Jam terus berdetak menunjuk keangka tujuh menunjukkan kalau sekarang adalah jam tujuh pagi. Sebuah senandung menggema di ruangan itu. Ternyata senandungan itu berasal dari bibir Oh eunhyuk –eomma sehun- yang sedang merapikan rambut anaknya dengan sisir lalu menguncirnya menjadi dua seperti karakter pucca. "kau tahu sehunna-"
Sehun berhenti menyisiri rambut boneka barbienya lalu menoleh kepada eunhyuk. "ya eomma?"
"rambutmu sangat bagus, eomma sangat menyukai rambutmu" . ucap eunhyuk sambil tersenyum lembut.
Sehun berdiri dan eunhyuk menggendong sehun dan menaruh anak itu di pangkuannya. Sehun tersenyum lebar kepada eommanya, "eomma benar-benar menyukai rambutku?"
Eunhyuk mengangguk. "maka dari itu, maukah kau menjaga dan merawat rambutmu untuk eomma?"
Sehun mengangguk dengan antusias. "baiklah eomma, thehunna akan menjaga dan merawat rambut thehun dengan baik"
Eunhyuk tersenyum tulus dan memeluk sehun dengan penuh kasih sayang. Setelah beberapa detik eunhyuk melepaskan pelukkannya membuat sehun kecewa. "sehunna, kemarikan tanganmu"
Sehun mengangkat alisnya, "untuk apa eomma?" . walaupun bingung tetapi sehun tetap menjulurkan tangan ke arah eommanya. Sehun bertambah bingung saat sang eomma memasangkan sebuah gelang bertuliskan '1004' ke tangannya. Sehun menatap gelang itu sebentar,lalu dengan tampang polos sehun menatap eommanya, "1004? Itu artinya apa?"
Eunhyuk mengelus pipi tembam sehun dengan lembut, "1004 itu artinya malaikat, sayang. Eomma memberikannya kepadamu karna kau adalah malaikat kecil yang tuhan titipkan untuk eomma" . eunhyuk kembali memeluk anaknya itu. Sementara sehun hanya mengangguk dengan mulutnya yang berbentuk seperti huruf 'o'.
"suatu hari nanti jika kau sudah menemukan malaikatmu, maka kau boleh memberikan gelang ini kepadanya. Maka dari itu, simpan gelang ini baik-baik, ne?"
Sehun mendongak sambil mengangguk. "eomma, nanti eomma tidak lembur kan? Ayo kita ke lotte world!"
"ke lotte world?" eunhyuk pura-pura memasang wajah berfikir, "eum, bagaimana yaa? Eomma ada urusan dan baru bisa pulang besok pagi". Yeoja itu memasang ekspresi menyesal.
Sehun memasang puppy eyes andalannya sambil menautkan kedua tangannya dan menaruhnya di depan dada "jebal eomma... thudah lama thekali kita tidak ke thana. Jebal eomma..."
Eunhyuk mencubit hidung sehun dengan gemas, "Baiklah. eomma tidak mungkin menolak permintaan dari malaikat eomma. Besok setelah eomma pulang kita akan ke lotte world."
"Jinnja? Yeayy~" sehun berteriak bahagia. "kalau begitu thetelah eomma pulang bekerja, eomma jemput thehun di thekolah, ne?"
Eunhyuk menanggapi perkataan sehun dengan sebuah anggukkan.
.
.
.
Bel sekolah di sekolah sehun berbunyi pertanda kalau saat ini sudah jam pulang sekolah. Anak TK itu terus berjalan menuju gerbang dengan ekspresi ceria di wajahnya. Sehun kecil sangat tidak sabar untuk pergi bermain bersama eommanya ke lotte world.
Tetapi ekspresi ceria itu segera tergantikan dengan ekspresi bingung saat sehun tahu yang menunggu sehun di depan gerbang adalah appanya.
Sehun menghampiri appanya. "appa, kenapaada di thini?" sehun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. "eomma mana?"
Bukannya menjawab pertanyaan sehun, donghae malah berlutut di hadapan sehun lalu memeluk anak itu dengan erat. Perlahan bahunya bergetar pertanda bahwa ia sedang menangis.
"appa, ada apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan sehun donghae malah menggendong anak itu dan memasuki mobil. Setelah itu donghae segera menjalankan mobil itu dan tidak menjawab sehun yang saat itu selalu bertanya ada apa.
