Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, Slash, OOC, OC, older!Draco, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance, Adventure


A MOMENT IN TIME

By

Sky


Suasana stadion yang digunakan untuk pertandingan Quidditch dunia bisa dikatakan lebih dari ramai. Suara sorak sorai penonton yang memenuhi tribun penonton saat mereka mendukung tim jagoan mereka pun terdengar begitu bersemangat, bahkan tidak jarang dari mereka yang melakukan cemooh kecil di sana-sini karena proses rival di antara kedua pendukung tim yang berbeda tersebut. Selain suara yang memenuhi stadion tersebut, beberapa hiasan serta pernak-pernik yang dibuat menggunakan sihir pun juga ikut menyemarakkan suasana yang terkesan sangat ramai tersebut, dan satu hal yang ada di dalam benak Harry ketika ia melihat semua hal itu adalah, ia tidak suka keramaian namun di satu sisi ia sedikit menikmati euforia orang-orang yang mendukung tim Bulgaria serta tim dari Irlandia.

Melihat Harry sendiri datang ke Inggris atas permintaan Viktor Krum, maka kali ini ia pun akan mendukung sahabatnya tersebut dengan mengenakan syall berwarna merah dengar garis-garis putih serta topi berwarna senada yang melambangkan tim nasional Quidditch dari Bulgaria. Andai saja Viktor melihatnya yang berpenampilan layaknya badut, maka bisa dipastikan laki-laki yang lebih tua dari Harry itu akan tertawa terpingkal-pingkal ketika melihatnya.

Remaja bermata hijau emerald tersebut menggenggam jeruji besi yang menjadi pembatas tribunnya, ia pun juga menoleh ke sekitar untuk melihat apa Draco sudah berada di tempat ini apa belum, namun sejauh dari apa yang ia lihat Harry belum menemukan sosok tunangannya tersebut. Kedua matanya pun menangkap sekumpulan keluarga berambut merah dengan mengenakan atribut berwarna hijau milik tim nasional Irlandia (minus salah satu di antaranya yang mengenakan atribut pendukung tim nasional Bulgaria), melihat warna rambut mereka serta pakaian yang mereka kenakan Harry bisa menebak kalau mereka adalah keluarga Weasley.

Keturunan dari Keluarga Prewet, pikir Harry ketika ia melihat bagaimana si kembar memojokkan adiknya yang mengenakan atribut pendukung tim nasional Bulgaria tersebut. Harry pun menggeleng-gelengkan kepalanya singkat, ia merasa sedikit bodoh untuk mengamati keluarga Weasley yang merupakan keluarga pencinta Muggle serta terkenal akan perasaan bencinya terhadap keluarga Malfoy, kemungkinan pengaruh dari Dumbledore masih terlalu kuat pada keluarga tersebut atau mungkin karena kesenjangan sosial yang mengalir. Apapun itu, Harry tidak ingin dekat-dekat dengan mereka karena ia tidak ingin Lucretia, orang yang selama ini telah merawatnya sejak kecil, merasa kecewa pada dirinya.

Perhatian Harry yang tertuju pada keluarga Weasley pun kini beralih ketika ia mendengar sebuah suara protes keras dari seseorang, entah kenapa rasanya begitu familier ketika ia mendengar suara tersebut.

"Tapi, Dad... aku ini sudah besar, dan sudah sewajarnya aku mendapatkan pilihanku sendiri!" Ujar sebuah suara yang membuat Harry mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah mendengar suara itu sebelumnya.

"Baik ibumu dan aku tidak melarangmu untuk menghabiskan waktu dengan sahabatmu Ron, Nathan, tapi setidaknya kau juga harus berlatih seperti apa yang Dumbledore sarankan padamu," suara berat dari seorang laki-laki yang menyahuti suara pertama pun membuat Harry mau tidak mau menoleh ke samping, mencoba untuk melihat siapa pemilik kedua suara tersebut.

Kedua mata emeraldnya pun mau tidak mau membelalak sedikit lebar saat ia melihat siapa pemilik kedua suara tadi, dan tenggorokannya secara tidak sadar seolah-olah merasa mengering yang mengakibatkan dirinya tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun.

