Title : Forever?

Cast :

Oh Sehun as Girl

Kim Jongin/Kai

Kris Wu

Xi Luhan

Do Kyungsoo as girl

Etc.

Pair : KaiHun, KrisHun,HanHun.

Warning : OOC, typo(s), genderswitch, etc.

.

Don't Like

.

Don't Read

.

.

.


Angin bertiup pelan menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di taman yang sepi itu. suara cicit burung terdengar merdu bagi siapapun yang mendengarnya. Tidak ada orang lain di taman itu selain dua orang pedagang yang berada di pinggir taman dan dua orang murid berseragam SMA yang sedang duduk dalam diam di kursi taman yang bercat putih dengan pohon Oak sebagai penghalang sinar matahari mereka.

Seharusnya Luhan masih berada di pemakaman saat ini. melepas rindu dengan wanita yang paling ia sayangi. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

Tapi tadi kegiatannya terganggu saat ia mendengar suara dering ponsel. Sudah di pastikan bahwa bukan ponselnya yang berdering karna ponselnya mati kehabisan batrai. Luhan pun mencari sumber suara itu dan sedikit terlonjak saat menemukan seorang gadis yang bersembunyi di balik pohon dengan ekspresi panik sambil berusaha mematikan ponselnya yang berdering.

.

Dan di sinilah mereka.

.

Di taman yang letaknya tidak terlalu jauh dengan pemakaman.

Belum ada yang memecah keheningan sejak keduanya tiba di taman ini sekitar lima menit yang lalu. Luhan yang sedikit malu karna ketahuan menangis oleh seorang gadis. Dan Luhan juga tahu bahwa gadis itu malu karna ketahuan menguntit Luhan.

"Sayang sekali eommaku tidak di makamkan di sini juga."

Gadis itu bersuara memecah keheningan. Luhan menoleh dan mendapati kepala gadis itu yag menunduk seolah daun-daun yang ada di tanah lebih menarik daripada Luhan.

Luhan mengerenyit. Ternyata gadis ini bernasib sama dengannya. Di tinggalkan oleh sesosok bidadari yang disebut ibu.

"Eommamu..."

"Eommaku juga sudah berada di surga."

Gadis itu menoleh ke arah Luhan dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Senyum yang sama hangatnya dengan milik eomma Luhan.

Katakanlah Luhan mengagumi senyuman itu. dan si pemilik senyuman itu tentu saja. Karna setiap melihat gadis itu rasa rindu terhadap eommanya seolah hilang begitu saja.

Seolah gadis yang ada di sampingnya saat ini adalah penyebab rindu itu muncul.

Luhan meluruskan kepala dan memandang daun-daun yang bergerak-gerak kecil karna di terpa angin. Senyuman kecil terpasang di wajahnya.

"Eommaku orang yang sangat cantik. Pelukannya sangat hangat-"

Perkataan Luhan membuat yeoja itu menoleh dan memandang dirinya yang tengah menerawang ke depan.

Perlahan ingatan-ingatan masa kecilnya tersusun rapih di kepala Luhan. Ingatan saat keluarga kecilnya masih utuh.

Keluarga bahagia yang sangat berarti untuk Luhan.

Keluarga kecil yang terdiri dari Appa yang bekerja sebagai leader di sebuah perusahaan, Eomma yang merupakan pemilik sebuah cafe dan dirinya yang saat itu masih duduk di kursi kelas empat sekolah dasar. Dulu mereka adalah keluarga bahagia,

- Sampai ayahnya naik jabatan.

Sejak itu ayahnya jarang pulang ke rumah. Setiap Luhan bertanya, eommanya akan selalu tersenyum lembut sambil berkata "Appa sedang bekerja keras, mencari uang untuk Han-ie."

Tapi Luhan dapat melihat pancaran kesedihan di mata indah milik wanita cantik itu.

"Eommaku orang yang kuat. Ia selalu menutupi kesedihannya dengan sebuah senyuman indah."

Luhan ingat saat itu. Setiap appanya pulang ke rumah, pasti malam harinya akan selalu ada pertengkaran antara appa dengan eommanya.

Dan setiap itu terjadi, Luhan selalu mengintip dari pintu kamar yang ia buka sedikit. Ia selalu melihat ruang keluarga yang gelap berisikan appanya yang sedang emosi dengan eommanya yang terisak.

