© crownacre, 2015
DIFFERENTIATED STEPS
meski langkahku dibedakan aku akan tetap melangkah
(sad)omance, hurt/comfort, fantasy | T to M rated | Chaptered
everything in the story is mine except the cast
don't like one or all of the story? don't read.
.
New School and New Friend?
Jihoon —pemuda bertubuh kecil dan rambut blonde pucat dengan lelehan warna merah di atasnya— meremas ujung bajunya, hari ini adalah hari pertamanya sekolah di sekolah yang baru. Tidak ada yang spesial, rasanya masuk sekolah baru adalah hal wajar dalam hidupnya karena dirinya yang tumbuh dan besar untuk berpindah. Ia sekarang duduk di kereta menuju tempat sekolahnya berada, menyiapkan diri dengan memainkan jemarinya agar tidak memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi selama bersekolah di Hanlim High School nanti. Ia perlu antisipasi, tapi memikirkan terlalu banyak tidak akan membuat antisipasinya berarti.
Matanya mengedar, mencari bagian mana yang sekiranya menarik untuk ia perhatikan selama berada di atas kereta. Hanya saja, normalnya kereta, tentu semua orang akan duduk diam atau berdiri tenang sambil berpegangan. Tidak ada suara berisik. Jadi Jihoon pikir memang tidak akan ada sesuatu yang bisa ia perhatikan.
Mata Jihoon berhenti bergulir saat menemukan seseorang dengan pakaian yang sama dengannya, seorang laki-laki sipit yang berdiri tegak di dekat pintu sambil berpegangan. Ia pikir orang itu sedikit konyol mengingat ini masih lumayan pagi dan kereta tidak benar-benar penuh, masih banyak bangku kosong yang bahkan jika ia ingin tidak ada orang di sebelahnya pemuda itu masih bisa mendapatkannya. Tapi apa peduli Jihoon, ia tidak akan benar-benar memikirkan kenapa orang itu harus berdiri di sana karena itu memang bukan urusannya.
Jihoon memejamkan matanya, mencoba memikirkan sesuatu menyenangkan agar dirinya tidak kembali gugup mengingat rasa sakitnya saat di dorong menjauh dan dimaki setelah beberapa waktu sebelumnya mengenalkan diri di depan kelas barunya.
"Monster!"
"Dia benar-benar mengerikan!"
"Menjauhlah, monster jahat!"
Pemuda dengan tubuh kecil itu meremas celananya, bukannya hal menyenangkan, ingatan mengerikan justru mengusik otak. Ia kembali teringat bagaimana orang-orang memakinya dan menjelekkannya, memberi banyak teror yang mengatakan dirinya monster.
"Apa maumu, monster?"
"Aku takut darahku habis jika aku mencari masalah dengannya."
"Monster memang pintar berdalih."
Lagi. Suara-suara mengerikan itu lagi. Jihoon tidak suka—terlalu mengerikan. Ia menggigit bibirnya kuat, mencoba menghilangkan pikiran itu.
"Aku takut."
"Aku rasa aku harus pindah sekolah."
"Siapa yang mau menerimanya selain bangsanya sendiri?"
"He–hentikan!" Jihoon memekik, menimbulkan tatapan bertanya dari banyak orang. Ia meringis, menunduk banyak kali karena merasa bersalah dan memutuskan untuk berhenti memikirkan apapun karena itu hanya akan membuatnya makin terusik.
Seorang pria yang sekiranya sudah kepala tiga di samping Jihoon menoleh, "Ada apa denganmu?"
"A-ah—tidak," pemuda manis itu menarik kedua sudut bibirnya dengan pelan.
Orang yang tadi bertanya mengangguk kecil lalu berdiri. Jihoon baru sadar bahwa sebentar lagi kereta akan sampai saat melihat orang yang di sampingnya berdiri, ia pun ikut berdiri saat mendapati tujuannya. Sayangnya karena terlalu terburu-buru ia tanpa sengaja menyenggol orang di sampingnya tadi dan membuat satu kotak berisi susu stroberi jatuh.
