Peringatan: AU, Semi-Canon, sedikit OOC, Luffy yang berbeda, banyak kata-kata kotor, dan no pairing!

Disclaimer: One Piece hanya milik Eichiro Oda Seorang.


Kemenangan ada di atas awan. Kawanan dua kawanan Topi Jerami telah membawa kekalahan yang telak untuk sang Lengan Kapak, Letnan Morgan.

Marinir, mereka tak ada yang bergerak ketika pemimpin mereka tergeletak begitu saja. Prosedur standar tak akan membiarkan ketua suatu unit tumbang dan tidak ada yang membantu. Setidaknya medis akan menghampirinya. Tapi sepertinya para Marinir ini nampak terlihat malah saling curi pandang dengan sesamanya, memberikan sinyal untuk siapapun yang punya keinginan silahkan untuk membantu Letnan mereka.

"Gak ada yang bergerak nih? Kalau kalian masih mau menangkap kami, silahkan saja. Aku tidak segan untuk melayaninya..!" Terang Zoro.

Tak ada yang bergerak, masih terdiam ternganga melihat pemandangan itu.

"Ini serius?!"

"Entahlah.. mungkin dia cuma pingsan!?"

"Akhirnya..!"

Semua Marinir kemudian berteriak..

"KITA BEBAS...!"

Tertawa diatas penderitaan adalah hal yang lumrah, karena mereka merasakan sendiri berada dibawah penderitaan itu seperti apa. Mereka punya hak untuk menari, meracau, menyumpahi, meludahi, mencemooh apa yang tersisa dari Morgan. Ini adalah pembayaran kembali atas semua penyimpangan yang sudah bergerak terlalu jauh dalam tubuh Angkatan Laut ini.

Marinir-Marinir ini bersuka cita. Ada yang tertawa, ada yang menangis bangga. Dan ada juga yang menari bahkan.

"Loh kok mereka pada senang Letnannya dikalahkan?!" Tanya Luffy kebingungan.

"Mereka, mereka semua membenci Morgan!" Simpul Coby.

Zoro mulai berjalan timpang. Efek tidak makan selama sembilan harinya mulai nampak. Mungkin dinding lambungnya sudah mulai tergerus.

Bruk!

Dia akhirnya tumbang juga..

"Zoro?!"

"Zoro-san!"


Satu hal yang mengenakkan dari menyelamatkan suatu kota adalah ketika kita dilayani layaknya seorang juru selamat. Semuanya akan menjadi serba gratis dan serba dimanjakan dengan kualitas yang tidak tanggung-tanggung. Setidaknya Luffy dan Zoro bisa menikmati semuanya ini untuk beberapa saat di Kota Shells.

Di rumah Rika, kedua orang ini dijamukan makan sepuasnya oleh ibunya Rika. Coby pun turut diundang karena dia adalah orang yang ikut membebaskan Zoro dan menghantam Letnan Morgan.

Letnan Morgan tidak lebih hanya sebagai lintah darat luar biasa besar, namun dengan tangan dan kaki yang bisa menyakiti. Dia menyerap pendapatan warga, meminta upeti, menaikkan pajak dengan tinggi, memberlakukan pajak pelabuhan yang melewati batas, dan lebih dari itu, dia meminta dihormati sebagai seorang yang hebat. Dimana hebatnya jika ia menggunakan ketakutan dan tekanan untuk memerintah kota kecil itu agar maju?

"Ah! Kenyang!" Tawa Zoro mengelus perutnya yang sudah terisi penuh. "Hampir lupa yang namanya makanan, padahal baru sembilan hari tak makan!"

"Makanya, mana mungkin kau tahan untuk sebulan!" Ucap Luffy disela-sela menelan makanannya.

"Jangan bicara kalau lagi nelan! Dan bisa-bisanya kau makan lebih banyak dariku!" Ya, itu logis. Padahal Luffy baru mengisi perutnya tak lama sebelum berurusan dengan Morgan.

"Ah.. Maaf, sepertinya aku makan lebih banyak dari yang aku kira!" Ibunya Rika sudah menginstruksikan untuk makan banyak, Coby seharusnya tidak meminta maaf.