Berdiri tidak jauh dari tempat Harry adalah sosok dari dua orang yang sangat ia kenal, dan bahkan hampir setiap malam pun Harry selalu memimpikan untuk bertemu dengan mereka berdua serta diterima kembali ke dalam pelukan hangat keduanya. Meskipun masa lalu yang mengiringi kehidupannya bertemu dengan Draco dan Lucretia Malfoy sekarang ini, anak mana yang tidak pernah memimpikan untuk bertemu dengan keluarga kandungnya dan diterima oleh mereka? Meskipun fakta dari apa yang terjadi mengatakan sebaliknya.

Ayah dan Nathaniel, Merlin... aku bertemu dengan mereka berdua! Teriak Harry dalam hati, buku-buku jemarinya yang mengerat pada jeruji besi pembatas itu berubah warna menjadi putih, namun ia tidaklah peduli karena seluruh perhatiannya tercurahkan pada dua orang yang tengah berdebat tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Rasanya Harry ingin beranjak dari sana dan menghampiri mereka berdua, memeluk mereka serta mengatakan betapa rindunya Harry pada ayah dan adik kembarnya tersebut, namun rasanya ia tidak mungkin untuk melakukannya karena beberapa alasan. Yang pertama adalah tidak mungkin mereka percaya Harry Malfoy adalah Harrison Potter, karena bagi dunia ilmu sihir Harrison Potter itu sudah tewas beberapa tahun yang lalu, dan kalaupun tiba-tiba saja Harry muncul di hadapan mereka pasti yang ada para Auror akan mengepungnya dan menjebloskan Harry ke dalam Azkaban karena sudah berani menyamar menjadi Harry Potter. Dan alasan yang kedua adalah...

Jalan pikiran Harry pun tiba-tiba saja terhambat saat ia merasakan sebuah tangan menggenggam bahunya, membuatnya menoleh ke samping untuk melihat sang pemilik tangan tersebut.

"Jangan memikirkan masa lalu terlalu dalam lagi, Harry, karena kau bisa membuka luka lama yang sudah susah payah kau tutup itu."

Sebuah suara yang lembut dan mengisyaratkan kekhawatiran lah yang Harry temukan. Ia pun tertegun ketika mendapati orang yang sedari tadi ia nantikan ternyata sudah berdiri di sampingnya tanpa Harry mengetahuinya sendiri, dan rasanya Draco pun seperti mengetahui jalan pikiran yang tengah berkecamuk di dalam kepalanya sendiri.

Sebuah masa lalu yang ingin Harry kubur dan tak ingin ia buka lagi, mungkin kesannya memang mirip seperti melarikan diri dari masa lalu, namun ia tidaklah peduli karena rasa sakit yang telah ia kubur itu sudah tak mampu lagi menyakitinya. Memikirkan hal itu, tanpa sadar genggamannya pada jeruji besi pun semakin mengerat saja.

"Harry," panggil Draco lagi, pemuda itu pun semakin mendekat dan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi memindahkan tangannya yang bersandar pada pundah Harry untuk menangkup jemari tangan yang memutih akibat terlalu erat menggenggam jeruji besi tersebut. "Lepaskan."

Di bawah tatapan dari sepasang iris berwarna silver kebiruan itu pada akhirnya Harry menurut, meskipun kekeraskepalaannya pun ingin meluap saat itu juga dengan mencoba untuk protes dan mengutarakan apa yang ingin ia katakan. Di bawah tatapan sepasang mata itu juga Harry menganggukkan kepalanya secara perlahan sebelum ia melepaskan genggaman tangannya dari jeruji besi dan membiarkan Draco menuntunnya untuk menjauh, mencari sebuah tribun yang dirasa sedikit jauh dari sorot pandang James dan Nathaniel Potter bila keduanya melihat ke arah mereka. Tidak sekali pun Harry mengangkat wajahnya saat Draco menggandengnya dan menuntunnya menjauh dari tempat itu.

