Disclaimer : Masashi kishimoto

Pairing : Ino Yamanaka, Shikamaru Nara, Sasori

Warning : OOC, many typos.


Mikansei Communication

Part 4

Pagi itu, Ino pergi ke sekolah dengan penampilan yang kacau sekacau
pikirannya. Kantung matanya menebal kehitamannya, rambut yang hanya
disisir sekadarnya tanpa keinginan untuk mengikat apalagi menatanya,
Ino terlihat lebih mirip mayat hidup daripada seorang pelajar yang
hendak pergi ke sekolah.

Kakaknya sudah pulang dini hari tadi setelah sempat berdebat dengan
ayahnya, Ino masih mendengar semua pembicaraan kakak dan ayahnya
setelah dia mengusir kakaknya dari kamarnya semalam. Dia tak bisa
tidur semalaman, meski dia pura-pura tidur saat ayahnya mencoba
membangunkannyadari balik pintu sebelum pergi ke kantornya. Ino benci
situasi rumah seperti saat ini, situasi dimana dia bahkan merasa asing
dengan dirinya sendiri dirumah itu, dia ingin sekali ada seseorang
yang memperhatikannya disaat-saat seperti ini, dia ingin menangis
menumpahkan seluruh rasa sesaknya. Bukan ayah dan kakaknya tak
memperhatikan Ino, tapi disaat seperti ini yang sering terjadi justru
Ino lah yang menolak segala bentuk perhatian orang-orang disekitarnya.
Salahkan Ino yang keras kepala, tapi sayangnya di rumah itu bukan
hanya Ino yang memiliki sifat keras kepala, semua orang di rumahnya
adalah orang-orang yang keras kepala dan tertutup apalagi untuk urusan
perasaan.

Ino mengayuh sepedanya tanpa arah dengan seragam dan tas sekolahnya.
Sebenarnya dia masih belum terlambat tapi Ino sama sekali tak berniat meneruskan kayuhannya menuju sekolahnya, dia terlalu malas untuk kesekolah. Tapi, apa yang akan dia lakukan seharian ini jika dia tak
sekolah, dia ingin menghubungi temannya, tapi dia merasa segan jika
mengajak temannya membolos hanya karena masalah pribadinya.

"Haaaaahhhh..." ino menghela nafas panjang diatas jembatan, tempat
dirinya memberhentikan sepedanya dan menerawang ke atas saat ini.

"Ada apa?" sebuah suara mengaketkannya dari belakang, Ino hampir saja
terjungkal dari sepedanya karena kaget.

"Haiiish...kau mengagetkanku saja Shika" jawabnya jengkel.

"Kau sedang ada maslah?"

"Sedikit" kata Ino jujur tanpa sadar.

"Sudah hampir terlambat, ayo cepat" ajak Shikamaru.

Entah kenapa Ino mau mengikuti Shikamaru ke sekolah begitu saja, meski
tadinya dia malas untuk pergi ke sekolah.
Ino benar-tak bisa fokus selama jam pelajaran, dia merutuki dirinya
sendiri yang tadi mengekori shikamaru ke sekolah. Dia melirik kearah
Shikamaru dan mendapatinya sedang tidur pulas seperti biasa.

"Ck..." Ino mendecih pelan, dia sangat iri pada Shikamaru yang bisa
tertidur pulas dimana saja seolah hidupnya tak pernah ada masalah,
andai dia bisa bersikap secuek Shikamaru. Ino memaksakan diri
mendengarkan penjelasan Iruka sensei tentang sejarah Jepang meski
hanya sedikit yang bisa dia tangkap, untung saja ini bukan pelajaran
matematika yang memerlukan konsentrasi penuh.

Ino berencana untuk membolos diatap sekolah selama sisa jam pelajaran
berikutnya. Namun saat akan membuka pintu atap dia mendengar suara orang yang
sedang bicara entah apa yang mendorongnya untuk mengintip siapa orang
dibalik pintu itu, rupanya Hinata sedang berusaha menyatakan
perasaannya pada Naruto secara langsung seperti yang ia sarankan, Ino
tersenyum melihat pemandangan itu.

