Title : Forever?
Cast :
Oh Sehun as Girl
Kim Jongin/Kai
Kris Wu
Xi Luhan
Do Kyungsoo as girl
Etc.
Pair : KaiHun, KrisHun,HanHun.
Warning : OOC, typo(s), genderswitch, etc.
.
Don't Like
.
Don't Read
.
Sorry for late update
.
Bel sekolah baru saja berbunyi semenit yang lalu membuat siswa-diswi yang ada di kelas itu memekik bahagia. Sehun merapikan buku dan alat tulisnya yang tadi ia gunakan dan memasukkannya ke dalam tas.
Sehun tidak tahu bahwa sedari tadi Xiumin memasukan bukunya sambil menatap Sehun dengan ekspresi tak terbaca. Tapi kemuadian Sehun menyadarinya, ia menoleh ke arah Xiumin sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa kau memandangiku terus, minnie?"
Xiumin terlonjak dan menggaruk tengkuknya, "Tidak. Hanya saja aku suka gayamu yang seperti ini."
Mungkin yang dimaksud Xiumin adalah gaya rambut Sehun. Ya, Sehun menggerai rambutnya dan tidak lagi mengikat rambutnya ala karakter pucca. Terima kasih pada Jongin yang semalam mengatakan "aku lebih menyukai rambutmu yang tergerai. Sangat indah." lewat pesan singkat.
"B-benarkah?" Sehun merina mendengar pujian terang-terangan dari Xiumin.
Xiumin menganggukan kepalanya dengan semangat, "Dan sepertinya bukan hanya aku yang menyukai gaya baru mu, siswa dan siswi lain juga tidak berkedip saat melihatmu. Aku yakin sebentar lagi kau akan punya fanclub...kkkkk~"
"Kau berlebihan." Sehun memukul lengan Xiumin demgan pelan, dan yang di pukul pun hanya tertawa.
"Hunna... Mau pulang bersama?"
Sehun terlonjak kemudian menoleh dan mendapati Jongin yang berdiri di sisi mejanya.
"Maaf Jongin, sepertinya hari ini kita tidak bisa pulang bersama." Sehun memasang ekspresi menyesal sambil menatap Jongin yang memasang ekspresi bertanya.
"Kenapa?"
"eum... aku sudah berjanji kepada Kris sunbae untuk menemaninya ke toko buku."
Mata Jongin menajam, "Kris sunbae?"
Xiumin yang sudah selesai membereskan bukunya pun beranajk berdiri dan menepuk bahu Sehun, "Aku duluan ya?" dan Sehun menganggukan kepalanya sambil menatap Xiumin.
Xiumin mendekati Jongin dan menepuk bahunya juga, "Sepertinya kau kalah cepat.. kkk~" Xiumin pun terkekeh dan berlari keluar kelas meninggalkan Sehun dan Luhan.
Jongin menggeram pelan. Sehun dan Kris akan berduaan. Jongin tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana kalau Kris melakukan hal yang tidak-tidak kepada Sehun? "Tadi kau bilang ke toko buku? Aku boleh ikut?"
Sehun membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Jongin, tapi sebuah suara dari arah pintu kelas menginterupsinya,
"Tidak boleh."
Sehun dan Jongin menoleh ke arah pintu dan mendapati Kris yang berjalan menghampiri mereka. Setelah Kris sampai di depan mereka, Namja itu langsung merangkul Sehun dengan akrab, "Ini acara khusus untuk kami berdua, tidak boleh ada orang ketiga".
Sehun hanya bisa mengerjapkan matanya sambil melirik Jongin dan Kris bergantian.
Jongin menatap tajam Kris lalu mendengus, baiklah Jongin mengalah. Ia mendekati Kris dan berbisik di telinganya, "Jaga Sehun dan jangan macam-macam dengannya."
Setelah itu Jongin melangkah keluar kelas dan tidak menoleh lagi kebelakang.
.
.
.
.
Kris menggeram marah saat melihat ban motornya kempes. Padahal setahunya tadi ban motornya masih baik-baik saja. Dia menengokan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari orang lain yang hendak ia tanya, tetapi parkiran itu sepi sekali hanya ada Kris dan Sehun.
