pun memelankan langkah yang ia ambil, ia pun berjalan dengan derap langkah normal untuk kembali ke Malfoy Manor. Dirinya tidak berbohong kalau sang nenek akan mengulitinya bila Harry tidak segera kembali ke manor, namun ada alasan lain pula mengapa ia harus pergi pada saat itu, yaitu menghindari Viktor. Harry masih teringat apa yang terjadi sebulan yang lalu, saat itu ia terlihat begitu kalut memikirkan akan hadiah yang cocok untuk ia berikan pada draco, pemuda itu akan berusia 18 tahun yang berarti ia bukanlah anak-anak lagi, sehingga hadiah biasa akan terlihat tidak cocok untuk sang Lord muda Malfoy. Oleh karena itu, Harry pun berpikir keras untuk memikirkan hadiah yang cocok untuk tunangannya, dan pilihannya pun jatuh pada sebuah liontin sederhana dengan batu permata emerald yang nantinya akan membuat Draco selalu teringat pada Harry. Bila mengingat saat-saat yang pelik itu rasanya Harry ingin lantai hutan ini terbuka dan menelannya hidup-hidup, terlebih bila ia ingat akan ucapan bodoh yang ia tulis pada Draco.

Ia bilang kalau dirinya masih marah Draco karena pergi ke Inggris tanpa pamit padanya, namun di akhir cerita ia malah menitipkan kalau Draco tidak boleh melupakannya sedikit pun.

"Morgana, aku merasa bodoh sekali karena tulisan surat yang sama bodohnya seperti diriku," gumam Harry cukup keras pada dirinya tanpa memperlambat laju perjalannya untuk kembali.


Akhir musim panas di Inggris akan menjadi musim yang sangat sibuk bagi murid-murid Hogwarts bersama keluarganya, mereka akan sibuk berkelana di Diagon Alley untuk membeli perlengkapan sekolah yang nantinya akan dimulai pada awal September dengan keberangkatan Hogwarts Express. Suara candaan serta celoteh dari anak-anak yang terlihat begitu antusias untuk kembali ke Howarts pun bisa terdengar dari penjuru kota kecil yang selalu ramai, namun pusat bisnis di waktu-waktu seperti ini akan menjadi pusat yang begitu ramai karena dipadati oleh para orangtua serta anak mereka yang ingin berbelanja.

Namun, dalam waktu ini terlihat sebuah pemandangan yang begitu berbeda di Diagon Alley. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tempat yang selalu terlihat ramai dan dipadati oleh pengunjung yang ingin berbelanja ini pun nampak jauh lebih ramai dari sebelumnya, bahkan tidak jarang beberapa penyihir yang hilir mudik di tempat itu terlihat mengenakan atribut pendukung tim Quidditch Irlandia dengan tim Quidditch Bulgaria, yang kala itu adalah satu-satunya tim yang bisa memasuki final pertandingan Quidditch dunia dan akan menyabet piala dunia tersebut. Dan saat ini turnamen Quidditch dunia itu tengah diselenggarakan di Inggris, jadi tidak heran kalau para penyihir yang mendukung kedua tim tersebut terlihat begitu antusias dan membeli segala atribut pertandingan untuk mendukung tim kesayangan mereka sebelum pertandingan dilakukan beberapa jam lagi.

"Sangat ramai bukan?" Tanya seorang laki-laki berambut hitam yang sangat Draco kenal, membuyarkan lamunan pemuda yang sedari tadi duduk di salah satu meja pegunjung kedai es krim Fortescue.

Pemuda yang bernama Draco Malfoy tersebut hanya mengeluarkan sebuah tawa kecil yang tidak lebih dari sebuah kekehan sebagai balasan pertanyaan laki-laki yang duduk di hadapannya. Tatapan kedua mata silver kebiruannya itu pun beralih dari ramainya jalanan Diagon Alley untuk beranjak pada sosok sang ayah baptis yang tengah menikmati secangkir kopi panas di hadapannya.

"Kurasa begitu," jawab Draco dengan singkat dan padat, namun sorot matanya yang tajam mengisyaratkan kejenakaan yang tersembunyi di sana. "Tidak heran kalau tempat ini sangat ramai, pertandingan final dari Quidditch dunia akan dimulai beberapa saat lagi."

"Dan tidakkan kita harus segera ke stadium, Draco? Mungkin saja kau bisa bertemu dengan si kecil Malfoy di sana," goda Regulus untuk beberapa saat lamanya.

