Believe Me © Tanaka Aira

Disclaimer : Kuroko no Basuke ©Fujimaki Tadatoshi-sensei.

Pairing : Murasakibara X Reader


Chapter 3 : Open My Eyes

.

"Strange how women love to talk of what has been saddest in their loves. Even in the lowest orders a man usually keeps his past griefs to himself while a woman cackles them forth to anyone who will listen to her."

~The Narrative of John Smith~

.

.

.


"Hahhhh...Hhhhh..."

Rintik hujan seperti puluhan anak panah yang menghujam tubuhku. Angin seolah menjadi tembok penghalang bagiku untuk sekedar berdiri tegak. Namun, aku terus berlari. Aku tidak berhenti dan tidak akan berhenti berlari. Kakiku terus terhentak cepat diatas jalan berbatu. Begitu banyak keluhan yang keluar dari mulut orang-orang yang tak sengaja tersenggol olehku. Tidak. Aku sama sekali tidak mengucap maaf ataupun sekedar menengok ke arah orang-orang itu. Kakiku terus memaksa tubuhku terus berlari, tak memberikanku sedetik pun untuk sekedar mengambil napas.

Aku merasakan panas demam menjalar di setiap pembuluh darahku tapi secara bersamaan hujan seolah menjadi es yang membekukan setiap inci kulitku. Rasanya aneh, dan tidak nyaman. Perubahan suhu dalam tubuh yang ekstrim seperti ini membuat tubuhku semakin melemah. Tidak. Aku tidak lagi kuat berlari. Napasku tersenggal-senggal, terus berputar. Semua tubuhku terasa kaku, tak lagi mampu untuk berdiri. Kesadaranku semakin menipis dan pandanganku memudar. Tapi kenapa? Kenapa tubuhku terus memaksaku terus berlari? Jantungku terus memompa tubuh untuk tak berhenti. Aku tidak mengerti. Seseorang tolong jelaskan padaku apa yang terjadi pada tubuhku. Kenapa tubuh ini tak mengikuti perintahku? Kenapa semua berkontradiksi melawanku?

Lurus, ke kiri, ke kiri lagi, lalu belok ke kanan. Aku tidak tahu kemana tubuh ini membawaku pergi, kemana tubuh ini mengajakku berlari. Aku berjalan tak tentu arah, aku bahkan tak tahu dimana keberadaanku saat ini. Semua terlihat asing; gedung-gedung kaca itu, toko-toko itu, ataupun orang-orang itu. Aku tidak mengenal semuanya. Aku tidak pernah ke tempat seperti ini. Tapi kenapa kaki ini terus berlari tanpa ragu?

Deg!

Lagi. Firasat buruk ini lagi, membuat otakku seketika membeku. Apa ini? Kenapa firasat buruk ini terus menghantuiku? Apakah ini yang diinginkan tubuhku? Membawaku untuk sebuah peristiwa dimana firasat burukku ini sebagai bukti. Lalu apa? Kalau firasat buruk ini memang benar, peristiwa buruk apa yang terjadi?

Mataku menangkap bayangan kerumunan orang-orang, yang berjarak beberapa langkah di depanku. Kali ini kakiku berjalan menuju kerumunan itu. Tanganku menggeser orang-orang yang menghalangi jalan, beberapa memarahiku karena terhentak keras ke pinggir. Entahlah, aku tidak begitu peduli akan hal itu. Apa hal yang menarik perhatian mereka? Apakah itu pertunjukan boneka, parade musik keliling, atau kecelaka–

"Ah! [Name], ja-jangan ke sini!"

Jadi...firasat burukku ini benar...

"[Name]-cchi, Ja-jangan...hiks..mendekat."

Peristiwa buruk telah terjadi...

"Ba-bagaimana pendarahannya?"

Tepat didepan mataku...

"Kh..." Gelengan pelan dilakukan pemuda beriris emerald itu.

Satu langkah, menggeser tumit ke depan.

Semakin terlihat sosoknya, sosok tubuh yang terbaring kaku di tengah-tengah mereka. Surai violetnya berubah menjadi warna yang sangat kontras dengannya, warna merah.

"ke-ke...napa...?"