.
.
Sehun kecil tidak tahu apa yang telah terjadi saat ini. ia masih bingung melihat mobil yang biasa eommanya kendarai telah berada di depan rumah dengan ke adaan ringsek.
.
Dan mengapa di rumahnya ada banyak orang?
Seingat Sehun, ulang tahunnya sudah lewat beberapa bulan yang lalu.
"appa, mengapa banyak thekali orang? Appa thedang mengadakan pethta?"
Donghae tidak menjawab. Ia terus berjalan memasuki rumahnya masih dengan menggendong Sehun.
.
Sehun menautkan alisnya.
.
Ia bertambah bingung melihat eommanya tertidur di sebuah peti. Bukankah ia dan eommanya akan pergi ke lotte world? Bukankah mereka akan bersenang-senang hari ini?
"appa, mengapa eomma tidur di thitu?"
Donghae menurunkan sehun tepat di depan peti itu lalu berlutut dan memeluk sehun lagi.
Jujur saja, Donghae tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. wajah dan pertanyaan polos dari anaknya itu membuatnya semakin terpukul.
Sehun melihat lagi eommanya, eommanya terlihat cantik dengan sebuah gaun putih yang dikenakannya walaupun di wajahnya terdapat beberapa luka. "appa, wajah eomma terluka! Ehh.. mengapa eomma memakai pakaian theperti itu?" , sehun bertanya dengan tampang polos.
Donghae mengangkat wajahnya yang sembab dan menjawab sehun dengan suara bergetar, "k-karna.. karna eomma akan bertemu tuhan".
Dahi sehun bertaut lagi dan bertanya dengan polos, "bertemu tuhan? Mengapa?"
"karna... tuhan m-meminta eomma untuk pulang". Dengan Sekuat tenaga Donghae menahan agar suaranya tidak bergetar.
"pulang? Tetapi rumah eomma kan di thini, appa. Lagipula eomma tudah berjanji aka mengajak thehunna ke lotte world"
Pertanyaan sehun yang polos sangat menusuk hati donghae dan membuat donghae terisak lagi. Donghae tidak bisa menjawab lagi pertanyaan dari putrinya yang polos itu.
Sehun mengalihkan matanya menatap eommanya yang menutup mata itu. "eomma, ayo bangun. Eomma kan thudah berjanji akan mengajak thehun ke lotte world. Bertemu tuhannya nanti thaja, eomma. Eomma bangun... jebal! eomma..."
Sehun terus meminta eunhyuk untuk bangun, tetapi seberapa banyak sehun meminta, menangis dan memohon agar eunhyuk bangun, mata indah eunhyuk tidak akan terbuka lagi sampai kapanpun.
Kini eunhyuk telah pergi, meninggalkan sehun yang saat itu sedang menangis tersedu-sedu memintanya untuk bangun.
.
.
Sehun terus menangis saat peti mati eunhyuk di masukkan ke dalam liang lahat dan perlahan terkubur oleh tanah-tanah.
"appa, hiks... mengapa mereka mengubur eomma? Apa thalah eomma? Hiikss.. ahjuththi, jangan kubur eomma jebal... jangan kubur eomma ahjuththi..."
Donghae hanya bisa menangis sambil menenggelamkan wajahnya di bahu sehun.
"appa, hiks.. eomma pathti ketakutan... di thana gelap appa... biar thehun menemani eomma hiks..." , sehun terus berontak dalam pelukkan appanya.
.
.
"eommaaa.. hiks...eommaa... eommaaaaaaaaa-"
.
.
.
_DBYHUN_
Title: Forever?
Cast: Sehun as Girl, Kim Jongin aka Kai, Kris Wu, Xi Luhan etc.
Pairing: KaiHun, KrisHun, HanHun and other
Rated: T
Genre: Drama, romance, friendship and angst (?)
Warning: Genderswitch, Typo(s), gaje, dll
Disclaimer: semua cast milik tuhan dan dirinya masing-masing. Tapi sehun dan ff ini punya saya #digampar
.
.
.
_DBYHUN_
Matahari menyinari bumi menyalurkan kehangatan kepada setiap makhluk hidup. Suasana damai sangat terasa di pagi itu. Sehun melihat jalanan yang ia lalu melewati kaca mobil yang sengaja ia buka.
Yeoja dengan tatanan rambut lucu itu tersenyum riang hingga menampilkan eyesmilenya yang cantik.
