Title : Forever?

Cast :

Oh Sehun as Girl

Kim Jongin/Kai

Kris Wu

Xi Luhan

Do Kyungsoo as girl

Etc.

Pair : KaiHun, KrisHun,HanHun.

Warning : OOC, typo(s), genderswitch, etc.

.

Don't Like

.

Don't Read

.

.

.


Malam yang dingin tak membuat Jongin beranjak dari teras yang ada di halaman belakang rumahnya. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang dan meluruskan kedua kakinya di teras itu sambil menatap bulan sabit yang seakan mentertawakan dirinya.

Menertawakan Jongin yang sedang tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

Ingatan saat di lorong sekolah tadi sore pun selalu berputar di fikirannya seperti film. Hatinya mengatakan bahwa tidak seharusnya ia mengabaikan Sehun. tidak seharusnya ia memperlakukan cinta pertamanya seperti tadi.

Tapi egonya selalu bertentangan dengan hatinya. Egonya selalu mengatakan bahwa tindakannya benar. Sudah seharusnya ia melakukan sehun seperti itu. Sehun pantas mendapat perlakuan seperti itu.

Jongin menjambak rambutnya frustasi. Hatinya dan egonya selalu berperang membuat kepalanya serasa mau pecah. Terlebih bila melihat yeoja itu. Jongin mengusap wajahnya dengan kasar.

.

"Appa, apa yang harus kulakukan?"

.

Jongin menoleh saat seseorang mengelus kepalanya. Dan ia mendapati eommanya yang entah sejak kapan mendudukan diri di samping dirinya. Eommanya tersenyum lembut dan Jongin langsung menyandarkan kepalanya di bahu kiri wanita yang sudah berumur itu. Mereka sama-sama memandang langit bertabur bintang dengan sebuah bulan sabit menghiasinya.

"Aku merindukan appamu."

Jongin mendongak masih dengan kepalanya yang bersandar di bahu kanan wanita itu dan menatap eommanya yang masih memandang langit malam.

"Aku juga."

"Appamu orang yang baik. Ia tidak pernah menyimpan dendam dan kebencian kepada siapapun-" . wanita itu menatap Jongin. "-dan seharusnya kau juga sama seperti appamu."

Jongin menarik kepalanya dari bahu eommanya.

Ya, eommanya memang tahu sejak dulu tentang kebenciannya terhadap Sehun. wanita itu selalu bilang bahwa semua hal yang terjadi bukan salah Sehun. Tapi Jongin tak pernah mendengarkan ucapan eommanya.

"Aku... bingung."

Eommanya mengangkat alis. "Bingung?"

Jongin memilih diam dan tak menjawab pertanyaan ummanya. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Hatinya sakit saat mengabaikan Sehun, tapi ego nya selalu membuatnya untuk membenci Sehun.

"Berhentilah membencinya karna dia tidak salah apa-apa."

"Tapi rasanya susah sekali memaafkannya, eomma."

"Kau tidak harus memaafkannya karna ia tidak salah apapun. Seharusnya kau yang meminta maaf karna telah menyakiti hatinya, Jongin. Kau juga tidak bisa membohongi dirimu sendiri secara terus-menerus."

Eommanya membuang nafas. "hati seseorang itu seperti kaca. Jika sudah pecah, walau di rekatkan kembali akan selalu ada bekas yang nampak."

Jongin terdiam lagi mencerna semua ucapan ummanya. Sementara ummanya beranjak ke dalam rumah setelah mencium dahi jongin.

Jongin masih merenungi perkataan eommanya selama beberapa menit di tengah kesunyian malam.

Kemudian Jongin sadar bahwa ummanya benar.

.

Ia harus berbaikan dengan Sehun.

.

.

.


Seminggu sudah berlalu sejak kejadian di lorong waktu itu. Sejak itu Sehun tidak lagi mendekati Jongin. Bahkan untuk melihat namja itu saja rasanya sangat berat. Jongin juga demikian, tidak ada perubahan dari dirinya.

Sehun menidurkan kepalanya di meja. Di kelas hanya ada dirinya saat ini. Sekarang sedang jam olahraga tapi sehun tidak mengikuti pelajaran itu lagi sejak appanya mengetahui penyakitnya yang langsung kambuh saat selesai bermain bola basket sebulan yang lalu.