Aku dapat merasakan suaraku bergetar dan gemeletuk gigiku, bukan karena rasa dingin cuaca hujan badai saat ini. Darah segar mengalir di sekitarnya, beberapa meninggalkan bercak-bercak mengotori wajahnya dan seragam yang dikenakannya. Seorang pemuda beriris scarlet yang kukenal, yang terduduk tepat di seberangku, menatapku dalam diam.

"Jelaskan….."

Kakiku yang sudah lelah menempuh perjalanan jauh, langsung kehilangan kekuatannya, terhempas begitu saja ke aspal yang keras, dingin, dan basah. Pandanganku hanya tertuju pada sosok itu, sosok tubuh yang terbaring di depanku. Aku tak melihatnya, tapi aku dapat merasakan kalau Seijuurou-sama berjengit saat suaraku tertuju padanya.

"Jelaskan…" Aku mengatakannya sekali lagi, membuatnya yakin kalau kepada dialah aku bertanya, " …apa yang terjadi…..padanya?"

Napasku tersekat. Entah aku tidak yakin, tapi bukan tersenggal-senggal seperti pada saat asmaku kambuh. Berat. Ya, mungkin suara dan udara terasa berat, sangat menekanku sehingga aku harus berusaha keras hanya untuk mengeluarkan sebuah pertanyaan.

Iris ruby-nya memandangku dan sosok yang terbaring bergantian. Ia memejamkan matanya, dan menghela napas.

"Tabrak lari." Aku mendongak menatapnya, tak percaya dengan apa yang kudengar, "Dia menjatuhkan kantung kertas ini di tengah jalan dan saat berusaha mengambilnya,…. kecelakaan itu terjadi."

Aku tidak mendengarkan apa yang ia katakan setelah kata 'Tabrak lari'. Seluruh indraku terputus. Suara-suara disekitarku terasa seperti angin yang mendesir, hanya sesuatu yang bahkan tak dapat kutangkap setiap kata. Lidahku tak dapat merasakan apapun selain rasa pahit saliva yang mencekat tenggorokanku. Meskipun sedekat ini, aku tak dapat mencium aroma hujan, asap kendaraan, ataupun berbagai makanan ringan yang tergeletak berantakan di atas aspal, hanya aroma anyir darah. Aroma yang sangat kubenci, sangat menjijikan.

Aku tak bisa merasakan apapun selain….. sesuatu yang kosong.

…..ah, pandanganku memudar. Sesuatu yang berwarna merah mendekat ke arahku, mulutnya meneriakan sesuatu. Tidak. Aku tidak bisa mendengarnya atau melihat dengan jelas. Semakin tertutup. Cahaya yang berpendar pada lampu jalanan semakin meredup.

Gelap.

Sepi.

Hanya ada sebuah ruangan hitam yang kosong–

*Sruk. Sruk.*

Suara apa itu? Kakiku terasa digelitik oleh sesuatu yang lembut berbulu.

Ugh….apa? Cahaya memasuki celah mataku yang perlahan terbuka. Cahaya terang, bukan lagi sekedar cahaya lampu jalan. Ah, ya, itu cahaya matahari. Aku bisa merasakan kehangatannya yang menyelimuti tubuhku.

"Ah, [Name]-chan…..syukurlah. Kamu sudah bangun."

Mataku menyipit untuk mengumpulkan cahaya agar bisa melihat dengan jelas sosok yang duduk di samping kananku.

"….Kaa-san?" Memastikan kalau itu sosok wanita paruh baya yang berstatus sebagai Ibuku. Tangan kuletakkan di pinggir tubuh dan berusaha untuk duduk tapi….. kenapa berat sekali..?

"Ja-jangan memaksakan diri." Tubuhku didorong pelan agar kembali terbaring, punggung tangannya diletakkan diatas dahiku, "Kamu sedang demam, [Name]-chan."

Demam? Ah, itukah sebabnya tubuhku terasa kaku dan berat? Lalu, apa yang sejak tadi menggelitik kakiku? Iris grayish-blue ini menangkap seekor kelinci yang masih mengelus-eluskan bulu bermotif kulit sapi ke kakiku. Seulas senyum tipis mengembang di wajahku. Entahlah, Sunny begitu baik hari ini hingga membuatku tersadar dari mimpi buruk itu.

