Peringatan: AU, Semi-Canon, sedikit OOC, Luffy yang berbeda, banyak kata-kata kotor, dan no pairing!

Disclaimer: One Piece hanya milik Eichiro Oda Seorang.


Adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal untuk berpikir bahwa imajinasi penulis selalu bekerja ketika dia selalu menyediakan secara konstan kejadian, insiden, dan episode yang secara mudah diambilnya dari awang-awang. Pada satu sisi, kebalikannya adalah benar. Saat dunia tahu kau adalah seorang penulis, mereka akan membawa karakter dan event kepadamu, selama kau menjaga kemampuanmu untuk mendengar dan melihat dengan seksama, cerita-cerita ini akan terus membawa ke akhirnya kepada orang yang diceritakan, dan seterusnya.

Insiden pertemuan dua orang ini, dideskripsikan secara gamblang dan benar seperti apa yang penulis dapatkan. Meskipun semua ini terdengar tak masuk akal. Tidak, cerita ini ada benar adanya. East Blue, mungkin menjadi tempat dimana ini semua terdengar.

Tapi inilah kejadiannya. Seorang bajak laut mencoba menggabungkan kekuatannya dengan seorang pemburu yang berlainan faksi. Dunia memang sudah gila. Tak ada lagi yang bisa menahan pertanyaan seseorang akan kebebasan.

Ketika ada pertanyaan, 'Mengapa seorang bajak laut mau merekrut seorang pemburu bayaran?'

Dan ketika pertanyaan itu diberikan balik sebuah pertanyaan, 'Kenapa tidak?'

Kita tak akan bisa menjawabnya lagi. Di laut luar sana, ada berjuta macam kemungkinan yang tak mungkin bisa kita perhitungkan, bahkan dengan aritmatika, matematika probabilitas dan kombinasi, atau dengan meramalnya dengan sifat keteraturan.

Tidak. Tidak semua kejadian dapat ditentukan semacam itu. Ada terkadang otoritas yang bisa membuat kita tak bisa menentukan sebuah atau suatu peristiwa.

Narator adalah penulis yang percaya, bahwa mungkin memang ada otoritas seperti itu. Mungkin, dan mungkin saja, itu seperti yang orang katakan tentang 'takdir...'

"Wa... waduh! B-b-b-bahaya nih!" Teriak seorang penduduk.

"Dia?! Dia berani memukul anak Letnan Marinir?!"

"Kasihan! Letnan Morgan tidak akan mengampuninya kalau begini!"

Luffy pasti tidak akan peduli. Kalau itu kemarahan manusia, pasti masih bisa ia hadapi. Morgan tidak lebih dari manusia biasa.

"Luffy-san! Tenangkan dirimu! Mereka adalah Marinir!" Bilang Coby menahan Luffy yang geram. Coby menahannya, tapi kalau sewaktu-waktu Luffy tambah menjadi, hanya Tuhan yang tahu apa nasib si Helmeppo.

"Aku gak peduli soal itu! Dia adalah orang yang brengsek! Sekali brengsek, tetap brengsek!" Teriaknya.

Penduduk menatap Luffy dengan perasaan campur aduk. Beberapa mereka kesal akibat perbuatan Luffy, karena bisa saja Morgan mengalihkan amuknya ke warga, namun sebagian akan khawatir bagaimana jadi si bocah petir ini.

Sedangkan Helmeppo, kita tahu bagaimana kondisinya. Lebam pipinya sudah tidak bisa ditutupi bahkan dengan tangan. Luffy memukulnya dengan serius. Mungkin ini pertama kalinya anak ini kena pukul, makanya, sekali pukul langsung biru.

"Be..Beraninya kau memukulku! Bahkan ayahku tidak pernah memukulku sekali pun selama aku hidup!" Teriaknya. Dan inilah hasilnya jika seseorang yang tidak pernah diberi pelajaran oleh orang tuanya, main enak sendiri saja.

"AKU ADALAH ANAK LETNAN MORGAN! AKAN KU BERITAHU AYAHKU SOAL HAL INI!"

Kaget, semua penduduk langsung masuk rumah mereka. Mereka tidak bisa tahan ketika telinga mereka mendengar nama Letnan Morgan.

"Kenapa kau tidak melawanku saja!" Tantang Luffy.

"Luffy-san, jangan berlebihan!" Tandang Coby sambil menahannya.

Menatapnya sinis sambil dibantu pengawal Marinirnya untuk berjalan, dia bilang dan bersumpah, "Kau akan menyesalinya.. karena kau akan mendapatkan hukuman mati karena menyakitiku!"

Memukul seseorang yang penting mungkin bisa menjadi pertimbangan hukum, tapi dia tidak lebih dari seorang warga sipil yang mengatasnamakan militer. Sekali lagi, ini adalah penyalahgunaan wewenang. Hanya jika ayahnya menyetujuinya, maka ayahnya itu bisa mendapat pemecatan dari Marinir secara tidak hormat.

"Mah, kenapa aku bisa terbawa suasana kayak gini ya..? Padahal dia gak layak banget buat dipukul.." Belum jauh melangkah, Helmeppo mendengar Luffy.

"BANGSAT!" Teriaknya.

Oh ya, semuanya sudah terlanjur. Semua warga akan menjauhi anak ini. Dia sederhana saja sudah membawa keributan yang luar biasa mengguncang seluruh kota Shells. Tapi, tunggu saja kenyataannya kalau mereka tahu si Luffy adalah seorang perompak dan Coby adalah temannya. Yah meskipun hanya akan menemani hingga sejauh ini.

Kota ikut hening unutk beberapa saat, yang terdengar hanya camar yang sayup-sayup menyahut dari dermaga ujung kota. Satu persatu pintu mulai tertutup. Mereka tahu, ketika hukuman melayang ke kedua orang ini, dan jika diantara penduduk ada yang membantu, maka tahu sendiri apa akibatnya nanti.

"Wah.. Kakak keren banget! Tadi padahal aku merinding loh kak!" Kata anak kecil yang ditolongnya.

"Beneran? Harusnya aku lebih banyak lagi mukul si Helmeppo itu ya! Shishishishi.."

Dan kemudian, seseorang yang mirip dengan anak ini memanggilnya. Nampaknya dia adalah orang tuanya.

"Rika..! Kemari!" Menggesturkan tangannya dengan nada menunjukkan marah, Rika mengikuti ibunya. "Apa yang ibu bilang soal orang asing! Kamu akan dieksekusi kalau kamu disangka temannya!"

"Tapi, dia orang baik bu.. Zoro juga.."

"Jangan mudah diperdaya! Apa kamu masuk lagi ke tempat tahanan itu ya?!" Tanya ibunya memaksa.

"Enggak.. enggak kok!" Dia tergegap berbohong.

"Jangan bohong ya.. udah deh, kita masuk rumah saja.." Ajak ibunya menahan anaknya untuk terlibat lebih jauh dengan Luffy atau Coby. Oh, anak itu masih menengok ke Luffy dengan lipatan-lipatan kecewa.

"Daaaaaaah..." Kata Luffy.

Heh, Luffy adalah orang yang idiot. Dia tidak mengerti situasinya. Kalau berurusan dengan Marinir hanya akan menambah daftar panjang kesulitan untuk Coby agar dengan mudah masuk ke Marinir Angkatan Laut.

Semenjak dia berafiliasi dengan Luffy dan Helmeppo mengetahui wajahnya, Coby bisa saja dilarang untuk memasuki Korps Militer itu untuk selama sisa hidupnya. Secara literal, Luffy sudah membuatnya kacau balau. Dan dia harus membayarnya kalau-kalau Coby tidak bisa menjadi seorang Marinir Angkatan Laut.

"Ah...! Sial, kenapa malah jadi seperti ini?! Kalau kayak begini, rasanya kita sudah buat masalah! Kalau saja Letnan Morgan marah dan mengirim pasukan Marinir kemari-"

"Kalau mereka kemari, kita layani saja! Sekarang aku mau ngomong lagi sama Zoro. Kamu ikut dulu Coby.." Potong Luffy sambil menarik Coby.

Coby sudah tak punya kekuatan lagi untuk menentang Luffy. Luffy, keinginannya, tak bisa dihentikan begitu saja.


Nah, kalau begitu mari kita berganti adegan. Sekarang kita pindah ke markas Marinir Angkatan Laut di tengah kota itu. Markas itu adalah salah satu akibat kenapa kota Shells cukup makmur. Cukup.. hanya sekedar cukup, tidak makmur sekali.

Ngomong-ngomong, meja yang ada di ruangan Letnan terlihat sangat megah. Tentu, desain interior dari Markas Pusat memperhatikan ergonomi perwiranya dalam menjalankan tugas yang berat untuk meminpin sebuah markas. Meja itu tidak penuh. Hanya beberapa lembar pengesahan yang harus ditanda tangani yang menumpuk, pulpen yang terpangku berdiri, dan sebuah asbak. Lelaki sebagian besar perokok lagi pula.

Letnan ini gemar menghisap cerutu. Salah satu yang terbaik selalu dia simpan di mejanya. Dan dia selalu membuat asap mengepul di tiap pagi, siang, maupun malam. Katanya produk terbaik dari West Blue.

"Aku.. Hebat..!"

Wah, orang yang narsistik, memuji diri sendiri. Orang yang cukup tinggi harga dirinya. Dia duduk menghadap panorama kota membelakangi perwira yang lebih dibawahnya.

"Be-benar..! itu karena anda adalah Letnan, Letnan Morgan..!" Dia mungkin tidak lebih dari seorang Kopral Dua, semenjak dia tidak memakai jubah 'Keadilan' Angkatan Laut.

"Tetapi, kehebatan itu tidak dibarengi oleh upeti? Sebaliknya, itu malah semakin.. Menurun..?"

Wah, benar saja. Orang ini memang menggunakan kewenangannya untuk sesuatu yang lain. Agenda yang lebih pribadi dan personal. Dia tidak lebih dari seorang pejabat yang korup dan perusak martabat aparat penegak hukum.

Mungkin hal seperti ini adalah sebuah alasan untuk perilaku tak baik darinya. Seseorang seharusnya dihormati karena dihargai jasanya, bukan karena harus ditakuti. Orang yang seperti ini lebih baik mengundurkan diri dari Angkatan Laut, atau perlu diberikan pemecatan secara tidak hormat.

Dan rasanya, dilihat dari ekspresi kepala para Tamtaman itu tidak sejalan dengan apa yang ada di pikiran si Letnan itu. Orang yang melenceng seharusnya diluruskan, bukan begitu?

"Soal itu, upetinya.. masyarakat juga punya permasalahan uang mereka sendiri juga.."

Yah, layaknya seorang kompeni, dia meminta upeti kepada tempat jajahannya.