Ini hari keduanya bersekolah di sekolah umum.
Ia bahagia karna ia bisa bersekolah lagi seperti remaja normal lainnya. Dulu sebelum ia pindah ke jepang, yeoja berkulit putih itu memang bersekolah seperti anak normal pada umumnya. Tapi semenjak ia di vonis menderita penyakit kank-ahh sudahlah Sehun tidak ingin membahasnya.
Jalanan masih terlihat sepi hanya ada beberapa kendaraan yang lalu-lalang. Sehun meletakkan tangan kanannya di pinggir jendela sebagai penopang kepalanya. Angin berhembus membuat poninya bergoyang.
Tiba-tiba mata Sehun menyipit melihat suatu objek yang ada di pinggir jalan. Ia melihat sebuah mobil yang dan seorang namja yang berdiri di depan kap mobil.
Sepertinya mobil itu mogok.
Dan sehun juga bisa melihat seorang yeoja imut berseragam sama dengannya sedang terduduk di trotoar sambil menopang dagu.
"Ahjussi, tolong menepi sebentar".
Setelah itu mobil yang di tumpangi Sehun menepi. Sehun turun dari mobilnya dan langsung menyapa namja yang sudah berumur itu.
.
"annyeonghaseo ahjussi"
Namja itu menarik kepalanya yang sebelumnya sedang memeriksa kap mobilnya lalu menatap Sehun.
"ahh annyeong." Namja itu mengerutkan alisnya. "err... nuguya?".
"saya Oh Sehun." Sehun tersenyum manis. "err.. sepertinya ahjussi sedang kesusahan."
"Ne, mobilku mogok padahal aku harus mengantar putriku ke sekolah". Namja itu melambaikan tangan kepada putrinya yang sedang terduduk di trotoar sebagai isyarat agar yeoja imut itu mendekat.
Yeoja itu berdiri dan menghampiri mereka.
"annyeonghaseo". Yeoja itu membungkukkan badannya hormat ke arah Sehun. dan Sehun juga melakukan hal yang sama.
"Oh Sehun imnida. Siapa namamu?". tanya Sehun dengan ramah.
"Aku Do Kyungsoo. senang berkenalan denganmu Sehun-ssi". Yeoja bermata besar itu tersenyum menampilkan bibirnya yang berbentuk 'love'.
Sehun terkekeh. "tidak usah seformal itu. panggil saja Sehun, ne?".
Yeoja itu tersenyum sambil mengangguk kecil.
Sehun mengalihkan pandangannya ke ahjussi tadi. "ahjussi, bagaimana jika Kyungsoo pergi bersama denganku. Err.. sepertinya kita satu sekolah".
Namja itu hendak menjawab tetapi Kyungsoo yang bersuara membatalkan niatnya.
"tidak usah, Sehun. aku takut merepotkanmu".
"tidak akan merepotkan, kok. Lagipula bel sekolah akan berbunyi sebentar lagi. apa kau ingin terlambat dan di hukum, eoh?".
"t-tidak juga, sih". Kyungsoo menggaruk tengkuknya. Ia melirik appanya sebentar dan namja itu memberi anggukan kecil kepada kyungsoo.
"kalau begitu, kajja!". Sehun menarik tangan Kyungsoo. "Ahjussi kami berangkat dulu, ne?"
Ahjussi itu tersenyum ramah. "ne, hati-hati di jalan".
.
.
.
"err.. Kyungsoo?".
Kyungsoo yang duduk di kursi penumpang di sebelah Sehun pun menoleh.
"ne?"
"apa kau anak baru? Sepertinya aku belum pernah melihatmu."
Kyungsoo terkekeh. "bukan, aku sudah lama bersekolah di sana hanya saja kemarin-kemarin aku izin tidak masuk sekolah karna urusan keluarga."
Sehun mengangguk kecil.
"sepertinya yang anak baru itu adalah dirimu. aku benarkan?".
Sehun meringis pelan. "sebenarnya sih... benar".
Setelah itu mereka berdua terkekeh dan bertukar nomer ponsel. Selama di dalam mobil mereka berdua tidak berhenti berbicara, lebih tepatnya sih Sehun yang selalu mengoceh panjang lebar dan Kyungsoo yang mendengarkannya.
"ehh kyungsoo..". Sehun menghentikan ocehannya ketika matanya menangkap sebuah objek yang ada di tangan Kyungsoo.