Ya, mimpi buruk itu lagi.

Entah untuk keberapa kalinya mimpi buruk itu terus menjamah pikiranku. Semenjak aku memutuskan menghapus keinginan untuk bertemu dengannya lagi, bayangan-bayangan buruk mulai menghantuiku. Bagai kaset film yang rusak. Setiap kali, memutar kisah yang sama. Semakin sering terekam, semakin detail bayangannya dan rasanya semakin sakit.

Ibu berjalan keluar untuk pergi mengerjakan pekerjaannya di dapur, setelah sebelumnya memerintahku untuk meminum obat dan sarapan yang tersedia di sampingku. Aku kembali berbaring dengan lengan yang bertumpu diatas dahi. Panas. Ya, panas menjalar dari dahi masuk ke kulitku. Aku pernah merasakan ini, lebih dari sepuluh kali. He, tentu saja karena fisikku tidak seperti anak normal pada umumnya. Aku selalu berlindung di balik perhatian kedua orang tuaku dan mengurung diri dari dunia luar yang penuh bahaya.

Kalau diingat-ingat, aku baru bisa keluar dari kamar saat umurku lima tahun, ya. Sungguh langkah awal yang sangat kunanti-nantikan. Aku bahkan tidak bisa bersekolah seperti anak-anak biasa, hanya guru home-school yang datang di saat-saat tertentu. Guru itu, namanya Rosse-sensei, hanya datang pada saat diadakannya test kemampuan. Meskipun fisikku lemah, bukan berarti aku tak dapat menggunakan otakku. Aku selalu berhasil mendapatkan nilai sempurna pada test yang diberikan. Kenapa bisa? Ya, tentu saja karena aku belajar banyak dari buku dan orang lain. Ibu, Ayah, Bibi, Paman, bahkan rekan sesama pembantu di kediaman Akashi ini, mempunyai kelebihan masing-masing pada mata pelajaran tertentu. Buku-buku yang berjejer tinggi di perpustakaan pribadi kediaman Akashi juga banyak memberikanku pengetahuan yang berguna. Ya, aku selalu banyak belajar, bukan karena aku ingin menjadi pintar seperti Seijuurou-sama, tapi karena tidak banyak hal yang bisa kulakukan selain duduk diam membaca buku.

Terkadang aku terpaku melihat potongan seragam yang menggantung di lemari Seijuurou-sama. Aku tidak pernah merasakan memakai pakaian yang sama seperti orang lain, menghilangkan batas kesenjangan ekonomi dan sosial-politik yang ada, hanya pada saat di sebuah jejang ilmu pendidikan yang bagai hukum, begitu adil dan mengutamakan kesamaan derajat. Aku ingin sekali bersekolah, menjadi sosok normal pada umumnya.

Mataku melirik jam yang menggantung di tembok dan waktu ternyata sudah berjalan lama. Sarapan pasti sudah dingin, dan aku sudah merasakan perutku meronta-ronta meminta tambahan nutrisi. Dan kebetulan demamku sudah tak setinggi tadi. Aku mencoba untuk duduk dan kali ini berhasil. Sepotong roti dengan selai strawberry serta susu vanilla mengisi lambungku. Ah, lega rasanya.

*Bak!*

Sebuah bola terpantul sempurna di tembok kamarku yang masuk dari pintu yang terbuka. Bola itu menggelinding mendekat ke arah kakiku, tepatnya di depan hidung Sunny –yang entah kenapa masih menggeliat di ruangan ini. Bola itu berwarna oranye dengan garis hitam yang berpola di kulitnya. Bola basket, ya? Aku pernah melihat bola yang serupa, di kamar Seijuurou-sama. Kalau tidak salah, mereka semua juga berada di klub basket–

"Ah, [Name]-chin~…."