Setelah keduanya mendapatkan tempat yang nyaman, jauh lebih nyaman dari yang Harry temukan tadi sebab sekarang ini mereka dapat melihat lapangan Quidditch lebih jelas serta mendapatkan tempat duduk yang eksklusif, Harry pun mengambil tempat duduk tepat di samping Draco. Pikirannya masih tertuju pada pertemuan sepihak yang tak terduga tersebut beberapa saat yang lalu, bagaimana mungkin Harry bisa lupa kalau datang ke Inggris tentunya memiliki sebuah risiko tersendiri, yaitu bertemu dengan beberapa orang yang dulu pernah ia kenal sebelumnya. Ingatannya masih segar akan sebuah tragedi beberapa tahun yang lalu, dan tanpa sadar pun Harry meraba pergelangan tangan kirinya sendiri untuk memastikan kalau mimpi buruk dan indahnya tidaklah bercampur serta ia masih ada di sini.

Di bawah tatapan Draco yang masih mengamatinya dengan kekhawatiran yang terpetak jelas di matanya, Harry mengabaikannya untuk beberapa saat lamanya dan memilih untuk mengusir hantu-hantu masa lalu serta keinginan kuat yang mampu menuntunnya untuk beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri keluarga Potter. Bahkan Harry sendiri tidak terlalu mempercayai lidahnya sendiri, ia terlalu kelu untuk mengungkapkan perasaannya.

"Masa lalu itu adalah sebuah kenangan yang tentu saja sulit untuk dilupakan, Harry, kau setuju denganku di sini 'kan?" Tanya Draco tiba-tiba dan sukses membuat perhatian Harry teralihkan dari lamunannya sendiri, bahkan sorak sorai yang terdengar begitu berisik karena kemunculan tim nasional Bulgaria serta Irlandia pun tidak ia gubris sedikit pun. Semua perhatiannya tertuju pada Draco yang tiba-tiba saja mengucapkan hal itu. Ekspresi penuh akan tanda tanya pun terukir begitu jelas pada wajah polosnya tersebut.

Draco tersenyum kecil, pemuda berambut pirang platinum itu pada akhirnya menggenggam satu tangan milik Harry dengan kedua tangannya. Hangat dan juga nyaman, perasaan itulah yang terpatri dalam benak Harry.

"Semua orang memiliki masa lalu mereka masing-masing, Harry, yang tentu saja tidak mudah untuk mereka lupakan meskipun hati dan keinginan mereka memerintahkan mereka untuk melakukannya. Masa lalu yang baik atau sebuah kenangan indah, tentu akan tersimpan dan terus akan terkenang sampai kapan pun, begitu pula dengan kenangan buruk yang pernah kita alami selama ini. Namun, jangan sampai mimpi buruk yang berupa masa lalu itu terus menghalangi jalanmu untuk berpindah maju ke depan, menuju ke yang lebih baik lagi," ujar Draco dengan suara lembut, begitu dewasa untuk ukuran pemuda yang baru beranjak dewasa seperti dirinya. "Pada intinya, kau tidak akan membiarkan mimpi buruk itu terus selamanya menjadi mimpi buruk yang menghantuimu 'kan, Harry?"

Harry tercengang, kedua matanya terbuka lebar saat ia menatap Draco yang balik menatapnya dengan sangat kalem tersebut, memberikan sebuah dukungan meskipun itu tidaklah langsung seperti yang orang-orang lakukan padanya. Entah karena apa, namun Harry merasa dirinya tidaklah sendiri lagi karena orang yang selama ini ia kagumi ternyata memberikan perhatian padanya, meskipun yang dilakukan itu tidak secara langsung.

"Draco..." suara Harry serasa tercekat saat ia mengutarakan nama sang tunangan, bahkan remaja berambut gelap itu pun sampai tak menyadari kalau pertandingan sudah dimulai beberapa menit yang lalu.

Pemuda bermata silver kebiruan itu menatap Harry untuk beberapa saat lamanya sebelum ia mengacak rambut remaja itu dengan penuh sayang, menanggapinya menggunakan tindakan.

"Tak perlu dipikirkan lagi, lebih baik kau menikmati pertandingan temanmu itu daripada harus memikirkan kejadian barusan," jawab Draco tanpa perlu mendengar komentar yang gagal Harry lontarkan tadi.