Sehun memejamkan matanya selama beberapa detik. Kemudian ia membuka matanya lagi saat terdengar suara gaduh. Ia melihat seseorang berseragam olahraga yang berlari keluar kelas dengan terburu-buru. Sehun sendiri tidak tahu siapa orang itu. Lalu yeoja itu mengerenyit saat ada selembar kertas yang terlipat berada di mejanya. Padahal sebelumnya kertas itu tidak ada di sana.

Sehun mengambil kertas itu dan membukanya. Tiba-tiba ia tersenyum dengan matanya yang berbinar saat membaca tulisan yang ada pada kertas itu.

.

Danau. Jam tujuh malam.

Jangan terlambat!

From :

Kim Jong In

.

.

.

.


Jongin duduk di bawah pohon yang ada di tepian danau itu. hari sudah gelap karna sekarang jam sudah menunjukkan pukul 18.59. ia sudah datang semenit yang lalu dengan mengendarai sepeda yang ia parkirkan tidak jauh dari posisinya saat ini.

Ia sedang menunggu Sehun.

Sebenarnya sudah satu minggu ia merencanakan ini semua. Dan selama satu minggu itu pula Sehun tidak mengajaknya bicara. Apalagi Sehun yang terkadang terlihat bersama dengan Luhan atau pun Kris yang merupakan sunbaenya membuat Jongin semakin gerah.

Suara langkah kaki dari arah belakang membuat Jongin menolehkan kepala.

Dan ia membatu seketika.

.

Oh apakah ini Sehun si cadel?

.

Atau putri dari suatu kerajaan yang sedang tersesat?

Sehun terlihat sangat eum... cantik.

Ia memakai dress berwarna biru muda berlengan dan panjangnya selutut. Sepatu dengan warna senada dengan dressnya membuat kakinya semakin indah. Rambutnya yang panjang sepinggang itu bergerak karna tertiup angin. Jepitan yang berbentuk pita berwarna biru menghiasi rambutnya yang indah.

.

Dia.. sempurna.

.

Sehun menghampiri Jongin sambil tersenyum kecil dan langsung mendudukan dirinya di samping namja yang belum mengalihkan pandangan dari dirinya itu.

"Sudah lama menunggu?"

Jongin tersentak. "T-tidak juga."

Mereka berdua terdiam. Jongin merasa canggung dengan Sehun mengingat perlakuannya kepada sehun sebelumnya. Dan Sehun juga merasa canggung dengan Jongin setelah kejadian di lorong sekolah seminggu yang lalu.

"Bagaimana caranya-" Sehun menatap Jongin, "-agar kau memaafkanku?"

Jongin memandang Sehun dalam diam. Sebenarnya ia merasa bersalah karna bersikap egois kepada yeoja itu. "Aku tidak perlu memaafkanmu karna kau tidak bersalah."

"Tapi aku yang-"

"Aku baru sadar kalau hidup dan mati itu adalah takdir. Appaku meninggal bukan karna dirimu, bukan karna diriku, tapi karna itu sudah menjadi takdirnya."

"Kenapa baru sadar sekarang?" Ucap Sehun dengan nada bercanda.

Jongin tertawa dan tanpa sadar ia mengusak rambut Sehun.

Beberapa detik kemudian tangannya yang sedang mengusak rambut Sehun pun terhenti saat ia menyadari apa yang sedang di lakukannya.

Jongin berdeham. Ia salah tingkah.

"Oh iya.. a-aku memintamu ke danau karna ingin mengembalikan ini." Jongin melepas gelang pemberian Sehun yang sejak dulu selalu ia pakai. Ia menyodorkannya ke arah Sehun. "dulu kau memintaku berjanji untuk menjaga gelang ini sampai kau kembali. Aku menepati janjiku kan?"

Sehun mengambil gelang yang di sodorkan Jongin. "Ya, kau menepati janjimu." Kemudian yeoja itu memegang pergelangan tangan sebelah kiri Jongin dan kembali memasangkan gelang itu. "Tapi gelang ini adalah milikmu sekarang."

Jongin menaikan alisnya. "Kau bilang gelang ini adalah gelang yang berharga untukmu?"

"Itu benar, tapi yang memakai gelang itu jauh lebih berharga." Sehun tersenyum lembut sementara Jongin... merona. -_-

"Maaf karna waktu itu aku tidak menepati janjiku." Sehun memasang ekspresi menyesal.

