Mikansei communication
Disclaimer : masashi Kishimoto
warning ; typos. sedikit OOC, alur masih terlalu cepat, membosankan mungkin, DLDR.^^
Part 5
"Ne Shika, kau duluan saja aku ke toilet dulu"
"hn" jawab Shikamaru singkat.
"Uchiha san, bisa bicara sebentar?" Sasuke segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas diikuti Ino.
"apa yang ingin kau bicarakan?"
"aku hanya ingin memastikan apa kau tahu tentang yang kualami pagi ini?"
"Apa kau pikir aku terlibat dengan hal rendahan seperti itu?"
"Mungkin saja, bukankah tempo hari kau menyalahkanku atas keputusan Hinata?"
"ya, jujur saja aku memang menyalahkanmu tapi aku tak punya niat berurusan denganmu"
"kheh, tapi kau senang kan ada org yang mengerjaiku?"
"aku hanya tak punya alasan untuk tak merasa senang" kata Sasuke menyeringai yang ditanggapi Ino dengan decihan.
"apa kau hanya ingin menanyakan itu?" tanya Sasuke kemudian.
"awalnya, tapi sekarang kupikir aku butuh bantuanmu"
"Bantuanku? Apa kau pikir aku akan membantumu?"
"tentu saja, karna aku punya ini" Ino memperlihatkan beberapa foto yang membuat mata Sasuke terbelalak.
"itu, bagaimana... kau?"
"Jadi waktu itu aku tak sengaja melihatmu, karna waktu itu kebetulan aku sedang membawa kamera jadi aku iseng mengambil fotomu, bagaimana bagus kan?"
Itu adalah foto dimana Sasuke mau menaruh sesuatu diloker Hinata diam-diam, ada keuntungan tersendiri bagi Ino yang sering bermain-main dulu diarea gedung sekolah setelah jam pelajaran usai, tak jarang Ino melihat hal-hal "menarik" dari orang-orang tertentu baik siswa maupun staff sekolah yang tidak diketahui banyak orang.
"kau tahu Uchiha san, kupikir hanya fans gilamu yang bisa melakukan hal rendahan itu, ternyata kegilaan mereka juga menular padamu"
Sasuke terlihat sangat marah, dia terpojok dan kehilangan kata-katanya.
"kau..."
"sebenarnya aku tahu sbenarnya yang memicu fansmu untuk membully Hinata adalah kau sendiri, tujuannya adalah agar kau bisa menjadi menjadi pahlawan dimata Hinata tapi sayangnya semua tak berjalan sesuai rencana eh, benar kan Uchiha san?" Ino berseringai lebar atas kemenangannya, kartu as sebentar lagi akan jatuh ketangannya.
"apa yang kau inginkan dariku?"
"Tak sulit, jadilah partner maksudku pacarku" jawab Ino.
"Tentu saja hanya pura-pura dan hanya sementara setidaknya sampai aku bisa membuat perhitungan pada orang-orang yang mencari masalah denganku kali ini, bagaimana? aku tahu kau takkan menolak" tambah Ino.
"baiklah, aku mengerti"
"ureshiii...kau memang pengertian Sasuke-kun, nah boleh kuminta alamat emailmu" kata Ino dengan senyum imut iblisnya.
Sasuke benar-benar sial, dia tak pernah menyangka akan berurusan dengan Ino, bahkan dalam imajinasi terliarnya pun tidak. Dalam hati dia mengumpati Ino dan menyebutnya perempuan iblis berwajah bidadari.
.
.
.
Shikamaru sudah berada diatap sekolah saat Ino sampai ditempat itu.
"Maaf aku terlambat Shika, tadi guru menyuruhku mengambil print out diruang guru" kata Ino dengan nafas yg masih memburu karna berlari.
"tak apa, ngomong-ngomong Ino soal tadi pagi apa kau baik-baik saja?" karna pagi tadi Anko sensei sudah masuk kelas Shikamaru belum sempat menanyakan perihal tindakan iseng yg Ino dapat secara langsung.
"aaa...soal itu, aku tak apa-apa, kau tenang saja" jawab Ino santai.
"kau yakin?"
"tentu saja, sudahlah. . .tak perlu membahas itu, aku sedang malas memikirkannya. Jadi dimana gadis itu?" kata Ino tiba-tiba antusias.
"Dia. . . ." jawaban Shika terpotong saat Ino memutuskan mengangkat ponselnya yg bergetar setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"sebentar Shika"
Karna tak biasanya Deidara menelponnya dijam-jam seperti ini Ino reflek
menjawab panggilan tersebut.
"Moshi moshi, ada apa nii-san?"
"Tou-san? Kenapa dengan Tou-san?"
"dimana?"
"baiklah, aku segera kesana".
"maaf Shika aku harus pergi sekarang"
Shikamaru tak sempat menanyakan apa yg terjadi karna begitu sambungan itu ditutup Ino langsung melesat pergi meninggalkannya sendiri.
.
.
.
Konoha Hospital
"Nii-san, bagaimana keadaan tou-san? Kenapa dengan tou-san, apa yang
terjadi?" tanya Ino panik.
"tenanglah dulu Ino" kata Sasori menenagkan, sedangkan Deidara masih
terlihat bungkam menatap ruang ICU yg masih tertutup rapat.