"Heh, menurutmu mungkin seperti itu.. tapi menurutku, mereka melakukan ini karena mereka tidak menghormatiku..!" Lanjut Letnan itu dengan nada tinggi.

Dan kemudian..

Dang..!

Suara pintu dua engsel itu terbuka dan menghantam dinding. Tak lain tak bukan adalah anak dari sang Letnan itu sendiri. Dan sepertinya balas dendam pun masih harus dilakukannya dengan mengandalkan bantuan dari ayahnya.

"AYAH..!" Teriaknya.

"Ada apa Helmeppo..?" Tanya Ayahnya masih menghisap cerutunya.

Helmeppo masih mengurusi luka yang dideritanya. Lebam sudah pipinya terkena hantaman dari Luffy. Tidak terlalu besar, tapi cukup lumayan untuk orang yang manja seperti Helmeppo yang super menggelikan itu.

"AKU INGIN MEMBUNUH SESEORANG..!"

Oh ya ampun. Permintaan yang benar-benar sadis.


Sementara itu, kita akan kembali ke Luffy dimana dia dan Coby kembali ke lapangan eksekusi. Coby nampaknya sudah tak terlalu takut kepada Zoro setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan cerita pendukungnya.

"Yo..!"

"Kau lagi? Aku kan sudah bilang kalau aku tak akan menjadi seorang bajak laut..!" Semprotnya kepada Luffy.

"Aku Luffy, kalau aku membantumu melepaskan ikatan ini, kau akan ikut aku ya..!" Ajaknya sambil berkenalan.

"Sudah jelas kan? Ada sesuatu yang harus aku lakukan.. aku tak akan menjadi orang jahat seperti bajak laut, bodoh."

"Apa bedanya? Lagian semua orang sudah melabelimu dengan reputasi yang jahat. Apa itu merubah sesuatu, ya?" Tanya Luffy.

"Heh.. aku tak peduli dengan apa yang mereka katakan tentangku. Aku tidak pernah menyesali segala perbuatanku di masa lampau, tidak juga dengan apa yang akan aku lakukan di masa depan.. Makanya.. aku tidak akan menjadi perompak..!"

Perompak? Terdengar kasar sekali..

"..."

"Bodo amat ah, yang pasti kau akan ikut denganku..!"

Luffy, tipikal dirinya. Selalu memaksa kehendak orang lain. Ini terdengar memaksa, tapi sebenarnya tidak. Dia tahu kapan harus memaksa dan kapan harus berbuat lembut pada seseorang.

"Jangan main atur sendiri..!" Teriak Zoro.

"Mah.. jangan begitu.."

"..."

"Nah iya, dengar-dengar kau memakai katana ya? Pendekar pedang?" Tanya Luffy.

"Seperti itulah. Asalkan tak ada tali ini, pasti aku bisa menggunakan katanaku.." Bilangnya tak berdaya.

"Kalau begitu, dimana katananya?"

"Anak brengsek itu membawanya. Itu adalah harta karunku yang paling aku hargai disamping dari hidupku..!" Jelas Zoro.

"Oh? Harta karun? Pasti mahal ya? Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi ke tempat anak brengsek itu dan mengambil katana milikmu itu.."

"Apa?!"

"Tapi sebaliknya, jika kau memang benar-benar menginginkannya, kau harus bergabung ikut kedalam kru bajak lautku..!" Negosiasi yang selalu berjalan searah, itulah Luffy.

"Hah?! Curang banget..!" Geram Zoro.

Luffy akhirnya pergi dengan harapan dapat mendapatkan pedang milik Zoro dan membawa kru pertamanya ke laut. Inilah mungkin yang disebut kepercayaan. Selagi masih ada kepercayaan kepada seseorang, dia yang mempercayainya pasti akan selalu berbuat yang melewati batas agar selalu berada disisi yang mempercayainya.

Seperti pengabdian yang tak ada batasnya. Kepercayaan adalah harga mati seseorang terhadap hubungannya dengan sesama manusia. Saking mahalnya harga kepercayaan ini, tak sembarangan orang akan mendapatkannya.

Lagi pula, orang yang menggunakan ikat kepala ini akan menjadi kru pertamanya dan secara langsung akan menjadi wakil kapten. Seorang wakil kapten memang harus menjadi orang yang paling dipercayai kapten. Bukan masalah masa lalu atau dosanya, melainkan masa depan dari keberlangsungan perjalanan menuju tak terbatasnya cakrawala.

"Nah, aku pergi..!"

"Woi, tunggu dulu..!"

Terlambat Zoro, dia sudah pergi dan niatnya sudah besar.

"Dia.. apa dia benar-benar berpikir untuk menyelinap masuk kedalam markas Marinir dan mengambilnya? Benar-benar tolol.."


Untuk seseorang yang narsis, Letnan Morgan memang memiliki totalitas yang tinggi. Dia bahkan sudah akan menyiapkan patung besar yang akan diberdirikan tepat di gedung utama Markas Marinir Kota Shells. Entah darimana dia punya ide seperti ini.

"Oke disitu sudah pas..!"

"Bersiap untuk mengangkat..!"

Semua prajurit bahu membahu untuk memberdirikan patung itu.

"Ayah..! Kenapa ayah tak mau membantuku untuk balas dendam?! Bahkan ayah tak pernah memukulku kan?!" Teriak Helmeppo pada ayahnya yang sedang bertengger santai di atas sofa empuk sambil melihat anak buahnya susah payah.

"Bah, memangnya kau tahu alasan kenapa aku tak pernah memukulmu?" Tanya Morgan.

"Ya, itu karena-"

"Itu karena.."

Morgan berdiri dan memukulnya dengan tangan kirinya. Dan itulah untuk pertama kalinya Helmeppo mendapatkan pukulan dari seorang ayahnya yang dia pikir tidak akan pernah dan tak seterusnya tak akan pernah memukul dirinya yang manja.

Duak!

Seluruhnya bahkan tak menyangka kalau Helmeppo, anak semata wayang Morgan bahkan bisa kena tonjok dirinya. Untung saja yang digunakan bukanlah tangan kanannya. Karena kalau itu terjadi, Helmeppo bisa saja mati.

"Itu karena.. ANAK BRENGSEK TIDAK SEPADAN UNTUK DIPUKUL!"

Dia dibilang sebagai Letnan 'Tangan Kapak' Morgan bukan tanpa alasan dan sebab. Tapi memang karena dia bertangankan Kapak, dia dialiaskan seperti itu. Dia adalah manusia yang non-humanis dari perawakannya. Tangan kanannya kabarnya sudah lama sekali dia gantikan dengan kapak besar. Bukanlah sekedar kapal biasa.

Kapak itu hitam legam dengan mata kapak yang nampak tajam dan bahkan lebih tajam dari pedang yang digunakan Marinir kebanyakan. Dia sudah kehilangan lengan kanannya berikut dengan tulang-tulangnya dan dia ganti dengan badan kapak yang ukurannya overlap terhadap sikutnya. Sehingga layaknya kapak pada umumnya, tangan kirinya dapat memberi ekstra tenaga terhadap pukulan kapaknya.

Satu hal lagi, dia adalah orang yang memakai pelindung rahang. Terbuat dari besi dan bentuk yang ergonomis membuatnya tak tersentuh oleh pukulan uppercut yang menembak dari bawah rahang. Tepat di pelindung rahang itu ada tulisan 'Mowe' yang artinya camar. Sebuah lambang keadilan di laut lepas.

"Kenapa juga aku harus membersihkan kekacauan yang kau buat.." Bilangnya.

"Kau boleh saja menggunakan namaku, tapi aku hanya menghukum orang yang melawanku.." Lanjutnya tanpa memikirkan perasaan anaknya.

Morgan bahkan bergerak sejauh menarik kerah anaknya. "Jangan salah sangka, nak.. yang hebat disini bukan kau, tapi ayahmu..! Aku..!"

Ketakutan, Helmeppo tak bisa menahan air mata. Morgan tahu anaknya benar-benar cengeng jadi ia melepaskannya.

"Oh ya, ada rumor katanya ada anak kecil yang keluar masuk tempat eksekusi..?"

Helmeppo beralasan. "Ma-maksudnya anak kecil yang itu..? O-oh, itu sudah aku-"

"Sudah kau eksekusi?" Tanyanya geram..

"H..Hah? Ti-tidak.. Dia..dia hanya anak kecil. Dia.. Dia bahkan tak sadar akan kesalahannya!" Helmeppo juga masih punya hati, beda dengan ayahnya. Ini mungkin pengecualian untuk apel yang jatuh tak jauh dari pohon.

Morgan kemudian menunjuk salah seorang prajurit bawahannya.

"Nah kau..! Cepat pergi dan hukum dia!"

"Ap-"

"Aku tak peduli umurnya berapa dan siapa dia, yang penting kalau melawanku, dia pasti akan mati..!"

"Tapi.. Tapi Letnan! Da hanya anak kecil..! Saya tidak bisa melakukannya!" Sebutnya bahkan dengan kata 'Saya.'

Morgan mendekati seorang prajurit itu. "Tak bisa hah? Kau seorang Kopral Kepala kan? Dan pangkat itu jauh lebih rendah dari seorang Letnan kan?!" Tanyanya

"Si-siap, iya pak!"

"Maka dari itu, kau tidak punya hak untuk melawan sebuah perintah dari atasan! Kalau aku menyuruhmu seperti itu, maka kau harus lakukan sesuai yang aku perintahkan..!" Sebutnya dengan mata yang tertuju pada anak buahnya.

Dan sekali lagi, anak buahnya kembali membuatnya harus melampiaskan amarah.

"Ti-tidak bisa, pak..!"

Slash..!

Kali ini Morgan memberikannya sebuah pelajaran. Melawan otoritas tertinggi adalah sebuah kesalahan. Dan itu tidak bisa ditolerir jika kita berada dalam institusi yang bergantung pada nilai dari pangkat.

Tangan kanannyalah yang berayun hingga membuat Kopral Kepala itu tersungkur tengkurap. Sabetan kapaknya melukai punggungnya. Mungkin dia bisa meninggal akibat kekurangan darah. Morgan sudah bertingkah sejauh itu untuk mendisiplinkan bawahannya.

"DASAR PEMBANGKANG..!"

Tak pelak, semuanya menimbulkan suara yang memekik ketakutan. Bahkan anaknya sendiri pasti tak akan mampu untuk melakukannya. Seseorang tak bisa memperlakukan nyawa seseorang seperti itu saja.

"A-ayah, ayah tak.. tak perlu melakukan itu.." Suara Helmeppo mengecil dan bersembunyi diantara teriakan kaget.

