Peringatan: AU, Semi-Canon, sedikit OOC, Luffy yang berbeda, banyak kata-kata kotor, dan no pairing!
Disclaimer: One Piece hanya milik Eichiro Oda Seorang.
Kata-kata tak bisa menggambarkan suasana saat itu. Segalanya sangat pas! Awan penanda badai atau pun hujan tidak terlihat sejauh mata memandang. Kelembaban sangat kecil, cuaca musim panas memang cocok untuk berlayar. Ombak tidak tinggi, hanya sedikit arus yang akan membuat perahu terombang-ambing. Mungkin seseorang akan minum teh jika cuaca sesempurna ini di belahan bumi lainnya.
Jagoan kita pun terlihat santai. Tidurnya cukup nyenyak sejak dia meninggalkan dermaga desa Fuusha. Arus yang tenang membuat dia tak usah bersusah payah untuk mendayung perahunya untuk sampai di pulau terdekat.
Akan tetapi dia sebenarnya ingin kemana?
Untuk mengejar One Piece, harta paling dihargai oleh Raja Bajak Laut yang terakhir, berada di daerah Grand Line, jauh dari tengah-tengah East Blue! Mengambil langkah seribu untuk mencapai kesana tidak cukup. Apa lagi dengan perahu sampan kecil seperti itu. Mungkin di peta terlihat sangat dekat, tapi realitanya, itu jalan yang panjang.
Jadi untuk itu, sang bakal calon Raja Bajak Laut itu harus mencari kru. Seseorang yang bisa diandalkannya ketika di kapal. Tak hanya itu, navigasi yang tepat diperlukan untuk melalui lautan ganas dari kawasan Grand Line.
Kadang ada yang menyebutkan frasa seperti ini, "Seseorang tidak semudah itu masuk ke Grand Line."
Itu karena ada ribuan malapetaka yang menunggu para pengelana, bajak laut, bahkan Angkatan Laut sekali pun. Grand Line akan menantang siapa pun bagi yang mencari petualangan dan kebrutalan. Ingat, dunia ini bisa saja kejam, entah itu di darat, atau di lautan. Namun bagaimanapun itu tergantung bagaimana kita menilainya. Sepertinya sang Kapten menilainya seperti sesuatu yang bukan apa-apa.
"Ehhh, waktu tidur yang nyenyak, tak kusangka arus sudah membawaku sejauh ini." Wajahnya tidak memberikan ekspresi yang berarti. Tidak ada kekhawatiran sama sekali.
Surrrr
Luffy melihat kebawah dari perahunya, hanya melihat mimpi buruk pertamanya.
"Wahh, di cuaca indah seperti ini, siapa yang mengira, aku akan dapat musibah?"
Musibah.. Tunggu, musibah?!
Dan memang siapa juga yang menyangka, arus yang perlahan tadi, sebenarnya membawanya mendekat ke pusaran air raksasa!
Tak ada yang menyangka, makanya kita menyebutnya dengan musibah. Sepertinya hanya Luffy yang paling tidak peduli dengan keselamatannya. Dia memang bodoh, pikirannya kosong, atau apa, tak ada yang bisa menjelaskan. Yang dia lakukan hanyalah meracau dibanding dengan harus panik untuk menyelamatkan diri.
"Pusaran air ya? Haduh.." Dia baru saja mengeluh, dan untuk pertama kali di laut, dia mengeluh.
Mungkin melihat dikejauh yang tenang, akan membuat Luffy semakin sadar, bahwa ia akan berada di ujung hidupnya. Tapi dia sama sekali tidak memikirkan apa pun. Dia juga tidak membawa pelampung atau pun rakit karet praktis. Hanya satu gentong kayu kosong, baju dan celana yang ia kenakan, dan topi jeraminya.
"Berenang bukan pilihan! Aku kan tidak bisa berenang!"
"Oh! Disini juga tidak ada siapapun.. kan sayang sekali kalau perahunya akan hancur.." Padahal bukan saatnya untuk mengkhawatirkan perahu. Kenapa keselamatan tidak dipikirkan terlebih dahulu sebelumnya?!
"Benar juga, berenang gak ada gunanya juga. Walaupun aku bisa berenang juga, masuk ke pusaran air kan tidak terhindarkan! Shishishishi.."
Dia terus meracau dan meracau sendiri sampai dia bisa memikirkan cara untuk selamat dari tempat mengerikan itu. Mungkin kalau beberapa orang yang mentalnya lemah akan keluar dari tempat itu sekarang juga, bahkan sebelum menyadari kalau mereka sudah berada di dalam pusaran air itu!
Ngomong-ngomong dia sudah ada sekitar beberapa meter dari pusatnya dan dia belum melakukan apa-apa. Dia masih saja berpikir. Dan tiap saat kecepatannya memutari pusaran itu semakin besar. Momentum akan merusak perahu itu dengan sekali tabrakan kedalam pusat dari perputaran pusaran itu.
"Oh aku tahu.. Waaaa-"
Entahlah bagaimana nasibnya. Dia baru saja masuk ke tempat yang paling menyeramkan di lautan East Blue. Namun pasti akan ada yang lebih menyeramkan di dunia ini, dibanding pusaran setan itu.
Nah sekarang, kita maju beberapa jam kemudian di sebuah pulau kecil yang terpencil tak jauh dari pusaran air itu. Itu merupakan pulau Goat. Dan seseorang telah mengklaim pulau itu. Kalau bukan dari perompak, pasti dia adalah seorang Angkatan Laut.
Akan tetapi, kapal Angkatan Laut harusnya memiliki sesuatu yang seragam. Kapal ini memiliki desain yang aneh. Saking anehnya, dia memiliki haluan kapal yang berbentuk kepala seekor bebek atau entah itu angsa dengan mata yang menggambarkan bentuk hati.
Dibagian badan kapalnya, di sisi kirinya, bagian portside, tertanam meriam standar yang digunakan kapal itu. Mungkin dia memiliki banyak musuh sampai harus memiliki meriam pula di kapalnya.
Oh pantas saja. Ada sebuah Jolly Roger terpampang di ujung tiang kapal.
Dimana ada Jolly Roger, berarti disitu adalah kapal Bajak Laut!
Bentuk Jolly Rogernya sangat menarik. Daripada harus memperlihatkan tampak depan dari tengkorak, dia malah mempertunjukkan bagian sampingnya dengan sebuah lambang hati ada di atas tulang pelipisnya. Tulang panjang yang digambar layaknya huruf X melengkapi bentuk dari Jolly Roger itu.
Beberapa orang ada di East Blue pasti tahu siapa dia. Katanya sih, kaptennya adalah perempuan dan dia adalah orang yang paling cantik. Tapi itu katanya..
Di geladak kapal, tangan seorang perempuan, jarinya secara partikuler menyusuri ujung pegangan kapal. Dia sedang menginspeksi pekerjaan dari bawahannya. Dia mungkin tidak menginginkan kapalnya kotor oleh apapun itu.
Dan benar saja, debu terbang sepertinya menghalangi niatnya untuk mencari lebih banyak kotoran. Dia sudah punya satu kesalahan anak buahnya.
"Kenapa bisa sebanyak ini debunya?!"
Sebenarnya tidak banyak, dia cuma melebih-lebihkan. Tak sejengkal pun itu, dia sudah bilang banyak, wanita yang penuntut.
"Ma-Masalah itu! Aku akan segera membersihkannya lagi!" Terang seorang anak buahnya. "Aku tadi sudah membersihkannya namun aku tidak tahu kalau masih kurang bersih! Aku minta maaf, tolong jangan lakukan itu!"
Itu? Apa yang memangnya menakutkannya?
Mungkin sebuah gada besi besar yang dipegang wanita itu. Dan mengesankan juga wanita bisa memegang bend besar dan berat seperti itu. Dia pasti wanita yang punya kekuatan besar dan super, atau mungkin, mungkin saja..
Tunggu, dia mulai mengayunkannya. Ancang-ancangnya sudah terbentuk.
Namun sebelum mengayunkannya ke anak buahnya yang kerjanya tidak teliti, dia harus mengingatkannya sesuatu. Sesuatu yang penting. Untuk itu ia meminta penegasan dari kawanannya. Yang berambut merah muda dan berbaju putih. Tingginya yang pendek membuatnya terlihat berbeda dari para perompak pada umumnya yang besar, kekar dan mengerikan.
Namanya adalah.. "Coby, tolong katakan, siapa yang paling cantik di lautan ini?"
Perompak cilik itu dengan terpaksa dan berkeringat tidak yakin harus mengatakan kebohongan yang menyedihkan bahwa..
"Dia adalah anda, Alvida-sama!"
Tanpa ragu, dia memberikan ayunan keras yang membuat anak buahnya mendarat dengan kepala terlebih dahulu ke lantai geladak!
Duak!
Dengan percaya dirinya, dia berkata, "Nah, Itu dia! Itulah kenapa aku sangat membenci hal-hal yang kotor!"
Dia membalikkan badannya ke Coby. "Coby, apa kau tidak mau merasakan sakitnya pukulan dari gada besi ini?"
Coby dengan takutnya tertawa dan membalasnya meski takut. "Tidak, Alvida-sama, aku tidak menginginkannya."
"Kalau begitu bagus! Sekarang cepat bersihkan kapal ini, dasar sampah!" Perlukah dia menendangnya sekeras itu? Rasanya tidak perlu. "Satu-satunya alasan kau diperbolehkan berada di atas kapal ini adalah karena kau tahu navigasi!"