"nii-san jawab aku!" tanya Ino sambil mengguncang-guncangkan tubuh Deidara.
"maafkan aku...maafkan aku"
###
"maafkan aku tou-san, tapi kalau tou-san tetap bersikeras tak mau ikut
bersamaku biar Ino saja yang tinggal bersamaku"
"tapi bagaimana dengan sekolah Ino-chan?" desak Inoichi.
"aku bisa memindahkannya kesekolah yang sama bagusnya dengan sekolah
Ino yang sekarang" jawab Deidara sambil terus mengemasi baju-baju Ino
kedalam kopor besar yang telah disiapkan Deidara.
"tidak bisakah kau memikirkannya lagi Deidara, tou-san mohon" Inoichi
berkata lirih. 'Lagipula umurku juga pasti tak akan lama lagi' batin
Inoichi sambil menatap nanar kearah Deidara.
Deidara sebenarnya juga terpaksa melakukan semua ini, dia sebenarnya
tak tega dengan ayahnya, namun sebagaimana ayahnya menyayangi dirinya
dan Ino dia pun sangat menyayangi mereka berdua, tapi dengan tinggal
terpisah yang jaraknya juga tak bisa dibilang dekat Deidara tak
mungkin bisa melakukan banyak hal untuk ayah dan adiknya yang sangat
ia cintai. Deidara berharap dengan memaksa Ino ikut bersamanya ayahnya akan luluh
dan bersedia pindah ketempatnya juga.
Sudah berbagai cara Deidara
gunakan untuk membujuk ayahnya agar mau tinggal bersama dengannya
namun ayahnya selalu menolaknya, ayahnya bilang tak mau meninggalkan
tempat kenangan terakhir mereka bersama ibunya. Ya Inoichi sangat
mencintai istrinya yang sudah meninggal lebih dari 13 tahun yang lalu,
tapi Inoichi yang selalu merasa bersalah karna tak ada disamping
istrinya disaat-saat terakhir belum bisa memaafkan dirinya sendiri dan
terus terjebak dalam penyesalan, dengan alasan pekerjaan Inoichi
selalu menolak untuk menikah lagi maupun pindah dari rumahnya. Deidara
yang mengetahui semuanya tentu ingin melakukan sesuatu untuk menolong
ayahnya tanpa harus melibatkan adiknya lebih jauh, namun ketidaktahuan
Ino akan kondisi ayahnya membuatnya semakin sulit. sedangkan Ino sendiri yang notabene
lebih dekat dengan sang ayah menolak ajakannya untuk pindah
meninggalkan sang ayah. Semuanya semakin runyam saat siang tadi
ayahnya mendadak pingsan karna serangan jantung setelah berdebat
dengannya. Sungguh Deidara tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan
setelah ini.
###
Ino masih tertegun mendengar crita sekaligus pengakuan kakaknya,
bodohnya dia yang tak pernah mananyakan alasan Deidara mengajaknya
pindah dan malah menghujat keputusan Deidara yang terkesan keterlaluan
dimatanya.
"Maafkan aku Ino-chan, aku sama sekali tak bermaksud untuk membuat
Tou-san seperti ini, maafkan aku Tou-san" sesal Deidara sembari
menundukkan kepalanya dalam disamping ayahnya yang masih terbaring tak
sadarkan diri.
"tidak nii-san, akulah yang seharusnya minta maaf padamu karna tak
pernah mau mengerti beban yang kau tanggung sendirian selama ini, aku
tak pernah mau mengerti keadaan kalian, aku terlalu memikirkan diriku
sendiri...hiks...hiks...maafkan aku" Ino menangis sejadi-jadinya
dipelukan Deidara, sedangkan Sasori hanya bisa tersenyum dan
memutuskan untuk memberi kakak adik itu privasi lebih lama untuk
mencurahkan hati dan pikiran masing-masing.
Mengenal keluarga Yamanaka selama lebih dari sepuluh tahun cukup
membuat Sasori memahami karakter keluarga itu, menurutnya keluarga
Yamanaka adalah keluarga yang begitu mengagumkan, satu-satunya
kelemahan terparah mereka adalah urusan mengungkapkan emosi. Mereka
paling sulit mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan
pikirkan, dan cenderung menutupi perasaan mereka yang sebenarnya
dihadapan orang lain dengan reaksi yang sebaliknya sehingga sering
membuat orang lain salah mengartikan sikap mereka. Tapi mereka
sejatinya adalah orang-orang yang hangat dan penyayang. Sasori merasa
beruntung bisa dekat dengan keluarga itu, meski Deidara masih sering
menyimpan masalah-masalahnya sendiri, tapi sebagai sahabat Sasori
berharap suatu saat baik Deidara maupun Ino dapat lebih terbuka
padanya.
TBC...
yooshh...akhirnya.
Terimakasih banyak saya ucapkan untuk yang masih mau membaca lanjutan fic gaje ini.
special thank's buat yg udah review dipart sebelumnya, ada Anniiie san, pixie YANK yang selalu mau bersabar selalu repotkan dengan segala kedodolan saya, Nasa chan, Gray areader jug, Uchihakhamya.
Untuk chap 5 setelah melewati perjuangan panjang dan setelah erkali-kali saya rubah dari aslinya juga *halah* inilah hasilnya, silahkan di RnR dan segala bentuk tanggapan lainnya. ^^