Samar-samar Luhan dapat mendengar kata 'Selingkuh' dan 'Wanita lain' keluar dari mulut eommanya.

.

Selalu seperti itu.

Dan Luhan tidak bisa berbuat apa-apa.

.

Setiap pertengkaran itu selesai, appanya akan pergi keluar rumah diiringi oleh suara keras dari pintu yang di banting.

Dan eommanya akan selalu menangis di kamar mandi dengan menenggelamkan kepalanya di lututnya yang tertekuk. Shower dinyalakannya agar suara isakkannya tidak di dengar siapapun.

Tapi Luhan tahu.

Ia selalu tahu jika eommanya menangis.

"Ia selalu menangis sendirian di tengah guyuran air shower yang dingin dengan kepala yang di tenggelamkan di lututnya yang di tekuk." Luhan tersenyum miris.

"Dan aku akan selalu mematikan shower itu lalu menghampirinya dengan sebuah handuk. Aku menyelimutinya dengan handuk lalu mendekapnya. Tapi ia selalu berusaha untuk menolak pelukkanku karna takut bajuku basah. Tapi aku tidak melepas pelukanku. Lalu ia akan meyakinkanku bahwa dirinya tidak apa-apa. Dia berbohong."

Luhan terkekeh miris, "Dan aku tidak mudah di bohongi."

Memori itu tersusun semakin jelas di kepala Luhan. Memori saat ia tahu appanya pergi dengan membawa sebuah koper yang besar. Dan beberapa hari kemudian eommanya masuk rumah sakit. Sejak saat itu kakek dan nenek dari pihak eommanya mulai merawat dirinya beserta eommanya.

Luhan sangat ingat saat itu. Saat dirinya yang berlari di lorong rumah sakit sambil tersenyum lebar dengan tangannya yang membawa sebuah piala hasil dari kemenangannya di olimpiade matematika tingkat provinsi.

Senyumannya saat itu seketika luntur saat mendengar suara tangisan dari ruang rawat inap tempat eommanya berada.

Dan piala itu jatuh dan hancur sia-sia saat seorang dokter keluar dari ruangan itu sambil mengatakan bahwa-

-Eommanya telah ke surga.

.

Hati Luhan terasa di cubit bila mengingat semua itu. Setetes air mata melintas di pipi tirus Luhan.

Katakanlah ia lemah.

Karna ia memang selalu lemah dengan hal yang bersangkut-paut dengan eommanya.

Ia menundukkan wajahnya agar air matanya tak terlihat oleh gadis yang sedang duduk di sampingnya. Gadis yang bernama Sehun itu. Tapi sebuah tangan hangat menyentuh pipinya dan ibu jari dari tangan itu menghapus air mata Luhan.

Luhan mendongak dan menatap Sehun.

"Sunbae jangan bersedih lagi.. nanti aku dan umma sunbae juga ikut bersedih."

Sehun menarik kembali tangannya yang berada di pipi Luhan lalu tersenyum kecil agar namja yang ada di hadapannya juga tersenyum.

Luhan pun ikut tersenyum kecil. Tapi kemudian ia menautkan alisnya bingung saat Sehun mengeluarkan sebuah lolipop dari saku blazernya dan menyodorkannya ke arah Luhan.

"Ini lolipop ajaib yang akan menghilangkanb kesedihanmu. Ambilah." Sehun tersenyum lembut.

Luhan membalas senyum Sehun dengan kekehan. Ia tahu bahwa yeoja dengan tatanan rambut lucu ini sedang berusaha menghiburnya.

Luhan mengambil lolipop itu dan membuka bungkusnya lalu memasukan lolipop itu ke mulutnya. Setelah itu Luhan menoleh mengamati yeoja yang sedang menatap lurus ke daun-daun yang ada di tanah.

Entah mengapa Luhan merasa bahwa badai kesedihan telah berlalu. Karna pelangi sudah datang ke kehidupannya. Pelangi yang akan menghibur Luhan dengan warnanya yang indah. Pelangi yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.

.

Pelangi yang bernama Oh Sehun.

.

.


Bel pulang sudah berbunyi sejak sejam yang lalu. Semua murid Kyunghee HS sudah pulang menuju rumahnya masing-masing atau mungkin mereka sudah berguling di kasur yang empuk.

Tapi tidak bagi murid kelas 11-A –kelas Sehun.