Coby menahan tangisannya. Dia tak bisa menangis di depan Alvida, atau air matanya akan jatuh ke atas geladaknya dan membuat marah si gada besi itu.
Oh ya, ternyata tanpa kita sadari kita telah melewatkan gambaran fisik dari Alvida.
Tapi inilah yang sebenarnya. Tak ada rela sebenarnya jika dia dibilang sebagai wanita paling cantik. Karena sebenarnya dia tak lebih dari perempuan yang memiliki berat badan lebih dari 100 kilogram! Rambut ikalnya yang ditutupi oleh topi bajak lautnya memberikan gambaran yang mengerikan. Ditambah dengan wajahnya yang terlihat gempal.
Intinya dia tidak cocok bila dibandingkan sebagai wanita yang paling cantik!
Walaupun kadang orang bilang kecantikan bisa datang dari dalam, namun orang ini tak pantas menyandang kata-kata itu. Kelakuannya yang kasar dan mengerikan tak pantas untuk dibilang demikian. Itu justru menggelikan.
"Cepat bersihkan geladak kapal ini! Aku tidak mau melihat sebutir debu pun disini!"
Anak buahnya, mereka dibebankan tugas tak berguna ini. Mengapa mereka tidak berlayar saja? Bukankah lebih menyenangkan?
"Oh Coby, jangan lupa, nanti bersihkan gudang!"
Coby sambil mengeritkan genggaman tangannya bilang, "Akan aku lakukan!" Namun kedua kalinya, dia nampak muak, "Akan aku lakukan.."
Tak lama, Coby pun menemukan satu buah barel yang dikiranya sake. Barel itu baru saja terdampar di depan pantai pulau Goat. Dan diantara Coby, ada tiga anggota bajak laut Alvida yang sedang membereskan gudangnya.
"Wah beruntung benar ya kita bisa menemukan barel sake ini?!" Kata Peppoko.
"Apa benar, kau menemukannya terdampar?!" Tanya Heppoko.
"Hei, bisa saja ini milik Alvida-sama! Apa yang akan terjadi nantinya!" Seru Poppoko.
"Tapi serius! Aku menemukannya terdampar!" Tegas Coby.
Coby yang menjadi navigator ternyata juga merangkap menjadi anak kabin. Dia yang mengurus segala masalah pergudangan di pulau Goat. Dia nampaknya sekali lagi, terbebani untuk mengurus segala hal ini.
"Betapa beruntungnya kita!"
"Oh ya! Untuk menemukan ini, benar-benar beruntung!"
"Oi oi, memangnya mau diapakan?"
"Heh, ya jelas kita akan minum!"
"Loh, nanti kalau kita ketahuan sama Alvida-sama, bagaimana?"
"Eh, benar juga, nanti siapa yang ingin bertanggung jawab?"
"Tapi selama dia tidak melihat kita, kita akan aman-aman saja. Tentu saja jika kita bisa menjaga ini agar tidak bocor keluar dan ketahuan sama Alvida-sama!"
Heppoko menengok ke Coby untuk memintanya agar diam. Dia berharap hanya dengan tatapan ia bisa membuatnya bungkam. Tapi kata-kata akan menegaskan lebih cepat.
"Coby, kau harus menjaga mulutmu."
"Tak ada hal yang tidak diinginkan disini."
"Ini demi kebaikan kita bersama!"
Isyarat kalau si pendek Coby akan di pukuli sudah dekat, namun Coby memberikan pertahanan.
"Ten-tentu, lagian aku belum melihat apa-apa kok!"
Dan tanpa disangka-sangka. Ternyata itu bukanlah sebuah gentong yang berisi sake. Jelas-jelas itu terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan sake murni. Mungkin isinya bukan sake melainkan sebuah harta karun, tapi itu bisa saja.
Namun sayangnya, itu bukanlah harta karun.
Gruak!
"Waahh! Tidur yang nyenyak!"
"Aku pikir aku akan mati! Ternyata aku terselamatkan! Untung banget ya!"
"Apa-apaan?!" Yah, mereka semua yang melihat hanya bisa kaget.
Oh, ternyata dia adalah protagonis utama dari cerita ini. Siapa sangka dia akan keluar dari dalam gentong sake? Dan bagaimana juga dia bisa berakhir disitu, yang kita tahu dia tadi berakhir di arus berputar yang menyeramkan, seperti layaknya akhir dari hidupnya sudah terlihat. Mungkin ini bukan waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal ke dunia ini.
Ternyata, dimanapun itu, meskipun di gudang tuak, keberuntungan akan selalu ada.
Bagaimana pun juga, dia adalah seorang D..
Heppoko, Peppoko, Poppoko, dan Coby serentak terkejut ketika Luffy keluar dari tempat itu. Gentong itu terlihat seperti kuat sekali dan ditutup dari luar, sehingga tidak ada yang menyangka kalau manusia masuk ke situ. Bisa saja ini modus baru penyelundupan manusia. Karena, dengar-dengar perbudakan merupakan komoditi yang bagus akhir-akhir ini.
"Ba-ba-bagaimana?!" Pikir Coby. Dia bisa saja berada dalam masalah, karena ada orang tak dikenal di tempat Alvida. Ini bisa jadi awal dari kemarahan si gada besi.
Luffy menengok kesana-sini dan menyadari bahwa ia telah selamat dari bahaya yang ia hadapi sebelumnya. Dan dia terus saja tersenyum tanpa pernah memikirkan apa yang telah dia lewati baru saja. Mengerikan sekali kalau dipikirkan juga. Kita yang manusia fana bisa merinding dari menggambarkannya saja.
"Eh? Kalian siapa?" Tanya Luffy kepada tiga bajak laut yang namanya hampir sama.
"KAU YANG SIAPA!?" Hahaha, kalau dipikir memang Luffy ini agak nyeleneh. Karena dia yang menyelinap, kenapa dia harus bertanya. Tapi dia tidak melakukan ini dengan sengaja, jadi itu tidak dihitung sebagai sebuah penyelinap.
"Loh loh, kalian berisik sekali tadi! Padahal tadi itu tidur yang enak dari tadi di perahu!" Bilang Luffy mengoceh.
"Woi! Jangan terlalu berisik, nanti dia dengar!" Bilang Peppoko.
"Ya ya ya, benar juga. Kalau sampai dia salah paham, kita bisa kena masalah besar." Sahut Heppoko.
Poppoko segera menanyakan darimana Luffy berasal, namun tentu saja dengan menuntut secara keras dan kasar!
"Oy, kau kenapa bisa ada disini?!"
Tanpa mereka sadari, sesuatu terbang kearah mereka. Entahlah, benda itu seperti memanjang dan berputar sangat cepat sampai-sampai mata pun tertipu kalau itu bukan semacam piringan yang terbang.
Mereka akan hancur. Karena ternyata itu adalah sebuah gada milik Alvida. Semua anak buahnya tahu kalau satu ayunan saja bisa merusak kapal dengan fatal. Apalagi kalau harus dilempar cepat kearah gudang yang notabene bahan konstruksinya hanya kayu.
Suara lemparan itu, terdengar sangat cepat, sampai-sampai sebelum kita mengetahuinya, dia sudah mendarat di kepala kita. Dan benar saja!
Duar! Pletangtukdas!
Suara tak karuan itu diikuti oleh korban tak bersalah yang bergumam kesakitan. Dan juga diiringi oleh langkah mengerikan dari siluet kapten kapal. Alvida memang memiliki kharisma yang mengerikan dikalangan para pengikutnya. Poko serangkai pun merasakannya merinding, karena auranya sudah terasa sangat kuat!
"Ouch!"
Alvida mengambil kembali gadanya yang tergeletak tak jauh dari Heppoko, Peppoko, dan Poppoko. Alvida nampaknya mengikuti pendengarannya yang mendengar sesuatu tentang tidur. Telinga yang benar-benar sensitif.
"BERHENTI MENGOCEH!"
Alvida berteriak dan mendapat sambutan dari anggotanya dengan langsung berdiri tegak dari rasa sakitnya. Tak ada yang lebih parah dari rasa takut.
"Ka-Kami, tidak mengoceh, Alvida-sama!"
Alis Alvida berdenyut mendengarnya. "Kalau begitu, aku bertanya, siapa yang tercantik dari seluruh lautan?!"
Ketiga anak buah Alvida terpaksa kembali menjawab dengan kebohongan. "I-itu tentu saja anda, Alvida-sama!"
"Lalu," Alvida bukan orang yang paling cantik menurut siapapun, termasuk narator. "Kenapa kau mulai membelot kepadaku?!"
"Ti-tidak, tentu saja tidak!"
"Jangan bohong!" Sayang sekali, Alvida, semua yang dikatakannya kalau benar-benar dilihat hati nuraninya, dia benar-benar berbohong. "Aku tadi mendengarnya! Kau bilang, "tidur yang nyenyak!" Dan aku mendengarnya hingga ke kapal!"
Dia salah dengar rupanya. "EH, itu kan yang bocah itu katakan!" Pikir ketiga bajak laut itu.
"Kami tidak bilang seperti itu, Alvida-sama!"
"Jangan bersikap seolah-olah aku bodoh!"
"Ka-kami tidak mungkin melakukan sesuatu seperti itu!" Balas Peppoko. "Tolong beritahu kapten, Poppoko!"