Sejujurnya Harry ingin mengutarakan kalau ia tidak terlalu paham akan perkataan Draco, namun jauh di dalam lubuk hati sebenarnya ia sangat memahami akan hal itu. Ia sangat merindukan kedua orangtuanya, sangat malahan dan akan melakukan apapun untuk bisa kembali ke dalam pelukan mereka, namun hatinya yang pernah merasakan pengkhianatan dari keluarganya sendiri pun membuatnya tidak bisa melakukan hal itu. Draco menyebutnya sebagai kenangan buruk di masa lalu dan terus menghantui Harry ke mana pun ia pergi, namun perkataan Draco yang barusan juga ada benarnya. Harry tidak bisa membiarkan rasa takutnya terus menghantui setiap langkahnya sehingga ia akan terus menoleh ke belakang, ke tempat yang sangat kelam dan selama ini ia simpan di balik pemikirannya.

Sorak sorai dari penonton yang sangat memekakkan gendang telinganya itu sedikit demi sedikit membuat Harry berpaling dari lamunannya serta dilema yang ia miliki, dan perlahan pula guratan senyum yang ada di bibirnya muncul untuk menggantikan guratan kesedihan yang sedari tadi menaungi dirinya.

"Terima kasih, Draco," gumam Harry dengan suara kecil, tidak sedikit pun Harry menarik tangannya dari genggaman kedua tangan Draco saat keduanya masih duduk dan mengamati jalannya pertandingan yang terselenggara di hadapan mereka.

"Sama-sama, Harry. Jadi, katakan padaku tim mana yang kau dukung sekarang?" Dan pertanyaan yang Draco lontarkan itu pun membuat Harry melupakan permasalahannya karena kejadian bertemu dengan keluarganya tadi.

Remaja yang baru menginjak usia 14 tahun itu terlihat berapi-api ketika dirinya menjelaskan kalau ia sebenarnya mendukung Irlandia, namun karena Viktor adalah teman baiknya maka dirinya pun mendukung Bulgaria karena tak mau disebut sebagai pengkhianat di sini. Semangat yang berapi-api dan juga penjelasan yang menggebu-gebu dari Harry itu sudah mampu membuatnya untuk melupakan semua permasalahan yang ia miliki hari ini.

Meski kelihatannya kedua entitas yang berbeda itu terlihat begitu antusias terhadap pertandingan Quidditch yang ada di hadapan mereka, namun keduanya masih merasa ada sebuah kecanggungan di sana, serasa kalau sebuah masalah akan datang tidak lama lagi.


Pertandingan Quidditch dunia yang diselenggarakan di Inggris kala itu adalah sebuah event yang besar, event tersebut dikunjungi oleh para pecinta Quidditch dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan babak final antara tim nasional Bulgaria melawan tim nasional Irlandia yang selama ini terkenal sebagai rival abadi, bahkan karena event tersebut stadion yang pada biasanya terlihat sangat sepi kini dipenuhi oleh ribuan pengunjung dengan nuansa warna yang berbeda.

Keceriaan yang tercipta oleh sebuah event terbesar itu pun didukung oleh suasana langit yang begitu cerah, bahkan awan putih yang menggantung di bibir langit pun sama sekali tidak terlihat, seolah-olah cerahnya langit di musim panas itu ikut menyemarakkan pertandingan Quidditch dunia tersebut. Hal itu terjadi dalam beberapa jam yang lalu.

Pada pertengahan pertandingan yang sangat seru itu, suasana langit yang cerah kini berubah menjadi gelap temaram. Awan putih yang tadinya tidak ada di atas langit pun kini menyelubungi langit dengan warna yang gelap, membelakangi matahari dan membuat suasana menjadi sedikit mencekam, juga menegangkan. Sorak sorai dari para penonton yang mendukung tim nasional kesayangan mereka pun kini berubah menjadi teriakan penuh teror serta ketakutan yang tak bisa terungkapkan lagi, apalagi ketika mereka melihat beberapa penyihir berjubah hitam dengan topeng yang menutupi wajah mereka tiba-tiba muncul di tengah lapangan dan menyebabkan kekacauan di sana.