"Jangan meminta maaf, kalian sudah membebaskan kota kami, makanlah lagi!" Balasnya sambil membawa setumpukkan piring yang tak terhitung. Yang pasti itu adaah bekas dari Luffy.

"Wah, kakak kuat ya!" Kata Rika pada Luffy.

"Nanti aku pasti tambah lebih kuat lagi loh!" Balas Luffy.

"..."

"Oh iya, apa rencana kita selanjutnya?"

Ini seharusnya berjalan sederhana saja jika Luffy yang memikirkannya.

"Kita akan pergi ke Grand Line!"

Lagi, ketika saat seperti ini, Coby-lah yang selalu memberitahu Luffy, menasihatinya bahwa sesuatu tidak berjalan mudah dan sederhana. Ini lumrah saja. Ketika kita ingin berlari, harus berjalan, dan ketika ingin berjalan, harus berdiri, sebelum berdiri harus merangkak, sebelum merangkak, harus tengkurap! Tidak ada yang semudah itu.

"Lagi-lagi, kau menyatakan hal yang aneh, Luffy-san!" Semprotnya. "Bagaimana bisa hanya ada dari kalian berdua untuk berangkat ke Grand Line?! Tidakkah kau tahu disana adalah tempat berkumpulnya bajak laut-bajak laut hebat?!"

"Oh, tidak salah dong, kan kami mau mencari One Piece." Potong Zoro.

"Zoro-san, bahkan kau mengatakan sesuatu yang tak berguna!" Balas Coby.

"Apa nih? Kok malah kau yang takut? Kau kan tidak ikut dengan kami!" Lanjut Zoro.

Menggebrak meja, Coby tidak terima dengan Zoro. "Memangnya kenapa? Memangnya aku tidak boleh khawatir dengan keselamatan kalian?!"

"Eh?" Kejut Zoro.

"Maa... Coby, santai saja, kami akan baik-baik saja kok!" Sebut Luffy. "Dan boleh dong kalau memang menghawatirkan kami, kita kan teman!" Ucapnya menenangkan Coby.

"Haaa..." Helanya lega.

"Padahal kita baru bertemu dan kita akan berpisah, tapi kau sudah menganggapku teman. Seumur hidupku, aku belum banyak teman dan tidak pernah yang ada membelaku, seperti kau Luffy-san.. tapi kau mengajariku sesuatu yang lebih, Luffy-san. Kau mengajariku untuk mengejar mimpi! Itu yang aku kagumi!"

"Itu mengapa aku ingin pergi ke Grand Line dan menjadi Raja Bajak Laut!" Sela Luffy.

"Tidak! Kalau yang itu aku yakin kau sedang menggerutu saja!" Balas Coby.

"Tapi yang lebih penting.." Zoro memberikan sebuah peringatan ke Coby. "Kau harus memikirkan dirimu sendiri untuk saat ini."

"Ha? Kenapa?" Tanyanya.

"Meskipun kau pernah menjadi seorang awak kabin bajak laut, tapi bajak laut tetaplah bajak laut meskipun itu bajak laut kecil seperti tempatmu dulu. Jangan meremehkan kemampuan mengumpulkan informasi Marinir Angkatan Laut! Kalau mereka tahu kau pernah bergabung ke kelompok bajak laut, kau bisa tidak diterima disana!"

Tepat sesaat Zoro memberitahunya info yang berguna, Marinir sudah berbaris di depan rumah penjamuan ketiga pahlawan pembebas Kota Shells. Untuk alasan yang jelas, tentu untuk menangkap bajak laut, tapi untuk memberi penghargaan, agak kurang etis kalau ternyata pembebasnya adalah seorang bajak laut.

"Permisi..." Salamnya sambil membuka pintu dengan suara dalam yang keras namun ramah.

"Perkenalkan, saya adalah Letnan Dua Ripper dari Resimen 153 Marinir Angkatan Laut." Mereka benar-benar sopan dan berada dalam kode etisnya. Mereka semua berada pada posisi istirahat ditempat.

"Kami hanya ingin memastikan, apa kalian benar-benar seorang bajak laut?" Tanya Wakil Letnan itu.