"Kopral Kepala..!" Semua Marinir yang berada dibawahnya langsung mendekatinya, menawarinya bantuan medis.

Seolah tak terjadi apa-apa, Morgan tak mengindahkan badan anak buahnya yang terbujur lemas tak bergerak. Bukan alasan apapun, tapi menurutnya, seorang perwira yang lebih tinggi tidak pantas untuk membantu orang berada dibawahnya.

Padahal masih hangat darah yang tertinggal di Kapak miliknya.

"Kalau kalian sebegitu membangkangnya, oke, untuk kali ini agar para penduduk bisa mengingatnya dengan jelas, aku akan kesana sendiri.."

"Dengan tangan kanan ini, aku naik pangkat hingga Letnan. Pangkat adalah segalanya di dunia..! dan aku adalah orang dengan pangkat tertinggi di Markas Marinir ini, yang mana artinya aku adalah orang terhebat disini..!"

"Dan ingat ini, orang hebat tak membuat kesalahan.."

"Apa kalian setuju dengan itu?"

Morgan hanya menerima jawaban 'siap, iya pak' dan tidak menjawab 'siap, tidak pak.' Karena jawaban yang bersifat antagonis terhadap pola pikirnya adalah sama saja dengan penghianatan dan harus siap untuk dieksekusi.

"Siap, iya pak..!" Teriak semua prajurit.

"Anda sangat benar..!" Sahut salah satu diantaranya.

Kalau seperti ini terus, dia akan terus tak punya waktu untuk memikirkan hal yang lain. Memikirkan dirinya sendiri terus, tanpa harus memikirkan keadaan orang disekitarnya. Sebuah pemberontakan haruslah terjadi untuk melawan tirani sepertinya.

"Nah, lihat..! Ini adalah simbol dari kekuasaanku..!" Katanya sambil menunjuk ke patung yang sedang diberdirikan oleh para anak buahnya.

"Sebuah patung yang selesai dibangun setelah kerja keras bertahun-tahun..!" Kerja keras yang mana? Memeras? Memerintah? Menyalahgunakan wewenang?

"Sekarang, cepat berdirikan patung itu disini, dititik tertinggi dari Markas..!"


Luffy disisi lain tak tahu kalau memang ada sesuatu yang spesial sedang terjadi dengan Marinir Angkatan Laut di markas itu hari ini. Itu hari penyematan untuk penyelesaian pembuatan patung baru dari Morgan.

Berdiri di depan gedung utama, Luffy hanya berpikir mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan makan siang, semenjak ketika itu memang sedang menunjukkan jam makan siang. Namun dia jelas akan lebih merujuk ke daging.

"Aneh ya, kok gak ada Marinir disini..? Lagi makan siang ya?" Dia bebicara sendiri. Baguslah dia berbicara sendiri. Katanya orang yang berbicara sendiri punya kecerdasan yang tinggi. Tapi mungkin pengecualian untuk Luffy.

"Jangankan katananya si Zoro, mencari orang bodoh itu saja pasti akan sulit. Aku gak bisa melihanya dimanapun..!" Lanjutnya meracau.

Sayup-sayup dia mulai mendengar..

"Tarik..! Tarik..!"

Lalu ada suara hentakan.

"Tunggu..! Kau baru saja merusak patungku..!"

"Maaf! Maaf! Letnan, saya sedikit ceroboh..!"

Luffy sadar ada orang diatas sana sedang membuat keributan tentang patung.

"Ha..? Ada orang ya kayaknya diatas sana?"

Luffy lalu menyiapkan kuda-kudanya. Dia membuat celah yang lebar diantara kakinya sambil satu tangannya menyentuh tanah. Tangannya terlihat seolah mengalirkan listrik dari telapak tangannya ke kedua kakinya.

Dan ada yang nampak aneh dengan kedua kakinya. Keduanya bergetar dengan sangat cepat tanpa bahkan kita ketahui kearah mana ia bergerak. Entahlah itu ke bawah ke atas atau ke atas ke bawah. Pokoknya sangat cepat, namun dilain pihak tangannya tidak bergerak seperti itu. Dia hanya terus mengalirkan listrik ke kakinya yang bergerak cepat itu. Tidak.. kakinya tidak bergerak, melain ia bergetar dengan cepat. Seperti gerakkan bergetar dawai.

"Wah, dilihat saja dulu mungkin ya..?" Senyum Luffy.

Krasst..!

Ini adalah salah satu dari serangkaian teknik Luffy untuk bisa melompat dalam jarak yang sangat jauh, juga dalam waktu yang cepat. Dia menggunakan prinsip vibrasi-elektris, atau getaran akibat aliran listrik. Siapa sangka Luffy bisa menggunakan konsep ini untuk dirinya yang manusia listrik. Kita pikir sebelumnya si Luffy hanya manusia listrik dengan otak daging, ternyata masih ada kepintaran yang dimilikinya.

"Goro-Goro no Electrovibe..."

Dan apa yang akan dia lakukan sekarang? Dia masih memasang kuda-kudanya, tapi sepertinya sudah cukup.

"...JUMP..!"

Dia langsung melesat tinggi. Setelah dia menggetarkan kakinya, ternyata dia langsung mengirimkan sengatan listrik dalam jumlah besar sehingga mengejutkan tanah dan melemparkannya jauh layaknya sengatan listrik itu adalah sebuah per yang melontarkan sesuatu.

Krasst..

Krasst..

Bekas-bekas listrik tersisa di udara sesaat Luffy melesatkan dirinya sendiri. Dia sekarang seperti seorang manusia meriam yang menembakkan dirinya sendiri seperti di dalam acara sirkus. Semua orang tahu itu.

Lalu bagaimana dengan Morgan? Apa dia senang dengan patungnya yang lecet karena tergelincir sedikit terkena atam ruangan? Tentu tidak, dia pasti akan membuat anak buatnya kencing di celana sebelum tahu hukuman apa yang akan menimpanya.

"Apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggu untuk menyelesaikan patung megah ini? Kau main enak sendiri dan merusaknya." Oh ayolah, kita tahu, itu hanya sedikit leceh, bukan hal yang besar, Letnan..

"Ma-maaf..! Saya akan segera memperbaikinya..!" Jawab Marinir itu ketakutan.

"Heh, patung ini menggambarkan diriku..! kalau kau tidak menghormatinya dan bahkan merusaknya, maka kau tidak menghormatiku.. Paham?!"

Morgan sudah siap dengan ancang-ancangnya untuk memberikan anak buahnya ini pelajaran, dan anak buahnya itu pun sudah berusaha sekuat mungkin untuk mengelak. Namun tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan muncul dari bawah gedung.

Itu adalah seorang manusia yang seolah bisa melompat sejauh itu.

"Ah sial, terlalu cepat.." Luffy segera berpegangan ke tali yang mengikat patung Morgan. Dia punya reflek yang sangat mengesankan. Baguslah dia bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya.

"Astaga..?! Siapa itu?!"

"Kok bisa-bisanya..?!"

...

Kriet..

Suara tali tertarik tak bisa tertahankan. Luffy membuat suatu gebrakan yang akan membuat Morgan murka,dan siapa tahu, petualangannya akan berakhir disini.

Ini fisika. Luffy menggunakan patung yang jelas lebih berat darinya untuk menahan momentum yang terlalu besar sesaat dia melesat ke udara akibat jurusnya tadi itu. Sebagai gantinya, patung yang menerima momentumnya menerima akibatnya, yaitu harus hancur. Tidak hanya sekedar hancur, tapi akan berkeping-keping. Oh ya, itu adalah teras teratas di Markas Marinir Kota Shells, dan sekitar dua puluh lima meter ke bawah.

"Ha...?!"

"Waaaahhh...!"

"...!"

"Hmm..?" Luffy hanya menggumam saat Patung yang ia gunakan sebagai jangkar, hancur terbelah dengan pembatas gedung. Bagian dada keatas dari patung itu patah dan jatuh ke bawah.

Firasat buruk? Mungkin.. sesuatu yang katanya terpersonalisasi untuk seseorang dianggap yang mewakilinya, setidaknya itulah yang Morgan katakan. Berarti, kalau patungnya hancur, berarti Morgan..?

Morgan melihatnya dengan mata berlinang dan dahinya mengerit. Matanya seolah tak punya semangat lagi untuk bisa melihat indahnya patung itu.

Dan, seluruh prajurit yang ada di atas itu, sekaligus Helmeppo terkejut saat Luffy berani membuatnya terpecah jadi dua. Helmeppo menunjuknya namun tak bisa berkata-kata. Dia benar-benar terperanjat.

Ketika potongan dari patung itu menyentuh daratan dan hancur, dengan santainya Luffy menghormat – entah itu melecehkan atau benar-benar meminta maaf – dan bilang..

"Maaf.."

Gusrak...!

Wah, sepatah kata tak bisa mengobati patah hatinya Morgan ketika mendengar gelimpangan batu pahatannya yang lebur dengan tanah. Ya, setidaknya dia punya anak buahnya akan senantiasa membantunya untuk membalaskan dendamnya ke setiap opositor seperti Luffy, meski Luffy terdengar kesannya seperti tidak sengaja.

"CEPAT BUNUH DIA..!" Tiap urat yang ada di dahinya muncul. Morgan tidak bisa menahan lagi perangainya.

Setiap Marinir harus memaksa diri mereka sendiri untuk membunuh seseorang yang sebenarnya adalah hal sepele yang disalahkan Morgan ke orang itu. Haha, sepele mungkin apa yang narator pikirkan, tapi bagaimana dengan Morgan? Pasti berbeda, pikiran seseorang terhadap sesuatu adalah hal yang relatif.

"Ya—Ya, Pak!"

Mereka berbondong-bondong untuk mengambil senjata mereka dan mengkokang setiap senapan non-otomat. Dan setiap Marinir pendekar pedang bersiap ikut menghunuskan pedangnya. Namun mereka terlalu panik, dan akhirnya kesulitan sendiri.

"Ayah..! Itu orangnya! Dia yang sudah memukulku! Sudah kubilang kan, dia itu orang yang buruk..!" Teriak Helmeppo sambil menunjuk ke arahnya.

Melihat situasi seperti ini, Luffy mengetahui siapa orang itu. Dialah yang dicarinya. Seorang detektor, oh, detentor katana Zoro.

"Tahu gak sih? Aku mencarimu kemana-mana, eh ternyata disini!" Luffy langsung menarik Helmeppo jauh dari bakal lokasi baku tembak.

"Ayah..! Tolong aku, tolong aku..!" Helmeppo cemas dirinya akan dijadikan sandera semenjak dia tahu apa yang bisa anak ini lakukan. Dan suaranya semakin menghilang sesaat Luffy menariknya masuk menuju ruangan yang dicarinya.