"PELAHAP MAUT!" Teriak salah seorang laki-laki yang tidak diketahui namanya, menyerukan identitas gerombolan penyihir berjubah hitam itu kepada dunia.

Suasana yang penuh akan semangat serta kebahagiaan pun telah berganti dengan suasana mencekam yang penuh akan terror ketika anak buah penyihir tergelap yang pernah ada serta diyakini sudah tewas pun muncul kembali di hadapan mereka, dan detik berikutnya sebuah tanda kegelapan milik Voldemort mengudara di langit, memberitahukan dunia kalau mereka telah tiba dan siap memakan korban seperti belasan tahun yang lalu.

Draco Malfoy yang melihat kekacauan yang ada di hadapannya pun segera beranjak dari tempat duduknya, dan dengan cepat pula ia segera menarik Harry untuk mengikutinya, pergi dari tribun penonton sebelum ber-disapparate dari sana. Ia tidak bisa terlibat dalam urusan yang bukan miliknya, Inggris bukan lagi teritori miliknya dan meskipun ia berada di negara ini Draco tidak boleh terlibat dalam peperangan yang akan meletus beberapa tahun kemudian. Sejak dirinya telah diadopsi oleh Lucretia yang berstatus sebagai neneknya, Draco telah bersumpah kalau ia tidak akan mengikuti jejak mendiang ayahnya yang mengambil sisi salah satu pihak, ia tidak ingin nama keluarga Malfoy ternodai untuk yang kedua kalinya, terlebih bila sang kepala keluarga tersebut adalah dirinya sendiri.

"Draco, kita mau ke mana?" Tanya Harry yang sedari tadi diam meskipun tubuhnya mengikuti langkah Draco yang terus membimbingnya untuk keluar dari stadion tempat mereka menonton tadi.

Beberapa orang yang berlari secara panik pun tidak jarang menghimpit tubuhnya saat mereka juga mencoba keluar dari sana, dan sebuah sodokan dari belakang tubuhnya pun membuat Harry kehilangan keseimbangan, yang mengakibatkannya terjungkal dan terjatuh di lantai.

"Aaah..." jerit Harry pilu saat ia merasakan pergelangan kaki kanannya terkilir, rasanya sangat sakit seperti otot-otot kakinya mendadak melilitnya dan mengakibatkannya untuk tidak dapat berjalan tanpa ada rasa sakit yang menyertai.

Mendapati genggaman tangannya terlepas secara sepihak serta telinganya menangkap jeritan penuh kesakitan dari remaja yang empat tahun lebih muda darinya itu membuat Draco menghentikan langkahnya. Draco pun menoleh, dan ia tampak terkejut mendapat Harry terduduk di antara reruntuhan serta api yang membakar stadion di sana dengan ekspresi yang menggambarkan kesakitan.

"Harry?!" Panggil Draco, pemuda itu pun pada akhirnya menghampiri Harry dan berjongkok di hadapannya. "Apa yang terjadi?"

Kedua mata silver kebiruannya menatap wajah Harry yang masih mengernyit, ia melihat bagaimana sosok mungil itu memijat pergelangan kaki kanannya sebelum ia berjengit dan menggigit bibir bawahnya untuk meredam teriakan yang ingin keluar dari mulutnya. Draco mengerti, ia bisa melihat dengan jelas kalau kaki Harry terkilir di tengah-tengah orang yang berlarian karena panik tersebut.

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, pemuda berambut pirang platinum tersebut segera memeriksa pergelangan kaki Harry setelah ia menggulung celana yang Harry kenakan sampi ke lutut. Ia melihat bagaimana pergelangan kaki yang terkilir itu terlihat bengkak dan sedikit bengkok, sebuah tanda kalau Harry mengalami lebih dari terkilir di pergelangan kakinya. Dengan lembut Draco meletakkan tangannya pada bagian yang bengkak itu, memijatnya secara perlahan untuk memastikan kalau tidak ada tulang yang patah di sana.

"Akhh..." teriak Harry secara perlahan, menyuarakan rasa sakitnya ketika Draco memijat pergelangan kakinya yang bengkak. Bahkan karena rasa sakit yang tak tertahankan itu dirinya langsung menggenggam lengan Draco dengan kuat.