"Baguslah, akhirnya kau berani mengambil keputusan juga"

"Apa maksudmu?" tanya seseorang dari belakang yang mengagetkannya.

"Kau mengagetkanku saja Sasuke" kata Ino sambil memutar bola matanya.

"Keputusan apa yang kau maksud tadi"

"Minggirlah, aku mau lewat" Ino mencoba mengalihkan pembicaraan dengan
menyuruh Sasuke meyingkir dari jalannya untuk berbalik.

"Kutanya, keputusan apa yang kau bicarakan barusan?"

"Keputusan untuk mengungkapkan perasaannya pada Naruto" jawab Ino
terus terang. Ino pikir tak ada gunanya dia menyembunyikannya dari
Sasuke.

"Apa kau yang menyuruhnya?" tanya Sasuke dengan tatapan tajamnya,
"Aku hanya memberinya saran"
Ino tahu ini pasti sulit untuk diterima Sasuke, dia sedikit bersimpati
pada Sasuke kali ini, dia tahu bagaimana rasanya memendam perasaan
pada seseorang yang sama sekali tak menghiraukan perasaannya, atau
pada kasusnya sendiri terhadap seseorang yang tak menyadari perasaan
yang coba dia sampaikan lewat perhatian-perhatian khusus yang dia
berikan.

Sasuke dan Ino bisa dibilang mirip bahkan sama dalam hal yang satu
ini, mereka sama-sama sulit mengungkapkan perasaannya secara lisan
pada orang yang bersangkutan secara langsung, banyak alasan yang sulit
untuk dijelaskan kenapa mereka sulit melakukan hal yang biasa bagi
sebagian orang pada umumnya. Gengsi, malu, bingung, canggung dan masih
banyak lagi.

Sasuke menatapnya seolah ingin membunuhnya, namun saat Sasuke hendak
membuka pintu atap itu Ino segera mencegahnya.

"Lepaskan, sebaiknya kali ini kau tak ikut campur lagi dengan urusan
orang lain?"

"Sebaiknya kau menghormati keputusan Hinata Sasuke" kata Ino mencoba
mencegah sasuke mengganggu upaya Hinata menyatakan perasaannya, melihat keseriusan Ino Sasuke akhirnya pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepatah katapun.
.

.

.

.

.

"Hei, Ino...bisa bicara sebentar" sebuah suara menghentikan langkah
Ino masuk ke dalam rumah.

"Apa, cepatlah aku lelah?" jawab Ino ketus.

"Bukan di sini, ikutlah denganku" Sasori langsung menarik tangan Ino
dan memasukkan Ino kedalam mobilnya tanpa menghiraukan protes yg
keluar dari mulut Ino.

Sasori tampak serius memikirkan kata-katanya saat sampai ditempat tujuan mereka.

"Bicaralah" Ino mulai tak nyaman dengan situasi mereka yang hening.

"Bisakah kita tetap seperti dulu?"

"Bisa, kalau kau bisa merubah pandanganmu terhadapku"

Satu-satunya hal yang sampai saat ini belum bisa diterima Ino dari
Sasori adalah bagaimana cara Sasori memandang dan memperlakukannya
sebagai anak kecil yang bisa dipermainkan dengan mudah. Menyakitkan
bagi Ino melihat Sasori bisa bersikap seolah waktu tak pernah berubah
diantara mereka, sedangkan dia harus bergelut dengan perasaan
konyolnya sendiri.

"Berhentilah melihatku sebagai anak kecil, dan berhentilah menutup
mata terhadap ketertarikanku padamu, cukup katakan 'tidak' jika kau
memang tak bisa menerimanya"

"Apa yang...jadi, jadi selama ini... kau...?" Sasori kehilangan
kata-katanya seketika saat mendengar pengakuan Ino yang tak disengaja.

Dia tak pernah menyangka, dia bahkan tak pernah berpikir sejauh itu
tentang sikap aneh Ino, selama ini Sasori hanya menganggap Ino sebagai
gadis kecilnya selayaknya adik baginya karna kedekatannya dengan
Deidara. Pantas saja dia merasa ada perasaan aneh yang tak biasa saat
dia berada di dekat Ino, mungkinkah dia juga sebenarnya merasakan hal
sama dengan Ino?