Eh? Mataku menangkap sosok yang tak asing. Pemuda beriris violet itu memasuki wilayah kamarku dengan sedikit menggeser pintu masuk, yang sepertinya terlalu sempit untuk ukuran tubuhnya. Langkahnya mendekat ke arah tempatku terduduk dengan piring roti di pangkuanku. Dia berjongkok mengambil bola di dekat kakiku. Mataku tetap melihat ke arah sepotong roti yang hampir habis di tanganku, tak berani menatapnya. Meskipun aku menatap sepotong roti, mulutku tak berniat melahapnya. Selera makanku hilang entah kemana. Aku hanya bisa melihat kaki jejangnya yang semakin mendekat –eh?

Kudengar gesekan pakaiannya yang menandakan dia bergerak. Dia berjongkok tepat di depanku. Mataku yang awalnya hanya bisa melihat sampai batas kakinya, sekarang didominasi penuh oleh wajahnya dengan surai violet yang sedikit berantakan.

E-eh? Ke-Kenapa ini? Bukankah ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya –bola basket itu–? Kenapa ia masih berada di sini? Ke-kenapa justru ia mendekat ke arahku?

Aku menutup mata untuk menghilangkan pemandangan penuh parasnya yang tampan, sepasang permata orchid yang memandang kekanak-kanakan, dan surai violet-nya yang panjang tersampir pada wajahnya. Aku dapat merasakan tangan kanan-nya berpegangan pada pundakku, sedangkan tangan kirinya –mungkin– masih memegang bola basket itu agar tidak lagi menggelinding, entahlah aku tidak yakin karena aku tidak bisa melihat apapun saat ini. –Eh?

A-apa? A–…..hangat. Aku dapat merasakan napas hangat yang menerpa wajahku. A-apa yang terjadi? Aku dapat merasakan perbedaan suhu yang cukup tinggi, pada dahiku– eh?

Aku memberanikan diri untuk membuka mata dan aku dapat melihatnya dengan sangat jelas, wajahnya, permata orchid miliknya sejajar dengan grayish-blue milikku, dan surainya melambai tersibak angin yang masuk melalui pintu dan jendela yang terbuka, menusuk-nusuk wajahku. Dia menyatukan dahinya dan dahiku, jadi….karena itukah perbedaan suhu antara panas tinggi dan panas normal beradu di dahiku?

Aku tak dapat menahan wajahku yang memerah layaknya apel segar yang baru saja dipetik. Hidungnya sedikit menyentuh hidungku, rasanya geli tetapi secara bersamaan rasanya kepalaku ingin meledakkan diri. Tidak! Ke-kenapa ini? Kenapa aku tak dapat menutup mataku? Permata orchid itu sungguh memenjarakanku supaya tak memalingkan diri ke arah lain. Aku dapat melihatnya, Orchid miliknya yang begitu jernih. Seulas cahaya menampilkan kilatnya, dan warnanya terbiaskan dengan begitu indah.

Violet….. suatu warna yang melambangkan kemisteriusan dan keanggunan, tetapi kali ini sesuatu yang mendeskripsikan kekanak-kanakan dan kepolosan. Namun, hanya satu yang bisa kulihat dari cermin matanya saat ini, yaitu diriku sendiri. Sungguh, apakah diizinkan jika warna grayish-blue ini menyatukan pandangan pada warna violet pada satu garis lurus?

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Tu-tunggu, kenapa dia masih tetap dalam posisi ini? Padahal aliran darahku sudah memberontak, mengalir dengan sangat cepat. Bahkan, dapat kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari jam detikan jam dinding. A-apa yang sebenarnya dilakukannya? Apa yang diinginkannya? Kenapa terus diam? Kenapa tak bicara? Kenapa dia tak menjelaskan apa yang dia lakukan padaku saat ini? Dengan susah payah, kedua tanganku mendorong dada bidangnya, menjauh dariku.

Eh?...

Kenapa aku melakukannya?...

Entahlah, aku tidak tahu. Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku sungguh tak mengerti.

–"...Tolong...tinggalkan aku sendiri...di sini..."

Ah, ya, kata-kata itu. Kata-kata terakhir yang belah bibir ini ucapkan padanya saat itu. Dimana ia langsung melangkah pergi setelah aku mengatakannya, meninggalkanku sendirian dibawah langit tak berawan. Ya, benar. Bukankah aku sudah memutuskan untuk tidak lagi memiliki keinginan untuk bertemu dengannya?