"ne?". Kyungsoo mengikuti arah pandang Sehun. dan Kyungsoo mengerti apa yang di tatap Sehun. kyungsoo melepaskan sebuah gelang perak bertuliskan 'K for K' lalu menyodorkannya ke arah Sehun.
Sehun mengambil gelang Kyungsoo dan menatapnya kagum. Sungguh, gelang ini bagus sekali. Simple tapi terkesan mewah.
"kau menyukainya?".
"ya, ini bagus sekali". Jawab Sehun dengan antusias.
"Gelang itu sangat berharga bagiku."
Sehun mengalihkan pandangannya ke arah Kyungsoo yang saat ini sedang tersenyum errr... getir?
"apa ini pemberian seseorang?". Sehun menyerahkan kembali gelang itu kepada pemiliknya.
"ya, ini dari mantan kekasihku yang sampai saat ini masih aku cintai". Kyungsoo tersenyum tapi Sehun dapat melihat kepedihan di matanya.
Sebenarnya Sehun ingin bertanya lagi, tapi melihat Kyungsoo yang sepertinya sedang bersedih maka ia mengurungkan niatnya.
"errr Sehun, bolehkah aku bertanya?".
Sehun tersenyum lagi. "Ne, tanyakan saja".
"a-anu... mengapa kau menata rambutmu seperti itu?"
.
Dan sekarang giliran Sehun yang termenung.
.
.
_DBYHUN_
Suara dari bola yang memantul terdengar jelas di lapangan itu. Saat ini lapangan itu terisi oleh murid-murid yang memakai baju olahraga.
Para yeoja terbagi menjadi dua tim dan para namja sedang duduk di pinggir lapangan. Sang guru yang memakai pluit di lehernya berdiri di sudut lapangan sambil memegang pulpen dan secarik kertas. Matanya terus melihat ke arah lapangan.
Oh sepertinya guru itu sedang mengambil nilai. Sehun berlari-lari kecil di lapangan itu. Salah seorang temannya melempar bola kepada Sehun dan yeoja itu mendribble bola basket itu menuju ke ring lawan.
Sehun terus mendribble melewati tim lawan yang berusaha untuk menghalanginya. Ia semakin dekat dengan ring lawan lalu yeoja manis itu melemparkan bola ke ring dan-
MASUK!
Sehun ber-high five dengan Xiumin sambil tertawa senang. "Kerja bagus, Hunna".
Sehun hanya terkekeh membalas ucapan Xiumin dan setelahnya ia berlari ke tengah lapangan.
Tiba-tiba ia menghentikan larinya saat kepalanya tiba-tiba saja berdenyut. Sehun menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan rasa nyeri yang hinggap di kepalanya itu. Ia teringat pesan appanya kalau ia tidak boleh mengikuti pelajaran olahraga karna dokter bilang ia tidak boleh lelah. Tapi Sehun ingin merasakan bagaimana serunya bermain bersama teman-temannya seperti ini.
Lagi pula, ia sudah meminum obatnya.
"Sehun, kau tidak apa-apa?."
Sehun membuka matanya lalu menoleh ke arah yeoja cantik yang saat ini sedang menatapnya khawatir. "aku tidak apa-apa, Wendy". Ia tersenyum untuk meyakinkan wendy –teman sekelasnya- bahwa ia baik-baik saja.
"ahh, baiklah kalau begitu. Tapi kalau sakit kau ke UKS saja, ya?" Wendy tersenyum lalu berlalu dari hadapan Sehun.
Sehun tersenyum senang. Jadi seperti ini rasanya di khawatirkan oleh seorang teman?
Sehun berlari pelan dengan kepala yang di tundukkan. Rasa nyeri masih saja menyerang kepalanya saat ini.
.
'TESS'
.
Sehun menghentikan langkahnya lagi saat tiba-tiba ada setetes dara yang jatuh di sepatunya. Ia menyentuh hidungnya sendiri dengan jari telunjuknya. Dan ia dapat merasakan cairan kental menyentuh jarinya.
Darah.
Sehun mimisan.
Ia langsung menutupi hidungnya dengan telapak tangan. Ia takut bahwa ada orang lain yang melihatnya. Ia memaksakan kakinya untuk melangkah mendekati guru olahraganya.
"s-sonsaengnim, bolehkah saya izin ke kamar mandi?".