"Me—mereka pergi ke dalam..!"

"Cepat kejar..!"

Para Marinir mengejarnya seperti kerbau yang dicambuk. Bekerja atas paksaan dari tuannya. Inilah yang namanya hukum rimba.

Dan salah satu Marinir menyadari ada orang lain di ruang eksekusi. Tak lain tak bukan adalah si Coby itu sendiri yang sedang berusaha keras untuk melepaskan ikatan Zoro.

"Letnan..! Ada penyusup lain di tempat eksekusi..!"

"Hah..?! Pembangkang lainnya? Cepat eksekusi mereka..!" Morgan tak bisa tahan atas satu saja masalahnya. Dia tak ingin masalah lain. Ini hanya mempersulitnya untuk naik jabatan lagi di tubuh Marinir.


"Nah kan..?! Dia memang tak bisa diharapkan! Kepalanya benar-benar panas.." Sebut Coby sambil mendekati Zoro tanpa bergetar sedikit pun.

"Ya, seperti itu. Lagi pula siapa dia..?" Tanya Zoro.

Coby berusaha keras untuk membebaskan Zoro. Coby sudah bekerja di bagian kabin, pergudangan dan pemeliharaan cukup lama. Mengenal simpul semacam ini seharusnya bisa dengan mudah membantunya membebaskan Zoro. Tapi nampanya dia kesulitan dan tak terlihat senang dengan hasil kerjanya.

"Sial.."

"Oi, kalau kau membantuku mereka akan membunuhmu, bego..!" Cetus Zoro.

Mengeritkan wajahnya, Coby mengekspresikan kemuakkannya. "Aku tak tahan melihat Marinir yang seperti ini, kau seharusnya tidak ditahan..!"

"Aku sudah cukup dengan semua buaian itu, kali ini aku akan menjadi Marinir yang sungguhan! Sama seperti Luffy-san yang bertekad untuk menjadi seorang Raja Bajak Laut..!"

"Apa..?!"

"Zoro-san, Aku juga syok pada awalnya saat aku pertama mendengarnya bilang begitu.." Jawabnya menyeringai.

"Raja Bajak Laut?! Dia gak benar-benar serius soal itu kan?!"

Tertawa, Coby membalasnya. "Tidak Zoro-san, itu bukanlah sebuah lelucon atau iseng belaka. Dia benar-benar niat.."

Dan tiba-tiba..

Dor...!

Bukan sebuah tembakan yang tepat sasaran, tapi cukup bagus. Itu ternyata sebuah tembakan dari ketinggian gedung utama Markas Marinir. Dan narator tahu ada tembakan yng lebih baik dari itu, dan itu bukan cerita untuk sekarang.

Seolah pada jarak yang jauh, dia adalah seekor elang, Zoro tahu. Morgan dikejauhan mengamatinya dengan mata yang tajam dan fokus. Seperti seekor macan yang sudah tahu siapa targetnya, Zoro berharap dia adalah macan yang tidak terkurung dalam kandangnya. Ini adalah permainan intimidasi ketika Zoro menatapnya tajam dari kejauhan, sama juga, ini adalah sebuah permohonan untuk mengajukan perang.


"Hey, cepat berhenti..! Siapapun kau cepatlah berhenti..!" Teriak seorang Marinir mencoba mengejar Luffy di Koridor Personel Perwira.

"Duh, ada yang ngejar kan jadinya.." Gumamnya. Luffy disatu sisi menyeret Helmeppo dan menahannya dengan jerat genggamannya ke kerah Helmeppo. Akibatnya dia, secara partikuler, kepalanya terseret sepanjang koridor. "Eh, cepat beritahu dimana pedangnya Zoro..!"

Helmeppo menyerah dengan cepat. "Iya—iya! Akan aku beritahu..! Akan aku beritahu..! Tapi tolong jangan main seret seperti ini..!"

Luffy segera mengerem. "Oke, cepat katakan.."

Penuh dengan lecet, Helmeppo membalasnya. "Ada di kamarku, pedang yang kau cari itu.. kita baru saja melewatinya.."

Pletak..!

Pukulan Luffy mendarat tepat di ubun-ubun Helmeppo. "Sa—sakit tahu..! Bisa gak berhenti memukulku?!"

"Karena itu..! Kenapa gak bilang dari tadi sih..! Menyusahkan orang saja..!" Teriak Luffy di depan wajahnya.

Tanpa sadar, Luffy yang telah mengerem membiarkan dirinya kini sudah diambang laras panjang Marinir. Marinir akan memulai prosedur penahanan Luffy kalau begini jadinya dan hanya akan membuat keadaan makin tambah runyam.

"Hei, jangan bergerak! Cepat, tangan diatas..!" Teriak seorang Marinir yang membawa dua kawannya. Dia sudah siap karena dia sudah mengokang senjatanya. Sebuah protokol sudah disiapkannya jika Luffy berusaha untuk kabur atau melawannya selama penangkapan terjadi terhadapnya.

"Tidak mau!"

Luffy sebagai gantinya dia membuat Helmeppo untuk membuatnya jadi tameng pelindung dari Marinir. Luffy tahu, Marinir tidak akan membuat mereka menembak anak manja dari Komandan daerah itu.

"EH?!"

"Cepat tembak!" Bilang Luffy sesambil dia berlari kearah Marinir, semenjak ruangan Helmeppo berada di daerah yang sebaliknya dari arah yang ia tuju sebelumnya.

"GUWAAAAAAAAAHHHHHH! GUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!"

Helmeppo berteriak histeris sesaat dia sadar kalau dia dijadikan perisai sandera. Dan dia juga tahu, tangan seorang Marinir bisa saja selip dan membiarkannya malah melepas peluru yang menyasar ke Helmeppo. Hidupnya ada di ujung laras panjang itu ternyata dan sekarang malah berbalik arah akan siapa yang ditodongkan senjata.

"Apa?!"

"Ternyata kau malah menjadikan Tuan Helmeppo sebagai pelindung!?"

Helmeppo tidak bisa berkata banyak dan lebih dari apapun. Dia berada dalam kesulitan yang membuatnya ingin merebahkan badan dan menghilang saja dari tempat itu.

"UWAHHHHH!"


Sedangkan di lain tempat ada juga yang berteiak, namun kesakitan. Berbeda dengan orang yang tadi, yang ini sudah tertembak. Nah berbeda kan? Yang satu belum ditembak saja sudah berteriak histeris, nah sekarang yang sudah tertembak baru teriak.

"WAAAAAAAA..!"

"AKU TERTEMBAK! AKU TERTEMBAK! AKU PENDARAHAN..! AKU AKAN MATI!?" Teriaknya sekuat tenaga berpikir kalau itu adalah momen terakhirnya.

Coby merasa itu sudah hampir mendekati organ vitalnya, tapi padahal itu hanya mendarat di bahunya. Mungkin dengan pengeluaran timah hitam itu dan beberapa saat untuk penyembuhan diri sendiri, mungkin tubuhnya sudah akan optimal kembali. Ini hanya Coby saja yang lebay.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Zoro.

"Haa.."

"Cepat lari saja! Sebentar lagi mereka akan datang..!" Seru Zoro.

"Haa.." Coby tersengal namun masih ingin membantunya. "Tidak! Aku harus membebaskanmu secepat mungkin, Zoro-san!"

"Jangan banyak omong, bocah. Apa kau tidak menyayangi hidupmu?!"

"Haa.. haa.. apa kau tidak sebaliknya juga, Zoro-san?!"

"..! Apa maksudmu? Tak ada yang perlu dikhawatirkan tentangku. Selama aku bisa bertahan selama satu bulan penuh disini, mereka akan segera melepaskanku.. sekarang cepatlah per—"

"Tidakkah kau mengerti?!"

"Hah?"

"Mereka tidak akan melepaskanmu begitu saja, karena mereka akan mengeksekusimu secepatnya dalam tiga hari ini..!" Jelas Coby yang mencoba berdiri untuk melawan rasa sakitnya. Dia tahu di bahkan kesulitan untuk mengangkat lengan kirinya yang sudah terlanjur tertembak tepat di bahunya. Sendinya akan terkena masalah.

"Omong kosong! Si bangsat itu sudah menjanjikanku kebebasan dalam sebulan lagi kalau aku memang bisa bertahan!" Zoro kesal.

Napasnya berat, entah, seolah oksigen disekitar Coby berkurang. "Dia—Dia tidak pernah mencoba untuk percaya padamu ataupun menepati janjinya, Zoro-san! Itu kenapa—itu kenapa Luffy-san memukulnya untuk mewakilimu! Dia berpikir bukan hal yang tepat untuk bermain-main dengan nyawa seperti itu.."

Terperangah, Zoro meminta untuk mengulanginya. "Hah? Apa? Ulangi.."

"Marinir Angkatan Laut tidak akan membiarkan kalian lepas dari tempat ini begitu saja! Tolonglah, setelah aku berhasil membebaskanmu, aku ingin kau pergi dan selamatkan Luffy-san...Aku tidak akan membuatmu dan memaksamu untuk menjadi seorang bajak laut, tapi tolonglah, Luffy-san adalah penyelamatku..!"

"Luffy-san adalah orang yang benar-benar kuat! Selama kalian berdua bekerja sama dan saling membantu, aku yakin kalian bisa kabur dari kota ini!"

Maaf saja Coby, tapi sepertinya kau tidak akan bisa melakukannya, karena Marinir kini telah datang. Sekitar tiga peleton Marinir datang dan siap dengan mesiu yang penuh dalam senapan mereka. Berikut juga pedang yang terasah.

"Cukup sampai disini, kalian berdua!"

"Kalian yang telah menentang Letnan Morgan akan mati sekarang disini!"


Kembali ke adegan dimana Luffy mengambil pedang milik Zoro.

"Wah.. jadi ini ruangannya kah?"

Dia segera mungkin mencari dimana ada pedang yang tergeletak, tergantung atau tertempel. Segala kemungkinan.

"Nah, ketemu juga katananya..!" Bilangnya saat Luffy menemukan tiga katana yang tertumpu rapi melawan dinding. "Tapi kenapa ada tiga katana? Mana yang punya Zoro ya? Jadi bingung kan nih." Haha, kashan Luffy, dia harus menggunakan otaknya.

"Oey..! Mana yang punya Zoro?" Tanya Luffy. Helmeppo yang ditariknya sudah terlanjur pingsan. Interogasi bukanlah hal yang dapat dia lakukan untuk saat ini.

"Hah? Kenapa nih? Pingsan ya?" Helmeppo mungkin sudah di awang-awang sekarang.

Mendengar keributan dari luar gedung. Luffy mulai meninggalkan Helmeppo dan melihat disekelilingnya melalui jendela. "Coby!"