"Tidak apa-apa. Ku harap kau tidak kembali hanya untuk pergi lagi. karna, aku tidak mau kau meninggalkanku lagi." Jongin mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah danau yang tenang.

Sehun terdiam. Bisakah ia menuruti kemauan Jongin untuk tidak pergi suatu saat nanti?

"Bagaimana kalau aku pergi lagi suatu saat nanti?" Sehun mencoba melukiskan sebuah senyum di bibirnya.

"Maka... aku akan menunggumu kembali." Jongin berkata dengan tulus membuat Sehun terenyuh.

Mereka terdiam lagi selama beberapa menit. Menikmati angin malam yang bertiup pelan membuat siapapu merasakan kesejukkan.

"Kajja kita pulang." Jongin menarik tangan sehun lalu keduanya berdiri. "Sehun, ayo pulang bersama."

Bibir Sehun melukiskan senyum saat mendengar ajakan Jongin. Biasanya ia yang akan mengajak Jongin pulang bersama walaupun Jongin selalu menolaknya. Tapi kali ini Jongin yang mengajaknya pulang bersama dan Sehun tidak akan menolak tentu saja.

Jongin dan Sehun menghampiri sebuah sepeda yang bersandar di sebuah pohon. Jongin menaiki sepeda itu.

"Ayo naik."

Sehun masih terdiam dan memandangi sepeda Jongin. "Aku duduk dimana? Sepedamu tidak ada boncengannya."

Jongin berdeham. Dengan malu-malu tangannya menunjuk ke arah besi yang menghubungkan jok sepeda dengan stang sepeda. (saya gak tau namanya apa T.T).

Sehun jadi merona sendiri. Ia pun bergegas mendudukan dirinya di tempat yang di tunjuk Jongin tadi. Tangan kanannya berpegangan pada stang dan tangan kirinya memegangi dressnya di bagian paha agar tidak tersingkap.

Jongin mulai mengayuh sepedanya saat ia merasa Sehun sudah siap. Ia bisa mencium aroma shampoo strawberry dari rambut Sehun.

Entah mengapa Jongin merasa lega. Mungkin karna ia sudah tidak membohongi dirinya sendiri lagi.

Selama perjalanan mereka hanya terdiam. Bukan diam karna canggung atau apa. Tapi karna mereka terlalu bahagia. Senyum selalu terukir di wajah mereka berdua.

Sampai akhirnya Jongin membuka suara.

"A-apa kau kedinginan?"

Sehun menoleh menatap Jongin. "Tidak. Kau kedinginan?"

Jongin menggeleng sambil tersenyum lembut. "eummm... ngomong-ngomong aku mempunyai dua tiket masuk ke lotte world."

"lalu?"

.

.

"errr... maukah kau pergi bersamaku ke lotte world besok?"

.

.

.

.


Ting tong ting tong~

Jongin menekan tombol bel yang ada di samping pintu bercat putih. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Entah mengapa ia jadi gugup sendiri padahal saat ini ia hanya sedang menjemput Sehun.

Ya, hari ini mereka berdua akan pergi ke lotte world.

.

Cklekk~

.

Pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik bertubuh mungil. Jongin menautkan alisnya karna ia baru melihat gadis ini. oh, apakah ini Baekhyun kakak tirinya Sehun. semalam Sehun bercerita tentang anggota keluarganya yang baru saat perjalanan pulang.

"Cari siapa?" Tanya gadis itu dengan ramah.

"Annyeong. Saya mencari Sehun."

Gadis itu melihat Jongin dari ujung kaki hingga ujung kepala membuat namja itu merasa seperti di telanjangi.

"Kau siapa?"

Jongin membungkukkan badannya hormat. "Saya Kim Jongin, temannya Sehun."

Gadis itu mengangguk pelan. "Ohh, Kim Jong-tunggu..." Baekhyun memelototkan matanya sambil menatap Jongin, "Kau Jongin? Kim Jongin?"

Jongin menganggukan kepalanya pelan dan tak mengerti akan sikap aneh gadis ini.

"ya tuhan! Sehuuuuunn!". Baekhyun berlari meninggalkan Jongin di ambang pintu, tetapi beberapa detik kemudian ia menghampiri Jongin lagi dan menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu.

.

.

Jongin duduk di sofa putih sambil mengedarkan pandangannya. Di dinding ruang tamu ini terdapat lumayan banyak foto-foto yang di gantung.

"Jongin?"