"Seperti itulah! Aku baru saja menemukan kru pertamaku, jadi kami memang bajak laut!" Jelas Luffy lantang.

"Begitu?" Ripper menjeda sebentar. "Meskipun kenyataannya kalian telah membebaskan kota ini dan markas, kami sangatlah bersyukur untuk itu. Tapi sayangnya sebagai Marinir, kami tak bisa membiarkan kalian yang bajak laut berkeliaran disini.."

"Kalian diberi tenggat waktu untuk pergi dari sini – "

"Tidak perlu, kami sudah mengerti itu.." Luffy dan Zoro keduanya berdiri meninggalkan meja makan meskipun masih ada makanan yang belum habis.

"Terima kasih atas makanannya.." Ucap Zoro ke Ririka.

"..."

"Tolong secepatnya, dan karena kami akan melaporkan semua insiden dan kejadian hari ini ke pusat, kalian tidak bisa disini terus." Jelasnya lagi sesaat para penduduk bergemuruh, tidak terima melihat penyelamat mereka diperlakukan layaknya kriminal.

"Kakak mau pergi?" Tanya Rika yang tidak dibalas sepatah kata pun.

Luffy tidak mengeluarkan sedikit kata ketika Coby melihatnya berpapasan dan berjalan berlawanan arah. Tak ada alasan untuk memberinya selamat tinggal karena harus masuk ke Angkatan Laut. Mereka pasti akan bersua namun berbeda partai.

"Luffy-san..." Pikir Coby. Dia mengira kalau Luffy telah menganggapnya menjadi musuh setelah tadi bilang teman.

"Tunggu dulu..!" Tahan Ripper. "Apa orang ini salah satu dari kalian?" Tanyanya menunjuk ke Coby.

"Eh?"

Tak mengindahkan, Luffy terus berjalan menuju teras.

"Aku.. aku bukan bagian dari mereka!" Semprot Coby dengan wajah memerah, menahan rasa sedihnya.

Dia mengingat betapa singkatnya pertemanan mereka. Betapa tak bergunanya dia ini untuk berdiri mengakui kalau dia adalah bagian dari mereka, meskipun hanya sedikit.

"Apa ini benar?"

Meladeninya, Luffy membalas. "Aku tahu apa yang orang ini lakukan dulu.."

"Luffy-san?"

"Aku lupa dimana, tapi dia dulu bersama bajak laut yang geeeeeendut sekali! Aku yakin namanya Alvida!"

"O–oey.. he–hentikan, Luffy-san.."

"Dia menjadi awak kabin untuk di kapal bajak laut! Dan dia habiskan dua tahun lebih di kapal itu. Aku sendiri sampai tak habis pikir bisa tahan sama orang gendut dan jelek seperti Alvida!"

"HENTIKAN!"

Duak!

Pukulan tepat ke pipi dari Coby membuat Luffy tersenyum sumringah. Setidaknya aktingnya membuat Coby terbawa suasana. Sebagian dari diri Coby tak tahu kenapa dia bisa melakukannya, tapi yang penting sekarang dia punya keberanian.

"Heh.. bodoh!" Sebut Luffy. "Kau butuh pelajaran!"

Duak!

Bhak!

Tentu, sebagai orang yang punya harga diri, Luffy harus membalasnya. Sekaligus itu juga melancarkan niatnya. Jalan menjadi Marinir akan sangat sulit bukan?

"Hentikan!" Perintah Ripper.

Duak!

Bhak!

"Hentikan! Tidak ada yang menginginkan perkelahian lagi di kota ini!" Jelas Letnan Dua itu.

Zoro langsung menarik kerah rompi Luffy. Coby sudah tersungkur lemas tak berdaya, masih banyak yang harus dia pelajari dan harus lebih kuat lagi. Menjadi Marinir berarti akan memberikan kenyamanan ke penduduk, bukan memberikan tontonan perkelahian seperti ini.

"Aku tahu kau bukan temannya! Sekarang, cepat tinggalkan kota ini!"

Luffy meninggalkan rumah persinggahannya. Mengikuti Zoro Luffy berjalan santai menuju pelabuhan. Marinir memandang mereka tinggi meski dalam visi yang bertentangan, mereka adalah tak lebih dari sampah.