"Sial...aku pulang sekarang" Ino mengumpat keras setelah menyadari
kecerobohannya,dia terlalu terbawa emosi sehingga tanpa sengaja
mengatakan hal yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat. Ino segera
turun dari mobil Sasori dan berlari guna menyembunyaikanrasa malunya.

Namun sebelum dia berhasil menjauh dari tempat itu Sasori telah
berhasil menghentikannyadengan sebuah tarikan ditangannya kemudian
memeluknya dengan erat.

"Maafkan aku Ino, maaf karna aku tak pernah menyadarinya" Ino diam tak
membalas pelukan Sasori, dia lebih memilih mendengarkan apa yang
dikatakan Sasori

"Aku menerimanya, aku mau menerima perasaanmu Ino" Ino tercekat
mendengar kata-kata Sasori. Ino menangis, menangis karna lega, dia
benar-benar menangis, bukan karna perasaannya tersambut tapi lebih
karna perasaannya selama ini terungkapkan dan untuk pertama kalinya
berhasil tersampaikan dengan baik pada seseorang tanpa menimbulkan
kesalahpahaman yang baru diantara mereka.

"Aku juga menyukaimu Ino" kata Sasori mengakhiri pelukannya.

"Hihiks hihi hiks..." Ino tertawa disela-sela tangisnya yang belum reda.

"Hei, apa yang kau tertawakan?" tanya Sasori bingung.

"Terimakasih Sasori, terimakasih karna akhirnya kau mau mengerti apa
yang ingin kusampaikan, tapi kupikir itu tak perlu"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Ya, aku sudah tak berharap lagi padamu Sasori, setidaknya itulah
pilihan yang sudah kuputuskan sejak kupikir aku takkan bisa
mengungkapkan semuanya padamu"

"Aku tak mengerti maksudmu Ino-chan"

"Haaaahhh..." Ino menghela nafas panjang sebelum menjelaskan maksud
kata-katanya tadi

"Begini Sasori-kun, jadi sekarang aku sudah cukup puas akhirnya bisa
mengungkapkan semuaya padamu dan kau mengerti apa yang kukatakan
meskipun itu tadi keluar tanpa sengaja" jelas Ino dengan mantap.

"Jadi Sasori-kun bagaimana kalau kita tetap seperti
sebelum-sebelumnya, aku gadis kecilmu dan kau kawai onii-chanku, oke?!
hehehe..." kata Ino tiba-tiba ceria seolah tak pernah terjadi
apa-apa. Sasori hanya bisa dibuat cengo karnanya.

"Sou ka?" kata Sasori lirih. Hening, Ino jadi merasa bersalah.

"Gomennasai" ucap Ino penuh penyesalan.

"Yaaahh...sudahlah, meskipun aku harus patah hati tapi tak masalah
kalau itu yang benar-benar Ino-chan inginkan" Sasori pura-pura kecewa,
dia tersenyum dan mengacak rambut Ino dengan sayang. Ino tertawa
melihat akting konyol Sasori, dia senang karna satu masalahnya selesai
sekarang.

"Yooosh, kalau begitu ayo kita pulang sekarang" kini giliran Ino yang
menarik Sasori menuju mobil. Tapi Ino tak pernah tahu rasa kecewa yang
sebenarnya disembunyikan Sasori. Ya, meski baru menyadari perasaannya
sendiri namun Sasori tak menyangkal bahwa dia juga memiliki perasaan
khusus pada Ino. Tapi biarlah, lebih baik begini daripada dia harus
kehilangan gadis kecilnya lagi, pikir Sasori dibalik senyum mirisnya.

Ino merasa hatinya sangat ringan, dia terus tersenyum sepanjang jalan
menuju sekolah pagi itu, dia bersenandung kecil sambil mengayuh
sepedanya pelan.

"Sepertinya kau sedang senang pagi ini" sebuah suara lagi-lagi
mengejutkannya saat dia sedang menaruh sepedanya ditempat parkir
sepeda.

"Oh, ternyata kau Shika. Ya aku memang sedang senang pagi ini" jawab Ino riang.