"Bannya kempes?" Sehun berjongkok, tangannya menekan ban motor Kris untuk memeriksa apakah ban motornya benar-benar kempes atau kelihatannya saja.
Kris mendesah sambil mengusap wajahnya frustasi, ia ikut berjongkok di samping Sehun lalu meraih pergelangan tangan Sehun. Sehun hanya memandang Kris dengan bingung saat pria itu mengambil sapu tangan dari blazernya sendiri dan membersihkan tangan Sehun yang tadi habis memegang ban motor.
Setelah itu Kris memasukan kembali sapu tangannya dan menatap Sehun dengan ekspresi menyesal, "Sepertinya kita harus naik bis."
Sehun tidak tega melihat Kris memasang wajah sedih sehingga Sehun pun tersenyum, "Aku suka naik bis."
Kris terkekeh samar dan mengusak rambut Sehun. Ia berdiri sambil menarik tangan Sehu. "Kajja!" Kepala Kris mendongak menatap langit yang mendung, "Nanti keburu hujan."
Sehun mengangguk dan berdiri lalu mereka meninggalkan tempat parkir dan tidak mengetahui bahwa ada yang mengawasi mereka dari balik pohon yang ada di parkiran itu.
Itu Jongin.
Ia menggeram dan meninju pohon yang tidak bersalah. Usahanya untuk mengagalkan rencana Kris dan Sehun agar tidak pulang berdua pun sia-sia. Yeah, dia yang mengempesi ban motor Kris. Ahh ternyata usahanya sia-sia.
.
.
Sehun melihat ke jendela bis dua tingkat itu untuk melihat jalanan. Kris dan Sehun duduk di kursi paling belakang di lantai dua bis ini. Di situ hanya ada mereka berdua dan seorang ahjussi yang sedang tertidur di kursi dekat tangga.
Setelah merasa bosan, Sehun mengalihkan pandangannya ke arah Kris. Ia terlonjak dan menaikan alis saat mendapati wajah Kris yang teramat dekat dengan wajahnya.
Kris juga kaget karna Sehun menoleh tiba-tiba.
Kris berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. kemudia hening selama beberapa detik sampai Sehun membuka suaranya.
"Sebenarnya aku penasaran tentang alasanmu berpenampilan seperti sekarang."
Kris terdiam lagi. Haruskah ia memberi tahu alasannya? Otaknya berputar memikirkan untuk memberi tahu Sehun atau tidak.
Sehun menanti kata-kata yang keluar dari mulut Kris namun ia segera mengalihkan oandangannya lagi ke jendela saat dirasa Kris tidak mau memberi tahunya. Sampai kemudian Kris membuka suara,
"Dulu orang-orang mengagumiku..." pandangan Kris menerawang ke deoan mencoba untuk mengingat masa lalu.
Sehun menoleh lagi ke arah Kris dan tidak memotong pembicaraannya.
"Semua orang mengagumiku, Semua orang ingin dekat denganku... itu semua karna wajahku... Mereka hanya menyukai wajahku, bukan diriku. Aku tahu semua yang mendekatiku itu jarang sekali yang tulus. termasuk mantan-mantan kekasihku." Kris menghela nafas, "Dan aku sangat tidak menyukai orang yang tidak tulus. Suatu hari aku merubah gayaku menjadi seperti ini. Dan kau tahu apa reaksi mereka?"
"menjauhimu?"
Kris terkekeh pelan, " benar. Bahkan kekasihku waktu itu mengataiku bodoh, idiot dan memutuskan hubungan kami. Ia malu mempunyai pacar cuou sepertiku. Tapi aku bahagia karna aku dapat menetahui mana yang tulus dan mana yang tidak." Kris menatap Sehun lagi, "Dan kau... termasuk ke dalam orang-orang yang tulus."
Sehun terdiam menatap mata Kris dengan dalam, "Apakah sekarang kau bahagia?"