'Si kecil Malfoy' adalah julukan yang sering Regulus berikan kepada Harry karena anak itu adalah yang termuda dari keluarga Malfoy, meskipun ia adalah anak yang diadopsi ke dalam keluarga, dan jangan lupakan status Harry sebagai tunangan satu-satunya dari Draco. Pemuda itu hanya bisa tersenyum kecil ketika ingatan tentang 'si kecil Malfoy' kembali melintas ke dalam benaknya, ia bisa membayangkan apa yang nantinya Harry katakan padanya ketika mereka bertemu lagi. Mungkin saja Harry akan marah-marah tidak jelas di awal pertemuan karena perbuatan Draco yang meninggalkan Rusia tanpa memberikan kabar pada Harry, namun ia sangat yakin kalau di akhir cerita Harry akan kembali merajuk manja. Si kecil Maloy itu memang terkadang tidak bisa jujur pada dirinya, apa yang ia katakan terkadang tidak sesuai dengan kata hatinya. Kalau Regulus bilang, Harry itu adalah orang yang sangat merepotkan dan terkadang luar biasa bodoh akan perasaannya, namun bagi Draco dia itu sangat lucu dan sangat menghibur.

"Aku rasa juga demikian, ia pasti sudah menungguku di stadion dengan Viktor. Aku hampir melupakan kalau Viktor adalah Seeker nasional tim Quidditch Bulgaria," kata Draco, tangan kanannya mengambi cangkir kopi panas yang terletak di atas tatakan yang telah disediakan di atas meja, dan dengan gerakan begitu elegan ia pun menyeruput kopi panas tersebut secara perlahan.

"Si bodoh itu terkadang memang sering dilupakan, jadi aku tidak heran kalau kau sering lupa padanya," gumam Regulus yang menanggapi lagi. Kedua matanya yang berwarna kelabu itu menatap keramaian yang berlalu lalang di jalanan Diagon Alley, beberapa dari toko yang ada di sana terlihat tutup untuk beberapa waktu, mungkin pemiliknya ingin menyaksikan pertandingan Quidditch di stadion secara langsung. "Draco."

Perhatian Draco yang untuk beberapa saat lamanya tergeletak pada sosok si kecil Malfoy pun langsung mengarah pada Regulus, pada saat yang sama tangan kanan yang tadi memegang cangkir kopi panasnya pun terlihat meletakkan benda itu ke atas tatakan porselein berwarna putih yang berada di atas meja.

"Iya?"

"Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun yang sangat berat untukmu," Regulus memulai perkataannya, kedua mata itu menatap sosok sang putra baptisnya dengan begitu lekat. "Aku mendengar dari Ivan kalau tahun ini Triwizard akan diadakan lagi setelah 300 tahun tidak pernah diadakan lagi, dan tuan rumah dari pertandingan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Hogwarts."

Deruan ramai serta sorak sorai yang bermunculan dari beberapa pengunjung pun hanya bisa menjadi latar background bisu yang mengiringi diamnya Draco, kedua mata silver kebiruan yang sedari tadi menampakkan kejenakaan kini langsung tertutup lagi dengan balutan topeng yang menghalau semua perasaan, dan emosi yang disembunyikan oleh Draco pun tidak luput dari tatapan tajam yang Regulus berikan padanya.

"Si kecil Malfoy, tunanganmu kemungkinan besar akan ikut bersama rombongan murid Durmstrang lainnya untuk pergi ke Hogwarts, Draco, dan aku memiliki perasaan buruk mengenai hal ini semua,"

Sebenarnya bukan hanya Regulus yang memiliki perasaan itu, namun Draco pun juga merasakannya dan entah kenapa ia tidak menyukai perasaan ini. Kemungkinan Dumbledore dan Voldemort untuk mengetahui kalau Harry masih hidup akan semakin kecil bila Harry tetap berada di Rusia bersama sang nenek, namun hal ini tidak bisa dikatakan dengan nada yang sama bila mereka melihat sosoknya bersama murid Durmstrang yang lainnya. Apa yang Draco takutkan pun bisa saja terjadi bila rahasia itu terbongkar, dan untuk sekali lagi Harry akan dimanfaatkan oleh kedua pihak tanpa ada rasa pertanggungjawaban di sana, hal inilah yang sebenarnya ingin dihindari oleh Draco dan keluarganya semenjak mereka mengetahui situasi dari Harry.

"Tidak hanya kau, Reg, tapi aku juga merasakannya," gumam Draco dengan suara lirih. "Perasaan buruk ini."


AN: Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menunggu serial ini, dan sudi membaca salah satu karya saya yang sederhana ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan

Author: Sky