Guru itu menatap jam yang melingkar di tangannya lalu menatap Sehun. "Baiklah, tapi jangan lama-lama".
Sehun membungkuk hormat lalu melangkahkan kakinya menuju toilet terdekat masih dengan telapak tangan kanannya yang menutupi hidungnya.
.
.
.
Dan tanpa Sehun ketahui, ada seorang namja yang memperhatikan gerak-geriknya dari pinggir lapangan itu.
.
.
.
.
.
Jongin tidak tahu mengapa kakinya membawanya ke sini. Bersembunyi di dinding dekat toilet yang tak berpintu sambil memperhatikan seorang yeoja yang sangat ia kenal sedang berdiri di depan westafel.
yeoja itu membasuh darah yang keluar dari hidungnya dengan air yang keluar dari salah satu keran. Ia mengangkat wajahnya menghadap ke cermin. Tangannya bertumpu pada pinggiran westafel tersebut untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Yeoja itu mengeluarkan obat dari saku celanannya dan langsung saja meminumnya.
Jongin mengerenyit.
Apa Sehun sedang sakit?
Wait.. apa ia mengkhawatirkan Sehun?
Jongin menggelengkan kepalanya keras-keras. Tidak, ia sama sekali tidak mengkhawatirkan 'mantan sahabat' nya itu. dia hanya penasaran karna tingkah aneh sehun saat di lapangan.
Ya, mungkin seperti itu.
Jongin menjatuhkan pandangannya lagi ke arah Sehun yang kini tengah mencari tisu. Oh sepertinya tisu di toilet itu sedang habis.
Dan entah dorongan dari mana Jongin masuk ke toilet itu sambil mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
Ia meraih dagu Sehun secara tiba-tiba membuat yeoja itu tersentak. Dan Jongin menghapus sisa-sisa darah yang ada di hidung Sehun menggunakan sapu tangan yang ada di sakunya.
Tanpa jongin sadari, Sehun tersenyum sambil menatapnya yang kini terfokus pada hidung Sehun.
Seakan menyadari sesuatu, Tiba-tiba Jongin menghentikan tangannya yang sedang menghapus sisa-sisa darah yang ada di hidung Sehun.
.
Hey, apa yang ia lakukan?
.
Mengapa ia jadi perhatian kepada yeoja yang menjadi penyebab ayahnya meninggal?
.
Tidak! Ini salah!
Jongin melempar sapu tangannya dengan kasar ke lantai toilet. Ia menatap tajam Sehun yang sedang mematung sebelum pergi keluar toilet.
.
Sehun menatap punggung Jongin yang perlahan menjauh. Lalu matanya melirik sapu tangan yang ada di lantai dengan tatapan sendu. Ia membungkukkan badannya berusaha untuk mengambil sapu tangan itu. dengan senyum sendu ia menatap sapu tangan itu sebelum ia menatap pintu keluar toilet yang tadi di lewati Sahabat masa kecilnya itu.
Senyumnya mengembang.
Ternyata Jongin perhatian padanya. Ia yakin bahwa namja berkulit tan itu tidak benar-benar melupakannya. Dankeyakinan itu di semakin kuat saat mata sehun melihat gelang yang melingkar di tangan kiri Jongin saat namja itu membersihkan hidungnya.
Itu, gelang pemberiannya.
Dan Jongin masih menyimpannya.
.
.
.
"Aku tahu kau masih mengingatku, Kkamjongie".
.
.
.
.
.
Sehun sedang berdiri di depan pintu perpustakaan saat ini. Setelah keluar dari toilet Sehun langsung menghampiri guru olahraganya dan meminta izin untuk pergi ke UKS. Dan tentu saja guru tampan itu mengizinkannya karna melihat wajah Sehun yang pucat.
Sebenarnya sakit di kepalanya sudah hilang saat ia keluar dari toilet. Tapi kalau Sehun kembali bermain basket lagi ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Dan saat di tengah perjalannanya untuk menuju ke UKS, Sehun merubah tujuannya menjadi ke perpustakaan.
Membaca novel bukan ide yang buruk.
Sehun menuju ke rak yang berisikan banyak novel. Tapi ia tersentak saat melihat seorang murid yang memakai seragam ala sekolah tahun 70-an sedang tertidur dengan posisi duduk dengan punggungnya yang menyender pada rak itu. kaki kanannya tertekuk sementara kaki kirinya berselonjor. Sehun dapat melihat buku yang ada di tangan kanan namja itu.