"Apa yang terjadi disana ya?" Luffy mulai mengambil semua katana yang tergeletak disitu, berpikir karena mungkin salah satu adalah milik Zoro. Tanpa membuang waktu, dia akan segera turun.


"Cepat!"

"Kepung gedung utama! Tak ada yang menginginkan orang dengan Topi Jerami itu kabur begitu saja!"

"Kalian ikut aku ke pintu utama!"

"Cepat hadang pintu belakang!"

"Tutup pintu basement!"

Marinir langsung bergerak atas perintah dari atasan yang disuruh oleh Morgan. Kembali narator ingin ungkapkan bahawa mereka layaknya adalah kerbau yang dipecut oleh tuannya agar bisa bekerja. Namun dibalik semua itu, mereka benar-benar bekerja sama untuk menumbangkan musuh dari atasannya.

Di ladang eksekusi, Morgan menghadapi Zoro yang masih terikat. Tangannya tidak perlu susah-susah untuk membunuhnya. Satu tembakan tepat dan cocok akan membunuhnya juga. Dia kan secara biologis adalah manusia juga.

"Menarik sekali melihat serangkaian kejadian hari ini.." Kata Morgan.

"Apa yang kalian inginkan? Apa kalian sedang melakukan hal yang membuat pergolakan politis di pulau ini?" Lanjutnya bertanya pada Zoro dan Coby.

"Dan rasanya aku sudah pernah mendengar namamu sejak lama, Roronoa Zoro. Reputasi yang mengerikan, benar kah? Heh.. tapi jangan remehkan aku, bocah.."

"Sebelum kau mencoba kekuatanku, kau tak lebih dari sampah buangan!"

Zoro tidak bisa membalasnya. Letnan itu punya segala kekuatan yang saatini Zoro tak punya. Dia rasanya ingin merelakannya, namun separuh dari dirinya tak menginginkan ini terjadi sama sekali. Jika bukan karena masa lalunya, dia mungkin akan berada ditempat yang berbeda dan tidak berakhir seperti ini.

Tapi apa masa lalu itu membebaninya? Entahlah, dia selalu bilang kalau apa yang dilakukan tidak pernah ia sesalkan dan sayangkan. Itu pun berlaku untuk masa depannya. Namun, jika dirinya mati saat itu juga, haruskah dia menyesal?

Dia harus. Sebuah mimpilah yang membuatnya bisa hidup hingga saat ini.

"Bersiap..!" Marinir membidik Zoro dan sisanya membidik Coby. Mereka tahu siapa yang harus diberi prioritas lebih dulu berdasarkan tingkat bahayanya.

"AAku tidak bisa mati disini! Masih banyak yang harus aku selesaikan di dunia ini!" Pikir Zoro saat pelatuk mulai ada di ujung jari para Marinir.


Itu adalah sekitar bertahun lalu, di desa Shimotsuki atau desa November. Desa itu ada di East Blue dan setiap November ada sebuah festival yang mengesankan warga desa dan para turis yang melancong ke desa kecil itu.

Tidak, bukan hanya itu. Sebuah dojo atau lebih dikenal dengan tempat penempaan beberapa para Jago Pedang dan Pendekar Pedang yang terkenal kini. Dojo itu mengajarkan kepandaian untuk bermain pedang sejak dini. Dojo itu adalah Dojo Isshin. Ada di dekat pinggiran pantai dan bergayakan bangunan yang orientalis.

Disinilah Zoro mulai mengenal apa itu pedang, dan apa itu janji, dan apa itu yang namanya impian.

"Tsk...Sial!"

Zoro yang memegang pedang kayu Kendo melepasnya dan menutupi mukanya dengan rasa malu saat seorang kawannya memberitahu kalau dia sudah kalah. Dan itu adalah kekalahannya yang kesekian kalinya untuk melewan anak yang satu ini.

"Kuina menang! Dan Zoro yang menggunakan dua pedang kalah!"

"Ini adalah kekalahan Zoro yang ke-2000 kalinya!"

Dan sejujurnya mendengarnya saja akan memalukan juga. Zoro telah dikalahkan oleh seorang anak perempuan yang sepantaran dengannya saat itu. Dan jika anda adalah seorang lelaki, mungkin bekas rasa malu ini akan membekas hingga mati.

"Hah! Kasihan sekali.. seorang lelaki, tapi kok lemah ya?" Tanya anak berambut agak biru itu ke Zoro yang tersungkur.

"Jangan meremehkannya!"

"Betul tuh! Dia yang terbaik disini!"

"Bahkan waktu melawan orang yang lebih tua saja dia masih bisa menandinginya!"

Wah inilah teman yang defensif. Tiga orang sahabat Zoro yang memujinya.

"Serius? Tapi dia masih lebih lemah tuh dari aku. Padahal dia sudah pakai dua pedang, tapi masih saja kalah. Sudah akui saja, memangnya gak malu ya kalau gak mau menerima kekalahan?" Cetusnya yang membuat Zoro bangkit.

"Sial!" Sebut Zoro.

"Da—dasar setan! Orang ini bikin marah saja!"

"Hanya karena dia anak sensei, dia senang banget buat pamer ya!" Semprot teman Zoro yang lain.

Koshiro, guru atau sensei yang mereka sebut adalah pemilik sekaligus pengajar disitu.

"Wah, Zoro, sayang sekalinya kau kalah lagi.."

"Sensei!" Teriak semua teman Zoro.

"Sensei mengajarinya diam-diam kan! Ngaku deh! Dia akan Sensei pula!"

"Iya tuh! Jangan bohong sensei!"

Koshiro membalasnya tenang. "Tidak.. tidak ada kok hal semacam itu.."

"Sial..!" Zoro melempar kedua pedangnya dan itu adalah ketiga kalinya dia bilang sial untuk hari ini. "Kenapa aku tidak bisa mengalahkan dia?!"

"Sederhananya.." Balas Koshiro. "Dia lebih tua sedikit darimu, Zoro.."

"Bahkan yang lebih tua darinya saja aku bisa mengalahkannya!" Balasnya mengerang keras. Dan dia pun mendeklarasikan keinginannya.

"AKU INGIN BERLAYAR DAN MENJADI PENDEKAR PEDANG NOMOR SATU DI DUNIA, TAK LAGI AKU KALAH PADA SIAPAPUN. TIDAK AKAN!"

Dan itulah yang membentuk dirinya. Hari yang panjang untuk Zoro akhirnya berakhir juga. Tenggelamnya matahari membuat Zoro memikirkan rencana untuk melakukan sesuatu buat malam ini. Dia akan mengalahkannya sekali lagi.

Kebetulan sekali malam itu adalah terang bulan di tengah musim panas. Bulan purnama tidak pernah sebesar itu terlihat dari desa itu. Mengesankan untuk melihat daerah sekitaran tanpa harus menggunakan penerangan seperti lampu apapun.

Zoro tahu, Kuina pasti sedang berada di lapangan, berlatih dengan boneka target tiruan. Tapi tidak, malam ini bukan untuk main-main. Dia tidak akan menantangnya dengan pedang kayu yang rasa sakitnya hanya bertahan sebentar saja. Dia akan menantangnya dengan sesuatu yang benar-benar akan meninggalkannya ingatan yang lebih menyayat dari rasa malu, yaitu rasa hormat.

Ya, pedang sudah sejak dulu dianggap sebagai benda yang diagungkan. Ia menorehkan bentuk kepribadian seseorang. Orang yang pedang patah punya ribuan arti di dalamnya. Entah kekalahan yang membanggakan, atau kekalahan yang memalukan.

"Kuina..!"

Zoro menemukannya masih berlatih dengan keras, bahkan lebih keras darinya.

"Apa nih?"

"Aku sudah bawa katana! Ayo sekarang kita bertarung satu lawan satu pakai pedang asli!"

"Sama aku? Serius nih?"

"Serius! Aku akan mengalahkanmu!"

"Wah, benar-benar serius ya? Kalau begitu ayo kalahkan aku!"

Zoro kembali menggunakan dua pedang. Orang-orang bilang dua lebih baik dari pada satu kan? Tapi terkadang satu lebih mantap daripada dua!

"Ayo.."

Yah, Zoro lincah. Sangat lincah bahkan dengan dua pedang yang asli, dia masih bisa bergerak dengan cepat, meskipun juga dia masih terbilang bocah, dan semua otot yang menunjangnya masih belum terlalu membantunya untuk mengangkat dua pedang. Ini mungkin memang sebuah bakat yang tak bisa disangkal.

Clang!

Tapi sayangnya, ketika Zoro baik dalam bermain pedang, maka Kuina akan selangkah lebih baik darinya. Dan dirinya bukanlah tandingan untuk Zoro. Kalau Zoro lincah, berarti Kuina lebih lincah. Zoro mungkin cekatan, tapi Kuina meninggalkan Zoro lebih cekatan dibelakangnya. Ibarat balapan, Zoro adalah musuh yang tertinggal overlap.

Clang!

Setiap kali Zoro mengayunkan pedangnya ke titik lemahnya. Kuina menangkalnya. Dia mengincar bahu kanan Kuina untuk intimidasi agar lebih memperhatikan bahu kanannya, karena bahu kanan adalah tumpuan untuk memegang pedang. Dan kuina tidak bisa dibodohi semudah itu, dia bisa segera tahu, dan melancarkan pertahanan yang sangat defensif.

Clang!

Itu karena setelah Zoro sudah selesai mengincar bahu kanan Kuina, dia akan mengincar lengan kirinya. Tapi sekali lagi, Kuina sangat cakap dalam bermain pedang, dan staminanya cukup baik untuk menahan pukulan-pukulan tajam pedang Zoro.

Clang!

Untuk itu, dia pun harus tahu batas, jadi dia akan memberikan pukulan terakhir. Kuina langsung memberikan penekanan di pedang Zoro. Bukan untuk penetrasi melainkan sebuah jungkitan untuk melempar pedang Zoro dengan membalikkan serangan menjadi sebuah pukulan yang membuat Zoro melepas pedangnya.

"Heh.."

Kedua pedang Zoro terlempar jauh, dan Zoro tersungkur. Dan bahkan sebelum Zoro sempat untuk mengambil katananya kembali, Zoro terlanjur sudah kehilangan staminanya, dan Kuina sudah memperhitungkannya. Jadi Kuina tancapkan pedang tepat di samping kepala Zoro, menandakan duel mereka telah berakhir.

Shressh..!

Yap, itu berjalan singkat, dan Zoro masih harus banyak belajar.

"Kembali, kemenanganku yang ke-2001-nya!"

Mengerang kesal, Zoro tak percaya kembali dikalahkan oleh seorang wanita. "Sial..! Aku benar-benar tidak mempercayai ini!"