Aku mengerti. Aku mengerti kenapa tubuh ini secara tak sadar mendorongnya, memperlebar jarak antara kami. Tubuhku bergerak lebih cepat daripada apa yang kupikirkan. Hhhh….. mungkin aku harus berterima kasih kepada tubuh yang sudah terlebih tahu reaksi apa yang harus kulakukan. Jika dia berada jauh, maka aku tidak akan mendekat dan jika dia berada dekat, akulah yang harus menjauh.

"Demammu tinggi, [Name]-chin~."

Lalu, kenapa dengan itu? Kalau ini hanya untuk membuatku bergerak untuk menuju dapur dan menunaikan perjanjian itu, membuatkannya sekeranjang cake, maka aku belum akan bergerak saat ini. Lebih tepatnya mungkin tidak bisa, karena entah kenapa demamku naik lagi, padahal tadi sudah turun.

Tapi perkataanmu itu bukan kata-kata simpati. Kamu tidak khawatir dengan keadaanku bukan?–

"Akan kuambilkan sesuatu. [Name]-chin diamlah disini~"

Mengambil sesuatu?

Dia berjalan keluar dari kamarku, membawa bola basket itu bersamanya. Kali ini, apa lagi yang akan dilakukannya? Aku benar-benar tak mengerti. Aku memakan habis roti yang hampir kulupakan dan meminum obat. Ukh, pahit sekali. Apa tidak ada obat yang memiliki rasa manis?

Aku mendengar berbagai teriakan di luar sana. Oh, ya, jika bola basket itu bisa memantul sampai ke kamarku berarti mereka sedang berada di sekitar sini. Di dekat kamarku memang ada lapangan basket kecil, biasanya Seijuurou-sama berlatih di sana jika cuaca dalam keadaan cerah. Aku berusaha berdiri dan berjalan ke arah luar, meskipun dengan langkah yang sedikit diseret karena demamku yang masih berada pada kisaran 40 derajat celcius. Panas yang cukup tinggi untuk membuat pandanganku buram dan badanku lemas tak berdaya. Tapi rasa penasaran lebih menguasai tubuhku, membuatku tak ragu untuk menatap matahari langsung.

Aku mengintip dari balik pintu kamar. Lima orang pemuda sedang memainkan bola bundar dan seorang perempuan yang baru saja kutemui beberapa hari yang lalu itu, duduk di tepi lantai rumah dan menatap serius ke arah lapangan.

"Oper bolanya, Tetsu."

Pemuda yang paling pendek diantara mereka memberikan pass ke arah pemuda berkulit tan. Tangannya mendorong keras bola oranye itu, layaknya tembakan meriam, dan ditangkap mulus oleh pemuda berkulit tan.

Waaahhh….. aku baru kali ini melihat mereka dari jarak sedekat ini. Dan… pass yang pemuda bersurai langit itu lakukan sungguh keren, dan kenapa pemuda bersurai navy-blue itu dapat menangkap pass yang secepat dan sekeras itu?

Pemuda beriris emerald menghadang pemuda tan itu menuju ring lawan, membuat pemuda itu berhenti dan masih dengan posisi men-drible bola basket. Pemuda berkulit tan melakukan perubahan tempo kecepatannya. Dengan gerakan pelan, bola dipantulkan ke tangan kirinya, tumitnya juga ikut mengarah ke kiri tapi dengan cepat bola itu kembali di-pass ke tangan kanannya lalu melesat lari kearah yang berlawanan dengan arahnya yang tadi. Fake-nya sungguh cepat dan sempurna sekali. Dengan kekuatan penuh, dia melompat 1,2 meter di depan ring dan –BAK!– melakukan formless-shoot dengan satu tangan.

"Kalau hanya merebut satu angka, aku juga bisa, Aominecchi!"