Buku tentang dunia kedokteran.
Sehun mendudukan dirinya di samping namja yang tertidur itu lalu mengambil buku dan pensil yang ada di samping namja itu.
Sehun terkikik geli sambil mencopot kaca mata yang bertengger di wajah namja itu dengan perlahan dan menaruhnya di lantai perpustakaan. Ia memerhatikan wajah namja itu dengan fokus. Lalu tangannya bergerak untuk melukis wajah namja itu.
Ya, Sehun memang pandai melukis sejak kecil. Dan itu adalah salah satu hobbynya.
Mata Sehun melirik wajah namja itu dan kertas secara bergantian sementara tangannya tak berhenti bergerak untuk menggoreskan pensil di atas kertas itu.
Enam menit berlalu dan Sehun tersenyum senang saat lukisannya sudah hampir selesai.
"Melukis wajah orang lain tanpa izin itu illegal, tahu!".
Sehun tersentak dan menoleh ke arah namja yang sedang ia lukis itu. sehun tersenyum canggung.
"ehh.. Kris sunbae sudah bangun rupanya hehe..".
Kris menatap Sehun datar. "Kau harus membayarku karna telah menjadi model lukisanmu".
Sehun membulatkan matanya. "YA! mana bisa seperti itu. lagi pula lukisanku bagus dan kau juga terlihat keren di lukisanku. Lihatlah!". Sehun menunjukkan lukisannya ke depan wajah Kris secara tiba-tiba membuat namja itu terlonjak.
"Kau mengagetiku, bodoh! Lagi pula aku memang keren kok!".
Sehun mendecih. "Keren apanya? Culun begitu".
"Kau fikir gaya Culun ini adalah gaya asliku?", ia mendengus. "Kalau kau melihat gaya asliku, aku yakin kau akan tergila-gila padaku".
Sehun tertawa garing. "Kalau memang kau itu sebenarnya keren, mengapa kau berpenampilan culun seperti ini?".
"aku punya alasan tersendiri-"
Sehun membuka mulutnya hendak bertanya.
"-dan jangan tanyakan apa alasannya!".
Sehun mendengus kesal. Tiba-tiba saja ia teringat kejadian saat di tangga kemarin yang membuat Kris mendapat hukuman. "ngomong-ngomong aku mau minta maaf soal kemarin".
Kris terkekeh, "Aku memaafkanmu".
"errr.. ngomong-ngomong kau mendapat hukuman apa?".
"Hukuman seperti ini". Kris meregangkan badannya yang kaku.
"maksudnya?".
"Aku di hukum untuk tidak mengikuti pelajaran guru itu selama seminggu. Yah, seperti sekarang ini."
Sehun meringis dengan rasa bersalah di hatinya. Seungguh, Sehun merasa jadi tidak enak hati.
Kris tertawa melihat ekspresi Sehun. "tidak usah di fikirkan."
.
Tiba-tiba saja Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun. dan otomatis Sehun memundurkan wajahnya.
"a-apa yang kau lakukan".
Kris menarik wajahnya sendiri. "Kau pucat sekali. apa kau sakit?".
Sehun tergagap. Ia bingung harus menjawab apa. "a-aku.. hanya eummm.. kelelahan".
"seharusnya kau ke UKS bukannya ke perpustakaan. Ayo ku antar ke UKS!". Kris menarik tangan Sehun.
Sehun menarik tangannya hingga terlepas dari tangan Kris. "t-tidak usah." Sehun menundukkan kepalanya seraya tersenyum miris. "Aku bosan dengan tempat yang memiliki bau obat-obatan."
Kris memicingkan mata dan menatap Sehun curiga. "Kau... sering ke rumah sakit?".
.
Sehun tersentak.
.
Apa yang barusan ia katakan?
.
Aigooo.. Sehun keceplosan.
.
"a-a-anu... t-tidak.. maksudku...eummm". Sehun yang tergagap membuat Kris semakin curiga. "Aishhh.. lupakan saja!".
Sehun pergi meninggalkan Kris yang masih terduduk di situ. Sehun takut jika seandainya ia masih di situ maka Kris akan bertanya macam-macam dan membuat rahasianya terbongkar.
.