Mereka pulang terlambat karna ada jam pelajaran tambahan. Untung saja bel bertanda jam pelajaran tambahan telah usai sudah berbunyi sejak satu menit yang lalu.

Sehun sudah merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas tapi ia belum beranjak dari tempat duduknya bahkan saat Xiumin beserta murid yang lainnya keluar meninggalkan Sehun dan Jongin di kelas itu.

Sehun sedang menunggu Jongin yang masih mencatat materi di papan tulis.

Yeoja itu terus memperhatikan Jongin dari tempat duduknya tapi namja yang di perhatikan itu terus fokus pada buku dan papan tulis. Mungkin Jongin tidak tahu kalau Sehun sedang memperhatikannya.

Atau mungkin tidak perduli?

Sehun menghela nafas pelan. Padahal sudah sebulan Sehun menjadi murid di sekolah ini dan sekelas dengan Jongin tapi namja bermata tajam itu masih bersikap dingin dan tidak menghiraukan dirinya.

Semua usaha yang ia lakukan untuk mendekati Jongin kembali terasa sia-sia. Bahkan Jongin seperti tak menganggap Sehun ada.

Sehun tahu mungkin waktunya sudah tak banyak lagi. Maka dari itu ia tidak boleh menyerah membuat Jongin kembali seperti dulu lagi.

Suara kursi yang di geser membuyarkan semua hal yang sedang Sehun fikirkan. Rupanya Jongin sudah selesai mencatat dan merapikan bukunya. Sehun ikut beranjak dari kursinya saat namja yang sedang ia tunggu juga melakukan hal yang sama.

Sehun berlari kecil menghampiri Jonginyang sudah sampai di ambang pintu.

"Hey Jongin! Ayo pulang bersama."

Sehun tersenyum manis tapi Jongin terus berjalan lurus dan tak menghiraukan Sehun.

Selalu saja seperti ini.

Tapi Sehun tidak akan menyerah.

"Eum.. Jongin... bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?"

Dulu Sehun sering berkunjung ke rumah Jongin untuk bermain bersama namja itu beserta Chanyeol –hyungnya Jongin- di halaman belakang rumah Jongin. Sementara appa dan eomma Jongin berada di dalam rumah.

Setiap mereka selesai bermain, mereka akan di sambut dengan berbagai makanan enak buatan eomma Jongin dan makan bersama dengan ribut. Sebenarnya sih yang ribut hanya Sehun dan Chanyeol yang merupakan anak yang cerewet.

Sungguh, Sehun rindu saat-saat seperti itu.

"Oh iya, Apa kabar keluargamu? Apa semuanya sehat-sehat saja? Aku sungguh merindukan Chanyeol oppa, bibi dan paman Kim. Pasti Chan oppa semakin tampan, ya?" Sehun terkekeh kecil. "hhmm... Pasti bibi Kim semakin cantik dan paman Kim pasti bertambah tampan. Iya kan Jongin?"

Jongin terus berjalan tak menghiraukan sehun yang mengoceh panjang lebar. Lorong sekolah yang sepi membuat suara yeoja itu terdengar jelas.

"Apa paman Kim masih suka bermain catur? Aku ingat sekali saat dia-"

"Berhenti membicarakan Appaku!"

Jongin menghentikan langkahnya secara tiba-tiba membuat Sehun melakukan hal yang sama.

Sehun mengerutkan alisnya. "Kenapa?"

Jongin mengepalkan tangannya dan menatap Sehun dengan penuh emosi dan-

.

'Brakkk!'

.

Sehun meringis saat Jongin mendorong bahu Sehun dengan keras sehingga punggung yeoja itu menabrak dinding. Lalu Jongin menghimpit dirinya dengan tangannya yang mencengkram kedua bahu Sehun dengan kencang.

"A-apa yang-"

"BERHENTILAH BERSIKAP SEAKAN KAU PERDULI DENGAN KELUARGAKU! Tahukah kau? APPAKU MATI KARNA DIRIMU! KAU TELAH MEMBUNUH APPAKU SECARA TIDAK LANGSUNG".

Jongin terengah-engah masih dengan emosi yang memuncak sementara Sehun menatap Jongin dengan ekspresi tidak percaya.

"P-paman kim.." Air mata yang sedari tadi menggenang di sudut mata Sehun akhirnya jatuh juga.

"Seandainya aku tidak menunggumu.. Seandainya kau menepati janji.. APPAKU PASTI MASIH HIDUP!"