Apakah sekarang Kris bahagia? Kris bertanya kepada hatinya sendiri. Jujur saja, ia merasa hidupnya sepi karna sedikit sekali yang mau berdekatan dengannya, apalagi sebelum Sehun datang. Hidupnya sangat sepi. Bahkan saat di rumah, saat ia menjadi dirinya yang biasa. Ia kesepian karna orang tuanya yang lebih mementingkan bisnis hingga membuat mereka jarang sekali pulang ke rumah, dan kakaknya yang meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu ke negri paman sam.
"Kalau kau ingin mengetahui siapa orang yang tulus, kau tidak harus merubah dirimu. Kau hanya perlu mengenali hati orang-orang yang ada di dekatmu, maka kau akan tahu dia tulus atau tidak. Berhentilah membohongi diri sendiri, sunbae."
Tangan Sehun bergerakelepas kaca mata Kris dan menyimpannya di saku blazer Kris. Kemudia ia sedikit mengacak rambut Kris yang klimis. "Just be your self". Sehun tersenyum melihat penampilan Kris. Walaupun ia tidak tahu Kris dulu seperti apa, tapi ia yakin kalau Kris yang dulu sama dengan Kris yang ada di hadapannya saat ini.
"Kau harus melepas kawat gigimu mulai besok." Sehun tertawa sementara Kris hanya menatap Sehun dengan ekspresi tak terbaca. Sehun berbeda dengan gadis lain. Ia begitu tulus dan mampu membuat Kris nyaman bila berada di dekatnya.
"Tapi kau tidak akan jatuh cinta kepada wajahku yang tampankan?" Kris tertawa, dan pertanyaan itu hanya sebuah candaan.
"Tidak. Lagipula Jonginku lebih tampan." Sehun memeletkan lidahnya.
"Apa? Aku yang lebih tampan." Kris menggelitiki pinggang Sehun membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak.
Tetapi Sehun tiba-tiba berhenti tertawa dan memegang kepalanya. Ia mengerang kesakitan. Rasa sakit itu mendenyut semakin keras di kepala Sehun, membuat kepala Sehun seakan bisa pecah kapan saja.
Gawat! penyakitnya kambuh lagi. padahal seingatnya ia sudah meminum obatnya.
Kris yang bingung dengan keadaan Sehun menatapnya dengan khawatir, "Sehunna, gwenchana?"
Dan semuanya gelap.
.
.
Jongin terus menggerutu sambil mengayuh sepedanya. Ia masih kesal tentang rencananya untuk membuat Sehun batal pulang berdua dengan Kris gagal total. Jongin membelokkan sepedanya ke arah kiri untuk memasuki pekarangan rumahnya. Ia berhenti mengayuh lalu turun dari sepedanya dan menyenderkan sepeda itu di dekat gerbang rumahnya.
Jongin mengerenyit saat melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir rapih di halaman rumahnya. Ia yakin, bahwa itu bukan mobil Chanyeol. Lalu ini mobil siapa? Apa ini mobil milik tamu ummanya? Tapi biasanya jam segini ruamahnya kosong karna ummanya pasti masih berada di kantor dan Chanyeol juga pasti masih berada di kampus.
Tapi kemudian Jongin teringat bahwa ummanya sedang mengambil cuti untuk meliburkan diri hari ini. Jongin mengangkat bahunya. Ya, Mungkin ini mobil milik tamu ummanya.
Namja berkulit tan itu memutuskan untuk memasuki rumahnya dengan kedua tangannya yang di selipkan di saku celana. Namun saat sampai di ambang pintu Jongin menghentikan langkahnya karna melihat ummanya yang sedang berbicara dengan seorang yeoja. Terkadang ummanya tertawa saat berbicara dengan yeoja yang menjadi tamunya itu.
Jongin menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yeoja yang sedang duduk membelakanginya ini. Jongin merasa sangat familiar.
Umma Jongin mengarahkan pandangannya ke arah pintu dan tersadar bahwa Jongin berada di sana. "Ohh, itu dia!"
Seruan dari ummanya itu membuat yeoja yang merupakan tamu dari ummanya menolehkan kepalanya ke arah Jongin dan tersenyum manis membuat namja berkulit tan itu menaikan alisnya, "Hy Jongin! Lama tidak bertemu."