Jihoon meminta maaf banyak kali sebelum akhirnya ia menunduk untuk meraih kotak susu itu. Yang tersenggol oleh Jihoon mendelik, kaget karena benda yang ada di genggamannya kini sudah berpindah ke lantai. Orang itu menunduk lebih cepat dari Jihoon bahkan sebelum punggung Jihoon benar-benar melengkung untuk membungkuk, tapi sayangnya mereka berdua sama-sama kalah cepat dari seseorang yang tanpa sengaja menginjak kotak susu stroberi itu—
—dan ternyata itu bukan susu. Itu darah.
"Astaga!" Semua orang memekik panik, Jihoon sendiri jadi kosong untuk beberapa saat setelah cipratan cairan pekat warna merah itu mengenai sebagian wajahnya.
Pria itu mendongak dalam posisi berjongkoknya, matanya bersinar ungu memandang orang di sekeliling. Jihoon sendiri terkejut, ia mundur beberapa langkah dan menutup hidungnya menyadari bahwa bau yang menguar saat ini adalah bau darah. Semua orang terlihat sama-sama panik, mereka mencoba menjauh dari si vampir yang tepat saat itu juga entah beruntung atau sialnya pintu kereta terbuka. Orang yang matanya bersinar ungu tadi berlari cepat ke luar, meninggalkan banyak orang lain dengan rasa takut dan terkejut.
"Apa tadi vampir?"
"Mengerikan."
"Matanya bersinar ungu tadi!"
Sayup-sayup suara itu terdengar, sayangnya tubuh Jihoon jadi makin lemas. Ia baru saja mencium bau darah dan sekarang tubuhnya jadi sulit terkontrol.
"Tidak—aku tidak boleh," Jihoon menggumam dalam tubuh lemasnya. Ia mencoba menahan dirinya karena bau besi bekarat yang sangat ia kenali kini mengusik indra penciumannya.
"Hey," suara lelaki yang sekiranya seumuran dengan Jihoon membuatnya setengah tersadar. Yang bersuara tadi berjongkok di hadapan Jihoon yang sekarang tengah bertumpu tubuh pada lutut sambil menutup rapat hidungnya. "Kau baik?"
Angguk. Jihoon hanya mengangguk, tapi ia masih menunduk.
"Kita satu sekolah, 'kan? Kau harus cepat atau kau akan terlambat," lelaki itu kembali bersuara.
Yang diajak bicara mengerang pelan, ia menatap orang yang tengah berjongkok itu. Orang yang tadi ia pikir aneh karena memilih berdiri daripada duduk di bangku. Jihoon membuka mulutnya, tapi kembali ditutup. Saat tangannya yang ia gunakan untuk menutup hidung ia bawa turun, ia kembali membuka mulut. Sialnya bau menyenangkan yang mampu membuat tubuhnya tak terkontrol kembali mengusik hidungnya.
Manis. Yang kali ini tercium begitu manis.
Napas Jihoon memberat, ia memajukan tubuhnya perlahan untuk meraih bau manis itu. Otaknya mengatakan bahwa ia perlu mencecap bagaimana rasa sesuatu yang baunya begitu menyenangkan.
Dapat. Jihoon sudah menemukan apa yang berbau manis. Tanpa sadar mata coklat terangnya berubah ungu, ia memejamkan mata dan mencoba mengecup bau menyenangkan itu sebelum—
"K-kau baik?"
Tubuh itu seketika berdiri, mata ungunya kembali menjadi coklat dengan cepat. Ia menunduk dalam sebelum akhirnya berlari ke luar dari kereta. Yang masih berjongkok itu mengerutkan kening bingung.
Pemuda yang masih di kereta itu berdiri, ia melirik jam tangannya. "Eum—jika kau terlalu lama kau bisa terlambat."
.
Jihoon menatap pantulan dirinya di cermin, beberapa noda darah tadi membuat warna merah pada seragam serta wajahnya. Ia meringis tipis saat lidahnya tanpa sengaja merasakan rasa cairan merah pekat itu pada bibirnya.