Pemuda blonde itu me-restart permainan begitu cepat. Dia mengambil alih bola basket yang terpantul di bawah ring. Dia berlari cepat dan dihadang oleh Seijuurou-sama. Pada awalnya pemuda blonde itu berusaha untuk melewatinya, tapi langsung mundur selangkah saat iris madu-nya bertemu dengan sepasang permata ruby yang seolah menghunuskan pedang untuk membunuhnya. Ya, mungkin dia memikirkan cara yang lebih efektif untuk menghadapi Seijuurou-sama yang tak bisa tertipu dengan fake murahan. Pemuda blonde itu berbalik arah dan beberapa langkah ke arah samping, teknik turn-around, lalu mengambil ancang-ancang untuk melakukan tembakan tree-point dari luar lingkaran. Namun,

"Kalau hanya itu, aku sudah bisa memprediksinya dengan mudah, Ryouta."

Seijuurou-sama melompat dan berhasil mem-block tembakan itu. Bola itu mengarah pada pemuda beriris light-blue ,yang berdiri dibelakang pemuda blonde. Ternyata, Seijuurou-sama bukan hanya bermaksud untuk mem-block saja, tetapi juga untuk mengirimkan pass pada pemuda itu. Kemampuan Seijuurou-sama dalam memikirkan strategi yang efektif dan efisien memang modal yang paling utama dimilikinya, semua terencana dengan begitu kompleks.

Bola oranye itu di-pass lagi ke arah pemuda berkulit tan, namun pass itu segera di-cut oleh pemuda beriris emerald. Dari garis batas tengah lapangan atau center-line, pemuda itu melompat dan melakukan tembakan tree-point. Pemuda tan yang awalnya berniat mem-block tembakan itu, gagal karena bola sudah melayang cepat membentuk pola parabola ke arah ring lawan dan–

"Shoot-ku…." Pemuda bersurai hijau itu berbalik arah dan menaikkan kacamatanya dengan tangan kiri, "….tidak akan pernah meleset."

–Bola itu masuk dengan mulus ke dalam ring. Padahal jaraknya sangat jauh dari ring tapi dia berhasil memasukkannya bahkan memberi waktu pemuda blonde dan pemuda bersurai hijau itu berlari ke daerahnya dan mengambil posisi defense. Sugoi…. Padahal mereka hanya berdua, tapi bisa hampir seimbang dengan tim Seijuurou-sama yang beranggotakan tiga orang.

Tunggu, berdua? Jangan-jangan dia belum juga kembali ke lapangan. Lalu kemana dia pergi–

*Tuk!*

"Di-dingin!"

Aku refleks berteriak karena pipiku ditempelkan sesuatu yang suhu-nya sangat berbanding terbalik dengan suhu tubuhku. Sejulur lengan besar miliknya menggenggam sebuah eskrim yang tadi mengecup dingin pipiku. Di tangannya yang satu lagi terdapat satu kantong plastik penuh dengan eskrim berbagai rasa. Dia menyondorkan plastik itu padaku. Dinginnya eskrim yang menyentuh pahaku, menjalar ke seluruh tubuh. Aku tidak bisa berpikir, kenapa ia memberikan begitu banyak eskrim kepadaku.

"…Ano…." Aku mencoba bertanya dengan mengangkat satu eskrim cone dari kantung itu, "…kenapa…. semua eskrim ini kamu berikan….padaku?"

Bukan sebuah jawaban, dia justru balik bertanya dengan wajah bingung, "Bukankah kamu demam, [Name]-chin~? Panasmu harus didinginkan, karena itu aku memberikanmu eskrim*slurp* dan eskrim tidak pahit seperti obat~."

"Ah, [Name]-chan! Kamu ternyata ada di sini, ya."

"Murasakibara, eskrim itu tidak baik untuk orang yang sedang demam –nodayo."

"Kuambil lagi eskrim-nya!"

"Mou~, bilang aja Aominecchi sebenarnya ingin eskrim itu-ssu."

"APA?! Bukan begitu, Teme!"

"[Name], bukankah kau masih demam? Harusnya kau jangan keluar kamar dulu–"

"Pffffttt…..Hahahahaha…" Tawaku meledak diantara keributan tujuh orang yang mengelilingiku. Aduhh, kali ini perutku sakit karena tertawa terlalu keras. Semua memandang heran kepadaku yang masih tertawa lagi sambil menyeka setetes air yang berada di pelupuk mata.