"Ayolah, tidak mau menangkapku? Hehe.." Ejek Zoro ke Marinir yang berjaga diluar.

Coby tak bisa berpikir lain selain meminta maaf dan terima kasih kepada orang-orang itu sekali lagi.

"Lagi-lagi, dia melakukan itu untukku, semua akting itu..bahkan disaat-saat terakhir, aku masih perlu perhatian mereka.. sial, aku sangat tidak berguna, aku.. aku sangat dungu!" Pikir Coby seraya berdiri. "Kalau aku tidak menggunakan kesempatan ini, aku hanya menyia-nyiakan pengorbanan mereka!"

"Tolong izinkan saya masuk ke Marinir.." Kata Coby membungkuk ke Letnan Dua. "Bahkan jika hanya pekerjaan rumahan, saya akan tetap melakukannya!"

Kemudian seorang Marinir lain masuk. "Pak, kami menentangnya."

"Kita tidak bisa menerima orang masuk ke Marinir kalau masa lampaunya saja belum jelas. Ada banyak kasus bajak laut yang masuk Marinir hanya untuk menjadi mata-mata! Kita harus mengecek latar belakangnya dengan detil sebelum menentukan.."

"Ha? Jangan asal bicara!" Kata Coby.

"AKU ADALAH LELAKI YANG PUNYA MIMPI UNTUK MENJADI ANGGOTA MARINIR ANGKATAN LAUT!" Katanya lantang.

Semangat juangnya membuat para Marinir lainnya bergetar. Mungkin ini adalah contoh dari Keadilan Sejati. Ataukah dia adalah Keadilan Moral? Coby tak peduli sekarang siapa yang menghalangi, yang penting mimpinya harus tercapai dulu.

"Jangan berpikir kami tidak tahu latar belakangmu dulu sebagai perompak. Kau merendahkan kekuatan kami!"

"Tapi.."

"Aku akan membiarkanmu masuk ke Marinir Angkatan Laut."

Berkaca-kaca, Coby menjawab. "Terima kasih! Terima kasih, Pak!"

"Jangan berterima kasih dulu, latihanmu akan berat. Semoga kau tidak mengecewakan.." Dengan begitu Letnan Dua Ripper beranjak dari hadapan Coby.

"Tentu, Pak!"


Di depan mereka laut terlihat luas, menantang ke cakrawala. Camar masih berada di jam makan siangnya, masih berkicau menunggu kawanan makarel yang sewaktu-waktu berkumpul di laguna terdekat.

"Boleh juga aktingmu itu! Kalau begini, walau dia dulu bajak laut, pasti gampang diterima!"

"Ya! Aku pikir Coby akan lebih kuat dan lebih tidak menyusahkan nanti!"

"Nah, ayo kita pergi. Gak ada yang tahu apa yang bakal kejadian! Kita gak bisa ninggalin apapun, kan? Kita bajak laut..!"

"Mah, Zoro.. itu maksudku!" Kata Luffy sambil melepas simpul tali yang mengikat perahu kecilnya.

Tepat sebelum mereka melepaskan sandaran kapal, Coby berlari tersengal mengejar kedua orang yang sangat dihormatinya. Ada sesuatu yang rasanya ganjal kalau tidak mengucapkan salam perpisahan dengan formal.

"Luffy-san!"

Perahu Luffy dan Zoro mulai terhempas angin, Coby datang disaat yang tepat.

"Terima kasih! Aku tidak akan melupakan jasa kalian seumur hidupku!" Katanya sambil memberi hormat ala militer.

Zoro pun mendengus heran. "Heh, baru kali ini aku melihat seorang Marinir memberi hormat kepada bajak laut.."

"Shishishishi.." Tawanya merespon Zoro. "Jangan khawatir! Kita pasti akan bertemu lagi suatu hari nanti, Coby!"

Luffy melambaikan tangannya diikuti hempasan gelombang yang semakin menarik mereka ke tengah laut, menjauhkan mereka dari gugus Yotsuba. Coby sebisa mungkin memberikan hormatnya hingga Luffy dan Zoro menghilang di horizon.