Jongin melepaskan cengkramannya pada bahu Sehun dan menghapus setetes air mata yang menuruni pipinya dengan kasar. Jongin hendak pergi namun kakinya di tahan sesuatu.

Entah sejak kapan Sehun memeluk kaki kanannya.

"Mi-mianhae.. jebal, mianhae.. hiks.."

.

Sungguh Sehun sendiri tak menyangka bahwa paman Kim yang sudah ia anggap seperti appa sendiri telah... tiada.

Dan itu semua karna dirinya?

.

"Maafkan.. hiks.. aku, Jongin. Hiks.. jebal.."

Jongin terdiam. Sejujurnya hatinya juga merasa sakit tapi ego mengalahkan segalanya.

"Maafmu tak akan bisa mengembalikan appaku."

Jongin menyentakkan kaki kanannya dengan kasar membuat pelukan Sehun terlepas. Lalu ia berjalan dalam diam meninggalkan Sehun yang terduduk sambil mengucapkan kata maaf di ruangan itu.

Sejujurnya dari hati yang terdalam, Jongin merasa ia tidak seharusnya melakukan ini semua kepada Sehun. Hatinya seakan di remas saat melihat air mata yang jatuh menuruni pipi yang dulu Jongin kagumi. Tapi bila mengingat perihal tentang appanya, egonya selalu menang dan membuat Jongin mengabaikan kata hatinya sendiri.

.

.

"Appa, apa tindakanku salah?"

.

.

.

.

.

Angin yang berhembus di danau yang sepi itu seakan meniup-niup poni Sehun. sejak peristiwa di lorong sekolah tadi Sehun langsung pergi ke danau ini. Danau yang menyimpan banyak memori indahnya bersama Jongin.

Perlahan air mata mulai membasahi pipi tirus itu.

.

.

Flashback on

.

Sehun kecil sedang duduk disebuah kursi kayu yang ada di dekat danau rumahnya saat itu, dan di gendongannya terdapat seekor anak anjing dengan warna bulu putih bersih. Anjing itu menggesekan kepalanya kepundak sehun, dan sehun tertawa karna kegelian. Sehun menghentikan tawanya dan menatap seorang anak laki-laki yang sedang duduk di tepi danau dengan membelakanginya.

Sehun merapihkan kunciran rambut ala karakter pucca nya. Lalu Perlahan sehun menghampiri anak itu masih dengan jjanggu –nama anak anjing yang tadi sehun gendong- di gendongannya. Sehun duduk disamping anak itu. Sepertinya ia sedang menulis sesuatu di bukunya.

"Kau thedang apa kkamjongie?"

Jongin menoleh dan tersenyum manis kepada sehun. "aku sedang menulis surat untuk jjanggah".

Ya, sehun tau siapa itu jjanggah. Jjanggah adalah siput peliharaan jongin yang mati tiga hari yang lalu. Jongin kembali fokus menulis kata-kata di buku catatannya.

Sehun menatap bingung ketika jongin meyobek kertas yang berisi kata-kata itu, membuat kertas itu terpisah dari jongin melipat kertas itu menjadi perahu dan menghanyutkankannya ke danau.

Setelah selesai, jongin menoleh ke arah sehun yang sedang menatapnya bingung. Seakan mengerti tatapan sehun, jongin pun menjelaskan

"semalam, eomma berkata padaku-" Jongin menatap sehun sebentar lalu mengalihkan pandangannya kearah danau, atau lebih tepatnya kearah perahu kertas yang ia hanyutkan tadi.

"- jika kau menulis pesan diatas sebuah kertas, lalu melipat kertas itu menjadi sebuah perahu, dan setelahnya kau hanyutkan perahu kertas itu di sebuah danau, Maka surat mu itu akan sampai ke tangan orang yang kau tuju".

Sehun menatap jongin yang masih menatap perahu kertas itu. Sehun mengangguk pelan dengan mulutnya yang berbentuk seperti huruf 'O'.

Sehun terdiam, sebuah ide terlintas di benaknya. "kkamjongiie, thehun pinjam bukumu, ne?"

Sehun mengambil buku jongin setelah menyerahkan jjanggu ke jongin, lalu ia berjalan beberapa langkah menjauhi jongin, dan berhenti tepat disebuah batu besar tepat di tepi danau dan mendudukinya.