Ia menyalakan keran air di wastafel, menggunakan air yang mengalir itu untuk membersihkan bajunya dari noda darah sebelum darah itu kering. Matanya menatap bayangan dirinya pada cermin dan membersihkan darah pada kerah bajunya setelah yang ada pada lengan bajunya bersih. Tersenyum puas saat menyadari warna cairan pekat itu sudah luntur karena air yang ia gunakan.
Sekarang ia menatap wajahnya, menatap dirinya dalam pantulan cermin yang penuh dengan noda darah pada kulitnya. Matanya menatap lurus sementara tangannya mengusap perlahan noda darah itu. Saat sampai di bibir, ia menyentuh darah itu cukup lama.
"Aku… tertarik pada darah… manusia?" Gumaman tipis lolos begitu saja saat darah di bibirnya sudah ia sentuh dengan telunjuk, lidahnya ia julurkan untuk menjilat darah itu. "Tidak mungkin, kan?"
Jihoon melangkah dengan tenang, memasuki sekolah besar bertliskan Hanlim High School di depan dan melewati gerbangnya setelah meminta izin pada satpam yang berjaga. Ia masuk dengan napas berat yang ia hembuskan perlahan setelah sebelumnya harus menahan napas untuk berdoa dan berharap banyak pada sekolahnya.
"Hanlim High School," lelaki itu berbisik pada dirinya. "Kali ini akan menjadi sekolah terakhirku sampai aku lulus, aku tidak boleh dikeluarkan lagi dari sekolah."
Saat matanya sibuk mengedar, ia menemukan sebuah plang bertuliskan tata usaha, ia pun masuk ke sana sesuai dengan yang satpamnya beri tahu.
Setelah menyelesaikan beberapa lembar kertas yang diberikan oleh karyawan di situ ia pun di bawa menuju ruang kelasnya. Sebelas-tiga.
Saat pintu di buka, ia mendapati seorang lelaki tengah mengerjakan soal dan guru wanita dengan potongan rambut pendek berdiri di sebelahnya. Guru itu melangkah menghampiri sang karyawan dan lalu karyawan itu membisikkan sesuatu. Sang guru tersenyum dan meraih lengan Jihoon setelah karyawan itu melangkah pergi, ia membawa diri Jihoon berdiri di depan kelas.
"Kalian kedatangan murid baru, anak-anak. Kupikir dia membiri kesan yang lucu dengan datang terlambat di hari pertama," guru itu tertawa yang diikuti siswa di hadapannya. "Baiklah, aku rasa kau perlu mengenalkan dirimu."
"Eum—," Jihoon tersenyum tipis, ia menatap lurus ke depan dan membungkuk pelan dengan sopan. "Namaku Lee Jihoon, senang mengenal kalian."
"Baiklah Lee Jihoon, aku rasa kau bisa duduk di bangku kosong sebelah Chan. Chan, angkat tanganmu, biar Jihoon bisa menemukanmu."
Seorang lelaki yang duduk di belakang mengangkat tangan dengan senang, ia menunjukkan senyum cerianya pada Jihoon saat langkahnya sudah dekat dengan meja. Jihoon duduk dengan tenang setelah meletakkan tasnya, sementara Chan yang ada di sampingnya terlihat begitu antusisas.
"Hai, Jihoon-ah! Aku Lee Chan, marga kita sama, eum! Kau keren sekali, pelajaran sudah lewat dari setengahnya," Chan terkekeh kecil sambil mengacungkan ibu jarinya. Yang di ajak bicara pun hanya tersenyum canggung mendapati sambutan sangat ceria dari teman sebangkunya.
Jam istirahat tiba, tapi bukannya keluar, semua anak justru sibuk dengan ponsel mereka dan menonton video yang sedang ramai di internet.
Vampir.
"Dia terlihat mengerikan!"
"Oh—jika aku di sana, mungkin aku sudah menangis."
"Bukannya itu seragam kita?"
"Oh aku penasaran siapa orang beruntung sekaligus sial itu!"
Jihoon menghembuskan napas pelan, mendengar semua percakapan-percakapan berlebihan teman sekelasnya membuatnya jengah. Ia baru saja mau beranjak berdiri untuk ke luar sebelum seorang lelaki bertubuh jangkung menghalangi langkahnya dan membuatnya kembali terduduk.