Tak lama berselang, ternyata sekelompok Marinir yang dipimpin oleh Letnan Dua Ripper sendiri berdiri rapi di depan dermaga. Mereka membuat barisan 5 kali 10. Ini adalah penghargaan untuk sesuatu yang memalukan.

"Semuanya, hormat... gerak!"

Sontak ini mengagetkan Coby dan beberapa penduduk yang melihat kepergian penyelamat mereka. Pemandangan yang aneh ketika melihat penampakan seperti ini. Layaknya seperti persekutuan antara Musang dan Ular Berbisa!

"DAAAAAH!" Teriak Luffy sekali lagi untuk terakhir kalinya.

"Kau memiliki teman yang hebat!" Puji Ripper masih memberi hormat.

Coby berkaca-kaca melihat perpisahan yang telah digariskan ini. "Iya Pak!"

"Dan ingat! Kita telah memberi hormat kepada bajak laut! Kita sudah menyalahi kode etik Marinir! Jadi, sebagai hukumannya, tidak ada makanan penutup selama seminggu!" Teriak Ripper ke bawahannya.

"I–Iya pak!" Balas para Kelasi serempak.


"Nah! Ayo! Aku sudah tidak sabar! Ayo pergi ke Grand Line!" Jerit Luffy.

Namun Zoro tak yakin. "Tunggu dulu.. apa kau tahu cara navigasi?"

"Memangnya penting?" Tanya Kapten polos.

"Kau bego ya?!" Desing Zoro. "Haduh, aneh juga melihat orang yang ingin menjadi Raja Bajak Laut, tapi gak punya pengetahuan tentang navigasi!"

"Kenapa? Aku kan hanya berkelana, memang sebegitu pentingnya? Kau juga begitu, kan? Berkelana sana sini dan mencari buronan dan dibayar.."

"Aku kan gak bilang kalau aku hidup sepenuhnya dari memburu buronan.. aku hanya mencari seseorang, makanya aku pergi berlayar, tapi sekarang aku gak bisa menemukan jalan pulang. Aku tidak punya pilihan selain mulai jadi pemburu buronan, sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.."

"Intinya.. kau tersesat?"

"Berisik! Kau yang tersesat tahu!" Jerit Zoro mengeluarkan taring-taringnya. "Benar-benar deh. Aku benar-benar tidak menyangka orang sepertimu gak bisa menavigasi kapal. Bagusnya kita mencari kru yang bisa navigasi sebelum kita pergi ke Grand Line!"

"Jangan lupa juga kru untuk memasak, dan kru untuk hiburan!" Selanya memotong Zoro.

"Woi! Jangan ngaco!" Pekik Zoro.

Tapi terlepas dari semua itu, perut mereka berbunyi bising..

Krrrr...

"Laparnya..." Ucap dua orang itu berbarengan.

Cawk!

"Oh ada burung tuh.."

"Kayaknya enak ya..!"

Burung itu tidak tahu akan menjadi sasaran kerakusan Luffy.

"Makan burung itu aja yuk!" Ajak Luffy.

Yang jdi permasalahan adalah. "Hey, bagaimana kau mau memakan burung itu?!" Semprot Zoro yang melengkapi pertanyaan Narator.

"Hei, jangan lupa.. aku ini Manusia Petir, aku bisa memanipulasi listrik. Sekarang lihat saja ini.."

Luffy berjongkok seperti saat dia melompat tinggi ke gedung Marinir saat di kota Shells. Tangannya juga memberikan gelombang yang sangat cepat ke ujung kakinya, memberikan getaran cepat. Dan sekali lagi dia memberi hempasan besar.

"Electrovibe... Jump! " Zoro kagum dengan gayanya yang sangat luar biasa seperti itu. Namun kebodohan adalah sifat nomor duanya yang paling dominan.

"Gak disangka dia bisa berpikir seperti itu yah.." Zoro melihat ke ketinggian sesaat Luffy menggenggam burung laut itu.

"AGH!"

"Ha?"

Ternyata burung itu paruhnya saja sebesar badan Luffy dan hampir saja Luffy menjadi makanan gratisnya tanpa harus menyelam ke laut. Tapi tentu saja, predator tidak akan meninggalkan mangsanya begitu saja.

