Mikansei communication

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story : original of mine

Warning : Typo, rush, humor gagal, romance gagal, dll.

Dari sini aku coba merubah POV nya menjadi 'aku' sebagai 'Ino' agar lebih berasa feel-nya (yang semoga saja tidak gagal) #ngarep

Yooosshh….dan semangat membaca saya ucapkan untuk yang masih minat berminat untuk membaca. ^^

Part 8


Baru saja aku memasuki kelas dan duduk dibangkuku, seorang guru memanggilku dan memberitahuku bahwa seseorang menjemputku pulang untuk urusan yang tak bisa dijelaskan disini. Seketika rasa takut dan panik menyerang, saat melihat Sasori menungguku digerbang sekolah dengan mobilnya aku semakin bertambah khawatir.

'Tou-san? tidak, semoga tak terjadi hal buruk yang menimpa Tou-san,' kataku meyakinkan diri sendiri.

"Ada apa Sasori?" tanyaku saat kulihat raut tegang terpancar dari wajahnya.

"Masuklah, kau akan tau sendiri nanti." Aku segera masuk kemobil tanpa banyak bertanya lagi pada Sasori , aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk memaksanya bicara. Tapi aku tak bisa menahan rasa ingin tahuku.

"Apa terjadi sesuatu pada Tou-san?"

"Tenangkan saja dirimu Ino" ingin kutanya lagi lebih banyak pada Sasori karna firasatku mengatakan sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi, tapi saat kulihat ekspresi Sasori yang berubah mengeras dan tegang tapi kuurungkan lagi niatku untuk mendesaknya.

Perasaanku semakin tak menentu saat menyadari jalan yang kami lewati adalah jalan menuju rumah sakit dimana Tou-san sedang dirawat saat ini, dan aku sudah hampir menangis saat Sasori menepikan mobilnya diparkiran Rumah sakit dan mengajakku turun dengan tergesa-gesa. Tapi saat kami sudah mencapai kamar dimana Tou-san dirawat, badanku tiba-tiba menjadi kaku seperti patung karna serangan panik yang begitu hebat yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja aku merasa takut, sangat takut dengan apa yang akan kuhadapi. Sasori yang menyadari aku tak kunjung menyusulnya segera menghampiriku, dia berusaha menggenggam tanganku yang sudah begitu dingin, dia terlihat khawatir saat mendapatiku seperti orang linglung dengan wajah yang memucat.

"Tenanglah Ino, ayo kita masuk, ayahmu sudah menunggumu"perlahan Sasori menuntunku masuk ke ruangan Tou-san.

"Kemarilah Ino-chan, Tou-san ingin bicara denganmu" Deidara melambaikan tangannya menyuruhku mendekat, seolah memberiku dukungan Sasori mengangguk padaku lalu melepaskan genggaman tangannya.

.

.

.

.

Hari itu adalah hari terakhir aku mendengar suara Tou-san, jutaan penyesalan memenuhi hatiku yang selama ini selalu bersikap dingin, tak pernah benar-benar mendengarkan kata-katanya, nasihatnya, candaannya yang hambar, keluh kesahnya juga, aku tak pernah benar-benar memperhatikannya. Aku menyesal telah marah pada Tou-san yang selama ini tak pernah memberikan perhatiannya padaku dan Deidara tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Belakangan aku baru tahu alasan Tou-san menjaga jarak dari kami terutama dariku adalah karna aku terlalu mirip dengan mendiang okaa-san, namun setelah Tou-san mampu menguasai dirinya dan berusaha memperbaiki hubungan dengan kami, keadannya sudah sangat berbeda, Deidara yang telah memilih jalan hidupnya menjadi seorang seniman tembikar dan patung tanah liat memutuskan untuk pindah ke kota untuk mewujudkan mimpinya, dan aku yang tak bisa menerima kenyataan itu lebih memilih untuk menutup diri, menyalahkan semuanya pada Tou-san dan Deidara, dan bahkan mulai membenci orang-orang disekitarku yang tak bisa memahami perasaanku.

Berhari-hari aku mengurung diri dikamar, menolak siapapun yang mencoba mendekatiku, hanya Deidara yang sering memaksaku untuk makan. Saat kuingat tak ada hal baik yang kulakukan untuk Tou-san selain hanya bersikap egois padanya aku merasa telah menjadi anak yang sangat jahat untuknya, dan hal itu membuat penyesalanku bertambah berkali-kali lipat, aku terus menangis menyesali kematian Tou-san seolah tak ada hal lain yang ditinggalkannya selain penyesalan yang mendalam bagiku.

"Ikut aku Ino" Deidara mencoba menarik tanganku menyuruhku untuk bangun dari tempat tidurku.

"Pergilah Dei-nii, aku sedang tak ingin kemana-mana."

"Sudahlah ikut saja, aku sudah muak melihatmu seperti ini terus." Deidara mulai menarikku secara paksa.

"Lepaskan aku, sudah kubilang aku tak mau pergi." Ucapku marah sambil melepaskan cengkramannya dari tanganku.

"Aku tidak peduli, kali ini kau harus mendengarkanku." Kali ini aku tak mampu melawan tarikan Deidara yang semakin kuat selain terus meronta.

"Lepaskan aku"

"Tidak akan."

"ku mohon lepaskan aku Dei-nii!" aku mulai menyerah dan hanya menangis untuk memohon pada Deidara agar melepaskanku, namun usahaku hanya sia-sia karna Deidara tetap menyeretku dengan paksa tanpa peduli dengan tangisanku.

"lepaskan dia Deidara, kau sudah keterlaluan." Suara Sasori tiba-tiba muncul ditengah-tengah keributan yang kami buat.

"Jangan ikut campur Sasori, ini urusanku dengan adikku Ino."