"Memangnya apa yang membuatmu begitu senang?"

"Pernyataan yang jujur" Shikamaru menatap Ino tak mengerti, Ino hanya
tersenyum menanggapinya.

"Apa seseorang telah menyatakan perasaan padamu?"

"Hmmm...bisa dibilang begitu, tapi mungkin lebih tepatnya aku yang
akhirnya berhasil menngungkapkan perasaan yang selama ini
kusembunyikan" Shikamaru hanya mendengarkan cerita Ino dalam diam,
pikirannya tiba-tiba kacau dan sesuatu yang aneh namun tak
menyenangkan menyeruak dalam dadanya.

"Kau tahu Shika, sekarang rasanya begitu ringan disini" Ino berkata
sambil menyentuh dadanya dengan raut wajah yang begitu sumringah.

"Kalau begitu bisakah kau membantuku untuk menyatakan sebuah
kejujuran, aku juga ingin merasakan hal kau katakan barusan?"

"Eh, kau mau menyatakan perasaan pada seseorang Shika? Pasti aku
bantu, siapa dia?" kata Ino antusias.

"Nanti kau juga akan tau, datanglah ke atap sekolah saat jam
istirahat" jawab Shikamaru sambil berlalu meninggalkan Ino yang masih
penasaran.
.

.

.

.

.

Ino merasa aneh saat memasuki gedung sekolah, dia merasa semua
murid-murid disana memperhatikannya beberapa bahkan sambil
bebisik-bisik tak jelas. Tapi Ino tak menghiraukan semua itu sampai
dia tiba didepan lokernya dan dikejutkan dengan keadaan lokernya yang
mengerikan seolah ada orang yang sengaja mengerjainya, seketika
amarahnya langsung memuncak.

"SIAPA YANG MELAKUKAN INI?" teriak Ino nyaring membuat suasana disana
sunyi seketika. Dia melihat sekeliling dengan begitu marah seolah siap
menerkam siapa saja yang berani mengusiknya. Tak ada anak yang
menjawab, semua bungkam, beberapa anak memiliih menjauh dari tempat
itu. Tapi setelah beberapa saat dia pikir tak ada gunanya dia bertanya
seperti itu pada murid-murid yang ada disana, dia membanting lokernya
dengan kasar setelah menukar sepatunya dengan uwabaki yang untungnya
masih selamat di dalam loker itu, membuat orang-orang yang melihatnya
bergidik ngeri melihatnya.

Ino berjalan ke kelasnya dengan kemarahan yang belum mereda, namun
saat tiba dimejanya dia malah menjadi semakin marah karna mejanya juga
menjadi korban keisengan orang. Ino menggebrak meja dengan keras.

"Siapa yang melakukan semua ini?" kata Ino penuh penekanan meski tak
lagi dengan berteriak.

"Kami tidak tahu Ino-san, saat kami masuk kelas mejamu sudah dalam
keadaan seperti itu." jawab Hinata akhirnya memecah keheningan kelas
karna kemarahan Ino.

"Sou ka? Jadi ada yang mau bermain-main denganku rupanya" gumam Ino
saat melihat seringai aneh diwajah Sasuke.
Ino terpaksa menahan amarahnya karna Anko sensei sudah memasuki
kelasnya meski tadinya dia berniat untuk keluar kelas dan membolos
saja untuk meredakan amarahnya yang masih terasa dipuncak ubun-ubun.

"Ohayou gozaimaasu" ucap Anko sensei memberi salam, tanda pelajaran
akan segera dimulai. Sedangkan Ino masih berusaha mati-matian untuk
mengendalikan emosinya dengan berkali-kali menarik nafas panjang. Sepertinya ini hari yang buruk bagi Ino karna harus memulai kegiatan belajarnya dengan mood yang sangat buruk karna kejadian tadi 'semoga tak ada guru yang memperhatikannya selama pelajaran berlangsung' harapnya dalam hati. Poor
Ino.

Tbc...


Langsung part 4, semoga gak tambah hancur.

koreksi dan RnR onegai shimaaasu...

Hontou ni arigatou dan see you next part.^^