Mikansei Communication

Disclaimer : Masashi kishimoto

Warning : OOC, abal, typo(s), rush, dll

aaaa...ada sedikit perubahan dichap 6 ini, hmmm lebih tepatnya si cuma sedikit tambahan dari yang kemarin, jadi karna awalnya kupikir kebanyakan eh ternyata pas kuketik gak begitu banyak jadi daripada diskip mending aku gabung dichap ini. udah gitu aja, semangat membaca...^^

Part 06


"Menurutmu apa tou-san akan sembuh?" Ino menoleh pada Sasori di depan kemudi.

"Tentu saja, paman Inoichi pasti sembuh"

"Bukan itu, maksudku apa ayah bias sembuh dari rasa bersalahnya?"

"kalau itu aku juga tidak tahu karna luka hati itu tidak seperti luka fisik yang bias diobati dengan obat-obatan tertentu"

"kau benar lalu_"

"sudahlah jangan terlalu dipikirkan, paman pasti akan baik-baik saja percayalah padaku, sekarang sebaiknya kuantar kau pulang"

Ino hanya bias mengangguk patuh mengiyakan ucapan Sasori, meskipun sebenarnya dia lebih ingin tinggal untuk menunggui ayahnya di rumah sakit tapi kakaknya dan Sasori memaksanya untuk pulang agar besok bias tetap sekolah. Tapi Ino tahu itu hanya cara kakaknya untuk tidak melibatkannya dan membuatnya khawatir tentang kondisi ayahnya.

Selalu seperti itu, setiap kali ada masalah dikeluarganya dia selalu menjadi orang terakhir yang tahu dan terakhir yang dilibatkan. Ino tahu bahwa ayah dan kakaknya hanya mencoba untuk melindunginya. Ino bias terima jika hal itu dilakukan sepuluh tahun yang lalu saat dirinya masih kanak-kanak dan belum mampu memahami apa-apa, sayangnya hal itu tak pernah berubah hingga saat ini seolah waktu tak pernah bergerak dalam hidupnya, dan Ino merasa tersakiti dengan kenyataan itu, dia selalu merasa tak berguna, dia ingin marah pada ayah dan kakaknya tapi dia tak bias, terkadang dia ingin bisa menceritakan semua yang dia simpan pada seseorang siapapun itu tapi sampai sekarang yang dilakukannya hanya membentak atau bersikap dingin dan membuat orang lain yang mencoba mendekatinya semakin salah paham dengan sikapnya, lalu berakhir dengan tindakan-tindakan tak jelasnya untuk melampiaskan emosinya.

"Kita makan dulu sebentar" Sasori menepikan mobilnya disebuah kedai makanan, namun tak ada respon dari Ino.

"Ino…Ino kau masih disini?"Sasori melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Ino yang sedang melamun.

"Eh….ah ya, maaf kau bilang apa tadi?" jawab Ino linglung.

"Hhhh….kita makan dulu sebentar" Sasori membuang nafas panjang lalu keluar dari mobil yang kemudian disusul oleh Ino dibelakangnya.

"Pesanlah yang kau suka, aku tak mau melihatmu kelaparan lagi seperti malam itu" Sasori mencoba memancing emosi Ino dengan mengungkit kejadian memalukan tempo hari agar suasana hati Ino agak mencair, namun sepertinya rencana itu tak berhasil sama sekali, Ino terlihat hanya memandangi menu makanan tanpa selera.

"aku pesan ini saja" Ino menunjuk salah satu menu utama secara asal, setelah pelayan mencatat pesanan mereka dan pergi suasana kembali hening, Sasori kembali memperhatikan Ino yang lagi-lagi terlihat melamun, dia masih memikirkan cara bagaimana mencairkan suasana terutama suasana hati Ino saat ini yang entah kenapa membuatnya merasa tak nyaman.