Jongin mendongak ke arah tangga yang melingkar di tengah ruangan itu saat sebuah suara yang sangat familiar memasuki indera pendengarannya.

Dan Jongin menganga seketika menatap takjub ke arah seseorang yang sangat anggun yang sedang berdiri di tangga itu. gadis itu memakai dress selutut berwarna biru muda dengan flat shoes dengan warna senada. Rambut panjang sepinggangnya ia gerai dengan hiasan bando berwarna putih.

Sehun terlihat sangat...Anggun.

Sehun menuruni tangga itu perlahan di ikuti Baekhyun di belakangnya. Setelah sampai di hadapan Jongin, Sehun menggaruk pipinya dengan kikuk.

"Sudah lama menunggu?"

"Tidak." Jongin tersenyum, "Aku baru sampai beberapa menit yang lalu."

Mereka saling berpandangan karna bingung untuk berkata-kata. Sampai sebuah deheman melepaskan kontak mata mereka.

"Hari sudah siang. Apa kalian ingin terus berpandangan sampai malam?" Baekhyun bersendekap.

Jongin dan Sehun jadi salah tingkah.

"B-baiklah. Kalau begitu ayo kita berangkat, Sehunna."

Jongin dan Sehun mulai berjalan tapi setelah beberapa langkah mereka berbalik lagi saat Baekhyun memanggil Sehun.

"Obat jangan lupa di minum!"

Jongin dapat melihat Sehun mendeathglare Baekhyun dan yeoja mungil itu terkekeh.

Ehh.. apa tadi kata Baekhyun?

Obat? Obat apa?

"Yasudah sana pergi, Huss huss!" Baekhyun tertawa. "Hati-hati di jalan!"

Jongin mengangguk dan mulai berjalan diikuti Sehun menuju pintu. Tapi kemudian Baekhyun memanggil lagi.

"Ada apa sih, unni?" Sehun menghentak-hentakkan kakinya kesal sementara Jongin terkekeh kecil melihat Sehun.

"Truk aja gandengan masa kalian tidak?"

.

BLUSHH

.

Rona merah langsung merambat ke pipi Sehun dang Jongin. Mereka berdua salah tingkah sementara Baekhyun tertawa sambil berlalu menuju dapur.

Jongin berdehem dan mengulurkan tangan. Awalnya Sehun tidak mengerti, tapi dua detik kemudian Sehun menyambut uluran tangan Jongin dengan malu-malu. Setelah itu mereka berlalu menuju mobil yang di bawa Jongin.

Dengan tangan yang saling bertautan.

.

.

.


Jongin menghembuskan nafasnya sambil menatap ke jendela restoran. Mereka baru sampai beberapa menit dan tiba-tiba saja hujan turun membuat mereka harus berteduh.

Lalu Jongin mengalihkan pandangannya ke arah Sehun yang saat ini sedang duduk di sebrang mejanya. Sehun menggenggam tangannya sendiri pertanda kalau ia sedang kedinginan.

Jongin tersenyum simpul lalu berdiri dan berjalan ke arah Sehun. ia melepaskan jaket yang ia pakai dan memakaikannya ke Sehun. gadis itu hanya menatapnya bingung.

"Kau kedinginankan?"

Sehun mengangguk kecil. "tapi kalau jaket ini aku yang pakai, nanti kau yang kedinginan." Sehun mencoba melepas jaket Jongin tapi namja itu menahan tangannya.

"Aku tidak kedinginan sama sekali." Jongin tersenyum lagi. "Aku tinggal ke toilet dulu, ya?"

Sehun tersenyum manis sambil mengaguk.

.

.

Hujan telah reda. Walaupun jalanan terlihat becek tapi itu tidak masalah bagi Jongin dan Sehun. Saat ini mereka sedang menuju ke salah satu wahana yang ada di lotte world.

"aku tidak suka hujan."

Jongin menoleh dan menatap Sehun. "kenapa?"

"Karna kalau hujan turun maka aku akan kedinginan."

Mereka terus berjalan melewati pepohonan yang masih basah tersiram air hujan.

"Tapi aku suka hujan bila kau sedang berada di sisiku."

"Kenapa?". Kini Sehun yang menatap Jongin sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Karna aku bisa menghangatkanmu." Jongin tertawa.

Sehun terdiam beberapa detik untuk mencerna omongan Jongin. Lalu ia membelalakan matanya.