"Harus percaya dong, kalau kalah ya kalah, jangan disangkal..!" Sebutnya lagi.

"Berisik!"

Kuina duduk di ujung pelataran, meluruskan kakinya. Semua orang tidak ingin kakinya bermasalah hanya karena varises kan?

"Kenapa marah? Harusnya, akulah yang harus marah.."

"Ha?"

"Pikirkan ini, apa kau pernah mendengar tentang wanita terhebat? Hampir tidak pernah, kan?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Aku bicara tentang kekuatan, Zoro.."

"..."

"Aku adalah perempuan, dan kalau anak perempuan sudah besar, pasti kekuatannya memudar seiring waktu. Dan mungkin aku akan tertinggal dibelakang kalian, bukan hanya kau.."

"..."

"Bukannya kau selalu bilang kalau kau ingin menjadi pendekar pedang paling jago?" Zoro mengangguk. "Baguslah kau laki-laki.."

"..."

"Ayah bilang, perempuan itu tidak akan pernah menjadi yang terbaik. Makanya bersyukurlah kau laki-laki, aku padahal ingin menjadi yang terbaik.."

Kuina tersedu memikirkannya, bahkan menangis.

"...Aku sudah mulai merasakannya... Tanda-tanda kewanitaanku mulai muncul...Hanya jika aku seorang laki-laki...Aku..."

Tidak. Ini adalah sebuah omong kosong. Zoro tahu itu. Tapi angkat bicara saja bukan berarti merubah segalanya. Ini adalah era bajak laut, era mencari kebebasan sejati. Gender bukanlah masalah, keteguhan hati yang menjadi perhatian.

"DASAR BEGO..! SEENAKNYA BANGET BICARA SEPERTI ITU, SETELAH KAU MENGALAHKAN AKU?! ITU ABSURD! MENJADI SEPERTIMU ADALAH SUATU PENCAPAIAN BUATKU!" Teriak Zoro menghentikan tangisan anak perempuan itu.

"Zoro.."

"JADI KALAU KAU MEMANG TERBAIK DAN KAU PEREMPUAN, JIKA AKU MENGALAHKANMU BUKAN BERARTI KARENA AKU KUAT, TAPI KARENA KAU PEREMPUAN?! SAMA ARTINYA KALAU AKU YANG SUDAH BELAJAR MATI-MATIAN DI DOJO INI DAN MENGALAHKANMU TERLIHAT SEPERTI ORANG YANG TOLOL...?! HAH?!" Semprotnya lagi.

Zoro benar. Ini bukan saatnya menyalahkan takdir. Usaha adalah hal yang patut dihormati. Seekor singa, walaupun dia adalah betina, dia adalah Rajanya, yang terkuat dari yang terkuat di padang savana. Seekor macan, meskipun dia betina, dia adalah Rajanya, yang menguasai hutan rimba yang keras sekalipun.

"SUMPAH! AKU TIDAK TAHAN MENDENGAR OCEHANMU ITU! BISA-BISANYA ORANG SEPERTIMU BERPIKIRAN RENDAH SEPERTI ITU!"

"SEKARANG, AKU MAU KAU MEMBUATMU BERJANJI..!"

"...Apa itu..?"

"SALAH SATU DARI KITA HARUS MENCAPAI PUNCAK, AKU TIDAK MAU TAHU BAGAIMANA, YANG PENTING HARUS MENJADI YANG TERBAIK! DAN KITA LIHAT, SIAPA YANG AKAN SAMPAI DISANA LEBIH DULU!"

Dan seketika, tangisannya berubah menjadi tawaan.

"He..hahaha.. bodoh.." Katanya disela-sela dia menyeka bekas air matanya yang mengalir. "Kau itu sudah kalah tapi banyak omong ya?"

"BERISIK! KAU ITU.."

"Baiklah, sebuah janji kalau begitu.." Kata Kuina mempererat jerat tangannya ke tangan Zoro yang kuat.

Zoro terpukau melihatnya kembali bersemangat seperti sebelum mengalahkannya tadi. Ternyata kata-katanya bukanlah omong kosong belaka. Karena terkadang, hanya dengan kata-kata semangat orang bisa terdorong.

Tapi, ini adalah janji.. tidak menepatinya adalah sebuah dosa besar. Ingkar adalah dosa yang mungkin tidak akan diampuni baik di mata orang atau pun Tuhan. Tak ada batasan untuk bagaimana bisa janji itu terselesaikan, tapi ada batasan ketika janji hanya bisa menjadi sebuah buaian.

Ya, seseorang tak bisa menerabas langsung dinding kematian hanya untuk kembali ke kehidupan yang fana.

Dan waktu itu adalah pukul 8.56 pagi pada keesokan harinya, dimana embun belum sepenuhnya menguap dan matahari masih setengah jalan menuju puncaknya. Tapi disitu tak ada satu pun ayam berkokok. Sepertinya dikandangi, dan untuk alasan tertentu, semua orang berpakaian serba hitam dengan rundungan kelamnya suasana.

Disitu, Zoro adalah orang yang paling banyak menangis dan yang paling berkata-kata kotor. Dia terus mereferensikan Kuina sebagai 'si Berengsek' karena dia telah membuatnya melakukan hal yang jika dipikirkan terdengar tidak perlu. Sebuah motivasi? Tidak, hidup hanya sedang berbuat kejam kepadanya.

"BRENGSEK!"

"Hentikan, Zoro! Dia sudah terjatuh dari tangga, dan meninggal.. apa yang menurutmu lebih baik dari itu!" Sebut kawannya.

"GAK PEDULI! SEKALI BRENGSEK TETAP BRENGSEK!" Zoro membawa kedua pedangnya berharap Kuina bisa bangkit dari kematiannya dan melihat Zoro dengan semangat yang membara.

"KITA TADI MALAM SUDAH BERJANJI, KAN?!"

"DASAR BRENGSEK, SUDAH SELESAI MENGALAHKANKU, DAN SEKARANG CUMA MAU MAIN KABUR BEGITU SAJA?! APA YANG ADA DIPIKIRANMU, BEGO!"

Koshiro tidak punya daya untuk menahannya. Dia membiarkan segala yang ada dipikiran Zoro untuk ditumpahkannya, mengetahui, ini adalah saat terakhir sebelum hanya bisa melihatnya sebatas dari batu nisan saja.

Tapi Kuina tak akan melihat, bukan karena dia terbujur kaku dan matanya dibalut kain. Dia mungkin tak akan sanggup untuk melihat Zoro, dan menerima bahwa takdir telah dan pada akhirnya menggulingkannya dari panggung pendekar pedang.

Koshiro memegang lengan Zoro.

"Dengarlah Zoro.. manusia adalah mahkluk yang rentan. Kita memang ditakdirkan demikian.." Itu memang kodrat. Evolusi membuat kita seperti ini.

Menangis, Zoro tak bisa menahannya lagi. Dirinya sudah merasa jadi orang yang hampir kehilangan tujuan. Tapi gurunya, Sensei -nya meyakinkannya, bahwa memang sebagai mahkluk yang rentan kita ditakdirkan demikian, dan kita harus sebisa mungkin menghindar dari sifat rentan itu.

Menjadi yang terkuat berarti jauh dari rentan. Itu adalah intinya..

"...Sensei... Kalau menurut Sensei aku layak untuk menerimanya, tolong...aku memohon untuk mengemban pedangnya..."

Koshiro tersenyum melihat niat baik dari Zoro.

"Tentu, Zoro.."

Dan itu adalah hal yang paling dia hargai sebagai harta karunnya selain hidupnya.

Wado Ichimonji, 'Jalan lurus penuh kedamaian' adalah nama literalnya. Ia adalah sebuah pedang dengan pisau Suguha, pedang katana lurus, sesuai namanya. Pegangan pedang sirkuler, yang mantap, membuat siapapun yang memegangnya tak mudah melepasnya karena terpeleset dari genggaman. Warna putih pada sarung pedangnya, mewakili kedamaian, sama seperti putih adalah ketiadaan.

Ini adalah pedang yang akan melihat sejarah dunia yang berubah secara signifikan ketika Zoro memikulnya selama janji itu masih berada di pangkal lidahnya.

Menerima pedang dari Koshiro, dan kemudian bersimpuh di depan mayat Kuina, Zoro akan kembali melakukannya. Karena sekarang dengan Kuina tak ada, dia harus mencari Bos Terakhir lainnya. Hingga ketenarannya akan menggaung.

"...Aku... Aku akan menjadi jauh lebih hebat dari sebelumnya!" Matanya memerah. Air matanya tak pernah mengalir lebih banyak dari hari itu.

"AKU AKAN MENJADI SEORANG PENDEKAR PEDANG NOMOR SATU DI DUNIA! SANGAT TERKENAL DAN HEBAT SAMPAI-SAMPAI KEHEBATAN DAN KETENARANKU TERDENGAR HINGGA SURGA!"

Ya, nasi sudah jadi bubur, dan sabut kelapa sudah jadi arang. Tapi kadang, kita harus menyatukan sisa itu, dan membuatnya terpadu padan agar bisa kembali berdiri sebagai sesuatu yang baru. Zoro sudah menemukannya. Kematian Kuina justru akan menjadi titik balik agar dirinya tidak lagi harus menghawatirkannya.

Bisa saja, Kuina sedang mendengar ini dan sudah lega, karena Zoro sudah melakukan apa yang tak bisa dia lakukan. Tapi siapa juga kita? Narator sudah bilang, dinding kematian adalah jalan searah.

Dan Roronoa Zoro telah bangkit..


'Tidak – tidak boleh mati disini. Aku sudah terlanjur mengatakannya!' Tentu saja, untuk Zoro, tak boleh ada yang harus disesali meski itu di masa lalu ataupun di masa depan.

Kebetulan, Luffy yang melihat ini dia sudah menyiapkan serangkaian gerakannya untuk sekejap berpindah ke sana dalam waktu singkat.

"Electrovibe..." Luffy mempercepat untuk kedua kalinya, karena pelatuk akan segera ditekan. "Jump!"

Kerchak..!

Luffy menerobos dinding ketika Morgan mulai memerintahkan untuk menembak.

"Tembak..!" Seru Morgan.

Dor!

Dor!

Luffy sambil di udara menyiapkan mantra berikutnya. "Electromagnet..." Sekarang dia akan memanipulasi medan magnet di sekitarnya. Tapi apa yagn akan dia lakukan?

Dia kemudian mendarat saat peluru itu menyasar kepada dua orang itu. Zoro dan Coby sudah memasang wajah horor ketika semua peluru itu mengarah ke Luffy.

"Tansho..!"

'Waaa?!' Pikir Coby panik.

"Luffy-san..!"

"K – Kau..!" Kata Zoro tergegap.