"Hei…Ino-chan" Sasori meletakkan telunjuknya kedahi Ino saat Ino nenoleh kearah Sasori, Ino tampak sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Sasori.

"Ada apa?" jawab Ino tanpa ada niatan menyingkirkan jari Sasori dari dahinya.

"Jangan melamun terus"

"kenapa, kau khawatir padaku?" Ino mulai tertarik menanggapi Sasori yang terlihat aneh dengan ekspresi khawatirnya.

"Tidak" jawab Sasori pura-pura acuh.

"Lalu?" Ino mulai menampakkan ekspresi yang terlihat tak senang dengan jawaban Sasori.

"Kalau kau melamun terus kau jadi terlihat seperti orang tua, seperti bibi-bibi juru masak di rumahju" Sasori menahan tawanya agar tak meledak saat melihat ekspresi sebal diwajah Ino. Ekspresi favirit Sasori yang selalu membuatnya mencari-cari alas an untuk mengguda Ino, juga alas an kenapa dia selama ini tak pernah memandang Ino sebagai seorang gadis yang mulai beranjak dewasa. Dirinya benar-benar tak pernah membayangkan jika Ino pernah menaruh hati padanya apalagi sampai menjalin hubungan, hel itu sama sekali tak pernah terpikirkan sampai Ino secara tak sengaja mengungkapkan perasaannya beberaba waktu lalu. Meskipun begitu sebenarnya Sasori juga sudah jatuh hati pada Ino sejak lama hanya saja dia tak pernah benar-benar memikirkannya hingga dia tak pernah menyadarinya, yang dia rasakan hanya selalu ingin bertemu dan mengganggu Ino ditiap kesempatan, yang dilakukannya selama ini hanya menikmatinya karna dia menyukai perasaan menyenangkan itu setiap kali bersama Ino, yg dia tahu dia selalu ingin berada didekat Ino.

Saat bersama Ino hatinya selalu merasa hangat, dan dia juga tak pernah bias mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan Ino meskipun itu ha kecil yang remeh dan tak penting, dan kebiasaan itu membuatnya terlihat sangat memperhatikan Ino bahkan melebihi Deidara yang notabene kakak Ino sendiri, meski sempat menimbulkan salah paham diantara orang-orang bahkan Ino sendiri tapi dia tak pernah menyesal menjadi orang yang selalu memperhatikan Ino.

"Aku tahu aku ini cantik dan menarik, tapi memandangiku terus seperti itu takkan membuatmu kenyang, Sasori" Ino membalas perkataan Sasori dengan telak, membuat Sasori hanya terkekeh pelan menanggapinya.

Tak ada suffix 'san' apalagi panggilan 'onii-san' dalam hubungan mereka walaupun Sasori seumuran kakak Ino yang artinya jauh lebih tua daripada umur Ino sendiri, tapi itu tak mengurangi keakraban mereka, meski terkesan tak sopan ditambah nada kasar n sarkartis yang tak jarang keluar dari mulut mereka masing-masing hanya untuk saling mengejek namun mereka menikmatinya.

"Tetaplah seperti itu Ino, kau menakutkan kalau sedang diam" entah kenapa Sasori tiba-tiba mengatakan itu, tapi dia mengatakannya dengan jujur. Alih-alih mengatakan jelek keluarga Yamanaka justru terlihat menyeramkan saat sedang diam,malah dia lebih memilih jika melihat mereka marah daripada diam.

"Jadi kau lebih suka melihatku marah-marah begitu?" Ino bertanya sambil memicingkan matanya pada Sasori.

"Ya…bukan bukan berarti begitu, hanya saja terkadang kupikir lebih baik melihatmu marah-marah daripada melihatmu diam tanpa ekspresi" Sasori berujar sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dengan ujung jari telunjuknya.

"Oh, jadi itukah sebabnya dari dulu kau suka sekali menjahiliku?" Tanya Ino menyelidik.

"mungkin" jawab Sasori pelan, hampir setengah berbisik karna tak yakin akan jawabannya sendiri.