"Ah! Soal itu, dia be-benar, Alvida-sama!"
Alvida terus saja tak mempercayai anak buahnya. "Kalian memang bersekongkol ya?!"
"Ti-tidak! Itu bukan kami yang berbicara, tapi ada penyusup masuk!" Jelas Peppoko.
"Hmm?!"
"Benar! Coby membawa penyusup itu ke dalam gudang lewat gentong yang ia temukan, Alvida-sama!" Wah, Peppoko yang luar biasa penjilat. Dia rupanya menjual nama Coby seenaknya seperti itu. Benar-benar pengecut. Inikah yang disebut bajak laut?
"Penyusup? Penyusup seperti apa? Mungkin kah dia mencoba menangkapku dan mengambil harga kepalaku? Dasar bocah itu, Coby.." Katanya sambil menyengir kesal.
Kemudian diantara anak buahnya, mereka semua membicarakan kemungkinan seseorang telah lolos dari pengawasan Angkatan Laut Kota Shells.
"Jangan-jangan orang itu adalah.."
Kemudian kawannya memotong kemungkinannya. "Tidak mungkin! Dari berita yang aku dengan, dia masih ditahan oleh Angkatan Laut. Tak ada berita dia kabur!"
Alvida tentu bisa saja merinding, tapi dia harus mempertahankan wibawanya di depan para krunya yang 'setia' bersamanya selama ini.
"Jika benar itu ternyata dia, dia bisa jadi benar-benar kabur. Orang itu memang punya reputasi yang sangat buruk. Semua orang tahu, dan dia orang yang terkenal jahat, si Roronoa Zoro itu." Sebuah gambaran dari dirinya yang tersenyum membuat para anak buah merinding bukan kepalang.
Tapi untuk seseorang yang berurusan dengan Angkatan Laut, dia berarti punya reputasi yang buruk. Meski musuh bajak laut ini adalah Angkatan Laut, mereka belumlah bertemu-tempur dengan kawanan Angkatan Laut.
Ditangkap, bisa kah kabur?
Sedangkan disisi lain dari pulau kecil itu, Luffy terlempar jauh dari dalam barrelnya akibat dari serangan mendadak dari gada Alvida. Dia selamat dari kemarahan sang pemilik gada besi. Meski dia pemakan buah setan, apa dia bisa mengalahkannya, itu masih belum bisa ditentukan. Alvida punya nilai yang tinggi di daerah East Blue ini.
Coby juga ternyata bersama Luffy. Coby dan Luffy tidak tahu yang menyerangnya. Namun mereka dua hanya sederhananya terlempar jauh dari sesutau yang mematikan. Tapi itu bukanlah badai, Coby tahu itu. Dia adalah seorang navigator bagaimana juga.
"Apa kau tidak apa? Kita terlempar cukup jauh juga.." Omongnya sambil mengusap dahinya. Bukanlah hal yang besar.
"Shishishishi.." Tawanya. "Aku cukup terkejut sebenarnya sampai terlempar sejauh itu. Oh ya, aku Luffy, ini dimana ya?"
"Ini pulau Goat, Luffy-san. Disini tempat bersandar dari si gada besi Alvida, dan aku adalah pengurus kapal, aku Coby." Perkenalan diri yang lengkap, bagus sekali.
"Begitukah?" Luffy Keluar dari gentong bekas sake itu. "Aku tidak terlalu peduli, sebenarnya! Hahaha!" Luffy mengatakan dengan benar-benar tidak peduli. Karena dia memang belum tahu berhadapan dengan siapa.
"Oh.. haha.."
"Coby, apa kau punya perahu kecil atau perahu sampan? Perahu milikku sudah hancur ditelan pusaran air, sepertinya." 'Sepertinya' itu terlalu berlebihan, karena memang sudah hancur. Dia masuk kedalam gentong, mungkin itu yang membuatnya berpikir tidak tahu takdir dari perahunya.
"Pu-pusaran air?! Kau terperangkap dalam pusaran air?!" Coby terkejut. Orang sekurus itu ternyata bisa bertahan dalam pusaran air.
"Yap, pusaran air itu benar-benar mengerikan." Cara dia mengatakannya, memberitahu kalau dia tak mengindahkannya.
"O-orang normal, tidak akan dengan mudah seperti itu bisa selamat dari pusaran air, Luffy-san! Mereka bisa langsung mati tahu.." Coby bergetar mendengar ceritanya. "Oh iya, kau meminta sebuah perahu kan? Aku sebenarnya ada, tapi hanya ini yang aku punya.."
Coby kemudian kembali dengan menarik sebuah perahu dengan bentuk yang tak karuan. Banyak paku yang saling tumpang tindih dan kayu yang ditaruh tak beraturan. Sehingga Luffy pun harus bertanya, "Ini apa?"
Namun, Coby tak menyangka kalau Luffy bisa-bisanya menyebut kalau ini adalah sebuah, "Peti Mati?"
Itu kasar sekali, tapi Coby terus berpikir baik. "Ini adalah sebuah perahu yang secara diam-diam aku buat selama dua tahun."
Mendengarnya Luffy merasa kasihan, jadi dia bertanya untuk memastikan. "Kau menghabisakan dua tahun untuk ini? Kau yakin tak ingin tetap memilikinya?"
Memikirkannya membuat Coby berkeringat. "Ambil saja, Luffy-san. Aku sudah tidak membutuhkannya. Karena tadinya aku akan kabur menggunakan perahu ini, tapi memang tak memiliki keberanian sedikitpun untuk itu. Sepertinya aku akan terus menjadi seorang pengurus kabin dan kapal seumur hidupku, meskipun ada sesuatu yang sebenarnya ingin aku lakukan.."
"Kalau begitu, kau harus pergi dari sini!" Celetuk Luffy mendengar penjelasan panjang Coby.
Coby dengan cepat menggelengkan kepala dan menegaskannya kepada Luffy bahwa memikirkan kalau si Alvida mengetahui kalau Coby kabur, dia sudah langsung merasa lembek. Dia benar-benar seperti merasa diteror, dia ketakutan.
"Dulunya padahal aku sedang iseng-iseng memancing, namun tanpa sengaja aku malah masuk ke kapal Alvida. Itu dua tahun lalu, dan hingga sekarang aku terus bekerja sebagai pekerja kabin untuk terus selamat dari genggaman Alvida-sama."
"Wah, sepertinya kau orang yang bodoh dan tak berguna ya!" Bagus sekali, Luffy. Sangat meruntuhkan semangat.
"Dan diatas segala, kau sangat pengecut ya? Aku tidak suka dengan orang sepertimu, hahaha.." Dia masih bisa tertawa setelah mengejek orang.
"Ehe..ehe..ehe...ehe.." Coby memang bermental lemah, dan dia langsung menganggapnya serius. "Tapi, hanya saja aku bisa lebih berani.." Coby mulai berpikir alasan apa yang tepat untuk memberinya semangat akan berlayar.
"Luffy-san, kenapa kau berlayar?"
Sudah sangat jelas bukan? Sebuah pertanyaan yang sangat mainstream untuk orang seperti Luffy. Ambisius juga.
Luffy mengatakan alasannya sambil dengan menunjukkan semua giginya saat tersenyum lebar.
"Aku ingin menjadi seorang Raja Bajak Laut!"
Kalap, Coby tak menyangka seorang kecil dan kurus seperti Luffy memiliki mimpi yang besar. Mimpi yang aneh. Tapi itu bukanlah sebuah impian, namun melainkan itu adalah sebuah determinasi, dan tekad. Tapi mimpi mengawali segalanya. Mimpi setinggi apapun itu, kalau jatuh sakit, jadi buat apa harus punya mimpi yang kecil?
"Eh?! A-a-ap-apa-ap-APA?!"
"Titel 'Raja Bajak Laut' adalah sebuah titel yang hanya dimiliki untuk orang yag memiliki segalanya di dunia ini!"
Menumpukan satu kakinya diatas kakinya yang lain, Luffy mendengarkan Coby dengan hati-hati. Coby akan memulai ocehannya yang luar biasa panjang.
"A-apa kau baru saja mengatakan secara tidak langsung untuk mengatakan bahwa kau mencari hata karun paling hebat!? Umm, One Piece?! Maksudnya One Piece yang itu, yang dibicarakan oleh orang-orang hingga saat ini?!"
"Apa kau mau mati atau semacamnya? Kau masuk ke tempat dimana semuanya sedang mencari sesuatu yang sama Luffy-san! Apa kau tahu semua bajak laut, tak terkecuali, mereka semua mencari One Piece?!"
Luffy membalasnya dengan ringan. "Begitu juga aku!"
Coby menggelengkan kepalanya mendengar Luffy tentang apa yang ia hanya anggap sebagai bualan. "Ti-ti-tidak mungkin! Mustahil! Mustahil itu! Sangat Mustahil! Sama sekali! Sama sekali mustahil!"
"Untuk menjadi seorang Raja Bajak Laut di era seperti ini, era Bajak Laut, sangatlah mustahil! Kau tahu itu dari awal!"
Pletak!
Sebuah pukulan mendarat di ubun-ubun bocah berambut merah muda itu.
"Ouch! Kenapa kau memukulku?!"
"Kau terlalu banyak mengoceh!"
"Eeeh? Heheh tiu sudah biasa, Luffy-san." Pantas saja dia tidak banyak memiliki keberanian. Dia ternyata terlalu banyak berteori, dan itu yang membuatnya gagal dalam ujian praktek.