"YA! pervert!" Sehun mencubiti Jongin dan tertawa saat melihat Jongin meringis main-main.

Mereka tertawa bahagia sambil berjalan. Mereka tertawa tak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Mereka tertawa dan melupakan semua masalah mereka masing-masing.

.

Mereka tertawa... Bahagia.

.

.

.

Hari sudah malam tapi sehun dang Jongin belum meninggalkan taman hiburan itu. tak terasa sudah lima jam mereka menghabiskan waktu bersama. Mereka telah mencoba hampir seluruh wahana yang ada di taman hiburan ini.

Saat ini mereka sedang menaiki wahana kincir angin. Walaupun hari sudah malam tapi taman hiburan ini masih tetap ramai.

"Boleh aku bertanya?"

Sehun menoleh ke arah Jongin. "Tanya apa?"

Jongin terlihat ragu. "eumm.. Kau punya hubungan apa dengan Luhan dan Kris sunbae?"

Sehun meaikan sebelah alisnya. "Memangnya kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja... kalian terlihat akrab."

"Mereka itu sahabat baruku."

Jongin mengangguk dan membuang nafas lega dan bergumam. "Bagus kalau begitu. Aku kira salah satu di antara mereka adalah kekasihmu".

"Apa?"

"A-ahh tidak." Jongin tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya.

Sehun melihat ke bawah dimana orang-orang tengah berkumpul. "Mereka sedang apa?"

Jongin ikut-ikutan melihat ke bawah. "Mereka sedang bersiap-siap untuk menyalakan kembang api."

Sehun dan Jongin menarik lagi kepala mereka.

"kembang api?" tanya Sehun bingung.

"Ya, setiap seminggu sekali mereka akan menyalakan kembang api di taman hiburan ini. kau pasti akan suka."

"Jinjja?"

Jongin mengangguk dan Sehun mengembangkan senyumnya.

Tiba-tiba saja sangkar kincir angin yang mereka tempati berguncang sedikit saat di puncak dan membuat Sehun terjungkal apabila bahunya tidak di pegangi oleh Jongin.

Sehun membulatkan matanya saat menyadari jarak antara wajahnya dengan wajah Jongin hanya terpaut beberapa centi.

Mereka bertatapan lumayan lama seakan terhipnotis satu sama lain. Dan entah dorongan dari mana, Jongin mendekatkan wajahnya.

Dan reflex sehun memejamkan matanya.

.

"lima..." samar-samat terdengar suara yang berasal dari bawah.

7 centi..

"empat.."

5 centi

"tiga.."

4 centi..

"dua.."

2 centi..

"satu.."

Cup...

Duarrrr...

.

Dengan background langit malam yang berlukiskan kembang api yang indah, bibir tipis dan bibir tebal itu bertemu. Saling melumat kecil dan saling memberi kehangatan satu sama lain. Tak ada secuil pun nafsu didalamnya.

Jongin tersenyum kecil di tengah ciuman manis itu mewakili rasa yang ada di hatinya. Tangan kanan Jongin menggenggam tangan kiri Sehun sementara tangan kirinya berada di pinggang ramping yeoja manis itu.

Dan Sehun tersenyum di sela-sela ciumannya. Kini ia tahu-

.

-Jonginnya, Kkamjongienya, Pujaan hatinya telah kembali... seperti dulu.

.

.

To Be Continue

.

.


A/N

.

Sorry for late update.

Adegan di atas gak termasuk NC kan? wkwk

.

Mungkin alurnya jadi kecepetan. Sebelumnya saya udah ngasih tau bahwa fanfic ini alurnya akan saya percepat. Jadi tolong di mengerti, ya?

.

Di chapter depan penyakitnya sehun bakal ketauan sama seseorang. Dan gelang K for K bakal ketauan asal-usulnya.

.

Thanks to :

Kapel, Kaihun krisho shipper, izz sweetcity, CutRabiatul, lativa akatsuki, Mrs. Virus, LKCTJ94, Kim XiuXiu Hunnie, Nagisa Kitagawa, dia luhane, Guest, YoungChanBiased, ohhhrika, kihae forever, yunacho90, dheardd94, daddykaimommysehun, Istrinya Sehun Bininya Kai, DiraLeeXiOh.

.

Dan juga buat yang udah ngefavorite dan ngefollow beserta yang baca fanfic ini.

.

Sampai Jumpa di chapter depan.

.

Review?