Jongin tidak beranjak dari pintu bahkan ia tidak membalas sapaan yeoja itu. ia masih bingung, mengapa yeoja itu ke rumahnya?
Ummanya berdecak kesal saat melihat Jongin tidak bereaksi, "Jangan berdiri di sana terus! Kemarilah! Kyungsoo sudah menunggumu sejak tadi, kau tahu?"
.
.
.
Angin berhembus pelan, membuat daun-daun dan dahan pohon yang ada di halaman belakang rumah Jongin bergoyang sedikit. Jongin duduk di ayunan yang berada di halaman belakang rumahnya itu dengan kakinya yang memainkan batu-batuan kecil yang berada di tanah.
Kyungsoo juga melakukan hal yang sama dengan Jongin, ia duduk di ayunan yang berada di sebelah ayunan seorang namja tan yang memakai seragam sekolah yang berbeda dengannya. Sebulan yang lalu setelah pulang dari Busan, ayah Kyungsoo memutuskan untuk memindahkan yeoja itu ke sekolah khusus perempuan.
Dan Kyungsoo tahu alasan ayahnya itu.
Semenjak hubungannya dengan Jongin berakhir, Kyungsoo sering melamun dan tidak fokus belajar. Bahkan terkadang ia mengigau, meneriakan nama Jongin di sela tidurnya. Dan ayahnya merasa prihatin melihat keadaannya. Maka dari itu, ayahnya memindahkannya ke sekolah khusus perempuan agar ia bisa melupakan Jongin. Tapi ia tidak bisa melupakan namja itu. Kyungsoo memang sudah kembali seperti biasa dan tidak mengigaukan namja tan itu lagi di sela tidurnya.
Tapi tetap saja, namja itu tidak pernah sedikitpun beranjak dari fikirannya.
"Ada apa kau mengunjungi rumahku?" Jongin memecah keheningan, mata namja itu masih menatap ke bawah, ke arah kerikil yang sedang kakinya mainkan.
"Tidak ada-" Kyungsoo menoleh menatap jongin, "Aku... hanya merindukanmu."
Jongin mendesah pelan dan menatap Kyungsoo dengan rasa bersalahnya. "Kau harus menerima kenyataan bahwa hubungan kita sudah berakhir, Kyungsoo."
Kyungsoo menundukkan kepalanya sambil tersenyum miris.
Hubungannya memang sudah berakhir sejak lama. Jongin yang memutuskan hubungan mereka. Namja itu bilang, ia tidak mau menyakiti hati Kyungsoo dan seorang teman masa kecil Jongin yang masih berada di fikiran namja itu. Kyungsoo terluka, hatinya seakan di tusuk dengan ribuan pisau yang berkarat. Setiap Jongin bertanya siapa perempuan sialan itu, namja itu tidak pernah memberi tahunya.
"Sekali ini saja... beri tahu aku siapa yeoja itu, Jongin!"
"Itu tidak penting untuk kau ketahui, Kyung."
"ITU SANGAT PENTING BAGIKU, JONGIN!" Kyungsoo berdiri dan menatap Jongin dengan ekspresi terluka, "Aku... aku hanya ingin tahu siapa yeoja yang telah merebutmu dariku..."
"Kyungsoo-"
"Apakah kau tahu bahwa aku masih sangat mencintaimu? Apakah kau perduli dengan perasaan ku?!" Kyungsoo menghapus air mata yang menuruni pipi putihnya, ia melepas gelang yang selama ini tidak pernah ia lepaskan. "Aku bahkan masih memakai gelang ini, gelang pemberianmu! Dan berharap kau akan kembali lagi kepadaku..tapi... hiks.. tapi..." Kyungsoo melempar gelang itu ke arah Jongin yang langsung di tangkap oleh namja itu.
Jongin menatap gelang bertuliskan K for K yang merupakan gelang pemberiannya dengan ekspresi bersalah.
Ya, K for. Kyungie for Kai, Kai for Kyungie.
Kai artinya samudera, dulu Kyungsoo memanggilnya dengan nama itu, ia bilang Jongin seperti samudera yang menenggelamkan Kyungsoo ke dalam pesonanya yang dalam seperti samudera..