Luffy memegang topi jeraminya. Shanks memberinya bukan tanpa alasan. Karena dia ingin mencapai puncak adalah alasan ia bisa membawa topi penuh kebanggaan itu.
"Aku tak takut mati."
"EH?"
"Karena itu adalah mimpiku, aku pasti rela untuk mencapainya walau mati memang tak terhindarkan untuk meraih mimpi itu."
Coby merasa Luffy telah memotivasinya untuk sesuatu yang lebih baik. "Resolusi yang luar biasa, bahkan dia tidak keberatan untuk mati mencapai mimpinya.. dia.."
"Disamping itu, aku berpikir aku pasti bisa melakukannya! Meskipun itu akan jadi perjalan yang cukup sulit!"
Air mata menetes dari mata Coby. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu untuk mencapai keinginan sejatinya. Dia kadang merasakan laut sudah memanggil dirinya, namun alasan selalu terpendam jauh dalam ketakutannya.
"Aku tak pernah terpikir seperti itu!...!"
Duduk termenung, dia berpikir untuk meraihnya sekali lagi. Merentangkan tangannya untuk mimpinya yang jauh itu.
"Apa.. Apa menurutmu aku bisa mencapai mimpiku, apa bisa? Jika aku siap untuk mati, apa aku bisa mencapainya?" Air mata berhenti untuk turun ke pipi anak yang sedikit gempal di pipinya itu.
"Apa itu?"
Swoosh...
Angin sepoi mengiringi awal dari tekadnya. "Apa aku bisa? Apa aku bisa menjadi seorang Marinir Angkatan Laut?"
"Seorang Marinir?"
Coby kemudian berteriak. "Aku tahu Luffy-san! Meskipun kita akan menjadi saling bermusuhan satu sama lain, tapi menjadi seorang Marinir dan menangkap orang-orang yang jahat selalu menjadi mimpiku hingga saat ini!"
"Apa aku bisa?!"
Dan sekali lagi kata-kata dalam dari Luffy keluar. "Aku tidak akan tahu soal itu.."
Sekali lagi, ide memang tidak pernah bisa dibunuh! Sekali pun itu menghilang, dia akan kembali dengan ide yang bahkan lebih besar. Seorang bajak laut, ingin menjadi seorang Raja Bajak Laut, dan seorang marinir akan menjadi seorang? Hanya waktu yang bisa jelaskan. Coby belumlah seorang Marinir Angkatan Laut.
"Aku setidaknya harus mencoba! Setidaknya aku harus mati karena mencoba untuk keluar dari sini dan bergabung dengan Angkatan Laut!"
"Dibanding jika harus bertahan disini dan menjadi anak kabin seterusnya sepanjang hidupku! Dan kemudian setidaknya aku akan bisa menangkap orang yang selevel Alvida-sama!"
Luffy tidak bisa berkata-kata sesampai sebuah gada yang melayang menerpa perahu yang-akan-digunakan-untuk-kabur milik Coby menghancurkannya. Dua tahun dibuat, malah hancur tanpa tersisa dan remuk.
"Wah!"
"Siapa yang kau bilang ingin kau tangkap, Coby?!" Dia adalah Alvida. Tirani dalam kekuasaan sebagai seorang bajak laut. Seorang kapten yang benar-benar menekan semua keinginan krunya, tidakkah akan memicu sebuah pemberontakan?
"Perahuku.." Dia kembali ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa ketika Alvida semakin mengintimidasinya.
"Kau pikir, kau bisa? Aku pikir kau tak bisa kabur dariku!" Sebutnya tersenyum jahat.
...
Suasana hening menyelimuti ketika Alvida menengok sosok penyelinap yang tak seperti ia bayangkan. Dia bahkan sangat yakin bahwa dia bukan Roronoa Zoro. Sehingga dia akan terus bersikap sok dan sombong.
"Apa dia yang kau suruh untuk menangkap aku, Coby?" Ternyata dia berpikir kalau penyelinap itu adalah bawahan Coby yang disuruh untuk menangkapnya. Tapi dia salah. "Dia tidak terlihat seperti Roronoa Zoro!" Dia mugnkin bukan Roronoa Zoro, tapi dia akan membuatnya semakin sadar bahwa bukan kecantikan yang patut dibanggakan di lautan ini.
"Tapi ngomong-ngomong, sebelum kau mati, aku mau bertanya sesuatu." Oh ayolah, krunya padahal bukanlah cermin yang bisa berbicara seperti di cerita putri salju dan tujuh kurcaci! "Siapa wanita tercantik diseluruh lautan?"
Coby tertawa gugup, tak sanggup untuk membalas apa yang Alvida katakan. Maka waktunya untuk Luffy membalasnya.
"Siapa wanita kasar ini?"
Itulah Luffy yang mampu membuat Alvida dan krunya bahkan menjatuhkan dagunya. Tak ada yang pernah membelot lebih dari ini, dan itu merupakan kemajuan yang luar biasa dalam sejarah bajak laut Alvida.
"A...A..." Kata-kata tak bisa menggambarkannya. Kemarahan Alvida sudah berada di dekatnya.
Tiga bajak laut pengikut Alvida, Heppoko, Peppoko, dan Poppoko kembali menjilat sang kapten, mencoba mencari muka di depan kaptennya. "Bo-bocah ini! Apa yang dia katakan?!"
"Berani-beraninya!"
Coby, dia berusaha untuk membuat Luffy sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan tirani. Makanya dia meremas kedua bahu Luffy untuk berterik selantang mungkin di depan wajah sang bakal calon Raja Bajak Laut itu.
"Ce-cepat Luffy-san! U-ulangi setelah aku!"
Luffy memperhatikan setiap butir katanya. Rasanya Coby sudah lupa pelajaran hari ini dan harus terus berada di kapal Miss Love Duck selama sisa hidupnya atau sampai Alvida telah mati dan tak mengepalai kapal itu.
"U-u-ulangi! Wanita ini..!"
"Adalah si Jalang paling kasar diseluruh lautan!"
...
Oh wow, dia benar-benar mengatakannya. Entah itu ketidak sengajaan akibat keceplosan atau memang dia sengaja, menantang nyawanya sendiri?
Lagi pula, apa yang sudah dikatakan, tak bisa ditarik. Alvida sudah terlanjur naik pitam. Sedangkan anak buahnya tak bisa berkata banyak. Kalau kapten berbicara, apa yang bisa anggota bantahkan? Tak punya tempat untuk mereka.
"Aaaaa..." Dia bergetar sejadinya. Apa yang dia tunggu akan memang menjadi sedikit horor. Yah, tapi itu hanya sedikit!
"Si-si-sial, sudah terucap! Aku harus rela!" Dia nampaknya sudah rela lahir batin.
Gada besi itu layaknya manifestasi kemarahan Alvida. Semua cemoohan dari Luffy dan Coby telah berkumpul dalam padatnya besi. Melihat hal ini, Luffy tak bisa tinggal diam. Dia tak suka melihat orang yang menyebalkan. Terakhir yang menyebalkan buat dia adalah si Higuma.
"Bocah brengsek!"
Luffy tertawa lebar hingga Alvida mulai mengayunkan gada besinya. "AHAHAHAHAHAHAHA, sangat bagus Coby!"
"Aku tidak boleh menyesalinya!"
Ini waktu heroik untuk sang protagonis. "Nah, Coby, menjauh dari sini!" Luffy menggesernya menjauh dari pukulan Alvida.
"Kalian berdua harus mati!"
Hanya jika Luffy seorang manusia biasa, dia akan langsung layaknya seperti sebuah paku. Tertancap dalam tanah, namun tentu saja tidak. Seorang Logia, tidak akan bisa dipukul semudah itu. Menyentuh saja akan sulit, bagaimana kalau harus membunuhnya..
Deg...
"Heh.." Dengus Luffy. "Kau pikir, kau bisa menyentuhku? Terlalu cepat untuk membunuhku.."
Gada itu sudah berhenti tepat di atas kepala Luffy. Layaknya sebuah sesuatu yang ringan, dia bisa menghentikannya secara mudah. Dan dia benar-benar menyentuhnya dengan mudah. Kenapa?
Karena dia adalah petir. Apa yang bisa petir dapatkan ketika dia terpukul oleh besi semacam itu? Apakah dia akan menimbulkan sebuah luaka besar yang menyakitkan? Tidak. Tidak ada yang semacam itu akan terjadi kepada petir.
Krsst..
Krsst..
Persilahkan saya untuk menjelaskan. Luffy adalah pemakan Buah Setan tipe Logia. Membuatnya dapat memadat dan berdisipasi menjadi elemen berdasarkan Buah Setan yang dimakannya. Karena dia memakan Buah Goro-Goro, dalam bahasa lain, dia sekarang berubah menjadi manusia petir!
Ketika dipukul, ditusuk atau pun di celakakan dalam bentuk apapun, dia akan tetap hidup, karena dia dapat menjelma menjadi bentuk petir. Petir yang dapat menjelma menjadi listrik, dapat mengindar dari serangan serangan yang sifatnya konduktor terhadap listrik, karena dia secara pasti dia menguasai penghantar listrik itu, akibat dia adalah listrik.
Besi adalah tempat dimana dapat mengalirnya aliran listrik. Jadi dia dan besi adalah hal yang sejalan, membuatnya tak tersentuh oleh kebanyakan benda yang dapat mengalirkan listrik.