"Lee Jihoon!" Jihoon mengerjap, mendongak sedikit untuk menatap mata orang yang menghalangi jalannya dan tidak mengatakan apa-apa bermaksud mempersilakan orang itu berbicara. Kontan saja yang menghalangi Jihoon itu tertawa, ia menunjukkan video yang tengah ia pause. "Ini kau, 'kan? Lihat-lihat, rambutnya bersis sekali denganmu."
Jihoon menimbang sebentar, lalu ia mengangguk kecil sebagai jawaban. "U-hum."
"Woaaah!" Orang di hadapan Jihoon berbinar senang, "ini sungguhan siswa Hanlim, dia adalah Jihoon!"
Semua terlihat antusias, mengerumuni diri Jihoon dan menatap lelaki itu penasaran. Semua begitu bersemangat meski Jihoon sendiri jadi ketakutan.
"Itu sungguhan kau?"
"Pasti kau takut sekali, ya?"
"Kau yang duduk di sebelahnya?"
'Kumohon jangan seperti ini, kalian membuatku takut.'
"Eum—," Jihoon memundurkan tubuhnya dan membiarkan punggungnya menabrak sandaran kursi. "Dia duduk di sebelahku."
"Waaah!" Semuanya terlihat kagum.
"Dan kau tetap baik-baik saja? Kau tidak takut?"
"Ya, aku baik dan aku tidak takut."
'—karena aku juga vampir.'
"Hebat sekali," seseorang dengan wajah emo muncul tiba-tiba dari belakang, ia menatap Jihoon dengan senyuman tipisnya. "Bukan masalah jika kau takut, katakan saja."
Jihoon mengerutkan keningnya, "tapi aku sungguhan tidak takut."
"Bagaimana bisa?" Seorang perempuan dengan rambut ungunya menatap Jihoon penasaran.
"Ini," Jihoon menggeser sedikit blazernya dan menunjukkan sebuah bros kecil berbentuk salib. "Katanya vampir takut salib."
'Aku benci ini. Aku benci kebohongan konyol.'
Semua orang kembali ribut, melontarkan banyak pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu di jawab ataupun mengatakan pendapat mereka masing-masing.
.
"Makanan apa ini," seorang laki-laki dengan rambut merahnya mengangkat satu centong yang isinya entah apa lalu meletakkannya lagi.
Orang yang di sampingnya tertawa, "menggelikan. Kau lebih baik makan bawang putih, vampir benci bawang putih!"
Jihoon yang berada di dekat dua orang itu mengerutkan kening, "bawang putih?" Ia pun mengambil banyak bawang putih dan memindahkannya ke tempat makan yang ada di genggaman.
Semua terlihat makan dengan teman mereka, Jihoon sendiri memilih untuk tidak bergabung dengan siapapun dan makan makanannya sendiri. Ia mengunyah makanan di hadapannya satu demi satu, memakan bawang putih yang di lidahnya tidak terasa seperti hal yang perlu ditolak. "Rasanya tidak separah kare."
Dari jauh ada seorang lelaki yang tengah melangkah, mata sipitnya makin sipit untuk menatap lelaki di pojokan kantin dan duduk sendiri. "Sudah kubilang, jika kau terlalu lama kau bisa terlambat."
"Soonyoung!" Seseorang dengan tubuh jangkung dan rambut warna abu-abu itu menepuk si rambut pirang yang hanya diam berdiri. "Ayo, kita ambil makan."
"Ah, ayo," Soonyoung melanjutkan langkahnya untuk mengambil makan siangnya.
Orang yang tadi mengajak Soonyoung mengambil makan tiba-tiba berbalik, membuat Soonyoung reflek berhenti menunggu. Yang berbalik tadi sekarang tengah duduk di samping pemuda emo dengan wajah dingin, "selamat siang, Wonwoo-ya! Makanannya tidak, 'kan? Tapi kau harus tetap sehat, jangan lupa vitaminmu," orang itu meletakkan satu vitamin C di tangan orang yang bernama Wonwoo itu setelah meraih tangan putih yang tadi memegang sumpit.