Jongin berdiri dan mendekap Kyungsoo, "Jangan seperti ini kumohon, kau sudah ku anggap sebagai sahabatku sendiri.."
Kyungsoo mendorong Jongin sehingga pelukan Jongin terlepas. Sahabat? Ia hanya di anggap sahabat oleh Jongin. Tidak! Ia ingin menjadi kekasih Jongin, memiliki namja itu sepenuhnya, bukan menjadi sahabatnya! Ini semua pasti karena perempuan itu, perempuan yang merupakan teman masa kecil Jongin. Jika Jongin tidak mau memberi tahu siapa perempuan itu, maka Kyungsoo akan mencari tahunya sendiri dan meminta perempuan itu untuk menjauhi Jongin.
"Jika kau tidak mau memberi tahu siapa orang itu, aku... aku akan mencari tahunya sendiri, Jongin!"
Kyungsoo mundur perlahan sebelum akhirnya berbalik dan berlari masuk ke rumah Jongin untuk menuju ke gerbang depan. Meninggalkan lelaki itu yang hanya terdiam dengan tatapan sendunya. Ia menghapus air matanya dengan kasar.
Ya, ia pasti bisa membuat Jongin kembali kepadanya.. Pasti!
.
.
.
Suara deritan dari pintu yang di tutup menggema di lorong rumah sakit yang sepi itu. Dengan tatapan matanya yang seakan kosong, Kris berjalan dengan lunglai ke arah sebuah kamar pasien yang letaknya hanya beberapa langkah dari ruangan dokter yang baru saja ia temui.
Ia memegang knop pintu itu bersiap untuk membukanya. Tetapi tangannya membeku saat perkataan dokter tadi terngiang di kepalanya.
"Temanmu yang bernama Sehun itu kelelahan sehingga sakit di kepalanya akan muncul dengan mudahnya. Kau harus menjaganya agar penyakitnya tidak sering kambuh."
Setelah dokter berkata seperti itu Kris hanya diam tidak mengerti, tapi ia tetap menjaga mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara. Walaupun seperti itu, ia terus bertanya-tanya di dalam hatinya... Sehun punya penyakit?
Dokter yang berumur itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Kris dan menepuk bahunya,"Tapi mengingat penyakit kanker di otaknya yang sudah mencapai ke stadium akhir, Sakit di kepala Sehun akan terus muncul walaupun ia sudah meminum obatnya..."
Kris tidak dapat mendengar kelanjutan dari ucapan dokter waktu itu ketika tiba-tiba saja jantungnya seakan di remas dengan kuat-kuat membuatnya sesak.
Sehun... Kanker otak... fikiran Kris langsung melayang saat ia melihat Sehun meminum pil yang ia bilang adalah vitamin, Sehun yang tidak mengikuti pelajaran olahraga, wajah Sehun yang sering terlihat pucat, dan kata-kata Sehun...
"Aku bosan dengan tempat yang memiliki bau obat-obatan."
Kini semuanya telah terjawab hanya dengan dua kata... Kanker otak.
Kris tidak habis fikir, mengapa orang sebaik Sehun harus mengalami hal yang seberat ini. kris memang belum lama mengenal Sehun, tetapi ia tahu dan sangat yakin bahwa Sehun itu orang yang baik.
Sebelum memutar knop pintu itu, Kris menguatkan dirinya agar tidak runtuh saat melihat wajah malaikat yang sedang tertidur itu. apapun yang terjadi Kris harus kuat, harus tegar agar ia bisa menopang Sehun dan menguatkan yeoja itu.
Kris berjanji dengan dirinya sendiri. Ia akan menjaga Sehun, menjaga malaikatnya agar tetap tersenyum dan tidak mengeluarkan air mata kesedihan. Ia akan menjaga Sehun dan membuatnya bahagia.
Lelaki bersurai keemasan itu memutar knop pintu dan membuka pintu itu dengan perlahan. Dan matanya langsung menangkap ke arah ranjang yang di atasnya terdapat malaikatnya yang sedang tertidur dengan damai. Ia melangkahkan kakinya menuju ke ranjang rumah sakit dan mendudukan dirinya di pinggiran ranjang.