Aku tidak pernah tertawa sekeras ini seumur hidupku. Biasanya aku hanya tertawa kecil dan tidak sampai membuatku kesakitan. Inikah rasanya tertawa puas? Perutku memang sakit tapi apa…..? Perasaanku seolah mengambang di udara dan begitu ringan. Aku merasa lega, semua pikiranku ataupun rasa sakit akibat demam menjadi sebuah perasaan yang nyaman. Perasaan yang sangat bebas.

Pemuda beriris light-blue mendekat padaku dan bertanya dengan nada khawatir, "[Name]-san, kamu baik-baik saja?"

"Ma-maaf….. aku kehilangan kendali diriku."

Sungguh, aku tidak tahu ia mendengar teori itu dari siapa, kalau eskrim bisa menurunkan panas. Konyol sekali pemikirannya itu. Kepolosannya itu sungguh lucu dan aku tidak bisa menahan perasaan yang menggelitik ini untuk mengeluarkan suara tawa. Dan lagi aku memang tidak suka obat yang pahit tapi bukan berarti eskrim manis dapat menyembuhkan sakitku. Pertama kalinya dalam hidupku, ada suara lain selain suara penuh aura negatif dari mulutku.

Aku kehilangan kendali untuk tak menanggapi keberadaan pemuda beriris violet itu, untuk tidak lagi merasakan perasaan bahagia saat bersamanya. Hilang sudah, tak meninggalkan bekas.

Semakin lama, aku merasa dia semakin seperti anak kecil. Dia...sama sekali tak merasa melakukan hal yang salah. Semua kata-kata bernada malas yang terucap dari mulut yang selalu mengunyah, mengungkapkan kepolosan dan kujujuran yang ada dalam diri seorang anak kecil.

Aku tidak bisa lagi marah padanya.

Apakah semuanya hanya kesalahpahamanku semata?

"[Name]-chin~" Lagi. Dia memanggil namaku dengan nada manja khas seorang anak kecil. Kenapa aku baru sadar sekarang?

Dia sungguh-sungguh mencemaskan kesehatanku. Dia sudah berusaha untuk mengambil berbagai macam eskrim ini di lemari pendingin di dapur. Ah, ya semua sikapnya itu selama ini telah menolongku. Aku tidak berhak untuk kecewa atas alasannya yang hanya menolongku untuk sekeranjang cake. Faktanya, dia telah menyelamatkanku, bukan? Hanya dia yang terus menolongku. Dia terus berusaha untuk membuatku tak kesakitan lagi. Dia berlari menyelamatkanku. Dia ingin agar aku selalu tak mengepulkan asap pendek-pendek karena penyakit pernapasan. Dia membuatku tenang. Dia membuatku...

"[Name]-chin, sakitnya semakin parah, ya~? Makan eskrim ini, ya. Ini dingin dan sangat manis, lho~."Tubuh besarnya ia tundukkan agar sejajar denganku. Dia menjulurkan eskrim cone yang sudah habis setengahnya.

Kalau kamu meminta dengan nada manja seperti ini, tidak mungkin aku menolaknya kan.

"Terima kasih," lalu kujilat eskrim yang masih dipegangnya itu, rasa vanilla, chocolate, dan saus blueberry. Begitu dingin dan...lembut,

"*slurp.*...manis."

Ya, rasanya sangat manis.

Manis sekali.

.

.

.

TBC

.

Ini benar2 kali pertama aku bikin cerita romance. Sebenernya kerasa gak sih romance-nya? Aku jadi ragu sendiri -_-.

Dan penjelasan saat Kisedai 'three on two' itu ngerti gak? Aku gak pernah menjelaskan alur sebuah pertandingan karena kupikir itu sulit, tapi aku nekat sekarang. Kalau kalian pikir itu bisa dimengerti, pas chapter lain saat ada pertandingan maka gak bakalan aku skip dan aku jelasin detail. Emang sih ngabisin banyak halaman, dan gak nyambung sama romance, tapi ngetik pertandingan mereka itu membuat suatu kepuasan tersendiri lho.

See you next chapter. (Setelah lebaran, ya. Aku mau hiatus aja selama puasa.)

Sign,

Tanaka Aira