Dan ia langsung berlalu setelah itu.
"Kim Mingyu gila," Wonwoo menggumam kecil.
Yang bernama Mingyu itu menyusul Soonyoung, meraih lengan temannya itu dan menariknya menuju tempat makanan tersedia. "Aku lapar sekali!"
"Menurutmu bagaimana si rambut es serut itu?" Mingyu bertanya pada orang di hadapannya di sela sela makan mereka.
Soonyoung mengerutkan kening, "es serut?"
"Lee Jihoon."
"Aah…."
"Ah?"
Soonyoung mengerjap, "Apa?"
"Menurutmuuu," Mingyu memanjangkan suaranya, "bagaimana Lee Jihoon, si anak baru?"
"Entahlah, tidak memperhatikan."
'—tapi dia cukup aneh menurutku.'
"Eish," Mingyu mendecak pelan, "selalu. Kwon Soonyoung yang cuek."
"Memang menurutmu sendiri bagaimana, Kim?"
"Aku?" Yang ditanya menunjuk dirinya dengan telunjuk. "Menurutku?"
Soonyoung mendengung sambil mengunyah makanannya.
"Dia manis, tapi sungguhan bukan style-ku. Walaupun ia sepertinya tipikal orang dingin yang imut, tapi Wonwoo lebih menarik."
"Oh."
"Hey! Hanya itu?"
Si sipit tertawa kecil, "aku hanya basa-basi sebenarnya."
.
Jihoon melangkah setengah sempoyongan, matanya mengedar tak beraturan untuk mencari di mana toilet berada. Langkahnya berantakan membuatnya harus ekstra hati-hati daripada harus menabrak orang. Saat menemukan tulisan toilet, ia pun langsung masuk dan mencari bilik kosong.
Ia terbatuk, sekalian memuntahkan seluruh isi perutnya yang terasa berguncang.
'Bukan masalah jika makanan itu masuk ke mulut, tapi sangat masalah kalau itu masuk ke perut.'
Helanaan napas lolos dari hidung dan bibirnya setelah tangannya menekan tombol penyiram otomatis toilet untuk membuang seluruh muntahannya, perutnya terasa lebih baik setelah ia kosongkan. Ia lalu duduk pada closet, mengatur napasnya dan memberi penyemangat untuk dirinya sendiri agar tetap tenang.
Saat dirinya sudah terasa lebih baik, ia pun melangkah menuju kelasnya untuk mengambil minum. Membawanya ke atap sekalian dengan buku kecil berisi coret-coretannya.
Sesampainya di atap, ia menghela napas lega mengetahui atapnya kosong. Ia duduk di tepian dan menusuk sedotan ke bungkus minumannya, menghisap minuman itu dengan senyuman. Rasanya lega setelah perutnya berguncang dan sesak napas karena makan makanan yang tidak seharusnya dimakan. Sekarang tubuhnya terasa lebih baik.
Setelah menghabiskan setengah dari minuman itu, Jihoon pun meletakkan minumannya di sebelahnya dan meraih buku yang tadi ia bawa serta pensilnya. Ia mulai menuliskan beberapa hal yang ada dipikirannya—lirik lagu dengan nada di bawahnya. Senyuman puas tergambar di bibirnya, ia lalu menatap langit setelah merasa cukup dengan yang ia tulis.
"Bagus, Jihoon. Kau melakukannya dengan baik hari ini. Kau hanya perlu kembali melakukannya tiap hari sampai kau lulus nanti. Semangat!"
to be continued.
Yehet! Selesai sampai chapter ini. Bisa disebut double update nggak ya ini? Haha. Semoga kalian suka! Hari ini bener-bener kebut ffnya sebelum lupa, jadi maaf kalau ada kesalahan tulis karena mataku udah setengah mati dibuat melek tapi gagal. Nggak sabar pingin postiiing! Maafkan aku untuk kesalahannya. Reviewnya jangan lupa kalau enggak keberatan #grins