"Urk...!?"
"Di-dia?!"
"Seorang pemakan buah setan?!"
"Ti-tidak mungkin!"
"Coba lihat! Dari tangannya keluar listrik!"
"Logia-kah? Atau Paramecia?!"
"...Ta-tamatlah.. kita.."
Coby bahkan terkaget melihat Luffy yang dapat semudah itu menghentikan pukulan Alvida dengan satu sentuhan kecil dari kepalanya yang bermuatan banyak sekali listrik. Layaknya bunga listrik yang berderik-derik, dia terus membuat gada itu tak bergerak karena aliran listriknya.
"Lu-Lu-Luffy-san?!"
Luffy membalas pukulan Alvida. "Lihat? Besi, emas, perak, semuanya tak akan mempan terhadapku. Aku adalah petir!"
"Goro Goro no..."
Ancang-ancang yang baik untuk memulainya. Tangannya siap berputar untuk menambah rasa sakit yang bisa Alvida rasakan.
"Tidak!"
Luffy menarik gada besar itu sehingga memungkinkan Alvida untuk tertarik kearah Luffy. Disitu wajah Alvida semakin mendekati genggaman tangan kuat dari Luffy. Sekarang dia harus berpikir dua kali kepada siapa dia harus bertanya.
"Rai...Ken...!"
Bleggar!
Suara gemuruh petir mengiringi saat ketika tonjokkannya mendarat di pipi sang bajak laut wanita paling mahal di East Blue saat itu. Selain nilai buronannya yang seharga 6 juta beri, tak ada lagi yang bisa dan perlu untuk digembar-gemborkan.
Dan untungnya Luffy tak pernah membanding-bandingkan beda gender. Dia akan memberi pukulan yang sama untuk perempuan dan laki-laki. Mereka adalah bajak laut, berarti mereka siap dengan segala musuh dan tantangna yang akan dilaluinya.
Luffy membuatnya terkapar. Pukulan yang dibumbui dengan petir itu, seharusnya dapat membuat wajahnya gosong atau terbakar. Itu adalah petir mau bagaimana pun juga. dan jika petir berbentuk pukulan, siapa pula yang akan mau menerima pukulan itu.
Ya, itu adalah Goro Goro no Raiken atau dalam bahasa lain adalah 'Tinju Petir'. Sebuah gerakan yang akan menjadi keistimewaannya. Tinju petirnya dapat menjadi sebuah nama julukan, tapi dia lebih mencolok dengan tampilannya yang memakai topi jerami itu.
Dan situasi membawa ke suasana keheningan.
Dia membuat kehebohan luar biasa diantara kru Alvida. Terang saja, dia bisa melempar wanita berbadan besar itu sejauh enam kaki! Siapa yang bisa menyangka, orang sekurus itu yang bukan pemburu bajak laut punya kehebatan mengalahkan seorang kapten.
Coby pun tidak. Dia terus terkaget dan mengeluarkan air mata karena ketakutan!
"Ta-ta-tangannya, mengeluarkan petir?!"
"Alvida-ssssama dikalahkan.. oleh monster itu!"
Menghadapi sang kapten saja tidak berani, bagaimana jika menghadapi orang yang mengalahkan kapten? Semua kru ini harus benar-benar dibentuk mentalnya. Kru yang setia tidak tinggal diam atau bercakap saja kalau kaptennya dilecehkan seperti ini.
Luffy menunjuk ke salah satu kru dari Alvida, "Hei! Siapkan perahu untuk Coby! Dia akan bergabung dengan Angkatan Laut! Jadi jangan halangi jalannya!"
Meringis ketakutan, mereka menganggukkan kepala dan setuju akan permintaan dari Luffy. Mereka sudah kalah, tak ada makna lagi untuk harus menumbangkannya.
"Shishishishi!"
Luffy entah kenapa masih tertawa. Dia mendapat perahu gratis, itu yang lebih baik. Sedangkan Coby masih bertanya-tanya.
"Fakta bahwa kau makan buah Petir itu mencengangkan, Luffy-san!" Cetusnya. Dia bahkan ditawari untuk melihat apa yang bisa dilakukannya, tapi menyadari dia akan jadi musuh suatu hari nanti, dia harus menjaga jaraknya.
Sang pejuang kita duduk di atas haluan, selalu melihat ke arah cakrawala. Yang mereka dapatkan perahu yang lumayan. Perahu itu memilihi layar yang apik. Itu setidaknya memudahkan mereka untuk tidak membuang energi. Basis Marinir Angkatan Laut terdekat ada di Kota Shells.
"...Tapi Luffy-san..." Dia masih memakai embel-embel itu bahkan setelah kejadian itu. "...Kalau kau mau mencari 'One Piece', kau harus pergi ke Grand Line, kan?!"
"Yep!"
"Oh ya ampun, tempat itu kan sering disebut sebagai kuburan bajak laut!"
"Itulah mengapa aku butuh kru yang kuat-kuat semua!"
Luffy masih menyambungnya. "Dan salah satunya kini sedang ditahan di kota yang akan kita kunjungi sekarang, Coby."
"Ah!" Seru Coby. "Maksudmu, Roronoa Zoro?! Pemburu Bajak Laut?!"
Tak ada yang bisa menyangka seorang bajak laut punya maksud untuk merekrut orang yang memburu dirinya.
"Maa, Coby.. Kalau ternyata dia orang yang baik, aku baru akan merekrut dia!" Selalu berpikir positif seperti biasa, Luffy yang polos.
"Apaaaa?! Kau mulai mengigau lagi, Luffy-san! Dia itu monster! Kau tak bisa merekrutnya!" Teriaknya.
"Kita kan tidak bisa yakin soal itu!" Kembali lagi, berpikir positif. Prasangka baik memang harus dikedepankan terlebih dahulu, tapi akan agak berlebihan kalau harus berprasangka baik kepada orang yang punya reputasi jelek!
"Tapi, Coby, monster..?" Tanyanya.
"Ya Luffy-san! Dia disebut pemburu bajak laut, dan mengerikan!" Coby belum pernah bertemu dengannya. Yang dia dengar hanyalah kabar burung. "Rumornya, dia seperti anjing yang haus darah! Dia berlayar dilautan untuk memburu para buronan. Dia adalah perwujudan manusia dari monster!"
"Oh ya?"
"Un! Jadi batalkan rencana untuk merekrutnya!"
Kembali, Luffy masih berencana merekrutnya, namun dia masih bergantung pada premis-premis tertentu. Karena mau bagaimana juga, orang akan menjadi kru pertamanya akan menjadi orang paling dia percayakan dalam setiap keadaan.
Seorang first mate adalah kru yang bertugas sebagai wakil kapten. Ketika kapten berada disituasi terdesak dan tak memungkinkan untuk memimpin kapal, maka disitulah wakil kapten mulai mengasumsikan kursi kapten untuk dirinya sementara.
"Kan aku sudah bilang, kalau dia orang baik, aku akan merekrutnya! Aku belum benar-benar niat.." Bilangnya.
"Apalagi seperti itu! Kalau ditangkap sama Marinir Angkatan Laut, berarti dia jahat!" Nah, baru itu silogisme yang benar!
Ngomong-ngomong, mereka sekarang berada di perahu layar kecil itu untuk menuju basis Marinir terdekat. Ini salah satu cara agar Coby bisa masuk Marinir. Luffy tak bisa meninggalkannya sendiri di pulau Goat dan kembali mengurusi Miss Love Duck.
Dan setelah beberapa lama mereka berada di perahu layar kecil, mereka sampai di kota Shells. Nampaknya, kota itu terlihat cukup sederhana, namun lebih berkembang dibandingkan dengan desa Fuusha.
Dermaga kota Shells cukup untuk menyandarkan sebuah Galleon besar. Semenjak kebanyakan kapal Angkatan Laut ukurannya hampir mendekati Galleon. Dan tentu, karena itu merupakan syarat dasar untuk membuat markas Marinir di sebuah pulau.
Di kota Shells ini, markas Marinir terlihat jelas dari dermaga. Dermaga itu sendiri langsung terhubung ke jalan raya akses untuk menuju markasnya. Dan markas Marinirnya sendiri pun cukup lumayan besar. Bentuk silinder kerucut dihiasi dengan lambang camar Angkatan Laut.
"Yosha! Sampai juga yah! Akhirnya kita sampai di markas Marinir! Kau hebat Coby!"
"Ha?"
"Iya, aku gak percaya, kita benar-benar sampai ke tempat tujuan kita!"
Wah, kapten yang payah dalam masalah navigasi ini harus cepat dalam mencari seorang navigator. Atau setidaknya belajar sedikit tentang navigasi. Orang seperti ini bisa tersesat terlebih dahulu bahkan sebelum mencapai Grand Line!
"Tentu saja! Ini dasar dari navigasi!" Nampaknya suara perut Luffy membuatnya tak mendengar nasihat Coby. "Kalau kau terus terusnya mengalor-ngidul di laut, kau tidak akan pernah menjadi bajak laut, Luffy-san!"
"Oke.. ayo kita makan..!" Benar saja. Makan selalu berada di prioritas nomor satu. Sungguh otak yang sederhana.
Beberapa saat kemudian di restoran di tengah kota..
"Fuuuh... Kenyangnya..."