Tangannya merambat ke telapak tangan yeoja itu dan menggenggamnya. Dan rasa dingin mulai menyentuh telapak tangannya saat telapak tangan mereka bersatu.
Kris menatap nanar ke arah wajah damai Sehun. mengapa.. mengapa Sehun harus merasakan ini semua? Menahan rasa sakit yang tidak bisa Kris bayangkan.
Ia merasa pertahanannya akan runtuh saat melihat kelopak mata itu mulai terbuka dengan perlahan. Yeoja itu mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling ruangan. Saat Sehun tahu bahwa mereka sedang berada di rumah sakit, yeoja itu menatap Kris dengan ekspresi tak terbaca.
Dan saat mata indah itu menatap bola mata Kris, liquid bening itu dengan lancang menuruni pipi lelaki itu. Kris bukan orang yang cengeng, ia hanya akan mengeluarkan air mata saat dirinya sudah tidak kuat menahan semuanya. Seperti sekarang.
Awalnya Sehun menatap Kris dengan tatapan bingung. Tetapi kemudian ia tersenyum, dan Kris tahu bahwa itu adalah senyum kesedihan. "Jangan menangis. Aku... tidak apa-apa."
.
.
.
.
Daun-daun kering yang berada di taman sebuah rumah sakit bergerak saat angin meniup mereka. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasien dengan perawat.
Di atas sebuah kursi panjang yang terbuat dari besi dan letaknya berada di bawah sebuah pohon itulah Kris dan Sehun terdiam. Sampai akhirnya sang yeojalah yang memecah keheningan,
"Aku... sekarat.."
Kris menoleh dengan kerutan di dahinya, "jangan berbicara seperti itu!"
Sehun mengangkat bahu dan berbicara sesantai mungkin dan berusaha agar tidak terlihat menyedihkan di mata Kris, "Memang begitu kenyataannya. Tuhan akan memanggilku dalam waktu dekat-"
"Sehun!" Kris memotong omongan Sehun dan menatap yeoja itu tanpa kata yang terucap. Lelaki itu membuang nafasnya dan mengalihkan pandangannya ke bawah, "Apa kau... ingin benar-benar pergi? Meninggalkan semua orang, meninggalkan orang-orang yang sangat menyayangimu?"
Apakah Sehun ingin pergi? Sehun bertanya dalam hatinya sendiri. Harapannya untuk melihat senyum Jongin dan membuatnya kembali seperti dulu sudah tercapai. Tapi di hatinya yang paling dalam Sehun tidak ingin pergi.. pergi meninggalkan semua orang yang di sayanginya, meninggalkan Jongin, meninggalkan... appanya.
"Tidak.."
"Kalau begitu bertahanlah.."
"Aku pernah mencobanya, tapi... tapi.."
Sehun sudah mencoba bertahan, bertahan seperti pohon kelapa yang di terjang angin besar, Tapi pada akhirnya Sehun hanya bisa seperti daun yang jatuh yang tidak pernah membenci angin, Ia hanya bisa mengikhlaskan semuanya dan membiarkan dirinya jatuh begitu saja.
Air mata itu mengalir di pipi Sehun walaupun ia sudah berusaha untuk menahan tangisnya. Apalah dayanya, Sehun hanya seorang manusia yang berpura-pura kuat padahal ia sangat lemah, berpura-pura tegar padahal ia sangat rapuh, dan berpura-pura tersenyum padahal hatinya menangis.
Seperti seorang penjaga, Kris mendekapnya seperti sebelumnya, membiarkan Sehun menumpahkan emosinya di dada bidang itu.
"Kau harus kuat, kau harus bertahan dan Kau akan sembuh... Kau akan sembuh, Sehun! aku yakin."
.
.
.
Angin malam yang berhembus tak membuat Jongin beranjak dari tempat duduknya. Ia sedang berada di depan rumah Sehun dan menunggu yeoja itu.