"Bocah Topi Jerami.. ada apa dengan dia.. mengambil semua peluru itu.."

Mereka sudah salah sangka. Peluru perlahan melambat, seperti ada yang menahannya dan menggerakannya melawan arah.

"Apa?!"

Tidak satupun dari semua peluru itu yang tidak melambat. Semuanya melambat dengan seragam. Tak ada juga yang memikirkan ini dapat terjadi. Seolah-olah ada dinding yang elastik.

Tidak.. bukan itu. Ini hanyalah sebuah fisika sederhana saja.

Nyut...

Krsst..

Bola bergerak ke arah yang berlawanan dari yang sebelumnya ditembakkan oleh para Marinir angkatan laut, diiringi keritan listrik. Ini aneh sekali, bahkan dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya pada arah yang semula.

"Heh.. yang seperti itu sih... GAK MEMPAN..!"

Dor..!

Dor..!

Semua peluru mengenai kembali penembak awalnya. Bahkan Morgan pun merinding kaget melihat anak pemakan Buah Setan ini.

"Ahahahahahah..!" Luffy tertawa diatas semuanya. Dia benar-benar hebat dalam mempergunakan kekuatan listriknya.

Dia kini ada di level dimana dia bisa memanipulasi gelombang magnet. Magnet dan listrik adalah hal yang sama, dan bisa saling memanifestasi satu sama lain. Listrik dapat menciptakan magnet, dan magnet dapat menciptakan listrik. Ini yang ternyata menjadi konsep dasar untuk Luffy memanipulasi magnet. Sekarang kita akan kembali melihat apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh pemakan buah Goro-Goro itu.

"Woi! Manusia macam apa kau ini?!" Teriak Zoro yang reaktif terhadap kejadian itu.

"Aku adalah Manusia Petir, dan aku adalah orang akan menjadi seorang Raja Bajak Laut."

Manusia Petir atau Listrik? Oh tidak penting, keduanya sama saja. Hanya saja Manusia Petir terdengar lebih glamor dan elegan. Ditambah itu lebih keren, sedikit. Sedikti lebih keren, sih..

Zoro terkesan dengan sikapnya yang tidak pedulian dan kuat. Sungguh orang yang sangat layak untuk menjadi seorang raja. Terkualifikasi.

"Nah iya, aku baru ingat.. yang mana dari katana ini yang kau bilang jadi harta karun itu?" Bilang Luffy sambil menyodorkan ketiga katana itu. "Aku tidak bisa memilih mana yang benar, jadi aku bawa semuanya, daripada salah.."

"Ketiganya adalah milikku.. aku menggunakan tiga katana.." Dua katana adalah katana orisinil milik Zoro, dan yang putih, Wado Ichimonji adalah komplementernya.

"Tapi, gak semudah itu, Zoro.." Kata Luffy. "Kalau aku memberikan pedang ini padamu, dan membuatmu mengamuk disini, hanya akan menjadimu sebagai seorang pelanggar peraturan seperti aku!"

Luffy kemudian menjeda sedikit. "...Atau mungkin kau akan teguh dan dengan pendirianmu dan mati disini?"

Zoro menyeringai, menyeringis seperti seorang setan. Ya, dia adalah tangan kanan dari setan itu sendiri.

"Pertanyaannya, apa kau keturunan iblis..? Ah, itu sudah tidak penting, daripada aku mati sia-sia disini, kenapa aku tak menyetujuinya.. dan menjadi seorang bajak laut?" Zoro tersenyum merecok, punya agenda tersendiri, menjadi seorang yang terhebat juga.

"...Hore!" Sambut Luffy. "Aku punya kawan berlayar juga akhirnya!"

"Bergembira boleh, tapi cepat lepas ikatan ini, aku sudah tidak tahan!" Teriaknya geram.

Para Marinir masih mencari deduksi yang tepat untuk menjelaskan bagaimana Luffy bisa menolak dan melempar kembali peluru-peluru yang sudah mereka lepaskan. Inilah yang membuat mereka turun moral, seolah ada kekuatan lain yang melindungi anak itu.

"Bagaimana bisa..?!"

"Ini tak masuk akal!"

Morgan tahu ini adalah sebuah perbuatan dari efek Buah Terkutuk itu. Dia adalah orang yang tidak terlalu terkejut.

"Bajingan kecil itu, bukanlah orang biasa, dia pasti sudah memakan salah satu dari Buah Setan!" Sebutnya semakin menggemparkan anak buahnya.

"Dia memakan harta karun rahasia lautan?!"

"Be – Berarti, kekuatannya spesialnya tak lebih dari efek Buah Setan!"

Kemudian satu dari Marinir berteriak.

"Letnan! Orang itu akan melepaskan ikatan Roronoa Zoro!"

"Jangan biarkan dia melakukannya!"

Lalu Letnan menitah anak buahnya untuk memakai pedang, karena Luffy adalah seorang pemakan Buah Setan. Tapi ada satu yang tidak mereka tahu, mereka tidak mengetahui bahwa Luffy adalah seorang Logia, bukanlah seorang Paramecia.

"Kalau senapan tidak berguna, kita harus pakai pedang!"

"Serang!"


"Buset.. ini susah sekali yang untuk dilepaskan, aku pikir mudah.." Celetuk Luffy.

"OI, CEPAT!'" Teriak Zoro.

Coby yang bangun dari pingsan mencoba mengingat post-traumal-amnesia-nya. "Aku pingsan, tapi kena – ...?"

"WAAAAAAA?! LUFFY-SAN, ZORO-SAN, AWAS!" Teriaknya memperingatkan bahwa Marinir sudah siap dengan pedangnya untuk menerabas kulit Zoro dan Luffy.

"WOI CEPAT BEGO!"

"Maa.. jangan berisik, Zoro. Berhenti mengulur waktu.." Balasnya santai.

"SIAPA YANG MENGULUR WAKTU?!""

"Tuh kan, lihat, satu ikatan sudah terlepas.."

"KELAMAAN! SUDAH, CEPAT AMBILKAN AKU KATANA MILIKKU!" Teriaknya lagi memerintah.

Morgan, dibalik kerumunan untuk membunuh dua 'penentang' berteriak dengan keras dan lantang. "Semua penentang rezimku, harus hancur!"

"...Wah..!"

Zing...

Sebuah aura yang meredam semangat pun muncul. Orang biasa tidak akan jalan mendekati sumber aura itu. Aura itu benar-benar menakutkan.

Clang..!

Semua pedang yang ditujukan ke Zoro gagal untuk menemui sasarannya sesaar Zoro membuat semacam pembatas dari ketiga pedangnya. Tidak main-main, Wado Ichimonji dia gigit dan dua pedang lainnya menahan semua serangan yang menebas ke bawah.

Ini adalah aliran tiga pedang

"Apa-apaan..?!" Morgan kaget melihat semua anak buahnya tidak bergerak sama sekali.

Luffy dan Coby berkaca-kaca melihat gaya Zoro dengan tidak pedangnya.

"Keren banget!" Jelas Luffy.

"Semuanya, kalian semua sebaiknya jangan ada yang bergerak. Bergerak, maka kalian akan berakhir di mata pedang ini!"

Suara Zoro begitu berat dan menyeramkan, seperti suara seorang narator di film Horor. Para Marinir rasanya sudah merinding. Seperti ada sesuatu yang dingin mengelus bulu kuduk mereka hingga berdiri tegang.

"Waa..."

"Serem banget..."

"Aku kan sudah bilang untuk menjadis seorang bajak laut.." Sebut Zoro kepada Luffy. "Apapun yang terjadi setelah insiden ini dengan Marinir, aku akan menjadi seorang pelanggar juga."

"Tapi.. aku tidak peduli selama aku masih bisa mencapai tujuanku.."

"Dengarkan.. Aku.. Aku adalah orang yang akan menjadi Pendekar Pedang Nomor Satu di Dunia! Aku sudah tidak peduli namaku bersih atau tidak, bereputasi sebagai orang jahat atau orang baik. Itu sudah tidak penting lagi buatku, selama namaku akan menjadi terkenal di Tujuh Lautan!"

"Kalau di pertengahan jalan, kau melakukan sesuatu yang sengaja atau tak disengaja untuk menghalangi tujuanku, aku akan benar-benar mebedah perutmu paksa untuk memohon maaf padaku!"

Luffy tersenyum sumringah.

"Bagus! Untuk menjadi Pendekar Pedang Nomor Satu hah? Tujuan yang mendebarkan! Karena kau akan menjadi seorang kru Raja Bajak Laut, kau tidak bisa memiliki mimpi yang setengah-setengah, kan? Tapi kebalikannya, kalau kau hanya banyak bicara, dan gagal, aku akan malu sekali.."

Dia benar-benar mempercayainya secara mutlak.

"Heh, kata-kata yang bagus.." Seru Zoro.

Morgan kembali memperintahkan anak buahnya untuk menyerang, setelah melihat banyak delay dalam beberapa saat setelah merasakan aura monster.

"Sedang apa kalian berdiri diam begitu?! Cepat habisi mereka..!"

Luffy kemudian mempertemukan kedua jari telunjuknya. Keduanya layaknya seperti sebuah resistor elektrostatis, mulai membentuk sebuah listrik. Kemudian dia merebahkan jarinya berlawanan arah, membuat listrik itu memanjang seperti sebuah lembing yang panjang, namun penuh dengan listrik.

"Zoro, merunduk!"

"Goro-Goro no Electrostatic..."

Luffy membentuk sebuah lembing listrik yang bergemuruh. Panjangnya sekitar lima meter dari ujung ke ujung. Kemudian Luffy memegang ujungnya dengan ancang-ancang untuk bersiap memberikan pukulan dari listrik itu.

"Rumbling Spear!"

Krassst..!

Gror..!

Dia menyapu semua Marinir menggunakan lembing itu. Tiap sapuannya terdisipasi seiiring listrik itu menyengat setiap Marinir yang menghalangi jalan Luffy. Dan suara petir melengkapi efek dari kekuatan Buah Goro-Goro.

Zoro yang menunduk dan memberi jarak tidak terkena efeknya.

Semuanya terpental dan hitam legam. Setidaknya itu yang terjadi pada peleton pertama yang mencoba menyerang Luffy dan Zoro.

"Wahh! Keren sekali!" Teriak Coby.

Morgan masih terjebak kekagetannnya melihat Luffy.

"Sebenarnya kau ini apa sih?" Tanya Zoro.

Luffy memainkan listrik yang meloncat sana-sini diatas jarinya. "Aku kan sudah bilang tadi sama kau. Aku ini Manusia Petir, orang yang bisa memanipulasi segala bentuk listrik! Shishishishi..!"

"Manusia Petir?!"