Sehun menulis sesuatu di buku jongin. Setelah selesai ia merobek kertas itu hingga terpisah dari buku dan melipatnya menjadi sebuah perahu. Dan ia menghanyutkan perahu itu ke seperti yang tadi jongin lakukan.

Mulut sehun menggembung lucu saat meniup-niup kertas itu agar mengapung ke arah jongin.

Jongin yang sedang bercanda dengan jjanggu itupun mengerutkan dahinya saat sebuah perahu kertas mengapung tepat di depannya. Ia mengambil perahu kertas itu dan membongkarnya, sehingga terdapat sederet tulisan khas anak SD.

.

'Kkamjongie! Saranghae!'

.

jongin tersenyum. Ia tahu siapa yang menulis ini. Dia menoleh kearah sehun yang berada beberapa langkah darinya. Sehun tersenyum manis sehingga menampakkan gigi-giginya dan jongin membalasnya lalu berteriak "NADO SARANGHAE!"

.

Flashback off

.

Sehun menghapus air matanya dengan kasar kemudian mengeluarkan sebuah buku tulis dan pulpen dari dalam tas. Ia membuka buku itu dan menuliskan suatu kalimat kemudian merobek kertas itu hingga terpisah dari buku.

Ia langsung melipat kertas tersebut menjadi sebuah perahu kertas lalu ia berdiri dan berjalan ke tepian danau. Setelah sampai ia berjongkok dan menghanyutkan perahu kertas itu.

Perahu kertas itu tertiup angin yang berhembus sehingga membawanya dengan cepat ke tengah danau.

Sehun terus memandangi kertas itu. entah mengapa hatinya jadi remuk lagi ketika perkataan Jongin terngiang di kepalanya.

"BERHENTILAH BERSIKAP SEAKAN KAU PERDULI DENGAN KELUARGAKU!"

"KAU TELAH MEMBUNUH APPAKU SECARA TIDAK LANGSUNG".

"Seandainya aku tidak menunggumu.. Seandainya kau menepati janji.. APPAKU PASTI MASIH HIDUP!"

.

Air mata semakin deras menuruni pipi Sehun yang tirus.

Ia tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya.

Dulu appa nya mengajak dirinya ke jepang. Dan sehun baru mengetahui bahwa appanya ke jepang hanya untuk bertemu seorang wanita saat mereka sudah sampai di bandara negri sakura itu.

Ia seorang Janda beranak satu yang merupakan mantan kekasih appanya sewaktu SMA.

Dia Jung Daehyun yang sekarang sudah menjadi eomma Sehun. dan rencana appanya yang berniat hanya sebentar di negara sakura itupun berubah. Donghae menikahi Daehyun dan mereka menetap di negara itu selama beberapa tahun.

Sebenarnya waktu itu Sehun juga gelisah mengingat perihal janjinya kepada Jongin. Tapi melihat appanya yang bahagia bersama pasangan barunya membuat Sehun ikut bahagia. Apalagi Sehun yang memiliki saudari baru bernama Baekhyun.

Sebenarnya mereka hanya tinggal selama empat tahun, tapi saat Sehun yang di diagnosa mengidap penyakit umm... kanker, membuat appanya membatalkan niatnya untuk pulang ke korea dan memilih untuk melakukan pengobatan untuk Sehun di jepang walaupun tidak ada hasilnya.

Handphone yang ada di saku blazernya terus saja bergetar pertanda ada panggilan masuk. Itu pasti panggilan dari supirnya atau appa dan eommanya karna ia tidak langsung pulang ke rumah sejak sekolah usai.

Tangisan sehun terhenti saat sebuah tangan menjulurkan sebuah sapu tangan berwarna putih-biru tepat di depan wajahnya. Sehun mendongak dan matanya dapat melihat orang yang memberikan sapu tangan itu.

Kris.

Sehun mengambil sapu tangan itu dan mengelap air matanya. Dan Kris berjongkok di samping Sehun. mereka berdua memerhatikan perahu kertas yang berlayar di danau yang memiliki air jernih itu.

"Tadi aku sedang dalam perjalanan pulang dari perpustakaan kota. Tapi aku langsung berbelok ke danau ini saat aku tahu ada seorang peri manis berdiam diri di tepian danau."

"aku tidak dalam mood yang baik untuk di rayu."