Saat di rumah tiba-tiba saja persaannya tidak enak. Dan tanpa fikir panjang lagi Jongin langsung mengambil jaketnya yang menggantung di balik pintu lalu bergegas menuju rumah Sehun dengan motor Chanyeol yang ia pinjam tanpa izin.
Namun saat sampai di rumah Sehun, Baekhyun bilang Sehun belum pulang dari toko buku –Jongin yakin sehun memberi tahu baekhyun lewat sms- kemudian yeoja sipit itu menawarkannya untuk masuk dan menunggu Sehun di dalam.
Tapi Jongin menolaknya, ia memilih untuk menunggu Sehun di luar. Ia melihat arlojinya yang menunjukkan pukul delapan malam.
Mengapa Kris dan Sehun lama sekali? sebenarnya apa saja yang mereka lakukan?
Jongin menggeram pelan, hatinya merasa kesal entah mengapa. Ia baru saja berniat untuk menghubungi Sehun tetapi sebuah taksi yang berhenti tepat di gerbang rumah Sehun membuatnya untuk mengurungkan niatnya.
Jongin berdiri dan menghampiri taksi itu dan ia dapat melihat Kris keluar di susul dengan Sehun.
Kris merangkul Sehun seperti sedang menopang tubuh yeoja itu. Jongin mengerutkan dahinya tidak suka saat melihat wajah pucat Sehun. ia melihat Kris dari atas kebawah, Kris mengubah gayanya. Apa karna sehun? ia ingin membuat Sehun terpesona, begitu? Cih!
"Apa yang kau lakukan kepada Sehun hingga ia seperti ini?"
"Aku tidak melakukan apapun kepadanya, Jongin."
"lalu mengapa ia terlihat tidak sehat seperti itu?" Jongin mulai emosi.
"Aku tidak apa-apa, Jongin. Aku hanya kelelahan." Sehun berucap dengan pelan.
Jongin menatap Kris dengan tajam, "Biar aku yang membawanya masuk." Sebelum Kris berkata, Jongin langsung mengangkat Sehun ala bridal.
Kris menatap Jongin dengan sengit, Sehun yang melihat kedua lelaki itu yang saling melemparkan tatapan seakan siap untuk saling membunuh pun segera menengahi.
"Tidak apa-apa, sunbae. Sudah malam sebaiknya kau pulang." Sehun tersenyum di gendongan Jongin sambil menatap Kris.
Kris menghela nafas kasar tapi kemudian ia tersenyum, "Baiklah. Jaga kesehatanmu ya. aku pulang dulu."
Sehun menganggukkan kepalanya dan matanya tidak lepas dari Kris sampai namja itu memasuki taksi.
.
.
.
Jongin membaringkan tubuh Sehun dengan hati-hati di tempat tidur yang berada di kamar Sehun. Baekhyun sedang berada di dapur untuk mengambil air minum.
Jongin menatap wajah pucat Sehun dengan nanar. Perlahan telapak tangannya menyentuh pipi tirus Sehun dan mengelusnya dengan sangat lembut membuat yeoja itu memejamkan mata.
"Ada apa dengamu? Kau sakit?" nada bicara Jongin sangat lembut kepada Sehun, sangat berbeda saat ia berbicara kepada Kris di gerbang tadi.
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan berbohong. Kita harus ke dokter, Sehun." Jongin menatapnya dengan khawatir.
"Tidak, kumohon. Aku lelah dan ingin beristirahat." Sehun mencoba tersenyum untuk meyakinkan Jongin.
Lelaki itu menatapnya sangat lama sampai kemudian ia tersenyum lembut. "Baiklah, kalau begitu beristirahatlah. Aku akan pulang." Jongin merendahkan kepalanya dan mencium dahi Sehun. ia berbisik dengan lembut,
.
"Selamat malam, semoga mimpi indah."
.
.
.
.
To Be Continued
A/N
Maafin saya yang updatenya lama huhu~ Tolong maklum yaa kalo semakin ke sini ceritanya semakin dramatis/?
Terima kasih buat yang udah nungguin dan fol/fav/review fanfic ini, ay lope yu :*
Terakhir, reviewnyaaa?