"Ya, enak juga makanannya, hahahaha!" Enak tidak cukup, dia butuh kenyang. Seperti dia punya perut ada ratusan dan itu tidak pernah habis. Makanan satu piring sederhana saja tidak akan memenuhi perut orang ini.
"Nah Coby, kita akan berpisah disini. Kau harus baik-baik menjadi Marinirnya ya!" Dia siap membayar dan pergi.
"Tentu! Kau juga, jadilah bajak laut yang hebat, Luffy-san!" Bocah cengeng, masih saja berdesak menangis. "Meskipun kita akan jadi musuh!"
Nah, tapi masalahnya, Luffy masih mencari si pemburu itu. Dia mungkin masih membutuhkan bantuan Coby agar tak tersesat. "Oh ya, aku sempat berpikir, apa si Zoro itu masih ditahan ya?"
Dan tiba-tiba suasana satu restoran pun terkejut.
Waa!
Waa!
Layaknya mereka semua terkejut dan meja mereka pun ikut terhentak kaget. Sepertinya semua orang menghindari penyebutan nama orang-yang-dibilang-pemburu-bajak-laut itu. Reputasinya mungkin sudah cukup buruk di mata para penduduk!
Melihat ini, Coby berbisik. "Kita tak bisa menyebut nama Zoro seenaknya disini, Luffy-san.."
"Oh.." Tapi itu belum tentu dia mengerti.
"Oh ya sebelumnya, aku juga tahu kalau disini, yang bertugas sebagai komandan , kabarnya bernama Letnan Morgan. Tadi aku lihat di selebaran sepanjang jalan."
Waa!
Waa!
Restoran yang cukup aneh. Setiap kedua nama yang nampaknya tersohor itu, membuat seisi restoran kaget entah kenapa. Coby dan Luffy memiringkan kepala terbesit bingung. Seperti layaknya kedua orang itu punya reputasi yang ditakuti, padahal Morgan adalah seorang Letnan Marinir.
Sesaat di keramaian jalan, Luffy masih tertawa. Dia masih tak mengerti apa yang terjadi, tapi itu lucu. Dan katanya sih, 'menarik.'
"Restoran yang sangat menarik! Hahaha, sewaktu-waktu aku harus pergi kesana lagi deh kayaknya!" Dia tertawa terbahak menahan rasa geli tertawa diperutnya. Ini tidak seperti kotak tertawanya akan habis atau semacamnya.
Coby, yang punya pemikiran tak sesederhana Luffy, tahu ini bukanlah saatnya tertawa. Dia memiliki firasat yang tidak enak. "Oi oi, Luffy-san! Sepertinya ada yang tidak beres, perasaanku tidak enak.."
"Aku bisa mengerti kenapa mereka kaget tentang Roronoa Zoro. Mereka pasti khawatir jika dia kabur dari genggaman Marinir. Akan tetapi, aku malah bingung ketika mereka kaget waktu aku bilang soal komandan di markas Marinir ini.."
"Maa, Coby.. Mungkin saja si Letnan itu melakukan sesuatu yang buruk!" Implikasi yang sederhana..
"Mustahil!"
"Siapa tahu, ya kan?" Siapa tahu itu seperti ada ribuan contoh yang buruk seperti Letnan Morgan kalau memang benar dia ditakuti. Tapi seorang pembawa keadilan tak pantas ditakuti, mereka tidak boleh ditakuti, tapi harus dihormati.
Ya, itu sih masalah penilaian orang terhadap mereka.
Markas Marinir mungkin membuat orang-orang ini lebih tenang, semenjak proteksi dan penjagaan diperlukan di era bajak laut. Jumlah bajak laut yang bertambah seiring waktu, membuat petinggi Angkatan Laut bahkan harus menambah pos penjagaan.
Oh ya, Raja Bajak Laut lah yang memulai semua ini..
Tak lama di depan basis Marinir di kota Shells, mereka akan berjalan berlawanan arah. Coby akan mendaftar di Korps Marinir Angkatan Laut, dan Luffy akan mencari Zoro. Keduanya berhenti di gerbang yang membatasi area militer dengan area sipil.
Gerbangnya nampak sarat dengan besi. Ini membantu jika sewaktu-waktu terjadi pengepungan. Lambang camar jelas terlihat dan tulisan 'Marine' menghiasi gerbang besi itu. Dan dinding bata yang bertumpuk dicor sedemikian rupa agar kuat dan menahan setiap gempuran yang bisa membolongi pertahanan garis depan. Tinggi pagar itu mungkin sekitar dua meter setengah.
Beberapa buah meriam bersandar diatas gedung markas. Semuanya menyediakan payung sebelum hujan. Meskipun kota Shells ini kota kecil, namun semua harus siap dengan kemungkinan terburuk. Pola garis biru tua menutupi cat biru muda gedung kerucut silinder itu.
"Jadi ini, markasnya? Bangunannya aneh juga.." Sebut Luffy. "Nah, cobalah masuk kesana, coba mendaftar!" Lanjutnya.
"Tapi aku belum siap... Luffy-san. Insiden di restoran itu membuatku sedikit terkejut soalnya!" Itu terdengar lebih criminal kalau Coby menyebutya sebagai insiden.
Menjadi bajak laut, pasti akan membuat insiden, tapi tidak untuk calon pengaju aplikasi militer. Nama bersih sangat diperlukan untuk menjaga nama baik institusi itu juga.
Namun nampaknya, Luffy tak peduli. Dia masih terpaku pada tujuannya untuk mencari kru pertamanya. Seseorang yang hebat setidaknya harus menjadi pendamping perjalanan si Topi Jerami dalam mencari One Piece.
"Ah, Luffy-san!"
Luffy masih menjaga tabiatnya keluar batas. Tidak pernah mendengarkan orang bicara adalah hal yang buruk.
"Monster~ Dimana.. Dimana kau Monster?" Dia memanjat pagar beton Angkatan Laut untuk mencari orang yang katanya ditahan. Dan sepertinya dia sudah menemukannya.
"Oh! Sepertinya aku melihatnya!"
"Tidak semudah itu kau menemukannya Luffy-san! Mungkin dia kini sudah ditahan di penjara atau disuatu tempat rahasia. Kau kan belum pernah melihatnya, mungkin dia bukan Roronoa Zoro!"
"Tapi aku punya perasaan kalau yang tadi aku lihat adalah Zoro!"
"Eh?" Apa daya anak ini yang masih bergantung pada orang ini. Untuk sementara waktu dia masih harus mengikutinya hingga akhirnya dia siap.
Luffy berputar kesisi lain dari dinding untuk melihat seseorang yang ia percayai sebagai Zoro.
Kembali, ia memanjat dinding rendah itu. Luffy melihatnya masih dengan santai. Senyumnya tak pernah hilang dari sikap positifnya. Dia menganggap remeh orang seperti Zoro.
"Lihatlah, Coby!"
Coby tak menyangka bisa hidup untuk melihatnya. Aura yang terasa jahat dan mengintimidasi siapapun yang berjiwa lemah. Terlihat mengerikan meskipun nampak tak berdaya dalam keadaan terikat pada salib kayu.
Siapa bisa menyangka, dia memang seseorang yang dikenal mengerikan untuk para bajak laut kelas teri di East Blue. Untuk orang yang mengerikan ini, mereka semua bahkan dengan kekuatan yang dikombinasikan, mungkin akan kalah. Keberadaannya saja mungkin akan menaikkan bulu kuduk tiap orang yang berpapas mata dengannya.
Coby, sadar dia menatap pada macan yang dikurung..
Bruk!
Dia mudah saja tersungkur jatuh. Dia memang bermental lemah, belum terbembang dengan baik.
"Di..Di..Dia.. tidak salah lagi! Perawakan itu, gaya berpakaiannya! Tidak salah lagi!"
"Kenapa Coby?"
"Itu adalah si pemburu bajak laut itu sendiri! Roronoa Zoro!"
Dan ternyata memang benar. Itu adalah mimpi buruk bajak laut East Blue. Untuk orang yang perawakannya sedang, dia memang sangat mengintimidasi dan mengerikan. Ikat kepala hitam yang melindungi kepalanya semakin menambah deskripsi menyeramkan dari Zoro, seperti tak ada alis dan membiarkan bayangan terbentuk disekitar matanya. Seperti ada pancaran mata yang keluar dari kedua irisnya.
Dia juga membiarkan sebuah Haramaki bersandar diperutnya yang diikat ke kanan. Penampilan yang sederhana menunjukkan bahwa dia bukan orang macam-macam. Semua bekas luka dan darah yang sedikit-sedikit masih mengucur, memperlihatkan bekas-bekas interogasi yang berlebihan, padahal dia dibiarkan tersalib di luar gedung penahanan.
Ini penampakan yang aneh, tapi untuk apa seorang pemburu bajak laut ditahan? Bukankah mereka membantu mengelap pantat Angkatan Laut yang terlanjur kotor? Atau memang Angkatan Laut adalah organisasi penjilat dan egois tanpa memperhatikan balas budi? Entahlah..
"Jadi, dia Zoro ya? Heh, mereka mengikatnya payah sekali. Nampak mudah untuk aku bebaskan! Shishishishi.." Bilang Luffy tertawa.
"Ja-jangan bercanda! Kalau kau lepaskan dia, dia bisa membuat onar di kota dan bahkan bisa membunuhmu!"
"Hey kalian!"
Oh, si pemburu mendengarnya.
"EH?!"
"Ada apa?"