"mungkin, maksudnya?"

"ya, begitulah….hei makanan ini ternyata enak juga, kau mau coba?" Sasori mencoba mengalihkan pembicaraan karna dia tahu Ino takkan melepaskannya sampai merasa puas dengan jawabannya dan Sasori merasa malu jika pembicaraan itu terus dilanjutkan.

"Jangan mengalihkan pembicaraan Sasori" tegur Ino ketus.

"Sudahlah, coba kau cicipi makanan ini!." Tanpa aba-aba apapun Sasori tiba-tiba menjejalkan makanan kemulut Ino, yang kemudian ditanggapi dengan marah-marah tak jelas sambil tetap mengunyah suapan Sasori secara paksa itu. Sasori yang melihat ekspresi Ino kontan tertawa yang malah membuat Ino semakin marah.

.

.

.

Ino terbangun dengan mata bengkak karena menangis semalam, dan saat mengingat tentang hal semalam tiba- tiba wajahnya memerah, betapa malunya dia `bila mengingat dia menangis dipunggung Sasori ,hal yang tak pernah terlintas sekalipun dalam imajinasinya, dan sekarang dia harus segera bangun sebelum -tok tok tok"Ino kau sudah bangun?"

Sial sial siaaal, baru saja dia memikirkannya Sasori sudah berada dibalik pintu kamarnya bersiap masuk untuk memastikan keadaannya.

"Ino" cklek.

"jangan masuk, iya aku sudah bangun ,aku baru selesai mandi." bohong Ino belum sanggup berhadapan dengan sasori, dia sangat malu, Ino pikir setelah ini sasori pasti akan meledeknya habis-habisan.

"Baiklah, aku sudah menyiapkan sarapan dibawah!"

"Iya terimakasih, aku akan menyusul nanti" sasori mengernyit heran dengan jawaban Ino 'terimakasih' jarang sekali Ino mengucapkan kata itu padanya,namun kata itu mampu membuatnya tersenyum hangat pagi itu .

Selesai mandi dan merapikan diri, Ino menepuk-nepuk wajahnya demi menghilangkan kegugupannya jika nanti harus berhadapan dengan sasori,dia tak menyangka menangis dihadapan orang lain bisa membuatnya lega namun juga semalu ini tapi dia akan berjuang keras membuang perasaan canggung ini secepat dia berpura-pura seolah-olah tak pernah keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.40.

"Selamat pagi" sambut sasori begitu Ino tiba di meja makan.

"Pagi, sasori" Ino menjawab sambil menyambar makanannya seperti orang kesetanan

"Hmm…Ini enak,sayang aku tak bisa menikmatinya dengan santai." katanya sesaat sebelum memenuhi mulutnya kembali dengan makanan secara beruntun

"Makanlah pelan-pelan!"

"E-em, aku sudah terlambat"

"Kupikir kau takkan peduli dengan keterlambatanmu ke sekolah?"

"Aku selesai" Ino segera menuju ke depan dan memakai sepatunya setelah menenggak segelas air secara bar bar.

"Aku hanya tidak bisa mengabaikan pelajaran yang satu ini karena terlalu sering bolos" jawab Ino sambil beranjak dari tempatnya.

"Aku berangkat, jangan lupa kunci pintu dan letakkan kuncinya dibawah pot bunga" sebenarnya Ino belum terlambat hanya saja dia terlalu malu berhadapan dengan sasori lebih lama.

TBC...

huwaaaa...#nangis gaje T.T

cuma update sedikit, sebenarnya fic ini udah kelar cuma belum diketik, dan pas harusnya bisa update malah cuma update file usang yg dulu belum sempat kepublish waktu FFN masih sering error, tanpa ngetik lanjutannya.

ah sudahlah salahkan author yg setengah niat ini.

well, akhirnya cuma bisa ngarep fic ini masih ada yg minat ngebaca n review. #semoga