Kris menatap punggung Sehun yang menjauh dengan alis terangkat. Dan kemudian ia melirik kertas yang berisikan lukisan wajahnya yang ada di samping badannya.
Kris menatap kertas itu lama. Dan teringat dengan tingkah aneh Sehun tadi.
.
.
Ia tahu bahwa yeoja manis bernama Sehun itu sedang menyembunyikan sesuatu.
.
.
.
.
.
Sehun berdiri di depan gerbang untuk menuju jemputannya. Sebenarnya sih juga menunggu Jongin tapi namja itu tak kunjung lewat. Tadi saat jam terakhir Jongin tidak masuk ke kelas. Sehun juga tidak tahu kenapa.
.
Luhan yang berjalan di depan Sehun mengalihkan perhatian yeoja cantik itu. sepertinya Luhan tidak melihat Sehun.
Entah fikiran dari mana, Sehun mengikuti Luhan. Ia berjalan sambil menjaga jarak di belakang namja itu. dan Luhan juga tidak menyadari bahwa dirinya sedang di ikuti.
Sehun mengerenyit saat Luhan memasuki toko bunga.
Untuk apa?
Apa ia membeli bunga untuk kekasihnya?
Setelah beberapa menit Luhan keluar dari toko itu dengan sebucket tiga tangkai bunga mawar putih yang di ikat menjadi satu.
Dengan ekspresi bingung Sehun melanjutkan perjalannanya untuk mengikuti Luhan.
.
Sudah sepuluh menit Sehun mengikuti Luhan, tapi sepertinya namja itu belum sampai ke rumahnya atu ke tmpat tujuannya.
Sehun mengelap peluh yang ada di dahi menggunakan punggung tangannya.
Sehun memasang ekspresi bingung lagi saat Luhan memasuki sebuah tempat.
.
Pemakaman.
.
Sehun melangkahkan kakinya dan bersembunyi di balik pohon yang berada tidak jauh dari posisi Luhan saat ini.
Sehun terus memperhatikan gerak-gerik namja itu.
Luhan berjongkok di depan sebuah pusara yang terselimuti rerumputan. Ia menaruh bunga yang ia bawa di atas makam itu. perlahan tangannya terangkat dan mengusap batu nisan itu dengan perlahan.
Sehun bisa merasakan ada rasa sayang dari tangan Luhan yang sedang membelai nisan itu.
.
Luhan tersenyum manis,
.
Tapi matanya mengeluarkan liquid bening.
.
Namja cantik itu mengeluarkan setetes air mata dan berucap dengan suara serak.
.
"Apa kau merindukanku,-"
.
.
.
.
.
"-Eomma?".
.
.
.
.
.
TBC
.
.
_DBYHUN_
A/N
.
Maaf karna saya yang kelamaan untuk mengupdate ff ini T.T
Masih adakah yang menunggu FF ini? Gak ada? Rapopo.
.
Jujur aja kemarin-kemarin mood saya buat ngetik FF ini turun. Penyebabnya Karna salah satu FF saya di hapus sama pihak FFN. Di tambah lagi kasus Luhan. Dan juga tugas saya yang menumpuk huhuhu...
.
Jalan ceritanya akan saya percepat agar cerita ini cepat tamat. Jadi mohon maaf jika alurnya gak nyambung dan membingungkan.
.
Big thanks To :
Ohhhrika, sehunnoona, kapel uye, park minggi, kihae forever, daddykaimommysehun, izz sweetcity, DiraLeeXiOh, Arcan's Girl, dia luhane, urikaihun, kiky seyeong, Mr Jongin albino, Nagisa Kitagawa.
.
Maaf jika ada yang gak kesebut dan maaf juga bila ada kesalahan penulisan nama :)
.
Maaf gak bisa balesin review kalian satu persatu :( .
Tapi saya selalu membaca setiap review yang masuk dan itu jadi penyemangat sendiri buat saya :*
.
terima kasih juga untuk yang nungguin FF ini. Juga kepada yang udah memfollow, memfavorite dan Silent reader yang udah membaca FF saya.
.
Saya sibuk banget akhir-akhir ini. minggu depan aja udah UTS :( . Tapi kalau banyak yang mengharapkan FF ini lanjut maka saya akan berusaha melanjutkannya di tengah kesibukan saya.
Tapi kalau gak ada... gak apa-apa T.T , mungkin saya akan fokus ke FF saya yang lain.
.
Maka dari itu...
.
Review?