"Letnan! Kita tak bisa membunuhnya!"

"Mereka – Mereka berdua terlalu kuat!"

"Sa – satu dan lain hal, kita tak bisa membunuhnya."

Sahut para Marinir berkeluh kesah pada Letnannya. Luffy yang mengenakan topi jerami terus memanaskan tubuhnya. Meskipun dia seorang Logia, tubuhnya harus terus dalam keadaan fit. Dan Zoro siap dengan segala serangan yang mengarah padanya.

Morgan yang merasa anak buahnya tak becus, maju.

"Sekarang, ini adalah perintah."

"Semua yang bilang kata-kata pengecut seperti tadi, ambil senjata kalian dan bunuhlah diri kalian sendiri..!"

"Aku tidak perlu tentara yang pengecut!"

"DAN INI ADALAH PERINTAH!"

Morgan memang orang tak berotak. Orang seperti ini seharusnya dilatih, bukan dibunuh. Nyawa bukan seenaknya dimainkan seperti pion catur.

Tapi apa daya, ini adalah perintah. Semua Marinir mengambil senapan kecilnya masing-masing, namun masih berkeringat dingin karena takut mati. Tak ada orang yang ingin mati di tangan dirinya sendiri!

Klang!

Semua pistol dikokang, dan kedua bajak laut itu menengok dari jauh melihat eksekusi yang layaknya seppuku. Dan ini mendongkrak amarah yang semakin dalam di kepala panas sang Kapten dan kru pertamanya.

" Apa yang mereka lakukan?!"

Luffy kemudian langsung berlari mengejar Morgan atas apa yang akan dia lakukan. Melakukan eksekusi bodoh lainnya.

Pada kecepatan penuh, Luffy langsung melancarkan pukulan pada Morgan. "Aku adalah musuh terbesar Marinir Angkatan Laut!"

Pukulannya itu disambut dengan pertahanan dari Morgan yang menahannya dengan kapaknya. "Kalau kau merasa punya nyali, silahkan eksekusi diriku!" Sontak, semua Marinir berhenti menodongkan kepalanya senjata.

Zoro diam saja dan melihat kaptennya bergerak melawan tirani. Sedang Coby menyemangatinya dari kejauhan. "Kalahkan Marinir itu, Luffy-san!"

Mengetahui gagal untuk pukulan pertamanya, dia menjauh sedikit, karena sedikit yang dia tahu tentang apa yang bisa dia lakukan dalam jarak sedekat itu.

"Heh, dasar bodoh. Orang sepertimu, tidak punya strata dan status, tidak punya hak untuk mempertanyakan kekuasaan padaku!" Sebutnya.

Dengan tangan kanan kapak miliknya, dia ingin menebas Luffy. "AKU ADALAH LETNAN TANGAN KAPAK, MORGAN!"

Luffy menanggai lain, yaitu sebagai salam perkenalan. "Namaku adalah Luffy, senang bertemu denganmu!"

Luffy sebelum sempat terkena oleh tebasan kuat dari Morgan, dia langsung melompat sambil menahan topinya agar tidak terbang. "PERGILAH KE NERAKA!"

Mereka yang tidak telibat dengan pertempuran terperangah ketika tebasan Morgan bisa membelah pagar menjadi dua setelah gelombang kejut tebasannya itu mengenainya. Benar-benar kekuatan yang patut diperhitungkan sebagai seorang Letnan.

"Pagarnya terbelah dua?!" Teriak Coby.

Luffy yang terlempar masih di udara kemudian melancarkan serangan tendangan yang menyikut layaknya sebuah uppercut. Tapi Luffy tahu, Morgan mengenakan pelindung dagu dan mengekspektasi bahwa dia akan bangkit lagi!

"Let – Letnan.. dia..." Sebut Marinir terperanjat.

"Dasar bangsat!" Morgan mulai bangkit dari kejatuhannya.

Syut!

Luffy berlari cepat untuk memberikan pukulan yang ultimat sesaat Morgan mengangkat tangan kanannya dengan sekuat tenaga untuk membantingnya dan membelah Luffy jadi dua. "Cepatlah menghilang dari dunia ini!"

Duargh!

Pukulannya sangat fantastis dan cepat. Tak ada yang menyangka bahwa tubuh secepat itu bisa melakukan gerak selincah itu.

Akan tetapi, Luffy tidak akan kalah begitu saja. Dia lebih reflektif, karena dia mempersepsikannya jauh lebih cepat. Jadi dia menghindar dengan memutar badannya melawan gravitasi dan menggunakan waktu yang terulur oleh Morgan untuk memberinya sekali lagi pelajaran.

"Aku tidak akan mati begitu saja!"

Duak!

Luffy mengincar pipinya dan mengenainya dengan sempurna. Membuat Morgan tumbang seketika.

"Lu – Luffy-san! Kuat sekali!"

"Be – Benar juga, Letnan hanya bisa ditendang memutar seperti itu.."

Menduduki Letnan Marinir itu, Luffy menggenggam tangan dirinya dengan erat dan memberikannya pelajaran tentang mimpi.

"Benar-benar Marinir yang hebat.. Hebat dalam menghancurkan mimpi seseorang!"

Sebelum sempat Luffy memukulnya, seseorang memerintahkannya untuk berhenti. "Hentikan!" Namun tangan Luffy tidak bisa dihentikan.

Duak..!

"Bego! Aku bilang berhenti!" Ternyata dia adalah Helmeppo dan dia menggunakan Coby sebagai sandera agar Luffy bisa berhenti.

Luffy dan Zoro mengamati Coby yang berdiri tegang ketika di todongkan pistol standar Marinir. "Kalau kalian ingin orang ini selamat, jangan bergerak! Kalau bergerak, dia akan mati!"

"He – Helmeppo-sama!"

Luffy dan Zoro diam saja, tapi itu terserah Coby untuk meminta diselamatkan atau merelakan.

"Luffy-san..! Aku..! Aku, tak ingin menghalangi jalanmu!"

"Aku tidak takut mati!"

Dia memang tidak takut mati nampaknya. Luffy telah memberikan Coby perubahan besar dalam dirinya. Tak disangka, pembentukkan karakter baru Coby semakin keras bahkan hanya dalam satu hari saja!

Luffy tertawa senang mendengarkannya. "Tenang saja Coby, aku sudah tahu soal hal itu!" Oleh karena itu, Coby sangat layak akan penyelamatan.

"Dasar anak bodoh, Coby tak takut mati..!" Sebut Luffy sambil memutar tangannya.

"Woi bangsat! Jangan gerak! Aku kan sudah bilang!" Teriak Helmeppo merespon gestur Luffy.

Coby menyentak kepada Helmeppo. "Cepat tembak, dasar mulut besar!" Tapi Coby tahu ini hanya sebuah distraksi, Helmeppo tak punya hati untuk membunuh, tidak seperti ayahnya.

"LUFFY-SAN! DIBELAKANGMU!"

Krasst..!

Krasst..!

"Goro-Goro no..." Sebut Luffy mengumpulkan semua listrik ditangannya.

"AYAH CEPAT!"

"AKU ADALAH LETNAN MORGAN..!" Ternyata Morgan Masih punya nyawa untuk bangkit, namun hal ini diantisipasi oleh Zoro yang menggigit Wado Ichimonji dan melesat ke arah Morgan.

"Fuuuuuuaaaa!"

"Raiken...!" Tinju Luffy seolah bermanifestasi menjadi sebuah pukulan listrik tanpa Luffy harus bergerak memukul Helmeppo secara langsung. Dan suara petir yang menggelegar terdengar ke seluruh gugus Kepulauan Yotsuba. Petir itu membakar Helmeppo menjadi gosong.

Terpentalnya Helmeppo diikuti oleh tumbangnya Letnan Morgan, mengakhiri sebuah tirani yang telah berjalan bertahun-tahun di Kota Shells, Kepulauan Yotsuba.

Tapi satu yang Luffy tahu, dia akhirnya mendapat satu orang dapat dia percayai secara implisit, dari luar atau dari dalam. Masa depan akan ditentukan oleh kedua orang ini sesambil mencari anggota kru lainnya. Bukan hanya Wakil Kapten yang dia butuhkan.

Ini adalah awal.

"Bagus, Zoro...!"

Zoro menyeringai. "Serahkan saja padaku, Kapten..."


Hello, mungkin ada yang kebingungan soal pangkat ya? Jadi author membuat semua pangkat dinamain sesuai dari pangkat TNI AL. Author buat dari yang paling rendah: Kelasi 2, Kelasi 1, Kelasi Kepala, Kopral 2, Kopral 1, Kopral Kepala, Sersan 2, Sersan 1, Sersan Kepala, Sersan Mayor, Pembantu Letnan 2, Pembantu Letnan 1, Letnan 2, Letnan 1 (setara Letnan), Kapten, Mayor, Letnan Kolonel, Kolonel, Laksamana Pertama (setara dengan Komodor), Laksamana Muda (setara dengan Rear Admiral), Laksamana Madya (setara dengan Vice-Admiral), Laksamana (setara dengan Admiral), Laksamana Besar (setara dengan Fleet Admiral), dan tertinggi itu Panglima Tertinggi (setara Commander-in-chief).

Juga, author ganti istilah prajurit Angkatan Laut dengan Marinir. Karena author anggap semua prajurit Angkatan Laut itu Marinir, dan kalau kapal, baru dianggap Angkatan Laut. Istilah World Govt, diganti dengan Pemerintahan Dunia, dll. Beberapa istilah suffix dalam bahasa Jepang gak akan diganti, seperti chan, san, sama, dono, dll.

Jurus Luffy sejauh ini:

Goro-Goro no Pistol: Luffy bergerak di kecepatan tinggi dan memukul lawannya, sehingga rasanya dipukul pada kecepan gerak peluru pistol.

Goro-Goro no Raiken: Luffy mengumpulkan semua listrik di tangannya dan dia tembak dengan bentuk pukulan. Mengeluarkan suara petir setelah menyentuh target.

Electromagnet: Tansho: Luffy memanipulasi gelombang elektromagnetis, sehingga bisa menolak benda logam.

Electrovibe: Jump: Luffy mengeluarkan gelombang harmonis ke kakinya dari tangan dan semakin cepat tiap sepersekian detik, setelah itu dia kirim sekali lagi gelombang kejut, tapi besar, jadi momentum yang besar, membuatnya bisa melompat jauh.

Electrostatic: Rumbling Spear: Luffy mengeluarkan listrik dari dua jari telunjuknya dan membuat sebuah garis panjang dari listrik yang mengeras dan menjadi lembing/tombak. Ketika dilepaskan jadi bisa mengeluarkan suara petir.

Cukup disini untuk sekarang. Keep reading dan review folks, ciao!