"Waaaa! Aku mau dibawa kemana?!" Teriak Luffy ke burung itu. Yang jelas burung itu pasti tidak akan membalas apapun!

Zoro dikejauhan hanya bisa menerawang bingung dan panik ketika burung itu membawa Luffy kabur jauh. "Oi! Bego! Ngapain sih?!"

"Zoro! Tolong!" Zoro akhirnya menggerakkan dayung dengan cepat mengikuti kemanapun burung itu akan mengarah.

Tapi di kejauhan ada tiga orang terapung tenggelam mengharapkan belas kasihan akan siapapun yang mau menampungnya.

"Tolong!"

Zoro mendengus kesal. "Cih! Kalau kalian mau naik ke perahu cepat naik sendiri, aku tidak ada waktu untuk berhenti!"

Perahu yang melaju cepat dibantu dengan angin yang sangat baik mempercepat gerak perahu mendekati Luffy. Para korban kapal karam itu terpaksa sedikit terseret ketika perahu yang mereka coba naik malah semakin cepat.

"Hehehe..."

"Terima kasih atas belas kasihannya.." Tawa salah satu diantaranya menyeringai.

"Tapi sayangnya, disinilah kami akan mengambil alih kapalmu.." Lanjut yang lainnya.

Zoro yang terlanjur kesal karena perjalanannya telah terhambat, menunjukkan matanya yang berubah fokus. Jidatnya mengerinyit kaku.

"Haa?!"


Ketiga korban itu yang mencoba mengambil alih kapal ternyata adalah bajak laut. Mereka menggambarkan Jolly Roger di beberapa aksesori yang mereka pakai. Jolly Roger itu mungkin akan sangat dikenal untuk orang yang tahu kekejamannya.

"Ma–maaf!"

"Kami tidak tahu kalau kau adalah 'Pemburu Bajak Laut' Zoro!"

"Kami akan mendayung sebisa kami untuk mencari temanmu!"

Si rambut hijau hanya bisa mengandalkan tiga orang bajingan ini untuk mencari Luffy. Sejauh ini cukup baik karena sepertinya mereka tahu jalan yang benar. Zoro tidak bisa diandalkan untuk mencari jalan, sebentar saja pasti akan kau-tahu-akibatnya.

"Ya ampun, gara-gara kalian, aku kehilangan kawanku!" Gerutunya. "Lagi pula kenapa juga kapal kalian bisa tenggelam seperti itu?"

Ketiga bajak laut itu pun mulai membeberkan alasan mereka terombang ambing.

"Kapal kami karam gara-gara perempuan itu!"

"Benar! Si penyihir itu!"

"Aku lebih suka menyebutnya sebagai wanita licik!"

"Wanita licik?" Tanya Zoro keheranan.


"Kapten Buggy! Objek tak dikenal mendekat!" Terang seseorang dari balik binokuler.

"Ha? Mungkinkah itu pencuri kita?!" Tanyanya tertarik.

"Mungkin saja! Tapi entah kenapa objek itu berada terbang!"

Buggy menyeringai lebar. "Kalau begitu, persiapkan meriam, tembak saja jatuh!"

"Ba–Baik!"


Duar!

Meriam yang ditembakkan Buggy ternyata mengenai burung yang menggigit Luffy. Dengan mudahnya bola meriam itu melempar jauh burung itu, dan untuk Luffy, dia adalah Manusia Petir, bola meriam tidak akan begitu berpengaruh padanya.

"Ah!"

Luffy mendarat tepat di depan tiga orang yang mencoba mengejar wanita berambut oranye. Sedikit yang kita tahu tentangnya namun, nampaknya, hanya dengan sekedar melihat Luffy sebagai pengalih perhatian.

"Aduh! Pendaratan yang buruk! Kenapa juga mereka menembakku dengan meriam?!" Seru Luffy menahan topiny agar tidak terbang.

"Di–dia masih hidup?!"

"..."

Wanita ini segera mengambil keputusan cerdik.

"Oh! Bos! Akhirnya kau sampai juga disini! Aku sudah menunggumu lama!" Potong kesunyian, sumringah. "Kalau begitu, aku serahkan semuanya padamu,Bos!"