"Tapi kau sudah keterlaluan, apa kau tak lihat dia kesakitan karna perlakuanmu?"

"Itu karna dia tak mau mendengarkanku."

"Tapi kau tak harus menggunakan cara kasar seperti ini kan?"

"Sudah kubilang jangan ikut campur!" suara bentakan Deidara membuat kami semua terdiam, aku dan Sasori sama—terkejut karna baru pertama kali melihat Deidara semarah ini.

"Kau pulang saja Sasori, terimakasih sudah menemani kami selama beberapa hari ini."

Setelah itu, Dei-nii mengajakku masuk kemobilnya dengan mudah karna aku yang sudah merhenti melawan.

.

.

.

.

.

Tak kusangka Dei-nii membawaku ke pemakaman.

"untuk apa kau membawaku kesini?" tanyaku ketus.

"Memberimu kesempatan kedua, turunlah!" perintahnya kemudian setelah melepas sabuk pengaman kami.

Begitu kami sampai didepan makam Tou-san dan Kaa-san Deidara menuntunku untuk ikut berlutut member hormat, aku kehilangan kata-kata dan kembali menangis.

"Menangislah sepuasmu, dan katakana semua yang ingin kau katakana pada Tou-san, setelah itu berjanjilah untuk berhenti menangisi Tou-san lagi!"

"Maafkan akuu…maafkan aku Tou-san hiks hiks hiks huwaaaa…maaf aku selalu marah padamu, maaf aku tak pernah mendengarkanmu, maaf aku selalu membuatmu khawatir, maaf aku sudah bersikap sangat egois, tak pernah peduli padamu, maaf aku sudah jahat padamu selama ini, dan maaf aku tak pernah bisa menjadi anak yang berguna untukmu,m huhuhuhukss huuuhuu…."

Dei-nii yang sejak tadi berdiri dibelakangku demi memberi kesempatan padaku untuk menumpahkan semua perasaanku perlahan mendekat dan memberiku sebuah pelukan hangat yang menenangkan.

"Dei-nii, huhuuu…hiks...hiks…"

"Menangislah Ino-chan, keluarkan saja semuanya!"

"Ma-maafkan aku Dei-nii, maafkan aku huhuhuu…hiks hiks hiks…"

"sudahlahklah, aku sudah memaafkanmu Ino-chan."

Deidara mengusap kepalaku dengan lembut dalam pelukannya, sudah sangat lama sejak terakhir kali Deidara memelukku dan menenangkan tangisanku seperti ini, sudah sangat lama sampai aku lupa kapan itu pernah terjadi. Namun aku tiba-tiba kembali meraung dan mengeratkan pelukanku pada Deidara saat kusadari bahwa setelah ini hanya akan ada aku dan Deidara saja dalam keluarga kami.

.

.

.

"Trimakasih Dei-nii" ucapku pelan saat kami berada dalam perjalanan kembali ke tempat Dei-nii memarkirkan mobilnya.

"tak perlu berterimakasih itu sudah tugasaku, bukankah aku ini kakakmu?" jawab Dei-nii lalu menaruh tangannya yang besar diatas kepalaku sambil mengacak rambutku pelan dan tersenyum simpul yang kubalas dengan senyum tipis.

"Ino, kau ingat pesan terakhir Tou-san?" Aku mengangguk.

"Coba katakan apa pesan terakhir Tou-san pada kita?" tanya Dei-nii, dan tiba-tiba aku merasa bodoh karna melupakannya.

"Tou-san bilang kita tak bolrh bertengkar, harus saling menyayangi, aku tak boleh marah lagi padamu, dan harus mendengarkan apa katamu setelah Tou-san tak ada." Kataku mengulang kalimat terakhir Tou-san.

"Karna mulai saat ini aku yang akan bertanggung jawab atas dirimu Ino-chan, jadi kuharap kau bisa percaya padaku." Balas Deidara menegaskan, dan aku hanya mengangguk pasrah menanggapinya.

"Aku tahu, maafkan aku nii-san." Aku menunduk malu sambil merutuki kebodohanku.

"Baiklah kali ini kau kumaafkan karna aku juga bersalah padamu telah menyeretmu dengan paksa tadi, tapi berjanjilah mulai sekarang kau mau menceritakan masalahmu padaku, dan jika kau butuh sandaran untuk menangis datanglah pada kakakmu ini bukan orang lain seperti sasori"

"Orang itu…" gumamku menggerutu kesal.

" Meskipun sasori dekat dengan kita berdua tapi tak sepantasnya kau menangis di hadapannya sementara kau masih memiliki aku "

"Hei, apa maksudnya itu, apa kau pengidap siscon?" tanyaku pura-pura menyelidik

"Hah, tega sekali kau berkata begitu, maksudku jika kau lebih memilih orang lain untuk mendengarkan keluh kesahmu tentu saja itu melukai harga diriku sebagai kakakmu" sanggahnya, tanpa kami sadari kami mulai berdebat lagi seperti biasa dan setelah itu semua berangsur-angsur membaik kembali, aku sudah mulai bisa menerima kenyataan bahwa Tou-san sudah tak ada disini lagi dan agar tak terus teringat Tou-san akupun sepakat ikut Deidara untuk pindah ke kota dan mulai menata ulang kehidupan keluarga kami yang sempat berantakan karna kesalahpahaman.

.

.

.

TBC…

Dan yup... Seperti biasa tentu saja terimakasih banyak yang masih mau baca fic abal ini dan terutama yang sudah mau repot-repot mampir RnR, trimakasih buat yang udah ngasih kritik, saran dan masukan buat fic ini.

Akhir kata RnR lagi yaaa…onegai shimaaasu

Salam ^^)/