"Jangan merespon, Luffy-san!" Bisik Coby.
Menyeringai, Zoro menyahutnya. "Tolong, bisakah kau kemari dan bantu aku melepaskan ikatan ini? Aku sudah diikat sembilan hari dan aku kelelahan.."
"Lihat Coby, dia tersenyum!"
"Itu menyeringai, bukan tersenyum!" Balas Coby khawatir. "Dia..Dia bahkan berbicara!"
"Heh, kalau kau melepaskanku, aku akan membayar kebaikanmu. Aku akan mencarikan buronan untuk kalian.."
Siapa yang akan percaya pada kata-katanya?
"Luffy-san! Jangan lakukan! Dia bisa saja membodohimu! Jika kau melepaskannya, dia akan membunuh kita dan kabur!" Bilang Coby. Memang taka ada alasan yang baik untuk mempercayai seorang yang dianggap kriminal.
"Maa.. Tenang saja! Dia tidak akan bisa membunuhku.."
Coby kehilangan semangatnya untuk menahan Luffy. Tak ada ide lagi yang bisa dikatakan untuk menghalau si Topi Jerami ini.
"Karena aku kuat, dia tidak akan bisa membunuhku!"
"Sudah ku duga.. dia benar-benar tak punya harapan.." Pikir Coby.
Diluar kesadaran mereka, ternyata ada sebuah tangga yang bersandar di samping Coby. Entah saiapa yang menaruhnya disitu, tapi seseorang dengan postur badan kecil ingin naik ke atas pagar itu.
Dan siapa yang akan menyangka bahwa dia adalah seorang anak perempuan kecil yang membawa kantung plastik kecil. Dia memberikan gestur tangan yang menyuruh kedua orang itu untuk tidak berisik. Motif anak ini masih belum diketahui hingga akhirnya dia mengeluarkan makanan yang ditaruhnya di dalam kantung plastik itu.
"Tu-tunggu! Bahaya! Jangan kesitu!" Teriak Coby.
Anak itu tak peduli dan terus mendekati salib Zoro. Ternyata kejantanan kedua orang yang sedang memperhatikan Zoro patut dipertanyakan, karena seorang anak kecil saja jauh lebih berani mendekatinya.
"Hey, apa yang kau lakukan disini?!" Tanya Zoro menatap tajam anak kecil itu.
Coby disatu sisi meminta Luffy untuk menghentikan anak itu. "Hey, hentikan anak itu, Luffy-san!"
"Enggak ah.. kau saja sana.."
"Tak berperasaan.. sungguh tak ada harapan.." Pikir Coby lemas.
Zoro kembali bersikeras untuk menggertak anak itu. "Kau mau mati atau semacamnya kah?! Pergi sana!"
"Um, kak.. aku membuat beberapa nasi kepal! Apa kakak mau beberapa? Aku tahu kakak sudah tidak makan untuk waktu yang lama kan?" Tanya anak itu polos. Dia masih tidak tahu mungkin kalau memang Zoro adalah iblis.
"Ini pertama kalinya aku membuat nasi ini loh.." Lanjut anak itu.
Berteriak, Zoro membalas. "Aku tidak lapar! Enyahlah!"
"Tapi.."
"Tidak ada tapi! Cepat pergi sebelum aku membunuhmu!"
Krieet
Pintu gerbang pun terbuka.
"Roronoa Zoro!" Sahutnya. "Jangan kau mengganggu anak kecil!" Entah perasaan narator atau bukan, namun nadanya sedikit sarkastik. "Atau kau akan aku laporkan ke ayah ku!"
Jika bukan orang itu siapa lagi. Ya, dia adalah anak yang super manja. Sikapnya yang menyebalkan dan pelapor membuatnya sebagai anak yang diagungkan oleh penduduk kota, karena dia adalah anak dari pemimpin markas Marinir itu.
Dia adalah Helmeppo. Orang aneh dengan rambut pirang yang dibuat bergaya bob. Wajahnya yang menganehkan saja sudah menggelikan, bagaimana dengan potongan rambutnya yang menggelikan itu. Dan siapa sangka juga dia adalah anak dari kepala Marinir di tempat itu.
Dari gaya berpakaiannya saja sudah tahu kita bahwa memang dia punya selera fashion yang jelek. Seolah artis, dia memakainya dengan bangga, ditambah dengan kalung emasnya. Kenapa tidak ada yang mengomentari mode yang buruk ini? Haha, mungkin disana sedang menjadi trend..
"Oh, ada orang aneh datang.." Sebut Luffy mengamini narator.
"Dia mungkin orang yang penting di kalangan Marinir, syukurlah, dia sudah aman sekarang.." Balas Coby.
Zoro di lain pihak mendecitkan dengusannya. "Tch.. Siapa lagi kalau bukan anak brengsek si Letnan.."
Helmeppo membalasnya. "Brengsek? Jangan terlalu tinggi hati, Roronoa. Ayahku adalah seorang Letnan Marinir!"
Melihat ada anak kecil di dekatnya, Helmeppo ingin menggodanya. Benar-benar anak yang iseng. "Halo anak kecil, kayaknya makanan ini enak juga.."
Dia mengambil satu nasi kepalnya. Dia berharap makanan itu benar-benar enak. Tapi apa yang enak dari makanan anak berumur yang mungkin belum sampai delapan tahun? Asumsi anak itu pasti banyak sekali.
"Hei, jangan! Ini buat kakak yang disitu.." Sahutnya bertahan, tapi apa daya.. yang dilawannya anak-anak namun sudah dewasa tapi manja.
Dan.. 1.. 2.. 3..
"Blergh! Apa ini?! Kau terlalu banyak memasukkan gula! Harusnya kau masukkan garam! Bukan gula! Ini untuk referensi kedepan!" Sebutnya terus mengolok-olok makanan dari si anak kecil.
"Tapi.. Tapi aku pikir akan lebih enak kalau rasanya manis.."
"Bagaimana kau bisa makan sampah seperti ini! Sial!" Lanjut Helmeppo sambil mengambil semua nasi kepal dan melemparnya ke tanah seraya menginjak-injaknya hingga menyatu dengan tanah.
Ini bukti kalau dia bukan Marinir. Seorang Marinir akan menghargai makanan. Karena mereka punya beberapa slogan kalau kita harus makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Artinya, makanan yang kau dapat haruslah disyukuri bukan dibuang-buang.
"Ah! Hentikan! Kalau seperti ini.. Kakak itu tidak bisa makan..!"
Coby pun merasa kasihan, namun tidak bisa berbuat banyak. "Itu.. Itu kasar sekali! Dia padahal sudah berusaha keras untuk membuatnya!"
Tertawa ironis, Helmeppo merespon. "Hahahaha, Jangan terlalu bersedih ya adik kecil.. semut pasti akan memakannya sampai habis!"
Masih menginjak-injak, anak itu berusaha menahan tangisannya. Rasanya greget sekali melihat Helmeppo, tapi kembali lagi, dia hanya anak kecil.
"...Ja.. Jahat! Aku benar-benar... berusaha keras... untuk... untuk membuatnya..."
"Haduh-haduh, jangan menangis! Ini mangapa aku sangat benci anak-anak!"
Helmeppo kembali mengoceh. "Lagian, ini salahmu tahu? Disini kan ada tulisan, bisa baca gak? 'Siapapun yang membantu tahanan akan diganjar dengan hukuman yang sama. Tertanda Letnan Morgan'" Jelasnya. "Dan kau tahu bagaimana mengerikannya ayahku kan? Kau akan dapat hukuman mati kalau kau dewasa."
Anak itu masih menahan isaknya, meskipun air mata terlanjur mengalir.
Kedua Marinir yang dibelakangnya juga tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat dan menyaksikan kesewenangan dari anak sang Letnan.
"Hei hei, coba tolong lempar anak ini keluar dari sini!" Perintahnya ke salah satu Marinir.
"Hah?"
Helmeppo menarik kerah baju Marinir itu. 'Hah' adalah kata yang tidak bisa diterima dengan enak. Itu salah satu bentuk pembangkangan sebenarnya.
"Apa? 'Hah' katamu?! Aku memerintahkanmu untuk melempar anak ini! Apa kau mencoba untuk melawan perintahku?! Akan ku panggil ayahku jika kau mencoba melawan!"
Sang Marinir berkeringat dingin. Helmeppo telah memberinya ultimatum. Jika tidak dilakukan, maka dia akan menerima kemurkaan dari si Letnan sendiri. Tapi, sebenarnya, siapa Letnan ini? Pangkatnya saja tidak lebih tinggi dari Kapten, tapi sepertinya pengaruhnya sudah luar biasa.
"I-Iya!"
"Waaaaaaaaaaa!"
Anak kecil itu benar-benar dilemparnya keluar dari area. Tak menyangka seorang Marinir bisa melakukan hal semacam ini. Bukankah ini terlihat keterlaluan dan berlebihan? Tapi para Marinir ada benarnya. Karena anak itu sudah berada di lingkungan militer. Menerobos masuk begitu saja adalah pelanggaran. Semuanya juga bekerja seperti itu aturannya.
Anak itu nampaknya terjun tepat didekapan Luffy. Seorang Manusia Petir yang dinamis harusnya memang bisa tanggap seperti itu.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Coby. "Si Bangsat itu..."
Luffy diam saja, tak mengomentari apapun.