Wanita itu melarikan diri sambil memegang secarik kertas yang tampak digulung. Mungkin itu berharga sesuatu, jika tidak dia tidak akan dikejar seperti itu!

"Oi oi! Dia kabur lagi!"

"Ha! Kita tidak perlu lagi mengejarnya!"

"Dia benar, kita sudah mendapatkan bosnya.."

Luffy nampak cebol dibandingkan dengan orang yang mengelilinginya. Bahkan mungkin bukan tandingannya kalau Luffy tidak memakan Buah Setan. Oh ya, itu tidak akan dipungkiri, dia punya kelebihan dalam kekuatannya.

Slesh!

Pedang dari salah satu orang itu menebas tepat ubun-ubunnya, namun Luffy mudah menghindar. Akan tetapi topinya terhempas angin tebasan itu.

Swoosh!

Topinya terbang, tapi sebelum sempat terbawa angin lebih jauh lagi, Luffy memberikan satu tiupan ke muka orang yang bergaya layaknya mayat hidup itu.

Bletak!

Ya, wajahnya langsung rata dan bopeng karena pukulan kencang dari Luffy. Orang biasa bukanlah tandingan dari calon Raja Bajak laut.

"Jangan sekali-kali mengacaukan topiku!"

"Kau?!" Kedua orang lainnya segera membalaskan pukulan yang diterima temannya. Tapi bgaimanapun juga, bagaimana bisa pukulan tangan kosong dibalas dengan tebasan pedang? Heh, terdengar sarkastik.


Tanpa basa-basi, Luffy meninggalkan lawan yang sudah knock out sebanyak tiga orang di jalanan. Cukup adil meninggalkan musuh tanpa harus menyisakan apapun.

"Wah!"

Ternyata wanita itu ada lagi. Dia menyaksikan Luffy sesaat dia memukuli orang yang mengejarnya. Pertama dia menjebaknya, kedua dia mungkin akan menjebaknya lebih dalam keberbahayaan lagi kalau begitu, bagaimana pun. Dia adalah wanita, tidak – dia adalah penyihir yang layaknya serigala, namun berbulu domba.

"Aku adalah pencuri, namaku Nami. Apa kau mau bermitra denganku?"

"Ha? Pencuri?" Tanya Luffy.


"Kami tiga orang perompak yang baru saja mengambil harta yang sangat melimpah. Kami sedang mencari jalan untuk pulang sembari bercengkrama satu sama lain dan berbangga diri karena telah merampas sebegitu banyaknya emas dari kapal kecil yang bahkan tidak diperhitungkan sekali pun bahwa ia akan menjadi aset yang besar."

"Oh ya, kami mendapatkan setumpuk harga yang berharga, tapi tidak sampai kami bertemu dengan perempuan yang lemas terombang-ambing dibawa ombak laut East Blue. Bajunya yang terlihat baru tidak mencerminkan wajahnya yang senang."

"Kemudian kami mencoba untuk mendekati kapalnya dan berniat untuk merompaknya kalau-kalau dia punya banyak harta karun. Yah, yang namanya bajak laut memang kotor, jadi persetan dengan niat baik kami. Lalu kami segera naik ke kapalnya dan menemukan peti harta."

"Dia, perempuan yang lemas itu langsung menawarkan hartanya jika kami mau membantunya dan memberikan segelas air, yang mana langsung kami lakukan. Akan tetapi sebelum kami sempat menyadarinya, ternyata dia sudah berada di kapal kami dan berlayar menjauh. Sementara itu kami juga menyadari kalau ternyata petinya kosong! Dan ada badai yang mengekor ke kapal yang barus aja kami naiki. Dia hanya bilang 'Bingo!' layaknya dia sudah memprediksinya! Setelah kapalnya karam, kami sadar, ternyata memang kami telah dibodohi."

"Tapi terlepas itu, kami pasti akan kena dengan kemurkaan Kapten kami! Kapten Buggy adalah orang yang mengerikan, dia memakan salah satu dari Buah Setan!" Jelas salah satu perompak itu, panjang dan lebar.