Kris terkekeh dan mengalihkan pandangannya menatap Sehun. "Apa yang sedang kau lakukan? Kau mau bunuh diri?"

Sehun menatap Kris balik. "Kalau aku menjawab Iya, apa reaksimu?"

Kris membulatkan matanya. "YA! kau jangan main-main!"

Sehun terkekeh lemah melihat ekspresi terkejut Kris yang berlebihan. "Aku hanya bercanda."

Kemudian keheningan menyelimuti mereka. Kris yang bingung mau bicara apa dan Sehun yang sibuk memandang kosong ke tengah danau yang indah itu dengan segala fikiran yang ada di kepalanya.

Angin berhembus membuat suhu menjadi sejuk. Mata Kris terpejam menikmati sapuan angin yang membelai pipinya.

"Apa kau pernah merasakan di benci oleh orang yang kau sukai, sunbae?"

Kris membuka matanya lalu menoleh dan mendapati Sehun yang sedang menundukkan kepalanya sambil... menangis?

Kris tidak tahu harus melakukan apa saat melihat Sehun menangis tanpa suara. "Kau kenapa?"

Air mata masih keluar dari mata indah Sehun. Sehun menghapus air matanya sambil terus menunduk. "aku tidak apa-apa."

Kris tahu bahwa Sehun tengah berbohong. Sungguh hatinya merasa sakit saat melihat air mata itu terjun begitu saja.

Dan akhirnya Kris membawa Sehun kedalam pelukannya.

"Air mata itu datangnya dari hati. Saat kau bilang 'tidak apa-apa' ketika kau menangis, aku tahu kau sedang berbohong. Karna air mata itu merupakan tanda bahwa hatimu sedang tidak baik-baik saja."

Dan pertahanan Sehun pun akhirnya runtuh.

Ia meluapkan segala kesedihannya di dalam pelukan hangat seorang pria tinggi bernama Kris.

.

.

Pria yang tanpa ia ketahui sudah menaruh hati pada dirinya.

.

Perahu kertas itu terus melaju karna tertiup angin. Perahu kertas yang berisikan permintaan maaf Sehun kepada appa Jongin.

.

.

Hey paman Kim, aku sangat merindukanmu. Apa kau merindukanku juga? Kkk~. Jika saja tangga menuju surga itu memang ada, maka aku akan menaiki tangga itu dan menggantikan posisimu.

Paman Kim... apakah ada cara agar kau memaafkanku? Ku mohon maafkan aku, paman... jebal, maafkan aku...

Dari Orang yang menyayangimu.

Oh Sehun

.

.

.

To Be Continue

.

.


Preview Next Chapter

.

"Berhentilah membencinya karna dia tidak salah apa-apa."

.

"Kau bilang gelang ini adalah gelang yang berharga untukmu?"

"Itu benar, tapi yang memakai gelang itu jauh lebih berharga."

.

"Bagaimana kalau aku pergi lagi suatu saat nanti?"

"Maka... aku akan menunggumu kembali."

.

"errr... maukah kau pergi bersamaku ke lotte world besok?"

.

.


A/N

Akhirnya UTS nya selesai juga.. /peluk Sehun/

mudah-mudahan aja nilai saya sebagus wajah Suho /?

.

Gimana chapter di atas? Maaf kalo kurang greget :(

.

Di chapter depan bakal penuh sama KaiHun yeayyyy...

.

Untuk masalah endingnya sad atau engga, itu rahasia. Sebenernya saya masih pingin nyiksa sehun muehehehe...

.

Thanks to :

Jonginnys, Yehet, hunhun, kapel, ohhhrika, kihae forever, DiraLeeXiOh, iyas, Lulu Auren, Kim Seo Ji, sayangsemuamembersuju, Guest, yehetmania, Kim XiuXiu Hunnie, dia luhane, YoungChanBiased, Nagisa Kitagawa, izz sweetcity, LKCTJ94, kiky seyeong, daddykaimommysehun.

.

maaf kalo ada yang gak kesebut.

Maaf gak bisa bales review satu-satu, tapi saya selalu baca review kalian. Terima kasih banget banget banget buat yang udah review dan jadi penyemangat saya :D

.

Selamat datang juga buat reader baru hehehe..

.

Buat yang udah follow sama favorite dan silent readers yang udah baca FF ini saya ucapkan terima kasih.

.

Okay sampai jumpa di chapter depan.

.

terakhir

.

.

Review?