"Oh.. aku tak berpikir kau bisa seteguh ini! Aku akan terus membuatmu seperti ini selama satu bulan penuh kan lagi pula.." Sebut Helmeppo.
"Sebaiknya kau camkan taruhan itu.." Balas Zoro tak berdaya.
"Hahaha.." Dia mulai menjauh dari lapangan itu diikuti dua personil Marinir. "Tentu, aku akan menjaga taruhannya. Aku kan sudah bilang, kalau kau memang bisa bertahan, kau akan bebas kan? Santai saja.."
"Hmm, jadi kau belum pergi juga ya.." Sebut Zoro. "Sebaiknya kau pergi, atau dia akan memanggil ayahnya."
"Begitukah?" Tanyanya tak tertarik. "Aku mencari orang yang akan aku ajak masuk ke kru bajak lautku."
"Bajak laut? Bah.. jadi kau melepaskan hidupmu untuk menjadi seorang bajing loncat ya?"
"Bajing loncat? Apa itu? Tapi bagaimanapun juga, itu adalah mimpiku, tak ada yang salah jika menjadi seorang bajak laut!"
"Jangan bilang, kau akan melepasku dan membuatku harus masuk ke dalam krumu itu.."
"Aku belum benar-benar niat dan berpikiran untuk merekrutmu, karena kebanyakan orang berpikir kau orang yang jahat.." Apa bedanya dengan bajak laut? Bukannya mereka juga penjahat? Tidak.. kriminal?
"Orang jahat ya? Heh, jangan sembarangan. Lagi pula aku tidak akan bergabung denganmu, karena ada masalah yang harus aku selesaikan. Aku bahkan bisa bertahan kalau kau tak mau membantuku pun, aku hanya perlu bertahan selama seminggu. Anak brengsek itu akan melepasku kalau aku bisa bertahan selama itu.."
"Aku.. Aku akan melakukan apapun untuk tetap hidup, karena aku akan memenuhi impianku!" Lanjutnya dengan semangat.
"Wah... benarkah? Kalau aku jadi kau mungkin aku akan mati dalam satu minggu karena kelaparan!" Balas Luffy yang keluar dari topik pembicaraan. Otaknya telah diisi hanya makanan dan makanan.
"Makanya kita berbeda, sekarang pergilah.. cari orang lain yang mau bergabung denganmu..!"
Luffy mengamini si Zoro. Dia akan pergi untuk mencari orang yang mau, karena memaksa adalah bukan hal yang diperlukan untuk mencapai puncak. Untuk menemukan orang bisa dipercaya adalah prioritas karena mereka punya nilai yang tinggi selain harus menjadi kru yang terpaksa mengikuti kaptennya.
Tapi tunggu, takdir akan berkata lain..
"Tunggu!" Panggil Zoro.
"Hah?"
"Tolong ambilkan yang tercecer di tanah itu.." Zoro menggesturkan kepalanya untuk menunjuk makanan yang sudah rusak itu.
"Kenapa? Kau mau makan yang sudah terinjak-injak ini?" Luffy mengambilnya sesuai permintaan Zoro. "Padahal nasi ini sudah berlumpur loh, yah tapi kalau kau lapar, kau gak bisa pilih-pilih makanan kan?"
"Diam, sekarang cepat masukkan ke dalam mulutku, biarkan aku memakan semuanya!" Yap, dia benar-benar niat. Bahkan mulutnya sudah terbuka lebar.
Dan bahkan ketika bola-bola lumpur itu masuk kedalam mulutnya, yang ia rasa hanyalah rasa pahit. Tak ada yang lebih dari rasa itu. Namun setidaknya dia makan, itu baik untuk mempertahankan keasaman lambungnya. Orang normal mungkin akan mati karena tergerus lambungnya.
"Wah, kau memang mau membunuh dirimu sendiri ya?"
Zoro kemudian membalasnya bergetar. "Bilang ke anak kecil tadi sesuai yang aku bilang, 'makanannya enak sekali, terima kasih atas makanannya.'"
"Heh.." Luffy mulai memunculkan ketertarikannya ke orang ini. Takdir memang tidak bisa disangkal, kalau memang si Luffy mulai menghargai orang ini.
Sesaat kemudian di tengah kota, Luffy kembali bertemu dengan anak kecil yang memberi Zoro makanan kecil. Tanggung jawab Luffy adalah untuk memberitahunya apa yang Zoro katakan. Jadi dia katakanlah dengan detil.
"Wah! Serius?" Teriak anak itu.
"Serius! Dia makan semuanya loh.." Seru Luffy.
"Senangnya.." Balasnya lagi.
"Tapi, apa iya ya reputasinya yang mengerikan itu benar?" Tanya Coby.
"Enggak kok! Kakak itu gak ngelakuin apa-apa kok, cuma masyarakat kota aja yang takut sama dia. Dia ditahan karena aku.. dia membunuh serigala peliharaan Helmeppo, dan Helmeppo membiarkan lepas di kota, dan semuanya pun ikut ketakutan.." Jelas anak itu.
Luffy mulai menggabungkan setiap teka-teki bersamaan. "Jadi maksudnya, dia ditahan hanya karena membunuh peliharaannya si Helmeppo itu?!"
"Iya.."
"Jadi begitu ya.. padahal memang memburu buronan bukanlah hal yang bisa dianggap penjahat. Bahkan itu bisa dibilang membantu. Mungkin ketika mengejar buronan saja dia mengerikan." Jelas Coby.
Kemudian anak itu melanjutkannya lagi. "Satu-satunya yang jahat disini adalah Morgan. Orang yang menentangnya akan dieksekusi, makanya semua orang takut juga padanya.."
Tak disadarinya, jalan kota tiba-tiba lengan. Seperti ada karpet merah, jalan tengah itu dikosong oleh warga yang bersujud seolah seseorang yang dianggap sebagai penyelamat atau yang harus di hormati datang.
Tapi tentu, disitu tak ada yang lebih patut dihormati selain Letnan Morgan dan anaknya yang sering mengatasnamakan ayahnya dalam setiap kegiatan di kota. Dia tak lebih dari pengecut yang bersembunyi dibawah ketiak ayahnya.
"Heheheh, ada yang berani juga ya mengangkat kepalanya.." Ternyata memang benar, dia adalah si Helmeppo itu sendiri dengna pengawalan Marinir 'pribadi'-nya.
"Jangan-jangan kau mau seperti si Roronoa Zoro ya? Aku akan mengeksekusinya di depan publik dalam tiga hari asal kau tahu! Dan aku akan membuatnya sebagai contoh kalau-kalau ada yang berani menentangku seperti dia, dan akan aku beritahu ayahku..!" Teriaknya bangga.
Heran, Luffy mulai mempertanyakan otoritasnya. "Tiga hari? Bukannya kau bilang kau akan memberinya satu bulan?!"
"Heh, kasar sekali, siapa dirimu? Gak tahu diri ya?" Balasnya memandang rendah. "Dan aku tak percaya, kau benar-benar kena tipu. Kau pikir ada orang yang bisa bertahan selama satu bulan sebelum dieksekusi? Tentu aku akan mengeksekusinya, aku hanya bercanda! Hahahaha.."
Haruskah sesuatu seperti itu dibuat sebagai candaan? Tidak. Seseorang tidak boleh memandang nyawa seseorang sebagai sebuah permainan saja. Ini bukan seperti memainkan dadu ketika kita bisa seenaknya melakukan apa yang diinginkan ketika dadu itu keluar.
Luffy, Luffylah yang harus memberikan pelajar kepada orang-orang seperti ini. Hanya dengan satu cuplikan mata, kita tahu betapa korupnya dunia ini.
Duak!
Luffy bahkan tak perlu mengeluarkan kekuatan Buah Setannya untuk memukul Helmeppo. Karena dia tahu, Helmeppo hanya seorang cecunguk kecil yang tak perlu perhatian ekstra untuk diberi pelajaran, sebaliknya, dia harus diberi pengetahuan etika.
"Luffy-san! Tenanglah!" Coby menahan Luffy untuk tidak masuk ke dalam ranah Militer, karena jika tidak dia akan menjadi seorang buronan Angkatan Laut.
"Apa kau mau membuat masalah dengan Marinir Angkatan Laut?!" Teriak Coby lagi.
Helmeppo tersungkur kaku. Semua penduduk kota beru pertama kali ini menemukan orang yang bisa melawan 'Keadilan Sejati yang Korup' seperti itu. Padahal si Helmeppo hanya orang yang menyalahgunakan nama ayahnya.
Mengencangkan tangannya dan dibumbui dengan sedikit kekesalan, Luffy menunjukkan tekadnnya..
"Coby, aku sudah memutuskannya...
...aku harus merekrut Zoro menjadi kru bajak lautku!"
Hello, jadi author telah merancang fiction ini dalam beberapa timeline. Sedikit bocoran, disini, author akan canonkan beberapa kejadian, tapi kebanyakan akan ada banyak yang berbeda. Ada banyak plot twist. Juga ada tambahan dalam kru. Nanti seiiring jalannya cerita, akan semakin menarik. Sejauh ini fiction sudah terrancang sampai arc terakhir di original manga, tapi sekali lagi, twist akan membuatnya jadi berbeda jadi tunggu aja! Dan juga, banyak istilah yang akn author bahasa Indonesiakan, kecuali jurus dan beberapa suffix panggilan.
Goro-Goro no Raiken: Rumble-Rumble Thunder Punch
Sampai nanti!