"Orang yang bisa memprediksi cuaca hah? Orang yang cukup spesial, tunggu sampai Luffy mendengar ini!" Zoro baru saja sampai di dermaga, dan dia baru saja mendengar curahan hati para perompak tentang kapal mereka.

"Dan 'Buggy' ini, sebenarnya siapa.. Kalau memang dia pemakan Buah Setan, Luffy juga harus tahu itu. Perasaanku kurang enak.." Wado Ichimonji pun akan berpikiran seperti itu. Perasaannya, sesuatu yang kontra akan membuatnya lemah.

"..."

"Tak kusangka aku melihat 'Pemburu Bajak Laut' berkeliaran di Kota Orange.." Sebut pria berambut pirang panjang yang duduk di ujung tembok laut.

"Kau?" Tanya Zoro berhati-hati.

"Satu-satunya alasan kenapa 'Pemburu Bajak Laut' bisa menginjakkan kaki di pulau ini pasti ingin melakukan perburuan 'kan?" Tanya orang itu balik.

"Jangan memutar pembicaraan,cepat jawab aku, siapa kau?!" Tegas Zoro ke orang itu yang ternyata orang yang memakai topeng yang menutupi seluruh wajahnya.

"Sepertinya kau cukup geram." Jelasnya. Dia kemudian mulai berdiri dan mendekatkan dirinya ke pria berambut hijau itu.

"Aku adalah seorang pedagang, seorang dealer, kalau kau tahu. Namaku adalah Rahasia, kalau kau ingin tahu, dan aku punya ketertarikan khusus semenjak melihatmu keluar dari perahumu." Jelasnya.

"Ha? Rahasia? Apa itu semacam gurauan atau apa?"

"Yah, anggap saja aku sudah melakukan sesuatu yang ilegal, jadi kau tidak perlu mengetahui, ya setidaknya hampir seluruh orang yang beru kutemui paling-paling tidak akan aku beritahu namaku." Lanjutnya menjelaskan.

"Apa?"

"Sepertinya kita ada di satu benang. Kalau kau mau bekerja sama, kita bisa menumbangkan Buggy bersama-sama dan kita bisa buat uangnya impas, 50-50!" Seru pria Rahasia ini.

"Aku tidak mengerti yang kau katakan, aku mungkin tidak tertarik, tapi kalau kau menghalangi jalanku mencari kawanku, kau akan aku tebas.. Mengerti?" Ketiga pedangnya mengimplikasi tatapan serius Zoro tepat ke balik topeng itu.

"Ho? Seramnya.. memangnya kau sedang mencari siapa?" Tanyanya sambil berjalan mengikuti jalan kota.

"Kaptenku.."

"Kau punya kapten? Kau adalah Pemburu Bajak Laut 'kan?"

"Tidak sejak beberapa jam lalu.."

"Oh benarkah? Ah terlepas dari semua itu, aku sudah berani mengasumsikan kalau mungkin kaptenmu sudah mati kalau main singgah ke kota ini."

"Oh ya? Kalau begitu, aku tidak peduli.."

"Haha, sungguh yakin sekali! Aku tidak percaya masih ada orang yang seperti ini! Tapi kau, rumor bilang kau mengerikan, dan pengembara. Dan bagaimana juga kau punya kapten yang bisa mengendalikan kengerian kau itu?"

"Rumor adalah satu dan lain hal."

"Arara, kau bagus juga.."


Kok sepi ya review? Ah sudahlah itu gak penting, yang penting ini cerita tetep lanjut! Ini memang sebenernya tantangan dari temen buat fiction One Piece, dan author enjoyable buat fiction ini. Imajinasi Oda yang unlimited buat author itu terkesan luar biasa dan author mau buat fiction dari orang yang imajinasinya tinggi karena author imajinasi gak terlalu tinggi!

Yah, ini prelude untuk arc Orange Town. Mungkin agak singkat ya? Tapi berikutnya akan dibuat lebih banyak seperti biasa, lebih dari 8k kata. Dan punya ide siapa si 'Dealer' ini? Mulai dari sini akan ada perubahan banyak di cerita utama. Mungkin akan di jelaskan di chapter berikutnya!

Keep Reading and Review, ciao and arrivideci!