Bibirnyanya terkatup keras, menandakan rasa tidak suka karena Harry terluka akibat penyerangan yang tiba-tiba seperti ini. Draco berharap mereka berdua bisa pergi dari tempat itu sebelum Auror datang. Tanpa basa-basi lagi pemuda berambut pirang platinum itu mengeluarkan tongkat sihirnya, ia pun mengarahkan ujung dari tongkat sihirnya pada bengkak yang tadi ia pijat pada pergelangan kaki Harry.

"Episkey," gumamnya pelan saat menyuarakan mantera sihir penyembuh minor untuk menyembuhkan pergelangan kaki Harry. Perlahan-lahan ia bisa melihat bagaimana bengkak yang ada di kaki Harry langsung mengecil dan kembali seperti semula, dan ia pun langsung menatap Harry. "Bagaimana? Apa sudah lebih baik?"

"I-iya, sedikit lebih baik daripada tadi, namun masih sedikit nyeri," jawab Harry, ia pun dibantu berdiri oleh Draco yang menggenggam kedua lengannya.

Momen keduanya pun terpaksa harus berakhir saat Draco merasakan sebuah residu sihir yang bergerak dengan cepat ke arah mereka. Reflek yang telah Draco kuasai selama bertahun-tahun dari duel yang hobi ia lakukan pun akhirnya berguna, ia langsung menarik Harry untuk bersembunyi di belakang tubuhnya sebelum Draco mengacungkan tongkat sihirnya ke depan.

"Evanesco!" Ujarnya pelan, menghilangkan serangan yang dilontarkan kepada mereka sebelum Draco kembali menggumamkan mantra pembalik. "Everte Statum!"

Pelahap maut yang tadi mencoba menyerang mereka secara diam-diam pun langsung terlempar ke belakang akibat sihir pembalik yang Draco ucapkan, memantulkan serangan yang ditujukan padanya.

Dari sudut matanya Draco melihat seorang pelahap maut berlari untuk menghampiri mereka karena serangan yang ia balikkan dari rekannya, dan kelihatannya tindakan Draco yang melawan tadi sempat menarik perhatian dari beberapa subjek. Sepertinya duel antara Draco dengan dua pelahap maut yang ada di hadapannya tidak akan terelakkan lagi, dan melihat Harry yang masih berada di bawah umur serta tidak diperkenankan untuk menarik tongkat sihirnya untuk melawan pun mau tidak mau membuat Draco harus mengurus semuanya sendirian.

Sang laki-laki bertopeng putih pun tiba-tiba saja melemparkan mantra peledak padanya, yang tentu saja langsung terhalang oleh penghalang yang Draco ciptakan di antara mereka dan melindungi baik dirinya serta Harry dari serangan brutal tersebut. Menggigit bibir bawahnya karena sedikit kesal, Draco pun segera menggenggam lengan Harry dengan erat dan kapan pun ada kesempatan ia akan pergi dari tempat itu menggunakan apparate.

Celah sempit yang terjadi dari dua serangan bertubi-tubi yang diberikan oleh pelahap maut pun langsung digunakan Draco tanpa ia sia-siakan lagi. Dengan gerakan yang cepat Draco segera menghilangkan pelindung yang menyelubungi Harry dan dirinya sebelum ia mengacungkan tongkat sihirnya ke arah dua lawannya.

"Flipendo Tria!" teriak Draco dengan suara lantang.

Dari ujung tongkat sihirnya Draco melihat sebuah tornado kecil terbentuk di sana, diiringi oleh cahaya berwarna oranye yang dengan cepatnya langsung menyerang dua orang pelahap maut yang sedari tadi menyerangnya. Mantra pendorong dengan tingkatan sangat tinggi itu pun mampu membuat dua pelahap maut itu pun terlempar dengan kekuatan besar ke belakang sebelum keduanya menghantam beberapa bangku penonton dan menabrak tembok. Melihat lawannya lengah setelah terkena serangannya, Draco pun segera melingkarkan lengan kirinya pada pinggang Harry dan membawanya pergi dari sana, ber-disapparate, meninggalkan semua kekacauan di belakang.


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca guratan sederhana ini.

Author: Sky